Tobirama suka kopi.
Tobirama suka wanita cantik.
Kopi yang dibuat wanita cantik? Tobirama suka sekali.
Apalagi wanita itu baru ia beri sangat banyak cinta dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Wanita berambut hitam panjang itu memakai kemeja miliknya yang tidak dikancing sama sekali, memperlihatkan lekuk tubuh putihnya yang memang menggoda. Sebenarnya lelaki pucat itu sangat enggan bangun dari selimutnya yang hangat, tapi hasrat memeluk wanita itu jauh lebih penting untuk dipuaskan.
Maka sebelum wanita itu beranjak, Tobirama segera menyusulnya dan memeluk wanita itu. Memberinya ciuman sepanas kopi yang sedang ia seduh di mesin pembuat kopi. Izuna membalas ciumannya dan terkekeh ketika pria itu mengecup dan menjilat perpotongan lehernya. Dalam bayangan Tobirama, wanita ini sudah menjadi kekasih resminya, dan mereka sedang melakukan aktivitas biasa mereka.
Lagipula, Izuna sudah putus dengan pacarnya, itu berarti Tobirama punya kesempatan di atas delapan puluh persen untuk memilikinya selamanya.
Lelaki itu membaringkan Izuna di atas meja dapur dan melepas kemeja itu dari tubuh Izuna, bersiap memulai percintaan dengan wanita cantik itu, melakukan sebuah aktivitas pagi yang tidak pernah ada dalam mimpi tergilanya sekali pun.
Mereka berpagutan lembut dengan Tobirama yang menindih wanita itu, dan Izuna yang memeluk erat Tobirama. Lelaki itu menghirup aroma tubuh Izuna yang membuatnya sangat ketagihan. Wajah tanpa makeup wanita itu begitu manis, bahkan lebih manis daripada saat ia memakai makeup, meski tipis. Dada Izuna yang naik turun dan sedikit bergoyang membuat Tobirama melesakkan wajahnya di sana dan memakai bibirnya untuk menggoda wanita itu, yang dibalas dengan erangan lembut dan panjang.
Benda kebanggaan lelaki itu kini telah tegak sempurna, sudah siap tempur dan memasuki tubuh wanita itu. Izuna yang menyadari ereksi Tobirama, langsung membuka kakinya lebar-lebar, dan membantu junior berurat Tobirama masuk ke dalam tubuhnya. Erangan dan lenguhan memenuhi dapur yang mulai terasa panas di musim dingin itu. Izuna memasukkan seluruh diri Tobirama ke dalam dirinya, membuat Tobirama semakin ingin klimaks. Namun, Tobirama menahannya. Izuna mengerang kecewa, rupanya wanita itu ingin cepat 'keluar'. Bibir mungil itu mulai merengek, ia ingin keluar, nafsunya sudah berada di puncak.
Tobirama menarik Izuna untuk duduk, dan memaju-mundurkan juniornya supaya Izuna bisa lebih cepat keluar. Erangan itu terus keluar dari bibir Izuna, dan dalam hitungan menit, Izuna mulai mendesah lebih keras, dan mulai berteriak, dan akhirnya ia meneriakkan nama pasangannya penuh kepuasan.
Izuna mengerti lelaki itu belum keluar sama sekali, maka ia menggerakkan pinggul rampingnya agar Tobirama bisa 'keluar' juga. Lelaki itu membantunya bergerak, dan menciumi bahunya supaya wanita itu makin terangsang. Izuna mendesah makin keras, dan pinggulnya bergerak makin cepat, membuat Tobirama merasakan kenikmatan yang mulai dicapainya. Dalam hitungan detik, Tobirama 'keluar' dan menumpahkannya di perut Izuna. Kemejanya ia pakai untuk membersihkan tubuh wanitanya dari kekacauan yang dibuat oleh juniornya.
Pagi itu, mereka merayakan penyatuan tubuh mereka dengan minum kopi dengan Izuna di atas pangkuan Tobirama, dan gelas kopi di tangan mereka masing-masing. Tubuh mereka yang tidak tertutupi apapun, terasa hangat karena ada dua jantung yang berdetak penuh kehangatan.
Tobirama berharap seandainya setiap hari adalah tanggal satu Januari.
Karena tanggal satu Januari adalah hari di mana ia mendapatkan Izuna.
