Sougo lupa kapan tepatnya suara tawa lancang Kagura menjadi sesuatu yang selalu ditunggunya. Ekspresi jujur dari wanita itu lebih menenangkan daripada aroma segar kopi, wangi tubuhnya yang kekanakan lebih memabukkan daripada alkohol. Sougo juga tidak ingat lagi sejak kapan dirinya menjadi sangat kesepian jika wanita itu sedang tidak bersamanya.

Matsudaira benar, sebelumnya Sougo tidak pernah mengenal cinta. Dia tidak tahu sikap tepat yang harus dilakukan ketika sesuatu yang dinamakan cinta menghampiri tanpa peringatan. Dan ketika situasinya sama sekali tidak tepat. Sougo hanya tahu betapa jatuh cinta itu menyenangkan dan menggairahkan. Perasaan itu membuatnya seolah menjadi anak laki-laki berusia lima tahun yang berlari kencang di lapangan luas tanpa takut terjatuh dan merasakan sakit. Hanya ada kebahagiaan yang mengetuk-ngetuk kesadaran.

Sougo tidak pernah menyandarkan mimpinya pada seseorang, tetapi wanita itu telah menjadi impian itu sendiri. Dia mungkin tidak akan pernah menjadi seseorang yang sama lagi saat Kagura pergi dari kehidupannya. Karena itu sesungguhnya Sougo ingin waktu berhenti, dia tidak peduli jika dunia sekitarnya berubah berantakan, selama masih ada Kagura di dalam hidupnya.

"Kagura, kau tahu aku selalu bisa—" Sougo mencoba mengutarakan, dia menggigit bibirnya. Kedua mata biru jernih milik wanita itu menatap Sougo—tatapan itu bahagia tetapi kilat kesedihan juga hadir di sana—ekspresi itu menyakiti Sougo lebih dari dugaannya.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu," Kagura berbisik, "kau harus menurut."

.

Sorachi Hideaki 空知英秋 is the original author of the Gintama (銀魂) manga, I definitely don't own anything.

.

.

危険な関係

Kiken na Kankei

(Dangerous Relationship)

.

.

Don't know why, today gets better

Going gently is better than being tightly

I feel that is the story of you and me

Though I can't say great thing

I can stay beside you, that's what I can do

Though there were things that we can't understand each other

It because there's a shape of love that we couldn't reach

Let's continue the movie of you and me just a little longer

Let's continue the movie of you and me just a little longer

.

.

.

Hujan deras mengguyur Fujisawa ketika mobil Sougo sampai di depan apartemen Kagura. Kagura tertawa-tawa ketika melihat Sougo basah kuyup, meski dirinya sendiri juga sebetulnya seperti kucing liar yang habis tercebur di kolam. Sougo mengangkat rambutnya yang jatuh ke wajah—menarik sudut bibirnya. Jantung Kagura berdebar liar saat Sougo mendorong wanita itu ke dalam ruang apartemen. Tubuh keduanya terasa berat karena pakaian yang basah.

Sougo mendorong Kagura sehingga pinggul wanita itu menabrak bak cuci piring lalu mencium bibir Kagura dengan kasar. Pintu apartemen masih terbuka sampai Sougo menutupnya dengan telapak kaki kiri yang masih terbungkus sepatu. Kagura mencengkeram erat punggung Sougo —seolah nyawanya bergantung pada tubuh pria itu. Jari-jari Sougo bergerak menyentuh leher Kagura kemudian menyelipkannya di antara paha dalam Kagura.

Suara hujan yang tidak beritme di luar menjadi terdengar samar, keduanya hanya bisa mendengar suara detak jantung masing-masing —tubuh dingin mereka serasa panas karena gairah.

Kagura menarik kerah kemeja Sougo saat pria itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kagura—wanita itu menuntunnya mendekat ke tempat tidur, lalu membanting tubuhnya —Sougo berada di atasnya. Bibir mereka akhirnya terpisah. Seprei segera menyerap air dari pakaian dan rambut Kagura.

"Tidak apa-apa?" Kagura berbisik, matanya terpejam. Wajahnya memerah.

"Bukannya aku yang harusnya bertanya?" balas Sougo sembari membuka kancing kemeja Kagura. Kagura merasakan telapak tangan Sougo yang hangat menyentuh perutnya yang dingin.

Kagura tidak menjawab, dia hanya bisa menebak jika Sougo tidak paham maksud Kagura, atau memang itulah jawaban secara tidak langsung darinya. Tapi apapun jawaban Sougo tidak akan membuat Kagura mundur, isi kepalanya sudah penuh dengan keinginannya saat ini.

Sougo juga tidak tampak ingin menghentikan gerakan, dia dengan perlahan menanggalkan pakaian basah Kagura.

Setelah itu Kagura merasa jika dirinya bergerak sendiri atas dorongan hasrat, dia seolah ditarik ke dunia mimpi yang membuat aliran darahnya berdesir. Mulanya gerakan mereka berkesan ragu, seperti anak-anak yang mengetes kedalaman danau sebelum berenang, setelahnya mereka berdua dengan lincah saling menjelajahi tubuh satu sama lain.

Aroma tubuh Kagura yang bercampur dengan bau air hujan yang membasahi tubuhnya dan desahan gadis itu membuat Sougo tidak akan bisa berhenti.

.

.

.

Di waktu lain Sougo mengundang Kagura ke apartemennya. Kagura tidak menyangka akan betul-betul dibawa ke sana padahal dia hanya bercanda ketika menantangnya melakukan itu. Sougo tinggal di sebuah apartemen 2LDK di lantai 16 di Toranomon, Minato-ku, Tokyo. Apartemen itu besar, berlantai kayu dan dinding-dindingnya putih bersih. Tidak banyak perabot di sana. Apartemen itu tampak seperti apartemen yang baru ditinggali beberapa bulan meski sebetulnya tidak demikian. Bahkan tidak ada foto yang dipajang. Kagura berbaring di sofa empuk berwarna kelabu tanpa malu-malu dan memakan permen yang berada di meja ruang tamu itu, menyalakan TV dan berpura-pura menontonnya sembari memperhatikan seisi ruangan.

"Mau bir atau air keran?" tanya Sougo asal, dia membuka kulkas, mengambil dua kaleng bir lalu menutupnya kembali.

"Dasar bego."

"Jalang." Sougo bilang sembari duduk di sebelah Kagura.

Kagura bangun dan mengambil kaleng bir dari tangan Sougo, membuka lalu meminumnya banyak-banyak.

"Mana istrimu?" tanya Kagura enteng, tapi hatinya terasa sakit saat menanyakan dan menyadari situasi yang dia hadapi.

Sougo membuka kaleng bir, menatap Kagura. "Lembur. Aku lebih suka untuk tidak membahas soal dia."

Sebetulnya Kagura juga merasa demikian. Dia mengangkat bahu, meminum kembali birnya.

Keheningan yang mengisi sejenak membuat Kagura berpikir seperti apa sosok wanita yang dinikahi Sougo. Kagura tentu sering membayangkannya, namun ketika jaraknya dengan wanita itu semakin dekat, ternyata dia juga tetap tidak bisa membayangkan. Kagura ingin tahu pernikahan seperti apa yang mereka jalani hingga sekadar foto pun tidak terpasang di tempat tinggal mereka dan Sougo bebas berselingkuh dengannya. Pria itu memang tidak pernah tampak panik, ekspresi wajahnya nyaris selalu sama. Tetapi aneh jika dia bersama wanita lain tanpa takut ketahuan sama sekali.

"Kau tahu," Kagura memecah keheningan, "Aku tidak percaya takdir."

Sougo melirik Kagura dengan ekor matanya.

"Tapi kali ini kurasa pertemuanku denganmu bukan kebetulan." Kagura bilang, bibirnya membentuk senyum pahit.

"Tentu saja." Sougo bergumam, "Kau berisik dan merepotkan, terlalu mencolok untuk diabaikan."

Kagura tertawa. "Tapi aku tidak tertahankan, ya?"

Sougo tidak menjawab.

"Ngomong-ngomong aku tidak suka di sini. Terlalu besar, rapi…. Terasa dingin." kata Kagura.

"Ceritanya akan lain jika yang tinggal di sini itu kau, perempuan jorok."

"Berikan aku ciuman."

"Tidak ada yang bisa memerintah Okita Sou—" ucapan Sougo terpotong ketika Kagura menempelkan bibirnya pada bibir Sougo.

Tentu saja hidup Sougo akan lebih hangat dan berantakan jika saja dia bertemu dengan Kagura lebih cepat.

.

.

.

.

Kagura dan Sougo sampai di bandara jam sembilan malam. Kagura akan naik pesawat jam sebelas nanti sementara Sougo masih punya waktu tiga hari di Thailand.

"Sebetulnya kau tidak usah mengantar segala," kata Kagura saat Sougo kembali dari toilet. Mereka menunggu di lounge bandara, waktu terasa cepat dan cuaca malam itu dingin. Kagura menggosokkan kedua tangannya ke cangkir kopi panas.

Sougo menyeringai. "Aku cuma ingin memastikan kau tidak salah naik pesawat."

"Bajingan."

"Jadi… Ini adalah terakhir kali kita bertemu?" tanya Sougo, mengabaikan ejekan Kagura.

Wanita di depannya mengangguk keras, dia menatap gelas kopi panasnya—tidak menyembunyikan kesedihan di matanya.

"Aku juga sudah memblokir nomor ponselmu kok." Kagura bilang, dia tertawa kecil kemudian. Sougo menghela napas, dia memandang jauh.

Sougo tersenyum. "Kau lebih sadis daripada aku."

"Kau pasti sedih dan kesepian! Aku menunggu-nunggu Okita Sougo yang tak berdaya!" seru Kagura girang.

"Tidak, hidupku lebih tenang dan bahagia—" Sougo berhenti sebentar. "—Tanpa kau."

"Kuharap kau mengatakan yang sejujurnya." Kagura menyeruput kopinya yang pahit, tapi lidahnya tidak merasakan apapun. Jantungnya berdentum liar, hatinya terasa sakit—matanya perih karena menahan air mata. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya supaya air matanya tidak jatuh.

"Ah—hujan akan turun." Sougo bilang sambil menatap kaca di sebelah kirinya.

.

.

.

.

Di suatu malam Kagura mendapati seorang tamu tak terduga yang datang ke rumahnya. Dia seorang wanita berusia pertengahan tiga puluhan, mempunyai tulang pipi yang menonjol dan rambut hitam cepak. Giginya yang besar sedikit menyembul dari balik bibir tipisnya. Wanita itu mengenakan kaus ketat berwarna hitam dan celana jins biru tua. Wanita itu tidak bisa dibilang cantik, tapi entah bagaimana mengintimidasi.

"Selamat malam. Apa kau yang bernama Kagura?" tanya wanita itu saat Kagura tengah mengamati sosok perempuan itu.

"Y-ya. Kau siapa?" tanya Kagura tidak ramah.

"Perkenalkan. Aku istri Okita Sougo," kata wanita itu dengan memperlihatkan senyum lebar—memamerkan gigi-gigi besarnya.

Kagura menelan ludah, dia terdiam sebentar. "Kau datang buat memarahiku seperti yang ada di drama-drama?"

Mulut Istri Sougo menganga, "Tentu saja tidak. Aku kemari untuk berterimakasih padamu."

"Eh?" Kagura tidak paham dengan situasinya.

"Sebelum itu… Kau tidak ingin membiarkanku masuk?" tanya Istri Sougo.

"Tidak. Aku tidak ingin beramah tamah dengan rivalku," jawab Kagura.

Wanita di depan Kagura itu tertawa lepas, lalu bilang, "Kau menarik. Aku paham kenapa Sougo menyukaimu."

"Aku memang menarik dan kau membosankan. Selamat tinggal!" kata Kagura sembari hendak menutup pintu, tapi Istri Sougo menahan pintu apartemen.

"T-tunggu! Aku belum selesai berbicara."

"Aku tidak paham denganmu. Maksudku, kau tidak marah padaku? Atau jangan-jangan kau cuma akting lalu memutilasiku di dalam apartemen?" Kagura mendesis.

Istri Sougo tertawa lagi, "Baiklah kalau kau takut soal itu…. Tidak, pada dasarnya pernikahan kami memang demi keuntungan masing-masing." Dia menjelaskan.

Kagura menaikkan sebelah alisnya, berusaha mencerna kata-kata Istri Sougo. Kagura akhirnya membuka lebar pintu apartemennya, mengedik ke arah dalam apartemen—mengizinkan wanita itu masuk ke sana.

Setelahnya, Istri Sougo berterimakasih karena sudah diizinkan masuk—dia tampak tidak peduli dengan kamar berantakan Kagura, wanita itu duduk di depan meja kecil—sebelah tangannya menopang dagu. Wajahnya yang bulat dan ramah tersiram lampu temaram kamar Kagura.

"Aku menikahi Sougo untuk memenuhi keinginan orang-orang di sekitarku. Kau tahu—sebagai wanita yang memasuki usia tigapuluhan segalanya mulai terasa sulit…. Akan merepotkan jika mempunyai suami yang punya perasaan kuat padaku dan sebaliknya," Istri Sougo memulai tanpa peringatan, "Aku kenal dia waktu kuliah dulu, dia juniorku. Dia pun sebetulnya tidak punya niat untuk menikah, tapi dia berencana akan dimutasi ke Kyushu karena masih belum berkeluarga jadi dia menerima tawaranku."

Kagura mendengarkan dengan seksama, perasaan lega dan gembira membanjiri dada Kagura. Sougo tidak pernah mencintai istrinya adalah sesuatu yang tidak pernah disangka sekaligus sesuatu yang paling diinginkan Kagura.

"Kurasa, itu adalah keputusan tepat yang tidak pernah kami sesali," lanjut Istri Sougo, "Sebelum dia bertemu denganmu."

Hening sejenak.

"Kupikir Sougo tidak akan pernah jatuh cinta seumur hidupnya… Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf pada kalian." kata Istri Sougo—menggigiti kukunya—suara gemeletuk antara gigi dan kukunya berdengung di telinga Kagura. "Seandainya aku bisa memutar waktu—"

"—Cukup!" Kagura memotong, dadanya kembali terasa sesak. "Sebetulnya apa tujuanmu kemari?"

"Sebaiknya—maksudku… Tolong tinggalkan Sougo demi dia, kau, dan aku." Istri Sougo bilang, dia masih menggigiti kukunya.

Tulang punggung Kagura serasa berubah menjadi es, entah bagaimana dia sudah menduga kata-kata itu akan meluncur dari mulut wanita berambut hitam kelam di hadapannya.

"Sebetulnya Sougo sudah menawarkan perceraian. Aku sudah setuju tetapi aku teringat akan sesuatu… Kautahu Sougo itu kepala editor… Dia juga pernah menjadi editor buku mengenai rumah tangga…" jelas Istri Sougo, matanya menatap Kagura. "Perceraian akan mengganggu karirnya, dan kau juga akan menjadi sorotan perusahaan dan keluarganya. Aku bisa menjelaskan ini kepada orangtuaku tapi tidak pada kakak Sougo."

Kagura mendongak, menarik napas panjang. Dia berjalan menuju pintu—raut wajahnya dingin.

"Keluar…" Kagura bilang.

Istri Sougo menatap Kagura sebentar, lalu berdiri.

"Aku bicara begini murni bukan karena punya perasaan lebih terhadap Sougo… Aku tidak ingin semuanya berantakan…"

"Tapi aku tidak ingin isi kepalaku berantakan." Kagura menjawab sinis.

Istri Sougo berjalan keluar apartemen, dia menatap Kagura lekat-lekat. "Pikirkan lagi."

Pintu ditutup. Kagura menghela napas lelah.

.

.

.

"Ingin bertemu hari ini?"

"Aku ada rapat mendadak. Maaf."

Telepon ditutup.

Kagura berbohong pada Sougo, sejak hari itu dia rasanya tidak ingin bersama siapa pun. Dia ingin sendirian. Pertemuannya dengan Istri Sougo bukan hal menyenangkan—dan sangat melelahkan. Kagura menonton di bioskop, film itu tidak begitu menarik tapi Kagura menangis. Dia tidak paham bagaimana film itu dapat mengingatkannya pada hubungannya dengan Sougo. Bukannya dia selalu memikirkan Sougo tapi hari itu rasanya kepalanya dipenuhi Sougo—tepatnya dia biasanya tak pernah mengizinkan membiarkan Sougo mengendalikan kehidupannya. Pria itu juga mungkin tidak selalu memikirkannya.

Ketika dia sedang tertekan, mungkin Sougo sedang sibuk dengan orang lain. Bahkan dia tidak ada ketika Kagura menangis di satu malam karena kesepian. Karena hubungan yang mereka jalani ini sebetulnya tidak bisa sepenuhnya digapai. Membiarkan semuanya mengalir sepertinya lebih baik dibanding menggenggam sesuatu lebih erat.

Kagura sadar dia hanya menunda kesedihan dengan mempertahankan kesenangan yang sifatnya sementara.

Persetan dengan kesenangan itu—Kagura paham apa yang harus dia lakukan.

.

.

Ternyata memang ada yang aneh dengan Kagura di hari ketika dia menolak bertemu. Nomor ponsel Kagura tak lagi bisa dihubungi, pesan singkatnya pun tidak dibalas—Kagura juga tidak ada di apartemennya.

Ketika dia menanyakan hal ini ke perusahaan tempat Kagura bekerja, rekan kerja Kagura memberitahunya kalau Kagura mengundurkan diri bertepatan dengan hari terakhir Sougo meneleponnya. Sougo segera sadar apa yang sedang terjadi.

.

.

Sejak itu Sougo terus mencoba menghubungi Kagura, dan mencari tahu setiap petunjuk dimana kemungkinan wanita itu berada. Dia kembali mengonsumsi fluoxetine yang sudah tidak pernah disentuhnya lagi selama dua tahun lebih untuk menstabilkan emosinya.

.

.

.

Jika tahu akhirnya akan seperti ini, Sougo tidak akan pernah memulai hubungan ini. Ekspresinya tetap datar meski seluruh tulangnya terasa melunak dan perutnya bergejolak—dia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di TV. Seorang wanita meninggal dalam keadaan mengerikan di dalam apartemennya karena menghirup karbon monoksida.

Dia Kagura, Kagura-nya yang menyebalkan dan tidak tahu malu.

Pada akhirnya tidak ada yang bisa membuat Kagura kalah selain dirinya sendiri.

.

.

.

.

"Aku harus pergi," kata Kagura seraya melihat jam di ponsel. Dia berdiri mengambil tasnya—beranjak meninggalkan Sougo dan kopinya yang tak tersentuh.

"Aku benci bilang ini, tapi aku harap kau bahagia." Sougo bilang.

Kagura menoleh, tersenyum, "Tentu saja."

Kaki mungil Kagura bergerak lagi, dia berjalan menuju tempat Sougo. Mengecup bibir pria itu tanpa peduli kalau mereka menjadi tontonan sejumlah orang. Sougo memperdalam ciumannya, merasakan sedikit rasa amis darah karena dia menggigit bibir Kagura. Jari-jari Kagura yang dingin berada di pipinya.

"Selamat tinggal." kata Kagura.

.

.

Jika diberi kesempatan sekali lagi, Sougo ingin menukar hidupnya dengan kebahagiaan Kagura. Sekali saja. Satu kali yang kekal dan sempurna.

.

.

I'm coming to see you this year again, but this time my soul has become a firefly
Just wanting to be accepted, just wanting to be forgiven.

.

.

FIN

終わり


Biarpun diselsaiin dalem waktu setahun ternyata hasilnya cuma bisa begini. Endak, daku belum berumah tangga kok tapi lebih ke... mental health issue. Next time, mungkin bakal nulis fanfic yang lebih fun aja. ehe. see ya!