[episode tiga]

From the very first time i saw you with your blue eyes like a sky, i never know our meet is a thing that have been planned.

[western story]

[cast: taehyung x jungkook x stephan x philips]

.

.

.

Ruggell merupakan kotamadya paling utara di Liechtenstein. Namanya berasal dari bahasa Latin, yaitu "untuk meratakan tanah". Karena topografi yang datar, Ruggell sangat sering disebut «Fahrraddorf» (desa siklus). Ruggell juga terkenal akan daerah konservasinya, yaitu daerah yang sumber daya hayati baik itu hewan maupun tumbuhan sangatlah di jaga dan dilestarikan oleh negara. Kota ini terletak di perbatasan antara Negara Swiss, dan berada di pinggiran sungai Rhine. Jumlah penduduk di kota ini hanya berkisar 2.243 jiwa. Walaupun begitu, dia termasuk sebagai salah satu kota besar yang ada di Liechtenstein. Ruggell dikenal asri dengan kekayaan alam yang masih berlimpah, namun sebenarnya disini juga terdapat 306 perusahaan yang berbeda dengan teknologi-teknologi canggih yang sangat modern. Beberapa pabrik bermesin super beroperasi di belahan kota kecil ini.

Sejak kecil, aku baru dua kali menginjakkan kaki di Ruggell. Dan kesan yang kudapat dari kota paling pinggir di negeri kami ialah, kota ini sangatlah ramah lingkungan juga sangat cocok digunakan sebagai tempat bertamasya bagi keluarga.

Kami tiba tepat pukul 10 pagi di kota Ruggell. Sudah ada pelayan tempat kami menginap yang menunggu di terminal bis. Beberapa dari mereka sigap membantu kami mengangkut barang ke dalam bagasi bis penginapan. Teman-temanku berpencar. Ada yang ke toilet, ada pula yang membeli kudapan di market terdekat.

Kurenggangkan badanku begitu turun dari bis. Aroma musim semi di kota Ruggell berbeda dengan Vaduz. Angin kota ini lebih segar dan hangat. Pandanganku bergulir mengamati sekeliling. Terminal ini sepi. Tak nampak turis-turis dari negeri lain yang berkeliaran. Mungkin karena kami tiba terlalu pagi.

"Ini, untukmu." sekaleng soy milk dingin tiba-tiba tertempel di pipiku. Aku berjengit, merasakan dingin. Ternyata Stephan. Ia menatapku datar.

"Terima kasih." Aku bergumam senang, merebut kaleng minuman itu dan langsung menegaknya sekali tegak.

"Kau lapar?"

"Tidak juga."

"Baguslah. Ayo duduk disana. Kita baru akan ke penginapan 20 menit lagi." Tangan Stephan langsung saja menarikku ke bench terminal di pinggir jalan. Aku hendak protes, tapi urung karena malas berdebat dengannya.

Aku menikmati waktu senggang dengan membaca peta perjalanan yang telah dibuat dan dibagikan oleh Will. Stephan melongok malas, menatap setiap bangunan juga tempat yang tertera di daftar perjalanan kami selama ekspedisi nanti.

"Jadi? apa yang akan kita kunjungi di kota mati ini?" Stephan menyahut malas dari sampingku.

Aku mengedikkan bahu. "Hanya empat destinasi. The Ruggeller Riet Nature Reserve, Ruggell Townhall, Gereja St. Fridolin, dan museum Kuefer Martis Huus Ah, besok juga akan ada event slow up. Mungkin kita akan menonton event ini sebelum berangkat ke kota selanjutnya."

Stephan menguap mendengar penjelasanku. "Wah. Konsep yang sangat bagus, Will."

Aku tertawa akan sarkasme Stephan. Dia hanya mendengus, lalu kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku. "Aku mau tidur, bangunkan kalau sudah mau berangkat." Itulah kata-kata terakhirnya sebelum jatuh terlelap.

Aku memutar bola mata malas. Puas meneliti peta perjalanan kami, melipatnya kembali dan menaruhnya di ransel, aku beralih menatap sekeliling terminal. Mencari-cari sosok teman-temanku yang lain.

Dimana Taehyung?

Tepat ketika sosok pemuda Yunani itu melintas dipikiranku, lantunan lagu khas musim semi eropa perlahan terdengar di susul dengan tepuk tangan meriah. Kepalaku spontan menoleh, mencari arah sumber suara. Di seberang jalan, Di depan sebuah gereja yang berada di seberang terminal, Terlihat keramaian yang mendominasi. Samar-samar, aku dapat melihat beberapa anak kecil berbaju Eropa klasik yang memainkan alat musik dan dua diantara mereka menyanyikan lagu. Mereka tampak sangat ceria, menikmati persembahan yang mereka tampilkan di depan gereja tersebut. Turis-turis entah darimana kini telah berkumpul menggerubungi anak-anak tersebut, ikut melantunkan lagu ceria khas Eropa klasik yang sangat menyenangkan didengar kala musim semi.

Kakiku terhantuk-hantuk tanpa sadar. Aku ikut menikmati pertunjukkan mereka walau dari jarak cukup jauh. Salah satu alat musik yang mereka mainkan adalah flute, alat musik yang paling kusukai bunyinya.

"Kalau mau menonton, pergi saja." suara Stephan terdengar di telingaku. Ia mengangkat kepala, memberi gestur tangan, seolah mempersilahkanku pergi menonton pertunjukan tersebut.

"Kau bagaimana? tidak ikut?"

"Aku benci keramaian." Dia berkata singkat, kemudian beranjak bangkit, berjalan gontai ke arah toilet umum terminal.

Aku mengedikkan bahu, segera saja merampas ranselku dan bergegas menyebrangi jalan menuju keramaian tersebut. dari dekat, aku bisa melihat sebagian teman-temanku yang bergabung dengan kerumunan turis ini. Ada Taehyung yang berdiri disamping Elizabeth. Raut wajahnya ceria, seperti sedang melihat peri-peri manis yang memukau hatinya.

Dengan cepat aku juga berbaur dengan kerumunan. Anak-anak itu telah selesai menyanyikan lagu pertama. Tanpa banyak basa-basi, anak laki-laki yang memainkan harpa kemudian memulai lagu kedua mereka, Concerto for Flute and Harp by Wolfgang Amadeus Mozart. Lagu kesukaanku.

Bibirku tanpa sadar melengkung keatas dengan sempurna. Lagu ini adalah lagu favoritku sejak kecil. Lagu yang telah beratus-ratus kali kunyanyikan, lagu yang selalu berhasil membuatku tersihir dengan nada di setiap baitnya. Permainan flute dan harpa dari anak-anak ini menakjubkan. Aku ikut larut didalam lantunan musik indah mereka, memejamkan mata, mengingat memori-memori yang telah kualami selama lagu ini mengisi hariku.

Tanpa terasa, lagu itu pun selesai. Tepuk tangan meriah bergerumuh di depan gereja ini. Semua orang terlihat puas, Sempat kulirik Taehyung diseberang sana, dan dia sepertinya sangat menikmatinya.

Awalnya kupikir anak-anak itu telah selesai membawakan seluruh lagu. Namun tiba-tiba, Sebastian muncul entah darimana. Dia berbisik kepada gadis kecil yang memainkan flute. Lalu, tatapan mereka berdua menuju kearahku.

Eh? ada apa?

Senyum Sebastian merekah, apalagi ketika gadis kecil bertopi Cart wheel merah khas Eropa itu mengangguk dan memberikan flutenya kepada Sebastian.

Uh-oh. sepertinya aku sudah tahu apa yang sedang terjadi.

"Crust! satu persembahan darimu!" Sebastian berlari kearahku, membuat atensi seluruh orang beralih kepadaku.

Aku tidak menyukai ini, Demi Tuhan. Menjadi pusat perhatian bukan lah sesuatu yang kusenangi.

Sebastian memasang cengiran tanpa dosanya. "Ayolah, Jungkook. Sudah lama kau tidak tampil lagi, bukan?" Dia tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Sebastian langsung menarikku ketengah kerumunan, memberiku flute itu, dan tanpa banyak bicara segera berlari kembali ke posisinya semula.

Baik. Tinggallah aku sendiri di tengah anak-anak kecil ini. Seperti orang bodoh tak tahu harus berbuat apa. Ingatkan aku untuk membunuh Sebastian setelah ekspedisi ini selesai.

Tarikan kecil di ujung kemejaku membuatku tersadar. Anak lelaki yang bermain biola lah pelakunya. melihat dia membuat amarahku spontan menguap.

"Apa yang akan kau mainkan?" Dia bertanya lugu.

Perlahan, aku tersenyum. Kuusap rambut cokelat keemasannya dengan gemas. "Kau menguasai Under The Sea?"

"Ya!" dia mengangguk semangat. "Kami semua sangat menyukai lagu itu!"

"Bagus sekali! kita akan memainkan lagu itu." Aku menjetikkan jari. Persetan. Lupakan saja rasa malu ini, yang terpenting adalah tidak membuat anak-anak lugu ini kecewa.

Ketika aku mulai mengambil ancang-ancang flute di depan bibir, orang-orang lantas bertepuk tangan meriah. Aku berdehem canggung. Debaran di dadaku mulai terasa. Sekilas, mataku dan Taehyung bertemu. Dia dengan kurang ajarnya mengedipkan mata, dan perutku langsung terasa mual.

Baiklah, Jungkook. Kau pasti bisa.

Aku mengangkat jari, menghitung satu, dua, dan tiga.

Lantunan flute ku pun dimulai. Satu per satu not kutiup, mengalir seperti air, mengalun bak angin musim semi yang sedang mendayu-dayu. Mataku terpejam, berusaha menghayati permainan musik ini dengan segenap hati. Tanganku lincah menari diatas flute, mengikuti irama anak-anak yang bersemangat memainkan lagu kesukaan mereka. Lama kelamaan, Senyumku tanpa sadar merekah, dan aku menikmati pertunjukkan ini lebih dari yang kumau. Badanku ikut bergerak selaras dengan gerakan fluteku, Orang-orang berseru senang, ikut bernyanyi chorus "under the sea" yang seperti candu, dan teriakan girang anak-anak itu membuat tawaku lepas begitu saja.

Tanpa kusadari, Tatapan Taehyung sedari tadi tidak lepas sedetikpun dariku. Ia menatapku lekat-lekat, bak tersihir oleh lantunan flute yang kumainkan.

Angin berhembus kencang tiba-tiba. Orang-orang kaget, spontan menutup wajah dengan benda apapun yang mereka pegang. Aku mengalihkan pandangan, menghindari arah angin. Dan ketika itu pula, mataku dan mata Taehyung kembali bertemu.

Waktu seakan berhenti.

Surai pirang keemasannya yang diterpa angin, Guratan wajah yang mengeras, raut jenaka yang tadi dia tampilkan telah sempurna lenyap. Kemeja yang tak dia kancing berkibar begitu saja dimainkan oleh angin, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, menampakkan betapa maskulin dirinya. Ia menatapku dalam, tetap berdiri kokoh di tengah serbuan angin musim semi seolah waktu hanya berhenti berputar di poros kami berdua.

Aku bagai tersihir.

Mata itu, Menatapku hingga ke relung hati.

Biru.

Ya. Warna biru di bola mata Taehyung, adalah hal yang paling berbahaya untuk jantung ini.

-o-o-o-o-

Setelah menaruh barang bawaan di kamar masing-masing dan makan siang bersama di penginapan, kami pun memulai perjalanan pertama kami.

Taehyung lah yang paling bersemangat. Dia mengambil posisi duduk di barisan paling depan bis, bersiap dengan kamera yang di kalungkan di leher. Sudah layaknya turis sejati. Pangeran Philips duduk di sampingnya, masih sangat menawan walaupun hanya mengenakan kaos hijau polos dan celana jeans panjang berwarna hitam. Style nya berbanding terbalik dengan style Taehyung yang seperti berandalan. Namun mereka terlihat baik-baik saja dengan perbedaan itu.

Aku, seperti biasa, memilih duduk di bagian tengah bis dengan Stephan yang berada di sampingku. Susunan duduk kami sebenarnya sama saja dengan susunan ketika pergi tadi.

Tujuan pertama kami adalah The Ruggeller Riet Nature Reserve. Butuh 10 menit untuk tiba di daerah ini dari penginapan kami. Pemukiman serta pabrik-pabrik yang kami lewati perlahan berubah menjadi hamparan rumput hijau yang asri. Hewan-hewan berbagai jenis berlarian, meminum air di sungai yang jernih, juga bertengger di pepohonan-pepohonan tinggi yang menghiasi sepinggir jalan masuk tempat ini.

Will tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke tengah bis, kemudian merentangkan tangan lebar-lebar. "Selamat datang di cagar alam terindah yang ada di Liechtenstein!"

Teman-temanku sontak ramai bersorak sorai. Taehyung tertawa di kursinya. Namun, kepalanya kembali terfokus keluar jendela, mengagumi pemandangan yang kami lewati. Dari gerak geriknya, aku tahu dia sudah tak sabar untuk turun dan melihat cagar alam ini secara langsung.

Ruggeller Riet Nature Reserve yang kaya akan gambut mencakup area seluas 90 hektar. Ragam fauna lokalnya yang kaya dan, khususnya, flora membuatnya menjadi wilayah yang mempesona, sempurna bagi pecinta alam. Dataran rendah, kolam, lindung nilai, pepohonan dan serasah serta padang rumput yang sedikit memberi habitat yang ideal bagi banyak hewan dan tumbuhan yang terancam punah. Bahkan bangau pun dapat kalian temui disini. Bunga-bunga yang spektakuler dari iris hingga Siberia pun ada. Sebagian bunga ini di bawa dan dilestarikan di Rumah Bunga yang ada di kota Triesenberg. Akhir Mei hingga awal Juni adalah puncak tahunan yang mengubah area besar cagar alam di hamparan biru ini.

Ketika bis menepi di trotoar, Taehyung segera saja melompat turun dan berlari meninggalkan kami. Will berseru panik memanggilnya, tapi pemuda Yunani itu hanya tertawa, melambaikan tangan untuk menenangkan Will yang khawatir. Kami semua tertawa melihat tingkah superaktif Taehyung. Satu persatu teman-temanku turun, ada pemandu wisata yang telah menunggu kami. Setelah menyelesaikan prosesi administrasi, kami pun mulai berjalan kaki memasuki cagar alam ini.

Taehyung telah berjalan 20 meter di depan. Lensa kameranya tak pernah lepas dari mata, terus menjepret hewan-hewan maupun tumbuhan yang ia lewati. Aku memandanginya dalam diam. Raut wajah yang Taehyung tampilkan saat ini baru pertama kali ku lihat. Biasanya, ia akan memasang ekspresi pemuda Eropa liar yang gemar menggoda. Kali ini, sorot penuh rasa takjub tergambar jelas di bola mata biru Taehyung. Senyuman lebar terus menerus ia singgungkan. Dan darahku berdesir setiap kali bibir itu tertarik keatas, sehingga aku akan cepat-cepat memalingkan wajah.

"Apa kau senang, Crust?"

Suara Pangeran Philips membuatku spontan tersadar. Ia berjarak sedikit jauh dibelakangku, tapi langkahnya dipercepat sehingga kami akhirnya menjadi sejajar. Senyumnya yang setenang rawa ia singgungkan dengan menawan. Kedua tangannya ia taruh dibelakang badan, tatapannya lurus kedepan dengan dagu meninggi. Sungguh berjiwa keluarga Kerajaan.

"Ya, Pangeran. Tempat ini indah." Jawabku atas pertanyaannya barusan. Kami berjalan beriringan, sedikit tertinggal dari yang lain. Mereka asik dengan dunia sendiri, entah itu singgah memberi makan rusa, berfoto di depan monumen singa yang kita temui di jalan, atau hanya terus melangkahkan kaki kedepan sembari menikmati kesejukan hutan.

"Kalau ingatanku tidak salah, ini kedua kalinya kalian mengunjungi tempat ini. Benar?"

Aku mengangguk. "Tahun lalu ketika liburan musim panas, Pangeran."

"Ah~ pantas saja hanya Jack yang terlihat paling bersemangat." Ia terkekeh.

Aku tersenyum kecil, kembali mengangguk membenarkan ucapannya. Taehyung masih jadi pemimpin rombongan kami, mungkin berjarak 5 meter dariku dan Pangeran Philips. Namun kali ini, pemuda Yunani itu tidak sendiri. Ada Elizabeth dan Will yang menjadi pendampingnya, juga pemandu wisata yang berapi-api menjelaskan cagar alam ini kepada Taehyung. Walaupun tak berada disana, aku bisa melihat wajah sumringah Will, Elizabeth, dan Taehyung selama mendengarkan penjabaran pemandu wisata tersebut. Sesekali mereka akan berhenti untuk menunggu Taehyung yang memotret hewan yang mereka lewati, kemudian kembali lanjut berjalan.

Bibirku tersungging senyuman lebar. Ekspedisi ini diadakan untuk mengenalkan Liechtenstein kepada Taehyung. Dan sepertinya tahap pertama kami berhasil. Ia menyukainya.

"Pangeran! Jungkook! mau es krim?" Jose muncul membawa dua cup es krim. Aku dan Pangeran Philips dengan senang hati menerimanya.

Sepanjang jalan aku dan Pangeran Philips mengobrol panjang lebar. Lebih banyak mendengarkan cerita Pangeran Philips tentang negara-negara yang ia datangi, curahan hatinya tentang karakteristik setiap pemimpin negara, ataupun makanan yang tidak sesuai dengan seleranya. Beberapa kali dia juga bertanya tentang kabar Ibu dan Ayah. Seperti yang kuduga, Pangeran Philips memang sangatlah ramah. Ia dapat bergaul dengan rakyat biasa seperti kami dengan cepat. Cara berbicaranya saja sudah sangat fleksibel. Walaupun jiwa bangsawannya terkadang masih keluar, tapi aku merasa nyaman di dekatnya. Dia adalah figur teman yang ideal.

"Kemarikan tanganmu, Crust." Pangeran Philips menyodorkan lengannya kepadaku ketika kami hendak menyebrangi jembatan yang hanya disusun dengan dua batang pohon jati.

Aku tanpa ragu menerimanya, menggumamkan terima kasih dengan senang. Walaupun, seluruh pasang mata teman-temanku sedang memperhatikan seluruh interaksi kami sedari tadi.

Ah, biarlah. Mereka memang sudah sering memandangiku seperti ini. Justru, akan terdengar konyol kalau aku sengaja menjaga jarak dengan Pangeran hanya karena rumor miring tersebut.

Hingga kami tiba di pemberhentian terakhir, Pangeran Philips tetap berada di sisiku.

-o-o-o-o-

Malam akhirnya tiba. Puas menjelajahi Ruggell, kami beristirahat di penginapan nyaman yang telah di sewa Will. Penginapan ini terbuat dari kayu, sehingga terasa sangat hangat. Yang lain memilih sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Para wanita bergantian mandi, sedangkan kaum pria bersantai di ruang tamu dengan bermain kartu. Ada Taehyung yang memetik gitar di antara mereka, dan beberapa temanku termasuk Pangeran Philips bernyanyi bersama.

Berhubung Stephan telah jatuh terlelap di kamar, aku memutuskan untuk menikmati waktu ku sendiri. Duduk bersila di lantai teras penginapan ini, menyantap churros ditemani secangkir cokelat panas, menikmati pemandangan langit malam yang cerah. tak ada awan sama sekali. bintang-bintang bersinar sesuka hati mereka.

Keheningan seperti ini membuatku tentram. Aku mulai memikirkan Ibu dan Ayah di Vaduz. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan? Terlahir sebagai anak tunggal membuatku cepat merindukan mereka. Aku juga memikirkan museum-musem yang tadi kami datangi, cagar alam, serta bagaimana serunya ketika kami makan bersama di salah satu kafe. Senyumku merekah, sepertinya aku cukup puas dengan ekspedisi hari pertama ini.

"Kau sangat suka sendiri, ya."

Aku terhenyak, hampir menjatuhkan cangkir cokelat panas ditanganku. Kepalaku spontan menoleh, ada Taehyung yang berdiri di depan pintu penginapan. Menatapku dengan seringai jenaka.

"Kau membuatku terkejut." Aku menggerutu.

Dia tertawa kecil, lantas tanpa canggung langsung ikut duduk bersila disampingku. Aku meliriknya sedikit, entah mengapa ada rasa aneh yang hinggap di dadaku.

"Katakan, Crust. Kenapa kau senang menyendiri seperti ini? tidak bergabung dengan teman-temanmu yang lain?"

Aku mendengus, menghirup cokelat panas yang masih mengepulkan asap. "Bukan urusanmu."

"Wah, galak sekali."

Keheningan diantara kami kemudian tercipta. Taehyung menaruh kedua tangannya dibelakang badan, menopang tubuhnya. Tatapannya menengadah keatas, mengikutiku yang hanyut akan kemegahan langit malam diatas sana.

"Kau pandai memainkan flute."

Aku bergumam pendek. "Terima kasih."

"Sejak kapan kau menguasainya?"

"7 tahun yang lalu." Aku berdehem. "Itupun terpaksa. Andai kerajaan tidak menunjukku sebagai partisipan parade ketika merayakan ulang tahun negara 7 tahun yang lalu, aku mungkin tidak akan mempelajarinya hingga sekarang."

Taehyung menegakkan badan, sepertinya mulai tertarik dengan kisahku. "Jadi kau sering ikut pertunjukan musik?"

Aku menggeleng. "Tidak juga. Hanya sesekali. Aku hanya tampil untuk pertunjukkan Istana."

"Kenapa kau yang dipilih?"

"Simbol perdamaian. Tujuh tahun yang lalu, alasan mengapa aku dipilih adalah sebagai simbol bahwa Liechtenstein tidak membedakan siapapun yang berada di negeri ini. Keluarga pangeran menyayangi penduduknya sama rata, tanpa perbedaan ras, agama, warna kulit, dan lain sebagainya. Tapi kemudian, di tahun-tahun berikutnya Istana kerap mengundangku tampil di pertunjukan-pertunjukan yang diadakan keluarga Pangeran. Aku akhirnya belajar flute dan bernyanyi lebih dari yang sebenarnya kumaui."

"Tunggu," tangan Taehyung terangkat, menyela cerita ku. "Kau juga pandai bernyanyi?"

Aku mengangguk pelan. "Biasanya mereka mengikutsertakan aku di paduan suara Istana."

Senyum Taehyung mengembang. "Wah, pantas saja Pangeran Philips menaruh hati padamu. Kau ternyata artis kesayangan Istana."

"Hei." Aku refleks melotot kearah Taehyung. "Itu bukan candaan yang baik. Jangan membuat gosip murahan seperti yang lain."

Dia menyeringai jenaka, "Aku tidak sedang bercanda, Crust."

"Terserahlah." Aku mendengus, lanjut memakan cemilanku yang tinggal setengah. Aku sempat menawarkan Taehyung, tapi dia menolak, mengatakan kalau ia tak suka sesuatu yang manis.

Kemudian hening kembali menyelimuti kami.

"Kau terlihat seperti orang lokal saat bermain musik tadi."

Aku menoleh, mengangkat satu alis. "Benarkah?"

"Ya." Taehyung ikut menatapku. "Kau tidak terlihat seperti orang Asia. Cara bermainmu juga sangat berbeda. Seolah, dunia Eropa ini memang sudah menjadi bagian dari dirimu itu sendiri. Entah itu lagunya, budayanya, dan caramu mengekspresikan suatu karya. Sangat klasik."

Jawaban dari Taehyung entah mengapa membuat bibirku tertarik keatas. Aku tertawa kecil, memutuskan kontak mata kami dan kembali menatap langit diatas sana. "Kau malah terdengar seperti sastrawan."

Tawa Taehyung meledak. Ia mengangguk-anggukan kepala, "Ya. Abaikan saja apa yang kukatakan barusan. Sungguh memalukan."

"Tapi terima kasih-" Aku memotong cepat. "Aku menghargai semua pujianmu. Terima kasih, Jack."

Ucapan itu kuucapkan tanpa menatap Taehyung, namun wajahku terasa panas. Kata-kata itu membuatku salah tingkah.

Perlahan tapi pasti, senyum di bibir pemuda Yunani itu semakin merekah lebar. Tanpa aba-aba, Ia memajukan badan, memegang pipiku lembut dan langsung mendaratkan kecupan hangat di atasnya.

Aku terpaku, menatap Taehyung dengan bola mata melebar. Namun Taehyung hanya tersenyum, kali ini tersenyum dengan tulus tanpa sisi jenakanya. "Kau menawan sekali, Jungkook. Sering-sering lah bermain flute di depanku. Aku dengan senang hati melihatmu seharian penuh."

Dan ketika Taehyung merentangkan kedua tangannya, memelukku tiba-tiba dengan sangat gemas, aku rasa kepalaku seperti hendak meledak.

"Lepaskan aku!" Aku meronta sekeras mungkin, namun Taehyung hanya tertawa. Tidak peduli sama sekali walau beberapa temanku yang lain datang karena kericuhan kami. Mereka ikut tertawa ketika Taehyung mengacak suraiku gemas, seperti memperlakukan seorang anak berusia lima tahun. Aku mengerang, meninju badannya sebanyak yang kubisa.

Tanpa kusadari, Pangeran Philips tak tersenyum selebar yang lain, dan Stephan menatap interaksi kami dari kejauhan dengan tangan terkepal erat.

.

.

.

To Be Continued


I know it's been realllyyyyyy a long time:") maafkan saya yang mengabaikan karya ini selama hampir seabad. Akhirnya ide saya muncul lagi tentang liechtenstein huhuhu. Berhubung saya sekarang udah mahasiswa, saya kemarin sibuk banget sama pengkaderan himpunan, jadi sama sekali ga ada waktu luang buat nulis cerita lagi. Soo, i hope reader-nims still waiting for this absurd fiction T^T

anyway, untuk sincerely, berhubung itu tinggal beberapa chapter lagi, jadi maaf ya kalau saya belum nge up T^T semakin mendekati akhir, nulisnya pun semakin ga gampang:") tetap bersabar yaa heheeh!

Like always, for those people who read + review + follow + favorite this absurd fiction, i really really love you all! Thank you so much!

Last,

Mind to Review?

Sincerely,

XiRuLin.