Chapter 3
[Kukira hari ini akan hujan, karena aku melihatmu dengannya. Tapi hari ini sangat cerah, seolah dunia mengejekku. Karena hatiku ... Hatiku menggigil karena rintiknya] -Menangis, Muram, Mati-
Kise paling nggak suka nunggu. Dia bisa mengoceh sepanjang hari terhadap orang yang dia tunggu. Tapi bila semua sudah berhubung dengan Akashi, Kise rela menunggu seumur hidup sampai cowok itu melihat ke arahnya, lebih dari adik kembar warna rambut sahabatnya.
"Akashicchi kemana sih, Nash-nii?" tanya Kise sewot. Tentu saja Kise selalu melampiaskan kekesalannya pada Nash. Nash juga tipe orang yang santai-santai aja kalo menghadapi sifat Kise yang satu ini.
"Ke kafe depan sekolah, kayaknya. Dia mau mod-belajar," jawab Nash, nyaris keceplosan.
Modus? Sejak kapan Akashi punya gebetan? Seingat Kise, cowok yang paling dekat dengan cowok itu adalah dirinya. Itu pun Akashi nggak menganggapnya cowok! Kise berlalu dari hadapan Nash. Dia nggak peduli kembaran warna rambutnya memanggil Kise untuk balik. Persetan dengan Nash yang sibuk ekskul Basket.
Hari ini adalah harinya dengan Akashi. Bahkan Akashi udah janji mereka bakal nonton bareng! Ketika liat Akashi bareng Mayuzumi dari luar jendela kafe, Kise senewen. Pertama soal novel, sekarang cowok? Kapan sih, Mayuzumi nggak mengacaukan kehidupannya?
Kise bersembunyi di balik pintu kafe, lalu menelepon Akashi. Untungnya cowok itu masih mengangkat telepon. Jadi asumsi Kise, Mayuzumi itu nggak ada penting-pentingnya bagi Akashi sampai-sampai ponselnya masih mode dering.
"Moshi moshi.Ada apa Kise?" tanya Akashi, ada nada dalam suaranya yang mengatakan bahwa Akashi sedang bahagia. Tapi Kise mengesampingkan hal itu.
"Akashicchi dimana ssu? Kita kan mau nonton bareng ssu." kata Kise manja.
"Ah iya. Maaf aku melupakannya, Kise." ucap Akashi.
"Ya sudahlah, aku tunggu didepan sekolah. Jangan lama lama Akashicchi!"
"Iya iya. Mayuzumi-san, aku harus pulang dulu, Kita ... lanjut besok ya?'' Entah saking terburu-burunya Akashi, dia jadi nggak sempat memutuskan sambungan telepon, tapi Kise dengar, dan dia tambah kesal. Kise ingin melempar ponselnya tapi urung karena ini pemberian Akashi di ultah ke tujuh belasnya.
Begitu Akashi pergi, Kise masuk ke dalam kafe dan duduk di tempat Akashi. Mayuzumi melihatnya dengan menaikkan satu alis.
"Kemarin Nash-nii sekarang Akashi. Kau belum puas?" tanya Kise dengan gigi bergemeletuk.
"Dulu Novel sekarang cowok. Kenapa kau ganggu hidup ku terus, sih?"
Mayuzumi menaruh pulpennya dan menegakkan badan.
"Sudah?"
Kise pengen banget nonjok Mayuzumi andai ini bukan tempat umum.
"Aku belum pulas kalau kau terus terusan menempel ke Akashicchi."
"Oh.. kau suka AKashi?" tanya Mayuzumi datar. Ini saatnya Kise buka kartu Mayuzumi, lagi.
"Kau tidak takut he Surat Cinta mu ku kasih tahu ke Nash-nii, ya?"
Mayuzumi bungkam. Sementara Kise merasa menang dan berkuasa. Dia bersedekap.
"Tidak kusangka, musuh ku suka dengan kembaranku sendiri," decak Kise, "Tidak punya muka?"
"Perasaanku ke Nash tidak ada hubungannya denganmu," tandas Mayuzumi. "Dan kalau kau memang mau aku menjauh dari Akashi, itu tidak masalah. Asal surat bodoh itu tidak sampai ke tangan Nash. mengerti?"
Kise mendesis. Dia berdiri dan menjatuhkan bungkus permen karet ke meja Mayuzumi. "Siapa orang bodoh yang menulis surat cinta untuk kembaran musuhnya? Bodohnya lagi, ketangkap basah."
Tangan Mayuzumi sedari tadi terkepal menahan amarah. Matanya melihat pulpen Akashi yang tertinggal, lalu mendengus keras. Sejak pertama mengenal cowok itu, Mayuzumi tau dia bakal dirundung banyak masalah. Tapi Mayuzumi sudah nyaman berbincang dengan Akashi, dan bagi kaum introvert menemukan seseorang yang cocok dengan mereka sangatlah sulit.
.
.
Sebenarnya apa yang spesial dari Mayuzumi sehingga Akashi tertarik padanya dibanding Kise? Kise nggak kalah tampan dan menawan, bahkan banyak orang mengatakan Kise lebih tampan dan menawan dibanding Mayuzumi. Dia juga punya otak cerdas, tidak seperti Mayuzumi yang mendapat nilai A dalam pelajaran eksak seperti mukjizat. Banyak siswa siswi mengejar Kise, tapi kenapa ... kenapa harus Akashi yang suka kepada Mayuzumi?
"Akashicchi kenapa, sih?" tanya Kise jengkel seraya menepuk bahu Akashi.
Akashi berhenti senyum-senyum,"Kenapa gimana, Kise?"
"Iya, kamu sibuk sendiri. Kita kan ke sini buat nonton bareng ssu!" rengek Kise.
Akashi cowok baik, rajin ibadah, dan dia udah anggap Kise seperti adik laki-lakinya sendiri. Tapi Akashi nggak peka, nggak pernah peka. Dia nggak tau selama dua tahun ini Kise menaruh perasaan padanya. Akashi cuma terfokus pada Mayuzumi tanpa tau di sampingnya dia bisa mendapatkan yang lebih dibanding dari Mayuzumi. Hanya saja, inilah realitanya. Semua kadang nggak sesuai sama yang diminta. Namun terkadang pula, kita nggak sadar. Bahwa yang kita mau belum tentu yang kita butuhkan.
"Astaga galaknya jii-san ini," kekeh Akashi, dia mencubit sayang hidung Kise, "Mau dibeliin balon, ya?"
"Akashicchi sakit! Aku pokoknya marah denganmu."
Awalnya, Kise cuma merajuk. Dia berbalik pergi meninggalkan Akashi, berharap Akashi mengejarnya. Tapi sedari tadi, nggak ada tanda-tanda apapun. Tentu saja ini membuat Kise kesal setengah mati. Dia mengacak rambut blonde nya, lalu menoleh. Ternyata Akashi melihatnya dari jauh lalu melambaikan tangannya ke arah Kise. Sambil senyam senyum, pula. Kise kembali mengejar Akashi, mau bagaimanapun, Kise nggak bisa tanpa Akashi.
"Hari ini aku ingin bersamamu ssu, jangan membuatku kecewa, Akashicchi," ucap Kise pelan sambil menerima uluran tangan Akashi. Langsung saja Akashi nyanyi lagu Don't Let Me Down, bikin Kise jitak kepalanya, tapi cowok itu senyum geli. Akashi tau, segalak apapun Kise, secerewet apapun cowok itu, Kise selalu kembali kepadanya. Karena mereka teman.
"HP yang Akashicchi beli untukku," celetuk Kise tiba-tiba, "Ada artinya tidak sih, untukmu?"
"Hm ... Kau jadi bisa angkat telepon tanpa lupa lagi. HP mu yang lama 'kan kalau ditelepon suka tidak diangkat," jawab Akashi panjang lebar.
"Tapi HP yang sekarang berisik banget, ssu. Masa Akashicchi tidak bolehin aku ke mode mute, sih? Kalau ada ujian aku harus matiin HP dulu. Apalagi kalau sosmed ku rame," rajuk Kise. "Boleh di-mute, ya Akashicchi?"
Akashi memang memberi ponsel untuk Kise. Tapi dengan satu syarat. Selama ponsel itu dipakai, nggak boleh sekalipun ke mode mute. Kise awalnya setuju saking senengnya dibeliin ponsel oleh Akashi. Lama kelamaan, Kise jadi merajuk terus gini.
Sok polos, Akashi berpangku tangan. "Boleh tidak, ya?"
"Boleh dong, Akashicchi ku yang ganteng, pinter, baik, tapi kadang tidak peka," rajuk Kise.
"Tidak peka?" tanya Akashi dengan alis ditautkan.
Ya amplop! Kise lagi-lagi keceplosan. Masa sih, tiap ngomong lidahnya kepeleset?
"Maksudnya hidung Akashicchi tidak peka dengan wangi-wangian ssu," kilah Kise. "Sudah lah, ayo cepat!" Ketika Kise menggamit lengan Akashi dan menyeretnya menuju bioskop, seseorang dari lawan arah menabrak bahunya. Bahu Kise sakit banget. Kayaknya yang nabrak niat banget.
"Hei punya mata tidak sih?" labrak Kise. Akashi langsung menepuk-nepuk punggung Kise. Kalo cowok itu meledak, cuma Akashi yang bisa menenangkannya.
"Kise, kita mau nonton lho, jangan ngambek dong," bujuk Akashi.
"Aku tidak ngambek! Aku hanya ingin ngajarin ke dia kalau punya mata itu dipakai," sewot Kise.
Kise mengamati orang itu. Kayaknya orang dari luar negeri melihat rambutnya hitam dengan poni menutup mata kiri dan disudut mata kanannya terlihat memiliki tahi lalat, tinggi rata rata serta kalung rantai dengan liontin cincin . Dia tampak cowok baik-baik, sih, tapi nyebelin. Kise nggak suka cowok kayak gini. Bersikap sebagai pihak yang nggak bersalah padahal jelas-jelas dia yang nabrak.
"Apakah kamu tidak apa-apa? Astaga, saya benar-benar meminta maaf," ucapnya dengan bahasa Inggris yang fasih. Suara cowok itu benar-benar cemas. Kise jadi merasa bersalah juga udah ngomel-ngomel meski cowok itu nggak ngerti omongannya.
"Apakah bahumu sakit?"
"Saya tidak apa-apa, lain kali kalau jalan lihat-lihat, ssu," ketus Kise, lalu berlalu dengan menggamit tangan Akashi. Akashi melayangkan tatapan meminta maaf pada cowok itu. Nggak tau si cowok baper atau apa, tapi mukanya langsung merah. Dan Akashi, bersikap seperti cowok polos yang lurus-lurus aja itu, nggak ngerti kalo dia udah bikin anak orang kesemsem. Yah, namanya juga Akashi.
"Aku tidak suka Akashicchi lihatin dia, ssu," sekarang, Kise ngomel.
"Astaga, rewel banget sih," kekeh Akashi, "Kasihan tahu, anak orang kau marahin."
"Biarkan. Biar dia mengerti." Dan Akashi tersenyum kecil. Sampai saat ini pun, Kise selalu berterus terang tanpa menyembunyikan perasaannya. Itu menurut Akashi. Tanpa Akashi tahu, Kise pintar menyembunyikan perasaannya. Kadang kata-katanya tidak sejalan dengan hati Kise. Kadang dia ingin mengatakan bahwa selama ini dia sangat menyayangi Akashi, tapi semua itu tertahan di lidah, ketika mengingat fakta bahwa Akashi tidak menganggapnya lebih.
BERSAMBUNG :v
Thanks yang sudah mau baca dan kritik sarannya dan juga gomen atas ke OOC an chara nya :v
