Wangi parfum Sougo yang mencolok—yang dulu dibencinya—kini menjadi aroma favoritnya. Aromanya lancang, tajam, dingin tapi juga menenangkan—aroma yang menyebar rasa aman. Seakan Kagura sedang duduk dengan nyaman di samping perapian sementara di luar hujan deras menubruk-nubruk jendela.
Terkadang Kagura yang kesepian sering mencium aroma yang menyerupai wangi Sougo saat berjejalan di tengah keramaian kota, hanya dengan begitu; perasaannya bisa langsung menghangat.
Pagi datang menyapa pulau Krabi sama seperti di hari-hari lainnya, tidak ada sesuatu yang spesial. Barangkali ada banyak anak sekolah atau karyawan yang mengutuk datangnya pagi karena memaksa mereka untuk bangun dari mimpi, kembali pada kenyataan, dan menjalani rutinitas. Tetapi pagi itu akan diingat Kagura bahkan ketika dia sudah terlalu tua untuk sekadar mengingat. Dia merekam seluruh suasana yang ada di sana, menyimpan baik-baik detail perasaan yang dia rasakan sekarang. Kagura mengeraskan rahang, merapatkan dirinya lagi pada Sougo, mendekap kehangatan tubuhnya lebih erat.
Seumur hidup Kagura akan ingat betapa saat itu dia berharap waktu berhenti sehingga dia bisa memiliki Okita Sougo untuk selamanya.
.
.
Sorachi Hideaki 空知英秋is the original author of the Gintama (銀魂)manga, I definitely don't own anything.
.
.
危険な関係
Kiken na Kankei
(Dangerous Relationship)
.
.
.
Sejak pertemuan kedua di kafe Byron Bay, Kagura jadi sering menelepon atau bertemu Sougo untuk membicarakan banyak hal. Meski banyak teman Kagura yang menggodanya soal Okita Sougo, tetapi kenyataannya sampai sekarang tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dua orang itu hanya mengobrol atau bertengkar. Mereka tidak pernah membicarakan tentang kehidupan pribadi—Sougo bahkan masih tidak tahu nama Kagura dan dia tidak lagi menanyakannya—pembicaraan mereka dibatasi hanya sampai di urusan kantor, gosip konyol selebriti, tempat makan, atau film.
Sougo juga sering memberitahu banyak tips untuk menarik pelanggan dengan cara eksentrik. Kagura menurutinya dengan ragu, tetapi tanpa diduga, cara-cara itu efektif.
Hari ini, berkat keterampilan baru Kagura, sebuah perusahaan memesan lima mobil bekas untuk keperluan operasional pabrik baru mereka.
Pencapaian penjualan Kagura meningkat dengan signifikan dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya, membuatnya mendapatkan pujian dari rekan kantor dan atasan. Banyak juga komentar menyebalkan seperti 'wah tumben sekali,' atau 'kok bisa sih?' dan komentar itu diucapkan berbarengan dengan tawa mengejek—seolah-olah bagi mereka, Kagura terlalu bodoh untuk melakukan pekerjaan dengan benar dan dipekerjakan kantor atas dasar belas kasihan.
"Berisik! Kalian kira aku bodoh?! Kalian segitu menyedihkannya sampai bisa kalah dengan orang bodoh sepertiku, ha, ha, ha!" seru Kagura, tidak peduli tempat. Rekan-rekan kerjanya saling bertatapan, lalu mengangkat bahu dengan ekspresi mencemooh, seolah Kagura sudah gila, seakan mereka sudah sangat mengenal Kagura. Kagura membanting buku yellow pages ke atas meja sebelum duduk di kursinya, sengaja menimbulkan suara keras, dia bersumpah dalam hati akan menjambak rambut mereka semua sampai botak suatu saat nanti.
Kagura paham kalau dia sebenarnya tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Performa kerja Kagura selama ini ada di bawah garis rata-rata. Wanita itu juga meledak-ledak, ceroboh, dan tidak menganggap penting batas waktu atau target. Ada saat-saat Kagura bertengkar dengan rekan kerja atau atasan. Jika saja Kondo Isao; si Kepala Cabang yang baik hati tidak selalu membelanya karena menyukai sikapnya yang jujur, Kagura mungkin sudah kehilangan pekerjaannya. Kagura sering merasa jika dirinya tidak cocok bekerja pada orang lain, terutama di kantor yang punya banyak regulasi. Tapi Kagura tak punya banyak pilihan. Dia tidak punya kemampuan khusus yang bisa dijual seperti berbahasa asing, melukis, menulis atau menyanyi. Sementara berhenti bekerja dan kerja sambilan untuk menyambung hidup juga sepertinya terlalu berisiko. Kagura jarang bisa menabung dengan gajinya yang sekarang, mempunyai pacar tidak berguna yang kadang-kadang pinjam uang juga memperbesar pengeluarannya.
Belakangan, ketika suasana hatinya sedang buruk, Kagura akan menumpahkan kekesalannya pada Okita Sougo. Di sela jam kerja, Kagura mengambil smartphone, mengirimkan pesan singkat pada Sougo, 'kau idiot.'
Setelahnya Kagura sesekali melirik smartphone sembari mengetik laporan di laptop, ada pesan baru yang masuk, bukan dari Sougo. Tetapi pria itu menelepon saat malam hari tiba, ketika Kagura bersiap-siap hendak pulang. Di ruang kerjanya yang sempit dan padat lampu masih dinyalakan seluruhnya meski sudah jam delapan, masih ada beberapa rekan kerjanya yang sedang beres-beres merapikan meja, mengobrol, atau berkutat menyelesaikan pekerjaan.
"Apa?" tanya Sougo segera saat telepon diangkat, nada bicaranya datar dan tidak bersemangat seperti biasa. Sougo tahu kalau Kagura belum meninggalkan ruangan kerjanya dari suara yang dia dengar. Tidak jauh dekat Kagura, ada segerombolan karyawan wanita yang bergosip sambil tertawa-tawa. Mereka sangat berisik, Sougo dapat mendengar suara-suara mereka dari seberang telepon.
"Pacquiao memakai celana biru di pertandingan semalam." Kagura memberitahu, dia mengapit smartphone di antara kepala dan pundak, tangannya sibuk melapisi tubuh dengan jaket denim.
"Kumatikan, ya."
"Bercanda, rasanya aku ingin mengomel panjang lebar soal orang-orang bodoh di kantor hari ini. Kau mau berubah jadi masokis dan mendengar omelanku?" tawar Kagura lantang, mengabaikan tatapan rekan kerjanya. Kagura menyeringai nakal pada mereka, lalu mengambil tas tangan kecil di kursi, keluar dari ruangan, kemudian menuruni tangga perlahan-lahan dengan wajah puas.
"Baiklah. Kau bisa menemuiku di depan kantorku," Sougo bilang, lalu terdiam sebentar, "ah, hampir lupa. Hari ini tidak bisa, kau bisa mengomeli pegawai konbini kalau mau."
"Lembur?" tanya Kagura, langkahnya terhenti ketika dia keluar dari gedung kantor yang bertingkat tiga. Ruang kerja Kagura berada di paling atas, berbagi lantai dengan perusahaan pengembangan aplikasi yang isinya anak-anak muda nyentrik. Lantai pertama gedung itu difungsikan sebagai konbini, sementara di lantai dua ada kantor konsultan pajak yang bosnya agak mencurigakan. Gedung itu berada di sisi jalan raya, cukup bising namun mudah ditemukan.
Sougo menghela napas berat. "Tidak, ada urusan penting."
"Seberapa penting?"
"Hari ini, ulangtahun istriku."
.
.
.
.
Cinta pertama Kagura datang begitu saja saat dia berusia 21 tahun—saat dia jadi mahasiswi tingkat enam. Waktu itu musim gugur, cinta pertama Kagura berperawakan kurus dan pucat. Dia pegawai pachinko yang sering didatangi Kagura. Meski sering bertemu, Kagura tidak begitu ingat wajahnya, suatu hari, tiba-tiba saja dia mengajak Kagura makan malam.
Pria itu tidak jelek tapi juga tidak tampan. Pria itu penurut dan sangat sopan meski usianya dua tahun lebih tua dari Kagura. Awalnya Kagura menyukai dia karena dia tidak pernah menganggap Kagura aneh dan gila. Bagi pria itu Kagura begitu kuat dan cantik, pria itu bahkan tidak protes saat Kagura meninju wajahnya di depan umum.
Tetapi kemudian Kagura menyadari kalau dia begitu karena tidak bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Kagura. Tidak ada wanita menarik yang mau mengencani pegawai pachinko miskin. Mereka hanya berkencan selama kurang lebih lima bulan, Kagura sempat tinggal bersama pria itu sebentar sampai pria itu meminta putus dan berkencan dengan wanita yang menjadi kasir di pachinko. Wanita itu tidak cantik dan menarik, bahkan tampak seperti orang bodoh. Tetapi bagi pria itu dia adalah pilihan yang lebih baik daripada Kagura. Paling tidak, wanita itu stabil dan tidak akan menghajarnya saat sedang marah. Mereka berpisah tanpa ada pertengkaran. Pria itu menyatakan niatnya untuk menikahi si Kasir. Kagura memberi selamat, bahkan tidak merasa patah hati, pria ini sangat membosankan dan cetek. Kagura tidak bisa membayangkan jika harus menghabiskan sisa hidup dengan pria seperti dia. Kagura bahkan berhenti menyukainya setelah berkencan selama dua bulan.
Setahun setelah itu Kagura berkencan dengan adik kelasnya di kampus. Pacar kedua Kagura ini seorang pria yang berusia lebih muda. Dia agak gemuk, penyendiri dan masih perjaka hingga berusia 20 tahun. Kagura terpaksa mengajari banyak hal, mulanya Kagura tidak berniat menjalin hubungan serius dengan pria ini. Tapi dia takut pada Kagura—tidak punya banyak teman—sehingga Kagura bisa bersikap seenaknya dan lama-lama Kagura menyukainya. Kagura juga bisa tinggal di apartemen si Pacar untuk menghemat uang. Hubungan mereka berjalan cukup baik dan bertahan hingga empat tahun. Tetapi ketika pacar kedua ini lulus kuliah, orangtuanya berhenti mengirim uang dan bilang kalau dia harus mulai mandiri. Sehingga pria menyedihkan itu mulai coba-coba meminta uang pada Kagura. Pemuda itu tidak pernah berusaha mencari pekerjaan dan terus mengurung diri, membuat Kagura tidak tahan dengannya dan mengakhiri hubungan mereka. Sama seperti apa yang terjadi pada hubungan pertamanya, Kagura tidak patah hati. Sudah lama sekali Kagura berhenti tertarik pada pria itu. Kagura bersamanya hanya karena terbiasa dan ketidakbergunaan laki-laki itu membuat Kagura merasa dibutuhkan.
Pacar kedua Kagura memang merepotkan dan tidak berguna, dan lagi gara-gara dia Kagura bertemu dengan Okita Sougo. Pria mencolok yang sadis dan mencurigakan. Kagura tahu kalau dia perlahan-lahan mungkin sudah tertarik dengan pria itu sejak perjalan dari Hachioji ke Fujisawa, tapi kini perasaannya kian membesar. Sekarang ini perasaan cintanya pada Okita Sougo seolah beredar bersama darahnya dan hidup di dalam setiap napasnya. Mengetahui kalau pria itu sudah menikah membuat seluruh tubuh Kagura mengejang dan hatinya terasa sakit.
Kagura memang gegabah karena segera menyukai pria yang belum dikenalnya dengan baik. Dimana dia dilahirkan, siapa saja anggota keluarganya, lulus dari universitas mana, wanita seperti apa yang disukainya, hubungan seks pertamanya, cinta pertamanya—tidak ada yang Kagura tahu. Informasi tentang dirinya berakhir di selembar kartu nama. Dia hanya Okita Sougo, Kepala Editor di Discover 18. Pria itu tidak memakai cincin kawin, memang sulit membayangkan orang sepertinya mengenakan sesuatu yang membuatnya tampak terikat. Kagura pernah tergoda untuk mencari informasi soal Sougo di internet, tapi ide itu terdengar memalukan dan obsesif. Jadi dia mengurungkan niatnya.
Tapi mungkin dia merasa begitu hanya karena patah hatinya prematur. Perasaan Kagura pada Sougo mungkin akan mendingin dalam setelah satu atau dua bulan seperti pacar-pacar lamanya. Mungkin dia hanya tidak rela karena film buruk ini berakhir lebih cepat dari dugaan—bahkan ketika dia belum melihat bagian klimaks.
Lagi-lagi tidak beruntung, ya. Katanya dalam hati, dia merosot, air hangat kini merendam batang hidungnya. Sepulang kerja, Kagura memang selalu berendam air hangat agar otot-otot tegangnya rileks.
Kagura memperhatikan jari-jarinya yang memutih dan keriput karena terlalu lama terendam air, memikirkan teori ilmiah seperti apa yang bisa menjelaskan mengapa kulit manusia menjadi keriput saat terendam air.
Di luar sana hujan deras tiba-tiba turun, suara petir yang mengejutkan terdengar sahut-menyahut. Kagura bersyukur dirinya sudah sampai di apartemen sebelum hujan. Kemudian kembali memikirkan Sougo yang sekarang ini tengah merayakan ulangtahun istrinya. Hatinya terasa sakit lagi. Dia membayangkan pria itu tersenyum tulus pada istrinya—sebuah senyuman yang tidak pernah diperlihatkan pada Kagura. Pria itu pasti sedang mensyukuri kelahiran wanita yang dinikahinya, dia pasti tidak pernah menyuruh wanita itu untuk mati seperti yang sering dia lakukan pada Kagura.
"Tidak salah lagi. Kalau hukum tidak ada di dunia ini aku pasti sudah membunuh si Sadis itu."
Malam itu Kagura berendam lebih lama dari biasa, tubuhnya tidak ingin cepat-cepat lepas dari kehangatan.
.
.
.
Telepon dari Sougo membangunkan Kagura di hari Sabtu siang, dengan nada bicara tidak antusias Sougo memintanya keluar dari apartemen, sekarang. Kagura yang setengah sadar mengangkat kepalanya, memicing—menjauhkan smartphone-nya sebentar untuk melihat jam, angka sebelas lewat dua menit terpampang di layar yang cahayanya menyakitkan mata. Kagura mengeluh. "Kenapa harus sepagi ini sih?"
"Ini masih pagi katamu?" Sougo menghela napas panjang, "bersiap-siaplah sekarang atau aku yang akan naik dan menyeretmu keluar dari kamar."
Sejak mengetahui kalau Sougo sudah menikah, Kagura berusaha mengurangi frekuensi kontaknya dengan Sougo. Kagura tidak bisa menghapus seluruh kontaknya dan hilang tiba-tiba. Sougo akan menyadari kalau Kagura menghilang tepat setelah mengetahui kalau dia sudah beristri. Dia akan tahu Kagura menyimpan perasaan khusus. Jadi Kagura harus mengeluarkan pria itu dari hidupnya perlahan-lahan tanpa pria itu sadari. Kagura tidak mengirim pesan singkat sesering dulu, mereka tetap bertemu sepulang kerja beberapa kali. Kadang Kagura mengajaknya bertemu atau menemuinya ketika Sougo mengajak, terkadang Kagura menolak ajakan bertemu—yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya—Kagura tidak perlu berbohong mencari alasan karena kebetulan Kagura sekarang jadi lebih sibuk di kantor, kini dia mulai dibutuhkan dan diandalkan oleh perusahaan itu.
Cara ini tidak aneh, ini adalah cara yang sudah terbukti dialami banyak orang dalam menjalin pertemanan. Sebagai contoh, ada banyak orang-orang yang punya sahabat di masa sekolah. Namun seusai lulus dari sekolah waktu untuk bertemu dan bertukar pesan menjadi terbatas, dan dengan hadirnya kawan-kawan baru yang ditemui di jenjang selanjutnya, perlahan-lahan sahabat lama akan terlupakan sehingga pada akhirnya status sahabat berubah kembali ke tahap awal, menjadi kenalan; seseorang yang dikenal, tapi tidak punya peran spesial dalam kehidupan. Dalam kondisi ini, untuk sekadar menyapa lewat media sosial pun rasanya canggung.
Sougo akan lupa akan eksistensi Kagura. Perlahan-lahan mereka akan saling melupakan, bahkan tanpa mereka sadari.
Semua yang dilakukan bukan demi keluarga pria itu, tapi demi dirinya sendiri. Kebahagiaan orang lain tidak pernah jadi prioritasnya. Kagura hanya tidak mau ketertarikannya pada Sougo berubah menjadi obsesi. Bagaimana kalau Kagura berakhir menjadi orang menyedihkan seperti Alex Forrest di film Fatal Attraction? Kehilangan akal sehat dan menakutkan.
Kagura selama ini menebak-nebak apa alasan Sougo terus mencoba berhubungan dengannya. Dia tampak tidak tertarik pada Kagura secara romantis atau seksual, jadi pasti sebetulnya pria itu hanya senang mengerjai Kagura untuk menghilangkan stres. Tapi Kagura sendiri tidak jauh berbeda, selain karena Kagura menyukainya, ada kesenangan sendiri ketika mereka bertengkar. Perasaan Sougo tidak masalah, Kagura tinggal mengurus perasaannya. Tanpa ikatan emosional yang berarti, segalanya akan lebih mudah.
"Baiklah, baiklah," jawab Kagura—berusaha terdengar malas. Dia beranjak dari tempat tidur yang berantakan, berjalan tergesa-gesa menuju bak cuci piring, menggosok gigi dengan cepat lalu memeriksa lemari pakaian tanpa tutup yang berada di sudut kamar—isinya berjejalan dan berantakan, Kagura mengeluh ketika teringat semua bra-nya masih ada di dalam mesin cuci—belum dikeringkan. Kagura menarik tepi bawah kaus kuning longgar bersablon Pikachu besarnya—memastikan puting payudara tidak menyembul, berterima kasih pada mata hitam besar Pikachu yang berhasil menyembunyikannya. Kagura mengecek celana pendek merah mudanya, tampak oke, tidak berlubang.
"Hei, Cewek Bego!" Terdengar suara Sougo di luar sana, pintu apartemen Kagura digedor keras-keras.
"Berisik Sadis! Kau mau bikin aku diusir dari sini ya?!" omel Kagura saat melihat Sougo yang hari itu tampak santai dengan kaus polos abu-abu dan celana jersey hitam panjang. "Kalau sampai aku diusir dari sini aku akan numpang tinggal di rumahmu! Aku tidak peduli kalau istrimu marah dan menceraikanmu!"
"Silakan saja, istriku tidak pernah marah. Tidak semua wanita kasar sepertimu," balas Sougo. Kagura memutar bola matanya, mendesah berat, meredakan rasa iri yang menyesakkan.
"Nah, baiklah, sekarang kau mau apa?" tanya Kagura.
"Aku butuh detail tentang kehidupanmu." Sougo menjawab santai, melepaskan sepatu, mendorong pintu, menyelinap ke apartemen Kagura sebelum pemiliknya sempat berkata-kata. Dia bertingkah seolah tempat itu miliknya meski saat itu kali pertama Sougo masuk ke apartemen Kagura. Biasanya setelah bertemu, Sougo hanya mengantar Kagura sampai stasiun, Sougo juga belum pernah menemui Kagura di hari libur.
"Untuk referensi novel."Sougo menambahkan, dia berjalan lurus.
Kagura membuntuti Sougo dengan tatapan, kemudian turut masuk, menutup pintu di belakangnya. Kagura bisa merasakan wajahnya memanas. Kenapa… Ketika dia sedang berusaha menjauhkan diri…
"Ada tokoh novel yang sedang kutangani… Dia wanita berusia dua puluhan yang tidak dewasa, tidak punya karir bagus, tidak punya ambisi, tidak punya kekasih atau teman akrab, tidak sedang jatuh cinta, dan bersifat jelek. Satu-satunya orang yang kepikiran untuk jadi referensi cuma kau," Sougo menambahkan, kemudian menjatuhkan tubuh di atas tatami—di depan meja kecil berkaki pendek—tubuhnya bersandar pada ranjang besi Kagura—mengeluarkan buku memo kecil dan bolpoin dari saku. "Anggap saja aku tidak ada, lakukan kegiatanmu seperti biasa."
Kagura menghampiri Sougo, menarik kerah kausnya."Kau mau menghinaku… Kau menganggap hidupku tidak ada gunanya kan?"
"Untuk banyak orang mungkin iya, tapi aku menyukai orang dengan kehidupan seperti itu," bilang Sougo. Matanya melembut, menatap Kagura lekat-lekat. Kemarahan Kagura melumer cepat seperti mentega di atas wajan panas.
Kagura melepaskan cengkeramannya, mendorong tubuh Sougo ke belakang. "Sesukamu saja." Kemudian Kagura bangkit, menghampiri lemari es satu pintu yang berada di sebelah bak cuci piring, mengeluarkan botol minuman, menenggak air dingin banyak-banyak, kepalanya jadi sedikit ngilu.
Sougo berhenti mengamati Kagura meski tetap mendengar suara-suara yang dibuat wanita itu. Perhatiannya berpindah ke apartemen 1R yang ditinggali Kagura sejenak. Tempat sempit itu semakin sempit karena tidak ditata dengan benar. Perabotnya sedikit, tidak ada TV dan rak buku. Majalah dan manga bertumpuk di beberapa titik di lantai. Pakaian kotor, piring kotor, struk belanja, gumpalan tisu bekas pakai, pembalut bersih, kosmetik, dan brosur supermarket bertebaran di mana-mana. Tempat tidur berangka besi berada di sudut kanan ruangan, merapat ke dinding. Lemari kayu yang agak miring tanpa penutup berdiri menyedihkan, merapat dengan bagian bawah tempat tidur. Isi lemari itu acak-acakan—menyembur keluar bagai tanaman rambat.
Bak cuci piring berjejeran dengan lemari es dan kompor, berada di dekat pintu masuk—berhadapan dengan kamar mandi sekaligus toilet. Pendingin ruangannya berfungsi cukup baik di musim panas seperti ini. Cahaya matahari juga bisa masuk dengan menembus pintu geser bertirai putih yang berada bagian utara ruangan—pintu geser kaca itu menuju balkon—tempat mesin cuci diletakkan. Selama ada matahari, ruangan itu sudah terang tanpa bantuan lampu. Sougo menuliskan detail itu di memo.
Kagura kembali dengan membawa dua kaleng bir dan sebungkus besar biskuit beras, dia menaruhnya di atas meja. Kagura duduk, beringsut mengambil manga yang di salah satu tumpukan, lalu berbaring menyamping di seberang Sougo. Meja kecil menjadi pembatas jarak mereka—lengan kiri Kagura menyangga kepala—dia mulai membuka halaman manga-nya.
"Kau tidak membaca buku?" tanya Sougo, yang lebih mirip tuduhan.
"Kadang baca kok, aku hanya tidak pernah membelinya. Aku tidak paham gunanya menyimpan—membaca buku yang sama berulang-ulang."
Keheningan panjang mengisi ruangan yang ditimpa cahaya matahari siang itu, lalu suara gesekan kertas memecah kesunyian sebentar-sebentar. Suasana yang paling dibenci Kagura. Mulutnya gatal ingin memulai pembicaraan, tapi dia tidak boleh memperkecil jarak hubungan mereka lebih dari ini. Ekor matanya melirik Sougo, pria itu tidak menyentuh bir atau biskuit beras yang disuguhkan. Sikunya di atas meja, jari-jarinya bertautan. Dia menatap lurus Kagura. Jeritan tonggeret yang menyebalkan terdengar nyaring, mengingatkan Kagura akan adanya kehidupan di luar sana.
"Kau tidak mandi di hari libur?" Akhirnya Sougo yang memecah keheningan.
"Uh? Iya," jawab Kagura.
Sougo bergeser mendekat pada Kagura, menyingkirkan meja berkaki pendek yang menjadi pembatas mereka. "Hei,"
Kagura segera duduk, terkesiap.
"Ini," Sougo menyodorkan memo dan bolpoin, "Tuliskan seluruh kelebihanmu di sini."
"Kelebihan?"
"Kau dengar dengan jelas. Jangan bilang kau tidak punya—"
"Aku punya! Punya lebih banyak darimu tentu saja." Kagura merampas kasar memo dan bolpoin dari tangan Sougo, tidak menyesal ketika kukunya sedikit melukai tangan pria itu.
Meski bilang begitu, butuh waktu lama bagi Kagura untuk melanjutkan lagi setelah dia menuliskan 'cantik' dan 'optimis'. Menulis 'cerdas' pasti akan dicemooh Sougo, 'baik hati' juga terasa agak aneh. Kagura melirik Sougo diam-diam karena merasakan tatapan Sougo mengawasinya, pria itu menyeringai ketika mereka bertemu tatap. Dia rupanya menganggap lirikan itu sebagai sinyal minta tolong.
"Kau kehabisan ide?" Sougo merapat lagi, Kagura bisa mencium aroma tubuhnya yang kuat. Detak jantung Kagura meningkat. "Aneh ya. Kalau aku, pasti bisa menulis sampai kehabisan halaman."
"Tentu saja! Sayangnya aku wanita baik yang rendah hati, bukan narsis sepertimu," ujar Kagura, merasakan suhu tubuhnya memanas ketika jari-jari panjang Sougo meraih beberapa helai rambut jingga Kagura, memainkannya.
Sougo menyeringai, menarik rambut Kagura, lalu berkata dengan suara rendah, "Bukan tentang diriku, tapi tentang kelebihanmu."
Pria itu tidak tertahankan. Sulit bagi Kagura untuk tidak membayangkan apa yang bisa dia lakukan pada Sougo jika dia membiarkan dirinya mengikuti dorongan gairah. Dia nyaris meraih pria itu, mendekap, dan menghirup aroma tubuh khas prianya dalam-dalam. Tetapi Kagura melihat dirinya sendiri berdiri di ambang jurang kegelapan. Dia tidak akan bisa keluar lagi jika dia masuk ke dunia Okita Sougo lebih dalam dari ini, terisap tanpa ampun seperti rusa kecil yang terjebak di genangan lumpur pengisap. Awalnya pria ini memang akan bersamanya menyusuri terowongan yang menghitam, lalu perlahan-lahan pria itu akan berjalan cepat sendirian—menghilang di ujung terowongan yang bercahaya, meninggalkan Kagura dalam kegelapan dan kembali ke tempatnya hangat—tempat dimana dia seharusnya berdiri—tempat keluarganya berada. Sementara Kagura akan tetap berdiri di terowongan yang gelap dan mengerikan; kesepian, terobsesi, dan menjadi sinting.
Kagura menarik rambutnya, mundur, lalu bilang, "Aku lapar. Bisa kita makan siang di luar? Hari ini kau harus mentraktirku karena sudah merusak hari liburku."
Mata besar Sougo menatapnya, tajam. Kagura bisa melihat kekecewaan di sana. Ada secercah rasa puas di dadanya saat mendapati pria itu agak kesal. Kini Kagura tahu kalau mereka berdua saling menginginkan satu sama lain. Tapi Kagura tidak bisa membiarkan siapapun membuangnya lagi. Dia tidak akan tahan. Terutama jika Okita Sougo yang melakukannya.
.
.
.
Gerimis turun ketika mobil Sougo terparkir di area parkir Kinugawa Plaza Hotel yang berada di tepi sungai Kinugawa di Nikko, Tochigi. Dia keluar dari mobil, berjalan lurus memasuki lobi hotel. Rintik hujan yang menetes memberi corak gelap tidak beraturan di kemeja merah tuanya yang polos. Langit tampak gelap meski masih jam baru menunjukkan pukul lima sore, awan-awan berat kelabu menggumpal—menutupi matahari.
Setelah berbicara sebentar dengan resepsionis, Sougo segera mencari kamar tujuannya. Dia mengetuk beberapa kali, tidak ada jawaban. Sougo menghela napas lelah, berdecak, lalu memutuskan mengetuk pintu lagi. Pintu coklat kayu yang tampak berat masih geming dengan keras kepala.
Sougo mendesis, menahan diri untuk tidak meneriaki orang di dalam—dia lalu menatap kenop, berniat memutar-mutar kenop untuk menimbulkan suara berisik. Tanpa diduga pintu terbuka sedikit ketika kenop diputar, tidak dikunci, Sougo menyelinap masuk—dia segera disambut ruangan tamu bergaya Jepang luas dengan cahaya temaram kekuningan. Sougo mengabaikan ruangan menakjubkan itu, menajamkan pendengarannya. Dia bisa mendengar suara dari dalam kamar.
Ketika berdiri di depan fusuma kamar tidur. Suara dari dalam semakin jelas terdengar. Suara lenguhan berat, jeritan-jeritan tercekat seperti suara kucing yang kelaparan.
Sougo menghela napas lagi. Kali ini karena lelah, dia menggeser kasar fusuma.
Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih menatap sosok Sougo yang berdiri di ambang pintu, menarik bibirnya. Di bawah pria itu ada seorang wanita berambut gelap yang berbaring di futon, berantakan, dan berkeringat. Keduanya telanjang, menempel seperti dua butir nasi di atas futon yang berantakan.
"Kau bilang sudah terlalu tua untuk menulis naskah tepat waktu tapi kau tidak pernah terlalu tua untuk ini, ya," cemooh Sougo, melangkah masuk dengan santai seolah tidak ada hal besar yang terjadi di ruangan—seakan yang dilihatnya hanya dua orang yang sedang duduk mengobrol sambil minum teh. Sougo duduk di tatami dekat futon."Kalau ingin memberiku tontonan, aku lebih suka yang sedikit menyakitkan."
"Keparat." Pria paruh baya itu mengumpat, suaranya berat dan bergetar.
Sougo menyeringai, menatap punggung telanjang lelaki yang bangkit, berjalan gontai ke kamar mandi. Wanita di atas futon menggeliat bangun, memunguti pakaiannya yang berserakan di tatami.
Lima belas menit kemudian Sougo sudah duduk di ruang tamu bersama Matsudaira Katakuriko—pria paruh baya berambut putih yang penuh gairah itu. Wanita yang bersama Matsudaira tadi sudah pergi tepat setelah selesai berpakaian.
"Dia wanita malang yatim piatu yang harus bekerja banting tulang sambil mengurus adik-adiknya. Dia tidak pernah tahu rasanya tidur di hotel mewah jadi aku berbaik hati mengajaknya kemari." Matsudaira memulai pembicaraan, dia mengisap rokok dalam-dalam, lalu mengembuskan asap. Ruangan dipenuhi aroma kuat tembakau.
"Kau tidak perlu menjelaskan padaku. Aku bukan istrimu," jawab Sougo, "yang kupedulikan cuma naskah barumu."
"Lagi-lagi, kenapa kau—kenapa bukan Yamazaki yang datang?"
"Karena kau pasti akan bersikap seenaknya. Terakhir kali Yamazaki baru kembali ke kantor jam sebelas malam. Tanpa hasil, mabuk dan bau parfum wanita," jelas Sougo.
Matsudaira Katakuriko kurang lebih sudah menulis novel thriller psikologis sekitar tiga puluh judul sejak dia masih muda, seluruhnya paling tidak mampu mendapatkan nilai delapan dari sepuluh. Dia sering bekerja bersama Sougo ketika pemuda itu masih menjadi editor. Kali ini Yamazaki Sagaru yang bekerja di bawah kepemimpinan Sougo, terpilih menjadi editor untuk novel terbarunya yang berjudul Mawar dan Matahari. Novelnya kali ini diceritakan dari sudut pandang seorang wanita keras kepala berusia sembilan belas tahun yang punya masalah dengan pengontrolan emosi. Dia dikeluarkan dari sekolah, lesbian yang baru ditinggal kekasihnya, tinggal bersama bibinya yang menderita depresi, dan bekerja sambilan di restoran cepat saji. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang gadis berantakan yang mabuk dan berteriak-teriak di acara kencan buta, tidak satu pun pria di kencan buta itu tertarik dengan gadis perusak suasana itu. Terutama setelah gadis itu muntah di meja restoran dan menertawakan perbuatannya sendiri. Si tokoh utama membersihkan muntahan gadis itu, dan menawarkan diri untuk membawa keluar gadis itu—agar dia bisa menghirup udara segar.
Gadis itu berusia dua puluh tiga tahun, dia bekerja di perusahaan asuransi. Dia tidak punya pacar, masih perawan, kasar, malas, dan selalu mengungkapkan pikirannya dengan jujur. Penampilannya tidak begitu buruk meski tidak bisa dibilang cantik, dia hidup dengan bebas seperti burung parkit. Tokoh Utama segera merasakan sesuatu terhadap gadis itu, menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat keistimewaan gadis itu, ingin menolongnya meski dia perlu menolong dirinya sendiri, dan selalu mengagumi keindahan gadis itu di setiap kesempatan. Dia mencintai gadis itu diam-diam sambil bersikap sebagai sahabatnya. Mereka jadi sering bertemu untuk makan bersama, berbelanja, bergosip, atau sekadar mabuk dan meneriaki kata-kata cabul pada pria-pria di jalanan ramai. Suatu hari gadis itu meninggal di kamarnya, polisi mengatakan kalau dia bunuh diri. Si tokoh utama tidak percaya, gadis itu sangat ceria dan tidak tampak punya masalah serius. Maka Tokoh Utama itu menemukan bukti kalau gadis yang dicintainya tidak bunuh diri—tapi dibunuh seseorang—tidak ada yang percaya karena gadis itu tidak punya pacar, tidak punya penggemar rahasia, dan kehidupannya terlalu membosankan untuk jadi korban pembunuhan yang dilakukan dengan rapi. Sembari berusaha menghadapi kesedihannya sendiri, Si tokoh utama menyelidiki sendiri misteri kematian Si gadis.
"Aku sedang cari inspirasi, Bocah Tengik. Yamazaki hanya menemaniku," gumam Matsudaira, "mungkin kau juga perlu sedikit hiburan, aku punya banyak kenalan—"
"Apa ada kesulitan?" potong Sougo.
Matsudaira menghela napas berat, menggaruk-garuk lehernya. "Tidak… Hanya saja, aku lupa rasanya…"
Sougo memiringkan kepalanya ke satu sisi, menunggu.
"Orang seusiaku, harus menuliskan rasa cinta tanpa—kautahu—di bukuku? Aku lupa rasanya mengagumi wanita tanpa memikirkan selangkangan."
Smartphone Sougo tiba-tiba berdering singkat, Sougo mengeluarkannya dari saku celana, menekan tombol perlahan. Matsudaira memperhatikan kilat gembira di mata pemuda yang mempertahankan ekspresi datarnya saat menatap layar. Ekspresi itu baru pertama kali dilihat Matsudaira meski sudah mengenalnya bertahun-tahun. Sougo kemudian mengembalikan smartphone-nya ke dalam saku, bersikap seperti semula.
"Sayang sekali tokoh utama bukumu bukan kakek-kakek yang mudah terangsang sepertimu, ya," kata Sougo, merendahkan.
"Aku menyesal menulis tokoh utama membingungkan seperti itu, dan lagi wanita aneh yang mati itu, aku tidak paham pesonanya. Aku hanya merasa karakternya unik ketika kau mengusulkannya. Selama ini wanita korban pembunuhan di novelku memang wanita cantik menarik yang bisa membuat titit mengeras. Tapi lama-lama pembaca akan mengira tokoh novelku itu-itu saja. Aku tidak punya ide yang lebih baik, jadi aku menulis karakternya sesuai saranmu meski aku tahu kau cuma bercanda waktu itu. Aku tidak paham dia, aku bisa melamun seharian hanya untuk membayangkan pesona wanita itu." Matsudaira mengeluh, "dan aku belum kakek-kakek."
"Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang. Kau pasti lebih tidak mau merombak ulang dari awal."
Jeda singkat tercipta sebentar. Matsudaira menarik rokoknya dari mulut, lalu mematikannya di asbak.
"Kautahu… Selain menyebalkan, kau juga jauh lebih tidak membantu daripada Yamazaki." Matsudaira berbaring di atas tatami—telentang—mata tuanya memicing, mengamati susunan kayu penahan langit-langit. "Sadis sepertimu juga tidak paham cinta. Kau… Pria sinting yang cuma terangsang saat melihat wajah menderita wanita. Berhentilah menyudutkanku."
Sougo mengangkat alis, ekspresinya kosong, dia mendekati bagian kepala Matsudaira—mengeluarkan smartphone dari saku celana—menyodorkannya di depan wajah pria paruh baya itu.
"Aku sudah mengirimkan lebih banyak referensi wanita aneh yang tidak kaupahami itu ke alamat surelmu. Dari sisi pengagum. Lengkap," kata Sougo penuh penekanan, "kau salah akan dua hal hari ini. Pertama, kalau kau bisa sebentar saja melupakan selangkangan tuamu, wanita aneh ini menawarkan pesona yang lebih banyak daripada wanita-wanita pengeras kemaluanmu. Kedua, aku paham soal cinta. Paling tidak belakangan ini."
Matsudaira bangkit duduk—menatap Sougo yang menyimpan kembali smartphone-nya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Bocah Tengik," panggil Matsudaira pelan, suaranya dalam dan sedikit lebih ramah daripada biasa, "kelihatannya kau sedang mengalami hal yang merepotkan."
Sougo sudah menggeser pintu, dia berhenti untuk mendengarkan.
"Sebagai orangtua, kuberitahu…. Yang paling mengerikan di dunia selain kematian itu penyesalan." Matsudaira terkekeh.
"Tidak usah pikirkan yang tidak perlu. Aku hanya perlu naskahmu. Yamazaki akan kusuruh datang lagi lusa," Sougo bilang sebelum menutup pintu di belakangnya.
.
.
.
Kondo Isao menandatangani surat penagihan dengan gembira. Hari ini perusahaan mereka berhasil menjual mobil tua yang sudah beberapa tahun terparkir di garasi. Kagura menjualnya pada seorang wanita muda. Kagura memanfaatkan kesempatan dengan baik ketika wanita muda itu menelepon kemarin sore, dan dari seberang telepon samar-samar terdengar Happiness Is A Warm Gun yang dinyanyikan The Beatles. Kagura bukan penggemar The Beatles, dan tidak terlalu paham lagu Barat. Dia hanya tahu beberapa lagu The Beatles yang populer seperti Hey Jude, Yesterday atau She Loves You. Tapi dia pernah mendengar Happiness Is A Warm Gun sekali di restoran cepat saji—Sougo bersamanya—pria itu mengomentari liriknya, katanya lirik lagu itu sebetulnya menggambarkan hasrat seksual—Kagura tertawa, dia bilang kalau sampai mati dia tidak akan tahu kalau tidak diberitahu dan tadinya berniat menggunakan lagu itu untuk pemakaman Sougo.
Wanita itu menanyakan mobil jenis apa yang pantas untuknya. Meski terdengar konyol, Kagura menawarkan VW Bettle tua pada wanita itu. Mobil itu berkondisi baik, hanya jok dalamnya yang sudah agak menguning dan sedikit robek. Wanita itu segera menyetujuinya saat melihat langsung mobil itu.
Tanpa berpikir panjang Kagura mengirim pesan singkat pada Sougo sekitar jam lima lewat tiga puluh, 'Pistol hangat itu membantuku hari ini, kupikir aku akan tetap menggunakan lagu itu di pemakamanmu.'
Ketika meletakkan smartphone, Kagura baru memikirkan banyak hal. Dia seharusnya mengurangi frekuensi kontak dengan Sougo meski hal itu sulit dilakukan. Setiap melihat layar smartphone, Kagura akan mendapati banyak pesan singkat yang menanyakan pekerjaan, sesekali pesan dari mantan pacar yang berbasa-basi menanyakan kabar padahal selalu berujung memintanya kembali—mungkin dia kesepian atau ingin berhubungan seks. Kadang-kadang teman universitasnya mencoba memulai percakapan santai saat mereka bosan atau meminta tolong. Semua menghubungi Kagura hanya ketika mereka membutuhkan Kagura. Kagura memang terbiasa tidak menggantungkan kebahagiaannya pada siapapun, dia terbiasa dibutuhkan meski tidak benar-benar diinginkan. Kagura tidak masalah dengan itu, dia bisa maklum. Sebagai manusia yang hidup sendirian terkadang Kagura juga membutuhkan bantuan dari orang lain.
Tetapi Okita Sougo memberikan sesuatu yang berbeda. Dia merupakan satu-satunya orang yang tidak membutuhkan Kagura tapi menginginkannya. Karena itu Kagura tidak bisa tahan untuk tidak berbicara dengannya.
Sougo menelepon sekitar jam tujuh lewat. Kagura tahu Sougo di dalam mobil, dia mendengar suara hujan deras menampar-nampar kaca jendela mobilnya.
"Aku tidak ingin dimakamkan sebelum melihat pemakamanmu," kata Sougo, lalu mendengus. "Jadi, pistol hangat John Lennon menolongmu?"
Tawa Kagura lepas, "bisa bertemu hari ini?" tanya Kagura, langsung pada inti.
"Aku di perjalanan pulang dari Tochigi," kata Sougo, "kira-kira sekitar satu jam lagi baru akan sampai di kantormu."
"Kuharap kau akan mentraktir di restoran mahal setelah membuat wanita cantik sepertiku menunggu lama." Kagura bilang, beringsut di kursi kantornya yang berlengan—menimbulkan bunyi derit.
"Baiklah. Kau bisa memakan kertas laporanmu dulu kalau lapar," Sougo bilang.
"Yah, Sadis, semoga John Lennon tidak berniat menumpangi mobilmu dan mengajakmu ke neraka."
Hubungan terputus. Waktu terasa lambat setelahnya. Perut Kagura menegang ketika Sougo meneleponnya satu jam kemudian, mengabari kalau dia sudah sampai dan menunggu di depan konbini. Kagura menuruni tangga lambat-lambat—dengan beban, jantungnya berdetak cepat, aliran adrenalin bergerak di sekujur tubuhnya. Kagura tidak tahu keputusannya tepat atau salah, dia tidak ingin memikirkan itu sekarang. Dia ingin meraih sedikit kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan meski harus melukai orang lain atau dirinya sendiri. Kebahagiaan memang rapuh seperti piring kaca dan berumur pendek. Tapi justru karena itu kebahagiaan menarik dan diimpikan semua orang.
Bulan purnama yang menggantung kesepian di langit gelap mengawasi Kagura yang berjalan cepat menuju mobil hitam yang dibasahi hujan, sepatu bertumit rendahnya berkeletuk di atas aspal. Dia masuk ke mobil. Duduk di sebelah Sougo yang tampak lelah, kemeja merah tuanya agak berantakan. Sikunya bertengger di jendela, jemari memegangi pelipis—menoleh untuk memperhatikan Kagura yang sebagian wajahnya tertimpa cahaya lemah lampu jalanan.
Kagura menutup pintu mobil, meletakkan tas tangan di sisi tempat duduk—membalas tatapan Sougo.
"Mau kemana hari ini?" tanya Sougo, suaranya rendah dan dalam.
Menghela napas, Kagura tersenyum, menarik kerah Sougo—mencondongkan tubuhnya pada pria itu—matanya tertutup. Bibir Kagura menyentuh bibir Sougo, pria itu sedikit terkesiap—tetapi kemudian Kagura merasakan kedua tangan Sougo di pipinya—jari-jarinya dingin. Ciuman itu lembut dan ragu-ragu. Tangan Kagura melepaskan kerah kemeja—lengannya berpindah melingkari leher Sougo. Keraguan telah lenyap bersamaan dengan hilangnya pertahanan diri—kecupan mereka kini dituntun gairah—saling mencari bibir satu sama lain seolah sedang kelaparan. Suara napas pendek dan kecupan bibir menjadi satu-satunya suara yang terdengar di telinga mereka. Memabukkan dan mengikis kesadaran.
"Terserah, bawa aku kemana saja, Sougo." Kagura berbisik di wajah Sougo ketika bibir mereka terpisah. Sougo merasakan napas panas Kagura di kulitnya, dia meraih tangan Kagura—menggenggamnya erat.
Sougo tersenyum. "Kau masih ingin kupanggil Cewek Bego?"
"Kagura," kata Kagura cepat.
"Tanpa nama panjang?"
Kagura tertawa. "Tidak perlu, kau cuma kuizinkan memanggilku Kagura,"
"Baiklah, Kagura." Sougo memutuskan kalau dia menyukai sensasi nama itu di lidahnya.
.
.
つづく
To be continued
Sebenernya lagi ngerjain skripsi. Tapi gatel pengen nulis ini.
Btw gue merasa perlu info soal ini... Biarpun gue pernah nyebut Christian Grey di chapter pertama, gue engga doyan Fifty Shades of Grey #gapenting. Buku ato filmnya engga pernah gue jadiin referensi BDSM karena kurang realistis dan engga ngegambarin BDSM dengan bener (maaf-maaf kalo ada yang ngidol buku/film ini). Yah, in case pada penasaran, film BDSM yang decent itu Secretary (2002) ato Belle de Jour (1967).
Terima kasih udah nyempetin baca. Review akan sangat diapresiasi.
