Chapter 2

.

.

Chanyeol melihat Jongin berdiri didekat mobilnya, bersama dengan seorang pemuda cantik yang tampak menunduk memeluk sendiri tubuh ringkihnya yang hanya terbalut seragam sekolah perempuan. Bahannya tipis dengan potongan super pendek hingga sebagian pinggang ramping dan perut halusnya terlihat. Bahkan rok bermotif kotak-kotak itu tak mampu menutupi sepertiga dari pahanya. Ck... Entah apa yang dipikirkan si pemuda cantik sebelum memutuskan untuk pergi dengan pakaian kurang bahan seperti itu.

Sehun melirik sekilas ke arah Chanyeol yang saat itu tengah melepas jaketnya sambil berjalan. Sepertinya Chanyeol benar-benar merasa kepanasan, hanya itu yang terllintas dipikiran si pemuda albino.

Baekhyun tak tahu bagaimana caranya menghentikan air mata bodoh ini. Sejak tadi, Jongin hanya bisa diam menunggu sampai si pemuda mungil selesai dengan urusan tangis-menangisnya yang terdengar pilu.

Tiba-tiba, Baekhyun merasakan bahunya memberat. Selembar jaket kulit hitam kini membalut tubuh mungilnya.

Dan itu milik Chanyeol.

Sehun sejenak tertegun, tebakannya meleset. Dan pemandangan ini sedikit tidak terduga sebenarnya. Jongin diam-diam menyeringai kecil sambil membuang muka.

Pemuda mungil itu spontan mengangkat kepalanya, ingin mencari tahu siapa yang memberinya jaket ini. Dan siluet tinggi besar tertangkap langsung oleh retina matanya. Baekhyun menciut, seketika ia berharap tanah dibawahnya ini menelan tubuhnya setelah melihat ekspresi si pria tinggi yang memandangnya dengan tidak ramah.

"APA SEBENARNYA YANG ADA DIDALAM OTAK KECILMU ITU, HAH? APA KAU TIDAK MEMPUNYAI PIKIRAN SAMA SEKALI?"

Suara bass Chanyeol tiba-tiba menghentak seperti dentuman guntur ditelinga Baekhyun. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk, lalu kembali meneteskan air mata dalam kebisuan. Ia tidak ingin menangis lagi sebenarnya. Tapi gejolak perasaan itu benar-benar tak dapat terkendali.

Samar-samar ia mendengar pria jangkung itu mendecih. Tidak. Ia bahkan tengah meludah ke tanah.

"Lihat, yang bisa kau lakukan sekarang hanyalah menangis. Jika kau memang benar-benar menyesali semuanya, kenapa tidak kau pikirkan saja segala resiko itu dari awal? Bagaimana jika kau benar-benar diperkosa oleh puluhan bocah ingusan didalam neraka itu?! Apa sebenarnya kau memang menginginkan hal itu, hah?!"

"Chanyeol, hentikan."

Suara Sehun terdengar tertahan, seperti tengah mensupress emosi didalam dadanya.

"Dasar kau jalang tak tahu ma--..."

"CHANYEOL JUST SHUT THE FUCK UP YOU JERK!"

Sehun berteriak, ia benar-benar berteriak marah.

Sebuah tinjuan melayang, namun tetap bertahan di udara karena Sehun masih cukup waras untuk tidak benar-benar memukul sahabatnya sendiri malam itu, entah semarah apapun dia sekarang.

Chanyeol awalnya sempat terdiam, memandang kearah kepalan tangan Sehun yang berada tepat didepan wajahnya. Namun sedetik kemudian dia terkekeh skeptis, lalu menyingkirkan tangan Sehun dengan kasar.

"Kenapa kau ini? Ingin berlagak jagoan, hah?"

Chanyeol bicara dengan nada menantang.

"Hei kalian berdua, hentikan tingkah konyol kalian ini."

Suara tenang Jongin menginterupsi, namun baik Sehun ataupun Chanyeol sama sekali tak berniat mendengarkan.

Baekhyun memandang pada dua orang pria dengan tinggi badan hampir sama itu yang kini saling bertatapan dengan kilat mata emosi. Demi Tuhan, Baekhyun hanya bisa berdoa semoga dua orang teman ini tidak saling berkelahi, apalagi jika hal itu masih ada sangkut pautnya dengan masalah tadi.

Meskipun begitu, Sehun masih berdiri dengan tenang ditempatnya sekalipun Chanyeol mulai terlihat ingin sekali menantang. Dalam urusan mengontrol emosi, Sehun memang jauh lebih unggul dibanding pria bermarga Park itu.

"Sadarlah Chanyeol. Kau lah yang berlagak jagoan dan sok pahlawan disini. Untuk apa kau menyelamatkan dia jika pada akhirnya kau hanya ingin mengumpat dan mengatainya jalang secara langsung didepan wajahnya."

Pergerakan Chanyeol seketika terhenti. Ia tak ingin mengakui kalau perkataan Sehun seperti memukulnya tepat diwajah dengan keras. Perasaan malu tiba-tiba menyeruak menguasai dirinya. Chanyeol berdecih dan membuang muka kearah lain.

Sehun menang.

Tapi itu semua bukan hal yang terpenting sekarang. Mengabaikan Chanyeol yang masih terpaku akan "kekalahannya", Sehun akhirnya berjalan mendekati sosok Baekhyun yang berdiri terpojok dengan kedua tangan yang masih memeluk erat lengannya sendiri.

"Kau tidak apa-apa, kan?"

Sentuhan Sehun pada bahu kecil Baekhyun sempat membuat si pemuda cantik sedikit terlonjak. Tapi kemudian ia membalas pertanyaan Sehun dengan mengangguk pelan.

Jongin menginjak puntung rokok yang baru selesai ia sesap sampai habis itu ke tanah. "Ya sudah, sebaiknya kita langsung antarkan dia pulang saja."

"Biar dia naik mobilku."

Suara Chanyeol tiba-tiba memotong. Ketiga orang itu lantas dengan kompak menatapnya, nyaris dengan pandangan yang berbeda-beda.

Jongin menyeringai lagi, kali ini ia paham bahwa Chanyeol benar-benar bertingkah konyol sekarang.

"Kenapa? Supaya kau bisa puas-puas mengatainya jalang sepanjang perjalanan?"

Jongin yang berniat melempar kalimat sarkastik justru malah berakhir mengatakan maksudnya dengan sangat jelas.

"Aku sudah tak ingin berdebat lagi. Hanya biarkan dia duduk di mobil bersamaku. Itu tidaklah sulit."

Chanyeol melangkah mendekati mobil sportnya, membuka pintu sebagai tanda bahwa keputusannya sudah final.

"Naiklah ke mobilnya."

Sehun memerintah, namun suaranya tetap terdengar lembut dan ramah.

Baekhyun memandang ke arah Sehun beberapa detik. Ia masih ragu, tentu saja. Chanyeol adalah pria yang baru saja meneriakinya dengan cukup kasar beberapa menit lalu.

"Jangan takut. Kau akan baik-baik saja."

Jongin kemudian menimpali. Setelah melempar pandangan terakhir ke arah Sehun dan Jongin secara bergantian, akhirnya Baekhyun pelan-pelan memberanikan dirinya berjalan mendekati mobil pria si pemilik jaket.

Chanyeol sudah duduk tenang didalam mobilnya dengan mesin yang menyala saat Baekhyun dengan hati-hati mendudukkan dirinya tepat dikursi disamping kemudi.

Begitu pintu disisi Baekhyun tertutup, tanpa basa-basi Chanyeol langsung melepas rem tangannya dan memasukkan gigi. Suara decitan keras antara ban dan aspal yang beradu kini terdengar sangat mendominasi ketika Chanyeol membanting setirnya memutar meninggalkan parkir.

Selang beberapa detik, mobil Sehun dan Jongin langsung menyusul tepat dibelakangnya.

e)(o

Di setengah perjalanan, baik Chanyeol maupun Baekhyun belum ada yang membuka obrolan sama sekali. Satu-satunya yang sempat terucap dari bibir mereka hanya ketika Chanyeol bertanya dimana alamat si pemuda cantik, kemudian Baekhyun menjawab dengan cukup rinci hingga Chanyeol langsung mengetahui dimana letak gedung apartemen yang Baekhyun maksud.

Baekhyun mengeratkan jaket yang tergantung dibahunya saat merasakan dinginnya AC mobil sedikit lebih menusuk. Dan hebatnya, Chanyeol langsung bisa menyadari hal itu.

"Kau kedinginan?"

Tanyanya, dengan mata yang masih fokus ke jalan dan tangan kirinya mulai mengutak-atik tombol pengatur suhu mobil.

"M-maaf... Aku tidak apa-apa."

Baekhyun jadi merasa tak enak. Tidak seharusnya ia menampakkan dengan jelas jika ia merasa kedinginan di mobil orang yang tengah menumpanginya.

"Tidak masalah. Aku maklum jika kau merasa kedinginan, terlebih karena memakai pakaian tipis dan pendek seperti itu."

Baekhyun terkesiap dan sedikit panik, Chanyeol jelas-jelas tengah menyindir dirinya yang memakai baju super seksi saat ini. Secara spontan pemuda cantik itu menarik-narik roknya kebawah, berharap itu bisa membantu menutup sedikit pahanya walau terlihat cukup mustahil.

Setelahnya tak ada lagi diantara mereka yang membuka suara. Sampai akhirnya mobil Chanyeol tiba didepan sebuah gedung apartemen yang cukup sederhana, disusul oleh mobil Jongin dan Sehun.

Ketiganya kompak keluar dari mobil masing-masing bersama Baekhyun. Mata Sehun dan Jongin mendongak keatas, tempat ini cukup kecil untuk disebut sebagai kompleks apartemen namun tidak begitu buruk.

"Terimakasih sudah mengantarkanku pulang dan membantuku hari ini." Baekhyun menunduk hormat beberapa derajat sebagai bentuk rasa terimakasihnya kepada 3 pemuda yang telah menyelamatkannya hari ini. "Apa kalian ingin masuk dan mampir sebentar? Aku bisa menyediakan teh jika kalian tidak keberatan."

Entah bagaimana, setelah sempat diam untuk beberapa detik, ketiga pria tinggi itu malah sama-sama mengangguk kompak mengiyakan tawaran si pemuda mungil.

Baekhyun akhirnya tersenyum, merasa bersyukur karena 3 orang pemuda ini tidak menolak tawarannya meskipun sangat sederhana.

Untuk beberapa alasan, Chanyeol merasa aneh dengan gemuruh yang tiba-tiba muncul didadanya setelah melihat senyum indah dibibir mungil Baekhyun untuk pertama kali. Tanpa ia tahu, baik Sehun dan Jongin diam-diam turut merasakan hal serupa. Baekhyun sungguh telah melakukan sesuatu pada hati ketiga pria ini.

Surprisingly, tidak ada lift di gedung ini sehingga mereka harus menaiki undakan tangga untuk sampai ke lantai 2, tempat dimana flat sederhana Baekhyun berada. Baekhyun memencet bel begitu mereka sudah sampai didepan pintu.

Samar-samar ada suara anak kecil yang berteriak girang dari dalam. Dan begitu pintunya terbuka...

"Mommy..."

Chanyeol, Jongin, dan Sehun sama sekali tidak sedang berhalusinasi.

Balita laki-laki didepan mereka saat ini benar-benar memanggil si pemuda cantik dengan sebutan "mommy", yang mana membuat mereka shock untuk beberapa alasan.

Pertama, Baekhyun dan pekerjaannya sebagai (kau tahu apa) sangat tidak serasi dengan peran seorang ibu pada umumnya. Setidaknya itu yang mereka bertiga pikirkan.

Kedua, Baekhyun terlihat sangat muda, lebih seperti remaja umur belasan bahkan. Mereka bersumpah.

Lalu bagaimana bisa?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus tumbuh dengan intens dimasing-masing kepala 3 sekawan ini.

"Baekhyun, kau sudah pulang? Ini lebih cepat dari biasanya."

Suara seseorang yang sebelumnya membukakan pintu akhirnya terdengar. Wajahnya cantik, tubuhnya juga tak kalah mungil dengan Baekhyun.

Setelah membawa si balita kedalam gendongannya, Baekhyun beralih pada 3 orang pemuda yang masih membisu ditempat mereka berdiri saat ini. Senyum Baekhyun lagi-lagi terpahat, mendistraksi lamunan si 3 sekawan.

"Oh iya, perkenalkan. Dia adalah sepupuku yang kebetulan juga tinggal di sebelah. Namanya Luhan."

Dan Luhan yang baru menyadari keberadaan 3 orang asing berbadan tinggi didepan mereka seketika membulatkan mata. Siapa mereka ini? Tanyanya dalam hati.

Namun ia hanya sempat membalas bungkukan salam beberapa derajat didepan 3 lelaki asing itu. Sebenarnya, ia sedang tidak punya waktu untuk berkenalan sekarang.

"Baek, maaf. Tiba-tiba seseorang dari toko menelfonku tadi dan bilang mereka menghadapi sedikit masalah disana. Mereka butuh bantuanku. Syukurlah kau cepat pulang. Bisa aku permisi untuk pergi sekarang? Aku sedang terburu-buru saat ini."

Lawan bicaranya nampak sedikit terkejut dan merasa tak enak hati. "Maafkan aku, Lu. Lagi-lagi aku sudah merepotkanmu. Kau bisa pergi sekarang. Terimakasih Lu sudah mau menjaga Jiwon untukku."

"Tak masalah. Aku pergi ya, Baek."

Setelah cipika-cipiki singkat Luhan akhirnya undur diri, tak lupa ia membungkuk lagi sejenak didepan Chanyeol, Sehun dan Jongin kemudian sedikit berlari menuju tangga.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu. Mari masuk."

Baekhyun menawarkan dengan pintu yang ia buka lebar. 3 lelaki itu akhirnya melangkahkan kaki mereka masuk melewati pintu meski dengan sedikit menunduk. Karena benar saja, tubuh mereka terlalu tinggi untuk ukuran pintu kecil di flat ini.

Masih dengan menggendong balitanya, Baekhyun menuntun tamunya kesalah satu ruangan yang mereka pikir adalah ruang tamu. Tapi tak ada sofa sama sekali disini, melainkan hanya lantai berkarpet dan meja kecil pendek di tengah-tengah.

"Maaf, rumahku sangat kecil dan tidak memiliki banyak perabot. Aku harap kalian tidak masalah jika harus duduk dibawah."

Baekhyun berkata dengan tak enak hati. Tapi ia sama sekali tak menduga, justru 3 orang itu langsung mendudukkan diri mereka begitu saja dengan nyaman disana.

"Tidak masalah. Rumahmu bersih dan suasananya juga nyaman."

Sehun tersenyum dan meyakinkan Baekhyun bahwa kekhawatiran tentang rumahnya yang sederhana sama sekali tidak mengganggu mereka.

"Baiklah. Kalau begitu aku harus ke dapur dan menyiapkan teh nya."

Namun sebelumnya Baekhyun sempat berlutut sebentar untuk meletakkan bayinya diatas karpet yang sama didekat SeKaiYeol duduk.

"Nah, Jiwonnie, kau duduk disini sebentar ya sayang. Tidak boleh nakal, eum? Mommy akan segera kembali."

Setelah memberikan balita itu kecupan dan sebuah mainan plastik pada genggaman kecilnya, Baekhyun melangkah meninggalkan mereka untuk segera menuju dapur.

Chanyeol, Jongin dan Sehun diam-diam menatap si balita dengan sangat fokus. Jiwon, nama balita itu, membalas tatapan mereka dengan wajah gembil yang polos sambil memggigit-gigit mainan plastik yang ada di genggamannya saat ini.

"Dia kecil sekali, ya."

Jongin tiba-tiba bersuara. Ada sedikit nada takjub dibalik kalimatnya barusan, seolah-olah bayi adalah makhluk paling aneh dan mengagumkan yang pernah ia lihat.

Chanyeol mendecih. "Tentu saja dia itu kecil, bodoh. Namanya juga bayi."

"Berhenti mengumpat. Ada anak kecil didepan kita."

Sehun menyahut sinis, dan Chanyeol sebisa mungkin tidak memperdulikannya.

"Berapa umurnya ya kira-kira? Mm... Hei, adik kecil. Berapa umurmu?"

Jongin menunduk dan mencoba mendekatkan dirinya dengan si balita. Tapi Jiwon hanya membalas dengan menatap bingung ke arah orang asing ini.

"Kurasa dia bahkan belum genap 2 tahun. Kau lihat, tadi didepan pintu larinya masih sangat goyang-goyang. Aku sampai takut kalau dia akan jatuh."

Sehun si pemerhati yang handal itu menjawab rasa penasaran Jongin, dan kedengarannya masuk akal.

Chanyeol yang paling banyak diam diantara mereka bertiga saat ini. Matanya nampak mengedar ke seluruh sisi flat yang sederhana. Pemuda cantik ini tinggal sendirian ternyata. Oh, dengan putra kecilnya, tentu saja.

Sibuk tenggelam dalam pemikirannya sendiri, lamunan Chanyeol tiba-tiba terdistraksi saat merasakan ada tangan mungil yang menepuk-nepuk diatas pahanya yang bersila.

Entah bagaimana si balita Jiwon sudah merangkak dan ada didepan Chanyeol sekarang.

"Hei, sepertinya dia minta digendong olehmu."

"Huh?"

Chanyeol tergugu mendengar pernyataan Sehun. Gendong? Kenapa? Bagaimana caranya? Chanyeol benar-benar tidak memiliki ide sama sekali tentang itu.

"Ck, kau ini benar-benar tidak berguna, ya."

Jongin berdecak, kemudian dengan hati-hati ia mencoba mengangkat Jiwon.

Meski dia sudah berada dalam dekapan Jongin sekarang, namun mata bulat balita itu tetap fokus memandang pada Chanyeol. Si pemuda jangkung membalas tatapan si bayi, berharap ia mengerti sesuatu yang diinginkan oleh makhluk mungil ini.

"Ung~... bubu~..."

Jongin sedikit kewalahan saat bayi digendongannya malah sibuk ingin meraih-raihkan tangan ke arah Chanyeol.

"Chanyeol, cobalah kau gendong dia. Sepertinya dia benar-benar ingin."

Sehun menyikut Chanyeol, membuat si pria tinggi merasa terpojok. Tak punya pilihan, ia mencoba menyambut tubuh si balita dari tangan Jongin meskipun ia masih sedikit takut.

Chanyeol hanya takut bagaimana bila bayi ini tiba-tiba meronta, menangis, atau malah tidak suka padanya.

"Hehehe... Papa!"

Jiwon menepuk-nepukkan kedua tangan mungilnya dipipi Chanyeol sambil tertawa lucu khas bayi.

Jongin dan Sehun yang duduk tepat di kanan-kiri Chanyeol seketika membelalakkan mata mereka. Ini tidak benar. Kenapa rasanya sedikit tak adil? Kedua lelaki itu tak bisa memungkiri bahwa ada rasa cemburu kini bersemayam didada mereka.

Entah apa, naluri mungkin, Chanyeol tersenyum lembut pada si balita dan mengangkat-angkat kecil tubuhnya ke udara. Hatinya tiba-tiba menghangat. Ingin rasanya ia mencium perut gembil Jiwon untuk membuatnya tertawa. Tapi bagaimana bila bayi itu malah tidak suka?

Konflik-konflik seperti ini masih sering datang memenuhi kepala Chanyeol. Entah mengapa, menghadap 1 bayi saja justru membuatnya jadi seperti pengecut.

"Kenapa dia memanggil pria bar-bar sepertimu ini Papa?"

Jongin menyindir, namun sepertinya Chanyeol tidak begitu peduli. Ia masih terlalu kagum melihat bayi ini bisa tertawa senang berada dalam gendongannya.

Sehun berusaha mengalihkan perhatiannya ke arah lain, dimana dari kejauhan terlihat sosok mungil Baekhyun memunggungi mereka. Dia tampak sangat sibuk dengan kegiatan di dapurnya, bahkan tak sempat berganti pakaian lagi. Sehun tak sadar jika secarik senyum telah tergambar dibibir tipisnya. Bahkan dilihat dari belakang saja, Baekhyun tampak begitu indah dan atraktif. Ia merasakan debaran aneh itu kian lama kian terasa nyata. Tak mau ambil pusing, Sehun menganggap bahwa mungkin dirinya benar-benar tertarik pada si pemuda mungil. Lagipula, itu bukan hal yang salah. Pria mana memangnya yang tak menyukai makhluk seindah ini?

Baekhyun akhirnya datang dengan membawa nampan berisi 3 cangkir teh dan sepiring kue kering. Mata mungilnya sedikit terbelalak saat melihat Jiwon asik bermain-main dengan si pria jangkung yang duduk ditengah.

"Oh, Jiwonnie. Kau tidak merepotkan kakak-kakak ini kan?"

"Pffffttt..." Itu Jongin. Entahlah, baginya kata kakak-kakak yang meluncur dari bibir kecil Baekhyun terdengar sangat imut.

"Dia benar-benar tidak merepotkan sama sekali. Tidak seperti ibunya."

Sindir Chanyeol tanpa sedikitpun melihat kearah Baekhyun. Si pemuda mungil hanya duduk diam menundukkan kepalanya. Jari jemarinya saling meremat satu sama lain diatas paha. Sepertinya laki-laki bernama Chanyeol ini sangat tidak menyukainya. Tentu saja. Siapa yang sudi bersikap baik pada pelacur seperti dirinya? Baekhyun menggigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Lagipula ia sudah terbiasa diperlakukan begini oleh orang-orang.

Sehun dan Jongin kompak memutar bola mata malas. Chanyeol benar-benar bertingkah seperti bajingan hari ini. Sepulang dari rumah Baekhyun, keduanya berpikir untuk memberikan si pria angkuh sedikit pelajaran.

"Silahkan, diminum tehnya. Maaf kalau hanya ini yang bisa kusuguhkan."

Baekhyun tersenyum dan sebaik mungkin menutupi raut sedihnya yang barusan. Sehun dan Jongin meraih cangkir teh mereka, sedangkan Chanyeol sama sekali tak merasa terusik dan hanya fokus bermain-main dengan Jiwon.

"Tehnya enak. Terimakasih."

Sehun berkata jujur, membuat Baekhyun sedikit tersipu. Ya Tuhan... Kenapa dia cantik sekali? Begitu isi suara hati Sehun dan Jongin yang melihat Baekhyun tersenyum kecil.

"Kau tinggal sendirian? Maksudku, berdua dengan putramu saja?"

"Ya, kami hanya tinggal berdua saja."

Baekhyun menjawab pertanyaan Jongin sambil menyematkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Mereka tahu bahwa rambut panjang itu sepertinya hanyalah wig. Tapi entah mengapa terlihat sangat cocok dipakai oleh Baekhyun.

Bahkan sekalipun ia tak memakai rambut panjang, Baekhyun pasti tetap terlihat sangat cantik. Begitu batin mereka.

"Dimana suamimu? Bagaimana bisa dia tega membiarkan istrinya melacur seperti ini?"

Mulut sinis Chanyeol sepertinya benar-benar tidak bisa di kontrol. Sehun menghela nafas jengah, sedangkan Jongin ingin sekali menghajar Chanyeol sekarang juga.

Raut wajah cantik itu seketika kembali berubah sendu. Tapi senyum palsunya yang pura-pura tegar berusaha menutupi semua itu.

"Dia... dia sudah meninggal setahun yang lalu."

Crap!

Chanyeol terdiam, membisu. Jawaban Baekhyun terdengar seperti suara petir ditelinganya. Sungguh... Dia tidak akan berkata begitu kalau saja ia tahu bahwa suaminya telah meninggal. Namun nasi sudah menjadi bubur. Chanyeol tak bisa menarik lagi ucapannya. Jadi pria itu hanya bisa pura-pura bersikap kalau tidak ada sesuatu yang salah dengan hal itu.

Dalam hati Sehun dan Jongin berjanji, pukulan mereka selanjutnya akan melayang ke wajah Chanyeol begitu mereka angkat kaki dari tempat ini.

"Maafkan kami. Kami tidak tahu soal itu."

Sehun yang masih punya akal sehat dan hati nurani mencoba meminta maaf atas sikap tak sopan Chanyeol barusan.

"Tidak apa-apa. Lagipula itu sudah lama berlalu. Aku dan Jiwon sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini."

Baekhyun berujar meyakinkan dengan mata berkaca-kaca, berbanding terbalik dengan senyum pura-pura tegar yang ia tunjukkan saat ini.

Jongin meringis, ia benar-benar tak nyaman dengan situasi ini. Bedebah kau Chanyeol.

Tiba-tiba suara tangisan rewel Jiwon menginterupsi mereka semua. Chanyeol mendadak panik, ia bingung harus berbuat apa. Menyadari keadaan itu, Baekhyun dengan sigap meminta Chanyeol untuk memberikan Jiwon kepadanya.

"Cup cup cup... Anak mommy kenapa menangis?"

Jiwon mengusak-usak wajahnya sendiri seperti sedang kesal. "Mommy... Huhuhu..."

Baekhyun pikir sepertinya Jiwon mengantuk dan ingin segera disusui. Tapi bagaimana? Dia sedang ada tamu. Tidak mungkin Baekhyun meninggalkan mereka sendiri disini sedangkan ia menyusui Jiwon dikamar.

Sepertinya ia tak punya pilihan lain."

"Maaf, kelihatannya bayiku haus. Dan sekarang sudah masuk jamnya biasa tidur. Jika aku menyusuinya disini, apa kalian tidak keberatan?"

Baekhyun dengan tak enak hati bertanya dengan pelan, takut jika ini terdengar tak sopan. Ketiga pria didepannya spontan menegang tiba-tiba, benar-benar merasa canggung.

"Y-ya. Tidak masalah. Jiwon pasti sudah sangat haus."

Baekhyun bergumam terimakasih dan setelahnya mulai memposisikan Jiwon untuk segera ia susui. Pemuda cantik itu mengangkat sedikit atasannya, membiarkan dada kanannya terlihat yang dengan segera disesap putingnya oleh mulut mungil Jiwon.

Chanyeol, Jongin dan Sehun mendadak jadi salah tingkah melihat hal itu. Tak sadar mereka sama-sama kompak mengelus tengkuk mereka yang entah kenapa terasa sedikit tegang. Yang benar saja. Ini kali pertama mereka melihat seorang ibu melakukan breastfeeding pada anaknya secara langsung. Terlebih, Baekhyun adalah seorang pemuda Carrier cantik.

"Uri Jiwonnie benar-benar haus, ne... Pelan-pelan minumnya, sayang."

Baekhyun mengobrol dengan balitanya seolah-olah tak ada orang lain di ruangan ini. Melihat hal itu, Chanyeol tenggelam kembali dalam pikirannya yang rumit. Si pemuda cantik tampak sangat telaten mengurus anaknya sebagai seorang ibu, terlepas dari profesinya sebagai...

Sial, Chanyeol benar-benar merasa terganggu soal itu. Entah kenapa ia ingin sekali marah dan murka tiap kali mengingatnya.

"Lihat, dia benar-benar tertidur. Ajaib sekali."

Jongin yang memperhatikan sambil menopang dagunya terlihat sangat takjub. Sepertinya kecanggungannya sudah mulai hilang.

Baekhyun tersenyum melihat tanggapan polos dari Jongin.

"Kalau boleh tahu, berapa umur Jiwon sekarang?"

Sehun bertanya memecah keheningan saat Jiwon sudah benar-benar terlelap dalam mimpi.

"1 tahun 4 bulan. Sekarang adalah masa-masa terlucunya saat berkembang."

Baekhyun menjawab sambil memandangi wajah balitanya yang terlelap. Sorot mata itu menunjukkan kasih sayang yang teramat besar; kasih sayang seorang ibu.

Chanyeol, Jongin, dan Sehun sama-sama terenyuh, larut dalam pemandangan dihadapan mereka. Pikiran ketiganya sama-sama tertuju pada satu hal; Baekhyun tak hanya tampak indah dari luar, melainkan juga dari dalam hatinya. Nyaris sudah tak ada cacat yang tampak dimata mereka. Hanya saja...

Hanya saja Chanyeol sulit sekali untuk benar-benar mengakui hal itu, disaat Jongin dan Sehun telah memantapkan hati mereka untuk menyukai dan mengagumi sosok Byun Baekhyun.

Malam itu, Tuhan telah menuliskan perubahan terbesar dalam suratan takdir ketiganya dengan menghadirkan sosok Byun Baekhyun kedalam kehidupan mereka.

e)(o

Chanyeol memandang cermin didalam kamar mandinya selepas membersihkan diri. Sial, memar didekat bibirnya benar-benar terlihat jelas.

Ini semua karena ulah Jongin dan Sehun, tentu saja. Selepas mereka keluar dari areal apartemen, justru 2 temannya itu menghadiahinya masing-masing satu bogem mentah ketika Chanyeol hendak membuka pintu mobilnya.

Tak protes, sepertinya Chanyeol paham apa maksud dari tinjuan itu. Chanyeol tak berkata apapun lagi setelahnya, termasuk Jongin dan juga Sehun. Mereka kemudian masuk ke mobil masing-masing dan tancap gas pergi dari tempat itu.

Chanyeol menunduk, tetesan-tetesan air dari rambutnya yang basah jatuh diatas washtafel didepannya. Tubuh kekarnya hanya terbalut selembar handuk yang menutupi daerah pinggang sampai ke lutut. Chanyeol tak bisa mengontrol isi kepalanya dengan benar saat ini. Lagi-lagi, otaknya hanya bisa memproses nama Byun Baekhyun, memorinya memutar ulang setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh pemuda cantik itu. Mulai dari senyumnya, tangisnya, wajah sendunya... Semua terekam jelas diingatan Chanyeol, bahkan sama sekali tak berniat beranjak pergi dari sana.

"Damn it!"

Chanyeol meninju keramik washtafel dibawahnya, hingga buku-buku jarinya sendiri memerah. Ia sama sekali tak mengerti, apa yang terjadi dengan hati dan kepalanya saat ini. Mereka sama sekali tak mendengarkan perintah Chanyeol; perintah untuk berhenti melibatkan Byun Baekhyun setiap saat dan setiap detik didalam sistemnya.

Meskipun Chanyeol berusaha keras meyakinkan diri bahwa ia membenci jalang itu, tapi kenapa perasaan ini selalu saja menentangnya? Chanyeol masih tak dapat melupakan wajah terluka Baekhyun tadi malam, disaat ia berkali-kali membentak bahkan menginjak harga diri si pemuda Carrier yang telah memiliki satu orang anak itu. Rasa berdosa benar-benar menghantui Chanyeol. Tapi disaat yang sama, egonya tetap membuat ia membatu dan enggan mengucapkan kata maaf.

Chanyeol mematut bayangannya kembali didepan cermin, menatap balik iris matanya yang menyorot tajam dan menyimpan misteri.

"Selesaikan apa yang harus kau selesaikan, Park Chanyeol. Jika hal itu benar-benar sangat menggangumu, sebaiknya kau hentikan saja semuanya dengan tanganmu sendiri."

Chanyeol menegaskan pada dirinya, besok ia harus bertemu kembali dengan si pemuda Carrier bernama Byun Baekhyun. Tekadnya sudah bulat. Ia sudah tak tahan karena perasaan ini terus saja mengganggunya, membuatnya bahkan kesulitan untuk bernafas.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol bertindak atas dasar keinginan hatinya yang mendesak, bukan dengan logika didalam kepalanya.

e)(o

Besoknya, ketika hari menjelang sore Chanyeol benar-benar datang kembali ke gedung apartemen sederhana dimana pemuda cantik itu tinggal. Begitu keluar dari mobilnya, Chanyeol mendekati sebuah mobil yang tampak tak asing dimatanya; Ferarri seri N7 berwarna merah.

Melihat plat nomornya dengan tatapan yang menajam, ternyata dugaan Chanyeol benar. Ini mobil milik Oh Sehun.

Emosi Chanyeol mulai bergemuruh. Apa yang dilakukan sahabatnya itu disini?

Chanyeol mendongak keatas, melihat kearah pintu apartemen Baekhyun yang tertutup dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Tak suka, marah, dan...

Cemburu.

Chanyeol memutuskan untuk menunggu disini, didekat mobilnya sampai laki-laki bermarga Oh itu keluar dari sana.

Sementara itu...

"Terimakasih banyak Sehun-ah. Kau bahkan repot-repot membawakan semua ini untuk Jiwon."

Ucap Baekhyun dengan sedikit konflik didalam batinnya, antara bersyukur atau merasa tak enak karena telah membuat Sehun mengantarkan belanjaan berupa susu, makanan pendamping ASI serta barang kebutuhan rumah lain untuknya dan juga Jiwon.

Laki-laki ini terlalu baik, Baekhyun bahkan dapat melihat dengan jelas ketulusan nyata didalam diri Sehun.

Si pemuda Albino tersenyum tipis. Langkahnya berhenti didepan pintu bersama Baekhyun, karena sebentar lagi dia memang akan beranjak pulang. Kedatangannya kesini hanya sebentar, sekedar mengantarkan barang yang menurutnya akan dibutuhkan oleh Baekhyun dan juga balita kecilnya Jiwon.

"Sama sekali tidak merepotkan. Aku malah senang karena kau mau menerima pemberianku, walau ini tidak banyak."

"I-ini bahkan banyak sekali, mungkin tak akan habis dalam sebulan."

Sehun terkekeh mendengar jawaban polos Baekhyun. Seketika, hasrat untuk mengelus puncak kepala pemuda cantik itu begitu besar.

Dan...

"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Sampaikan salamku untuk Jiwon kalau nanti dia sudah bangun."

Sehun melakukannya, mengusak puncak kepala Baekhyun lembut, membuat si pemuda cantik tertunduk malu.

Ia tersipu. Seorang anak kuliahan melakukan hal itu pada dirinya yang sudah berusia 27 tahun. Jangan lupakan fakta bahwa ia adalah ibu dari seorang putra.

"Sampai jumpa."

Ucap Baekhyun diambang pintu begitu Sehun sudah diluar. Sejenak pria itu terdiam, kemudian menoleh lagi ke arah Baekhyun.

"Aku senang mendengarnya. Itu tandanya kau tidak keberatan jika kita bertemu lagi."

Belum sempat Baekhyun membalas, Sehun keburu pergi dan siluetnya menghilang begitu ia menuruni tangga.

e)(o

Chanyeol memandang tanah dengan pandangan ingin membunuh begitu suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Sehun sempat tertegun. Siluet Chanyeol tiba-tiba saja ada disana, bersandar pada badan mobilnya sendiri dengan kedua tangan tersimpan didalam kantung celananya.

Merasa tak punya keperluan dengan pria itu, Sehun hanya melengos dan berjalan langsung menuju mobilnya.

Tapi Chanyeol tak membiarkan hal itu terjadi.

"Hei, kau buta sampai tidak melihat keberadaanku disini?"

"Apa masalahmu, Yeol?"

Sehun mulai jengah, Chanyeol tiba-tiba saja memperlakukannya sebagai musuh sekarang, bukan sahabat.

Chanyeol mendecih, tersenyum sinis. "Tanyakan itu pada dirimu sendiri. Kenapa? Kau kaget karena sudah kupergoki mendatangi si jalang itu disini?"

"Tutup mulutmu, Park."

"Wow. Park? Kalau begitu Oh, apa kau sudah puas mengeluar-masukkan penismu kedalam lubang si jalang dirumahnya sendiri? Berapa yang kau bayarkan padanya, huh?"

"Aku bersumpah Chanyeol ini sama sekali tidak lucu!"

Bugh!

Lagi, Chanyeol mendapatkan pukulan telak dari sahabatnya. Kali ini tepat mengenai tulang pipi.

Tak perlu basa-basi, Chanyeol langsung berancang-ancang untuk membalas. Namun gerakannya berhenti ketika Sehun cukup cepat untuk menahannya.

Kedua mata tajam mereka saling beradu.

"Aku tidak ingat kapan tepatnya kau tiba-tiba berubah jadi bajingan seperti ini, Yeol. Apa memanggil orang lain dengan sebutan jalang sudah menjadi hobi baru bagimu? Jangan kau sama ratakan semua orang memiliki pikiran kotor seperti dirimu. Kau dan aku... Kita berbeda. Dan lagi, apapun yang aku lakukan disini, itu semua bukan urusanmu."

"Brengsek!"

Tepat, hidung mancung Sehun mengeluarkan darah setelahnya. Si pemuda albino mengusapnya pelan, sama sekali tak merasa terganggu dengan luka ini sebenarnya.

Ia kembali mendekati Chanyeol yang masih menatapnya seperti seorang musuh.

"Jika kau memang benar-benar ingin membenciku, itu tidak masalah. Tapi berhenti memperlakukan Baekhyun seolah-olah dia sangat pantas untuk ditindas. Kalau perlu, jauhi dia. Tidak ada yang memaksamu untuk menolongnya waktu itu, Yeol. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi didalam kepalamu itu. Tapi satu hal, Baekhyun tidak serendah yang kau pikirkan."

Sehun berucap final, kemudian berbalik meninggalkan Chanyeol menuju mobilnya.

Mobil Sehun meninggalkan tempat itu dengan cepat, menyisakan Chanyeol yang masih terus menatapnya penuh amarah.

"Sial!"

Chanyeol meninju badan mobilnya dengan keras, karena kalau tak segera dilampiaskan, kemarahan ini bisa membuat Chanyeol hampir gila.

Rasa cemburu benar-benar telah menutup kewarasan Chanyeol.

Pria itu mendongak lagi, menatap pintu flat Baekhyun yang masih tertutup. Tangannya mengepal, bagaimanapun ia harus tetap bertemu dengan pemuda Carrier itu.

Tapi tujuannya sudah berubah dari yang awal ia niatkan kemarin.

Baekhyun mendengar bell dipintu depan flatnya ditekan berkali-kali, seperti tidak sabaran. Terpaksa, ia mencuci tangannya cepat-cepat dan meninggalkan tugas memotong sayuran didapur untuk membukakan pintu.

"Sebentar..."

Suara lembutnya menyahut dari dalam. Ketika ia membuka pintu, sontak tubuhnya terlonjak kaget.

"C-Chanyeol..."

Pria bertubuh tinggi kekar itu berdiri didepannya dalam keadaan tulang pipi kanan lebam dan sudut bibirnya sedikit terluka walau sudah mengering.

"K-kau kenapa...?"

Ragu-ragu, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh lebam dipipi Chanyeol. Pria itu masih menatapnya dalam bisu. Pandangan mata itu sangat sulit untuk dijelaskan.

Detik selanjutnya, tangan lentik Baekhyun berhasil mendarat lembut diatas bekas luka Chanyeol. Ia mengusapnya, meringis seolah ia bisa merasakan sakitnya.

"Apa sakit? Masuklah, biar ku obati lukanya didalam."

Chanyeol masih menghujani Baekhyun dengan tatapannya. Si pemuda cantik terlihat sangat khawatir dengan luka yang pria itu alami. Padahal bagi Chanyeol, luka ini sama sekali tidak ada apa-apanya.

Kenapa Baekhyun? Kenapa kau masih bisa memperlakukan bajingan sepertiku dengan baik dan selembut ini?

Merasa tak mendapat respon, Baekhyun kembali berkata dengan hati-hati. "M-maaf jika aku terdengar lancang. Aku hanya ingin sedikit membantu..."

Wajah cantiknya tertunduk, sedikit takut karena sejak tadi Chanyeol tidak berhenti menatap kearahnya dengan dingin.

Tapi seketika ia kembali menegakkan kepalanya begitu melihat Chanyeol melangkah masuk tanpa banyak bicara. Si mungil dengan sigap menutup pintu dan menyusul pria itu kedalam.

"Duduklah, aku akan mengambil obat dan segera kembali."

Chanyeol memandangi punggung Baekhyun yang kemudian menghilang setelah memasuki sebuah pintu. Tak lama, pemuda itu kembali dengan kotak penyimpanan obat beserta handuk putih kecil.

Tubuh mungilnya mengambil tempat duduk dihadapan Chanyeol yang sudah bersila diatas lantai berkarpet. Ia mulai mengeluarkan berbagai macam jenis botol dan tube salep dari kotak itu.

Pertama-tama, Baekhyun mebalurkan ciaran alkohol ke handuk putih yang ia bawa.

"Biar aku kompres dulu lebammu dengan ini, supaya tidak semakin membiru nantinya."

Sebelum mendaratkan handuk itu diatas tulang pipi Chanyeol, Baekhyun berusaha sedikit mendongak mengingat betapa tingginya pria dihadapannya ini. Dengan hati-hati, Baekhyun mulai mengompres lebam itu dengan sedikit tepuk-tepukan lembut.

Si mungil tampak begitu serius merawat luka Chanyeol, sehingga ia tak sadar jika sejak tadi pria itu sama sekali tak bisa melepas tatapannya dari wajah cantik Baekhyun yang berada begitu dekat dengannya sekarang.

Hingga pada akhirnya, suara berat Chanyeol tiba-tiba menyelinap diantara kebisuan ini.

"Hentikan, Byun Baekhyun."

Mendengar hal itu, Baekhyun lantas menatap balik sang lawan bicara. Mata innocent itu memancarkan keluguan yang nyata.

"K-kenapa? Apa sakit sekali?"

Baekhyun tergagap, takut-takut kalau ia malah semakin menyakiti Chanyeol.

"Kumohon... Berhentilah Byun Baekhyun..."

Chanyeol tiba-tiba menundukkan kepalanya, begitu lemah dan tidak berdaya. Baekhyun semakin khawatir. Namun belum sempat ia bertanya kembali, kedua tangannya tiba-tiba ditangkap. Tangan kokoh Park Chanyeol kini menggenggamnya dengan erat.

Mata besar dan gelap milik si pria tinggi menatap lurus ke arahnya. Begitu dalam... Begitu menusuk... Hingga Baekhyun sanggup merasakan getaran aneh didalam dadanya.

"Berhentilah... Sebelum aku benar-benar jatuh cinta kepadamu..."

e)(o

To be continued

A/N: Curhat sedikit boleh? Entah kenapa, aku malah nangis ketika nulis bagian terakhir ini; bagian dimana Chanyeol akhirnya bisa berkata jujur tentang perasaanya pada Baekhyun. Aku terlalu terbawa emosi. Aku tahu adegan ini biasa aja, tidak wah atau semacamnya. Tapi aku benar-benar menaruh perasaanku didalam karakter Chanyeol dan juga Baekhyun.

Well, semoga suka ya. Fav, follow dan Review sangat dibutuhkan :) terimakasih untuk tanggapan positif terhadap Fanfic ini. Tembus target 50 Review bisa ga ya? Hehehehe

Oh iya, aku cuma sekedar mengingatkan kalau fanfic ini akan melibatkan cinta segiempat antara Chanyeol, Kai, Sehun dan Baekhyun. Sehun dan Kai sama-sama ingin mengejar Baekhyun juga. Cuma couple utamanya tetaplah Chanbaek :)

Chapter depan, aku pingin banget bikin scene Chanyeol dan Baekhyun bisa bercinta. Sedang aku pikirkan dan usahakan. Karena aku ingin membuat adegan ini cukup berkesan nantinya.