Jalan pegununangan yang biasanya sepi kini dilalui banyak mobil, tujuan mereka adalah rumah duka keluarga Hinata. Jepang dibuat heboh dengan meninggalnya salah satu kandidat timnas Voli Jepang bernomor punggung 10 itu. Para kerabat, teman, sahabat dan penggemar voli di seluruh Jepang berduka.
Sosok secerah matahari itu sudah pergi.
Gagak kecil yang menyimpan segudang stamina dan semangat itu kini telah terbang jauh ke langit, tidak akan pernah kembali lagi.
Jasad Hinata Shoyou sudah di kremasi pagi tadi, para pelayat dari kalangan wartawan dan pelatih besar voli pun tidak luput untuk datang memberikan penghormatan terakhir untuknya. Sudah lebih dari tiga jam berlangsung upacara penghormatan di rumah duka, namun hingga kini isak tangis yang ditinggalkan belum juga reda.
Natsu terus memeluk ayahnya, mata anak manis itu bengkak dan merah, berkali-kali bibir ranum itu merapalkan 'nii–chan' di depan foto sang kakak.
Kageyama menatap nanar foto partner mungilnya, air matanya berhenti beberapa saat lalu. Habis mungkin. Usai berdoa dan menyalakan dupa, dia membungkuk pada nyonya dan tuan Hinata.
"Aku turut sedih." Ucapnya dengan bahu bergetar.
Ibu Hinata tersenyum tipis dan menepuk pelan pundak pemuda raven didepannya, "aku dengar kau sering bertengkar dengan Shoyou, maafkan puteraku ya, nak Tobi—"
"Tidak!" potong Kageyama membuat ibunda Hinata terkejut. "Jangan meminta maaf oba–san. Bermain voli bersama Hinata adalah saat yang terbaik untukku, dia menyelamatkanku dari ketidakpercayaan diri atas trauma di masa lalu. Dia sahabat terbaikku, keberadaannya tidak tergantikan. Jadi jangan meminta maaf."
Semua anggota tim, termasuk para alumni klub voli Karasuno tertegun, mereka terdiam kemudian kembali menangis sedih. Benar kata Kageyama. Sosok Hinata benar-benar tidak tergantikan.
[Aku dimana?]
Desir angin membelai lembut, padang rumput bergoyang memainkan musik gemerisik musim semi. Pria bersurai senja itu berdiri di bawah naungan pohon sakura besar, mata sewarna madu itu menatap takjup hamparan bukit ilalang dan danau berair tenang.
[Aku dimana?]
[Kau di surga.]
Pria senja membalikan tubuh, kepalanya tertoleh kesana-kemari, mencari sosok suara yang menggema di kepalanya.
[Kau siapa?]
[Aku malaikat utusan Tuhan]
Pria senja tertunduk, gurat wajahnya menyiratkan kesedihan.
[Aku sudah mati?]
[Kau sudah mati, kecelakaan, pendarahan otak berat dan hipotermia]
Raut wajah pria senja berubah cemberut.
[Aku tidak perlu rincian sedetail itu malaikat–san]
[Kau juga menyelamatkan seorang nyawa.]
Biner madu melebar, ia teringat sosok gadis manis bersurai mirip sepertinya yang hendak mengakhiri hidupnya di jalan raya.
[Apa dia baik-baik saja? Malaikat–san?]
[Dia tidak pernah baik-baik saja. Dia sudah dibuang ibunya di depan panti asuhan saat masih bayi. Dia diaposi pria bejad yang kemudian mencabulinya di usia sepuluh tahun. Berhasil kabur dari rumah pria itu dan tinggal sendirian, dia malah mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya di sekolah.]
[Jadi saat itu dia sungguh ingin mengakhiri hidupnya?]
[Benar]
Secercah cahaya biru muncul di balik pohon, cahaya itu perlahan melebar, membentuk sosok manusia hingga muncul pria bersurai padi dengan hakama bermotif bunga peony.
"Kau yang bicara padaku?" tanya Hinata.
Pria muda itu tersenyum dan mengangguk. "Selamat datang di dunia abadi, Hinata Shoyou. Apa kau menyesal telah menyelamatkan gadis itu?"
Hinata terdiam, biner madunya menerawang pemandangan danau berair tenang. Ia tersenyum tipis dan menggeleng, "aku tidak menyesal. Aku hanya melakukan sesuatu yang aku anggap benar. Tapi—" pemuda itu menggantungkan kalimatnya.
Pria padi memiringkan kepala, "tapi?"
Hinata menunduk sedih, "aku belum menepati janjiku pada Kageyama."
Malaikat itu tersenyum kemudian berjalan mendekat, seketika aroma wangi peony memenuhi indera penciuman. "Sebelum itu, perkenalkan. Aku salah seorang malaikat surga, namaku Natsume Takashi. Sebenarnya aku memiliki sebuah penawaran untukmu."
Kening pria mungil berkerut, ia menatap si malaikat bingung. "Pernawaran?"
Pria bersurai padi mengangguk, "tiga hari setelah kematianmu, gadis yang kau selamatkan terus berdoa pada langit. Ia datang ke hampir seratus kuil untuk berdoa. Meminta pada dewa mana saja untuk mengabulkan permintaannya. Dia ingin menukar nyawanya dengan nyawamu."
Biner madu Hinata melebar.
"Para dewa melakukan kamuhakari dan dibuatlah keputusan untuk memberikanmu penawaran ini." Malaikat bernama Natsume itu memberi jeda, ia menatap dalam pria mungil didepannya, "Hinata Shoyou, apa kau mau hidup kembali?"
Hinata tercekat. "Hidup lagi?"
"Gadis itu sudah menyerahkan sepenuhnya nyawanya, seumur hidup dia tidak pernah merasakan sedikitpun manisnya kehidupan. Walau kau sudah menyelamatkannya, pasti nantinya gadis itu akan kembali melakukan hal yang sama. Dia sudah benar-benar menyerah dengan hidupnya. Maka dari itu, penawaran kami adalah.."
Hinata menelan ludah.
"Tetap mati dan menikmati surga, atau mencoba kembali ke dunia menggunakan tubuh gadis itu. Identitasnya, tentang kelahiran bahkan ingatan semua orang tentang gadis itu akan kami hapuskan. Kau bisa memakai tubuh gadis itu untuk menepati janjimu dengan sahabatmu, kau bisa bebas pergi bersekolah ke sekolah yang sama dan membuat identitas baru."
Hinata terdiam, kepalanya masih sibuk mencerna ucapan si malaikat yang juga bertubuh sama mungilnya dengannya.
"Maksudmu aku hidup kembali dengan tubuh perempuan?" tanyanya dengan menekankan kata terakhir.
"Benar, tapi hanya dengan waktu yang ditetapkan. Kematian tetaplah kematian, kematian sudah ditakdirkan pada setiap insan sebelum mereka lahir. Takdirmu menjadi seseorang yang sudah meninggal juga tidak berubah. Kau hanya bisa kembali ke dunia selama setahun, setelah itu kau akan kembali ke sini. Ke dunia abadi."
"Hanya setahun?"
Natsume mengangguk, "selain itu kau tidak boleh membocorkan identitasmu sebagai Hinata Shoyou, jika sampai identitasmu terbongkar, maka kami akan segera memulangkanmu ke surga."
Hinata tertegun, ia kembali menerawang. Sejujurnya, ia sudah menerima takdir. Ia tidak marah ataupun kesal karena meninggal di usia muda. Setidaknya impiannya memenangkan kejuaraan nasional sudah teraih. Namun disisi lain, ia masih ingin melihat Natsu tumbuh besar, ia masih ingin menerima toss Kageyama dan bermain bersama pemuda itu di laga dunia.
Masih banyak yang ingin ia lakukan.
"Kau menerimanya?"
Suara bariton lembut itu membuat tubuh Hinata tersentak, ia menoleh, memandang si malaikat lamat-lamat. "Aku.." suaranya sesekali tertahan di tenggorokan, "tidak marah atau kesal. Hanya saja memang benar, seindah apapun surga. Aku masih ingin bertemu teman-temanku di dunia. Melakukan banyak hal bersama mereka. Jika memang kesempatan itu diberikan untukku, walau aku harus merasakan sakitnya kematian sebanyak dua kali. Maka—"
Sorot mata sewarna madu itu menajam, "aku tetap akan menerimanya."
Sudut bibir Natsume terangkat. "Kalau begitu—" ia tersenyum simpul dan mengangguk singkat.
"Selamat datang di kehidupan keduamu, Hinata Shoyou."
Bersambung...
