.

.

.

A Friend

part 2

.

.

.

Kediaman Bakugo.

Mitsuki masuk ke kamar putranya tercinta. Ia akan membereskan sisa makanan dan minuman di tempat itu. Ya, dua orang teman Kacchan baru saja pulang setelah menjenguk dirinya.

"Bagaimana panasmu? Sudah turun?" tanya Mitsuki setibanya di kamar. Kacchan mendengus. "Begitulah. Besok aku mau masuk sekolah," jawab Kacchan.

"Bagus, aku pusing mendengarmu teriak-teriak terus sepanjang hari. Kau kan sakit, harusnya orang sakit itu lemah tak berdaya tapi kenapa kau malah makin berisik?" Mitsuki ngomel sambil merapikan kamar anaknya. Kacchan mulai naik darah. "Berisik! Toh besok kau akan lepas dariku seharian," ketus Kacchan dengan nada tinggi. Ibunya ini memang selalu bisa membuatnya kesal. Menyebalkan!

"Ngomong-ngomong, temanmu yang satu itu rajin sekali ya main ke rumah," kata Mitsuki memulai topik lain. Kacchan langsung tahu siapa yang dimaksud. Yang pasti bukan si culun Deku, toh ibunya yang garang sudah mengenal Deku jadi tak mungkin ia menyebutnya sebagai 'temanmu yang satu itu'.

"Hmm," Kacchan menggumam saja pelan.

"Apa dia temanmu?"

Kacchan tidak menjawab, hanya memandang ibunya seolah-olah wanita tua itu baru keluar dari rumah sakit jiwa. Mitsuki tahu artinya itu. Ia pun melanjutkan omongannya sembari menyapu sebentar lantai kamar anaknya.

"Kau tahulah, dari dulu tak ada yang benar-benar tulus menjadi temanmu. Mereka semua hanya penjilat. Apa di Yuuei juga banyak yang seperti itu?" tanya Mitsuki santai.

Sudah jadi rahasia umum teman-teman Kacchan dari dulu memang begitu. Tentu sebagai ibu, Mitsuki tahu alasannya kenapa. Apalagi kalau bukan karena quirk Ledakan Kacchan yang mengerikan? Belum lagi sifat bossy anaknya. Hahh kadang Mitsuki bertanya-tanya, dari mana sifat jelek anaknya itu berasal? Yang pasti sih bukan dari dirinya. Mitsuki Bakugo kan ibu yang baik hati serta lembut pada semua orang, uhuk...

Seingat Mitsuki, hampir semua teman-teman Kacchan takut padanya. Tak terkecuali si polos Midoriya. Mereka semua memandang takut pada si King Explosion. Mitsuki hanya berpikir, seseorang seperti Kacchan pasti sulit mendapatkan teman yang benar-benar tulus menyayangi Kacchan.

Maka dari itu ia bertanya, ya hanya sekadar bertanya, apa di Yuuei juga keadaannya seperti itu? Kacchan hanya punya pengikut? Bukan teman?

Kacchan terdiam, cemberut.

"Maksudku, si rambut merah tadi. Apa dia... juga penjilat? Siapa namanya tadi? Ah, Kiri..." Mitsuki menyahut ringan. Walaupun diam-diam hatinya agak sedih juga kalau lagi-lagi Kacchan hanya mendapatkan seorang penjilat, bukan seorang te--

"Berisik!" Kacchan mendengus marah. Matanya menatap tajam iris ibunya.

"Dia bukan penjilat, dia temanku!" geram Kacchan galak.

Lalu hening.

Mungkin sekitar satu menit Mitsuki menganga selesai Kacchan bicara.

Apa dia bilang tadi?!

Teman?!

TEMAN??!!

Hati Mitsuki seketika penuh kelegaan. Akhirnya! Akhirnya!! Ada juga yang menganggap tulus persahabatan dengan anaknya! Ah! Mitsuki menutup mulutnya bahagia. Matanya berkaca-kaca melihat Kacchan yang ternyata sudah seratus tujuh puluh senti meter! Akhirnya anaknya mempunyai teman!

"Dia temanmu?" mata merah Mitsuki berbinar-binar. Tangannya menggenggam erat tongkat sapu. Baru kali ini putranya tersayang mengatakan kalau dia punya teman! Teman! Lihat kan bagaimana tadi putranya membela si rambut merah!

Kacchan mengangguk malas-malasan. "Ya, Kirishima temanku," tangannya memijit pelan pelipisnya. Huh, lihat si penyihir tua di depannya tensi Kacchan bisa naik lagi.

Mitsuki sumringah. Jemari lentiknya menepuk-nepuk lembut kepala pirang anaknya. "Nah, kalau dia temanmu, jaga baik-baik. Ingat, sesama teman harus saling tolong menolong," nasihat Mitsuki (sok) bijak. Kacchan merinding mendengarnya. "Yayayaa! Sudah, pergi sana! Nenek tua jelek!" seru Kacchan jengkel.

"Hohohooo! Kau pikir semudah itu kau mengusir ibumu sendiri dari rumahku ini hah?" Mitsuki mulai mengacak-acak rambut pirang anaknya. Amarah Kacchan pun tersulut. Wanita tua ini benar-benar membuatnya naik darah!

"KELUAR SANA!!!"

"JANGAN TERIAK PADA IBUMU, ANAK KURANG AJAR!!!"

"BERISIK!!!"

"KAU YANG BERISIK!!!"

Di lantai bawah, Masaru Bakugo sang kepala keluarga, menghela nafas sabar. Segala macam teriakan terdengar lagi untuk yang ke sejuta kalinya dalam rumah ini. Ibu anak sama saja, batinnya lelah.

Begitulah suasana sehari-hari dalam kediaman Bakugo.

.

.

.

Fin