Cahaya matahari menusuk kelopak mata membuat mata sewarna madu itu terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, memandang langit-langit kayu.

"Selamat pagi."

Ia terlonjak dan sontak duduk begitu mendengar suara yang begitu familier itu. Hinata menoleh, matanya membulat mendapati pria bersurai padi yang tengah membukakan jendela.

"Malaikat–san?"

Pria yang dipanggil itu tertawa kecil, "panggil saja aku Natsume, Shoyou–kun—tidak maksudku, Shoyou–chan, mungkin?"

"Hah?"

Hinata kalut dan seketika beranjak dari tempat tidur, ia menghampiri cermin besar di sudut ruangan. Matanya melebar, ini bukan tubuhnya, tapi tubuh gadis yang diselamatkannya waktu itu. Hinata meraba-raba wajah, leher hingga dadanya. Pipinya memanas begitu merasakan tonjolan besar di dadanya.

"Payudara!" pekiknya dengan wajah semerah tomat, "kau yakin ini tidak apa-apa malaikat–san?! Maksudku, pemilik asli tubuh ini pasti marah karena aku akan sering melihat tubuhnya."

"Tenang saja, pemilik tubuh itu kini sudah dianggap meninggal. Jiwanya sudah ada di langit dan bertemu orang-orang baik yang sudah merawatnya saat di panti dulu. Anggap saja tubuh itu milikmu sendiri, Shoyou."

Hinata terdiam. Ia menatap sekali lagi pantulan tubuh barunya di cermin. Mata sewarna madu dengan surai jingga sepunggung. Takdir itu luar biasa. Siapa sangka ia akan memakai tubuh gadis yang begitu mirip dengan tubuh aslinya.

"Kau tinggal pikirkan nama dan identitas barumu. Aku akan tinggal bersamamu selama di dunia. Tugasku tentu saja untuk mengawasimu."

Gadis manis itu duduk di tepi kasur, ia memegang dagu, nampak berpikir. "Menurut Natsume–san, nama apa yang cocok untukku?"

Natsume menoleh, ia terdiam ikut berpikir. Pemuda cantik itu melihat dari ujung kaki hingga kepala gadis jejadian itu. "Kau cukup cantik ya, Shoyou–kun."

Hinata bergidik lalu menutupi dadanya, pipinya merona. "Ini kan bukan tubuhku malaikat–san!" pekiknya.

"Mata madu dengan rambut sewarna jingga, kulit seputih salju," gumam Natsume, "mungkin nama Hina cocok untukmu, satu kanji berarti matahari."

Hinata berbinar, "itu bagus Natsume–san. Lalu bagaimana dengan marga?"

Natsume menggedikan bahu, "kau pikirkan sendiri."

"Eeh," dengus Hinata, ia tersenyum. "Bagaimana kalau aku pakai marga Natsume juga, kau juga menyamar sebagai manusia, bukan? Aku bisa bilang pada orang-orang kalau kau kakakku."

Natsume tersenyum lebar, "itu bagus juga Shoyou–kun. Dari catatan kematianmu, aku pikir kau bodoh, ternyata kau cukup pintar juga."

"Apa kau bilang?!"

"Kalau begitu, aku akan segera membuatkan identitas barumu dengan nama Natsume Hina, besok aku akan langsung mendaftarkanmu di Karasuno. Kau akan ada di kelas 2 Shoyou–kun, umur pemilik asli tubuh itu ternyata lebih muda setahun darimu."

Hinata mengangguk dan merentangkan tangannya.

"Aku jadi bersemangat!"

Alis Natsume terangkat tinggi, ia menatap sinis Hinata yang memucat. "Kemana semangatmu kemarin?"

Hinata menoleh patah-patah kearah sang malaikat, ia menghela napas. "Aku sungguh harus pakai rok?"

"Tentu saja! Kau itu perempuan. Cepatlah nanti kau terlambat, aku mengaku sebagai walimu jadi aku tidak mau kau berbuat masalah di hari pertamamu ke sekolah."

Hinata mendengus dan memasang rok sepaha itu, ia tatap sang malaikat kemudian tersenyum tipis. "Seperti ini?"

Natsume menatap sosok gadis didepannya lamat-lamat, ia berdecak dan menarik tangan gadis itu dan menuntunnya duduk di kursi meja rias. "Kau itu perempuan, ingat itu! Penampilan itu penting."

Surai jingga yang tadinya kusut di sisir hingga rapi kemudian diikat ponytail, wajah kuyunya di beri riasan tipis oleh malaikat itu. Ia menatap sosok Hinata sekali lagi dan mengangguk puas.

"Sempurna, kau cantik sekali Sh—maksudku, Hina–chan."

Hinata menatap takjub pantulan dirinya di cermin, "andai aku masih hidup mungkin aku akan jatuh cinta pada gadis ini. Tidak kusangka kau hebat merias malaikat–san."

"Sudahlah, cepat pergi sana. Jangan sampai terlambat." Ucap Natsume dan mendorong paksa tubuh gadis itu keluar rumah.

"Aku bahkan belum sara—"

Pintu ditutup.

"pan."

Hinata berdecih, ia pandangi rumah besar di hadapannya. "Malaikat–san, dapat uang darimana untuk menyewa rumah besar ini, dan juga." Gadis itu merogoh saku roknya, matanya berbinar melihat beberapa lembar uang disana. "Dia juga memberiku banyak uang untuk jajan!"

Suasana di Karasuno tidak seramai biasanya. Begitu ia sampai di sekolah, hatinya seketika sesak melihat begitu banyak karangan bunga di sekitar gerbang sekolah untuk menghormati kematiannya.

Ia tidak menyangka kematiannya yang sudah nyaris seminggu itu masih saja menyisakan duka. Jujur, Hinata tidak merasa senang. Ia ingin orang-orang yang ditinggalkannya untuk tetap bahagia bahkan ia lebih berharap tidak ada yang menangisi kematiannya karena bagaimanapun juga ia masih baik-baik saja walau sudah tidak ada di dunia.

Suasana di kelas 2-1 seketika ramai begitu mendengar akan ada murid baru di kelas mereka.

"Laki-laki atau perempuan, ya!"

"Semoga saja perempuan!"

"Kalau cantik aku akan langsung mendekatinya."

Suara pintu digeser membuat suasana kelas yang awalnya ramai langsung senyap seketika. Yoshida sensei masuk dan memberi salam.

"Hari ini kita kedatangan siswa baru. Hina–chan masuklah."

Seluruh pasang mata melebar begitu Hinata masuk ke dalam kelas, para anak laki-laki tertegun dengan pipi merona.

"Kawaiii." batin mereka bersamaan.

Hinata menatap gugup seisi kelas, ia menggaruk tengkuknya kemudian membungkuk. "Natsume Hina desu, aku pindahan dari Tokyo. Yoroshikunegaishimasu."

"Shimasuu!" teriak mereka membuat seluruh gadis termasuk Hinata terlonjak kaget.

Yoshida sensei hanya menatap datar murid-muridnya, ia melirik Hinata sekilas kemudian menghela napas. "Hina–chan, kau duduklah di samping Ryota–kun ya."

Hinata menoleh kemudian mengangguk, ia berjalan menuju bangku kosong di barisan belakang. Ia bergidik, begitu merasakan semua pasang mata mengikuti langkahnya. Hinata memberanikan diri mendongak, ia menatap takut-takut para pria yang menatapnya takjub.

Gadis itu duduk di dekat pemuda glamor dengan bekas tindik telinga, ia kenal pemuda itu. Itu Ryota, dia juga anggota tim voli, posisinya wing spiker. Jujur, Hinata tidak terlalu menyukai sifatnya. Sama seperti Kageyama, anak itu sering sekali mengejeknya pendek.

"Hina–chan cantik sekali ya."

"Eh?" Hinata menoleh, ia merinding begitu melihat tatapan Ryota padanya, tatapan mesum mungkin. Gadis itu memaksakan senyum, "ah terima kasih."

"Boleh aku minta emailmu, Hina–chan."

Cih, apa-apaan sifatnya itu.

Sudut bibir Hinata tertarik, ia menyeringai diam-diam. Ini kesempatan balas dendam atas perlakuan kouhai sialannya itu. Hinata menegakan tubuh, ia mengibas rambut membuat beberapa lelaki yang melihat terpompa jantungnya.

"Gomen, aku tidak punya ponsel." Ucapnya sarkas membuat seakan ada panah imajiner menusuk tepat jantung Ryota.

Ryota tidak menyerah, pemuda itu mencondongkan tubuh jangkungnya kearah Hinata membuat gadis itu risih. "Aku orang kaya lo, mau kubelikan ponsel."

Haah!

Hinata menatap Ryota tidak percaya, alisnya terangkat tinggi. "Maaf tapi aku tidak suka pria jelek sepertimu."

Tiga panah menusuk tepat di jantung. Ryota bungkam dan pundung di kursinya, beberapa teman-teman prianya yang memperhatikan menahan tawa.

Episode kali ini. Penolakan mentah-mentah Namikawa Ryota si ikemen kelas dua.

Jam istirahat berbunyi, meja Hinata seketika dikerumuni para gadis. Membuat pria yang terperangkap di tubuh gadis itu malu-malu, ia menatap sekelilingnya dengan canggung.

"Hina–chan, kau pindahan dari Tokyo ya. Hebat sekali, kenapa pindah jauh-jauh ke Miyagi?" tanya gadis berambut pendek bernama Chika.

Ia seketika memutar otak, mencari alasan yang tepat. "Kakakku bekerja disini, jadi aku ikut dengannya."

"Kau tinggal bersama kakakmu?"

Hinata mengangguk.

"Sudah memutuskan masuk klub apa?" Kini seorang gadis bersurai hitam panjang bernama Aoi angkat suara.

Gadis itu terdiam. Mata sewarna madu itu seketika berbinar, hanya satu klub yang ada di pikirannya. Apalagi kalau bukan voli.

"Aku akan ikut klub voli."

Aoi mengernyit, "kau yakin? Klub voli perempuan sekolah kita tidak sekuat klub laki-lakinya, loh."

Hinata segera menggeleng, "aku tetap akan masuk klub voli. Apa kalian tahu bagaimana caranya aku mendaftar kesana?"

"Serahkan saja padaku Hina–chan!" pekik suara bariton pria, itu suara Ryota. Hinata seketika menatapnya jijik membuat Ryota memasang wajah ingin menangis. "Begitu bencinya kah kau padaku Hina–chan!"

Salahmu karena selalu mengejekku pendek!

Hinata memutar bola mata malas, ia menghela napas dan menatap Ryota, "kau tahu caranya aku bisa mendaftar kesana?"

"Tentu saja!" sahutnya antusias, "manajer kami, Yachi–san, sekarang ikut membantu tim voli perempuan karena mereka tidak punya manajer. Aku bisa meminta Yachi–san untuk memintakan formulir dari kapten mereka."

Ah. Benar juga, seminggu sebelum pertandingan final Yachi memang sempat bercerita kalau ia sedang membantu tim voli perempuan. Walau tim voli perempuan tidak terlalu kuat, ia dengar dari gadis yang sempat menjadi kekasihnya itu kalau tim voli perempuan sekarang sedang masa berkembang.

Di interhigh tahun lalu, tim voli perempuan bahkan berhasil masuk delapan besar.

Satu alis Hinata terangkat tinggi, "baiklah, aku minta besok kau sudah harus memberikan formulir itu padaku." Titahnya.

Ryota membusungkan dada, "serahkan padaku."

Semua anak gadis menatap Hinata takjub membuat yang ditatap mengernyit bingung. "Ada apa?"

"Baru hari pertama masuk, Hina–chan sudah bisa mengendalikan Ryota–kun, ya. Hebat!"

"Ryota–kun itu walau seperti itu, dia disebut sebagai siswa tertampan di seluruh anak kelas dua, loh."

Dia? Entah kenapa seketika Hinata darah tinggi, kenapa semua orang yang menjahatinya justru merupakan siswa populer di sekolah. Kageyama contohnya, pemuda berwajah seram itu selalu mendapat surat cinta dan cokelat lebih banyak darinya saat hari valentine.

Tsukishima masuk peringkat pertama sebagai senpai terkeren sedangkan dirinya hanya berada di peringkat ke enam. Sekedar info, kuso Kageyama berada di peringkat kedua. Entah darimana sisi keren setter berwajah lebih horor dari Sadako bagi para siswi di Karasuno.

Ah benar juga. Hinata baru sadar begitu ia dan teman-teman barunya berjalan bersama ke kantin. Ternyata tubuh gadis yang ia rasuki sekarang juga pendek.

Sepertinya sebutan chibi itu tidak akan lepas darinya walau sudah berpindah tubuh.

Bersambung..