Suara dencit rantai terdengar seiring ayunan nyaris bobrok itu terayun. Matahari sudah terbenam belasan menit lalu, meninggalkan langit gelap dengan taburan bintang.

Hinata memakan lahap es krim rasa stroberinya, ia menoleh ke samping dan melihat pemuda raven itu memakan es krim vanilla dengan pandangan menerawang kosong. Dia melamun.

"Aku satu kelas dengan Ryota," ucap Hinata memulai pembicaraan, tidak tahan dengan suasana sepi sekaligus canggung ini.

"Hm."

"Dia bilang sekarang dia kapten klub voli Karasuno, aku pikir itu hebat. Klub laki-laki kita kan sangat kuat."

"Hm."

Hinata melirik sekilas Kageyama yang masih menatap kosong kedepan, ia membuka mulut, "aku dengar," jeda sejenak, "kau keluar dari timnas. Apa itu benar?"

Manik sewarna blueberry melebar, seakan pertanyaan Hinata barusan berhasil meraih seluruh atensinya. Ia menoleh sekilas kemudian membuang napas. "Aku belum memutuskan."

"Apa gara-gara Hinata Shoyou?"

Kageyama berdecih, "jangan sebut nama itu," desisnya, Hinata menoleh kesamping, ia menatap getir partnernya. Kageyama menunduk dengan bahu bergetar, "dia hanya orang bodoh yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri."

"Hinata akan sedih jika kau keluar dari timnas karenanya." Hinata meremas rok seragamnya, ia tidak tahu kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak, namun raut sedih sang partner membuat hatinya sakit.

"Berisik!" bentak Kageyama kalut, ia biarkan es krim vanila di tangannya meleleh karena tidak tersentuh, "kau tidak tahu apa-apa. Jangan berani mengungkit tentang boke itu didepanku."

"Aku tahu."

"Tidak! Kau tidak tahu apa-apa, diamlah orang asing!"

Hinata menggigit bibir, "aku bukan orang asing, aku Hinata, Hinata Shoyou!" batinnya menjerit.

Kageyama mendongak menatap langit, "andai saja saat itu aku tidak menerima tantangan duelnya, mungkin ia masih disini."

Tubuh gadis itu tersentak, ia menatap Kageyama lamat-lamat.

Tidak. Jangan salahkan dirimu sendiri.

"Andai dia tidak pergi ke luar untuk membelikanku es krim vanilla, mungkin dia tidak akan mati."

Hentikan! Itu bukan salahmu.

"Dia mati karena aku. Aku berusaha tidak memikirkannya tapi tetap saja, aku menyesal!" Kageyama mengacak rambutnya frustasi, "aku bodoh!"

Aku mati karena kesalahanku sendiri.

Desir angin membelai surai jingganya, di malam yang sunyi ini, Hinata bisa mendengar isak tertahan dari sang partner. Pedih rasanya, ia tidak ingin Kageyama menyalahkan dirinya sendiri. Sekejap, pemuda yang merangkap di tubuh wanita itu membulatkan tujuan utamanya berada di dunia ini.

Ada hal yang lebih penting dibanding janji bodohnya di masa lalu.

Ia ingin membuat Kageyama kembali mencintai voli.

Kageyama bangkit dari duduknya, Hinata sontak ikut berdiri dan menahan lengan pemuda itu.

"Lepaskan," titah raja lapangan tanpa mengalihkan wajah dari langit, Hinata tahu pemuda itu sedang berusaha menutupi mata sembabnya. "Aku bilang lepaskan boke."

"Tidak mau."

"Hah?!"

Hinata menarik lembut lengan Kageyama hingga posisi mereka berhadapan, "aku memang orang asing, tapi aku sedikit paham apa yang kau rasakan."

Alis Kageyama terangkat.

"Menurutmu, apa Hinata Shoyou akan senang jika kau keluar dari timnas?"

Sepasang manik gelap itu melebar.

"Jika jawabanmu 'iya' maka aku tidak akan menahanmu lagi, tapi aku pikir. Hinata pasti menangis sedih jika tahu partner kebanggaannya berhenti bermain voli karena dirinya. Hinata pasti berpikir kau adalah seorang yang menakjubkan dan luar biasa, maka dari itu kalian bisa bersama."

["Kageyama! Kau memang hebat!"]

["Aku tidak akan bisa sampai disini jika tanpa tossmu, arigatou Kageyama!"

["Jangan berhenti, Kageyama!"]

Kageyama menggigit bibir, kenangan bersama sang partner terputar di otak. "Tidak akan," bisiknya lirih. Pemuda itu terhisak pelan, "dia tidak akan senang."

Seulas senyum terukir, Hinata mendekat dan perlahan memeluk tubuh pemuda jangkung itu, gadis itu menghela napas lega dan membenamkan wajah didada sang mantan partner.

"Syukurlah."

Pertahanan pemuda itu seketika hancur begitu sosok gadis senja memeluknya erat, seakan memberi insyarat agar ia membagi lukanya. Tangan pemuda itu terangkat, perlahan melingkar di pinggang sang gadis.

Kageyama tidak tahu apa yang merasukinya namun aoma apel dari rambut jingga itu begitu memabukkan. Kageyama membenamkan wajahnya di tengkuk sang gadis, kemudian menyembunyikan tangisnya disana. Hinata menepuk pelan punggung Kageyama yang bergetar, sungguh sedih rasanya melihat sisi rapuh partnernya itu.

"Padahal kau bukan siapa-siapa."

Hinata membeku.

"Tapi kenapa aku merasa begitu dekat denganmu," bisiknya rendah.

Gadis itu menggigit bibir, ia mengeratkan pelukannya pada Kageyama, Hinata ingin berteriak, mengatakan yang sebenarnya, mengatakan siapa dirinya. Tapi jika ia melakukan itu, ia akan semakin berpisah dengan Kageyama.

Dan ia tidak mau itu terjadi.

Ryota menyeret tungkainya, pemuda itu nyaris limbung. Pelatih Ukai memberi porsi latihan neraka untuk anggota klub voli mengingat beberapa bulan lagi mereka akan memasuki pertandingan musim semi.

Tenggorokannya kering, rasanya ia ingin meminum minuman dingin sebentar, mata cokelatnya menangkap toserba kecil di ujung jalan. Pemuda itu tersenyum, memuji keberuntungannya sendiri.

Ia berjalan ringan menuju toserba, namun sosok sepasang insan di taman memaksa kakinya berhenti melangkah. Pemuda itu membeku ditempat, dadanya sesak dan kepalanya seketika berdenyut.

"Itu Hina–chan bersama seorang pria."

Belum cukup keterkejutan Ryouta, pemuda itu seketika lupa bernapas begitu melihat sosok pria yang tengah memeluk gadis yang mulai ia sukai itu.

"Kageyama–senpai."

Wajah Ryouta pucat, pemuda itu duduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut. Yamaguchi yang tumben-tumbenan melihat kouhainya murung itu berjalan mendekat.

"Kau sakit Ryouta?"

Yang ditanya mendongak, ia hanya tersenyum kikuk, "mungkin bisa dibilang patah hati."

Yamaguchi meringis mendengarnya, pria dengan bintik wajah itu duduk disamping kouhainya, "anak baru yang kau taksir sudah punya kekasih?"

Ryouta menggedikan bahu, "aku tidak tahu." Ia menoleh kearah Yamaguchi dengan, "senpai, menurutmu apa Kageyama–senpai sedang berkencan?"

"Kageyama yang mana?"

Ryouta mengerucutkan bibirnya kesal, "hanya ada satu Kageyama di Karasuno senpai."

"Oh." Kini giliran Yamaguchi yang melongo, "kenapa kau jadi berpikirkan seperti itu?"

"Hanya saja.." iris cokelat Ryouta bergerak gelisah, ia menggeser tubuh mendekat dan mendekatkan mulutnya ke telinga senpainya itu, Yamaguchi menyodorkan telinganya, "kemarin aku melihat Kageyama–senpai berpelukan gadis yang kusukai."

Wajah Yamaguchi seketika memucat, "kau yakin tidak salah lihat?"

Ryouta menggeleng mantap, "aku yakin, makanya aku bilang sedang patah hati."

"Uso!" jerit Yamaguchi dan diam-diam memandang horor punggung Kageyama yang sedang mentoss bola. "Jangankan bicara berkencan, aku bahkan belum pernah mendengar Kageyama membicarakan perempuan."

"Setuju!" balas Ryouta, "aku bahkan sampai tidak terkejut saat ada yang bilang Kageyama senpai seorang gay."

"Aku bahkan sempat mengira Kageyama menyukai Hinata," sahut Yamaguchi, "ini agak mengejutkan, tapi tetap saja aku masih belum yakin. Kau tidak bertanya pada gadis itu?"

Tidak, Ryouta menggeleng. Pemuda itu tidak sanggup, "aku takut untuk menanyakannya."

Yamaguchi memasang senyum semanis mungkin dan menepuk pelan pundak sang kouhai, "bersabarlah."

Bersambung...

Untuk karakter Ryouta, aku ambil wajah Kise Ryouta dari KnB yah, alasannya karna wataknya emang bego bego jago gitu :v
Ini ff jadi udah kayak gado-gado, crossover bertebaran 😂😂😂