Kageyama berjalan ringan disamping Hinata, pemuda itu sesekali menyesuaikan jarak karena perbedaan lebar langkah mereka. Iris blueberrynya bergerak gelisah, tangan kanannya sesekali menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Pesan dari Oikawa menginvasi pikiran Kageyama, membuat dadanya panas.

"Nah Hina.." ucap Kageyama memecah hening.

Gadis itu menoleh, "nani?"

"Kau lapar?" tanyanya.

Mata sewarna madu melebar, gadis itu terlihat terkejut. "Kau tahu darimana daritadi aku menahan lapar?" tanyanya.

"Kalau lapar seharusnya bilang boke!" ketus Kageyama kesal, pemuda itu membuang wajah, pipinya merona tipis, "ayo makan. Aku traktir." Ucapnya nyaris bergumam.

Hinata menaikan sebelah alis, "kau terlihat tidak tulus mau mentraktirku," celetuknya membuat Kageyama meringis.

"Aku tulus!" timpalnya, "cepat katakan kau mau makan dimana?"

Sepasang manik madu seketika berbinar, "sungguh?!" pekiknya dengan wajah berseri yang entah mengapa membuat dada Kageyama menghangat.

Kageyama mengangguk.

Hinata terdiam, ia mengusap dagu dan melihat kearah deretan toko dan cafe. Kageyama menyipitkan mata dan mengikuti arah pandang gadis itu. Diam-diam ia gugup, takut jika gadis itu malah memilih cafe mahal.

"Aku mau kesana!" sahut gadis itu dan menunjuk kearah restoran masakan italia yang terlihat lenggang.

Kageyama menelan ludah, dalam hati merapal doa karena restoran Italia sudah pasti makanannya diatas seribu yen per–porsi. "Restoran itu? B-baiklah ayo kesana?"

"Hah? Restoran?" Hinata memiringkan kepala bingung, membuat pemuda didepannya lebih bingung, "aku bukan mau ke restoran, aku mau ke kedai itu?" tunjuk Hinata lagi.

Kageyama menyipitkan mata lalu kembali mengikuti arah tunjukan sang gadis. Seketika hatinya diliputi rasa lega begitu menyadari gadis itu justru memilih kedai ramen kecil tepat disamping restoran Italia.

"Ah itu."

Hinata terkikik, "dingin-dingin seperti ini paling enak makan ramen Kageyama!" pekik gadis itu ceria, "ayo pergi." Hinata menarik tangan Kageyama dan melangkah memasuki kedai.

Kageyama terdiam dan mengekori si gadis orange melangkah memasuki kedai. Mereka memesan dua mangkok ramen, pemuda bermata gelap itu meringis melihat gadis didepannya makan dengan rakus.

"Kau seperti orang yang tidak makan bertahun-tahun."

Gadis itu mendongak, pipinya menggembung karena penuh, ia hanya menggeleng dan bergumam sesuatu yang tidak Kageyama pahami.

"Telan dulu makananmu, bodoh."

Hinata menelan ramennya, "ini porsi normal untukku."

"Kau sungguh gadis? Bukankah biasanya gadis tak mau makan makanan berminyak."

Hinata menggembungkan pipi, "tidak semua gadis seperti yang dipikirkan banyak orang, bukan?"

Mereka makan dalam diam, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Kageyama melihat gadis orange sudah selesai memakan ramennya. Hinata bersendawa, membuat gadis itu terkejut dengan dirinya sendiri dan menutup mulutnya. Pipi gadis itu merona malu.

Kageyama entah sejak kapan tersenyum melihat tingkah si gadis senja. Baginya Hinata yang seperti itu beribu kali lebih menggemaskan dari biasanya.

"Hina–chan?"

Hinata menoleh begitu mendengar suara bariton pria memanggil namanya. Kageyama ikut menoleh dan melihat pemuda bersurai padi dengan wajah manis di meja dekat mereka.

"Siapa?" gumam Kageyama.

Sedangkan Hinata langsung bangkit, ia berjalan ceria menghampiri meja yang ditempati malaikat pelindungnya itu. Baru saja Hinata hendak membuka mulut untuk menyapa, Natsume sudah lebih dulu menyela.

"Kau bersama siapa adik?"

Seketika Hinata menutup mulut, merasa hampir saja keceplosan memanggil pemuda didepannya dengan sebutan 'malaikat–san' seperti biasa.

"Ah dia temanku, namanya Kageyama."

Kageyama bangkit dan membungkuk kecil, pemuda itu menatap Hinata dengan wajah bingung. Hinata yang menyadari apa yang sedang dipikirkan mantan partnernya tertawa kecil.

"Dia kakakku Kageyama, namanya Natsume Takashi."

Setter jenius itu seketika ber—oh ria, gurat wajahnya seketika mengendur, separuh dirinya merasa lega mendengar bahwa pemuda cantik itu bukanlah kekasih sang gadis senja.

"Ma—maksudku, Nii–san sedang apa disini?"

Takashi tersenyum, "aku berniat membeli ramen untuk makan malam, tapi sepertinya kau sudah makan malam duluan."

Hinata seketika memasang wajah bersalah, "gomen."

"Tidak masalah Hina–chan."

Iris sewarna zambrud beralih kearah Kageyama. Tubuh Kageyama tersentak, bulu kuduknya meremang begitu iris cokelat terang seperti kaca itu menatapnya dalam. Manik blueberry melebar begitu perlahan pemuda bersurai padi itu menatapnya sendu.

"Kalau begitu aku tidak jadi membeli ramen, aku akan berbelanja bahan dapur sebentar. Nikmatilah waktu kalian dan jangan pulang terlambat." Tutur pemuda padi itu kemudian melambaikan tangannya dan pergi.

Hinata membuang napas, "ah aku jadi tidak enak padanya." Dahi gadis itu mengernyit melihat sang mantan partner nampak melamun.

"Kageyama?"

Kageyama tersentak mendengar suara cempreng si gadis senja, ia menoleh. "Nani?"

"Kenapa kau melamun?"

Kageyama terdiam, ia menatap punggung pemuda bersurai padi yang baru saja melangkah keluar pintu kedai. "Dia sungguh kakakmu?"

"Tentu saja. Memang kenapa?"

Pemuda klimis menghela napas. Manik blueberry itu menatap lamat daun pintu kedai.

"Entahlah, aku hanya merasa dia seperti sedang mengasihaniku."

Natsume berjalan dengan langkah berat menuju rumah, iris cokelat terangnya menangkap sosok kucing calico yang duduk diatas kursi di taman bermain usang. Pemuda itu memutar tumit dan melangkah mendekati si kucing.

"Dari wajahmu itu.."

Manik cokelat terang melebar.

"Kau sudah sadar bahwa keputusan para dewa itu konyol."

Manik cokelat itu kembali meredup. Natsume menghela napas dan mendudukan diri disamping kucingnya. Ia mendongak, memandang langit-langit malam yang gelap tanpa taburan bintang.

"Aku harus bagaimana sensei?"

Nyanko–sensei melirik malaikatnya itu sekilas, "jelaskan masalahnya."

Natsume menegakkan tubuh, ia mengacak pelan surai padinya. "Aku merasa menjadi penjahat didalam romansa ini. Andai aku berani menentang keputusan kamuhakari waktu itu, hal ini tidak akan terjadi pada mereka."

Nyanko–sensei memejamkan mata dan menghela napas. "Rumit sekali."

Takashi menatap sendu langit malam, ia menggigit bibir. Ia telah dihidupkan kembali selama lebih puluhan tahun. Bekerja sebagai malaikat dan shinki seorang dewa. Namun, inilah pertama kalinya Natsume merasa menjadi orang bodoh.

"Andai aku menentang keputusan kamuhakari itu, Kageyama tidak akan kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya."

Hinata memandang langit berawan, iris caramel nya menyipit. Kageyama berdiri disampingnya, ikut memperhatikan langit.

"Akan turun hujan."

Kageyama mengangguk, membenarkan memang malam itu sedang mendung. Mereka berdua tengah menunggu bus, jarak stasiun dari tempat mereka sekarang cukup jauh jika harus berjalan kaki. Belum lima menit mereka berdiri disana, hujan benar-benar mengguyur.

Jutaan rintik air membasahi jantung kota Miyagi. Hinata mundur, berusaha berlindung dibawah atap sempit halte bus. Namun tetap saja angin membawa air hujan hingga membasahi sebagian tubuhnya. Kageyama menghela napas melihat sang gadis nampak kedinginan.

"Pakai ini."

Pemuda itu melepas jaket dan menyampirkannya ditubuh mungil gadis itu. Hinata hendak menolak, namun Kageyama sudah menatapnya tajam lebih dulu hingga membuat gadis itu bergidik.

"Pakai jika tak mau sakit." Tandasnya final.

Hinata mengangguk menyerah dan mengeratkan jaket si mantan partner ditubuhnya, ia melirik Kageyama yang kini hanya mengenakan kaos tipis.

"Kageyama sendiri bagaimana?" tanyanya cemas, "kau bisa sakit."

Kageyama menoleh, pemuda itu menepuk pelan puncak kepala si gadis jeruk, "aku ini lelaki, tak akan mudah sakit boge." Ucapnya rendah.

Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tersenyum, ia tertawa kecil dengan pipi bersemu merah. Kageyama yang melihatnya menaikan alis.

"Kenapa?"

Hinata menggeleng cepat, ia melirik sang mantan partner dan tersenyum jenaka, "aku hanya tidak menyangka pria berwajah seram sepertimu sangat perhatian pada seorang gadis." Ucapnya membuat Kageyama merona.

Pemuda itu membuang wajah dan mengerucutkan bibir, "aku hanya tak mau kau menyalahkanku jika sampai kau sakit." Sahutnya nyaris bergumam.

Hinata hanya mengangguk. Ia mendongak begitu mendengar deru mesin mobil mendekat. "Bus datang!" pekiknya ceria.

Gadis itu menarik lengan Kageyama dan membawanya masuk bus, mereka duduk bersebelahan. Manik sewarna caramel itu meredup melihat pakaian Kageyama yang basah kuyup.

"Bodoh, lihatlah dirimu basah kuyup begitu."

"Aku tidak apa-apa Hina boge."

"Hontou?"

Kageyama menatap lekat sang gadis senja, ia tersenyum tipis. "Hontou."

Hinata menggeser tubuhnya mendekati sang partner dan memeluk lengan pemuda itu erat. Iris sewarna blueberry itu melebar, pemuda itu gelagapan dengan dirinya dan detak jantungnya yang terpompa akibat ulah Hinata.

"Bo–boge, apa yang kau.."

"Jangan menolaknya Kageyama."

Hinata tersenyum, ia rengkuh lengan pemuda itu erat, menyalurkan kehangatan untuk sang setter. "Ini bisa menghangatkanmu."

Manik blueberry melebar mendengarnya namun kemudian meredup kembali. Ah. Wajah gadis itu begitu dekat, Kageyama menyukai kehangatan ini. Ia ingin lebih dekat dengan gadis ini. Memeluknya bahkan menciumnya. Di malam yang dingin ini, Kageyama merasa semakin ingin memiliki gadis senja.

Bersambung..