Chapter 2

[Terkadang aku merasa iri dengannya. Tanpa berusaha payah bisa mendekatimu. Sementara disini aku bisa melihatmu saja suatu mukjizat dari duniaku yang kelam] -Cafe, Kisah dan Kekurangan.-

Katanya, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Maka dari itu Mayuzumi mendapatkan nilai B- di ulangan Biologi nya, dia sih nggak sedih sedih banget. waktu belajar dirumah dan disekolahnya ia gunakan untuk berkutat dengan laptop mengetik alur cerita yang ia buat, sehingga ketika ulangan, Mayuzumi mana bisa ngerti? Dia bukan Einstein atau Habibie atau siapapun orang cerdas di dunia yang bisa menghapal fungsi dan organ sistem
eksresi dalam waktu satu jam.

"Ya, tapi aku harus belajar." Putus Mayuzumi saat pelajaran terakhir, Matematika, selesai. Saat ini pun Mayuzumi
tidak tahu cara menurunkan fungsi trigonometri dan sebagainya itu. Kayaknya tahun ini Mayuzumi butuh
tenaga ekstra keras untuk mengimbangi belajar dan menulis alus. Mayuzumi mendesah. "Ya, aku memang harus belajar."

Mibuchi, teman sebangku Mayuzumi, lantas kaget mendengar keputusan Mayuzumi, "Maksudnya belajar nulis alur, kan Chi-chan?"

"Belajar.." Kata Mayuzumi sambil menunjuk buku teks Biologi yang putih bersih, "Seperti pelajaran biasa."

"Untuk apa Chi-chan belajar kalau tiap Universitas positif menerima Chi-chan~? Ingat, penulis? Bentar lagi Chi-chan internasional ne~" ucap Mibuchi.

"Tetap saja itu tidak akan berguna jika aku bodoh."

Mibuchi berhenti berkomentar. Seperti biasa Mayuzumi tidak bisa diajak untuk berdebat.

Mibuchi pulang lebih dulu karena harus mengurus kedua adiknya. Sementara Mayuzumi memutuskan untuk
bersemayam di kafe dekat sekolah. Tempatnya nyaman dan jauh dari gangguan. Harga minuman favorit Mayuzumi di sana juga terjangkau kantung anak SMA. Mayuzumi memilih duduk di dekat jendela yang menghadap ke jalan raya karena tempat itu memberi Mayuzumi
konsentrasi.

Sejenak Mayuzumi menatap sekitar didalam kafe, ide muncul dikepala abu abu nya. Mendapat sebuah plot untuk melanjutkan cerita nya. Ia akan mengetik itu malam nanti. Dalam tas ia mengambil beberapa buku nya lalu diletakan di meja. Membuka beberapa lembar buku teks Biologi nya sembari mengecek ulangannya.

beberapa menit kemudian..

"Arghh.." Mayuzumi sedikit mengerang walau dengan nada kecil. Otaknya tidak bisa di ajak kompromi yang dipikiri hanya alur cerita selanjutnya yang akan ditulis nanti malam. Mayuzumi menghela nafas kasar lalu menyesap minumannya dan menatap kepojok meja. ah itu..

Tangan Mayuzumi meraih sebuah buku bercover loli moe bersurai merah muda di ujung meja nya. Membukanya pada halaman yang sudah diberi penanda disana, sejenak ia membaca Light Novel itu sebelum melanjutkan belajarnya.

Tadinya sih begitu...

Tapi seorang pemuda tiba tiba datang, duduk dihadapannya, dan memperhatikannya.

Mayuzumi yang merasa risih segera menurunkan LN nya dari hadapan wajah pucatnya. "Apa?"

"Hai, kita bertemu lagi." Sapa Akashi dengan senyum tipisnya seolah mereka sudah sangat akrab.

Mayuzumi itu Introvert. Dia tidak sesupel Mibuchi atau Kise (Adik kembar Nash, dulu sahabat Mayuzumi dan kini menjadi musuh). lebih baik Mayuzumi diam dan berfikir matang diotaknya sikap apa yang ia pilih terhadap lawan bicara. Kadang Mayuzumi juga lelah karena sifat ini.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Mayuzumi datar.

"Aku?" Tanya Akashi balik pura pura kaget. Dia menunjuk buku teks Mayuzumi, "Yang pasti belajar! Apalagi yang kulakukan disini selain Mod- Belajar."

Cowok aneh.

Mayuzumi bersiap-siap pindah tempat ketika Akashi melirik buku teks itu. "Nomor yang Mayuzumi-san lingkarkan itu
jawabannya C."

Tunggu. Cowok ini memang aneh tapi sepertinya dia pintar. Bahkan dia bisa baca buku Mayuzumi yang terbalik.

"Oh.." Mayuzumi menjawabya datar sedatar wajahnya dan kembali duduk ditempatnya.

Sangsi, Mayuzumi melihat kunci jawaban dan ternyata benar. Mayuzumi melihat ke arah Akashi lagi. Pemuda itu sudah
tersenyum-senyum ke arahnya, entah karena apa.

"Kau sudah baca buku ini, kan? Makanya kau tahu jawabannya," selidik Mayuzumi.

"Tidak. Ini 'kan buku dari sekolah. Aku pakai buku lain," mata Akashi mengerjap, "Dan aku disini memang mau mod-belajar."

Mayuzumi diam. Matanya melihat Akashi dengan tatapan datar dalam hati ia tidak percaya dengan ucapan Akashi.

"Mayuzumi-san remed, ya?" tanya Akashi setelah melirik kertas ulangan Mayuzumi. "Bab Ekskresi?" Mayuzumi mengangguk kecil. Akashi tersenyum sedikit lebar.

"Aku bisa membantumu! Bu Araki, 'kan? Tipe-tipe soal dia mudah ditebak. Sou ya, ulangannya kapan?"

"Lusa kemarin."

"Aku hari ini ulangannya. Jadi aku masih ingatlah apa saja yang harus Mayuzumi-san pahami. Daripada baca buku
teks, mending dengerin penjelasanku. Hitung-hitung aku mod-belajar lagi."

Mayuzumi sebenarnya tidak mau mengikutsertakan Akashi dalam urusannya. Tapi pemuda itu tulus membantu
dan Mayuzumi bukan orang yang tega menolak mata berbinar Akashi. Apalagi dia memang membutuhkan.

"Hm ...," Mayuzumi menyesap minumannya, lalu bertanya, "Jadi?"

Tanpa Mayuzumi tahu, detak jantung Akashi meningkat. Tanpa Mayuzumi tahu, pemuda di hadapannya sangat bahagia karena mendapat perhatian Mayuzumi.
Dan tanpa Mayuzumi tahu, begitu besar rasa sayang Akashi padanya.

bersambung :v
makasih btw udah baca kaget ada yang ngomenin :v gk bisa bales soalnya gk tau balesnya lewat mana/nangis/ Arigatou ssu yang sudah baca