Chapter 7 : 大事な人々 (Daijina Hitobito) Orang tersayang
Seorang gadis berdiri di tengah jalan trotoar sambil menjinjing tote bag besar bertulisan 'Animate' di salah satu tangannya. Rambut cokelat ikut bergoyang bersamaan dengan gerakan kepalanya yang melihat-lihat ke kanan dan ke kiri. Raut wajahnya memancarkan kebingungan dan heran. Sepertinya gadis ini memang tak bisa berhenti dari kebiasaannya ini.
"Ini dimana?! Sepertinya aku tersesat. Lagi.."
Yup sekali lagi gadis berambut cokelat bernama Fujiwara Shoko ini kembali tersesat sepanjang jalan pulang. Untuk suatu alasan yang tak bisa dikatakan Shoko selalu saja tersesat, hanya beberapa tempat saja yang bisa gadis rambut cokelat bermata hijau ini hafal, yaitu jalan menuju animate, dan kampus. Selebihnya… rumah? Nah, dia bahkan tak tahu alamat rumahnya, malahan dia lebih tahu alamat apartment Kurotsuki Ayane yang merupakan sahabatnya.
Jadi kalau dia tahu akan tersesat lagi sepanjang pulang seperti ini, mengapa tidak mengajak orang lain atau bahkan sahabatnya itu untuk menemaninya ke tempat tujuan sebelumnya? Alasannya gampang karena Ayane hari ini sedang ada kelas tambahan dengan Tsukimori-sensei jadinya tak bisa mengajaknya, ditambah dengan dirinya yang terlalu semangat untuk segera pergi menuju tempat suci untuk membeli barang yang ditunggu-tunggunya.
Apalagi kalau bukan toko 'Animate'.
Tempat suci bisa dibilang surga bagi penggemar berat idol dari Tsukino Production. Karena di tempat itulah barang-barang dengan desain yang berkaitan dengan idol Tsukipro dijual di sana. Tak terkecuali dengan Fujiwara Shoko yang merupakan penggemar berat dari seorang Mutsuki Hajime, bahkan dia mempunyai kartu member Initium nomor 5. Dikarenakan hari ini akan dirilis beberapa merchandise Hajime, seperti strap handphone, topi, dan boneka tsukiusa edisi terbatas, oleh karena itu anak dari senator Jepang ini langsung berlari menuju toko 'Animate' selesai kelasnya.
"Oya, Jou-sama ada apa? Sepertinya sedang kebingungan"
Tiba-tiba gadis pemain flute ini mendengar suara menyapanya dari belakang. Bulu kuduknya bangun, rasa merinding menjalar ke seluruh tubuhnya. Gadis ini merasa ada sesuatu yang aneh berasal dari orang yang menyapanya itu. Mengepalkan tangannya, perlahan-lahan dia memberanikan diri membalikkan badannya untuk bertemu orang yang menyapanya itu.
"Ah! Maaf apa anda bisa memberitahuku ini daerah mana ya?" tanyanya dengan senyuman kecil di bibirnya.
Kalau dilihat baik-baik pemuda yang menyapanya itu bukanlah orang biasa. Entah kenapa Shoko dapat merasakan aura yang sama dengannya atau bahkan lebih kuat daripada diriya. Oleh karena itulah tadi dia merinding, karena jarang gadis berumur 21 tahun ini bertemu dengan orang yang memiliki aura yang sama dengannya.
-;-
Pupil mata dari Shimotsuki Shun sekilas mengecil seraya mendapati seorang gadis berambut panjang bermata hijau berdiri dihadapannya. Pemuda berambut silver ini tadinya ingin cepat-cepat masuk ke asrama, namun untuk suatu alasan disinilah dia berhenti di depan jalan asrama berhadapan dengan gadis bermata hijau.
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang berbeda.
Dengan senyuman lembut Shun memberitahukan alamat daerah ini
Tampang bingung tidak tahu apa-apa gadis dihadapannya itu hanya bisa terdiam
"Apa kamu tersesat? " tanya sang leader Procella lagi. Untuk suatu alasan mata kuning kehijauan miliknya memancarkan kerlingan nostalgia.
Mengalihkan pandangannya dari pemuda dihadapannya itu, Shoko menjawab dengan singkat, "Iya."
Shoko sepertinya tahu siapa pemuda ini. Kalau diingat-ingat pemuda ini mirip dengan Shimotsuki Shun sang leader Procella sekaligus pemegang kartu Initium no 6. Tak salah lagi. Gadis ini meyakinkan dirinya.
Senyuman penuh makna mengembang di bibir sang idol, lalu dengan nada ramah, memberikan saran "Kalau begitu bukannya lebih baik kamu menghubungi temanmu untuk menjemput?"
"Aku sedang tidak membawa handphone"
Maou-sama merogoh kantung celananya lalu menyerahkan smartphone miliknya kepada gadis itu. "Kau bisa mempakainya"
"Boleh nih?" dengan nada ragu gadis tersebut menatap smartphone yang disodorkan oleh sang idol padanya.
Satu anggukkan dan senyuman kecil dari Shun menjawabnya singkat. Bersamaan dengan perasaan tidak enak karena telah merepotkan ada juga perasaan lega menghampiri karena dengan ini Shoko bisa menghubungi seseorang untuk menjemputnya, tangannya meraih smartphone yang disodorkan padanya, lalu menggumamkan rasa terimakasihnya sebelum akhirnya dia memasukkan satu-satu nomor kontak yang dapat dia ingat.
"Moshi-moshi Ayane? Ini Shoko. Eto.."
Walaupun Shun sudah membalikkan tubuhnya untuk memberikan ruang pada Shoko menghubungi temannya, namun dengan samar-samar sang Maou-sama ini masih dapat mendengar percakapannya.
"Un.. Arigatou"
Jawaban singkat itu mengakhiri percakapan di antara Shoko dengan temannya itu.
"Terimakasih. Aku jadi tertolong." membalikkan badannya kembali ke posisi awal dan mengembalikan smarphone tersebut pada sang empunya. Karena merasa sudah merepotkan, gadis berambut cokelat ini berpikir untuk berterimakasih. Tapi apa yang bisa dia kasih? Tidak enak kalau hanya mengucapkan terimakasih saja bukan? Lalu apa? Sekilas teringat akan barang yang dibelinya tadi.
Gadis ini mengangkat tote bag miliknya, mengacak-ngacak isinya untuk menemukan barang yang dicarinya."Kalau kau tidak keberatan menerimanya ini -" menyerahkan sebuah strap handphone yang tadi dibelinya lalu melanjutkan perkataannya " -sebagai tanda terimakasihku"
"INI!" mata hijau kekuningan sang leader Procella ini berbinar seakan-akan ada bintang bersinar terpancar dari mata tersebut, lalu menerima pemberiaan gadis tersebut dengan hati-hati telapak tangan menimang benda pemberian tersebut. "Strap handphone Initium yang baru saja dijual hari ini~" kemudian menatap gadis tersebut dengan tatapan tak percaya "Apa tak apa-apa aku menerimanya?"
Senyuman lega tergambar di sudut bibir Shoko. Lega karena sepertinya pemuda tersebut menyukai pemberiannya, "Iya tidak apa-apa, lagipula ada dua strapnya." balasnya singkat.
"Wah~ Sungguh beruntung bisa mendapatkan dua strap Initium~~" nada bersemangat sekaligus kagum terdengar dari ucapan Shun, kemudian berubah menjadi nada penasaran, "Jangan-jangan kamu adalah penggemar Hajime~~"
"Tentu saja!" jawab Shoko dengan nada yang tak kalah semangatnya, kini mata hijau miliknya yang gantian bersinar bagaikan bintang di malam hari.
Tak percaya kalau dia bisa tidak sengaja menemukan satu lagi fans Hajime seperti ini. "Wah~~ aku menemukan teman~. Siapa namamu?" tanya Shun kembali. Sepertinya mereka berdua bisa menjadi teman baik.
"Fujiwara Shoko." senyuman kecil nan lembut menghiasi wajah gadis berambut cokelat dengan mata hijau yang bernama Fujiwara Shoko ini.
Senyuman nostalgia terukir di sudut bibir Shun sebalum akhirnya Tuan muda Shimotsuki ini akhirnya menjawab "Shimotsuki Shun"
-;-
"Shoko!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Shoko.
Membalikkan badannya, Shoko menemukan sahabatnya berlari menuju tempatnnya berdiri. "Ayane!"
Berhenti tepat beberapa langkah di depan Shoko, gadis bernama Ayane ini mencoba untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah karena tadi dia berlari. "Syukurlah kamu tidak apa-apa." ucapnya sambil memerhatikan Shoko dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
Seakan menjawab ucapan Ayane, Shoko hanya mengangguk sedikit, lalu dengan semangat dia pun bercerita, "Dengar deh Aya, aku berteman dengan anggota Initium lainnya lo'"
"Hah.." ekspresi bingung tergambar di wajah cantik Ayane ini.
Melingkarkan tangannya di selipan lengan Ayane, lalu menariknya ke samping, "Sini aku perkenalkan pada Shimotsuki Shun. Salah satu fans beratnya Hajime-san, leader dari Procellarum, dan sekaligus orang yang menolongku"
"Hajimemashite Shimotsuki Shun desu. Yoroshiku ne, Jou-san" dengan senyuman ala pangeran Shun memperkenalkan dirinya pada temannya Shoko ini. Entah mengapa sekilas dirinya merasa pernah melihat gadis cantik bagaikan Nadeshiko ini di suatu tempat.
Membalas senyuman ala pangeran tersebut, dengan senyuman hangat lalu memperkenalkan dirinya, "Kurotsuki Ayane, yoroshiku onegaishimasu. Maaf telah merepotkan dan terimakasih sudah menolong Shoko. " Ayane membungkukkan badannya sedikit sebagai rasa hormat sekaligus rasa terimakasih.
Sang idol membalasnya dengan santai, "Sama-sama. Lagipula aku diberikan Strap Initium terbaru ini sebagai hadiah.. Jadi tidak apa-apa, malah aku yang sangat berterimakasih"
"Ne, Aya -" Shoko mencoba mengalihkan perhatian sahabatnya tersebut, lalu kembali melanjutkan ketika Ayane menoleh, "Sudah semakin larut lebih baik kita pulang." pintanya ketika melihat langit yang kini semakin gelap.
Ayane menengok ke atas langit malam yang lama kelamaan semakin gelap, "Sou da ne," gumamnya pelan, lalu kedua bola mata hazel miliknya menatap sosok Shun dihadapannya "Kalau begitu Shimotsuki-san kami permisi dulu." ucapnya dengan sopan.
"Ja ne, Shun-san." timpal Shoko.
"Sekali lagi terimakasih banyak" kedua gadis tersebut membungkukkan badannya sedikit menyampaikan ucapan terimakasih, lalu beranjak dari tempat tersebut.
"Hai. Ja ne Jou-sama-tachi"
Kedua bola mata hijau kekuningan milik Shun hanya bisa menatapi sisi belakang kedua sosok gadis tersebut dalam diam. Perasaan nostalgia sekaligus sedih meruak di dalam hatinya, membuat perasaan Tuan muda ini berantakan tak seperti biasanya.
Sepertinya takdir kembali mempertemukan Shun dengan cintanya yang hilang.
-;-
"Shun sedang apa berdiri mematung di sana?"
Suara yang begitu familiar di telinganya itu terdengar dari balik badannya.
"Hajime~~~ kamu baru pulang juga ternyata. Okaeri" Tak terlihat lagi raut nostalgia nan sedih di wajah menawannya, kini hanya raut wajah ramah nan misterius terpampang di wajah tersebut.
"Aa tadaima" jawab seorang Mutsuki Hajime, salah satu alisnya terangkat seraya merasakan ada hal aneh dari gerak-gerik teman sesama leader yang berdiri dihadapannya tersebut.
Kerlingan begitu senangnya terpancar dari kedua iris mata hijau kekuningan Shun, "Ne Hajime coba lihat" dengan nada bersaemangat, lalu memperlihatkan strap yang diberikan oleh Shoko pada Hajime yang kini mulai berjalan memasuki lobi asrama di sampingnya "Ta-da!" kerlingan puas serta senyuman sangat gembira merekah di wajah tampannya itu.
"Strap itu.. Kau baru saja membelinya?" tanya Kuro-Ousama meladeni pemuda berambut silver tersebut.
Menggelengkan kepalanya, pemuda berambut silver tersebut menjawab "Tidak. Ini adalah pemberian sebagai ucapan terimakasih."
"Hee.. Ucapan terimakasih.." nada heran terdengar dari suara Hajime.
Seakan-akan bangga dengan apa yang dia lakukan tadi, Shun berkata dengan sombong "Sou da yo. Tadi aku menolong seseorang gadis tersesat lalu dihadiahi ini. Beruntung sekali diriku~~"
"Begitu.. Tumben sekali kamu bisa menolong orang tersesat -" mengingat Shun juga tidak bisa diandalkan kalau sudah berurusan dengan alamat jalan. Lalu menambahkan dengan skeptik "Jangan bilang kau malah membuat gadis itu tambah tersesat lagi' "
Menggerakkan salah satu jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "No, no, no. Aku hanya meminjamkan smartphoneku agar ada orang yang menjemputnya." senyuman kecil terbentuk di sudut bibir pemuda itu, mata hijau kekuningan miliknya menatap lurus seakan-akan melihat hal jauh di dapan sana.
"Heee" jawab Hajime singkat.
Sepertinya benar perkiraannya, ada yang aneh pada Shun. Yah walaupun biasanya leader Procella itu memang berkelakuan aneh, namu entah mengapa malam ini Shun terlihat berbeda. Mendesah pelan, Hajime memutuskan untuk tidak bertanya padanya karena dia percaya kalau Shun tidak mau membicarakannya berarti itu bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.
-;-
'Ne, Hajime-san apa tidak masalah jika aku memberitahu Shoko kalau kita berteman?'
Kalimat itulah yang terpampang dalam kolom chat dari Kurotsuki Ayane. Mengangkat salah satu alisnya hitamya, Mutsuki Hajime terus memandangi layar smartphonenya itu. Pemuda berumur 22 tahun mempertanyakan mengapa gadis menawan yang menjadi temannya sekarang ini meminta izin padanya untuk memberitahukan hubungan mereka berdua kepada Fujiwara Shoko yang merupakan sahabat dari sang gadis itu? Bukankah Ayane memiliki kebebasan untuk memberitahukannya, tanpa harus meminta izin terlebih dahulu? Lagipula Hajime sendiri juga tak keberatan tentang hal itu. Namun, kalau dipikirkan lagi mungkin Ayane sendiri bingung dan tidak enak padanya kalau langsung memberitahukan kepada Shoko tanpa meminta izin terhadapnya terlebih dahulu, secara sebagai idol yang digandrungi banyak orang ini mungkin saja dia akan menjadi risih.
Tapi Hajime tidak akan pernah berpikiran seperti itu.
Memang ada beberapa kasus yang membuat Kuro-Ousama ini agak sedikit risih, bila menyangkut statusnya sebagai idol. Mungkin bagi sebagaian orang memiliki status idol membuat hidupnya senang. Tapi seperti hukum alamiah dunia ini, ada sisi baik dan ada sisi buruk. Sisi baiknya dia dapat dikenal dan dikagumi banyak orang, namun di sisi lain dia tidak bisa menjalani hidup normal seperti oranglain pada umumnya.
Tak jarang ketika berada di kampus banyak orang yang mencoba mendekati Hajime hanya untuk sekedar mencuri perhatiannya itu. Sangat susah baginya untuk bergaul dengan oranglain seperti biasa. Bahkan bisa dikatakan orang di sekitarnya hanyalah teman palsu yang hanya mengharapkan bisa mendapatkan label 'teman dari sang idol'. Bukan berarti semua orang seperti itu, ada juga yang benar-benar tulus menjadi temannya bukan karena dia itu idola, tetapi kebanyakan dari mereka sering dimanfaati oranglain untuk mendekati sang idol tersebut. Oleh karena itu Hajime secara tak sadar membatasi pergaulannya.
Walaupun begitu leader Gravi ini percaya dengan Kurotsuki Ayane. Entah sejak kapan dirinya sangat percaya dengan Ayane, dirinya sendiri tak tahu akan jawabannya. Kalau memang itu keputusan gadis bermata hazel tersebut untuk memberitahukan hubungan mereka kepada oranglain, Hajime akan mengizinkannya.
Jemarinya menyentuh layar smartphone seraya mengitik balasan chat dari sang Nadeshiko tersebut.
'Iya tak masalah'
Kedua bola mata amethystnya menatap layar smartphone dihadapannya cukup lama.
"Mutsuki-san, maaf sebentar lagi giliran anda"
Panggilan salah seorang staff itu membuyarkan dirinya dari dunianya. Memasukkan samartphonenya kembali pada saku celananya, lalu beranjak dari tempatnya.
"Baiklah"
-;-
'Iya tak masalah'
Setelah melihat sebuah chat dari Hajime, senyuman kecil terukir di sudut bibir mungil milik Kurotsuki Ayane. Tangannya kembali memasukkan samrtphone ke dalam tote bag hitam bergambarkan piano miliknya. Mengangkat pandangannya kembali pada sahabat SMA nya yang kini sedang menganngkat gelas berisikan melon soda di tangannya.
"Mari bersulang merayakan suksesnya Ayane yang lolos audisi! Kanpai!"
Ayane dapat mendengar nada semangat sekaligus senang pada suara Fujiwara Shoko. Mengangkat teh camomile miliknya, lalu menyulangkan gelasnya dengan gelas melon soda sahabatnya itu dengan sebuah senyuman hangat.
"Kanpai!"
Selesai meminum melon sodanya, Shoko memberikan selamat kepada sahabatnya itu, "Selamat ya Ayane bisa lolos audisi!" lalu menyerahkan sebuah tote bag kepada gadis bermata hazel yang duduk di depannya itu dengan sumringah "Sebagai hadiahnya ini aku berikan padamu"
"Arigatou" Ayane menerima hadiah tersebut, pipinya sedikit memerah karena saking senangnya, lalu membuka tote bag itu, "Wah! Arainu Mamoru-san! Aaa Kawaii~~" kedua mata hazel miliknya berbinar ketika mendapati sebuah boneka Arainu berwarna ungu yang merupakan lambang dari Fujimura Mamoru, salah satu anggota dari Growth dan merupakan idola pujaan gadis ini, mengalihkan kembali perhatiannya pada sahabatnya dan bertanya "Apa tidak apa-apa aku menerimanya? Lagipula kan baru lolos audisi saja bukan memenangkan kompetisinya?"
"Mau baru lolos audisi ataupun menang kompetisi semuanya wajib dirayakan bukan? Anggap saja ini hadiah hasil latihanmu selama sebulan penuh ini." jelas Fujiwara Shoko dengan hangat, senyuman di bibirnya menandakan perasaannya yang senang karena sepertinya Ayane menyukai hadiah darinya. Tentu saja sahabatnya suka dengan hadiahnya, karena Arainu tersebut merupakan benda yang sangat diinginkannya.
"Terimakasih Shoko." sekali lagi sang Nadeshiko berterimakasih padda sahabatnya itu, mengelus lembut Arainu setinggi pinggangnya itu, "Kawaii na~~"
Menyedot kembali melon soda yang dipesannya lalu Shoko berkata, "Baguslah kalau kamu suka dengan hadiahmu"
"Tentu saja!" Ayane bergeming, senyuman bahagia merekah di bibir merah mudanya, kemudian seakan-akan dia baru saja mengingat sesuatu penting yang harus dia katakan kepada sahabatnya itu, Ayane melanjutkan perkataannya "Ah iya, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padamu"
Menyondongkan badannya sedikit sambil bersender pada tangannya di atas meja, "Apa itu?" mata hijau miliknya bertemu dengan mata hazel milik Kurotsuki Ayane
"Bagaimana memulainya ya.. Hmmm " sekilas mata hazel milik Ayane bergerak turun ke bawah seakan-akan bingung, suaranya terdengar ragu, "Ano ne Shoko -" Shoko mengangguk tanda mempersilahkan Ayane untuk melanjutkan perkataannya. " -Ini mengenai Hajime-san"
Tanpa sengaja, Shoko kembali menyondongkan badannya hingga benar-benar mendekati wajah Ayane, "Ada apa dengan Hajime-san?! Jangan bilang Ayane mulai jadi fans beratnya sepertiku?!~"
Menarik badannya menjauh sehingga membuat jarak dengan wajah Shoko, sambil mengibas-ngibaskan tangannya menyangkal ucapan temannya "Bukan, bukan, bukan seperti itu." Menunggu sahabatnya itu tenang dan menarik nafas dalam, baru melanjutkan "Sebenarnya aku berteman dengannya" menyiapkan kupingnya untuk menerima teriakan Shoko.
"HAH?!" Yup, seperti yang sudah dia duga, teriakan Shoko memecahkan suasana tenang cafe dimana mereka berada ini, "KOK BISA?!" semua pandangan tertuju pada meja mereka
Wajah malu akan kelakuan temannya itu tergambar jelas di wajah menawan Ayane, "Husshhh suaramu terlalu besar.."
Shoko tersadar ketika diperingati Ayane, terdiam sebentar lalu menundukkan kepalanya sedikit menggumamkan permintaan maaf pada pelanggan lainnya yang terganggu, setelah itu dengan tenang bagaikan tak terjadi apa-apa, Shoko mendeham, "Lalu? Kok bisa seperti itu?" tanyanya dengan nada sangat penasaran.
"Kamu boleh percaya boleh juga tidak dengan cerita ini juga tak apa-apa kok' " komen Ayane ragu kalau sahabatnya itu bisa percaya dengan ceritanya nanti.
Mengaduk-aduk melon sodanya menggunakan sedotan, mata hijau Shoko menatap lurus mata hazel dihadapannya itu dengan pandangan heran karena sang empunya mata tersebut meragukan dirinya "Kamu itu bicara apa? Tentu saja aku percaya padamu. Aku hanya shock saja."
"Oalah jadi begitu.."Shoko menimpali sesudahnya dia mendengar seluruh cerita sahabat SMA nya. "Lalu dengan kata lain Ayane sering menghubungi Hajime-san melalui chat?" tanyanya penasaran
Rambut hitam lebat milik sang Hime-sama itu ikut bergerak ketika menggelengkan kepalanya "Tidak terlalu sering sih," Ayane terdiam sebentar, lalu melanjutkan kembali, "Tapi sangat mudah berbincang-bincang dengannya, malahan aku terkadang lupa kalau dia seorang Idol." raut heran terlihat muncul di wajahnya. Entah ada alasan apa Ayane dapat berbicara santai dengan Mutsuki Hajime, sampai-sampai lupa kalau pemuda itu adalah salah satu idol terkenal di Jepang.
"Hee.. enaknya jadi Ayane bisa berbicara santai dengan Hajime-san" komentar Shoko dengan wajah cemberut, "Kalau aku jadi Ayane pasti aku bahagia sekali~~ Sampai-sampai aku tak keberatan meninggalkan dunia ini karena sudah bisa berbicara langsung dengan Hajime-san" wajah cemberut itu seketika berubah menjadi berbinar-binar
"Kalau begitu sih tidak boleh.." balas Ayane dengan senyuman jahil di ujung bibirnya.
Mata mereka berdua saling menatap dan kemudian mereka tertawa kecil.
"Kalau Ayane nyaman berteman dengan Hajime-san sih' aku tak keberatan." Itulah keputusan Shoko setelah tenang dari keterkejutannya. Menyetujui dan tak masalah dengan Ayane yang berteman dengan seorang Mutsuki Hajime. Kalau memang berteman dengan sang idol itu membuat Ayane senang sekaligus menambah orang yang penting baginya mengapa tidak.
Walaupun Shoko merupakan anggota Initium bukan berarti dia akan memanfaatkan pertemanannya Ayane dengan Hajime. Dia akan berlaku profesional membedakan dirinya yang merupakan fans dari Hajime dan dirinya yang merupakan sahabat Ayane. Lagipula merupakan kelakuan buruk memanfaatkan teman untuk tujuan pribadi bukan?
"Un.. Makasih ya Shoko." senyuman hangat sekaligus lega terpampang di wajah cantik Ayane. Akhirnya dia bisa menyampaikan hal ini pada sahabatnya itu. Sebenarnya sudah lama dia ingin menyampaikannya, namun karena terlalu fokus pada latihannya, akhirnya dia lupa.
-;-
"Maaf Kanade aku pulang duluan ya," ucap Kurotsuki Dai, sang manajer idol grup Procellarum, pada rekan kerjanya Tsukishiro Kanade, manajer idol grup Six Gravity. Sambil membereskan tumpukan kertas yang berserakan di atas meja kerjanya.
"Eh tumben kamu pulang duluan Dai? Ada urusan?" jawab Kanade memutarkan kursinya agar dapat berhadapan dengan kursi tempat meja kerja Dai. Matanya menandakan tatapan heran.
Mendesah lelah lalu menjawab "Aa, orangtuaku sedang ada di kota karena katanya ingin merayakan sesuatu" kemudian mengedikkan bahunya "Walaupun aku tak tahu mereka sedang merayakan apa"
Setelah mendengar penjelasan dari lawan bicaranya, Kanade menjawab kembali, "Oh begitu, yasudah lebih baik kamu menemui mereka" senyuman kecil terbentuk di bibirnya.
Memastikan tumpukan kertas tadi tertata rapi di pojokkan meja kerjanya, Dai mengambil kunci mobil dan smartphonenya lalu mulai beranjak dari tempatnya, "Iya. Yasudah aku duluan ya Kanade. Nanti kalau ada perubahan sedikit tolong hubungi ya' "
"Iya tentu saja" jawab Kanade singkat.
Dai melambaikan tangannya, "Ja na" lalu berjalan menuju elevator.
"Ja"
-;-
Kurotsuki Dai membuka dan merapihkan sepatunya di genkan, memasuki lorong rumah, berjalan menuju ruang tamu "Tadaima" salamnya, langkahnya terhenti tepat di pintu masuk ruang tamu, kedua matanya membulat mendapati begitu banyak makanan berjajar di atas meja. "Whoah! Banyak sekali makanannya!"
"Okaeri Dai-nii" terdengar suara lembut memanggilnya dari lorong yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur.
Matanya mendapati sosok gadis menawan yang sekarang berdiri dan meletakkan piring berisikan makanan ke atas meja "Ayane! Kamu ke sini juga rupanya?" tanyanya heran pada Ayane. Kalau Ayane di sini berarti ada sesuatu yang terjadi.
"Kamu ini bicara apa sih Dai, kalau Ayane tidak ke sini untuk apa kami repot-repot mengadakan perayaan seperti ini" kali ini Ibunya mucul dari dapur membawa beberapa gelas di tangannya.
Otaknya semakin tidak paham dengan ucapan ibunya, "Maksud ibu?"
"Ini semua untuk merayakan lolosnya Ayane ke kompetisi di kampusnya." Dai tersentak kaget mendengar suara Ayahnya menjawab.
Ayane tersenyum kecil lalu menimpali "Walaupun baru lolos audisinya saja lo' tou-san"
"Walaupun begitu kan kita harus tetap merayakannya. Anggap saja sebagai rasa syukur" komen sang Ibu menata gelas di atas meja.
"Yasudah jangan banyak bicara lagi lebih baik kita mulai saja pestanya." sang Ayah menggeser kursi, lalu duduk di atasnya, seakan-akan itu adalah sebuah tanda, semuanya mengikuti apa yang dia lakukan."Hora Dai, ayo berikan sepatah dua kata" suruhnya pada anak lelakinya itu.
"Bukanlah lebih baik ayah saja?" sambil mengangkat salah satu alisnya. Bukankah lebih etis kalau yang paling tua memberikan sambutan.
"Sudah cepatlah" paksa Ayahnya lagi yang memincingkan matanya memberikan tatapan mematikan.
Desahan lelah seakan-akan menyerah, akhirnya Dai mengikuti kemauan Ayahnya, "Baiklah kalau begitu. Untuk Ayane selamat ya bisa lolos lagi tahun ini, semoga bisa lanjut ke kompetisi nasional dan memenangkannya~ Kanpai!"
"Kanpai!"
-;-
"Ne, Dai-nii." panggil Ayane yang berdiri di samping Dai sambil mengeringkan piring, "Kalau tidak salah Dai bekerja sebagai manajer di Tsukipro bukan?" mata hazelnya menatap ke depan.
Dai yang kebagian tugas mencuci piring menjawabnya santai, "Iya manajer Procellarum. Apa Ayane tahu tentang Procellarum?" memiringkan kepalanya sedikit penasaran apakah adiknya itu tahu tentang Procellarum. Sepengetahuannya Ayane hanya menyukai dan mengikuti beberapa pemusik saja. Kebanyakan adalah musik classic namun bukan berarti dia tidak mengikuti yang lain. Adiknya itu juga mengikuti salah satu grup di bawah manajemen Tsukipro, tempat dia bekerja.
Tangannya berhenti sebentar dari tugasnya, lalu menjawab, "Pernah dengar sih lagu mereka di radio dan tv, lebih dari itu aku tak tahu. Maaf ya" sepertinya Ayane lupa kalau dia pernah bertemu dengan sang leader Procella.
"Tidak apa-apa. Lagipula kamu sukanya pada Growth bukan?" Yup, adiknya itu sangat suka sekali dengan Growth, karena menurutnya musik mereka menggambarkan perjalanan cerita fantasy.
Dengan semangat dan mata berbinar, Ayane menjawab, "Iya! Apalagi pada Mamoru-san~" setelah tenang, gadis menawan ini melanjutkan "Tapi akhir-akhir ini aku mulai belajar tentang grup maupun band lainnya. Terlebih sepertinya aku juga harus belajar tentang Procellarum, karena itu adalah grup yang dimanajeri oleh Dai sendiri." Mungkin pertemuannya dengan Mutsuki Hajime menjadi alasannya mempelajari berbagai aliran musik lain. Karena dengan begitu Ayane dapat mempelajari betapa sibuk dan melelahkannya bekerja sebagai pemusik.
Walaupun Dai tidak benar-benar tahu alasan Ayane, akan tetapi dia sudah cukup senang mendengar penyataan adik angkatnya itu, "Ayane benar-benar adik yang sangat pengertian!" tangannya mengacak-acak rambut Ayane, senyuman sumringah tergambar jelas di bibirnya
"Mou Dai! Rambutku kena sabun semua kan jadinya!" gerutu Ayane yang rambutnya kini di penuhi busa sabun cuci piring, namun dia tertawa geli.
-;-
