.

Kalimat italic = Mimpi

.

Terlihat seorang anak lelaki tengah duduk di ayunan yang berada di bawah pohon sakura milik keluarganya. Ia mengenakan hanfu berwarna biru langit dengan motif naga berwarna emas. Rambut panjangnya tidak ia ikat seperti biasanya karena Sang ratu yang juga merupakan ibunya mengatakan kalau hari ini seseorang dari kerajaan sebelah akan datang berkunjung ke istana mereka. Raut wajahnya nampak berseri-seri setelah tadi menguping pembicaraan para pelayan yang mengatakan bahwa dirombongan kerajaan yang berkunjung juga akan ada anak lelaki seumurannya.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai berputar di kepalanya, seperti apa yang akan ia sukai? apa dia ramah? apa ia suka dengan ikan koi? apa ia manis dan tampan? apa ia pendiam? dan lain sebagainya.

Saat tengah berkutat dengan pikirannya sendiri, ia dikejutkan dengan suara-suara riuh dari depan gerbang istana. Ia pun segera berlari tanpa mempedulikan sahutan dari para pelayannya agar ia berhati-hati.

Ketika ia telah tiba ditujuannya, ia tidak segera menemui ibunya yang kini tengah menyambut utusan kerajaan sebelah melainkan bersembunyi di balik pilar untuk memantau dimanakah gerangan bocah lelaki yang seumurannya tersebut. tetapi niatnya tersebut segera pupus saat paman dari ayahnya mendapatinya dan malah menariknya menuju ibunya.

Ia kesal tentu saja, terlihat jelas dari bibirnya yang ia cebikkan.

Ibunya yang menyadari hal tersebut segera mengelus kepalanya lembut.

"Lihat di sana." Ujar ibunya.

Ia pun menolehkan kepalanya ke arah yang ibunya tuju. Nampak seorang bocah lelaki seumurannya tengah bersembunyi dibalik hanfu Sang ratu kerajaan sebelah dengan tatapannya yang malu-malu.

'Ia pemalu rupanya.' Pikirnya dalam hati. Ia pun tersenyum lebar saat melihat bocah lelaki yang ternyata juga merupakan seorang pangeran cilik sama sepertinya.

Saat ia hendak melangkah mendekati Si pangeran kecil, ayahnya yang seorang raja memegang pundaknya, lantas ia segera berbalik menatap ayahnya meminta penjelasan.

"Zizi jangan nakal, sopanlah sedikit." Kata ayahnya tegas.

Zizi yang diberitahu oleh ayahnya akhirnya menundukkan kepalanya dan memundurkan langkahnya. Ibunya yang melihat Zizi yang murung, menyamakan tinggi badannya dengan anak semata wayangnya itu untuk kemudian berbisik.

"Sebentar ya Zizi, kamu pasti akan segera berkenalan dengannya, jadi bersabarlah."

Zizi yang diberitahukan seperti itu segera menatap wajah Sang ibu dan tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi susu serta gigi taring kanannya yang ompong.

"Tentu ibu, Zizi akan bersabar." Ia terkekeh pelan setelahnya, melihat hal itu ibunya pun mengulas senyum manis.

Acara penerimaan untuk kerajaan sebelah yang datang berkunjung cukup meriah. Kedua raja dan beberapa petinggi masih sibuk melakukan pertemuan. Para ratu pun demikian, mereka membahas seputar keluarga dan kesibukan sehari-hari di taman kerajaan yang cukup rindang untuk mereka saling berbincang ditemani oleh beberapa pelayan setianya. Sama halnya dengan kedua pangeran kecil dari kerajaan yang berbeda itu, mereka berdua melakukan pertemuan rahasia di taman kesukaan Zizi, dimana kolam ikan koi peliharaannya serta ayunan pohon sakura miliknya berada.

"Aku Zizi, namamu siapa?" ia bertanya dengan semangatnya tanpa menghiraukan teman barunya yang nyatanya masih merasa malu karena baru pertama kalinya ia berbicara dengan orang seumurannya.

Mulut mungilnya tergerak untuk menyampaikan sesuatu meskipun ragu.

"Ak.. Aku Yiyi."

Mata Zizi berbinar mendengar penuturan Yiyi. "Benarkah?" tanyanya lagi antusias yang hanya dibalas oleh anggukan.

Zizi mendekati Yiyi dan memegang pundaknya. "Kamu punya nama yang sama dengan ikan koi ku." Katanya sambil tersenyum lebar.

Yiyi yang mendengar penuturan Zizi hanya bisa terdiam.

"Kenapa kau hanya diam Yiyi?" Zizi mampilkan raut kebingungan melihat teman barunya itu hanya terdiam sambil memandangnya.

'Apa dia tersinggung?' Tanya Zizi dalam hati.

Zizi yang tidak enak hati akhirnya tertawa canggung.

"Ah bagaimana kalau kau ku beri ikan koi ku?"

"Koi?" Bukannya menjawab pertanyaan Zizi, Yiyi justru melontarkan pertanyaan baru.

Zizi menganggukkan kepalanya semangat. "Hm!.. Aku punya empat ekor dan kau bisa mengambilnya satu."

Mendengar penuturan Zizi, Yiyi terlihat tengah berpikir mengenai tawaran tersebut.

Tidak lama kemudian senyum manis terkembang dibelah bibir Yiyi. "Baiklah."

Zizi tertegun dan dibuat terpesona karena melihat senyum Yiyi yang sangat manis. Bagaimana tidak, saat Yiyi tersenyum, angin lembut tiba-tiba saja menyapa dan menyebabkan kelopak sakura berterbangan disekitar mereka menambah pesona senyuman Yiyi.

Yiyi yang keheranan melihat Zizi akhirnya melambaikan tangannya ke arah wajah Zizi.

"A..Apa kau baik-baik saja Zi?"

Zizi masih belum bergeming.

Yiyi menghela nafasnya pelan sambil menutup matanya.

Zizi yang tersadar segera meminta maaf karena sikap tidak sopannya pada pangeran kecil kerajaan sebelah tersebut. "Ma.. Maafkan aku, aku tadi melamun, sungguh."

"Tidak apa." Yiyi tersenyum canggung memaklumi.

"Ah kalau begitu biar aku ambilkan wadah dulu, tunggu di sini Yiyi."

Zizi segera berlari dan terhenti ketika ia melihat seorang pelayan tengah berjalan menuju ke arahnya. Ia menghampiri pelayan tersebut dan memintanya untuk membawakan wadah untuk menampung ikan koi sebagai hadiah pertemanan untuk teman barunya.

Tidak butuh waktu lama untuknya menunggu pelayannya kembali dan mengucapkan terimakasih setelah menolak dengan halus saat pelayan tersebut menawarkan bantuan untuk mengambilkan ikan koinya. Benar-benar pangeran yang mandiri.

Setelah mendapatkan wadah dari pelayannya, Zizi langsung turun ke kolam ikan koinya, menghiraukan larangan beberapa pelayan ratu dan raja yang tidak sengaja melihat kelakukan Sang pangeran cilik tersebut. Karena sepertinya telah terbiasa, Zizi dengan mudahnya menangkap ikan koi yang diketahui bernama yiyi, menaruhnya dalam wadah dan segera keluar dari dalam kolam takut-takut ketahuan oleh ibu atau ayahnya.

Zizi bergegas ke hadapan Yiyi. "Nah ini untukmu Yiyi." Katanya sambil tersenyum kecil dan menyodorkan wadah yang telah berisi ikan koi kecil dengan 3 warna.

"Te.. Terimakasih Zizi." Wajah Yiyi nampak berbinar mendapatkan hadiah dari teman pertamanya. "Aku akan merawatnya dengan sungguh-sungguh." Lanjutnya lagi dengan senyuman yang mengembang sempurna.

Zizi yang dibuat semakin terpesona karena senyuman Yiyi pun akhirnya semakin melebarkan senyumannya.

"Aku menyukai senyumanmu Yi."

"Eh?" Yiyi segera menatap Zizi dengan raut wajah yang bingung.

"Sering-seringlah tersenyum, aku menyukainya, Yiyi terlihat sangat terang dan indah." Lanjut Zizi dengan polosnya, tidak mempedulikan beberapa pelayan kedua pangeran tersebut yang terkesiap mendengar penuturan polos Sang pangeran kecil tersebut.

"Eung!" Yiyi mengangguk dengan semangat dan terkekeh kecil setelahnya. Bahkan pelayan pangeran itu pun sampai terheran-heran karena baru pertama kali mendengar kekehan pangerannya. Kepribadian Yiyi yang cenderung tertutup dan pendiam membuatnya ia jarang berbicara dan tidak memiliki teman bahkan di sekolah kerajaan.

Ibu dari pangeran Yiyi dan Zizi menghampiri kedua pangeran kecil tersebut, membuat semua pelayan tertunduk. Zizi yang melihat ibunya, segera berlari masuk ke dalam pelukan Sang ibu, menyebabkan kekehan kecil dari ibunya.

"Astaga Zizi bajumu basah." Katanya sambil mengecek keadaan Zizi. "Kamu terjatuh di kolam?" Lanjutnya lagi tetapi menatap ke arah pelayan senior Sang ratu.

Pelayan senior yang mengerti kode Sang ratu, segera maju dan bertanya ke salah satu pelayan pangeran. Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, pelayan itu pun segera menghampiri Sang ratu.

Pelayan itupun membungkuk sedikit. "Pangeran tidak terjatuh ratu, ia mengambilkan ikan untuk Pangeran Yi Fan."

Mendengar hal tersebut ibu Yiyi segera mendekati Yiyi. "Apa itu benar Yiyi?" Katanya sambil mengelus pelan kepala sang pangeran.

"I.. Iya bu, katanya ikan Zizi punya nama yang sama dengan Yiyi, jadi Zizi memberikannya pada Yiyi." Jawabnya dengan menatap Sang ibu dengan pandangan memelas.

"Ibu, apa Zizi akan dihukum?" Lanjutnya.

Ibu Zizi segera memalingkan wajahnya ke arah Yiyi setelah mendengar pertanyaan polos anak sahabatnya itu "Tidak akan pangeran Yi Fan." Jawab ibu Zizi dan terkekeh pelan setelahnya.

Yiyi tersenyum lebar setelahnya. Dengan tidak sabaran ia pun menarik ujung lengan baju ibunya.

"Ibu lihat, ikan koinya indah kan?" tanyanya sambil tersenyum lebar.

Ibunya yang baru melihat lagi senyuman lebar Sang anak, sedikit menampilkan raut wajah kebingungan sebelum ikut tersenyum.

"Iya sayang, sangat indah." Jawabnya sambil menatap dan mengelus sisi wajah Yiyi.

Ibu Zizi tertawa pelan "Kan sudah ku bilang agar mempertemukan Yiyi dengan Zizi, ratu kerajaan Wu."

Ibu Yiyi memutar matanya malas. "Yayaya kau menang kali ini, ratu kerajaan Huang."

Kedua ratu yang telah lama bersahabat tersebut saling memandang satu sama lain, dan terkekeh keras bersamaan setelahnya.

.

KRINNNNNNGGGGGGG KRINNNNNNNGGGGGG

Suara alarm menggema di kamar apartemen minimalis seorang pria bersurai sehitam langit malam tanpa bintang yang masih setia bergelung nyaman dalam selimut tebalnya.

KRINNNNNNGGGGGGG KRINNNNNNNGGGGGG

Sepertinya ia mulai terganggu dengan suara khas alarm, dan akhirnya memutuskan untuk menjulurkan tangannya dari dalam selimut ke atas meja nakas yang berada di sebelah ranjangnya, mencari ponsel yang masih setia berbunyi.

"Arrgghhh! Mengganggu saja!" ia menggerutu setelah mematikan ponsel pintarnya tersebut. Ia pun hendak kembali tidur sebelum suatu ingatan menghantamnya telak dan membuatnya terduduk seketika.

Nampak rambutnya yang mencuat kesana kemari khas orang bangun tidur, sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya. Ia pun sibuk mencari ponsel yang tadi entah ia lempar kemana. Dasar.

Setelah menemukannya, ia pun segera membuka kotak pesan dan layanan chatting lainnya. Tidak untuk memeriksa jadwal ataupun pesan dari para pegawainya, melainkan hanya mencari satu nama yang membuat jantungnya berdetak tak karuan hanya dengan mengingat namanya saja. Ya, Huang Zitao.

"Haahh.. dia tidak menghubungiku rupanya".

Ia menghela nafas kasar dan mengacak-acak rambut, setelahnya melemparkan tubuhnya kembali ke ranjang, berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Arrgghh.. padahal aku sudah memberikan kartu namaku, apa dia membuangnya yah?" tanyanya entah pada siapa.

Suara gemerincing wind bell yang tergantung di balkon kamar membuat ia mengalihkan ke arah bel tersebut. Ia sebenarnya bukan seorang pencinta benda-benda imut seperti itu, hanya saja saat tengah menemani ibunya ke pasar minggu entah ada angin apa ia segera membelinya. Sebenarnya suara gemerincing wind bell justru mengingatkannya akan kampung halaman sang ayah yang telah tiada.

Pemuda itu menggumam pelan. "Padahal aku berharap banyak.. Haahh sudahlah Kris." Ia pun mendecakkan lidahnya dan mengusap wajahnya kasar.

Ya, pemuda ini Kris Wu, seorang pengusaha muda yang banyak dikagumi karena ketampanan dan kepiawaiannya memimpin perusahaan penyuplai alat rumah tangga yang bisa dikatakan masih seumur jagung tapi sudah mampu bersaing dengan beberapa perusahaan maju lainnya, dikarenakan barang jualannya yang memiliki ciri khas asia yang sangat kental.

Tidak ingin berlama-lama merenungi nasibnya, ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Tapi, sebelum itu suara getaran ponselnya mencegahnya untuk melangkah lebih jauh.

Hanya membaca ID caller nya sepintas, ia pun langsung menggeser icon hijau di layar ponselnya.

"Halo Mom. Ada apa?"

"Ah Kris, Mom ingin mengajakmu hari ini ke suatu tempat."

Kris segera mengganti mode panggilannya menjadi loudspeaker karena ingin mengecek agenda di ponselnya untuk minggu ini.

"Apakah harus hari ini Mom?"

"Kau sibuk?" Terdengar helaan nafas yang kentara setelahnya.

Kris hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil meringis. "Aku ada rapat hari ini, tapi akan aku usahakan besok." Tawarnya tidak ingin mengecawakan.

"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok sayang."

"Hmm.. aku menyayangi mu Mom."

Ia pun menyimpan ponselnya di atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap, tidak menyadari jika beberapa puluh menit kemudian, ponselnya kembali berdering, menandakan jika seseorang kembali menelponnya dan menampilkan ID caller yang tidak diketahui.

.

Disudut lain kota Manhattan, seorang Huang Zitao masih terlelap dalam bunga tidurnya. Jika diperhatikan dengan seksama raut wajah pemuda ini nampak sedang tersenyum, sepertinya mimpi kali ini benar-benar membuat perasaannya bahagia sehingga tidak sadar ia pun ikut tersenyum dalam tidurnya.

TING TONG

Suara bel apartemen yang menggema membuat kernyitan di dahi Zitao. Nampaknya ia mulai terganggu dengan suara tersebut.

TING TONG TING TONG TING TONG

"Arrggghh.. berisik!"

Zitao pun langsung terduduk dan mengacak surainya kasar. Ia benar-benar dibuat kesal dengan tamunya yang tidak tahu sopan santun ini. Bagaimana tidak kesal, ini masih pukul enam pagi, masih terlalu pagi untuk seorang Zitao untuk bangun. Lagipula ia masih ingin berkelana lebih lama dalam dunia mimpinya.

"Brengsek! Siapa orang bodoh yang bertamu dipagi buta?!" Ia menghela nafasnya kuat sambil melempar kasar selimutnya.

Suara bel apartemen yang tidak kunjung berhenti, membuatnya semakin kesal. Ia menghentakkan kakinya dan tergesa, ingin segera mencapai pintu apartemen dan memarahi tamu kurang ajarnya.

Tanpa melihat monitor, Zitao segera menarik pintu apartemennya.

"Surprise!"

Zitao mendecakkan lidahnya dan membuat gerakan hendak menutup kembali pintunya, tetapi sang tamu kurang ajar tersebut malah menyelipkan sebelah kakinya agar Zitao tidak dapat menutup pintu.

"Pindahkan kakimu segera, atau kupatahkan!" Zitao berseru dengan keras.

"Kalau kau lupa, aku ingin mengingatkan kalau kau yang menyuruhku kesini."

Zitao kembali mendecakkan lidahnya. Ia bahkan kalah sebelum berargumen.

"Baiklah baiklah.. kau menang Jun, masukklah." Zitao berkata dengan nada malas sambil membukakan pintu apartemennya semakin lebar.

Jun pun segera membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah yang memang Zitao selalu siapkan di rak dekat pintu, jika nanti sewaktu-waktu ada tamu yang datang berkunjung. Zitao memang masih memiliki kebiasaan orang asia pada umumnya yang tidak pernah memakai sepatu di dalam rumah yang mana sepatu tersebut telah dipakai berjalan-jalan diluar. Katanya 'menjijikan, ketika kau tidak sadar menginjak kotoran anjing dan membawanya masuk ke dalam rumah' yang ia katakan pada Jun, pada saat pegawainya tersebut pertama kali berkunjung ke apartemennya.

Jun mengikuti arah Zitao yang menuju ke pantry. Sadar akan seseorang yang mengikutinya, Zitao pun berbalik dan menyilangkan tangannya di dada.

"Duduklah di sofa Jun!"

"Tch! Aku hanya ingin menemui Candy."

Zitao yang malas meladeni Jun hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafasnya kasar. Masih terlalu pagi dan Jun benar-benar menguji kesabaran seorang Huang Zitao.

"Ah.. Candy ayo kemari sayang, mommy mu benar-benar sensitif sekali hari ini." Jun berucap dengan nada sing a song yang hanya dibalas gonggongan dari Candy.

"Aku mendengar mu Jun!"

Jun memutar matanya malas. "Ya ya ya.. kenapa kau sensitif sekali sih bos?"

Kegiatan Zitao yang selesai mengisi gelas di pantry dan hendak meminumnya pun terhenti. "Aku sensitif karena kau menganggu waktu tidur ku!" Sindirnya tegas.

"Wow wow.. seindah itu kah mimpimu Zi?" Jun terkekeh setelahnya. "Apakah kau sedang mimpi berada di bawah kungkungan seorang seme dengan tubuh atletis dan menggiur.."

"AAWWW!"

Perkataan Jun terpotong akibat Zitao dengan teganya melemparkan sendok sayur yang terbuat dari kayu, yang berada dekat dengannya di atas meja pantry.

"Kau dan mulut kotormu Jun!" Geram Zitao sangat kentara.

Jun mengusap kepalanya pelan. "Kalau aku insomnia bagaimana?" Bela Jun.

"Amnesia bodoh!" Zitao pun menghampiri Jun yang sedang berjongkok di sebelah tempat tidur Candy.

"Kemari." Zitao menarik lengan Jun untuk segera berdiri dan menuntunnya duduk di sofa. Candy pun turut mengekor ke mana arah tuannya.

"Duduk di sini dan jangan kemana-mana." Titah Zitao mutlak.

Jun menggumam pelan. "Baik pengeran, laksanakan."

Zitao yang sedang berjalan menuju lemari es, menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Jun yang tengah mengelus bulu lembut Candy yang kini tengah duduk dipangkuannya.

"Apa?" Jun bertanya melihat tingkah laku bosnya itu.

"Ah.. Terserah mu."

Jun mengendikkan bahunya, heran dengan kelakuan Zitao. "Yak.. Candy, sepertinya mommy mu benar-benar butuh belaian." Jun berbisik pelan di wajah Candy, takut Zitao akan mendengarkan perkataan vulgarnya lagi dan melemparkannya dengan benda yang bahkan lebih besar dari sebelumnya, dengan TV mungkin.

.

Zitao kini sedang terduduk di sofa, saling berhadapan dengan Jun. Zitao dengan telaten mengompres kepala Jun yang sedikit membengkak akibat lemparannya tadi.

Jun memandang intens wajah Zitao. "Kalau ku lihat, kau manis juga bos." Jun terkekeh ketika Zitao meresponnya dengan dengusan kasar.

"Berhentilah berbicara kotor Jun, atau kau mau bonusmu ku potong." Ancaman Zitao sepertinya membuahkan hasil, karena Jun langsung membuat gerakan yang seakan-akan tengah meresleting mulutnya.

"Bagus!"

"Nah sekarang selesai, dan mana buku sketsa ku?" Tanya Zitao sambil menaruh kantung kompresnya ke dalam baskom kecil di atas meja.

"Ah.. iya bukumu." Jun segera beranjak dan mengambil tasnya yang ia taruh di dekat rak sepatu.

Zitao mengernyitkan alisnya heran karena melihat Jun yang menaruh tasnya disana.

"Kenapa kau menyimpan tas mu disana?"

Jun terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku lupa."

"Ini bukumu."

Zitao menerbitkan senyumannya hingga menampilkan barisan gigi putihnya yang rapi, tidak lupa juga daging pipinya yang membulat dan membuat matanya menyipit, menandakan jika ia benar-benar senang tidak harus datang ke toko hari ini.

"Zi.. Apa kau sudah menghubungi pria yang merusak ponselmu?"

Zitao menggeleng pelan sambil membolak balik lembar demi lembar buku sketsanya. "Tidak, tapi kemarin sebelum tiba di apartemen, aku kembali bertemu dengannya."

Jun tertarik dengan jawaban dari Zitao dan segera mendudukan dirinya disebelah Zitao.

"Lalu?"

"Lalu, yah dia mengajakku untuk bertemu kapan-kapan." Ucap Zitao tidak peduli.

Jun bertepuk tangan sekali. "Wow! Cepat sekali gerakannya. Dan apa jawaban mu atas ajakannya itu?" Jun bertanya heboh dengan tubuh yang telah ia condongkan ke arah Zitao.

Zitao menatap wajah Jun sekilas. "Aku?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh Jun. "Tentu saja mengiyakan." Zitao menjawab dengan santai, kemudian kembali fokus pada buku sketsanya.

Jun merentangkan tangannya disandaran sofa dan menghela nafas lega sambil tersenyum. "Aku ramal, kehidupan single mu akan segera berakhir bos!"

Zitao menatap Jun sinis. "Percaya diri sekali."

Jun menoleh ke arah Zitao ingin kembali berbicara, namun segera diurungkannya ketika ia merasakan getaran ponsel disaku celanya. Ia pun segera mengetikkan password nya dan membaca pesan pendek yang dikirimkan oleh seseorang.

From: Ny. Wang

Selamat pagi, maaf jika menganggu, aku ingin menyampaikan, aku tidak jadi datang ke toko anda, karena ada beberapa hal. Besok kalau anda tidak keberatan dan memiliki waktu, aku akan ke sana.

"Oh dari pelanggan yang meminta dibuatkan Hanfu kemarin."

"Maksudmu Ny. Wang?" Tanya Zitao penasaran.

"Yup, siapa lagi kan."

"Ada apa memangnya?" Tanya Zitao lagi.

"Ia tidak jadi datang hari ini, padahal aku akan mengukur hanfu yang nanti kau buatkan." Jun menghela nafasnya pelan.

"Lalu, apa yang jadi masalahnya hingga kau menghela nafas seperti itu?"

"Besok aku harus mengambil contoh kain dari penyuplai langganan kita Zi."

"Oh kalau begitu aku yang akan mengukurnya, toh besok aku akan pergi ke toko."

Mendengar penawaran Zitao, wajah Jun tiba-tiba sumringah. "Kau yang terbaik bos!" Jun berkata sambil mengacungi kedua jempolnya. Setelahnya segera mengetikkan balasan pesan untuk Ny. Wang.

Zitao terkekeh mendengar penuturan pegawainya ini. "Aku memang selalu baik kan?" Tanya Zitao dengan nada mengejek.

"Ya ya ya." Jawab Jun malas.

Zitao hendak segera beranjak dari duduknya sebelum Jun menginterupsi. "Mau kemana?"

"Sarapan."

"Tidak menawariku?" Tanya Jun sambil menaikkan turunkan alisnya.

Zitao hanya bisa menghela nafasnya. Ia sebenarnya tidak ingin mengajak Jun untuk sarapan bersamanya. Ia bahkan ingin segera mengusir pegawainya ini, tetapi diurungkannya mengingat Jun telah berbaik hati mengantarkan buku sketsanya, yah meskipun harus di pagi buta dan ada drama kekerasan. Tetapi, seperti yang dikatakannya tadi, kalau ia adalah orang baik, makanya ia berpikir ulang untuk mengusir Jun dari apartemennya.

"Kau ingin sarapan disini atau segera kembali ke toko?" Tawar Zitao yang direspon Jun dengan senyuman lebar dan pancaran mata yang bersinar. "Ah sepertinya tidak mau yah." Lanjut Zitao ingin menggoda pegawainya tersebut.

Jun mencebikkan bibir mungilnya. "Aku bahkan belum menjawab!" Rengeknya.

Zitao menghela nafasnya. "Lalu?"

Jun mengangguk semangat tidak mempedulikan kepalanya yang kembali sakit akibat anggukannya itu. "Aku mau!" Serunya.

Zitao bergegas ke pantry untuk menyiapkan sarapan mereka berdua dan tidak lupa pula menyiapkan makanan untuk Candy.

"Jun!"

Seruan dari Zitao menghentikan aktivitas Jun yang tengah mengutakatik ponselnya. "Iya, ada apa?" Responnya cepat.

"Bisa kau ambilkan ponselku di nakas sebelah ranjangku?" Tanya Zitao yang lebih tepatnya memerintah."

"Okay." Jawab Jun pendek.

Jun segera melangkah kearah kamar Zitao. Jangan ditanya kenapa ia bisa mengetahuinya, ia sudah sering berkunjung ke apartemen Zitao, baik untuk membantu bosnya itu dengan pekerjaan-pekerjaannya maupun hanya sekedar menganggu hari libur Zitao.

Tanpa canggung Jun segera menemukan ponsel Zitao yang tergeletak di atas nakas. Tetapi, gerakannya untuk mengambil ponsel tersebut segera terhenti ketika melihat selembar kartu nama di samping ponsel Zitao.

Tanpa berpikir panjang, Jun pun segera mengambil kartu nama tersebut dan membaca tulisan yang tertera.

"Wu Corporation?" Gumamnya. "Ah.. aku ingat ini kan kartu nama orang asing kemarin yang merusak layar ponsel Zitao. Ck pemilik perusahaan properti ternyata, lumayanlah untuk menghidupi seorang Huang Zitao." Jun berucap gamblang entah kepada siapa.

Jun mendudukkan dirinya dipinggir ranjang Zitao dan mengambil ponsel Zitao yang sebelumnya masih tergeletak di atas nakas tanpa melepaskan kartu nama dari pemilik perusahaan Wu yang masih berada dalam genggamannya.

Jun yang mengetahui bahwa ponsel Zitao yang tidak pernah diberikan password, tanpa rasa takut sedikit pun akan kemarahan Zitao yang pastinya akan terjadi karena kelakuannya, segera menekan nomer pada layar sesuai dengan nomer ponsel yang tertera pada kartu nama tersebut.

Setelah ia selesai menekan nomer, ia pun menekan icon hijau yang menandakan kalau ia sedang membuat panggilan terhadap nomer tersebut. Sambil menempelkan ponsel Zitao ditelinganya, Jun menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan takut Zitao tiba-tiba muncul dan memergokinya yang tengah menghubungi seorang Kris Wu.

Nada panggilan terdengar dari ponsel Zitao, tetapi tidak ada suara sahutan dari yang ditelepon. Jun pun hanya menghela nafasnya kasar, kecewa karena usahanya untuk mendekatkan Zitao dengan Kris Wu gagal.

"Hah.. tidak diangkat."

"JUN!" Suara teriakan Zitao dari arah pantry membuyarkan seketika pikirannya, membuatnya segera menyimpan kartu nama ke tempat semula.

"Ah iya, aku menemukannya, akan aku bawakan segera!" Teriaknya dari dalam kamar.

Jun bergegas menemui Zitao yang nampaknya telah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia segera menyerahkan ponsel Zitao dan mengambil piring yang masih ada di atas pantry untuk ia bawa ke meja makan. Tetapi tangannya lebih dahulu ditahan oleh Zitao dan ia hanya bisa menatap Zitao bingung.

"Kau tidak melakukan apapun kan?" Zitao bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Eh?" Ada jeda. "Tentu saja tidak." Jun menjawab acuh, dan menyingkirkan tangan Zitao. "Apartemenmu jauh dari toko asal kau tau, dan aku lapar." Lanjutnya lagi.

"Okay makanlah."

Mereka berdua makan dengan khidmat sambil sesekali diselingi oleh gonggongan Candy karena digoda oleh Jun. Tidak lupa juga Jun menggoda sang bos sehingga beberapa kali Zitao berteriak kesal.

Getaran ponsel Zitao menghentikan aktivitas sarapannya, begitu pula dengan Jun.

Zitao mengernyitkan alisnya.

Melihat raut wajah Zitao, Jun turut pula penasaran dengan si penelepon. "Siapa?" Tanya Jun.

Zitao mengendikkan bahunya. "Entah, tidak ada ID Caller nya."

"Angkat saja, mungkin penting."

"Ah Baiklah."

Zitao segera menggeser icon hijau pada layar ponsel pintarnya dan mendekatkan ponselnya tersebut ke telinga.

"Halo, selamat pagi, dengan Huang Zitao disini." Zitao berucap ramah.

"..."

"Ah anda?"

"..."

"Entahlah."

Zitao menjawab dengan malu-malu sambil mengigit bibir bawahnya. Tidak hanya itu, wajah Zitao merona parah hingga ke telinga mendengar penuturan si penelepon. Orang yang tengah melihat Zitao pasti terheran-heran dengan perubahan sikapnya tersebut.

Jun yang tengah memperhatikan bos nya tersebut hanya bisa menyimpan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Zitao. Ia menunggu Zitao selesai dengan ponselnya terlebih dahulu. Padahal di dalam otak vulgarnya ia tengah menerka-nerka siapa gerangannya yang membuat wajah Zitao nampak sangat manis dan seksi secara bersamaan akibat rona pipi dan jangan lupakan bibir yang tengah digigit oleh si empunya. Yah, Jun dan otak kotornya.

.

.

TBC

.

Bandung, 22 Januari 2019