Ini kali pertama Sehun menepis tangannya "Lalu kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan?" dan kali pertama juga Sehun mengeluarkan nada sinis "Apa kau baik baik saja?" Sehun melihat keadaan Jongin yang sepertinya baik baik saja "Aku tidak tau apa yang kau mau sehingga kau selalu membullyku, jika kau memintaku pergi aku akan pergi" Sehun menatap Jongin "Bahkan jika itu harus menghilang dari muka bumi ini"
Happy Reading~~~
Ini sudah dua hari Sehun tidak masuk sekolah dan selama dua hari ini Jongin duduk di bangku Sehun. Apa Sehun beneran akan pergi dari hidupnya? Selama pelajaran berlanjut Jongin sama sekali tidak fokus dan selalu melihat buku Sehun yang ia simpan di laci mejanya. Lalu menemukan selembar foto Sehun bersama foto anak keci yang sangat imut. Jongin mengerutkan keningnya bingung
Bel pulang menandakan pulang berbunyi. Langit berwarna gelap menandakan akan turun hujan. Jongin langsung pamit pulang dengan semuanya. Berjalan di pinggir toko tidak buruk juga pikir Jongin. Jongin yang sedang menunggu lampu hijau untuk para pejalan kaki memeriksa handphonenya. Tidak ada apa apa
Tes... Tes...
Tetesan hujan mulai turun dan mengenai layar handphone Jongin. Setelah lampu hijau untuk para pejalan kaki menyala Jongin langsung berlari bertedu di pinggir toko buku. Menyeka bahunya yang terkena tetesan air. Hujan turun lumayan deras kalau ia lari sampai rumah ia bisa basah kuyup jadi ia memutuskan untuk bertedu sebentar. Saat melihat keseliling ia melihat sosok yang hilang dua hari lalu. Tangan kanan yang digendong dengan kain penyanggah dan memegang kantung plastik yang sepertinya tidak terlalu berat dan tangan kiri yang memegang payung berwarna biru berjalan santai di sebrang sana
Sehun berhenti di depan kotak lalu menunduk. Jongin mencoba menajamkan penglihatannya. Melihat apa yang dilakukan Sehun. Lalu Sehun berdiri meninggakan payung itu dikardus lalu buru buru berlari sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepala walau ia tau dia akan basah juga pada akhirnya
Jongin menyebrang setelah ia tau tidak ada kendaraan yang lewat. Jongin sampai di depan kardus itu lalu melihat kebalik payung. Tiga ekor anak kucing yang sedang kedinginan. Jongin tertawa mengetahui apa yang telah Sehun selamatkan. Jongin berfikir Sehun adalah anak yang benar benar naif. Dirinya sendiri saja kedinginan tapi masih memikirkan yang lain dan berkorban demi orang lain. Jongin jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Sehun mendorongnya dari tumpukan balok yang jatuh. Jongin segera mengambil payung itu dan kardusnya juga
...
Pagi ini ntah kenapa Jongin datang pagi pagi sekali. Di kooridor hanya ada beberapa anak murid. Saat Jongin masuk kekelas ia terpaku didepan pintu. Seseorang yang sedang tertidur dibangkunya, Jongin yakin itu adalah dia. Tangan kanannya tidak terlipat keatas lebih meyakinkan dia bahwa itu Sehun. Kepala Sehun berbalik dan Jongin lebih bisa melihatnya walau sedikit tertutup dengan helaian rambutnya. Jongin mendekat lalu memperhatikan wajah tidur Sehun yang tampak nyaman. Tapi..
Tuk...
Jongin menendang kaki meja Sehun yang otomatis membangunkan Sehun. Sehun mengucek matanya dengan lucu lalu mendongak melihat keatas. Matanya langsung melotot melihat siapa didepannya dan sadar atau tidak Sehun mundur dengan bangkunya juga. Jongin menarik tangan kiri Sehun lalu membawanya keluar kelas. Sehun terus memberontak namun Jongin tetap memegang tangan Sehun dengan kuat. Mereka masuk keruangan UKS lalu Jongin agak sedikit kasar melepas Sehun karena Jongin juga sedikit melempar Sehun kedepan
"Apa lagi maumu"
Jongin menjatuhkn tasnya lalu maju satu langkah, Sehun mundur satu langkah
"Jangan mendekat" kata Sehun berbisik
Dua langkah
"Aku bilang jangan mendekat!"
Sehun sudah berada diujung dan tidak bisa lari kemana mana lagi. Jongin yang berada didepannya mengulurkan kedua tangannya kedepan dan tanpa Sehun percaya Jongin meraih kancing blazer Sehun yang tertutup. Sehun segera mencegah tangan Jongin dengan satu tangan
"Apa yang ingin kau lakukan"
Jongin tanpa berkata menepis tangan Sehun kasar lalu dengan cepat membuka baju Sehun. Sehun terus memberontak. Setelah semua kancing sudah terbuka Jongin menyibak baju Sehun melewati bahu kanannya. Jongin hanya melihat bahu yang di perban tanpa berniat apa apa. Sehun terdiam melihat wajah sedih Jongin. Ia tidak bisa membaca pikiran Jongin dari sorot matanya sampai ia sadar lalu menepis tangan Jongin yang membuat Jongin kembali tersadar
"Jangan memamerkan wajah kasihanmu" Sehun merapihkan kembali baju yang tersibak "Kau terlihat seperti mengasihaniku" kata Sehun dengan senyum mengejek
Enah kenapa belakangan ini ia sedikit berani melawan Jongin dan Jongin hanya diam tampa membalas. Sehun mencoba menggerakkan tangannya namun nihil. Tangan kanannya kaku tidak bisa digerakkan. Sehun mencoba mengancing dengan satu tangan namun ia merasa itu sangatlah susah. Sehun terus mencoba mengancing bajunya namun lagi lagi gagal. Sehun putus asa, ia memang belum bisa apa apa dan seharusnya dia masih berada di rumah atau dirumah sakit
Jongin kembali mengulurkan tangannya setelah sekian lama ia terdiam didepan Sehun. Ia bisa melihat Sehun yang kesusahan mengancing pakaiannya. Jongin mulai mengancingi satu persatu hingga kembali seperti semula. Merapihkan baju Sehun setelahnya mengancing blazer seperti semula. Berjalan membalik lalu mengambil tasnya dan pergi keluar UKS. Sehun membesarkan matanya lalu mematung di tempat tidak percaya apa yang dikatakan Jongin. Nada itu, nada yang tulus tanpa ada nada mengejek seperti biasa. Nada ini nada yang sangat menyesal. Apa benar Jongin menyesal?
Selama pelajaran berlangsung Sehun sama sekali tidak fokus. Ia terus memandang keluar jendela melihat siswa yang sedang berolahraga di bawah. Sesekali mencoter coret tidak jelas di buku yang ia simpan di lacinya. Sehun membuka lembaran buku itu lalu terdiam sebentar. Ia kehilangan sesuatu lagi sesuatu yang harus ia simpan dengan rapat di luar publik. Foto ia dengan Kyungsoo hilang. Sehun langsung melihat kedalam laci namun nihil tidak ada apa apa didalam laci. Sehun berusaha setenang mungkin ketika salah satu teman Jongin memperhatikannya
Bel istirahat menandakan istirahat berbunyi. Dan kembali awal dimana Sehun mulai di ganggu oleh temannya. Dari melempar Sehun dengan kotak susu, lalu menaruh sampah di loker Sehun, meletakan baju olahraga Sehun di tong sampah dan lainnya. Sehun benar benar sudah tidak kuat. Akal sehatnya mengambil semuanya dan disinilah Sehun sekarang. Didepan kolam renang sekolah siap siap akan menjatuhkan dirinya kedalam air yang tingginya lebih dua meter. Sehun menutup matanya lalu berjalan kedepan dirasakannya ia sudah berada di pinggil kolam ia menjatuhkan tubuhnya tampa beban kedalam kolam
Byurrr...
Dada Sehun begitu sesak dan kesadarannya sedikit demi sedikit mengabur tapi ia masih bisa melihat seseorang menyebur kedalam lalu semua menjadi gelap
...
"Astaha Sehun apa yang sedang kau pikirkan nak" Bibi Han langsung menyembur Sehun ketika ia sadarkan diri
Sehun hanya melihat sekelilingnya. Ia berada di rumah sakit Lay. Kenapa ia bisa berada di sini. Sehun teringat ada orang yang menolongnya, apa dia juga yang membawa Sehun kemari
"Bibi Han, kenapa aku ada disini?" tanya Sehun
"Seseorang menelpon Bibi dan mengatakan kau tenggelam di kolam renang sekolah" jelas Bibi Han
"Siapa yang menelpon Bibi?" tanya Sehun lagi
i
"Aku tidak tau, dia hanya menelponku dan Lay menjemputmu di ruangan UKS sekolah"
Sehun menerawang kedepan. Melihat langit langit ruang inapnya sepertinya sangat menarik. Sehun sudah sendiri karena jam besuk sudah selesai dan Bibi Han mengandalkan Sehun dengan Lay dokter yang menangani patah tulang Sehun. Lay masuk kedalam ruangan Sehun hanya ingin memastikan Sehun baik baik saja
"Belum tidur?" tanya Lay setelah duduk dibangku disebelah tempat tidur Sehun
"Belum bisa tidur"
"Jika kau ingin bunuh diri aku punya obat yang bisa membuatmu overdosis. Aku akan memberikannya kepadamu kalau kau mau" kata Lay santai
"A... Ak... Aku tergelincir"
"Dasar bocah tukang ngeles"
"Hei! Siapa yang kau katakan bocah"
"Kenapa kau tidak berfikir panjang dulu sebelum melakukannya?"
"Otakku sudah dimakan oleh akal sehatku"
"Otak penggerak semuanya, yang ada otakmu yang memakan akal sehatmu"
"Terserah kau"
Tiba tiba mereka menjadi diam. Hanya suara dentingan jam yang terdengar dengan jelas
"Keluarlah aku ingin istirahat"
"Apa dia orangnya?" Sehun langsung melihat kearah Lay meminta penjelasan "Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Lay
"Orang apa? Siapa?!"
"Tidak jadi, tidurlah" Lay berjalan keluar seperti tampa beban
"Hei! Dasar kau menyebalkan Zhang Yixing!"
Lay menutup pintu dengan santai lalu saat ia ingin pergi langkahnya terhenti melihat seseorang berdiri di sebelah ruangan Sehun
"Maaf tapi jam be_"
"Bagaimana keadaannya?"
Bersambung...
Hai~~ hai~~
Yang mintak di lanjutkan ini uda dilanjutkan ya ffnya semoga gak mengecewakan dengan hasil ceritanya yang makin membingungkan^^
Maaf telat banget updatenya soalnya sempat gak nemui ide padahal ngeliat komenan kalian semua supaya semangat nulisnya tapi percuma mah^^
Yang khawatir sama Aya tenang aja Aya baik baik aja kok gak ada yang parah kkk~~~ makasih atas dukungan kalian Aya sangat tersanjung^^ masih pada niat untuk baca ff ini kah? /meyakini saja/ kalau gak kita akhiri dengan damai^^ memang Aya gak apa juga sih gak banyak yang mau baca ffnya tapi kalau mintak lanjut Aya lanjuti deh^^ makasih buat yang uda ngoment buat Aya semangat, makasih buat favs dan follownya. Aya coba update kilat deh nanti tapi gak janji ok~ Aya sayang kalian /tebarkan kisseu/ ok ne~ Ppai ppai~
Attantion!
Ada yang mau gak masuk ke grup Kaihun room's di line^^ pengen buka grup biar kaihun shipper bisa kenal dekat satu sama lain heheh~ kalau ada yang mau bilang ya tapi kalau gak ada yang mau juga gak apa kalau ada 15 orang Aya buka grupnya tapi kok gak ada gak jadi dibuka ^^
