Chapter 6 : つながる (Tsunagaru) Terhubung

Pemuda berambut hitam ini berjalan menuju genkan kamar asramanya dengan diikuti dua hewan berbulu di belakangnya. Duduk di depan genkan lalu menalikan kedua sepatu yang mulai dia pakai. Setelah selesai dia memastikan topi hitam serta kacamatanya sudah terpasang dengan benar. Beranjak dari tempatnya tadi, pemuda yang merupakan idol anak remaja saat ini itu mengambil seutas tali di atas rak sepatu.

"Kurokke," panggil pemuda ini pada salah satu hewan berbulu yang sedari tadi mengikutinya itu. Berlutut di hadapan Shiba-inu yang ekornya bergoyang-goyang dan memasang wajah senang seakan tahu bahwa akan diajak main, dengan perlahan pemuda itu melingkarkan tali itu ke leher Shiba-inu ini dengan perlahan, memastikan ikatannya tidak terlalu longgar maupun kencang namun cukup memberikan celah untuk leher anjing itu.

"Baiklah sudah siap." Gumam pemuda berambut hitam dan bermata ungu ini, berdiri dari posisinya, lalu memanggil hewan yang satunya, "Kuroda juga ayo, hari ini kita akan jalan-jalan."

Menarik gagang pintu, lalu membuka pintu genkan, sosok pemuda itu menyipitkin matanya seraya sinar mentari petang perlahan merayap melalui jendela menuju genkan yang sekarang pintunya terbuka, pemuda bermata ungu itu berdiri mengenyampingkan dirinya, mempersilahkan kedua hewan berbulu tadi keluar duluan dari kamar asrama.

Pemuda bermata ungu yang beranama Mutsuki Hajime ini menghentikan langkahnya sebelum benar-benar keluar dari loby asramanya. Berdiri tepat di depan meja resepsionis, menyapa pengurus asrama lalu menyerahkan kunci ruang kumpul kepada penjaga asrama. Kemudian langkah yang terhenti itu kembali melanjutkan perjalanannya, dengan salah satu tangannya memegang tali Shiba-inu yang bernama Kurokke dan di sebelah sisi kananya berjalan kelinci hitam besar, sang idol ini menatap layar smartphonenya.

'…Chat dari Shun, "selamat mengajak Kuroda jalan-jalan~ nikmati jalan-jalannya ya~" ,darimana dia tahu kalau sekarang aku akan pergi?' dengan desahan heran pemuda pemilik fans bernama Initium ini kembali berpikir tidak ada gunanya sekarang bertanya-tanya darimana Shun sang leader Procella tahu akan apa yang akan dia lakukan saat ini. Hajime sudah mulai terbiasa dengan hal-hal aneh kalau bersangkutan dengan Shun.

Lebih tepatnya tidak usah ditanyakan.

'Kamu juga jangan merepotkan Kai dan Haru. Semangat bekerja.'

Setelah membalas chat sang Ousama beranjak keluar dari loby dengan diikuti kedua hewan berbulu penghuni asrama Tsukino Production.

-;-

Kurotsuki Ayane membuka smartphone miliknya, melihat pemberitahuan journal yang tertulis kalau hari ini jam satu nanti seharusnya dia ada janji latihan bersama dengan Kazuki yang merupakan pendamping pianonya, namun harus batal karena perintah Shoko yang memaksanya untuk libur bermain biola hari ini, jemarinya lalu menekan aplikasi chatnya, iris hazel miliknya melebar mendapatkan beberapa chat baik dari dosen dan temannya, dengan wajah yang serius perempuan ini membalasnya salah satu dari chat tersebut berasal dari Mutsuki Hajime yang bertuliskan,

'Eh semanggi berdaun empat. Beruntung sekali kamu bisa menemukannya. Dan sepertinya aku juga sedang beruntung hari ini karena hari ini akhirnya mendapatkan libur'

Senyuman kecil perlahan terukir di wajahnya ketika kedua bola mata hazel miliknya membaca tulisan di layar smartphonenya. 'Akhirnya~~ Selamat ya bisa mendapatkan libur. Semoga menjadi hari libur yang menyenangkan~~' jari telunjuknya menekan tanda mengirim.

Untuk menghilangkan rasa bosan karena tak bisa melakukan kebiasaan yang dia lakukan setiap hari, perempuan bermata hazel ini setelah ketiduran di bukit dekat sungai selama satu jam, akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan selama lebih dari tiga jam, mengelilingi kota melihat betapa sibuknya orang-orang, setelah lelah perempuan ini pergi ke restaurant untuk mencari sarapan atau lebih tepatnya makan siang karena sudah memasuki jam makan siang.

Setelah membalas semua chat gadis berumur 21 tahun ini merenggangkan kedua tangannya dengan menariknya ke atas kepala, lalu merapikan rambut hitam panjangnya itu. Menoleh keluar jendela melirik jalanan yang berada di seberang dengan lirikan bosan, kedua bola matanya kemudian menemukan sebuah toko yang menarik perhatiannya. Kalau tidak salah kelanjutan novel yang dia baca beberapa hari lalu sudah rilis, mungkin saja di toko buku itu novelnya ada.

Beranjak dari tempatnya, sang Nadeshiko ini berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang tadi dia pesan, lalu keluar dari restaurant tersebut melanjutkan perjalanannya menuju tempat singgah berikutnya yaitu toko buku.

Setelah memanjakan mata dan rasa keingintahuannya di toko buku, Ayane menghentikan petualangannya di kota dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya di cafe tempat dia bekerja. Rikudoh cafe sebenarnya bukan hanya tempat Ayane bekerja saja, namun sekaligus cafe yang dikelola oleh dirinya dibantu oleh seorang bekas pelayan yang bekerja di rumah Shoko yaitu Kanazawa Subaru. Namun lelaki Subaru-san berhenti setelah 5 tahun bekerja dengan Shoko dan memutuskan untuk membuka cafe yang selama ini dia impikan. Akan tetapi karena kendala modal akhirnya Ayane membantu dengan menambahkan modal mendirikan cafe tersebut. Mereka berdua merupakan pemilik, chef, sekaligus pelayan di hari-hari tertentu seperti hari promosi, itulah pekerjaan Ayane ketika sedang luang. Oleh karena itu saat Shoko menghubungi Subaru-san dan memberitahukannya untuk menutup cafe hari ini tanpa alasan jelas Subaru-san langsung menyetujuinya.

Mengerutkan keningnya, matanya terfokus pada novel di hadapannya, otaknya memproses setiap kata dan kalimat yang tertuang di novel tersebut. Terlihat tea set dan piring yang berisikan kue kering tertata rapi disiapkan di atas meja. Sesekali tangannya meraih teh ataupun kue kering dari meja tersebut, suasana cafe yang sepi karena tutup membuat tempat tersebut menjadi tempat sempurna untuk menghabiskan waktu membaca novel.

-;-

Mutsuki Hajime berhenti dan berdiri di depan sebuah kaca cafe yang sangat familiar baginya lalu, menoleh sekilas kaca cafe tersebut, kedua mata ungu miliknya menemukan sesosok gadis berambut hitam panjang membaca sebuah buku dan terlihat tea set serta piring berisikan kue kering tersusun rapi di atas meja yang ada dihadapan tempat gadis itu bernaung.

Sambil diikuti oleh dua makhluk berbulu di sampingnya sang Kuro-Ousama ini melangkahkan kakinya menuju pintu depan cafe tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika tulisan 'closed' terpampang di depan pintu. Dengan tatapan bingung sekaligus heran melihat tulisan itu, pemuda ini mengetuk pintu cafe tersebut untuk membangunkan gadis yang tadi dia liat dari balik kaca dari dunianya.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu tersebut, selang satu menit pintu itu terbuka. Muncullah sosok gadis berambut hitam panjang yang begitu familiar bagi Hajime. Mata hazel milik gadis tersebut membulat ketika mengetahui ternyata yang mengetuk pintu cafe ini adalah orang yang dikenalnya.

"Mutsuki-san!" sapa Kurotsuki Ayane dengan senyum hangat menghiasi bibir manisnya itu. "Whoah! Kuroda! " lanjutnya ketika iris hazel matanya mendapati sosok kelinci hitam besar berdiri dengan tenang di samping Hajime. "Eh?! Shiba-inu?" matanya kembali bersinar melihat Shiba-inu yang juga berada di samping sisi lain Hajime.

"Apa yang sedang kamu lakukan? Cafe-nya bukannya tutup?" tanya sang pemuda karismatik dihadapannya itu sambil menunjuk papan tulisan 'closed' terpajang di depan pintu cafe.

Mengibaskan tangannya seakan-akan menepis pertanyaan penuda tersebut dengan santai "Tenang-tenang tidak usah dihiraukan. Ayo masuk" membuka lebar pintu cafe itu mempersilahkan pemuda tersebut masuk ke dalam.

Hajime mengerutkan kedua alisnya, "Apa tidak apa-apa?" milirik kedua hewan peliharaan yang dibawanya, seakan bertanya apa boleh membawa hewan ke dalam cafe.

Rambut hitam panjang milik Ayane bergerak mengikuti gerakkan kepalanya yang mengangguk, mengizinkan teman dan hewan peliharaannya itu memasuki cafe.

Mempersilahkan sang idol duduk di tempat sebelumnya perempuan ini bersinggah, lalu menawarkan jamuan kepadanya "Apa mau minum teh?" mengambil teko teh yang ada di atas meja untuk diisi ulang kembali.

Sang idol ini mengangguk mengiyakan tawaran dari perempuan itu.

"Ah! Aku tak punya makanan yang bisa dimakan untuk anjing.." celotehnya ketika menyadari kalau dia tak bisa memberikan makanan pada Shiba-inu yang dia belum tahu namanya itu. "Ngomong-ngomong Mutsuki-san siapa nama Shiba-inu ini?" lanjutnya sambil mengambil posisi berjongkok memerhatikan Shiba-inu itu yang menggoyangkan ekornya tanda senang.

Menoleh Shiba-inu itu, pemilik fans bernama Initium ini menjawab dengan singkat, "Korokke"

"Heee Korokke toh'.. Kawaii namae da ne" senyuman hangat terukir di bibir mungil Ayane.

"Dan tidak usah repot-repot untuk menyediakan makanan untuk mereka. Tadi sebelum ke sini mereka sudah makan. Lagipula Kuroda sedang menjalani diet.." jelas Hajime memerhatikan kedua hewan peliharaan asrama Tsukino yang sekarang sedang memerhatikan gadis bermata hazel tersebut dengan tatapan ingin tahu.

"Eh diet?" tanya sang Nadeshiko ini dengan nada heran, karena posisinya yang masih berjonggok di depan kedua heran tersebut, Ayane harus mendongakkan kepalanya untuk menatap sang empunya kedua hewan ini.

Mata amethyst milik sang Ousama bertemu dengan mata hazel misterius milik Ayane, "Aa, belakangan ini berat Kuroda semakin bertambah, agar tak menganggu kesehatan makanya dia menjalani diet dan olahraga"

Raut wajah sedih tergambar dengan jelas ketika mendengar alasan dari Hajime, mata hazel miliknya menatap Kuroda dengan tatapan kasihan "Kasihan Kuroda disuruh diet…"

"Ma na, daripada nanti dia obesitas. Lebih baik mencegahnya bukan?" Hajime kembali menjawab perkataan Ayane itu, lalu mengangkat gelas teh yang tadi disungguhkan oleh gadis itu.

"Iya sih, tapi kan…" dengan nada rendah sang Nadeshiko ini terus memberikan rasa simpatinya pada kelinci hitam besar itu

Mengembalikkan gelas teh tadi ke atas tatakannnya, Hajime kembali meladeni Ayane, "Mereka juga sudah olahraga lebih tepatnya main frisbees di taman depan asrama"

"Enaknya bisa main bersama…" gumam gadis berambut hitam panjang ini, lalu berdiri dari posisinya.

Melirik kue kering dihadapannya, idol icon Januari ini kemudian mengambil kue kering tersebut sebelum berkata dan menanyakan hal yang membuatnya penasaran "Tinggal jalan-jalan mengelilingi pemukiman sekitar lalu tugasku selesai. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di cafe?"

"Aku diusir dari apartment.." jawab Ayane singkat, menggeser kursi lalu duduk di atasnya.

Kue kering yang tadi niatnya Hajime ingin makan, berhenti tepat di depan mulutnya, pemuda ini terkejut dengan jawaban Hime-sama ini yang sekarang duduk di seberangnya "Memangnya belum bayar sewa?" tanyanya sambil mengangkat salah satu alisnya tanda heran.

Tawa renyah gasi bermata hazel ini membuyarkan suasana hening cafe tersebut, dengan mengibas-ngibaskan tangannya gadis ini menjawab "Bukan itu, aku diusir oleh Shoko katanya aku tak boleh kembali ke apartment sebelum jam tujuh malam.."

Seakan-akan tak puas atas jawaban yang diberikan kepanya, Hajime kemudian bertanya kembali, "Alasannya kenapa? "

"Karena aku mengurung diriku di kamar selama tiga hari penuh berlatih biola.." jawab Ayane menyondongkan tubuhnya dengan menyandarkan dagunya ke atas lengannya yang dia taruh di atas meja.

Setelah menelan kue kering yang dikunyahnya, pemuda bermata amethyst ini berkomentar "Omae na.. Pantas saja dia menyuruhmu keluar untuk mencari udara segar. Lagipula jangan memaksakan dirimu lo' nanti sakit"

"Aku tidak memaksakan diri kok' sudah kebiasaan soalnya kalo sudah fokus berlatih jadi lupa waktu" balas Ayane mengaduk-aduk tehnya yang baru saja dia tambahkan gula.

Menyipitkan matanya dan memberikan tatapan tajam pada gadis di seberanganya lalu berkata "Lupanya kebangetan"

"Hehehe.." Ayane tertawa kecil lalu agar tidak diomeli lagi oleh Hajime, gadis bermata hazel ini kemudian mengganti topik pembicaraan mereka. "Ngomong-ngomong Mutsuki-san kenapa ke sini? Bukankah sedang libur?"

"Memang." Jawab sang idol berfans-kan Initium ini, "Sedang tugas mengajak kedua hewan ini jalan-jalan" lanjutnya menjelaskan kenapa dia bisa di sini

"Oh Begitu" balas Ayane sambil bergumam.

Melirik suasana kuning oranye dari balik kaca cafe, Hajime bergumam "Sepertinya hari sudah semakin sore, lebih baik aku pulang"

"Kalau begitu aku juga ikut!" dengan semangat Ayane tanpa sengaja berdiri dari kursinya.

Mengangkat salah satu alisnya, pemuda berambut hitam ini berkata, "Hah? Aku mau mengambil rute memutar menuju asrama untuk mengajak kedua hewan berbulu ini jalan-jalan"

"Tidak masalah, lagipula aku juga masih ingin menghabiskan waktu dengan Kuroda dan lagi kalau aku mengambil rute biasa, aku akan sampai ke apartemen sebelum jam tujuh," ucap Ayane yang berpikir lebih baik menghabiskan waktu bersama oranglain daripada dia sendirian di cafe ini menunggu sampai jam 7.

"Haaaa.." desah Hajime dengan pelan, "Yasudah terserah.." lanjutnya.

"Arigatou Mutsuki-san"

-;-

Daerah pemukiman sekitar asrama Tsukino memang lengang, maka tak heran kalau Rikudo cafe tak banyak dikunjungi orang, begitupula dengan kondisi jalanan pemukiman tersebut, akan tetapi dengan begini baik Hajime maupun artis yang tinggal di asrama dapat berjalan mengelilingi pemukiman dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan kerumunan orang yang mengejarnya.

Menatap gadis di sampingnya Hajime memanggilnya dengan pelan "Ne, Kurotsuki -" lalu kembali melanjutkan ketika Ayane membalasnya dengan sebuah suara kecil. " -Kenapa kamu sampai-sampai mengurung dirimu di kamar selama tiga hari seperti itu? Apa kamu tidak kuliah?" tanyanya heran, sepengetahuannya gadis tersebut bukannya masih kuliah?

Menggandeng tali yang melingkar di leher Kurokke, sambil berjalan beriringan dengan Hajime, Nadeshiko ini menjawab dengan santai "Soalnya sebentar lagi akan diadakan audisi untuk mengikuti kompetisi di kampus.." berhenti sejenak lalu kembali melanjutkan, "Karena mahasiswa kampusku itu sangat kompetitif dan bertalenta jadinya aku tak mau kalau deh'." dengan senyuman miris terlukis di bibir mungilnya, "Lebih tepatnya aku tak percaya diri kali ini bisa lolos lagi -" Ayane berhenti sejenak menatap jauh ke depan "- maka dari itu aku berlatih sampai lupa waktu. Hehehe. Dan tidak, karena selama tiga hari tersebut aku tidak kelas."

Padahal bukan hanya tiga hari terakhir ini saja, namun sudah sebulan penuh dia mengintensifkan latihannya.

"Oh begitu'" jawab Hajime singkat, melihat sosok Ayane dari samping, "tapi jangan memaksakan dirimu lo' bukannya lolos audisi nanti malah tidak bisa ikut audisi karena sakit lagi'." kemudian bertanya dengan nada heran "Lagipula bukankah permainan biolamu itu sudah bagus? Aku yakin dengan kemampuanmu itu sudah cukup membuatmu lolos dari audisi itu."

"Arigatou," senyuman hangat terlukis di bibir mungil sang Hime-sama itu namun Hajime dapat melihat keraguan di senyuman itu seakan-akan bukan Ayane yang biasanya.

Mengelus pucuk kepala gadis tersebut mengacak-ngacak rambut hitam lebat milik gadis bermata hazel itu, lalu berkata "Jangan remehkan dirimu sendiri."

Mata hazel itu membulat terpana dengan perkataan yang diucapkan pemuda tersebut lalu tertawa kecil "Mou Mutsuki-san! Rambutku jadi berantakkan tau. Tapi terimakasih sudah menghiburku." senyuman ragu itu perlahan hilang dari bibir mungilnya lalu digantikan dengan senyuman jahil "Seperti sesuai yang diharapkan dari leader Gravi. "

"Tidak ada hubungannya. Bukankah hal biasa menyemangati teman?" Seakan-akan kesal dengan perkataan lawan bicaranya, wajah karismatik milik Hajime kini berubah menjadi cemberut.

Kerlingan hangat terpancar dari mata hazel misterius Nadeshiko ini "Iya. Sekali lagi terimakasih ya, Mutsuki-san.."

"Mungkin sebaiknya kamu berhenti memanggilku Mutsuki" mendengar Ayane yang memanggilnya dengan menggunakan nama keluarganya, entah mengapa membuat idol ini merasa risih.

Memiringkan kepalanya ke samping tanda bingung dan berkata "Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Kuro-Ousama?"

"Dengar darimana julukan itu?" tanya Hajime yang terheran dengan ucapan gadis tersebut.

"Shoko adalah fans beratmu jadi aku tau dari dia" jawab sang gadis dengan santai

"Hajime"

"Eh?"

"Hajime. Panggil saja aku Hajime" mata amethystnya menyorot sosok Ayane dari samping.

"Baiklah. Kalau begitu panggil aku Ayane saja, Hajime-san" Balas Ayane yang kini juga menatap sosok Hajime yang memerhatikan dirinya

Terukir senyuman di sudut bibir Hajime, "Aa"

-;-