Sudah satu bulan berlalu semenjak kejadian dimana Seokjin masuk rumah sakit karena tumbang. Kini kondisinya sudah jauh lebih baik dan dia juga sudah mampu untuk mengikuti kegiatan BTS seperti biasanya. Jadwal latihan dan jadwal perform dapat dia ikuti dengan baik. Meski dengan catatan dia tidak boleh terlalu lelah.

Hari ini BTS akan bertolak ke Jepang untuk melakukan konser mereka. Semua telah bersiap dengan beberapa koper berisi keperluan mereka telah tertata rapi di depan gedung dorm. Hanya tersisa Taehyung yang masih di kamarnya sambil memakai jaketnya.

Cklekk.. Pintu kamarnya di buka seseorang. Dan Seokjin muncul dari balik pintu bercat cokelat itu. Yah, memang namja bertubuh tinggi dan tegak itu langsung menghampiri Taehyung dan langsung memegang kening Taehyung. Betapa terkejutnya namja yang memiliki keahlian dalam memasak itu saat merasa suhu panas dari tubuh Taehyung.

"Taehyung-ah, kau demam? Badanku panas." Ungkap Seokjin dengan nada khawatir.

"Aniyo, nan gwaenchana, Hyung." Sahut Taehyung sambil menepis lembut tangan Seokjin dari keningnya.

"Apanya yang baik-baik saja? Badanmu panas dan ini wajahmu saja pucat, bagaimana mungkin kau masih bisa mengatakan kalau kau baik-baik saja?" Nada suara Seokjin meninggi.

"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu..."

Hueeekkkk... Belum sempat Taehyung melanjutkan kalimatnya, ada suara yang membuat perhatiannya dan Seokjin teralihkan pada suara itu. Tanpa aba-aba, Seokjin berlari ke arah sumber suara itu. Belum selesai dengan keterkejutannya akan keadaan Taehyung, Seokjin dikagetkan dengan kondisi dongsaeng-nya yang lain, Jimin.

"Jimin-ah, kau baik-baik saja?" Seokjin memijat perlahan tengkuk Jimin, agar Jimin dapat muntah dengan nyaman. Jujur saja, kekhawatiran Seokjin semakin menjadi.

"Aku tidak tahu, Hyung. Badanku rasanya lemas dan berat. Perutku melilit." Adu Jimin pada Seokjin sambil mengusap mulutnya.

"Lebih baik kita kembali ke kamar, kau harus istirahat." Seokjin memapah Jimin.

"Tapi, bagaimana dengan konser kita di Jepang?"

"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Aku akan membicarakannya dengan Manager Hyung juga Namjoon. Kau hanya perlu istirahat."

"Mianhae, Hyung. Lagi-lagi aku jadi beban untukmu dan yang lainnya."

"Aniyo, kau tidak pernah menjadi beban untuk kami. Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk saling membantu satu sama lain."

"Loh, Taehyung?! Kenapa kau ada disini?" Tanya Jimin saat menyadari keberadaan Taehyung di kamar sambil menggunakan selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya.

"Dia juga sakit." Jawab Seokjin mewakili Taehyung. "Kalian tidur saja, aku akan memberitahu Manager Hyung dan yang lainnya."

"Tapi, Hyung..." Jimin dan Taehyung berucap secara bersamaan.

"Tidak ada tapi-tapian. Kalian harus istirahat kalau kalian tidak ingin kondisi kalian semakin parah."

Dengan langkah yang terburu-buru, Seok jin berlari keluar dorm untuk memberitahukan kondisi Jimin dan Taehyung pada yang lain. Raut wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yang sangat besar. Namun saat melangkahkan kakinya di ruang tengah, langkah kakinya terhenti. Tangannya bergerak memegang kepalanya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut.

"Eeerrgg..." Seokjin merintih pelan menahan rasa sakit yang semakin terasa menyiksa. Dia merasa tubuhnya seakan melayang.

Seokjin berpegang pada meja di dekatnya, berusaha agar dirinya tak sampai jatuh. Nafasnya terdengar cepat dan tak beraturan. Wajahnya langsung memucat dan keringat mulai mengalir deras dari keningnya.

Ingin rasanya untuk beristirahat sebentar untuk sejenak menenangkan tubuhnya, namun saat teringat dengan kondisi kedua dongsaeng-nya yang tengah sakit di kamar. Dia berusaha untuk menahan rasa sakit dan berusaha untuk memulihkan tenaganya.

Dia kembali berjalan meski sedikit tertatih. Satu hal yang ia tahu, ia hanya perlu keluar dimana dongsaeng yang sekaligus member satu grup dengannya berada.

"Namjoon-ah.." Seru Seokjin memanggil Namjoon yang tengahtengah mengobrol dengan Yoongi. Sontak Namjoon langsung menghentikan obrolannya dengan Yoongi dan beralih pada Seokjin.

"Waeyo, Hyung?" Tatap Namjoon penuh tanya. "Bukankah kau tadi masuk untuk memanggil Taehyung? Kenapa kau sendirian?"

"Itu dia yang ingin aku katakan, Taehyung dan Jimin sakit. Sepertinya kita tidak mungkin ke Jepang sekarang."

"Mwo? Bagaimana mungkin?" Tampak jelas Namjoon terkejut dengan pernyataan Seokjin barusan. "Apa sakit mereka sangat parah?"

"Sepertinya cukup parah. Taehyung demam tinggi, Jimin tadi muntah-muntah. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka."

"Kalian coba periksa keadaan mereka berdua dulu, aku akan menghubungi Manager Hyung dulu." Namjoon langsung mengambil handphone dari saku celananya.

Seokjin masih mematung di tempatnya, kepalanya menunduk. Nafasnya terdengar pelan dan seperti dia sedang merasakan sesak di dadanya.

"Hyung..." Namjoon memegang bahu Seokjin. "Kau tenang saja, mereka berdua pasti baik-baik saja." Seakan tahu apa yang dipikirkan Seokjin, Namjoon yang berstatus sebagai leader BTS mencoba menenangkan Seokjin yang sudah dianggapnya hyung-nya sendiri.

"Aku..." Seokjin mengangkat kepalanya dan menatap Namjoon dengan tatapan sendu.

"Hyung.." Namjoon kembali menepuk pelan bahu Seokjin. "Kau tunggu disini sebentar, aku akan menghubungi Manager Hyung dulu."

Tak lama setelah Namjoon menelpon sang Manager, Namjoon kembali menghampiri Seokjin. Saat melihat Seokjin, Namjoon langsung menghampiri Seokjin. Kepanikan terlihat jelas di wajah Namjoon. Kepanikan bukan tanpa alasan, dia panik melihat Seokjin duduk di lantai sambil memegangi kepalainya.

"Kau baik-baik saja, Hyung?" Namjoon menangkup wajah Seokjin dan menatapnya lekat.

"Entahlah, kepalaku sakit." Sahut Seokjin dengan memekakkan matanya. Jelas, Seokjin tengah menahan sakit.

"Kita masuk." Namjoon memapah Seokjin. "Sepertinya tidak hanya Taehyung dan Jimin yang sakit. Sepertinya kau juga sedang tidak dalam keadaan yang baik."

"Entahlah." Seokjin menyandarkan tubuhnya pada Namjoon.

"Sepertinya kita tidak mungkin berangkat ke Jepang sekarang." Ungkap Namjoon sambil membaringkan Seokjin di tempat tidur.

"Aku rasa juga seperti itu. Maaf, aku belum mampu menjaga kalian. Bahkan aku tidak mampu menjaga diriku sendiri." Ungkap Seokjin ditengah rasa sakit yang dia rasakan.

"Aniya, Hyung. Selama ini kau sudah merawat kami dengan sangat baik. Dan kau sendiri sampai lupa untuk merawat dirimu sendiri sampai sakit." Namjoon memegang kening Seokjin. "Kau tidak demam. Apa yang kau rasakan, Hyung?"

"Aku hanya pusing. Mungkin dengan tidur sebentar akan membaik. Kau temani Taehyung dan Jimin saja."

"Mereka berdua sudah ditemani yang lain, kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Kau khawatirkan dirimu sendiri saja." Namjoon menarik selimut untuk menyelimuti Seokjin. "Kau istirahat dulu saja, Hyung.."

Tak berapa lama kemudian, Sang Manager pun datang dengan rasa kepanikan yang memuncak. Bagaimana tidak? Tiga orang anak asuhnya tengah sakit dalam waktu yang bersamaan. Dengan langkah yang terburu-buru, dia menuju ke kamar para anak asuhnya itu.

"Yoongi-ah, bagaimana keadaan Jimin dan Taehyung?" Tanya Sang Manager sembari duduk di tepi ranjang Taehyung.

"Taehyung masih demam, Hyung. Kalau Jimin dia bilang masih mual." Jawab Yoongi.

"Sejak kapan mereka sakit?"

"Aku tidak tau, Hyung. Yang menemukan mereka berdua sakit adalah Seokjin Hyung."

"Oh ya, hampir saja aku lupa. Lalu, bagaimana keadaan Seokjin?"

"Seokjin Hyung?" Yoongi mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Seokjin. Namun, dia tak menemukan namja yang dicarinya itu. "Aku baru sadar kalau Seokjin Hyung tidak ada."

"Tunggu dulu, Hyung. Kenapa kau menanyakan keadaan Seokjin Hyung? Bukankah Seokjin Hyung baik-baik saja."Tanya Hoseok pada sang Manager.

"Namjoon tadi mengatakan kalau Seokjin juga dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sekarang mereka berdua ada dimana?"

"Mungkin mereka ada di kamarnya." Jawab Yoongi.

"Ambulan akan segera datang, kalian tunggu disini dan mengontrol keadaan mereka berdua. Aku akan ke kamar Seokjin."

Setelah kepergian sang Manager, Jungkook bergerak duduk di antara kedua hyung kesayangannya itu. Dia tampak sangat sedih melihat keadaan kedua hyung-nya itu. Pasalnya kedua namja yang terbaring lemah itu adalah hyung sekaligus teman bermain yang mampu mengimbangi kegilaannya.

"Hyung, cepat sembuh. Aku benci melihat kalian berdua seperti ini. Kalau tidak ada kalian berdua, aku harus bermain dengan siapa? Hyung yang lain tidak mungkin bermain denganku, yang ada mereka akan menyuruhku duduk diam di tempat. Kalian tahusendiri, aku tidak pernah bisa diam.." Ungkap Jungkook dengan kesedihan yang terdengar jelas dari ucapannya.

"Kalian harus cepat sembuh dan temani aku bermain." Meskipun usianya sudah menginjak usia 20 tahun, namja satu ini tetaplah seorang maknae yang manja.

"Kau tenang saja. Mereka akan baik-baik saja." Hoseok mengusap perlahan rambut Jungkook.

Sementara itu, Seokjin masih terbaring dengan mata tertutup dan ditemani oleh Namjoon yang setia menjaganya. Kedua mata Namjoon tak pernah beralih dari wajah pucat Seokjin. Khawatir? Sudah pasti dirasakannya. Namun dia sebisa mungkin untuk tidak panik. Ia sadar kepanikannya hanya akan memperburuk suasana.

"Hyung..." Namjoon terkejut dengan kehadiran sang Manager di kamar Seokjin.

"Bagaimana keadaan Seokjin?" Tanya Sang Manager pada Namjoon sembari memegang kening Seokjin untuk memeriksa suhu tubuh Seokjin.

"Dia tidak demam, tapi katanya dia merasa sangat pusing. Tadi dia sampai berkeringat banyak." Jawab Namjoon.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kita bawa mereka bertiga ke rumah sakit. Sekalian kalian semua melakukan pemeriksaan kesehatan."

"Aku juga berpikir seperti itu."Tambah Namjoon.

"Mian, liburan kita sebelum konser batal karena aku." Tiba-tiba suara Seokjin terdengar. Ternyata namja yang bersurai blonde ini sudah membuka matanya.

"Tidak, Hyung. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Begitu juga dengan Taehyung dan Jimin. Kalian tidak salah, karena memang tidak ada yang salah. Kalian sakit juga bukan kemauan kalian. Kami mengerti." Namjoon memegang tangan Seokjin yang terasa dingin.

"Aku sudah memanggil ambulans, kalian tunggu saja." Ungkap snag Manager. "Namjoon-ah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Ada apa, Hyung?" Tanya Namjoon.

"Kita bicara di luar saja. biarkan Seokjin istirahat."

"Oh, baiklah." Namjoon melepas genggaman tangannya. "Hyung, kami keluar dulu. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa memanggilku atau yang lain."

Sepeninggal Namjoon dan sang Manager, di kamar yang cukup luas itu hanya tertinggal Seokjin sendirian. Namja tampan itu tampak pucat. Bibirnya yang biasanya terlihat merah merona kini terlihat memutih. Rambutnya terlihat basah karena keringat yang senantiasa keluar dengan derasnya.

"Kenapa aku harus sakit seperti ini lagi? Seharusnya aku bisa menjaga yang lain. Tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya." Seokjin menatap sendu figura foto seluruh member BTS yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya

Hari telah beranjak sore. Sang surya hampir tenggelam untuk kembali ke singgasananya dan digantikan oleh sang rembulan. Langit memerah menandakan waktu malam akan segera tiba. Tampak sekelompok namja tengah berkumpul di salah satu ruang bernuansa putih di satu rumah sakit. Ada tiga orang di antara mereka yang terbaring lemah dengan jarum infus menancap di lengan kanan mereka.

Salah satu di antara mereka yang diketahui bernama Kim Taehyung tengah terlelap. Wajahnya mengisyaratkan kelelahan yang tengah melanda tubuhnya. Bagaimaan tidak? Kondisinya baru saja membaik setelah demam tinggi mendera tubuhnya.

Begitu pula dengan Jimin, meskipun dia tidak tidur, dia juga terlihat sangat lelah. Pasalnya hampir seharian dia terus muntah karena merasa perutnya mual. Baru makan beberapa suap makanan saja, dia sudah kembali memuntahkannya. Namun, kini kondisi sudah lebih membaik dibandingkan dengan saat pertama kali dia ditemukan dengan muntah.

Tak jauh berbeda dengan kondisi Taehyung dan Jimin, namja berstatus sebagai mat hyung, Seokjin juga tengah terbaring lemah. Namun, dia tak tampak sesakit yang lain. Yah dia telah tidur sejak dibawa ke rumah sakit. Dia baru saja bangun dari tidurnya.

Pembatalan keberangkatan BTS ke Jepang cukup membuat banyak orang memberitakannya. Terlebih lagi setelah diketahui jika ada tiga member yang jatuh sakit sampai dibawa ke rumah sakit. Tentu itu berita yang sangat menggemparkan. Terlebih bagi ARMY, sebutan fans BTS. Mereka panik bukan main saat mengetahui ada tiga idola mereka masuk rumah sakit.

"Karena liburan kita sebelum konser batal, jadi kalian harus istirahat dengan benar. Jangan sampai ada yang sakit lagi. Konser tetap akan dilaksanakan." Ungkap sang Manager dengan tenang. "Dan untuk kalian yang sakit, kalian akan dirawat disini sampai besok. Dokter mengatakan kalau kalian bertiga harus istirahat total selama dua hari."

"Ne. Kami mengerti."

Dua hari telah berlalu sejak Seokjin, Taehyung, dan Jimin jatuh sakit. Kondisi ketiganya sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu. Kini ketiganya sudah bisa melakukan segala hal yang mereka inginkan setelah tiga hari istirahat total. Yah, selama tiga hari ketiganya tidak boleh melakukan apapun selain tidur di atas tempat tidur mereka masing-masing.

Dari ketiganya hanya tersisa Seokjin yang masih tampak pucat dan sedikit lesu. Namjoon dan Yoongi dengan setia menemaninya dan bersiap melakukan apapun yang Seokjin pinta. Sementara Taehyung dan Jimin sudah bisa berkumpul dan bermain dengan golden maknae BTS, Jungkook.

Seokjin kini tengah berada di kamarnya. Duduk di tempat tidurnya sembari memandangi wallpaper handphone-nya. Wallpaper handphone-nya bukanlah fotonya sendiri melainkan foto seluruh member BTS saat foto bersama di pantai. Senyuman terlihat jelas di bibir merahnya.

"Jin Hyung?!" Seru seseorang yang memanggil namanya dan langsung membuyarkan lamunannya.

"Oh, kau Namjoon-ah. Ada apa?" Tanya Seokjin pada Namjoon yang kini telah berdiri di depannya.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, Hyung. Aku takut kau sakit lagi." Namjoon tersenyum menatap keadaan Seokjin yang baik-baik saja.

"Duduklah disini. Ada yang ingin aku katakan padamu."

Namjoon berjalan mendekati Seokjin. Dia duduk di samping namja tampan itu. "Ada apa, Hyung? Sepertinya ini hal yang serius?"

"Sepertinya aku tidak akan lama lagi di Bangtan."

Satu kalimat yang Seokjin katakan baru saja membuat Namjoon seketika menatap Seokjin dengan tatapan penuh pertanyaan atau lebih tepatnya kaget. Bagaimana tidak? Namja yang merupakan mat hyung di grup yang sudah dia pimpin sejak lama tiba-tiba mengucapkan kalimat yang sangat mengejutkan.

"Aku tau kau pasti terkejut dengan keputusanku ini. Tapi inilah keputusan yang harus aku ambil. Aku tidak bermaksud bersikap egois, tapi aku tidak akan mampu untuk tetap bersama kalian." Ungkap Seokjin tanpa membalas tatapan Namjoon.

"Apa maksud perkataanmu, Hyung? Apa yang ada di otakmu sampai kau mengucapkan hal seperti itu?" Namjoon menarik tangan Seokjin dan memegangnya dengan erat. Namja yang menjabat sebagai leader di BTS ini sangat terkejut dengan apa yang baru saja Seokjin katakan.

Apa yang Seokjin baru saja katakan merupakan salah satu kalimat paling di larang dalam sebuah grup. "Apa yang membuatmu melakukan hal ini? Apa kami punya salah? Kalau memang iya kami melakukan kesalahan, tolong katakan apa kesalahan kami. Jangan bersikap seperti ini."

"Bukan, ini bukan karena kalian. Semua ini keinginanku sendiri. Aku tidak pantas ada di sisi kalian." Seokjin melepas perlahan genggaman tangan Namjoon.

Dengan airmata yang sudah menggenang di kedua mata indahnya, Seokjin berdiri. "Mianhae.." Hanya itulah yang Seokjin ucapkan sebelum dia melangkahkan kaki meninggalkan Namjoon. Namja itu berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Namjoon sendirian.

Merasa tak mendapatkan jawaban atas apa yang ditanyakannya, Namjoon mengejar Seokjin. Langkah kaki Seokjin cukup cepat hingga kini dirinya dan Namjoon sudah berada di luar gedung. Dan seolah mengerti perasaan mereka, hujan turun dengan derasnya. Namun dengan hujan itu, tak menghentikan langkah kaki Seokjin ataupun Namjoon yang mengejar Seokjin. Bukannya menyerah, Namjoon mempercepat langkah kakinya mengejar Seokjin yang sudah berada cukup dekat dengannya.

Srett.. Namjoon berhasil mengejar Seokjin dan dia menjangkau tangan putih Seokjin. Dia menarik Seokjin dan menghadapkan namja itu padanya. Satu hal yang ingin dia inginkan. Dia hanya menginginkan satu hal, yaitu jawaban atas pertanyaannya.

"Hyung, jeball... Jangan seperti ini! Katakan padaku apa alasanmu ingin meninggalkan BTS? Apa masalahmu?" Tanya Namjoon dengan nada keras. "Bukankah kita ini keluarga? Apa kau sudah tidak menganggap kami keluargamu lagi?!"

Ucapan Namjoon membuat Seokjin terkejut. Sontak dia menatap Namjoon dengan kedua matanya. Bukan hal itu yang dia ingin dengar. Bagaimana mungkin dia tidak menganggap BTS keluarganya setelah waktu lama yang mereka lewati. Dari mulai trainee sampai semua orang mengenal mereka, mereka selalu melewati waktu bersama.

"Aniya.. Kalian adalah keluargaku."

"Kalau kau memang menganggap kami sahabatmu, kenapa kau melakukan hal ini? Katakan padaku?"

"Mianhae, Namjoon-ah. Aku tidak bisa.."

"WAEYO?!!!" Kesabaran Namjoon sudah habis. Kali ini dia berteriak atau lebih tepatnya membentak Seokjin.

"Mianhae.."

"Aku tidak membutuhkan maaf darimu. Aku hanya butuh jawaban darimu, Hyung." Ungkap Namjoon dengan nada tinggi lagi.

"Aku... Aku..."

"Namjoon-ah, apa yang kau lakukan? Berani sekali kau membentak Seokjin Hyung?!" Suara seseorang dari belakang Namjoon membuat suasana yang sudah tegang semakin menegang.

"Yoongi-ah..." lirih Seokjin. Ya, namja dibalik Namjoon adalah Yoongi atau Suga.

Tak ada satu ucapan yang keluar dari mulut ketiganya. Mereka hanya saling tatap tanpa mengeluarkan suara apapun. Hanya Yoongi yang menatap bingung ke arah Seokjin dan Namjoon. Sementara itu, raut ketakutan dan kekhawatiran tampak jelas di wajah tampan Seokjin. Satu hal yang Seokjin takutkan adalah Yoongi mendengar semua yang dia bicarakan dengan Namjoon.

"Kenapa kau memarahi Seokjin di tengah hujan seperti ini? Seokjin Hyung baru saja sembuh, kau membuatnya sakit lagi?!" Sentak Yoongi.

"Aniya, Yoongi-ah."

"Kau tidak usah membelanya, Hyung. Dia tidak sepatutnya melakukan hal itu padamu. Kau itu lebih tua darinya, tidak sepantasnya dia berbicara seperti itu."

"Aku melakukan itu bukan tanpa alasan. Aku melakukannya karena aku memiliki alasan." Namjoon membela diri.

"Alasan seperti apa sampai kau melakukan hal itu."

"Aku melakukannya karena..." Kalimat Namjoon terhenti saat dia melihat wajah Seokjin. Dia melihat Seokjin menggelengkan kepalanya yang dia tahu jika itu artinya Seokjin tidak ingin dia memberitahukannya pada Yoongi. "Alasanku adalah..."

"APA ALASANMU, NAMJOON-AH?!!!!!!"

Gelengan kepala Seokjin semakin cepat yang Namjoon lihat. Seokjin benar-benar tidak ingin Namjoon memberitahu Yoongi atas apa yang telah terjadi.

"Jebal, Namjoon-ah.. Jangan katakan!" Seru Seokjin dalam hati. Namja itu berharap Namjoon mendengar harapannya itu.