Sudah hampir sembilan belas tahun ia hidup dan baru kali ini Kageyama memiliki ketertarikan pada wanita. Pemuda itu menatap langit-langit kamarnya, tangannya sesekali memantulkan bola voli keatas.

Aroma apel dari rambutnya masih membekas di ingatan Kageyama, mata sewarna madu berpadu wajah manis dan bibir semerah cherry seakan lagi-lagi menambah pesona gadis itu.

Tanpa pemuda itu sadari, bibirnya kini meliuk. Ia mengulum senyum dengan pipi sedikit merona, ia masih ingat betapa hangatnya pelukan dari tubuh mungilnya. Begitu nyaman hingga membuat jantung pemuda itu berdetak lebih kencang.

Oikawa san pernah bilang, jika jantung kita berdetak cepat hanya saat melihat pesona seseorang, maka itu artinya jatuh cinta. Kageyama sempat merasakan hal yang sama saat bersama Hinata dulu, namun hatinya mati-matian menyangkal karena Hinata seorang laki-laki, ia beranggapan mungkin itu hanya perasaan yang timbul karena merasa Hinata adalah sahabatnya.

Namun kini entah kenapa pemuda itu tidak menyangkal. Hatinya bulat menyatakan kalau ia jatuh cinta pada sosok gadis senja. Ia tidak ingin kehilangan sosok yang dicintainya dua kali, maka dalam lubuk hati yang paling dalam ia merasa benar-benar harus mendapatkan gadis itu.

Gadis bersurai senja itu menghentak-hentak kakinya kesal, ia berjalan menuju rumah dengan wajah cemberut. Pekerjaan rumah dari Yoshida sensei belum ia kerjakan namun si malaikat penjaganya justru menyuruhnya untuk berbelanja.

"Padahal dia terlihat menganggur," desis Hinata tidak suka.

"Nona, aku lapar, tolong beri aku makan."

Gadis itu menoleh begitu mendengar suara berat itu, matanya terkunci pada sosok kakek yang duduk di tepi ruko. Pakaiannya kotor dan bolong-bolong, seketika muncul rasa simpati di benak Hinata.

Ia melangkah mendekat dan duduk didepan sang kakek, "kakek lapar?"

Pria tua itu mengangguk, "sudah lama aku tidak makan nona."

"Memang kakek tidak punya keluarga?" diliriknya kantung belanjaan yang sedari tadi ia jinjing, gadis itu merogoh isinya mencari kantung kertas berisi beberapa bakpao daging. "Apa kakek tidak kena marah tidur di depan ruko ini? Seharusnya kakek tidur di kuil saja."

Hinata mengambil satu bakpao daging dari kantung kertas dan memberikannya pada sosok pria tua itu, "makanlah, maaf karena aku tidak bisa memberi banyak kek."

"Nona! Sedang apa kau disitu?"

Hinata menoleh ke belakang, alisnya terangkat melihat seorang petugas keamanan menghampirinya. "Bukankah sudah jelas. Tentu saja memberi kakek ini makan," sahutnya membuat petugas itu mengernyit heran.

"Kakek? Kakek yang mana?"

Kini giliran Hinata yang melongo, "tentu saja kakek ini," tunjuk Hinata pada pria tua yang tengah asik memakan bakpao daging itu.

"Nona, tidak ada siapa-siapa disekitar sini," tandas petugas itu membuat Hinata mendengus.

"Jelas-jelas ada kakek tua disini, apa mata paman itu buta?" balas Hinata kesal.

Petugas tadi hanya menggelengkan kepala, ia menatap Hinata dengan tatapan, prihatin? "Kau pasti punya banyak masalah di rumah ya, kasihan sekali sampai berhalusinasi begitu," ucap petugas itu lalu pergi.

"Tidak ada siapa-siapa? Bukankah jelas-jelas." Seketika tubuh gadis itu gemetaran, keringan dingin menetes dari keningnya, ia menoleh patah-patah ke kebelakang, kakinya seketika lemas. Pria tua itu mendongak, mata kakek itu berubah merah, perlahan wajah yang tadinya mulus berubah buruk rupa.

"Jangan-jangan kakek.."

Hinata menatap horor, "h-hantuu!" teriaknya dan berlari kabur.

"Malaikat–san!" teriak Hinata begitu tiba di rumah, gadis itu berlari dan memeluk tubuh pemuda padi itu, matanya sembab dan tubuhnya gemetaran. "Tadi, aku bertemu hantu malaikat–san!" pekiknya lalu terhisak.

Yang dipeluk hanya menatap gadis itu datar, "yah kau akan sering melihat mereka nantinya."

Tubuh gadis itu tersentak, ia menatap nyalang pemuda didepannya, "apa maksudnya?"

Natsume tersenyum simpul, "tentu saja orang yang sudah mati akan sering bertemu yang sudah mati juga, kan?"

"Hah?" Hinata melongo.

"Tenang saja," pemuda itu tertawa dan mengibas-ngibaskan tangan di udara, "kau tidak akan bertemu mereka sesering itu. Lagipula mereka itu tidak ada yang jahat. Tidak semua maksudku."

"Kau tidak pernah memberitahuku tentang ini sebelumnya malaikat–san!" rengek Hinata mengacak rambut.

Natsume mengedikkan bahu, "kau tidak bertanya."

"Tolong lakukan apapun, aku sangat takut hantu Natsume–san!"

Pemuda bersurai padi itu terdiam, ia memegang dagu tanpa sedang berpikir, "akan kucarikan jimat untukmu besok. Tenang saja."

Hinata menghela napas lega sejenak, "syukurlah."

"Ekhem!"

Deheman keras membuat tubuhnya nyaris terlonjak, ia mendongak. Natsume menatapnya datar lalu menunjuk tangan Hinata yang masih menggandeng lengan pemuda itu. Gadis itu meringis, ia memasang senyum semanis mungkin.

"Boleh aku tidur denganmu malam ini malaikat–san?"

"Tidak mau."

Hinata sesekali menguap, ia benar-benar kesulitan tidur malam tadi. Malaikat berwajah manis namun berdarah dingin itu tidak memperbolehkannya untuk tidur bersama. Alhasil, ia baru bisa tidur pukul tiga dini hari karena ketakutan.

"Hina–chan daijobu?"

Ia menoleh dan memandang Ryouta yang baru saja tiba. "Daijobu," balasnya dingin.

Ryouta menarik kursi dan duduk disamping Hinata, pemuda itu memandang gadis didepannya lamat-lamat membuat Hinata merasa risih. "Matamu merah, apa kau kesulitan tidur?"

Tepat sasaran, gadis itu seketika membuang napas kasar, "aku bergadang mengerjakan PR," balasnya tentu saja bohong. Mana mungkin ia akan mengaku kalau dirinya tidak bisa tidur karena takut hantu. Ia tidak ingin menjadi bahan ejekan oleh kouhai sialan itu lagi.

"Hmm," Ryouta menggumam mengerti, manik cokelat terangnya melebar begitu otaknya teringat kembali kejadian dua hari lalu. Pemuda itu sebenarnya enggan untuk bertanya perihal hubungan Hina dengan sang senpai, ia takut jawaban gadis senja itu akan menyakiti hatinya. Namun di sisi lain, ia sangat ingin tahu.

"Hina–chan?"

Hinata menoleh, alisnya terangkat tinggi, "nani?"

Ryouta menatap gadis didepannya ragu-ragu, ia menggigit bibir kemudian membuang napas, "apa kau sudah punya kekasih?" tanya pemuda itu akhirnya.

Gadis itu terdiam kemudian memasang wajah jijik, "Kalau kau mau menyatakan cinta padaku, maaf maka jawabanku tidak!"

JLEB

Penolakan sebelum pernyataan. Ryouta memegang dadanya yang sakit seakan tertusuk ribuan pedang, "jawab saja Hina–chan!" desisnya kesal.

"Aku tidak punya kekasih."

Ryouta tersentak, biner cokelat terang itu melebar, ia menatap gadis didepannya dengan tatapan tidak percaya, "kau tidak punya?"

Hinata menggeleng polos, "memang apa yang membuatmu berpikir aku punya pacar. Aku bahkan belum genap sebulan pindah kesini."

Pemuda glamor itu mengangguk mengerti, dari wajahnya, gadis itu tidak terlihat berbohong. Ryouta memutar otak, bayangan kemesraan Hina dan Kageyama di taman itu masih melekat di ingatannya.

"Tapi kenapa saat itu mereka terlihat begitu dekat," batin Ryouta.

"Tapi aku tetap tak mau jadi kekasihmu, kau mengerti?!" balas Hinata lagi membuat Ryouta mengusap air mata imajiner.

"Hina–chan hidooi!"

Bersambung..