Hinata berjalan gontai menuju lokernya, latihan voli hari ini cukup berat, pelatih menyuruh mereka melakukan serve seratus kali dan receive berjam-jam, sungguh baru kali ini ia merasa benar-benar lelah. Ternyata stamina dari tubuh laki-lakinya tidak berpindah ke tubuh ini.

Gadis itu melirik bagian bawahnya datar, "tubuh ini berat." Sejenak ia merasa kagum pada para teman-teman se-klubnya yang biasa membawa dua tonjolan dada itu walau berlari dan melompat kemana-mana.

Tidak disangka. Gadis itu langsung dimasukan ke jajaran tim inti walau baru seminggu latihan. Tidak aneh memang, walau terperangkap di tubuh wanita, dia tetaplah seorang Hinata Shoyou. Pelatih bahkan menyebut kemampuannya cukup bersanding dengan spiker kelas atas dari Shiratorizawa.

Ia bersyukur, walau staminanya terbatas, namun kemampuan dan refleknya masih sebagus saat menjadi pria.

Gadis itu melepas uwabakinya dan membuka loker. Matanya melihat dua kotak susu yang diselipkan di lubang sepatu. Hinata meraih satu kotak susu, menatap heran benda itu.

"Kalau tidak salah ini susu favorit kuso Kageyama."

Tubuhnya merinding begitu merasakan eksistensi lain di sekitarnya, Hinata merapal doa dalam hati berharap kali ini bukan hantu lagi, gadis itu menoleh patah-patah ke samping.

Mata caramel bertemu tatap dengan iris blueberry. Hinata terkejut begitu pula Kageyama yang ketahuan sedang mengintipnya dibalik lemari loker.

"Kageyama! Apa yang kau lakukan?! Kau membuatku terkejut, kupikir kau hantu," celoteh gadis itu lalu mengusap dadanya.

"Boke teme! Kau sebut aku hantu?!"

"Ya!" sahut gadis itu tidak mau kalah, "lagipula kenapa kau bersembunyi disitu?"

Kageyama mengalihkan wajah dengan bibir mengerucut.

"Jangan-jangan susu kotak ini, kau—"

Belum selesai Hinata berbicara, pemuda raven itu sudah membekap mulutnya, "berisik! Kalau kau tidak mau buang saja apa susahnya?!"

Hinata melepas paksa telapak tangan Kageyama dari mulutnya, ia menggembungkan pipi kesal, "aku kan tidak bilang mau menolaknya Bakageyama!"

Kageyama mengerling, "gomen," ucapnya dengan pipi merona.

Biner madu membulat, apa-apaan eksresinya. Ia tidak pernah menyangka Kageyama si setter jenius, raja lapangan atau apalah julukannya itu bisa malu-malu didepan seorang gadis.

"Kawaii," batin gadis itu.

"Terima kasih untuk malam itu. Berkat kau, aku jadi sedikit lebih tenang."

Hinata mendongak, menatap lamat-lamat wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya itu, matanya seketika berbinar, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Tidak perlu berterima kasih," Hinata meraih sekotak susu lagi dari lokernya lalu memberikannya ke Kageyama. "Untukmu."

"Tapi ini kan—"

"Aku tidak bisa menghabiskan keduanya, bantu aku."

Kageyama tidak menjawab. Ia mengambil sekotak susu dari tangan Hinata dan menusuk sedotan. Gadis didepannya cekikikan lalu menarik tangan Kageyama keluar gedung sekolah.

"Ayo pulang bersama Kageyama!" Ajak Hinata dengan tawa lebar.

Kageyama tidak melawan, ia membiarkan gadis didepannya menyeret lengannya. Senyum si gadis senja membuat dadanya menghangat, Kageyama menatap surai jingga yang terkibar angin itu lekat.

"Cantik."

Suara berat mengudara, langkah Hinata seketika terhenti. Gadis itu memutar tubuh, menatap Kageyama dengan kening berderut, "kau bilang sesuatu?"

Yang ditanya mengatupkan bibir dan membuang wajah.

"Kau bilang sesuatu?" Ulangnya.

"Tidak ada," mantan partnernya gelapan, ia mengerucutkan bibir. "Kau pasti salah dengar, mana mungkin aku bilang cantik padamu boke!"

Jujur sekali!

Hinata melongo, keduanya seketika membeku, Kageyama membungkam mulutnya begitu menyadari dirinya keceplosan.

"M–maksudku langitnya! Bukan kau, aku bilang langitnya cantik!" Sesaat kemudian dia pun merajuk, "Ahh sudahlah! Aku mau pergi membeli sepatu!" Katanya lalu berlari pergi meninggalkan Hinata yang terbengong-bengong tidak mengerti.

"Apa dia malu? Astaga imut sekali," batinnya.

"Tadaimaa.."

Aroma sedap sup miso menguar di udara begitu ia melangkah masuk rumah, perutnya bergerumuh minta disini. Gadis itu berjalan menuju dapur dan mendapati malaikat penjaganya tengah sibuk mengaduk sup di panci.

"Malam ini sup miso?!" tanyanya dengan wajah berbinar.

Natsume menoleh sekilas, dari wajahnya nampak jelas kalau pemuda cantik itu baru menyadari Hinata sudah datang. Dia tersenyum dan mengangguk. "Malam ini agak dingin, jadi aku memasak sup."

"Kubantu!" Hinata berjalan menuju rak piring lalu mengambil beberapa mangkuk porselen dan sumpit. Gadis itu membuka rice cooker dan memasukan nasi ke mangkuk.

"Shoyou–kun, buat nasinya di tiga mangkuk, ya."

"Untuk siapa satunya?" tanya Hinata.

"Asistenku akan datang, dia suka mengamuk jika tidak diberi makan."

Hinata bergumam mengerti lalu mengambil satu mangkuk lagi, "aku baru tahu malaikat juga butuh asisten."

"Oh ya, jimat yang kau minta sudah kudapatkan."

"Sungguh!" pekik Hinata girang seketika.

Natsume mengangguk.

Wajah gadis senja seketika bersemu merah bahagia, ia segera berlari dan melompat kearah Natsume, ia peluk tubuh ringkih pria didepannya erat. "Arigatou Malaikat–san!"

Sedang yang dipeluk terbatuk kesulitan bernapas, "Shoyou lepas..kan."

"Ups," gadis itu menjauhkan tubuh dan tertawa sumbang. "Kelepasan."

Gadis senja mengadahkan tangan dengan tatapan berbinar menunggu jimat yang dijanjikan malaikat itu padanya. Natsume membuang napas lalu mematikan kompor, ia berjalan ke lemari pendek dan membuka salah satu raknya.

Pemuda itu mendekati Hinata dan menaruh sebuah liontin putih dengan mata kalung menyerupai kucing, gadis itu menatap takjub sejenak, "bagus sekali, ini sungguh jimat?"

"Hm," gumam Natsume sebagai jawaban, "jangan sampai hilang, mengerti?"

Gadis senja mengangguk menurut, ia pasang kalung liontin putih itu di leher putihnya. Jendela tiba-tiba terbuka lalu muncul makhluk bulat menyerupai rakun disana. Hinata reflek memeluk lengan Natsume.

"Apa kalungnya tidak berfungsi?" bisik Hinata takut-takut, "kenapa aku masih bisa melihat youkai cosplay doraemon disini?"

"Apa kau bilang gadis kecil?!" pekik mahkluk bulat itu membuat Hinata berjengit terkejut.

"Dia bicara!"

Natsume mengusap lengan Hinata mencoba menenangkan, pemuda itu berjalan mendekat kearah makhluk bulat disana dan menggendongnya untuk masuk ke rumah. "Kau lama juga sensei."

"Sensei?" tanya Hinata bingung.

"Dia asisten yang tadi kubilang mau datang."

"Asisten?" Hinata mengalihkan pandangannya kearah makhluk bulat itu, "rakun jelek ini asistenmu?" tanyanya lagi, ragu.

"Nandato! Aku bukan rakun, panggil aku nyanko sensei!"

"Tidak kusangka malaikat sepertimu juga membutuhkan asisten," gumam Hinata mengabaikan celotehan sensei didepannya.

Natsume tersenyum lalu menuangkan sup miso ke mangkuk, "aku sebenarnya seorang shinki salah satu dewa hutan, Houdzuki gami. Selain pada dewa, aku juga bekerja untuk surga membantu menuntun jiwa yang sudah meninggal." Iris sewarna zambrud melirik kearah kucing calico yang sibuk menyantap makanannya, "nyanko sensei dulunya mantan pelayan Houdzuki gami yang kini akhirnya menjadi pengawal sekaligus asistenku."

Hinata mengangguk mengerti, "kau cukup sibuk ya malaikat–san."

Pria padi tertawa kecil, "begitulah."

"Ah benar juga!" Mata Hinata melebar, "malaikat–san di dunia ini bekerja? Kau dapat uang dari mana memberiku uang saku dan rumah ini?"

Natsume terkekeh, "uang itu aku dapatkan dari para dewa, dan para dewa mendapatkan uang itu dari persembahan manusia saat berdoa di kuil. Malaikat juga digaji besar loh." Pemuda cantik itu tertawa sumbang, "begini-begini aku cukup kaya karena bekerja untuk surga."

Hinata manggut-manggut mengerti, "tidak kusangka ada sistem mata uang di surga?"

"Kami memakai emas di surga."

"Emas!" pekik Hinata terkejut, "wah Natsume–san pasti kaya raya, kau bisa membeli apapun di dunia dengan emas."

Pemuda cantik tersenyum dan menggeleng pelan, "kami para malaikat atau shinki tidak diperkenankan memiliki hawa nafsu. Mau sebanyak apapun uang yang kupunya, aku tidak punya keinginan untuk menghambur-hamburkannya. Maka dari itu aku senang akhirnya bisa memakai uangku untuk Shoyou–kun."

Hinata tertegun sejenak melihat senyum sang pemuda padi, rona tipis menghiasi pipi sang gadis senja. Ia ikut tersenyum. "Arigatou malaikat–san."

Bersambung...