"Hina–chaaan!"

Hinata berjengit begitu ia duduk di bangkunya, ia menoleh kearah Ryota yang berlari kearahnya. Pemuda itu tersenyum lebar dan memberikan selembar kertas yang membuat biner Hinata berbinar begitu melihatnya.

"Kau sudah mendapatkannya?"

Ryota mengangguk, "mudah sekali!"

Hinata tersenyum dan mengeluarkan penanya untuk mengisi formulir klub tersebut, Ryota menarik kursi dan duduk di seberang gadis itu. Hinata lagi menatapnya sinis.

"Kenapa kau duduk di sini?"

"Ayolah jangan dingin padaku Hina–chan," rengeknya, ia kembali memperhatikan kertas formulir yang diisi Hinata, "eeh, Hina–chan bermain voli sejak SMP, ya."

Hinata hanya mengangguk.

"Hina–chan suka sekali dengan voli?"

Yang ditanya mendongak, ekspresi sinisnya berubah antusias. "Sangat!"

"Aku ini kapten tim voli pria kita, loh!" sahutnya bangga sambil menunjuk dirinya sendiri.

Hinata terdiam, "jadiKageyama sudah mengundurkan diri," gumamnya.

"Eh! Hina–chan kenal Kageyama senpai?!"

Gawat!

Reflek Hinata membungkam mulutnya sendiri, sedangkan pemuda didepannya menatapnya seakan minta penjelasan. Hinata tertawa canggung sambil memikirkan alasan. Ryota tertawa lalu menepuk pelan pundak gadis didepannya.

"Tentu saja Hina–chan kenal ya, dia kan sangat terkenal. Bahkan seluruh penggemar voli di Jepang juga pasti mengenalnya, dia dan Hinata senpai kan sudah menjadi kandidat tim nasional Jepang."

Hinata seketika menghela napas lega, "Syukurlah dia tipe pria berpemikiran pendek," batinnya.

"Tapi aku dengar Kageyama senpai mau mengundurkan diri dari tim nasional." Sambung pemuda itu seketika membuat mata sewarna madu melebar.

"Kenapa?" tanya Hinata lirih.

Ryota hanya menggedikan bahu, "aku tidak tahu pasti alasannya, tapi semenjak Hinata senpai meninggal dunia, dia jadi agak aneh. Dia jadi sering bolos klub. Memang sih dia sudah tidak punya kewajiban lagi mengingat Kageyama senpai juga sudah kelas tiga. Tapi, entah kenapa aku merasa," Ryota memberi jeda. "Kageyama senpai seperti tidak bersemangat lagi bermain voli."

Hinata tercekat, iris madunya seketika bergerak gelisah. "A-apa menurutmu ini ada hubungannya dengan meninggalnya Hinata?"

Mata Ryota melebar, ia menatap Hina–chan dan mengangguk, "Hina–chan juga berpikir seperti itu?!"

Gadis itu mengalihkan pandangan, "aku hanya dengar mereka selalu bekerja sama."

"Aku juga berpikir ini ada hubungannya dengan meninggalnya Hinata senpai. Ini hanya perasaanku saja, namun sepertinya Kageyama senpai merasa kesepian semenjak kepergian partnernya." Ryota mengusap dagunya, "apa mungkin karena tidak ada pemain lain yang bisa memukul umpan cepatnya selain Hinata–senpai makanya dia jadi kesepian."

Hinata tertegun, ia menunduk. Jemari lentiknya meremas permukaan rok, ini memang bukan salahnya. Namun, bila yang dikatakan Ryota benar. Ia tidak bisa merasa tidak bersalah. Apapun yang telah menimpa dirinya. Hinata selalu berharap Kageyama bisa bermain voli dengan semangat seperti biasa.

"Arigato Ryota."

Ryota menoleh dan memasang wajah bingung, "Untuk apa? Formulirnya?"

Bibir ranum gadis itu mengulas senyum membuat Ryota terpesona, "kau cukup asik diajak bicara ternyata."

Biner cokelat terang Ryota berbinar hingga hampir menitikan air mata, "akhirnya Hina–chan tidak menatapku dengan tatapan dinginnya lagi!"

Hinata hanya tertawa.

"Kalau begitu minta email—"

"Tidak mau."

Kageyama menatap kosong net didepannya, ia meraih bola dari keranjang dan melakukan jump serve, namun meleset, tidak melalui jaring justru menabrak net. Tsukishima yang melihat itu membuang napas kasar.

"Sepuluh serve, enam mulus, satu out dan tiga kali menabrak jaring. Mana Kageyama Tobio yang si pemilik serve mematikan?" sindir pria berkacamata itu membuat Kageyama berdecih, "aku tahu kau terpukul, tapi Hinata juga pasti tidak akan senang kau terlalu meratapi kepergiannya."

"Berisik," gumamnya.

"Mau seberapa banyak kau berdoa agar partnermu itu kembali, orang mati tetaplah akan mati ou–sama."

"Berisik," rahang Kageyama mengeras.

"Meninggalkan timnas hanya karena ditinggal partnermu pergi. Kau terlalu bergantung padanya!"

"BERISIK!" bentak Kageyama dan menarik kerah seragam Tsukishima, iris blueberry itu menatap tajam lawan bicaranya, "andai saja.."

Tsukishima mengernyit.

"Andai aku tidak mengajaknya bertaruh malam itu, dia pasti masih ada disini." Pria raven melepaskan cengkramannya pada kerah Tsukishima, ia mengalihkan wajah, berusaha menutupi matanya yang mulai berair. "Andai saja, aku tidak menang saat lomba itu, dia pasti masih hidup."

Tsukishima dan Yamagunchi tercekat.

"Itu bukan salahmu Kageyama," timpal Yamaguchi.

"Aku tahu!" bentaknya kalut, "tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku menyesal! Aku ingin meminta maaf tapi tidak tahu untuk siapa. Bocah itu sudah pergi. Semuanya sudah terlambat."

Dua temannya itu menatap Kageyama dengan tatapan sulit diartikan. Pria raven yang kokoh dengan pendirian dan harga diri itu kini begitu rapuh. Kehilangan sosok partner sejati membuatnya bisa jatuh sejauh itu.

Yachi melihat mereka dari jauh, netranya meredup dengan air menggenang dipelupuk mata. Kepala gadis itu tertoleh pada karangan bunga di sudut ruangan. Ia ingin menangis, cukup mantan kekasihnya yang kini pergi. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi jika teman-temannya ikut teberai karena tragedi pahit ini.

Pintu gedung olahraga terbuka, Yachi dan Kageyama segera mengusap air mata mereka. Para kouhai datang, jam klub voli sudah akan dimulai.

"Senpai kelas tiga datang ternyata! Ayo bertanding," pekik Ryota dan disetujui teman-temannya.

Kageyama menghela napas dan mengangguk, "ayo bertanding."

Sejenak Yachi merasa lega Kageyama menerima permintaan para kouhainya, ia berharap sahabatnya itu bisa sedikit demi sedikit bangkit. Yamaguchi ikut tersenyum, ia menepuk tangan dan memberi perintah agar para anggota klub lekas berganti pakaian.

Pertandingan enam set, tidak ada satupun set yang dimenangkan para kouhai. Kageyama tidak terlalu bermain bagus, namun permainannya tetap saja mengerikan.

Ryota duduk di pinggir lapangan dan menandaskan habis isi botol minumnya, "Walau tidak ada Hinata–senpai, mereka tetap saja mengerikan, ya."

Hiroshi, siswa kelas 2-3 mengangguk, "benar sekali. Kageyama senpai seperti biasa tidak berbelas kasihan sama sekali. Ah benar juga! Ryota kudengar di kelasmu ada siswi baru yang sangat cantik."

Seketika para anggota klub voli kelas satu dan dua yang tertarik dengan pembicaraan siswi baru super cantik berkerumun di dekat sang kapten baru untuk meminta penjelasan.

Ryota menyeringai, "dia duduk disampingku, loh," ucapnya membanggakan diri membuat para kouhai kelas satu mendesah iri.

Kageyama yang sedang berkutat dengan sticky notes berisi rumus matematika untuk persiapan ujian minggu depan itu menoleh begitu mendengar keributan para juniornya.

"Dia cantiiik sekali! Tubuhnya mungil, kulitnya seputih salju, rambutnya berwarna jingga dan matanya itu," Ryota memberi jeda membuat teman-temannya menelan ludah, "berwarna madu, benar-benar indah," sambungnya mengepalkan tangan melankolis.

Kageyama yang tidak sengaja mendengar ucapan Ryota memiringkan kepala.

"Seperti ciri-ciri orang yang kukenal."

Bersambung..