LAST GOODBYE
Author: Keiko Sine
School life – Romance – Sad – Yaoi || NC 17
Na Jaemin
Lee Jeno & Mark Lee
DO NOT COPY PASTE OR PLAGIARIZE!
.
.
So I traveled back, down that road
Will he come back, no one knows
I realize yeah, it was only Just A Dream
..
..
..
..
"Bukankah sebaiknya anda makan dulu, tuan muda?"
"Aku tidak lapar." Sergahnya cepat tanpa menoleh ke arah yang mengajak bicara.
Pria berusia 30 tahunan itu menghembuskan napas berat, bekerja di keluarga kaya raya tak pernah ia bayangkan akan menjadi sesulit ini. Baik tuan besar yang menjadi bosnya dan anak bosnya sama-sama sangat menjengkelkan dan keras kepala. Namun gaji untuk seorang asisten yang lebih besar dari di tempat lain membuatnya tetap bertahan.
"Mark— appamu mengomel di bawah…
"Aku bisa makan sendiri nanti, hyung… jangan ajak aku bicara, gamenya sedang seru nih." Tolak lelaki itu lagi.
Kim Jisub, asisten pribadi ayah Mark tak mau lebih ambil pusing dan segera keluar dari kamar remaja itu, meninggalkan Mark dengan video gamenya.
#Prak
Mark meletakkan PSPnya di meja.
Sejujurnya siapa yang tidak lapar setelah pulang sekolah dan harus mampir ke rumah sakit dimana Ibunya dirawat. Ini hanyalah alasannya agar tidak menatap wajah ayahnya selama makan malam.
Dia lapar, sungguh. Namun jika makan malam diselingi dengan ocehan-ocehan khas pria tua itu maka bisa ditebak Mark tidak akan sanggup lagi untuk setidaknya mengunyah nasi.
Yang ia tahu, ayahnya tidak pernah menyukainya.
"Kerjaanmu merepotkan saja, ini adalah ulahmu sampai Ibumu harus masuk rumah sakit."
Kalimat itu sangat kejam keluar dari bibir ayahnya seminggu sebelum mereka kembali pindah ke Korea.
Bisa dikatakan jika— Mark menyesal… jika waktu bisa diulang ia akan kembali ke malam dimana dia mengakhiri janjinya agar tidak terlambat pulang dan dapat membelikan obat untuk Ibunya. Dimalam dimana ia tak harus melihat wajah pucat ibunya dengan tubuh lemas sembari memegang perut.
"Usus buntunya kambuh lagi."
Dan dengan alasan itu Tuan Lee memutuskan untuk pulang ke Korea. Istrinya membutuhkan penjaga, atau setidaknya teman untuk mengingatkannya minum obat atau membawakannya makan. Karena yang pria itu pikir… anaknya sudah tak dapat diandalkan lagi.
Mark mengusap air bening yang keluar dari ujung matanya, sebisa mungkin mengatur napas agar isakan tangisnya tak keluar. Dia lelaki 17 tahun asal kau tahu…
Dan kalau dipikir lagi, kini ia jadi sedikit menyesal telah menolak Tangsuyuk pemberian Bibi Yura saat di rumah sakit tadi. Dia benar-benar kelaparan.
Mark mengambil jaket hitamnya di gantungan lemari, dia harus keluar untuk makan sesuatu paling tidak ramyeon. Ia menuruni tangga dengan cepat, tak sengaja melihat makan malamnya masih utuh di meja namun tidak untuk piring kosong yang ia yakin itu adalah bekas ayahnya.
Dia tak peduli lagi.
Mark membuka dan menutup gerbang rumahnya dengan effort yang sangat banyak mengingat seberapa besar gerbang itu. Jika bisa dibilang… rumahnya adalah salah satu yang terbesar dan termahal di kompleks ini mengingat tingginya harga tanah di Seoul.
Namun apa daya sebuah rumah bak istana namun tak ada kehangatan di dalamnya? Dia membatin seorang diri.
Udara malam berhembus saat ia berbelok menuju jalan besar, Mark mengencangkan resleting jaketnya. Ini adalah kawasan Myeongdong yang terkenal akan berbagai café dan boutiq yang bagus, juga pastinya— mereka menerima pembayaran dengan kartu kredit mengingat Mark tidak membawa sepeserpun uang cash.
Dia memasuki sebuah restaurant khas China lalu memesan Wantan-mien dan Dimsum. Menempatkan diri di meja paling ujung menghadap keluar jendela. Mark menikmati suasananya.
Jika dipikir lagi, ini adalah kali pertama dia memakan makanan China favoritnya setelah tiba di Korea. Mark menatap keluar jendela memperhatikan para pedestrian memenuhi jalanan kota Seoul, ini sedikit berbeda dengan di Canada. Orang-orang di Vancouver cenderung monoton dan gaya berpakaiannya tidak semenarik orang-orang di sini. Begitulah yang ia rasakan, orang barat lebih cuek untuk urusan apapun.
Tak lama kemudian pesanannya datang dan langsung memenuhi hampir dari setengah meja. Rasanya menjadi sangat enak saat Mark memakan suapan pertama. Mungkin ini karena ia sudah lama tidak memakan hidangan mie ini.
Detik-detik selanjutnya terasa sunyi dan hanya bunyi sumpit juga iringan lagu Miracle in December yang terdengar sebelum pengelihatan Mark menangkap sesuatu di luar sana. Pandangannya menembus kaca jendela ke arah dua pemuda seusianya yang sepertinya tengah bercanda.
Mereka terlihat saling bercanda dan sesekali tertawa bersama, seolah mengejek dirinya yang hanya makan di kursi sendiri dengan mangkuk mie yang telah tersisa setengah penuh. Mark mengambil jus jeruknya, menyembunyikan wajahnya dibalik gelas dengan mata yang masih memandang ke arah yang sama sejak lima menit berlalu.
.
.
.
Di sisi lain…
"Jaem, kau kenal anak itu?" Jeno menghalangi tangan Jaemin yang hendak mencubit pipinya.
"Tidak, aku tidak akan kena tipu kali ini."
"Hei aku serius."
"Usaha bagus, tapi aku tidak akan menoleh ke belakang."
"Yak lihatlah dulu…" Jeno menarik bahu Jaemin agar melihat kearah yang ia maksud.
Sepasang mata itu menatap keduanya dengan pandangan sayu. Jeno dan Jaemin tidak dapat melihat wajah orang tersebut, namun— mereka yakin bahwa lelaki yang ada di dalam restaurant itu sedang memperhatikan keduanya.
"Apakah dia benar-benar memperhatikan kita? Kenapa?"
"Entahlah… kau mengenalnya?"
Jaemin memiringkan kepalanya mencoba untuk mengingat… "Kurasa tidak, aku tidak bisa melihat wajahnya."
Melihat Jaemin yang terfokus ke arah lain membuat Jeno mengambil kesempatan—
#Chu~
Lelaki sipit itu mencium pipi Jaemin cepat, lalu berlari menghindari Jaemin yang pastinya akan mengamuk.
"Yah Lee Jeno berhenti… kau kalah main gunting-batu-kertas harusnya kau yang kujewer..!"
"AAAKKK Ampuunnn..!"
.
.
.
-LAST GOODBYE-
.
.
.
Jaemin tahu bahwa Jeno tidak pernah "menyukainya" dalam artian besar, si sipit itu hanya bersikap jahil dengan menggodanya agar membuat Jaemin merajuk… kebiasaan mereka sejak lima tahun lalu.
Jadi jika perasaannya ditarik ulur seperti ini sudah jadi hal biasa bagi Jaemin. Pelukan dan ciuman Jeno takkan bertahan lama sampai sehari sesaat setelah lelaki itu kembali ke kebiasaan buruknya.
Seperti halnya hari ini dia kembali membuat ulah dengan membolos di jam kedua pelajaran hingga Kang Junhyung, teman sekelas Jeno harus mencari lelaki itu kemana-mana karena dipanggil Guru Shin.
Persetan dengan Jeno dan segala tingkahnya.
Jaemin masuk ke dalam kelasnya saat beberapa siswa bergerombol di kursi belakang dimana ketua kelas mereka duduk.
"Yeri? Lalu siapa pasangannya?"
"Bagaimana kalau si anak baru?"
"Kau bercanda? Dia bahkan tidak pernah tersenyum kepada kita teman sekelasnya, apa kau berpikir dia akan tersenyum kepada juri?"
"Kurasa pilihan terakhir adalah Jaemin."
"APA?" merasa namanya dipanggil, Jaemin segera ikut berkumpul di kerumunan itu. "Kenapa aku?" sepuluh orang disana menatap Jaemin sungkan.
"Karena kau tampan dan cocok jadi mascot, oke? Ulululu~" goda Heechan sembari memainkan dagu Jaemin.
"Tidak, kenapa bukan ketua kelas saja? Dia terkenal punya banyak penggemar, huh." Elak Jaemin sebisa mungkin.
"Aku sudah ikut tahun lalu, tahun ini harus ada peserta baru, Jaem… lagipula Yeri setuju dipasangkan denganmu." Bisik Hyunbin si ketua kelas.
Mendengar itu sontak Jaemin menoleh ke arah Yeri. Dia memang cukup cantik dan ceria, namun sayang— Jaemin tidak suka gadis cerewet.
Ehem-
Sesaat setelah seseorang berdehem dan ruang kelas mendadak sepi. Semua mata tertuju pada sosok dingin yang tengah berjalan ke belakang, duduk tepat di samping kursi Hyunbin membuat gerombolan itu terpecah.
Dalam bayangan Jaemin, dia seolah dapat melihat sepasang sayap hitam kelam yang berada di punggung Mark. Katakanlah imajinasinya sangat liar dan aneh, namun— suasana saat ini sangat mendukung untuk imajinasi bodoh di kepalanya.
Mark Lee masih belum bisa meninggalkan kesan baik di sekolah bahkan di dalam kelasnya sendiri. Namun sekali dua kali Hyunbin akan sedikit mengajaknya bicara untuk sekedar basa-basi. Setidaknya ketua kelas sadar jika harus bertingkah sedikit hangat kepada si anak baru.
Bel masuk berbunyi dan para siswa sudah duduk di kursi masing-masing. Heechan menyenggol lengan Jaemin sambil memberikan cengiran bodohnya, "Mascot Na…" godanya pada Jaemin.
Jaemin tak ingin menanggapi dan hanya memberikan juluran lidah pada Heechan yang berada di sebelahnya saat pelajaran Matematika dimulai dan para siswa berkonsentrai pada buku dan papan tulis, namun di sisi lain— entah mengapa Jaemin merasa seolah ada yang tengah memperhatikannya.
Anak baru itu memperhatikanku.
..
..
..
..
"Itu bagus kalau kau menang jadi mascot… bisa-bisa jadi pangeran di sekolah." Ucap Jeno sembari menerawang menghadap langit-langit kamarnya.
"Tapi aku tidak butuh semua itu." Jawab Jaemin sambil masih berkonsentrasi menyalin buku catatan milik Jeno.
Pelajaran Ekonomi di kelas Jeno berlangsung dua hari lebih awal dibanding kelas Jaemin. Dan beginilah rajinnya lelaki Na itu menulis pelajaran untuk besok.
"Kalau di kelasku Hanbin yang akan maju menjadi mascot… kau tahu, dia memiliki tingkat kepercaya dirian sepuluh kali lebih banyak dibanding orang-orang pada umumnya."
Jaemin tertawa singkat mendengar semua itu. Kalau dipikir lagi, ini adalah pertama dari sekian lama ia memasuki kamar Jeno lagi. Tak banyak yang berubah selama lima tahun lebih mereka berkenalan, namun yang mengganjal pikirannya adalah… bahwa tempat ini juga yang menjadi saksi bisu malam-malam panas Jeno dengan para wanita yang dibawanya.
Jaemin menahan napas saat helaan berat itu hendak keluar. Memikirkannya saja membuat dadanya kalut, kini pena yang ada digenggamannya bergetar pelan. "Jeno-ya…
"Jaemin-ah…
eh?
"Apa? Kau bicara saja dulu." Jaemin memutar kursinya agar dapat menatap Jeno yang tengah berbaring di ranjang.
"Tidak tidak… kau dulu." Jeno bangun lalu mendudukkan dirinya di ranjang menghadap Jaemin.
Lelaki manis itu menunduk malu diperhatikan Jeno, "Nanti… di hari festival, pastikan kau melihat pertunjukanku, oke?"
"Hari festival?" Jeno menaikkan sebelah alisnya, memutar pikiran apakah ia sibuk di tanggal 23 dimana festival itu berlangsung.
"T-tidak perlu menonton dari awal sampai akhir… hanya saja, ketika aku dan Yeri tampil, aku ingin kau di sana." Jaemin tahu Jeno tidak ingin direpotkan, ia paham lelaki itu pasti punya 'rencana lain' untuk dilakukan tapi hanya saja… tidak bisakah untuk sepuluh menit saja Jeno duduk dan menyaksikannya di atas panggung.
Jaemin menggigit bibir bawahnya takut, merasa harapannya sirna melihat Jeno tak kunjung menjawab.
"Hei, jangan menggigit bibir seperti itu…" Jeno turun dari ranjang untuk menghentikan Jaemin melukai bibirnya sendiri. "Aku akan datang, Jaem."
"B-benarkah?" mata Jaemin melebar, "tidak perlu lama, hanya sepuluh menit lalu kau bisa pergi lagi—
"Hei, kenapa kau memohon seperti itu? Seperti orang lain saja hehe~
A-aku hanya takut kau menolak, Lee Jeno. Jika aku tak bersiap dari awal, maka rasanya akan sangat sakit.
"Janji?" Jaemin mengangkat jari kelingkingnya di depan wajah Jeno.
Dengan begitu Jeno tersenyum lalu menyambutnya dengan jari kelingking lalu menautkan keduanya. "Janji."
Oh tidak. Ini bahaya.
Kenapa wajah Jeno bisa sangat dekat?
Pipi Jaemin memerah. "Lalu— apa yang ingin kau katakan tadi?" dia memunggungi Jeno untuk kembali menuliskan sisa catatan yang sedikit lagi selesai. Sebuah gerakan penyangkalan yang cepat… karena menatap wajah Jeno dengan jarak yang sangat dekat tidaklah bagus untuk jantungnya. Bisa-bisa degupan itu terdengar sangat kencang hingga terdengar oleh si lelaki yang dikaguminya. Dia akan sangat malu jika hal itu terjadi.
"Oh ya, aku hampir lupa… Jaemin-ah, aku tadi bertemu dengan lelaki yang sangat manis di tempat karaoke."
Tak terasa Jaemin menghentikan goresan pena di kertas putihnya.
"Dia sangat cantik sampai aku harus membuang harga diriku untuk meminta nomor teleponnya, hahaa."
Deg!
Deg!
Lebih cantik dariku? Gumam Jaemin dalam hati.
"Dia dari China, namanya Renjun… apakah aku harus mengiriminya pesan chat lebih dulu? Yah, apa yang harus ku katakan?" kikikan tawa Jeno membuat Jaemin semakin kalut, dengan membara lelaki itu menulis sisa catatan di bukunya dengan gerakan tangan super cepat… entah seperti apa jadinya catatan ini.
"Kenapa kau tanya padaku? 'kan pengalamanmu jadi playboy."
"Hm… aku malu, dia terlihat sangat manis dan baik, kau tahu?"
"Tidak, aku tidak tahu." Sela Jaemin cepat lalu mendorong kursi yang didudukinya, ia berdiri di depan Jeno. "Dan kau tahu apa? Lelaki baik-baik tidak akan bekerja di karaoke dan memberikan nomor teleponnya kepada orang asing yang baru ditemui." Sambungnya lalu menggendong tas sekolahnya, menutup pintu kamar Jeno dengan debaman, meninggalkan sang pemilik terdiam duduk di ranjang.
"Yahh kenapa kau tiba-tiba marah..?!"
Aku cemburu, Lee Jeno.
.
.
.
-LAST GOODBYE-
.
.
.
"Dasar tupai jelek menyebalkan..!" Jaemin menendang kerikil di depan kakinya hingga membentur tiang lampu jalan.
Bisa-bisanya setelah adegan manis itu hanya dalam lima detik berhasil dibuat pahit oleh Lee Jeno. Hm, jadi kali ini one night standnya adalah seorang laki-laki? Setelah sekian lama Jeno baru membuka hati untuk laki-laki, namun kenapa harus ada orang lain?
Jaemin menutuk wajah dengan kedua tangannya. Memang seperti ini. Jeno tidak akan pernah melihatnya sebagai seseorang yang 'spesial' dan hanya menganggapnya sebatas teman tetangga. Seharusnya harus ia ingat selalu fakta-fakta itu agar tak terlalu dalam jatuh kepada pesona seorang playboy tupai menyebalkan seperti Jeno.
"Hah…" Jaemin menghembuskan napas kasar.
Meskipun rumah Jeno berhadapan dengan rumahnya, Jaemin memutuskan untuk tidak langsung kembali pulang. Dia butuh udara… dan di sinilah lelaki itu mendudukkan diri— di depan sebuah supermarket yang terletak di perempatan setelah berbelok keluar dari kompleks rumahnya.
..
..
..
..
Mark, begitu namanya disebut, memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas sekolah lalu meminum segelas air di meja.
"Apa kau tidak mau langsung pulang sekarang, Mark? Kelihatannya sudah lelah… kau sudah ada di sini semenjak pulang sekolah tadi."
Yang diajak bicara hanya tersenyum tipis menanggapi. Jika dipikir lagi— Mark jadi sedikit lebih pendiam setelah kepindahannya ke Negara asal ibunya.
"Eomma-mu hanya perlu istirahat setelah operasi, Mark. Lihatlah, sekarang dia sedang tidur… kau juga harus istirahat, besok kemarilah lagi, ne?"
"Baiklah Bibi Yura, terima kasih sudah menjaga Eomma."
Mungkin keputusan Ayahnya untuk kembali ke Korea memang benar, disini ada keluarga Ibunya yang merawat selagi dirinya sekolah dan ayahnya bekerja. Namun atas keputusan itu pula, kecanggungan diantara ayah dan anak itu terjadi.
Mark melangkah keluar dari gedung VIP Rumah Sakit Nasional Seoul, berjalan dimana mobilnya terparkir. Lelaki campuran Korea-Canada itu melajukan mobilnya lambat saat melewati kios-kios yang menjual makanan Korea di malam hari.
"Aku ingin Odeng…"
Memarkirkan mobilnya di halaman sebuah supermarket terdekat lalu berjalan ke kios tadi, Mark seperti bernostalgia ketika masa kecilnya memakan Tteokboki hanya seharga 500sen.
"Anak yang tampan… mau tambah lagi?" tawar Ajhumoni si penjual.
Mark tersenyum lalu mengangguk singkat. "Lima lagi, Immo."
Ini adalah rasa Korea yang akan selalu diingatnya… huh saat rasa pedas gochujang merambat di lidah dan tenggorokannya, Mark melangkah ke sebuah vending machine. Dia memasukkan koin lalu menekan tombol di depan gambar Cola.
Masih mengenakan seragam sekolah dengan jaket hitam kesayangannya, Mark duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di depan supermarket. Setidaknya dia ingin bersantai dan menghirup udara bebas sebelum kembali ke rumah.
..
..
..
Jaemin berjalan keluar supermarket setelah berhasil membeli Ramyeon keju kesukaannya dan dua batang cokelat. Namun, saat ia hendak kembali duduk di bangku depan, seseorang sudah menempati tempat duduk di sisi lain bangku itu.
Melihat dari postur tubuh orang itu, sepertinya familiar. Jaemin dengan penasaran ikut duduk di sisi kanan bangku. Perlahan menolehkan wajahnya—
"Mark Lee?"
Lelaki itu sontak menoleh. "J-jaemin…" matanya membelak, tak menyangka akan bertemu Na Jaemin di sini.
Pandangan mereka tertangkap cukup lama, hingga Mark tersadar dan hendak beranjak pergi sebelum Jaemin dengan cepat menahan lengannya.
"Apa itu kau?" Tanya Jaemin tiba-tiba.
"Hm?" Mark mengerutkan alisnya tak paham. Dia menatap Jaemin, terkejut melihat pemandangan mata lelaki itu yang sembab dan memerah. 'Apa dia habis menangis?'
"Apakah itu kau, yang berada di restaurant kemarin malam memperhatikanku?" Jaemin menggigit bibir bawahnya, apakah ini tidak sopan berbicara tiba-tiba begini?
Di sisi lain Mark menggumam dalam hati. Dia ketahuan.
Melihat Mark tak kunjung membuka suara membuat Jaemin geram. "Aku yakin itu kau… kau memiliki mata yang sama dengan orang di restaurant kemarin."
"…"
Genggaman tangan Jaemin di lengan Mark mengeras. "Dan aku tahu… setiap hari, di dalam kelas, kau juga memperhatikanku. Kenapa? Marcus Lee, mengapa kau—
"Kau mengingatku?" tidak mungkin. Batin Mark.
Jaemin tidak mungkin mengingatnya, batin dan otaknya berusaha keras untuk berpikir. Apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan siapa dirinya kepada Jaemin dan berhenti bertingkah seperti pengecut yang ketakutan?
"Apa?" Jaemin menatap Mark dengan pandangan lekat. Apakah si anak baru ini akan main-main padanya?
Mark tersenyum dan di saat yang bersamaan tatapan Jaemin mulai melembut. "Kurasa tidak mungkin kau ingat padaku. Tapi ini aku, Nana-ya… Minhyung hyung."
"M-minhyung?" ucapnya terdengar serak.
.
.
.
-To Be Continued-
Author Note:
Aaaah akika nggak kuat hhuhu… . too much soft too much angst. ;'(
Pengennya bikin yg gak terlalu sedih gitu buat Jaeminnya, tapi yah bagaimana lagi Cinderella kan susahnya di awal yee.. (?) HAHA
Jadi intinya ini nanti kisah hubungan MarkNoMin akan sangat complicated gitu… ada yg benci jadi cinta, ada yg cinta jadi tambah cinta, ya tungguin aja deh dan doain otak ini encer untuk ngeluarin semua imajinasi liar yg udah bersemayam lama di kepala wkwkk… mikirnya dari dlu soalnya, baru kesampaian nulis sekarang-sekarang ini.
So, gimana pendapatmu? Jangan lupa review dan Vote :-D
See you~
Regard.
-Keiko Sine
