Chapter 4
Quick Note: Chapter kali ini akan sedikit berfokus pada adegan sexual / hubungan intim. Jika merasa tidak nyaman silahkan di skip.
-
-
Baekhyun berusaha sekuat mungkin melawan ketika tangannya ditarik oleh Chanyeol, namun sia-sia. Badannya terseret, melangkah tertatih mengikuti si pria yang entah ingin membawanya kemana. Rontaan ibu satu anak itu sama sekali tak di indahkan oleh Chanyeol. Pergelangan tangan kurus si mungil mungkin sudah memerah akibat kencangnya genggaman Chanyeol disana.
"Dimana ruangan bos kalian?"
Salah satu pelayan club yang berpapasan dengan mereka dilorong terlihat gelagapan karena ditodongkan pertanyaan tiba-tiba oleh si dominan dengan nada yang menuntut.
"Bos? Ru-ruangannya ada dilantai 2, pintu paling ujung disebelah kanan."
Tanpa repot-repot mengucapkan terimakasih Chanyeol melanjutkan langkah sambil tetap menyeret Baekhyun bersamanya. Si pelayan laki-laki menatap si mungil yang meringis kesakitan itu dengan pandangan penuh tanya dan sedikit iba. Tapi dia tak bisa berbuat apapun. Toh Baekhyun adalah 'pelacur' disini. Dan perlakuan pelanggan yang terkadang semena-mena merupakan pemandangan yang biasa saat di club.
"Lepaskan aku, Chanyeol! Mengapa kau membawaku kesini?"
Si pria tinggi memutar knop seakan melupakan tata krama untuk mengetuk pintu sebelum masuk. Penghuninya yang duduk disebuah kursi dibalik meja lantas terkejut dengan kehadiran orang asing secara tiba-tiba di ruangannya.
Oh, dia tidak sendirian. Salah satu 'penghibur' terbaik ditempatnya ada bersama si pria itu.
"Siapa kau?"
Pria 40 tahunan itu bertanya dengan nada yang tidak senang. Baekhyun meringis, habislah dia jika sampai bos mereka marah. Chanyeol benar-benar seperti berandalan yang tak tahu tata krama dan sopan santun.
"Batalkan siapapun yang telah mereservasi Byun Baekhyun malam ini."
Mata Baekhyun spontan melotot kearah si pria tinggi yang terlihat begitu angkuh dengan perkataannya barusan.
"Apa masalahmu, anak muda? Kenapa kau tiba-tiba datang dan meminta hal konyol seperti ini?"
"Turuti saja perintahku jika kau ingin dibayar."
Choi Seunghyun, si pemilik club sekaligus "mucikari" ditempat ini tersenyum miring.
"Berapa yang kau tawarkan?"
"Berapapun yang kau minta."
Jawab Chanyeol tak kalah sengit. Baekhyun menundukkan kepalanya menahan gejolak perasaan tak nyaman didalam dada. Lihat, dua orang tengah bernego mengenai harga atas tubuhnya.
Ayolah Byun Baekhyun, ini bukanlah yang pertama kali. Persetan dengan harga diri. Putramu jauh lebih penting, dia diatas segala-galanya. Lagipula beginilah resiko pekerjaanmu. Kau tidak punya hak untuk menolak ketika ada seseorang yang memberikan penawaran.
"Siapa kau ini, bocah? Pewaris tunggal perusahaan? Atau mungkin pangeran?"
Seunghyun bertanya sarkastik. Sudah lama ia tak menemukan pelanggan yang sangat congkak seperti ini.
"Jangan mengulur-ulur waktuku. Cepat sebutkan saja nominalnya dan kubayar tunai malam ini."
Senyum sinis sedikit meremehkan masih bertahan dibibir pria berperawakan tinggi dan matang itu. Tatapan matanya kini beralih pada si cantik Byun Baekhyun yang masih menunduk dan menggigiti kecil bibirnya.
"Baekhyun-ssi, kau mengenal anak ini?"
Yang ditanyai hanya bisa mengangguk pelan dan samar-samar.
"Tak perlu kau bertanya padanya. Urusanmu adalah denganku. Mari kita percepat ini. 10 juta, kau mau?"
"Oh wow. You're loaded, brat."
Seunghyun menepuk bahu Chanyeol sekali sambil terkekeh karena terhibur. Kelihatan memang, bocah ini punya penampilan serta 'aroma' khas orang kaya.
"Aku harus memastikan jika bidadari ditempatku menyetujui kesepakatan ini. Bagaimana, Byun Baekhyun-ssi? Kau bersedia? Jatahmu akan kutambah 2x lipat karena penawarannya setinggi ini."
Baekhyun merasakan bibirnya kelu. Harusnya Seunghyun tahu bahwa ia tidak bisa menolak--lebih tepatnya tidak boleh. Semua orang tahu bahwa itu melanggar peraturan di club.
Jadi si pemuda cantik hanya bisa membalas dengan anggukkan lemah meski terpaksa.
Park Chanyeol... Lelaki 22 tahun itu benar-benar serius ingin "menyewa" tubuh Baekhyun malam ini.
Chanyeol mengeluarkan handphonenya dari dalam saku jaket. Menekan beberapa titik di layar selama 30 detik, kemudian menyerahkan benda persegi panjang itu pada Seunghyun.
"Ketik sendiri nomor rekeningmu beserta jumlah yang kau inginkan."
Pria 40 tahunan didepannya menyambut tawaran itu dengan senang hati.
"Terimakasih, anak muda. Senang berbisnis denganmu."
Senyum Seunghyun terlihat lebih lebar dibanding sebelum-sebelumnya. Chanyeol tidak tertarik untuk berdiri lebih lama disini setelah semua urusannya selesai. Ia meninggalkan tempat itu masih dengan menyeret Baekhyun yang meringis pasrah didalam cengkramannya.
Malam ini, Chanyeol memiliki hak untuk melakukan apapun pada "tubuh" Byun Baekhyun karena begitulah perjanjian mutlak dalam bisnis prostitusi.
e)(o
"Terimakasih, bibi."
Sehun tersenyum tipis pada salah seorang maid yang bekerja di Mansion mewah Park usai wanita itu meletakkan 2 cangkir teh untuknya dan Kai di ruang TV.
Si pria Tan terlalu sibuk dengan game console yang dimainkannya sampai-sampai ia sama sekali tidak menyadari kedatangan maid itu.
Sehun melanjutkan kegiatannya membaca berita elektronik di iPad sambil berbaring di sofa, mengabaikan sahabatnya yang masih asik bergelut dengan lawan virtualnya di game. Jongin kalau sedang main, berisiknya minta ampun. Sama seperti Chanyeol.
"Lama sekali sih si idiot itu. Bermain melawan computer lama-lama membuatku kesal."
Jongin mengoceh dengan mata yang masih fokus ke layar TV dan tangan menekan brutal stick console.
Si idiot yang dimaksud siapa lagi kalau bukan Chanyeol, pemilik mansion megah tempat mereka akan menghabiskan malam minggu kali ini.
Sehun diam-diam berjengit sambil melirik jam yang melingkar ditangannya. Tidak biasanya Chanyeol keluar sendirian sampai selarut ini.
Tapi bukan salah Chanyeol juga jika dia pulang terlambat. Toh Sehun dan Jongin tidak memberitahu si pria terlebih dulu jika mereka berencana untuk menginap dirumahnya.
Belum lama pasca Jongin yang mengeluh, suara mesin mobil yang familiar terdengar samar-samar dari luar.
"Akhirnya pulang juga bocah sialan itu."
Jongin sempat-sempatnya berkomentar lagi, tapi Sehun tak tertarik untuk menanggapi.
Suara derap langkah dari depan terdengar terburu-buru. Namun aneh. Kedua pasang telinga Jongin dan Sehun juga mampu menangkap suara hentakan sepatu yang asing, seperti Stiletto.
Apa ada gadis yang datang bersama Chanyeol?
Rasa penasaran mereka seketika terjawab begitu siluet Chanyeol datang dengan menarik paksa tangan seseorang digenggamannya. Si mungil dengan wajah yang tidak asing.
Byun Baekhyun...
Membuat bola mata kedua pria diruang TV seketika melebar, terlonjak melihat pemandangan yang tidak disangka-sangka ini.
"Chanyeol, apa-apaan ini?"
"Kenapa kau datang membawa Byun Baekhyun?"
Pertanyaan dari Jongin dan Sehun datang dengan bersahut-sahutan.
Si pria paling tinggi melirik sekilas ke arah sahabatnya dengan pandangan tajam, namun langsung melengos. Langkahnya tetap melaju pasti untuk kemudian menaiki undakan tangga menuju lantai 2.
"Hei jawab kami! Mau dibawa kemana dia?"
Sehun berteriak lagi, kali ini benar-benar bangkit dari sofa dan hendak menyusul Chanyeol keatas. Jongin mengikuti.
Baekhyun tak bisa berbuat apapun selain pasrah mengikuti langkah cepat Chanyeol dengan hati yang enggan. Sesekali ia mengaduh karena pergelangan tangannya benar-benar sakit, mungkin sudah lebam saking kuatnya Chanyeol menggenggam tangan kurus itu.
Sesampainya di lantai 2, Jongin dan Sehun mendengar suara bantingan pintu dan anak kunci yang memutar sampai 2 kali. Mereka kalah cepat. Chanyeol sudah terlanjur masuk ke kamarnya bersama Baekhyun dan mengunci diri didalam sana.
"Sialan!"
Jongin mengerang emosi dan melangkah cepat menuju pintu, berancang-ancang ingin menggedornya.
"Chanyeol! Apa yang kau lakukan didalam?! Cepat buka pintunya! Jangan bertindak konyol, you bastard!"
Suara pintu yang digedor dengan tidak sabaran menggema keseluruh ruangan.
Didalam, Baekhyun mencoba menjauhkan dirinya dari Chanyeol yang tengah melepas jaket dan meletakkannya asal diatas meja.
Pria itu tampak tidak peduli, baik itu pada Baekhyun maupun suara gedoran pintu yang berisik diluar. Dia menyimpan kunci mobilnya didalam laci, kemudian melepas jam tangannya juga.
"A-apa maumu sebenarnya, Chanyeol?"
Baekhyun akhirnya berani membuka suara walau sedikit terbata. Mendengar pertanyaan itu spontan membuat Chanyeol terkekeh sinis.
"Ck, jangan munafik. Ini kan profesimu selama bertahun-tahun. Berhentilah bercanda, Byun Baekhyun."
Si pria tinggi melangkah santai mendekati si lelaki mungil, membuat lawan bicaranya itu seketika menciut sendiri karena ditatap seperti itu; tatapan melecehkan.
Baekhyun seketika berharap bahwa ia tidak pernah mengenal Chanyeol dengan cara yang seperti ini. Tidak setelah apa yang mereka lewati sebelum-sebelumnya. Pria dominan itu datang bak pangeran berpedang yang ingin melindungi Byun Baekhyun, memperlakukannya dengan lembut dan memberinya alasan untuk kembali tersenyum. Tapi siapa yang tahu, sedetik kemudian si pria tidak akan segan bertindak kejam dan menghunuskan pedangnya sendiri pada Baekhyun.
Inilah hal yang tak dapat Baekhyun mengerti... Apa yang diinginkan Chanyeol sebenarnya? Kenapa dia melakukan semua ini? Apa salah Baekhyun padanya sehingga harus menerima perlakuan seperti ini?
"CHANYEOL BUKA PINTUNYA! SIALAN!"
Suara protes dari luar terdengar semakin intens dan membabi buta. Chanyeol memejamkan matanya sejenak dan meringis menahan emosi. Kedua orang itu benar-benar membuatnya ingin meledak.
Tapi Chanyeol masih berusaha keras menahan dirinya untuk tidak peduli. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Baekhyun yang terlihat membuang tatapannya dari Chanyeol. Mata sebening kristal itu tampak menyimpan genangan air batin dengan pilu. Chanyeol merasakan gemuruh tak nyaman dihatinya. Tatapannya semakin intens. Diraihnya dagu runcing si pemuda cantik, memintanya untuk mempertemukan pandangan mata di satu titik yang sama.
I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
"Baekhyun, lihat aku..."
Suara berat itu terdengar melembut tiba-tiba, membuat denyut didalam dada Baekhyun terasa semakin menjadi-jadi. Chanyeol benar-benar membuatnya bingung dan terlihat bodoh...
Kenapa?
Kenapa dia cepat sekali berubah-ubah?
Tanpa diminta, air mata itu akhirnya jatuh sendiri diatas pipi putih Byun Baekhyun.
"Jangan menangis... Maafkan aku, Byun Baekhyun..."
There's many things I wish I didnt do
But I continue learning how not to hurt you
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku, Park Chanyeol... Aku benar-benar tidak mengerti. Aku sama sekali tidak bisa memahamimu. Kau membuatku bingung... dan rasanya sakit..."
Baekhyun akhirnya membalas tatapan sepasang mata elang yang memuja dirinya dengan penuh cinta.
Chanyeol benar-benar ingin memiliki sosok indah didepannya, tidak ada alasan apapun yang bisa membantah semua itu.
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away and be the one who catches all your tears
Tangan besar dan hangat milik Chanyeol mendarat diatas pipi cantik itu, mengusapkan ibu jarinya untuk menepis jejak-jejak air mata yang masih tertinggal disana.
"Jangan bertanya, Byun Baekhyun. Karena aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ini pertama kalinya aku mengalami semua ini, memiliki perasaan semacam ini terhadap seseorang... Dan itu dirimu, Baekhyun."
Baekhyun menunduk ketika Chanyeol mempertemukan kening mereka berdua, menangis sejadi-jadinya karena Park Chanyeol telah melakukan sesuatu yang tak biasa pada hatinya. Sangat sulit untuk dijelaskan... Dan Baekhyun terlalu takut menyimpulkan perasaan macam apakah ini. Tapi ada satu ketakutan yang menjalar dihatinya...
Baekhyun takut dipermainkan.
"Maafkan aku, Baekhyun. Melihatmu bekerja dengan cara memuaskan nafsu laki-laki lain membuatku sangat marah dan hampir gila karena memikirkannya..."
I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with everyday
Chanyeol kembali merengkuh wajah indah itu dengan kedua tangan, menghapus lagi air mata Baekhyun dengan usapan ibu jarinya. Sebuah kecupan mendarat di hidung mungil Baekhyun. Pemuda cantik itu memejamkan matanya, Chanyeol membuat ketakutannya menyusut perlahan-lahan.
"Tapi aku tidak bisa menjadi munafik... Aku menginginkanmu. Ingin memilikimu seutuhnya. Tak ingin berbagi dengan orang lain..."
Baekhyun mengangkat kepalanya, menatap Chanyeol dengan tatapan yang menyiratkan keterkejutan. Dan sorot mata itu seakan berbicara "Tidak, Chanyeol. Ini salah."
"Aku mencintaimu... Kenapa sulit sekali bagimu untuk menerima hal itu, Baekhyun?"
"Kau tidak boleh, Chanyeol... Ini tidak benar. Tolong jangan paksa aku..."
Chanyeol merasakan Baekhyun ingin lari kembali darinya, tapi si tinggi berhasil dengan cepat mencegah semua itu dan berakhir memeluk si mungil dalam dekapannya.
Suara-suara protes dan mengumpat dari luar telah sepenuhnya memudar. Mungkin, Jongin dan Sehun sudah lelah untuk mencoba menyadarkan sahabat mereka dari kegilaannya.
Chanyeol benar-benar sudah gila.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau bersamaku? Apa yang bisa kulakukan untuk membuat kita bersatu, Byun Baekhyun?"
Chanyeol memeluk tubuh mungil itu, sangat erat, dan membiarkan nafasnya hanya bisa menghirup aroma khas lembut yang menguar dari sosok Baekhyun.
"Tidak ada, Chanyeol. Tidak ada yang bisa dilakukan. Jika kau ingin menyetubuhiku, lakukan saja dengan cara seperti ini. Kau sudah terlanjur membayarnya. Dengan begitu, kehidupan kita yang sangat berbeda ini tidak akan saling terlibat. Hanya fisik yang menyatu, tapi tidak dengan perasaan dan lain-lainnya... Aku tidak pantas untukmu. Dan aku tidak bisa mengambil resiko untuk hal-hal rumit seperti cinta..."
e)(o
Nafsu dan birahi
Peluh dan hasrat
Gairah dan amarah
Cinta...
Semua perasaan itu menyatu bersamaan ketika Chanyeol melesakkan kejantanannya pada lubang kenikmatan milik Byun Baekhyun. Kasar dan menuntut, sangat terburu-buru. Begitulah cara si pria dominan menyetubuhi lelaki cantik yang mendesah dibawahnya. Sepuluh pasang jari tangan mereka saling bertautan. Chanyeol mengerang dengan suara yang bergemuruh dan berat, nafasnya berhembus tak teratur.
Tubuh Baekhyun tersentak-sentak, analnya berkedut hebat dan tubuhnya mengejang. Ada kenikmatan yang tak terkatakan ketika penis pria itu menerjang prostatnya dengan brutal. Desahan dan lenguhan keluar bergantian dari bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Chanyeol tak bisa melepaskan pandangannya yang sayu pada sosok indah dibawahnya, memujanya dengan sangat-sangat dalam.
Kecantikan itu menghipnotisnya, membuat Chanyeol lupa akan dunia berserta seluruh isinya. Dan tak pernah Chanyeol merasakan sex senikmat ini didalam hidupnya. Anal Baekhyun bagai ditakdirkan untuk menjepit dan menelan penuh seluruh penisnya seperti saat ini.
Chanyeol mengusap kening Baekhyun yang berpeluh kemudian mengecupnya lembut. Ia ingin berganti posisi. Punggung berototnya berbaring diatas ranjang, membuat Baekhyun kini duduk diatasnya dengan keadaan anal yang masih dipenetrasi oleh kejantanan Chanyeol.
"Move."
Dengan suara berat yang tertutup nafsu menyulut, Chanyeol memerintahkan sosok indah Baekhyun untuk menggerakkan pantatnya yang menjepit kejantanan itu. Si mungil menurut, kedua tangannya digenggam oleh Chanyeol sebagai tumpuan.
"Aaaahhhnn..."
Mata sipit Baekhyun terpejam, setiap pergerakannya membuat penis Chanyeol sukses menumbuk titik itu dengan sangat akurat dan intens. Hal itu membuat sekujur tubuhnya menjadi lemah dan sangat sensitif.
Menyadari Baekhyun akan limbung, Chanyeol mengisyaratkan si lelaki cantik untuk berhenti. Kemudian ia membawa tubuh ramping itu untuk terkulai didadanya, memeluknya erat di pinggang dan membiarkan Baekhyun merebah sejenak dalam pelukannya.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Baekhyun bisa merasakan dan mendengar detak jantung Chanyeol saat ini. Tidak begitu kencang, namun juga tak dapat dikatakan tenang. Si pria kekar membelai rambutnya dengan lembut, mendaratkan satu kecupan dipuncak kepalanya.
"I cant hold it anymore. Can we continue and I move for you instead?"
Tangan besar Chanyeol menjalar kebawah untuk meremat dua bongkah pantat sintal Baekhyun, dimana penisnya masih terbenam didalam sana.
Chanyeol merasakan kepala Baekhyun yang merebah didadanya itu mengangguk pelan. Tersenyum tanpa sepengetahuan si mungil, Chanyeol pun mulai berancang-ancang untuk menggerakkan pinggulnya memuaskan anal Baekhyun kembali.
"Aaaahh..."
Desahan itu kembali lolos dari bibir mungilnya, semakin membangkitkan birahi Chanyeol dalam persetubuhan ini.
Setelah beberapa menit bertahan dengan gerakan yang stabil dan teratur, tiba-tiba saja gairah menuntun Chanyeol untuk melakukannya dengan lebih cepat, lebih menuntut, dan lebih keras.
"N-no... Chanyeol not this fast..."
Percuma. Dalam keadaan seperti ini, sudah pasti Chanyeol tidak akan mendengarkan perkataan Baekhyun. Chanyeol sudah tak bisa.
Dengan caranya sendiri Baekhyun berusaha memberitahu Chanyeol, menyampaikan sinyal dengan bahasa tubuh bahwa pergerakan penis itu terlalu intens hingga membuat si mungil kewalahan dalam mengontrol kenikmatan yang dia rasakan. Menerima rangsangan sekuat ini, Baekhyun tak kuasa menahan gejolak membabi buta pada prostat seorang submisif seperti dirinya.
Pelukan erat Chanyeol pada pinggang Baekhyun membuat si mungil tak bisa bergerak se-inchi pun. Ia hanya bisa pasrah menerima terjangan demi terjangan yang menumbuk keras titik paling sensitif didalam tubuhnya. Teriakan Baekhyun semakin menjadi-jadi kala ia hampir merasakan pelepasannya yang kedua.
Seakan tak pernah puas, Chanyeol kini turun dari ranjang dan menggendong Baekhyun dalam posisi kejantanannya yang masih tertelan didalam lubang anal tersebut. Ia kembali memompa, menciptakan bunyi khas karena kulit yang saling menampar keras satu sama lain. Daging pantat Baekhyun yang gemuk dan kenyal bergoyang-goyang seiring gerakan Chanyeol yang semakin cepat. Kedua tangan mungilnya meremat bahu Chanyeol erat, kepalanya menggeleng-geleng kuat menandakan bahwa ia sudah tidak sanggup menerima rangsangan sekuat ini. Lagi dan lagi.
Dengan nafas yang cepat Chanyeol kemudian membanting tubuh Baekhyun kembali diatas ranjang. Si mungil terbatuk-batuk akibat terlalu banyak berteriak dan mendesah selama hampir 1 jam non stop.
Chanyeol mengusap keringat diwajahnya dengan usapan yang kasar. Ia seperti tengah mengumpulkan tenaga lagi sebelum menyetubuhi Baekhyun untuk ronde selanjutnya.
"Sudah, Chanyeol... Aku sudah tidak kuat..."
Baekhyun memohon dengan suara lemah ketika Chanyeol menariknya lagi untuk berdiri di lantai. Kaki mungil itu sedikit gemetar karena sudah tak sanggup untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri.
Chanyeol seperti buta dan tuli untuk sementara. Dia sama sekali tidak mengindahkan permintaan Baekhyun apalagi sekedar mengerti kondisi pasangannya yang sudah kelelahan. Ia sendiri tidak tahu, bagaimana bisa ia mempunyai stamina sebanyak ini saat bercinta. Rasanya seakan tak habis-habis. Chanyeol memang memiliki hasrat dan birahi yang tinggi, namun tak pernah seganas ini sebelumnya. Baekhyun seperti membangkitkan sosok "animal" yang bersamayam di diri Chanyeol.
Baekhyun memegangi perutnya yang terasa berkedut-kedut, efek setelah mengalami pelepasan yang begitu kuat serta rasanya sedikit menghangat karena sperma Chanyeol yang tertelan didalam sana. Untung ia rutin menelan pil kontrasepsi karena pekerjaannya memang seringkali memberi resiko seperti ini.
Chanyeol menarik pinggang Baekkhyun dan memposisikan pantat sintal itu sedikit menungging mengarahkan lagi kejantanannya disana.
"Maafkan aku, Baekhyun. Kau begitu seksi... Kau begitu indah..."
Kata itulah yang dibisikkan oleh Chanyeol sebelum ia melesakkan kembali penis besar dan berurat miliknya kedalam lubang yang paling nikmat.
Jemari kaki Baekhyun spontan berjinjit menyesuaikan si tinggi yang kini menyetubuhinya kembali dengan tempo yang cepat. Tubuh mungilnya tersentak-sentak lagi, kini semakin kewalahan karena ia tak punya sesuatu untuk dijadikan sandaran atau pegangan. Hanya tangan besar Chanyeol yang saat ini menahan pinggulnya dalam cengkraman kuat yang mampu membuat Baekhyun bisa bertahan pada posisinya.
Si mungil menggunakan kedua tangan untuk menutup mulutnya yang tak bisa berhenti mengeluarkan teriakan dan desahan. Persekian detik, hentakan Chanyeol semakin lama semakin kuat hingga Baekhyun tak kuat untuk berjinjit lebih lama. Secara spontan si lelaki submisif menjatuhkan tangannya untuk menyentuh lantai, berharap itu bisa membantunya dalam menopang badan.
"AAAAAAAHHHHHH...!!! NO CHANYEOL... STOP!"
Baekhyun spontan berteriak ketika Chanyeol tiba-tiba memompa dengan sangat membabi buta, menusuk-nusuk prostatnya kuat tanpa jeda.
Baekhyun berusaha merangkak menjauh dari penis Chanyeol dengan sepasang kaki dan tangannya, namun sia-sia karena Chanyeol terus mengikutinya dan menghentak tanpa henti. Merasa tak senang melihat Baekhyun yang terus berusaha menghindari terjangannya, Chanyeol mengangkat pinggul Baekhyun hingga kaki si mungil melayang di udara.
"NO...!!! CHANYEOL PLEASE..."
Chanyeol tidak mendengarkan. Dengan kedua tangan yang masih bertumpu dilantai Baekhyun kembali menerima hentakan hebat pada analnya.
Chanyeol menggeram seperti binatang buas, sedangkan Baekhyun hanya bisa berteriak karena sebentar lagi ia akan orgasme untuk yang kesekian kalinya.
Chanyeol melepas pinggang Baekhyun yang seketika itu juga ambruk diatas lantai. Si pria dominan mengatur nafasnya karena baru selesai melakukan pelepasan juga. Ia menatap tubuh telanjang Baekhyun yang sudah lemas tak berdaya, tapi hal itu hanya mengundang gairahnya untuk kembali. Chanyeol sendiri ingin mengutuk hormon testosteron sialan yang membuncah didalam dirinya. Kenapa jadi seperti ini? Ini baru pertama kalinya ia rasakan, Chanyeol bersumpah. Dia memang menyukai sex, tapi tak pernah segila ini sebelumnya.
"Bangun."
Chanyeol meraih satu tangan kurus Baekhyun kemudian, namun si mungil enggan untuk mengikuti perintah si dominan.
"Cukup, Chanyeol... Aku tahu bahwa pekerjaanku memang pelacur seks, tapi ini sudah melampaui batas... Tolong biarkan aku istirahat..."
"Jangan salahkan aku, Baek... Kau yang membuatku jadi gila seperti ini."
Seakan kewarasannya sudah tertutup oleh kabut birahi, Chanyeol memilih untuk mengangkat tubuh Baekhyun dan kini membaringkannya kembali diatas ranjangnya yang mewah.
"Baiklah, mari kita beritahu pada 2 bajingan itu bahwa kau adalah milikku, Baekhyun."
"A-apa maksudmu?"
Baekhyun menatap waspada ketika Chanyeol tiba-tiba tersenyum licik dan mengambil handphone dari atas mejanya. Ketika pria tinggi itu berjalan mendekatinya kembali, Baekhyun spontan ingin menjauh. Tapi terlambat. Pergelangan kakinya dicengkeram dan tubuhnya ditarik oleh si pria dominan untuk kembali ketempat semula.
Chanyeol berdiri dilantai, menghadap ke tepi ranjang. Ia memposisikan bokong Baekhyun menghadap pada kejantanannya yang masih mengacung gagah, lalu menempatkan sepasang kaki ramping itu untuk bertumpu pada bahu tegapnya. Tangannya sibuk mengatur kamera pada android miliknya untuk kemudian merekam sosok cantik yang berada dibawah kuasanya.
"C-Chanyeol... Apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini..."
Baekhyun berusaha menghindari sorot mata kamera yang diarahkan Chanyeol sebisa mungkin dengan kedua tangannya. Namun Chanyeol terlihat lebih handal dalam menyingkirkan tangan Baekhyun yang menghalangi kegiatannya merekam.
"Biarkan Sehun dan Jongin melihat bahwa kau hanya milikku, Baek... Mereka tidak punya kesempatan."
Katakanlah Chanyeol sudah benar-benar tidak waras. Tak pernah ia merasa terobsesi ini pada cinta, pada seseorang yang bernama Byun Baekhyun.
"Jangan, Chanyeol... Hentikan! Aaaahhhnn..."
Racauan Baekhyun tergantikan oleh desahan begitu penis Chanyeol kembali menusuk lubang kenikmatannya dengan keras. Tubuh mungilnya tersentak naik dan turun, tangannya kembali lemas dan hanya mampu digunakan untuk menutup mulutnya yang lancang berteriak binal.
"Kau milikku, Byun Baekhyun..."
Chanyeol kemudian membanting asal handphonenya diranjang dan menunduk untuk melumat bibir Baekhyun dalam ciumannya. Pinggulnya masih terus bergerak menghantam titik kemaluan Baekhyun dengan cepat dan ganas.
Panggutan keduanya akhirnya terlapas dan Chanyeol kembali fokus memperkerjakan penisnya untuk memompa. Ia memegang kaki Baekhyun yang masih bertumpu lurus pada bahu tegapnya, menciumi betis bagian dalamnya dengan bernafsu.
Tempo kecepatan persetubuhan pun kian bertambah. Baekhyun berusaha mendorong pinggul Chanyeol yang masih menghentak-hentak itu untuk berhenti atau sekedar memelan namun tetaplah sia-sia.
Beberapa menit kemudian berselang, Baekhyun merasakan gejolak hebat pada perut dan bagian kemaluannya. Tubuhnya bergetar dan sebentar lagi ia akan melewati pelepasannya yang hebat. Lagi. Chanyeol memperhatikan dengan matanya yang menyorot fokus dan penuh konsentrasi, ingin merekam sendiri dengan mata kepalanya bagaimana Baekhyun ketika melewati orgasme karena hentakan dari penisnya.
"Aaaaaahhhh... Nnnnhhhh..."
Tangan mungil itu meremas kuat sprei dibagian kanan dan kiri kepalanya. Tubuhnya seperti mengalami kontraksi hebat hingga bergetar tak terkendali. Mata indahnya terpejam erat, bibir merah itu terbuka kecil dan nafasnya naik-turun cepat namun tak teratur.
Chanyeol tersenyum lembut dan mengusap keringat yang membasahi kening sang Carrier cantik. Ini malam paling hebat yang pernah dilalui olehnya sebagai seorang Pria dominan. Baekhyun begitu sempurna, hingga Chanyeol tak memiliki kata-kata untuk bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Keyakinannya untuk mengklaim dan memiliki Byun Baekhyun kini semakin kuat dan tak terbantahkan lagi.
Chanyeol bersumpah jika ia tidak bisa mendapatkan Baekhyun, maka sia-sia sudah ia terlahir ke dunia ini. Baekhyun adalah tujuan terbesar dalam hidupnya. Dialah sosok pendamping sekaligus "rumah" yang Chanyeol cari-cari selama ini.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun..."
Kecupan itu menjadi simbol betapa besar perasaan cinta yang Chanyeol miliki untuk si Carrier bernama Byun Baekhyun.
I've found out a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you...
e)(o
Baekhyun terbangun pagi itu dalam keadaan yang sedikit tidak nyaman. Dia sudah berada di kamar miliknya dan terbaring pula Jiwon kecil disampingnya. Tangan balita itu masih memegang dot yang sempat ia tinggalkan semalam. Sekarang pukul enam. Putranya pasti akan terbangun sebentar lagi.
Dengan mata yang sendu pemuda Carrier itu terjaga untuk memandangi wajah pulas si balita. Sekelebat bayangan akan persetubuhan semalam tiba-tiba datang kembali, menciptakan sedikit goresan gelap di memori si ibu satu anak itu. Satu lagi cerita tentang kehidupan malam, dimana ia harus menanggalkan kehormatannya untuk kepingan-kepingan uang.
Dan yang terburuk diantara itu semua, pria yang menjamahnya semalam adalah Park Chanyeol. Laki-laki dominan yang telah mengusik hatinya sejak pertemuan pertama mereka terjadi. Entah takdir macam apa yang kini mengikat keduanya, hingga mereka harus terjebak dalam situasi serumit ini. Baekhyun ingin berharap saja bahwa mereka tidak pernah dipertemukan. Sejak hari dimana pesta itu berlangsung, ada banyak sekali aspek dalam kehidupan Baekhyun yang berubah pasca ia mengenal Chanyeol, Jongin dan Sehun. 3 laki-laki itu seperti bergantian ingin mengetuk pintu hatinya yang sudah lama tertutup. Namun Baekhyun telah bersikeras, ia tidak akan membukanya untuk siapapun.
Jiwon lah satu-satunya alasan baginya untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Ia hanya ingin melihat putranya tumbuh, menjadi pria yang hebat dan hidup bahagia. Tidak seperti dirinya. Cukup dia saja yang menderita selama ini, tapi jangan putranya. Hanya itu doa yang selalu Baekhyun panjatkan disetiap hembusan nafasnya.
Pasca kepergian suaminya yang meninggal di usia muda, Baekhyun sudah tidak ingin memikirkan sosok pengganti dari laki-laki luar biasa itu. Ayah Jiwon adalah cinta pertama Baekhyun, dan mungkin yang terakhir pula baginya. Laki-laki itu yang berhasil menarik Baekhyun untuk berhenti dari kelamnya dunia malam. Dia yang mengajarkan Baekhyun bagaimana mencintai, dan memberinya cinta yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari siapapun.
Kim Woobin. Suaminya yang dewasa, yang pengertian, yang sangat mencintainya sekalipun dia sangat kotor dan tak suci sejak dulu. Tapi Baekhyun tahu, Tuhan lebih menyayangi suaminya lebih dari siapapun. Ada tempat terbaik bernama surga yang pantas untuk laki-laki itu tinggali sekarang. Setidaknya, Woobin telah menitipkan harta paling indah didalam hidupnya, sesuatu yang akan ia jaga dan sayangi sampai mati. Buah cinta mereka, Kim Jiwon.
"Mommy akan melakukan apapun agar kau bisa hidup bahagia, Jiwonnie... Tetaplah menjadi penguat untuk Mommy selamanya. Jiwon satu-satunya yang Mommy miliki di dunia ini. Buatlah ayahmu bangga di surga sana saat kau sudah dewasa nanti. Mommy akan bertahan... Jiwon adalah segalanya bagi Mommy."
Baekhyun memejamkan matanya ketika setitik air mata dengan lancang lolos menuruni pipinya yang putih. Ia mengecup dahi mungil balitanya penuh kasih sayang, megusapnya lembut.
Baekhyun mengingatkan kembali dirinya bahwa ia tidak membutuhkan cinta lagi saat ini. Ia sudah terbiasa hidup sebagai seorang single parent bagi putranya. Dia tidak bisa menerima siapapun untuk menjadi sosok pengganti Woobin. Tidak Sehun. Tidak Jongin. Tidak juga Chanyeol...
e)(o
Sehun duduk di atap gedung kampus dengan sebatang rokok yang tersemat diantara kedua belah bibirnya. Semilir angin tak juga membawa pergi kekalutan yang ia rasakan, meski sudah 2 jam ia berdiam disini. Terlalu banyak hal yang tak dapat ia mengerti sejak detik pertama ia melihat video yang Chanyeol kirimkan di ruang chat pribadi mereka.
Kenapa? Apa alasannya?
Entah apa yang ada dipikiran laki-laki gila itu, Sehun sudah kehabisan akal memikirkannya. Ini sudah bukan lagi tentang "persaingan" diantara mereka. Tapi ini juga tentang sikap Chanyeol yang semakin hari semakin berubah. Ia pikir tidak ada satupun hal yang bisa merusak persahabatan diantara mereka bertiga. Tidak wanita, tidak harta, tidak juga ambisi. Tapi Sehun melewatkan satu hal; cinta bisa membutakan semua orang, termasuk Park Chanyeol.
Sejak awal tidak ada yang menginginkan jika pada akhirnya mereka bertiga harus jatuh cinta pada orang yang sama. Inilah titik balik dimana semuanya harus berubah mulai sekarang. Sehun berusaha mengerti jika lambat laun Chanyeol akan benar-benar menganggap dirinya dan Jongin sebagai musuh. Ia tidak akan menyalahkan siapapun. Tapi satu hal yang ia harapkan, Baekhyun tidak harus menjadi korban dari keegoisan mereka bertiga.
Suara langkah kaki sedikit mengusik Sehun dari lamunannya. Ia menoleh, siluet Jongin yang berjalan santai menghampirinya kini mulai tampak dari belakang. Sebatang rokok juga tersemat diantara bibir tipisnya. Sudah jelas. Mereka sama-sama sedang kacau sekarang.
"Kau merokok?"
Jongin tersenyum miring sambil mengambil tempat duduk disamping sahabatnya, Oh Sehun.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri."
Asap mengepul kembali dari celah bibir Sehun saat pria itu membuang nafas. Jongin hanya diam, menyipitkan matanya ketika menghadap langit terang disiang hari.
"Kau tahu, mungkin ada dosa dimasa lalu yang pernah kita lakukan, sehingga karmanya baru datang sekarang."
Jongin membuka obrolan, seperti mengalur ngidul tapi Sehun tahu pasti kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.
Sehun hanya tertunduk, terkekeh kecil.
"Ini tidak ada hubungannya dengan karma. Laki-laki bermarga Park itu hanya terlalu bodoh. Juga kekanak-kanakan."
"Kau ternyata langsung paham apa maksudku. Apa itu artinya kau juga jatuh cinta pada si Carrier?"
Jongin tidak menatap lawan bicaranya, tidak juga bertanya dengan nada yang menyinggung.
"Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada orang seperti dia."
"Kau benar."
Jongin langsung menyahut, mengundang senyum bagi kedua orang sahabat ini.
"Jangan jadi kekanak-kanakan seperti dia, Sehun-ah. Setidaknya kita berdua bisa bersaing dengan cara yang sehat, bukan?"
Jongin berdiri dari duduknya, melempar puntung rokok kelantai dan menginjak benda itu sampai apinya padam.
Satu tangannya kemudian terulur untuk membantu Sehun berdiri.
Si lelaki pucat menatapnya diam. Namun beberapa detik selanjutnya, ia tersenyum kecil dan menyambut uluran tangan sahabatnya itu.
"Kau tahu kalau aku selalu bermain dengan sportif."
Sehun hanya berusaha berkata jujur, dan Jongin mengiyakan fakta itu.
"Jadi, apa sekarang kita telah sepakat?"
"Ya, kurasa begitu. Tapi aku tidak akan kalah, Kim Jongin."
"Jangan meremehkanku, Oh Sehun."
Usai tatapan mata yang pura-pura menajam sengit, kedua sahabat itu kemudian tertawa. Sehun berjalan untuk meninggalkan atap, disusul Jongin yang sesekali menendang bokong datar si laki-laki paling muda itu. Mencintai Byun Baekhyun tidak akan menjadi alasan bagi mereka untuk bertengkar apalagi saling memusuhi. Jika perlu, mereka akan bekerjasama untuk membuat pemuda Carrier itu bahagia.
Dalam hati masing-masing keduanya berharap, semoga Chanyeol juga memiliki pemikiran yang demikian.
e)(o
To be continued
A/N: I feel sorry for you guys who have been waiting for HunBaek/KaiBaek moment. But I promise in next chapter I will bring them up to you! Please anticipate for the next one! Tapi mohon jangan melupakan fakta bahwa fanfic ini tentu akan lebih berfokus pada Chanbaek ya.
Follow, Fav, dan Review akan sangat ditunggu oleh author. Kalianlah yang selalu menambah semangatku untuk update :)
Sepertinya aku akan segera posting 1 fanfic Oneshot untuk kalian semua. Kita lihat nanti ya. Dan jika berkenan kalian bisa cek story chanbaek sexybaekby yang satu lagi, judulnya "Love Needs Sanity". Semoga suka ya
See You!
