Fuka yang dibalut seragam sekolah dan fokus pada peta denah kota mengabaikan barang-barangnya yang tergeletak di jalan. Sudah berpuluh-puluh menit dia berkeliling, namun tujuan utama 'tak kunjung berhasil ditemukan. Kali ini dia berani untuk menghela nafas.

"Sebenarnya, di mana sekolah baruku dan asramanya itu?" gumamnya lelah.

Tak sengaja matanya melihat sebuah balon berbentuk kepala kelinci melayang. Refleks tubuhnya mengejar balon tersebut dan berhasil menangkapnya. 'Milik siapa ini?'

"A-Ano…"—"?"—"Onee-chan, itu…"

Fuka mendapati seorang anak perempuan yang takut-takut melihatnya.

"Ah, ini milikmu? Nah, ambillah! Untung saja belum terbang terlalu jauh," ucap Fuka riang sambil menyerahkan balon tersebut, "?"

Anak perempuan tersebut yang awalnya terlihat senang berubah murung dan enggan menerima.

"Ada apa?"

"Usacchi,"—'Ng? Nama balon ini, ya?'—"Dia sepertinya tidak senang denganku, makanya melarikan diri."

Fuka yang awalnya kebingungan jadi terkekeh geli, "Tidak, tidak," dia berjongkok agar menyejajari anak itu, "Dia senang berteman denganmu, tapi kamu kurang hati-hati menjaganya."

"?" anak perempuan itu tampak setengah bingung dan sedih, "Jadi, aku harus bagaimana, Nee-chan?"

"Hm…" Fuka akhirnya menemukan ide, "Oh! Begini saja!" dengan cekatan dia mengikatkan tali balon pada salah satu pergelangan tangan anak tersebut, "Tada! Dengan begini dia tidak akan pergi lagi darimu!"

"Wuaah!" kedua bola mata anak perempuan itu berbinar senang, "Onee-chan, doumo arigatou!"

"Mm, douita!" Fuka lalu berdiri, dan tak lama ibu anak itu datang, "Kalau begitu, saatnya kembali mencari sekolahku."

"Permisi,"—"?"—"Terima kasih karena telah membantu putriku."

"D-Douitashimashite. Itu bukan apa-apa," jawab Fuka gugup.

"Shoujo, apakah ada yang bisa kubantu? Kamu sepertinya mengalami kesulitan."

"Ng, iya—Eh, tidak! Tidak apa-apa! Ng, tapi…"

Dengan senyum lembut dari ibu anak tersebut, Fuka berhasil diyakinkan dan mendapatkan bantuan. Setelah menjelaskan, ketiganya berhenti di sebuah jalan dan ibu anak itu menunjuk ke sebuah jalan menanjak. Senyum dan lambaian tangan menandakan perpisahan mereka.

"Hari sudah sore, tapi aku harus menyerahkan surat bukti kepindahanku. Bagaimana ini?" gumam Fuka frustasi yang berdiri di gerbang sekolah barunya.

"Ano,"—"?"—"Kamu siapa?"

Fuka bertemu pandang dengan sepasang manik merah ruby yang sukses membuatnya terpesona, 'Woah! Cantiknya!'

"Permisi."

"Eh? Eh! Sumimasen! Ano… Aku adalah murid pindahan, tetapi karena tersesat aku tidak masuk pada hari pertama," jelas Fuka lalu menunjukkan suratnya.

Pemuda tersebut membacanya, "Ooh… Aku mengerti. Tidak apa-apa. Sensei pasti akan memaklumimu. Kamu berikan saja besok karena hari ini sekolah sudah selesai," ujarnya seraya mengembalikan surat tersebut.

"Ha'i! Doumo arigatou gozaimasu!"

"I-Iie! Tidak perlu seformal itu padaku. Lagipula, kita seangkatan dan sekelas."

"Benarkah? Syukurlah! Kalau begitu, perkenalkan aku Fuka. Yoroshiku onegai shimasu!"

"H-Ha'i! Perkenalkan juga, namaku Scarlet. Yoroshiku, Fuka-san!"

Mereka saling bertukar senyum hingga akhirnya Fuka tersadar, "Kalau begitu, sekarang kita ke mana?"

"Ah! Benar juga! Kita pergi ke asrama. Mau kuantar?" tanya Scarlet gugup.

"Ee! Tolong, ya, Scarlet-san!"

KRIIIIIING!

Fuka yang terkaget refleks mematikan jam bekernya.

"Mimpi apa barusan itu?"

~=~=~=~=Ozmafia! School!=~=~=~=~

Chapter 2

Remedi

~=~=~=~=Ozmafia! School!=~=~=~=~

DISCLAIMER:

Ozmafia! oleh Poni-Pachet SY/HOBIBOX

Ozmafia! School! oleh saya~ SarahMaula157Kila0ooo :)

Rated:

T / PG-13

Genre:

Fantasy, School life, Friendship, Romance, Hurt/Comfort, dll…

Warning:

Typo(s) bertebaran, gajeness, entah OOC atau gak, selingan humor yang gak kerasa, apalah ini-itu, dwwl…

A/N:

Saya gak dapet keuntungan apapun selain kesenangan batin (?) /plak


Bel istirahat berbunyi, dan aku menghela nafas lelah seraya mengistirahatkan diri di atas meja setelah Pak Guru mengingatkan kami untuk mengerjakan tugas rumah lalu keluar.

Ah, omong-omong tentang mimpiku tadi malam. Aku meragukannya karena aku adalah orang yang pelupa, tetapi sepertinya itu adalah pertemuan pertamaku yang sesungguhnya dengan Scarlet. Aku merasa tidak asing, tapi tetap saja aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Entah itu memang ingatanku atau kenangan milik 'Fuka yang sebenarnya'.

"Fuka-san," aku menengadah dan kembali melihat manik ruby yang cantik itu, "Aku lupa membawa bekal, jadi akan pergi ke kantin. A-Apa kamu ingin ikut?" lalu dengan cepat Scarlet menambahkan, "Ah! Tapi, aku tidak memaksa jika kamu ingin makan di kelas!"

Ya ampun… Dengan wajah manis ditambah sikap malu-malunya ini, Scarlet makin terlihat manis! Aku tidak bisa menahan senyumku terlalu lama.

"Iie. Karena aku juga tidak membawa bekal, jadi aku akan ikut denganmu!" ujarku seraya berdiri dengan semangat, "Ah, tokoro de, bisakah kita tidak terlalu formal seperti ini? Rasanya aneh karena kita seumuran terlebih lagi sekelas."

"Eh? Begitu… Tetapi, sebaiknya kita harus bagaimana?"

Hm… Benar juga. Berdasarkan pengamatanku selama menonton animenya, walau sopan tetapi gaya bicara Scarlet tidak seformal yang kukira. Selain itu, gaya bicaraku pada teman sendiri memang seperti ini. Berarti, di sini hanya sikap kami yang terasa formal.

Oh!

"Begini saja! Panggil saja aku Fuka, dan aku akan memanggilmu Scarlet! Apakah kamu keberatan? Atau, adakah suffix yang kamu inginkan pada panggilanmu?"

"I-Iie! Begitu saja! Aku tidak keberatan!" jawab Scarlet gelagapan.

Ng? Dia tampak kebingungan. Apa karena aku yang terlalu bersemangat? Apakah aku terlihat memaksanya? Oh, tidak!

"Tapi, jika kamu merasa tidak nyaman, kita bisa memakai panggilan yang sebelumnya. Tolong jangan memaksakan diri!" tambahku cepat.

"Iie!" aku menunggu responnya, "Tidak apa-apa. Lagipula, yang seperti itu rasanya lebih lega," ucapnya agak lambat dan gagap.

Hm? Lega? Aku tidak mengerti, tapi syukurlah dia menyetujuinya dengan ikhlas! Dengan begini, aku tidak lagi memanggilnya seperti itu hanya di dalam pikiranku.

"Yokatta! Baiklah, mari kita pergi ke kantin, Scarlet!"

Dia tampak tersentak kaget, lalu dengan senyum kecil dan pelan membalas, "Iku o, Fuka."

Kali ini aku tidak menyembunyikan senyumku. Walaupun Scarlet yang ada di anime berbeda dengan yang di game, tetapi Scarlet yang kukenal ini seperti gabungan dari keduanya. Agak membingungkan, tetapi, yah, sudahlah. Sisi Scarlet yang ini terasa lebih jujur dan bebas. Aku sangat senang karena itu artinya kami telah resmi berteman!

"Sebenarnya aku ingin membawa bekal. Tetapi, aku tidak sempat membeli persediaan makanan karena kemarin keasyikan berkemas. Selain itu, peta denah sekolah dan wilayahnya masih sering membingungkanku," ujarku.

"Souka. Kalau begitu, lain kali apa kamu mau berbelanja bersamaku? Ada banyak bahan makanan yang disediakan toko sembako sekolah."

"Benarkah? Ya! Ajak saja aku jika kamu akan pergi."

"Yo, Fuka, Scarlet!"

Panggilan itu menghentikan obrolan dan langkah kami, "Caramia-sensei!"

"Bagaimana, Fuka? Sudah terbiasa dengan lingkungan sekolah?"

"Ha'i! Okagesama de, genki desu!"

"Begitukah? Baguslah! Jangan sungkan berbagi masalahmu, ya. Pasti akan kudengar."

"Ha'i!"

"Ternyata kau ada di sini, ya, Caramia."

"?" kami serempak melihat ke asal suara.

"Aku telah mencarimu ke mana-mana," ujar Kyrie-sensei yang terlihat jengkel.

"Oh? Ada apa, Kyrie?"

Ng? Sepertinya, percakapan ini tidak asing bagiku. Tapi, di mana aku pernah melihatnya, ya?

Yang terjadi selanjutnya adalah Kyrie-sensei memarahi Caramia-sensei (yang berusaha membela diri) karena lupa membagikan selebaran entah apa.

Ng? Oh, aku ingat! Ini terjadi di episode 2!

Karena kejadian itu, Scarlet terjebak dan bergabung ke Klub Remedial milik Kyrie-sensei. Ugh, sebisa mungkin aku ingin menghindari tragedi tersebut jika saja terjadi padaku. Urusan belajar saja aku sudah kerepotan, ditambah pula dengan berbagai hal—maksudku masalah dan semacamnya—yang bisa mengancam kehidupanku.

Singkatnya, aku pun sama seperti manusia biasa: ingin hidup normal dalam kedamaian.

"?" aku kembali tersadar akan situasi di hadapanku dan mencoba melerai mereka, "Ano…"

Kyrie-sensei sekarang mengoceh tentang betapa mudahnya hidup jika segala hal bisa selesai dengan kata "Maaf" dan menyebutkan berbagai organisasi yang tidak kutahu.

"P-Permisi, Sensei," aku diabaikan sepenuhnya, "S-SUMIMASEN!"

Mereka bertiga tampak terperangah dan menatapku heran. Ya ampun! Apa yang baru saja kulakukan? Segera aku membungkukkan diri.

"S-Sumimasen deshita! Aku tidak bermaksud berteriak seperti itu!"

"Ah, ternyata ada dua murid payah di sini."

GLEK! Tubuhku tiba-tiba merinding. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini!

"Payah? Oi, oi. Sudah cukup kau menyebut Scarlet seperti itu sebelumnya—"

"Tidak. Murid gagal bimbinganku memang mengalami perubahan," mata Kyrie-sensei yang detik sebelumya terpejam tiba-tiba menatapku, "Tetapi, rupanya murid baru ini memiliki jalur nasib menyedihkan yang sama seperti dia."

Ekh?! Aku tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa tersenyum kikuk. Rasanya, percakapan ini agak berbeda dari yang kuingat?

"Apa maksudmu?" tanya Caramia-sensei, dan Scarlet yang tadinya minder jadi penasaran, "?"

"Yah, aku telah melihat hasil tes salah satu pelajaran di kelasnya kemarin. Dan, hasilnya buruk. Benar-benar buruk."

Hah? HEI! Dari mana kau mengetahuinya?!

"Ah, jika kamu bertanya-tanya, sebenarnya akulah yang menangani dokumen nilai-nilai murid. Jadi, mudah saja bagiku untuk mendapatkannya dari guru-guru lain," ucap Kyrie-sensei yang seolah mengetahui pikiranku.

Ah… Nasibku… Mengapa begini…?

"Tenang saja, Fuka! Yang terpenting adalah menerima kekuranganmu dan memperbaiki kesalahanmu! Benar, kan?"

"Caramia-sensei!" Kau memang guru yang baik! Aku bersyukur wali kelasku adalah dirimu!

"Sensei benar, Fuka! Semangatlah! Aku juga akan berjuang bersamamu!"

"Scarlet!" Kau memang teman yang baik! Aku bersyukur teman pertamaku adalah dirimu!

"H-Ha'i!"

Terdengar suara tawa kecil, "Aku ingin tahu seberapa lama kamu akan bertahan," senyum Kyrie-sensei sangat mencurigakan, "Namun, aku ini juga seorang guru. Aku mungkin bisa membantumu menyelesaikan masalah ini dengan melakukan remedi."

"Aku menolak."

Perdebatan antara Caramia-sensei dan Kyrie-sensei pun 'tak terelakkan. Ini persis sama seperti yang pernah kutonton. Caramia-sensei menolak dan curiga, namun Kyrie-sensei memiliki alibi yang langsung mematahkan perlawanannya.

Dan, di titik itulah dia 'tak mampu berkutik.

HUUUAAAAAA!

Aku memang ingin segera kembali ke kehidupanku, tapi bukan berarti aku akan menelantarkan kehidupan yang kujalani ini! Mendapatkan prestasi yang baik di sekolah adalah salah satu cara untuk bertahan hidup! Aku tidak mau nantinya menjadi orang buangan!

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencerocosi Kyrie-sensei dengan segala kepanikanku, "Bagaimana cara untuk memperbaiki nilai saya?! Apakah nilai saya bisa naik jika melakukan apa yang Anda katakan?!"

"Tentu saja, selama kamu mau bergabung dengan klub yang aku sarankan. Kujamin."

"Fuka!" (Caramia & Scarlet)

Kh, tidak ada pilihan lain!

"Yoroshiku onegai shimasu!"

Kyrie-sensei tersenyum penuh kemenangan menerima surat permohonan bergabungku, lalu menyimpannya ke saku kemeja, "Kurasa urusanku di sini sudah selesai," dia beralih lagi kepadaku, "Kegiatan klub dimulai setiap pulang sekolah. Datanglah besok. Pastikan kamu datang tepat waktu."

Aku hanya bisa membalas seadanya. Dia langsung berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan kami bertiga yang terdiam mematung. Aku sedikit menghela nafas lega—satu masalah sudah menemukan jalan keluar.

Tunggu.

Apa yang barusan telah terjadi?

"EEEEEHHH?!"

T-T-Tu-Tunggu dulu! Apa yang baru saja telah kulakukan?! Apakah tadi aku… aku… AAAARRGHH!

"SCARLET!" aku berbalik dan mencengkeram kedua bahu temanku itu, "Apa yang baru saja kulakukan?! Itu tadi hanya halusinasi, kan?! Aku bergabung ke klub milik Sensei, itu hanya imajinasiku, kan?!" tanyaku panik sambil menguncang-guncangnya untuk mendapatkan kebenaran.

Scarlet tampak pusing akibat kelakuanku—Aku minta maaf untuk itu, tapi rasa panik telah menguasaiku.

"A-Ano… Fuka… Iie… Yang barusan itu…" aku menelan air ludah dengan susah payah menunggu jawabannya, "Itu… benar-benar terjadi. Bukan halusinasi atau imajinasimu."

"…" aku hanya bisa terdiam membisu. Ya, seharusnya aku tahu hal yang benar-benar terjadi di depan mata mustahil menjadi fatamorgana. Ini… benar-benar menusuk hati dan pikiranku.

"C-Caramia-sensei," aku menghadap ke wali kelasku dengan putus asa, "Tolong bantu saya!"

"Maafkan aku, Fuka. Tapi, aku tidak bisa membantumu karena kau telah masuk ke perangkap Kyrie."

"…" Jujur, kali ini aku benar-benar syok. Bahkan, satu-satunya cahaya harapanku pun tidak bisa membantuku terlepas dari jeratan guru terhormat yang licik itu.

"Maaf, Fuka. Andai aku bisa membantumu." (Caramia)

"F-Fuka…" (Scarlet)

Andai aku bisa mengutuk takdir yang sangat jahil ini. Tidak, mungkin merutuki kecerobohan diri sendiri adalah yang terbaik. Padahal, aku ingin menghindari bergabung ke Klub Remedial demi keberlangsungan hidupku. Dan, pada nyatanya tadi aku telah menggali kuburanku sendiri—Lebih tepatnya, aku telah melangkah ke jalan penuh jebakan.

Aku tersadar dari bengonganku, lalu menatap Caramia-sensei dan Scarlet bergiliran tanpa benar-benar mendengarkan omongan mereka. Yah, benar juga. Mungkin, inilah takdir yang disuratkan Tuhan untukku. Aku harus bertahan demi semua orang, Fuka yang sebenarnya, dan tentu saja diriku sendiri.

Aku menarik dan menghembuskan nafas dengan perlahan. Benar, hidup adalah panggung sandiwara dan tidak akan menarik jika selalu damai. Baiklah! Sepulang sekolah aku akan ke perpustakaan sekolah untuk mencari buku referensi—dan, mungkin aku bisa mendapatkan buku yang berkaitan dengan sejarah kota dan sekolah.

Yosh! Saatnya bangkit, lalu sepulang sekolah mencari buku penunjang belajar dan buku yang memuat tentang kota dan Akademi Oz. Ganbarimasu!


~ Author ground ~

Author: Assalamu'alaikum, Moshi-moshi, Minna! :)

Tak banyak yang bisa saya ucapkan (baca: ketikkan) karena words yang lagi-lagi sudah melampaui perkiraan saya. _|| -_-

Rasio & Dark Sarah: Silakan memberi kritik, saran, dan komentar! :) Akhir kata, hontou ni arigatou gozaimasu, terima kasih atas perhatian dan pengertiannya, dan sampai jumpa~! :D O:)

RnR? :)


Hari sudah malam dan pemandangan kota terlihat cantik dari sini. Syukurlah! Dengan begini aku kembali memiliki tenaga. Tapi, ugh, buku-buku yang kupinjam ini memang berat! Padahal, aku baru saja melangkah keluar dari perpustakaan.

Ah, tapi, ada hal 'tak terduga yang telah kutemukan. Perpustakaan sekolah yang memiliki gedung tersendiri ternyata dijaga oleh Melisus-sensei dan Romeo si katak inspektur! Dan, Aelling-san yang juga masih memakai seragam sepertiku pun ada di sana sebagai asisten! Padahal, karakter mereka tidak tampak sedikit pun di anime.

Ng? Sepertinya, aku mengenal sosok itu. Oh, Kyrie-sensei! Walau senang bisa bertemu orang yang kukenal, tetapi aku merasa ragu untuk menyapanya.

Apa yang telah terjadi tadi pagi itu… Tapi… Yah, sudahlah. Sapa saja. Hitung-hitung menghormati guru sendiri.

"Kukira hari ini aku bisa pulang lebih cepat. Dasar singa bodoh itu—"

"Sensei, konbanwa!"

"Kupikir siapa, ternyata dirimu."

"Ya, kebetulan saya baru saja akan kembali ke asrama."

"Apa kamu sedang belajar di perpustakaan?"

"A-Ah, iya. Begitulah…"

Pertanyaan itu… Aku tidak bisa menjawab jujur sepenuhnya. Maaf, Sensei!

"Kerja kerasmu itu hanya buang-buang waktu."

JLEB! Ah, haha. Aku memang tidak terkejut, namun tetap saja menohok hati.

Benar juga! Ada hal yang sedari tadi membuatku penasaran. Lebih baik kutanyakan saja sekarang.

"Ano, Sensei! Apakah yang Anda katakan di sekolah tadi benar? Tentang klub dan yang lainnya juga."

"Omonganku memang benar, kok."

"Bukankah Sensei juga mengajar dan memiliki tugas lain? Lalu, mengapa membuat Klub Remedial?"

Nah, hal ini juga membuatku penasaran.

"Agak merepotkan memang, tapi inilah tugas seorang guru terhadap muridnya yang bodoh."

"Sensei…"

Ternyata memang benar. Walau di luar bersikap sadis, namun Kyrie-sensei sebenarnya peduli terhadap orang lain. Yah, setidaknya aku jadi bisa sedikit mempercayainya.

"Aku tak akan berbaik hati padamu. Jadi, bersiap-siaplah."

Matanya yang tampak mengintimidasi kembali menatapku, dan dengan ketegasan yang ada aku membalas optimis, "Ha'i!"

~ To Be Continued ~