Chapter 4
[Menunggumu itu tidak ada habisnya. Sama seperti kau menunggu dia. Coba saja hati bisa memilih. Dari dulu aku ingin memilih yang bukan kamu, yang mencintai ku sama seperti aku mencintai mu] -Hati, Hampa, dan Hancur-
Entah keajaiban dunia dari mana, namun Nash tiba-tiba jemput Mayuzumi pagi ini di rumah cowok itu. Tentu aja dong, Mayuzumi kelabakan. Apalagi dia baru bangun tidur dengan penampakan wajah bantalnya.
Sementara Nash udah sangat ganteng di depan rumah, untung aja Orangtua Mayuzumi nggak ada dirumah karena harus kerja di luar negeri, kalo ada bisa diintrogasi dia.
"Ada apa, dateng ke rumah sepagi ini?" tanya Mayuzumi dingin ketika mereka berada di mobil, berangkat menuju ke sekolah. "Biasanya bareng Kise."
"Kise 'kan lebih sering bareng Seijuurou," jawab Nash santai tanpa tahu raut wajah Mayuzumi berubah.
Lah. Kenapa juga Mayuzumi kecewa Akashi sama Kise? Dari dulu 'kan mereka juga terlihat dekat. Mungkin karena Mayuzumi nyaman dan nyambung ngobrol sama Akashi. Dan ketika Kise ngambil Akashi, Mayuzumi jadi sedikit sedih.
"Kamu kalo pagi-pagi lucu, ya. Jadi lebih ekspresif," ucap Nash sambil senyum-senyum sendiri.
"Ekspresif bagaimana?" tentu dong, Mayuzumi jadi panik sendiri walau ketutup wajah teflonnya. Masalahnya ini berkaitan dengan harga dirinya di depan orang yang dia suka.
"Mata kamu lebih hidup, Kayak baru bangun dari kuburan!" tawa Nash berderai.
Mayuzumi berekspresi sangat datar,pagi pagi Nash nge-gaje. Dan Nash tetep aja ketawa. Nggak apa-apa, seseorang menertawakannya, asal orang itu adalah Nash (meski Nash juga kena tonjok, tapi 'kan nggak parah-parah amat).
Kemarin, Mayuzumi udah mikirin soal anceman Kise. Dan Mayuzumi udah memutuskan. Dia nggak bisa selamanya jauh dari Nash. Dua bulan jauh kayak gini aja, Mayuzumi ngerasa kosong. Ada sesuatu yang nggak lengkap tanpa Nash. Cuma Nash yang bisa mengisi kekosongan itu.
Persetan dengan Kise.
"Aku boleh tanya soal kemarin?" tanya Nash ketika suasana hening.
Tentu aja keduanya memikirkan hal yang sama. Mayuzumi harus berani. Berani atau nggak sama sekali. Dia menoleh ke arah Nash sambil tersenyum gugup.
"Nanti kau akan tahu, Nash. Nanti, bukan sekarang."
Ada rasa kecewa di wajah Nash, tapi dia nggak memaksa. Nash memang gitu orangnya, dia terlalu baik, bisa mengerti Mayuzumi, dan bahkan, dia nggak sekalipun ninggalin Mayuzumi ketika Mayuzumi malah menjauh darinya ( :v)
"Kau tahu, Nash," sahut Mayuzumi pelan, "Kalau selama ini ..."
TIN! TIN!
"Eh, buset," celetuk Nash sambil membanting setir ke kiri. Tadi seenaknya aja ada mobil yang menyalip dari lawan arah dengan kecepatan tinggi.
Gagal minang, deh. Kalo gini caranya, Mayuzumi nggak ada momen berdua dengan Nash. Pasti ada aja yang ganggu. Nggak telepon, nggak jalanan, nggak juga Kise.
•
Waktu liat Mayuzumi bareng sama Nash, Kise jadi tau kenapa kembarannya nyuruh dia berangkat bareng sama Akashi. Kakak kembar rambutnya itu pengen berduaan sama Mayuzumi.
Ck! Nyebelin. Saat Nash udah cinta-cintaan sama Mayuzumi, Kise nggak bisa karena Akashi sama sekali nggak suka sama dia.
"Hoi Madesu," panggil Kise sambil menarik Mayuzumi menuju koridor yang sepi.
Mayuzumi nggak suka dengan sikap Kise yang semena-mena. Dulu Kise nggak gini. Mereka bahkan berteman baik karena satu club sastra dua tahun lalu. Tapi semua berubah ketika Mayuzumi lebih gemilang di bidang tulis sastra dibanding Kise. Kise jadi menjauh, menjauh, dan akhirnya bersikap kayak gini. Puncaknya adalah ketika Mayuzumi dipilih sebagai peserta di tingkat nasional kemarin.
"Ada apa, Kise?" tanya Mayuzumi sembari menghela napas. Baru aja sampe ke sekolah, udah ada masalah sama Kise.
"Kau itu!" desis Kise. "Berapa kali aku bilang untuk tidak deketin Nash-nii?"
Mayuzumi bener-bener capek. Telinganya berdengung karena omelan Kise. Mama Mayuzumi nggak pernah ngomel dan sengotot cowok di depan Mayuzumi ini. Sampe kapan, sih, Kise berhenti ganggu hidupnya.
Ketika Mayuzumi maju dan menatap Kise lekat-lekat, saat itu Kise entah kenapa takut untuk yang pertama kalinya di hadapan Mayuzumi. Cowok di depan Kise ini jadi kayak kesetanan. Rupanya mengomeli Mayuzumi di pagi hari adalah tindakan yang salah besar.
"Aku...," Mayuzumi maju satu langkah, sementara Kise mundur,
"Tidak ...," Mayuzumi maju lagi,
"Peduli." Kise menelan ludah.
"Lakukan sesukamu dengan surat bodoh itu!" cecar Mayuzumi, matanya menyipit, "Tidak akan mengefek apapun padaku."
Lah, ini kenapa Kise jadi takut sama Mayuzumi? Tapi Kise, sebagai penggertak professional, menaikkan dagunya, "Oh, jadi kau tidak takut kalau aku kasih tahu Nash-nii, ssu?"
"kau berharap aku takut, jadi mulai sekarang aku mencoba untuk berani," kata Mayuzumi dengan mata berkilat.
"Mana bisa kau berani? Paling kau takut kalau Nash tahu, ssu" cemooh Kise.
Mayuzumi sama sekali nggak membalas. Dia cuma senyum miring dan menabrak bahu Kise sebelum berlalu pergi. Mayuzumi udah muak sama Kise. Kalo bisa, dia nggak mau satu ruangan dan berbagi oksigen dengan cowok itu. Kadang orang yang kita kenal dapat berubah ketika kita sama sekali nggak menduga hal itu. Kasus itu terjadi pada Kise. Dan Mayuzumi sangat menyayangkannya, karena jauh di dalam hatinya, dia masih berharap Kise kembali menjadi teman baik Mayuzumi. Sementara Kise? Kise nggak akan membenci Mayuzumi andai dia nggak pernah kecewa. Dan jauh di lubuk hati Kise, dia masih ingin berteman dengan Mayuzumi.
Eh tapi, ada hal yang lebih gawat. Kalo Nash baca surat itu, muka Mayuzumi mau taro dimana? Masa taro di Mamang tahu bulet?!
.
.
Mayuzumi bosan setengah mati. Bisa-bisa dia terjun payung dari lantai lima. Tapi yang sekarang Mayuzumi lakuin cuma duduk di kelas dengan tangan terlipat dan pipi tertempel di mejanya yang dingin. Light Novel yang biasa dia bawa ketinggalan dirumah.
Mata kelabunya menatap ke arah anak-anak lain yang sibuk belajar sendiri-sendiri. Cukup mudah dimaklumi pemandangan seperti ini karena US tinggal tiga bulan lagi (persiapan anak SMA Rakuzan itu memang nggak tanggung-tanggung.)
"Chi-chan, Aku ada rapat nih hari ini~" sahut Mibuchi di sebelahnya dengan pandangan mata bersalah, "Setelah ini aku bareng denganmu, de~."
Tetep saja iming-imingan ditemani Mibuchi setelah rapat OSIS-nya berakhir tidak membuat bibir Mayuzumi melengkung ke atas. Malah, semakin tertekuk kebawah dengan wajah semakin datar (Aslinya sih atinya nelangsa :v)
"Chi-chan, jangan lebay, duh. Kayak baru ditinggal seminggu aja," kali ini Mibuchi meledek sambil menjitak kepala Mayuzumi.
Mayuzumi sih, cuma bisa meringis terus kembali berekspresi datar. Setelah Mibuchi pergi meninggalkan Mayuzumi, biasanya Kise bakal datang menghampirinya untuk mengacam atau apapun itu sampai Mayuzumi muak. Tapi ternyata Kise nggak dateng ke sini. Dia hanya menatap Mayuzumi dengan sinis sebelum keluar dari kelas, mengikuti jejak Mibuchi. Mayuzumi nggak tau, sih, Kise bakal pergi kemana. Kalo nggak ke toilet buat dandan, paling ke kantin bareng Akashi.
Nyatanya Mayuzumi salah besar ketika tak lama kemudian, Akashi berada di ambang pintu dengan raut wajah mencari. Matanya jelalatan ke seluruh penjuru kelas tanpa menyadari bahwa nyaris seluruh murid di kelas Mayuzumi menatap Akashi dengan terkagum-kagum. Nggak mengejutkan, kok, mengingat Akashi memang ganteng dengan mata ruby merah dengan pupil vertikal dan wajahnya yang kalem, baik, dan cerdas itu.
"Miyaji, lihat Mayuzumi-san, tidak?" tanya Akashi pada salah satu teman sekelas Mayuzumi, Miyaji Kiyoshi, yang kebetulan duduk dekat pintu kelas.
Eh, mampus. Ini cowok nyari gua? batin Mayuzumi.
"Tuh, yang di pojok, sendirian kayak jones," celetuk Miyaji sambil menunjuk Mayuzumi.
Rasanya Mayuzumi ingin menenggelamkan diri ketika semua mata kini tertuju padanya dengan penasaran dan beberapa ada yang kaget. Apalagi Akashi udah berjalan mantap ke arah Mayuzumi sambil tersenyum simpul. Pokoknya, semua yang ada di wajah Akashi itu nggak bisa Mayuzumi baca! Bahkan Mayuzumi sendiri keki kenapa Akashi mencari dia. Jangan-jangan ...|
"Mayuzumi-san, pulpen Tou-san ku ketinggalan di kafe kemarin, nih. Mayuzumi-san simpenin, tidak?" tanya Akashi langsung.
Edan, ini mah gue yang ge-er duluan! lagi-lagi, Mayuzumi membatin.
Tanpa Mayuzumi tahu, Akashi udah keringat dingin saking gugupnya berada sedekat ini dengan cowok silver yang dikaguminya. Semuanya seperti mimpi ketika Mayuzumi 'Melihatnya' sebagai seseorang. Bukan lagi teman dari sahabatnya yang tidak akan Mayuzumi kenal karena itu bukan hal yang penting-penting amat.
"O-oh, pulpen," sahut Mayuzumi gagu sendiri. Tangan pucatnya mengambil tempat pensilnya yang tergeletak di sudut meja dan mulai mencari pulpen Akashi yang ia simpan. Pulpen itu tertinggal di kafe tadi sore dan Mayuzumi terpaksa menyimpannya, jaga-jaga Akashi meminta.
Mayuzumi pun menyodorkan pulpen itu ke arah Akashi, "Nih."
Ada jeda beberapa detik. Mereka cuma saling ngeliat satu sama lain dengan tatapan bingung. Mayuzumi yang bingung kenapa Akashi masih di sini. Dan Akashi yang bingung harus berbuat apa sehingga bisa lebih lama bersama Mayuzumi.
"Sudah berdoa kekuil minggu ini, belum?" tanya Akashi tanpa berpikir lagi.
Kebetulan, dia memang sering nanya kayak gini kalo belum berdoa dikuil ke temen-temennya. Akashi nggak nyangka dia bisa nanya kayak gini juga ke Mayuzumi.
"Berdoa?"tanya Mayuzumi lumayan kaget terus langsung datar lagi. Biasanya orang orang jarang nanya kayak gini. Apalagi cowok kayak Akashi yang Mayuzumi tau terkenal sana-sini.
"Iya, sudah?"
"Belum. Biasanya aku berdoa bareng Mibuchi bareng pas hari weekend." jawab Mayuzumi sambil pura pura ambil buku pelajaran ditasnya terus membacanya.
"Tidak baik loh, kalo doa nya dientar-entar, nanti terlantar," celetuk Akashi.
Mampus. Kok Akashi jadi sok ceramah gini? Depan Mayuzumi, pula! Kalo udah terlanjur begini, pasti Mayuzumi ngira Akashi sok alim atau apa. AKashi pernah begini di depan cewek eksis dan reaksinya nggak banget, seolah Akashi turun dari langit dan tiba-tiba ada di depannya.
Tapi kenyataannya beda ketika Mayuzumi malah bergumam pelan, "Sou ya, bener juga."
Akashi melongo melihat Mayuzumi menutup buku nya dan ditaroh ditas lalu berdiri, berada sangat dekat dengan cowok itu. Ketika Mayuzumi minta Akashi minggir, barulah Akashi sadar kalo Mayuzumi cuma mau lewat doang.
"Ayo," ucap Akashi canggung. Mereka berjalan keluar sekolah menuju kuil terdekat. Kalo Akashi pikir-pikir, mereka kayak pasangan yang baru nikah aja.
Eanjir, gue mikir apaan dah, batin Akashi sambil garuk-garuk kepala. Kayaknya Akashi harus jauh-jauh dari Mayuzumi atau nggak dia bakal mikir hal aneh-aneh lagi. Seperti pikirian siapa nama anak mereka nantinnya.
Biasanya Nash bakal ke kelas Mayuzumi cuma buat ngobrol-ngobrol atau gangguin cowok itu. Mayuzumi nantinya melotot dan mengusirnya. Katanya dia lagi ngobrol sama Mibuchi dan dia nggak mau kalo Nash ada di sini. Apalagi kalo Kise juga udah ngerecokin mereka dengan kata-kata pedesnya, Mayuzumi nggak suka! Tiap kali kayak gitu, Nash ketawa-tiwi sampai perutnya sakit. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat wajah teflon Mayuzumi nahan emosi sambil mengepalkan tangannya siap nonjok.
Sekarang nggak lagi. Entah karena apa, Mayuzumi menjauh begitu saja. Dia nggak mau nyapa atau membalas perkataan Nash. Jangankan mengobrol, melihat ke dalam bola matanya saja tidak. Entah sejak kapan Mayuzumi perlahan menjauh. Dari yang sering ngobrol bareng, pulang bareng, ketawa bareng, sedih bareng, hingga akhirnya nggak lagi bareng.
Nash sering nanya ke dirinya sendiri. Apa karena Nash memiliki perasaan yang lebih dari sahabat kepada Mayuzumi? Apa Mayuzumi sudah tau akan perasaannya? Apa Mayuzumi nggak mau memperparah suburnya pertumbuhan perasaan Nash kepadanya?
"Nash-nii lagi galau, ya?" Pertanyaan Kise tentu aja membuat Nash melonjak kaget sambil menatap kembaran warna rambutnya yang bertolak pinggang.
Kise seperti biasa. Menatapnya sinis dengan alis naik sebelah, seolah menebak jalan pikiran Nash.
"Tau aja. Sering galau, ya?" balas nash acuh tak acuh.
"Aku sih, belajar darimu yang pakarnya galau, ssu" jawab Kise lugas. Dia mengambil kursi dan duduk di hadapan Nash.
Ngomong-ngomong, Nash berada di kelas seorang diri, salah satu faktor utama kenapa dia galau tentang Mayuzumi. Temen-temennya termasuk Akashi pergi entah kemana meninggalkan Nash. Yah, teman memang terkadang nggak ngerti kalo sebenernya dia nggak mau ditinggalin kayak jones.
"Tidak dengan Mayuzumi, ssu?" tanya Kisee, lagi-lagi dia seneng nebak jalan pikiran Nash.
Tanpa Nash tau, Kise dalang dalam cerita Mayuzumi dengan Nash. Kalo aja Kise nggak mengancam Mayuzumi, pasti Mayuzumi akan ada di sini dengan Nash, bukannya bersama Akashi. Tapi terkadang kenyataannya lebih pahit dan kau harus bangun dari mimpi. Tidak semua yang kau mau itu bisa kau dapatkan.
"Seperti yang lo liat," jawab Nash sambil tersenyum kecut. Kise pura-pura memandang kasihan kepada kembarannya.
"Nash-nii pasti kesepian tanpa cowok jahan-baik itu, ya."
Sebenernya, Nash tahu satu hal. Kise benci kepada Mayuzumi karena rasa iri. Tapi di sisi lain, Nash kagum kepada kembarannya karena masih berempati kepada Nash.
"Tapi, kau tahu tidak sih, alasan Mayzuumi ninggalin lo?" tanya Kise tiba-tiba ketika Nash masih tenggelam dalam lamunannya.
Nash berenang hingga ke permukaan, lalu mengerjap, menatap ke arah Kise dengan bingung. Sementara Kise tersenyum kecil karena pancingannya berhasil.
Dengan wajah disedih-sedihkan, Kise mengambil tangan Nash dan menangkupnya. "Nash-nii tahu 'kan, dari dulu aku benci kalau ada orang yang jahatin lo, ssu."
"Maksud lo apa, dah?"
Kise menarik napas panjang, didramatisir, biar Nash percaya! "Mayuzumi tuh deketin lo biar buat dapatin Akashi, ssu. "
Bisa saja Nash percaya karena memang banyak murid lain mendekatinya untuk bisa kenalan sama Akashi. Tapi, Mayuzumi? Cowok sebaik, sesabar, dan seindah Mayuzumi (HOAX BESAR :V) nggak mungkin melakukan hal itu. Kenapa pula Mayuzumi tidak langsung mendekati Akashi saja?
"Ngaco lo, jangan banyak drama deh, Ryouta," sahut Nash jengah sambil tertawa kecil.
Kise tau di saat seperti ini, Nash masih getol untuk menolak pernyataan tersebut. Nash tipe orang yang kalo udah percaya susah untuk dipatahkan. Apalagi kalo urusannya dengan cowok yang ia percaya sekaligus cintai. Tapi pernah nggak sih, kepikiran, gimana jadinya kalo cowok yang ia percaya dan cintai ternyata mengkhianati?
"Kalo Nash-nii tidak percaya, dia lagi bareng Akashi, tuh. Tanya saja Akashi kalau dia udah balik, ssu." sahut Kise dengan santainya, lalu ketika Kise berdiri dan hendak berjalan, ia berhenti, "Oh, satu lagi. Asal Nash-nii tau aja. Dari dulu Mayuzumi benci dan jijik sama lo." Dan Kise pergi meninggalkan Nash yang termangu, entah apa yang ada di pikiran cowok itu sekarang.
BERSAMBUNG :V
Maaf kalo ada yang typo atau apa :v kapan kapan dibenerin :v mohon kritik sarannya ssu
