Dua tahun sudah aku keluar dari kehidupan SMA. Kesepian, sedikit. Aku cukup menikmati kehidupan sebagai seorang mahasiswa, namun tetap saja kenangan bersama teman-temanku semasa SMA tidak bisa digantikan begitu saja.

Bermain voli dan menjalin hubungan rival yang sehat dengan junior jenius sekaligus menyebalkan. Terdengar tidak harmonis, namun justru itulah salah satu sumber warna dari kehidupanku masa SMA.

Saat aku di Tokyo, aku dengar Karasuno akhirnya berhasil memenangkan kejuaraan interhigh, mengalahkan sekolah unggulan Itachiyama gakuen. Ah. Para gagak itu terus saja terbang tinggi. Mereka benar-benar mendominasi kejuaraan sekarang. Dua tahun memenangkan pertandingan musim semi lalu satu kali memenangkan kejuaraan interhigh.

Setidaknya kehebatan mereka membuat kami yang pernah kalah dari mereka terlihat sedikit keren. Namun, Tuhan punya kuasa memutar balikkan takdir. Baru beberapa jam berita tentang kemenangan mereka atas kejuaraan Interhigh, berita buruk menyusul. Salah satu penyerang terkuat Karasuno sekaligus partner sang jenius meninggal dunia.

Aku sempat merinding. Aku mengenal chibi–chan, dia pria kaku dan hebat namun tidak salah lagi dia seorang yang baik hati. Aku dengar dia ditabrak sebuah truk besar saat perayaan kemenangan dan meninggal dunia karena kehabisan darah dan gagar otak berat.

Tidak ada yang menyangka. Pemuda secerah matahari dengan segenap stamina yang besar itu justru berumur paling pendek dibanding kita semua. Aku membenci Tobio–chan, tapi aku juga prihatin padanya.

Dibanding semua orang di klub voli Karasuno. Pasti dialah yang paling terpukul atas kepergian partnernya.

Aku harap dia menemukan kembali cahayanya.

Notebooks berwarna biru itu ditutup, pemuda bersurai cokelat gelap dengan balutan sweater marron menghela napas sejenak. Ia meraih ponsel, bibirnya mengerucut kesal karena sudah dua puluh menit berlalu, mantan partner volinya itu belum juga datang.

"Padahal aku sudah jauh-jauh dari Tokyo kemari." Batinnya kesal.

Manik cokelat teralih ke luar jendela, memandang hiruk pikuk jantung kota Miyagi yang lebih ramai dari saat dua tahun lalu. Baru saja ia hendak menoleh untuk memesan kembali segelas kopi, manik cokelat itu melebar dan terkunci pada sosok familier di luar sana.

Itu mantan rival sekaligus kouhainya. Kening pemuda itu berkerut begitu melihat sang kouhai berjalan bersama seorang gadis super cantik bersurai senja bertubuh mungil.

Sudut bibir pemuda bernama Oikawa itu tertarik keatas, "sepertinya aku terlalu mengkhawatirkanmu Tobio–chan."

"Kenapa kau berbicara sendiri?"

Tubuh Oikawa tersentak, ia menoleh ke belakang, mendapati pria berwajah garang yang tidak lain adalah Iwaizumi; mantan partner volinya saat SMA. Oikawa terkikik, ia menunjuk keluar jendela dengan dagunya, memberi isyarat agar sahabatnya itu melihat keluar.

Iwaizumi mengikuti arah pandang Oikawa, ia bergumam mengerti begitu melihat apa yang sahabatnya itu maksud. "Dia kekasih Kageyama?"

Oikawa mengedikan bahu, "entahlah."

Iwaizumi duduk di kursi, dia membuka buku menu walau manik matanya masih sesekali memandang keluar.

"Itu bagus untuknya, setidaknya dengan begitu dia tidak terlihat bersedih atas meninggalnya si cebol."

"Menurutmu begitu?" satu alis Oikawa terangkat, "sebagai seorang setter, kehilangan salah satu spiker pasti sesuatu yang membuat stress."

"Oya?" Iwaizumi menyipitkan mata, "tidakkah kau berpikir gadis itu sedikit mirip dengan si cebol."

Manik mata Oikawa melebar, ia mengangguk. "Benar juga, apa mungkin Tobio menggunakan gadis itu sebagai pelepas stressnya—"

Bukk

Ucapan pemuda itu terpotong begitu sang rekan memukul kepalanya dengan buku menu. Oikawa mengerucutkan bibir dan mengusap kepalanya, "ittaiyo Iwa–chan!"

"Salahmu karena kau terlalu berpikir berlebihan."

Pemuda berambut klimis hitam itu ngos-ngosan. Ia duduk sebentar di kursi tepat didepan sebuah ruko yang menampilkan etalase barang-barang antik. Perempatan imajiner menghiasi dahi begitu melihat gadis senja berjalan kesana kemari seakan baru pertama kali ini pergi ke kota.

"Oi! Kau bilang mau membeli pakaian olahraga bo—"

"Kageyama lihat! Ada cake rasa stroberi, ah aku jadi lapar," celoteh sang gadis seakan tidak menyadari lawan bicaranya sudah mulai naik pitam.

Kageyama bangkit, ia berjalan dengan wajah garang mendekat kearah Hinata. Hinata yang baru saja menyadari Kageyama marah hanya bisa menelan ludah kasar, "Kageyama?"

"Sudah cukup!" ketus pemuda itu lalu menarik tangan Hinata menuju pusat perbelanjaan, "jika kau terus saja menuruti rasa ingin tahumu itu, kita tidak akan membeli apapun hari ini."

Hinata menggembungkan pipi dan membiarkan Kageyama menarik tangannya, "aku kan sudah lama tidak ke kota." Batinnya kesal.

Mereka tiba di pusat perbelanjaan Miyagi, tidak sebesar mall yang ada di Tokyo, namun semua dijual disini terbilang cukup lengkap. Hinata berjalan mengekori Kageyama menuju toko pakaian olahraga. Seketika matanya berbinar melihat deretan sepatu olahraga dan celana training berbagai model.

Hinata tidak sadar kalau kakinya sudah berhenti didepan deretan celana olahraga dan mulai mengambil salah satu, berniat untuk mencobanya di ruang ganti.

"Apa yang kau lakukan?"

Gadis itu menoleh, "tentu saja memilih celana Kusoyama, apa lagi?"

Alis Kageyama menukik tajam, "memilih celana laki-laki?"

Kini giliran Hinata yang melongo, ia memandang Kageyama dan celana training ditangannya bergantian, "ini celana laki-laki?"

Kageyama mengangguk.

"Dan aku seorang perempuan?"

"Hah? Lalu kau pikir kau itu apa jika bukan perempuan?" sahut Kageyama ketus.

Hinata seketika lesu. Ia perlahan mengembalikan celana itu ditempatnya. "Padahal celananya keren," gumamnya lalu berjalan melalui Kageyama yang terbengong heran melihatnya.

"Gadis aneh."

"Bagaimana Todai? Menyenangkan?"

Pemuda tampan bersurai cokelat mendengus, "mereka berada di level yang berbeda denganku."

Iwaizumi temannya tertawa mengejek, "akhirnya si setter hebat menemukan saingan baru ya."

"Tidak, bagiku sebagai setter, Tobio masih jauh lebih hebat dari mereka." Mata cokelat tua itu melebar, ia terdiam dan meraih ponselnya. Sudut bibir pemuda itu terangkat membentuk seringai.

"Kau kenapa?" tanya Iwaizumi bingung melihat gelagat sang mantan partner.

"Soal Tobio." Oikawa terkikik, "aku lupa untuk menggodanya yang akhirnya jalan bersama gadis."

Iwaizumi memutar bola mata malas, "kau memang tidak berubah."

Kageyama berjalan sambil menenteng plastik belanjaannya, begitu sampai didepan zebracross, ia sempatkan menoleh kesamping sekedar memeriksa apa gadis bertubuh mungil itu tersangkut lagi di beberapa toko yang menarik perhatiannya. Iris sewarna blueberry melebar begitu mendapati sisi kanannya kosong tak ada siapapun.

"Kageyamaaa!" Teriak suara cempreng dari arah belakang.

Kageyama menoleh, seketika perempatan imajiner menyembul begitu melihat sang gadis sudah berjongkok karena kelelahan membawa kantung belanjaannya yang luar biasa banyak itu.

"Bantu aku!" rengeknya membuat Kageyama membuang napas kasar.

Pemuda raven berjalan mendekati sang gadis kemudian mengambil separuh kantung belanjaan Hinata. "Kenapa kau harus membeli pakaian banyak sekali, goldenweek–kan hanya lima hari."

"Ini bukan hanya untuk goldenweek, tapi untuk yang lain." Sahut Hinata kemudian berdiri kembali.

"Yang lain?"

Hinata menggembungkan pipi, "kau tidak perlu tahu!"

Gadis itu sengaja membeli banyak pakaian karena mengingat semua pakaian yang dibelikan sang kakak tidak ada yang memenuhi standar enak dipakai bagi Hinata. Masa bodoh dengan uang malaikatnya yang habis. Toh, ini salahnya sendiri.

Kageyama memutar bola mata kesal, ia berjalan mengekori Hinata. Namun langkahnya terhenti begitu merasakan ponsel disaku celananya bergetar. Ia menaruh dulu belanjaannya dan Hinata di tanah dan mengambil benda pipih itu.

Dahinya berkerut begitu melihat nama sang senpai terpampang disana.

"Tumben." Batinnya lalu membuka pesan chat.

To : Kageyamatobioxx
From : Oikawahandsome

Tobio–chan! Aku melihatmu loh.
Senangnya melihat kuso–kawai– kouhaiku akhirnya jalan bersama seorang gadis cantik.
Ne ne, apa dia kekasihmu? Kenalkan padaku lain kali, ya! 😉😉
Jangan lupa traktir dia makan jika kau memang pria sejati.😈😈

Kageyama seketika naik pitam, membuat beberapa pejalan kaki yang lewat menjaga jarak karena wajah seramnya. Saat Hinata terlihat menunggu lampu puffin crossing berubah hijau. Ia diam-diam mengambil dompetnya sekedar memeriksa berapa sisa uang jajan bulanannya.

"Aku harap dia tidak minta makanan mahal." Batin Kageyama.

Bersambung...

Maaf kalau ceritanya mulai boring, author lagi sibuk buangetzzz jadi inspirasinya mulai terbatas 😢😢😢