Chapter 5

[Faktanya,

ketika aku memilih dia, aku malah teringat padamu. faktanya, aku hanya menginginkan dia. Dan faktanya lagi, aku membutuhkan.. dirimu] -Bohong, Bisu, dan Binasa-

Sepertinya hampir semua dari populasi kelas sangat menantikan bel pulang sekolah yang legendaris itu, yang katanya akan tiba saat semua anak-anak di kelas menunggunya. Datengnya itu sehari sekali! Pokoknya spesial banget, deh! Udah kayak artis, sekalinya dateng langsung pada heboh.

Seperti di kelas XI-IPA-C, semua pada sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas. Ada yang langsung pulang, main, dan ada juga yang kerajinan lanjutin belajar di bimbel. Tiap anak memang beda sifat.

"Chi-chan mau langsung pulang?" tanya Mibuchi teman sebangku Mayuzumi yang super perhatian kayak biasanya.

"Mau ke kelas teman dulu, kau duluan saja," sahut Mayuzumi tanpa menoleh ke arah Mibuchi. Tangannya masih sibuk memasukkan novel ke dalam tasnya.

"HAH?! KAU PUNYA TEMAN SELAIN DIRIKU?!" tanya Mibuchi kaget sendiri dan otomatis suara lengkingnya keluar.

Mayuzumi menghajarnya dengan novel yang masih ia pegang, "Berisik tch!"

Mibuchi kalo ngomong emang suka bener. Tapi, Mayuzumi 'kan ada teman lain yang super setia dan sangat disayangkan, Mayuzumi suka banget sama dia.

Kalau dipikir-pikir, temen deket nya itu dikit banget. Hampir nihil! Sampe sekarang aja, Mayuzumi masih mikir-mikir apakah Mibuchi temen deketnya atau mereka deket karena sebangku aja. Gimana kalo mereka nggak sebangku? Mungkin Mayuzumi deket sama temen sebangku yang lain, bukannya Mibuchi.

"Sudahlah, kau berisik sekali dasar kaleng rombeng," sahut Mayuzumi seraya berdiri dan meninggalkan kelas, sementara Mibuchi di belakang terkekeh geli melihat tingah teman sebangkunya.

Mayuzumi paling nggak suka jalan di koridor sekolah yang rame khas pulang sekolah. Banyak orang yang hilir mudik sana-sini. Ada juga cewek-cewek menyebalkan super berisik yang kebelet eksis, sering teriak-teriak cari perhatian, membuat semua orang melihat mereka dengan tatapan risih. Ada juga segerombol cowok duduk di tepi lapangan, main basket atau sekedar ngobrol aja ngabisin waktu. Mungkin itu hanya pandangan Mayuzumi aja, mengingat dia introvert. Mungkin mereka baik, namun dia belum mengenal.

Sama seperti kasus Nash. Dulu, Mayuzumi mengira cowok itu menyeramkan karena sering mendadak terdiam sambil melihat nya. Tanpa ia tahu, dulu Nash melakukan itu karena dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di depan Mayuzumi. Nyatanya, Nash sangat baik sampai-sampai Mayuzumi pengen meluk. Eh-

Ketika Mayuzumi sampai di kelas Nash, ternyata kelasnya masih sepi. Bukan, bukan karena semua orang udah pulang. Tapi lagi-lagi guru SMA Rakuzan ngambil jam pulang! Kebangetan rajinnya emang itu guru.

"PR yang tadi Bapak kasih harus selesai minggu depan, ditulis tangan dan kalau ada satu kesalahan saja, Bapak nggak terima," sahut Pak Shadish yang terkenal galak banget itu, belas dua belas sama guru Fisika, Bu Riko.

Semua anak di kelas langsung ngeluh, membuat Pak Shadish melotot, dan keluhan itu surut seketika. Duh, untung Mayuzumi nggak diajar sama guru ini. Bisa mati berdiri Mayuzumi kalo diajarin dia!

Semua anak pun bersiap-siap pulang dan Mayuzumi menunggu Nash di samping pintu. Begitu anak-anak keluar, Mayuzumi melihat satu persatu.

Kok, Nash nggak keluar-keluar, ya? Padahal Nash ada di dalam kelas. Eh, yang keluar malah Akashi.

"Mayuzumi-san!" sapa Akashi sambil tersenyum manis, "Kenapa belum pulang?"

"Menunggu Nash," jawab Mayuzumi singkat.

Akashi pengen bilang, kenapa nggak nungguin gue aja?
Tapi dia malah tersenyum dan bilang kalo besok Mayuzumi pengen belajar lagi, Akashi pasti nemenin.

Mayuzumi setengah denger setengah nggak, jadi Akashi dengan berat hati pulang, bertanya seorang diri apakah tadi siang ketika mereka berdoa di kuil bareng nggak ada artinya bagi Mayuzumi. Dan tanpa Akashi jawab pun, semesta tahu kalo di mata Mayuzumi, Akashi itu nggak sebanding dengan Nash. Dan Akashi akan ngelakuin apapun supaya Mayuzumi melihatnya lebih dari sekedar temen dari sahabatnya.

Semua orang udah keluar kelas termasuk Pak Shadish, kecuali Nash. Mayuzumi pun perlahan masuk dan berdiri di dekat cowok bertato dileher itu. Nash sebenarnya sudah siap berdiri dari mejanya, tapi dia malah termenung menatap papan tulis. Kayaknya Nash udah tau, deh, kalo Mayuzumi mau ketemu sama dia.

"Nash," sahut Mayuzumi pelan dengan wajah datar walau dada dag dig dug serrrr/?, entah kenapa Mayuzumi gugup sendiri. Wajah Nash itu selalu nyeremin kalo diam.

"Gue kira lo nyari Akashi," ketus Nash tanpa tanggung-tanggung.

Mayuzumi lebih kaget denger suara ketus Nash dibanding petir, "Apa maksudmu?"

"Lo yang apa," kata Nash seraya berdiri, napasnya tidak beraturan, "Gue tanya alasan lo apa, lo bilang nanti-nanti, dan akhirnya gue denger dari orang lain."

"Nash, kau kenapa?" tanya Mayuzumi sambil menaikkan satu alisnya.

"Nggak penting," sahut Nash sambil mengibaskan tangannya. "Sekarang ... sekarang gue cuma pengen lo pergi dari gue. Ngeliat lo di sini bikin gue muak."

"Nash!"

Nash pergi begitu saja tanpa peduli panggilan Mayuzumi.

Sepertinya Mayuzumi salah tentang cowok bersepatu cokelat tua itu. Sangat salah. Mayuzumi mengira Nash nggak bakal berubah kayak Kise. Mayuzumi masih punya sandaran, yaitu Nash. Tapi nyatanya, semua orang bisa pergi tanpa Mayuzumi mendapat tanda, dan itu membuat Mayuzumi seperti dikhianati.

Baru saja Mayuzumi hendak mengejar Nash, ponselnya bergetar. Ia mendengus keras dan melihat layar ponselnya. Nama Pak Erwin guru BK Mayuzumi, membuat Mayuzumi semakin merasa jengkel. Ia lupa kalo dia dicariin sama guru BK yang super galak plus bacot itu.

******

Hari ini, Akashi nggak bolos cuci darah, dan tentu Tanaka sangat senang. Kemarin Akashi bolos karena memilih bersama Mayzumi di kafe lalu setelahnya jalan-jalan bareng Kise. Padahal Tanaka selalu mengingatkan bahwa cuci darah itu lebih penting dibanding cuci mobil.

"Kamu tuh ya," omel Tanaka di perjalanan pulang naik mobil Ayah Akashi. Kali ini, Tanaka yang nyetir karena fisik Akashi masih lemah banget.

"Cuci mobil aja dipentingin supaya keliatan kece pas ketemu kecengan. Malah cuci darah yang bener-bener penting kamu nggak lakukan."

Akashi sibuk memasang gelang warna-warni di pergelangan tangannya untuk menutupi katup kecil. Katup itu yang menghubungkan aliran darahnya dengan mesin pencuci darah. Akashi nggak peduli-peduli banget tentang nama mesin atau apapun itu. Yang jelas tiap kali cuci darah, rasanya sakit banget! Mending dia cuci apalah selain ini.

Dulu waktu dokter bilang dia harus cuci darah, Akashi mengira darahnya dikeluarkan dari tubuh, lalu dicuci dengan mesin pencuci baju, kemudian dimasukkan lagi. Ternyata pemikiran bocah ingusan berumur tujuh tahun itu terlalu polos untuk penyakit yang berbahaya ini.

"Sei-kun, dengar omongan saya gak?" tanya Tanaka sewot.

"Iya, Tanaka ku Sayang," jawab Akashi sambil tersenyum manis. Dia menoleh ke arah Tanaka, "Tanaka-san, Sei kapan matinya, ya?"

"Astaga, Sei-kun! Nggak boleh ngomong gitu. Umur mana ada yang tau"

"Yeee, Tanaka-san ... 'kan kata dokter umur Sei udah nggak panjang lagi. Mungkin lebih panjang penggaris Bu Riko dibanding umur Sei."

Wajah Tanaka langsung pias. Jadi, Akashi dengar soal itu?

"Dokter bohong," kilah Tanaka, suaranya mulai parau, "Sudahlah, jangan terlalu dipikirin. Sekolah aja yang bener."

"Katanya satu tahun lagi, 'kan? Ini aja skenario sepuluh tahun masih hidup aja udah bagus," ada kegetiran di suara Akashi yang bisa Tanaka rasakan, seolah Akashi sudah siap untuk pergi meninggalkan Tanaka, dan hal itu sungguh menyesakkan.

"Sudahlah, Sei-kun, hal seperti itu jangan terlalu dipikirkan," sahut Tanaka, matanya mulai berair, "saya tidak mau mendengarnya lagi.."

Akashi beringsut. Sudah jelas dia nggak mau Tangan kanan nya ini nangis. Akashi, kan, cuma nanya. Dia sendiri nggak bisa menahan kegetiran ini seorang diri tanpa Butler setia nya itu.

"Tanaka-san, kalau Sei sudah nggak ada, Tanaka-san jangan sedih, ya. Tanaka-san menikah juga tidak apa, atau cari anak angkat juga nggak apa-apa. Sei nggak larang. Asal Tanaka-san bahagia, Sei juga," ucap Akashi sambil tersnyum.

Kalau Tanaka sedang nggak nyetir, mungkin dia sudah menangis hebat di pelukan anak Tuan besar nya dulu.

*****

"lagi ngapain, ssu?" tanya Kise pada kembaran warna rambutnya.

Nash cuma terdiam sambil melihat riak kolam ikan di halaman belakang.

Gemas, Kise menabok pundak Nash sehingga cowok itu menoleh ke arahnya, sudah jelas terganggu.

"Kenapa?"

"Nash-nii yang kenapa, malah ngelamun di sini. Nggak jelas."
Nash mendengus. Sedari tadi perasaannya gusar karena mencampakkan Mayuzumi. Ada sesuatu yang salah, yang berlainan dengan hatinya. Otaknya memang percaya pada kata-kata Kise, tentu karena Kise adalah adiknya. Tapi tanpa mendengarkan penjelasan Mayuzumi, Nash merasa sangat brengsek.

"Nash-nii," sekarang, Kise mulai cemas karena wajah nash menggelap.

"Bawel," balas Nash seraya berdiri dari tempat duduknya. Dia bergegas ke lantai dua menuju kamar, sementara Kise mengikuti.

"Mau kemana?"

"Rumah Mayuzumi," jawab Nash singkat. Sekarang dia sudah masuk ke kamarnya.

Kise langsung melotot. Dia menahan pintu kamar Nash yang cowok itu hendak tutup. Kontan, Nash melihat wajah Kise yang paniknya setengah mati. Nggak pernah Nash melihat Kise seperti ini.

"loh, kenapa begitu, ssu! Dia 'kan udah jahat sama lo, Nash! Gue nggak terima, ssu," teriak Kise sampai wajahnya memerah menahan marah, "Pokoknya lo nggak boleh ketemu sama dia, ssu."

"Gue harus denger penjelasan dia dulu."

"Nggak, nggak boleh! Hari ini, lo 'kan udah janji mau nganter gue ke toko buku, ssu."

"Kise, sekali aja," sentak Nash langsung sambil menepis tangan Kise dari pintu, "Jangan manja."

Kise termenung di depan pintu Kakaknya. Yang omong-omong ditutup dengan suara cukup keras. Mungkin di dalam sana, nash sedang siap-siap pergi ke rumah Mayuzumi. Mungkin dugaan sekaligus ketakutan Kise benar. Bukan hanya dia kehilangan Akashi, dia juga kehilangan Nash, saudara kembar warna rambutnya. Kise berjalan menuju kamarnya yang bersebrangan dengan Nash. Dia mengunci kamarnya, kemudian menghambur ke tempat tidur. Ditariknya bantal Mickey Mouse pemberian Akashi, lalu menangis sekencang-kencangnya di sana.

Mungkin Kise memang manja. Tapi dia manja karena takut kehilangan dua orang yang dia sayang. Dan ketakutan kadang menjadi kenyataan.

*******

mata Mayuzumi benar-benar bengap karena keasyikan menangis di kamar. Tadi sepulang sekolah dia menangis di boneka Iron Man, hadiah dari Nash tahun lalu. Dia nggak mau Mama atau Papa sampai tahu, jadi dikuncilah kamarnya. Kalau ada yang tanya atau ingin masuk, Mayuzumi akan bilang kalo dia cuma capek mikirin plot.

Diusapnya matanya yang bengkak dan hidungnya yang merah, lalu Mayuzumi menatap langit-langit kamarnya. Tangan dan kakinya membentuk bintang besar di sana. Pandangannya menerawang, mengingat kejadian tadi sore.

"Nilai kamu sangat anjlok di semua pelajaran," ucap Pak Erwin, guru BK yang sudah sepuh dan galak itu.

"MTK rata-ranya 60, wajib 70, paling bagus Bahasa, 100. Kamu itu ... yakin masuk IPA?" Lidah Mayuzumi kelu. Dia tidak tahu respon orangtuanya akan seperti apa bila tahu fakta ini. Belakangan, Mayuzumi memang lebih fokus pada dunia menulis yang sangat ia sukai dibanding pelajaran lain. Dia terpaksa masuk IPA karena orangtuanya ingin dia menjadi arsitek, bukannya penulis. Tapi keinginan orangtua belum tentu sama dengan anaknya.

"Prospek kerja seorang penulis itu nggak bagus, Chihiro. Mau kerja apa kamu setelah belajar menulis? Mau gimanapun, prospek kerja yang lain lebih bagus. Contohlah kakak kamu yang masuk kedokteran. Sekarang hidupnya mapan!" Ini kata Mama.

"Papa bukannya nggak suka, cuman kamu harus ikutin kata-kata Mama. Chihiro itu sebenernya pinter kalo rajin belajar (Papa mengatakan hal ini, seolah Mayuzumi nggak belajar semalam suntuk untuk ulangan Biologi, namun tetap saja mendapat 70). Pasti kamu bisa kalo kamu lebih berusaha!" Dan itu kata Papa.

Chihiro capek, Ma, Pa. Harus mengikuti semua keinginan Papa dan Mama itu nggak gampang. Karena semuanya itu bertolak belakang dari yang Chihiro mau. Kenapa sih, Ma, Pa? Kenapa harus meminta sesuatu yang nggak bisa Chihiro kasih, mau sesulit apapun Chihiro berusaha? Apa nggak cukup, semua medali, penghargaan, sertifikat, dan piagam lomba menulis dari yang sebuah cerpen sampai novel? Apa harus Chihiro ikut olimpiade sains nasional dan juara satu seperti Kak Haizaki, supaya Mama dan Papa bangga?

Ma, Pa, semua anak dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan Chihiro seharusnya bisa Mama dan Papa terima. Bukanlah aib bila Chihiro memang tidak pandai otak, namun pandai mikir cerita.

Mayuzumi Chihiro ingin sekali mengatakan hal itu di depan wajah kedua orangtuanya. Namun dia tidak sampai hati. Tidak mungkin Mayuzumi durhaka kepada kedua orangtuanya yang sudah membesarkan Mayuzumi hingga seperti ini. Perjuangan Mayuzumi membanggakan orangtuanya tidak sebanding dengan perjuangan mereka selama ini.

"Mayuzumi Chihiro, saya sedang bicara dengan kamu. Tolong jangan melamun," kata Pak Erwin dengan suara sangat tegasnya.

"Maaf, pak."

"Kalau nilai kamu anjlok terus seperti ini, kamu terancam nggak naik kelas, nggak peduli seberapa piagam atau medali yang kamu dapat dari lomba nulis."

Mayuzumi seperti dikejutkan oleh realita pahit. Dia termenung sesaat. mata nya makin kosong dan mulai berkeringat dingin, tanda dia gugup dan panik.

"Saya sangat menyesali hal ini, tapi sebaiknya kamu mundur dari perlombaan menulis internasional dan fokus mengejar nilai kamu yang jauh tertinggal."

Ultimatum itu dihembuskan seperti angin dingin yang menusuk tulang. Mayuzumi tidak mampu berkata-kata. Air mata sudah bergumul di pelupuknya. Dia tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Yang Mayuzumi ingat, dia mengucap terimakasih kepada Pak Erwin, lalu pulang, menangis, sampai rumah tangisnya tidak berhenti. Dan sekarang dia menghembuskan napasnya, berhenti melihat langit-langit kamat yang entah kenapa terasa menyesakkan.

"Chihiro," sahut Mama dari luar kamar. Dengan cepat, Mayuzumi mengusap kedua matanya yang sembab, meski tak membantu banyak untuk menyamarkan muka habis nangisnya. "Ada temenmu di luar. Kayaknya sih yang tadi pagi jemput kamu ke sini! Mama suruh masuk ke dalem, dia nggak mau."

Mayuzumi kaget. Dia duduk tegak dengan mata melotot.

"Nash?!"

Nash mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pada langit sore Kyoto. Punggungnya ia sandarkan di jendela mobil. Sementara kakinya mengetuk pada jalanan aspal yang dingin. Hari ini udara Kyoto mencapai dua puluh derajat celcius. Begitu terdengar gerbang dibuka. Nash membuang puntung rokoknya ke aspal dan menginjak api yang masih menyala. Kalau dipikir-pikir, Nash beruntung juga karena Mama Mayuzumi datang saat Nash baru saja ingin merokok, jadi image cowok "nggak bener" itu nggak akan ada di pikiran Mama Mayuzumi.

Lagian, merokok bukan berarti Nash nakal atau begajulan. Rokok hanya membuat Nash tenang. Itu saja, nggak lebih dan nggak kurang.

"Apa?" tanya Mayuzumi ketika mereka berhadapan.

Mata Nash melihat ke dalam mata Mayuzumi. Dan sadar bahwa cowok itu baru saja menangis. Kontan Nash membawa Mayuzumi ke dalam pelukannya, mengusap rambut Mayuzumi, lalu berbisik, "Kamu 'kan udah janji, kalo nangis harus ada aku. Supaya aku bisa bikin tangis kamu berhenti."

"Kau aneh sore tadi..." ucap Mayuzumi dengan suara sedikit bergetar,

"Kau kenapa Nash?"

"Maaf, aku cuma ... kangen sama kamu. Aku kangen kamu waktu datengin aku pas jam istirahat. Kangen pas kamu ngajak aku makan," ucap Nash dengan senyum kecut. "Dan aku sama sekali nggak denger penjelasan kamu."

Mayuzumi melepas pelukan mereka. Lalu matanya menatap Nash dengan pandangan tanya. Ditatap seperti itu, Nash jadi salah tingkah.

"Apa maksudmu?"
"Kenapa kau menjauhiku, Mayuzumi?" tanya Nash mengulang pertanyaan yang sama, lagi dan lagi. "Tolong dijawab."

Mayuzumi diam. Ah, Nash sudah menduga itu. Bahkan sebelum dia bertanya.

"Apa susahnya untuk bilang?"

"Aku hanya takut," kata Mayuzumi. "Kalo aku bilang, hubungan kita berubah. Itu ketakutan terbesar ku selama denganmu, Nash."

Nash tersenyum kecut. Berapa lama ia harus menunggu? Berapa lama lagi? Apa dia harus jujur akan perasaannya? Melepas semuanya di hadapan Mayuzumi? Tapi bagaimana kalau Mayuzumi menjauh? Bagaimana kalau hubungan mereka retak? Nash tidak mau semakin memperburuk keadaan. Jadi akhirnya, ia hanya menghela napas, lalu menepuk kepala Mayuzumi singkat.

"Aku pulang dulu, ya," ucap Nash. Dia teringat sesuatu, kemudian ke mobil untuk mengambil kantung plastik berisi pizza.

"Untukmu. Nggak tau kenapa aku ngira Mayuzumi lagi sedih, jadi aku beliin pizza." Betapa baiknya Nash. Hanya saja, Nash hanya menganggap Mayuzumi sebagai sahabatnya.

"Thanks."

"Aku pulang dulu, ya." Begitu Nash ingin masuk ke dalam mobil, Mayuzumi memanggil.

"Oiya, Nash."

Nash berhenti untuk menatap Mayuzumi dengan tanya.

"Besok kau menjemputku, 'kan?" tanya Mayuzumi dengan memalingkan wajah dan pipi bersemu.

Nash hanya tersenyum kecil. Kemudian mengangguk.

Dan itu saja cukup bagi Mayuzumi untuk menyembuhkan lukanya. Cukup bagi Mayuzumi bila ia bersama Nash. Dan cukup bagi Iris untuk menerima Nash kembali setelah perlakuan buruknya tadi sore. Karena kalau uke sudah sayang, semuanya pasti diperjuangkan.

To Be Continued

TADAIMAAAAAA!
/slap

Hampir setahun kagak buka hehe :v
maklumlah orang penting sibuk terus /gak :v
kritik ma sarannya weh