Disclaimer : Bangtan bukan milik saia, mereka milik Bighit dan orang tua mereka.

Warning : ini gaje, abal, typo sebagian dari hidup

What Do You Mean?

。。

Ini kali ke tiga dimana Yoongi terbangun oleh suara yang berasal dari kamar mandi. Ia melangkah menuju pintu kamar mandi yang setengah terbuka, dan menemukan Jimin yang sudah membungkuk dan terbatuk di depan wastafel, ia berdiri di belakang Jimin dan membantu mengurut tengkuknya.

"Sudah baikkan?" Tanyanya ketika Jimin sudah terduduk lemas di depan wastafel dan anggukkan kecil menjadi jawabannya.

"Lebih baik kita check up ke dokter" ujarnya dengan membasuh mulut Jimin. Namun Jimin menggeleng.

"Aku hanya merasa mual dan sedikit pusing, nanti juga sembuh" tolaknya.

"Jiminie, lebih baik kita chek up. Tidak baik jika kau asal menebak suatu penyakit." Nasihatnya, namun Jimin masih betah menggeleng.

"Ji-"

"Aku tidak mau!" Selanya dengan menendang kecil kaki Yoongi.

Ia menatap Jimin dalam diam. Dia akan amat. sangat. repot. Jika Jimin dalam mode manja dan tidak ia manjakan.

"Okay-okay kita tidak akan ke dokter, sekarang berhenti menendangku" Yoongi mengalah. Jimin menggembungkan kedua pipinya, dan menghentikan administrasinya.

"Aku yang akan membuat sarapan." Yoongi mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Jimin berdiri, tapi Jimin malah mengangkat kedua tangannya. Ia menghela nafas pelan sebelum menggendong Jimin ala koala.

"Istirahatlah, kau butuh banyak istirahat" ujarnya setelah mendudukkan Jimin di ranjang.

"Hyung, kita pesan makanan saja ya? aku mau makan pizza, es krim dan susu cokelat" ucapnya ketika Yoongi akan pergi keluar.

"Eh tidak jangan pizza, sereal saja bagaimana? Atau onigiri? Dango? Steak? Oh teokppoki saja lalu ini itu lalala"

Yoongi terus menatap Jimin yang mengganti-ganti request menu makanan pagi ini. Mengiyakan saja belum, tapi mintanya sudah sebanyak itu.

"Hyungiiieee~"

"Hyuuuungiiiee~"

"Hyuummph"

Yoongi menutup mulut Jimin dengan telunjuk dan ibu jarinya, ia sedang berkonsentrasi dan suara Jimin sukses mengacaukannya.

"Jiminie, aku harus menyelesaikan ini sayang. Jangan mengangguku." ujarnya setelah melepas jarinya dari mulut Jimin.

"Tapi hyung, aku mau ke HOS-"

"Tidak. kau sakit. wajahmu pucat. Sudah ku bilang untuk istirahat" selanya cepat.

"Tapi hyung aku-"

"Aku tahu kau ada kelas mengajar hari ini, aku sudah bilang Hoseok bahwa kau sakit." Selanya lagi.

"Aku tidak mau kejadian dua hari yang lalu terulang lagi" lanjutnya sebelum Jimin menjawabnya.

Jimin sudah mengerucutkan bibirnya kesal. Ia tahu dua hari yang lalu secara tiba-tiba ia pingsan saat kelas mengajarnya, karena rasa sakit melanda perutnya. Tapi sekarang ia baik-baik saja meski hanya sedikit pusing.

"Hyungie~ ayolah~ juseyo~" rengeknya.

Yoongi menatapnya datar, berdiri dari kursinya, dan berjalan keluar menuju dapur. Jimin yang melihat itu semakin kesal, ia membuntuti Yoongi dan melihatnya membuat secangkir kopi. Ia langsung merampas kopi milik Yoongi dan menatapnya tajam.

"Hyung! Antarkan aku ke tempat Hobi-hyung!" keukeuhnya.

"Tidak. Aku tidak mau Hoseok meneleponku seperti orang gila dan mengatakan kau pingsan" Yoongi berujar menahan emosinya.

"Aku sudah baik-baik saja hyung" yakinnya, sedangkan Yoongi hanya diam dan membuat secangkir kopi lain.

"Hyung! Jangan mengabaikanku!" protesnya ketika Yoongi malah sibuk meminum kopinya.

"Minumlah, kopinya hangat."

Jimin terdiam melihat Yoongi. Ekspresinya menunjukkan rasa lelah. Mungkin ia sudah banyak membebani Yoongi beberapa hari ini, belum lagi ia harus membuat lirik lagu dan tugasnya sebagai seorang produser. Pasti ia sangat lelah.

"Uunggh"

Rasa mual kembali menyerangnya, padahal baru lidahnya yang tersentuh kopi, menuruni kerongkongannya saja belum. Ia langsung meletakkan cangkir kopinya dan berlari menuju kamar mandi.

"Jimin?" Tanya Yoongi ketika Jimin berlari ke arah kamar mandi.

Ia segera menyusul Jimin dan menemukannya berlutut di depan closet dan kembali memuntahkan seluruh isi perutnya. Sepertinya kali ini lebih parah dari pagi tadi, berpegangan pada sisi closet saja terlihat tidak sanggup. Ia menyandarkan punggung Jimin didadanya ketika Jimin akan jatuh, Jimin melihat kearahnya lalu menyamankan posisi kepalanya didadanya.

"Ini yang namanya baik-baik saja" Sinisnya, setelah membaringkan Jimin di ranjang.

"Ma-maaf" lirih Jimin dengan suara serak. Ketika Ia akan pergi mengambil segelas air, sebuah tangan mencegahnya.

"Disini saja hyung, aku tidak haus." pinta Jimin agar Yoongi ikut berbaring dengannya.

"Hanya sebentar okay? Banyak yang harus ku selesaikan" ujarnya setelah melihat Jimin yang semakin pucat. Ia berbaring di sebelah Jimin dan memeluknya, membuat Jimin mencari spot nyaman dalam pelukan Yoongi.

"Hyung" pangginya pelan, Yoongi membalasnya dengan gumaman.

"Hyung, nyayikan lagu untukku" pintanya, membuat Yoongi merenggangkan pelukannya dan menatap kedua mata Jimin.

"Kau tahu betapa buruknya suaraku" tolaknya.

"Slow rap juga tak apa hyung. Eyes, nose, lips juseyo~" ia menyempatkan dirinya untuk ber-aegyo, meski dalam mode 5 watt.

Beberapa menit setelah slow rap-nya berakhir ia ikut tertidur bersama Jimin, mengeratkan pelukkkannya agar Jimin bisa merasa lebih hangat. Melepas lelahnya tak salahkan? Kemarin malam ia juga kurang tidur karena Jimin yang merengek tiada akhir.

Sebuah erangan kesal keluar begitu saja dari mulut Yoongi, pasalnya sumber hangatnya hilang. Meski awalnya dia yang menghangatkan dan menidurkan istrinya, akhirnya malah dia sendiri yang tidur pulas. Kedua netranya langsung terbuka ketika ia menyadari bahwa istrinya yang sedang sakit itu sudah bangun mendahuluinya, ia langsung megarahkan matanya untuk mencari Jimin.

Ia takut jika Jimin kembali memuntahkan makanannya di kamar mandi, tapi dugaannya salah. Ia menemukan Jimin berdiri didepan kaca yang cukup besar dengan menusuk-nusuk kedua pipinya.

"Jimin kenapa sudah bangun?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.

"Ini sudah pukul 8 malam hyung" jawab Jimin yang masih menatap lekat kaca didepannya.

Ia berdiri dari tidurnya dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan, berjalan dan memeluk Jimin dari belakang, menelusupkan kepalanya untuk mencium leher Jimin.

"Hentikan nanti pipimu berlubang" ujarnya dan membawa turun kedua tangan Jimin lalu membawa Jimin untuk menghadapnya.

"Hyung, apa aku bertambah gemuk?" Tanyanya menatap Yoongi lekat. Yoongi terdiam lama dan ikut menatap Jimin lekat dengan ekspresi yang sulit di artikan.

"Tidak, hanya perasaanmu saja" jawabnya datar.

"Kau tidak berbohong kan hyung?" Tanyanya memincingkan mata

"Tidak untuk apa aku berbohong?" Akunya dan Jimin menganggukkan kepalanya.

"Kau benar hyung, kau selalu jujur akan segala hal" ucapnya sebelum mencium kilat bibir Yoongi.

"Aku akan membuat makan malam. Cepat mandi hyuuuung~" lanjutnya.

Yoongi mengamati Jimin yang berjalan keluar, jika ia lihat memang sepertinya Jimin terlihat sedikit gemuk. Tapi biarlah, dia akan diambang kematian jika ia berkata jujur.

BRUUK

"Arrghh Jimin" erangnya ketika dirinya sukses menyatu dengan lantai.

Ia mengusap belakang kepalanya yang terasa paling nyeri dari yang lainnya.

"Apa maksudmu hah?!" Teriaknya sedikit kesal pada Jimin. Ia baru bisa memejamkan matanya pukul 4 pagi, bahkan pukul 6 pagi saja belum dan sekarang Jimin sudah men-torture dirinya.

"Aku tidak mau melihatmu hyung." Usirnya.

"Apa?!" Marahnya.

"Keluar!" Teriak Jimin

"Apa-"

"Jangan mendekatiku. Jangan tidur disini." Perintahnya tajam.

"Aaaaarrrggggh" erangnya marah

Ia berjalan keluar dan membanting keras pintu kamar mereka. Ia memilih pergi dan tidur di sofa, tak mau waktu tidur berharganya hilang akibat pertengkaran tak berguna mereka.

Rasa berat di bagian dadanya membuatnya membuka kedua matanya, ia menemukan sepasang doe eyes yang menatapnya. Sepertinya Jimin juga baru bangun. Tunggu bukannya tadi Jimin mengusirnya? Sekarang kenapa dia menempel di dadanya? Ia merasakan pergerakan diatasnya, Jimin bangun tanpa sepatah kata dan langsung menuju dapur.

Ia menyusul Jimin menuju dapur, saat akan memberinya back hug Jimin berbalik menghindari matanya lalu melenggang pergi dengan segelas air dan masuk dalam kamar.

Jiminnya semakin hari semakin aneh, kemarin malam ia sentuh saja tidak mau. Sekarang saat ia dekati Jimin menjauh, dan lebih pendiam dari kemarin. Ia memilih mendiamkan Jimin sekalian, percuma berbicara jika tidak di anggap. Semua usahanya juga tak berguna dan berakhir emosi sendiri.

SKREKK

Matanya langsung membulat mendengar suara kertas yang dirobek begitu saja. Lamunannya buyar ketika melihat Jimin sudah merobek kecil-kecil kertas lirik lagu yang ia kerjakan beberapa hari terakhir ini.

"Jimin! Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya dan Jimin menatapnya sengit.

"Kau mengabaikanku karena benda ini!" Teriaknya.

"Kau dulu yang memulainya Jimin! Kau!" Balasnya masih berteriak dan menatap Jimin tak kalah sengit.

"Kau tahu mereka sudah menagih lirik lagu ini dan kau! kau merobeknya Jimin!" Imbuhnya masih betah berteriak.

"Aku sudah disini tidak keluar apartmen menemanimu dan masih kau salahkan! Ini itu sudah kulakukan tapi kau menghindariku Apa mau mu Jimin?! Apa?!" Marahnya saat kesabarannya sudah habis.

Jimin hanya menatapnya sengit dengan air mata yang mulai turun. Ia hanya mau Yoongi tetap membujuknya dan memanjakannya terus, bukan ikut mendiamkannya, saat memasang mode acuh. Kenapa Yoongi tidak mengerti maksudnya

"Aku membencimu hyung" ucapnya final dengan air mata yang membasahi pipinya.

Yoongi tersadar dari amarahnya ketika ia melihat air mata Jimin. Ia mencoba memegang Jimin, namun Jimin malah mengambil satu langkah mundur dan terus mundur. Ia mencoba memperingatkan Jimin untuk tidak berbalik karena jika ia berbalik maka-

BRUKK

"HUWAAA!"

Kepala Jimin sukses menabrak dinding dengan cukup keras, ia segera menghampiri Jimin dan memegang kepalanya. Ia bisa melihat hidung kecil itu memerah, pasti sakit sekali.

"Kita ke dokter sekarang" ucapnya dengan menarik Jimin yang masih menangis, bagaimana jika tulang hidungnya patah? Bahayakan.

"Aku tidak mau." Teriaknya dan memberontak agar cengkraman Yoongi terlepas.

"Jimin berhenti memberontak" titahnya ketika ia berhasil menyeret Jimin ke ruang tamu, namun Jimin masih betah memberontak dan menghentakkan tangannya. Hingga pada pilihan terakhir ia mengigit keras legan Yoongi. Setelah terlepas ia segera berlari, tanpa melihat kedepan, bahwa sebentar lagi ia akan menabrak meja.

"Akh... ssh... s-sakit.. akh" erangnya ketika perutnya menabrak meja dengan cukup keras mengingat kecepatannya berlari tadi.

Ia jatuh tersimpuh dilantai dengan tangan yang masih setia memegang perutnya, diikuti erangan dan isakkan dari mulutnya. Yoongi segera bergerak cepat, ia membridal Jimin dan segera berlari ke arah parkiran apartment mereka.

"Bertahanlah sebentar Jim" ucapnya khawatir akan kesadaran Jimin yang semakin menipis ditambah dengan darah yang mengalir di kaki Jimin.

"Tuan Min, bisa anda jelaskan bagaimana ini terjadi?" Tanya dokter Lee padanya.

"Kami bertengkar dan kau tahu akhirnya" jawabnya singkat, karena dokter itu seperti menghakiminya. Senyum kecil terpatri di bibir dokter cantik itu.

"Kau pengendara yang hebat tuan Min, terlambat sedikit semuanya berakhir" pujinya.

"Apa dia sakit separah itu?" Tanyanya gusar pada sang dokter.

"Tidak, dia tidak sakit" jawabnya dengan sebuah senyuman.

"Lalu?" Tanyanya meminta penjelasan, dokter itu tertawa kecil melihat ekspresi bingung Yoongi.

"Istrimu sudah mengandung selama 1 bulan 3 minggu. Apa kau tidak menyadarinya?" ucapnya yang membuat Yoongi blank.

"Apa? Bisa kau ulang?" Tanyanya tidak percaya.

"Kau bisa melihat sendiri hasilnya tuan Min. Aku turut berbahagia untukmu, selamat kau akan menjadi seorang appa." ujarnya dengan memberikan kertas hasil chek up pada Yoongi dan menjabat tangan Yoongi.

Ia berjalan dengan wajah blanknya, sedangkan ucapan dokter itu terus terngiang di kepalanya. Oh Swag, jika ia tahu dari awal, maka ia tidak akan menyeret atau memperlakukan Jimin seperti tadi yang berakibat kelacauan ini terjadi.

Ia memasuki ruangan Jimin, duduk disamping Jimin yang sudah sadar dan meminum susu cokelatnya, sepertinya perawat tadi memberikannya untuk Jimin.

"Ada apa hyung? Hasilnya buruk?" Tanya Jimin ketika ia melihat ekspresi blank milik Yoongi. Yoongi yang menangkap suara Jimin memandangnya sebentar sebelum menelusupkan tangannya kedalam sweater Jimin, membuat sang empu terkikik geli.

"Tidak, semuanya baik hanya..." ucapnya menggantung dan meraba perut Jimin, setelah pikirannya sudah netral ia melanjutkan kalimatnya.

"... kau membawa kehidupan lain Jimin. Didalam sini"

Jimin yang mendengar itu menautkan alisnya bingung. Kehidupan lain apa? Ia mengambil kertas yang Yoongi berikan padanya, membacanya perlahan, ia terdiam lama, matanya menatap lekat tulisan yang bercetak tebal dan tak lama kemudian matanya mulai berair

"Kau bodoh hyung, kata-katamu terlalu sulit untuk otakku" komplainnya lalu memeluk Yoongi erat.

"Ya dan aku terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya. Maaf aku membentakmu, menyeretmu dan-" ucapnya terputus ketika Jimin mencium bibirnya.

"Kau tidak salah hyung, aku juga berbuat semauku dan merepotkanmu" Jimin mengentikan aksi minta maaf Yoongi.

"Mungkin baby ini yang membuatmu begitu" Yoongi tersenyum menawan setelah mengatakan hal itu.

"Aku akan menjaganya dengan baik" Jimin tersenyum dan memeluk perutnya sendiri.

"Dan aku yang menjaga kalian berdua" imbuhnya dan menarik hidung Jimin. Oops sepertinya dia terlalu bahagia hingga lupa bahwa beberapa jam yang lalu hidung Jimin mencium dinding.

"Aw sakit hyung! Menjaga apanya kau membuatku sakit! Aku membencimu hyuuung!" Teriaknya menggema.

Dan sepertinya Yoongi juga lupa jika seseorang yang dalam mode begitu akan amat. sangat. sensitive.

END

A.N :

Seperti biasa cerita ini kembali dengan judul dan cerita yang tidak senada. Okay, Saia tak banyak cakap. Semoga suka dengan chap ini dan sesuai harapan. *bow*

Untuk ChiminChim-san dan Dessy574-san terimakasih atas idenya^^ semoga sesuai dengan harapan kalian, jika tidak saia mohon maaf *bow*

Lalu untuk Schehshfly-san dan ChiminChim-san terimakasih juga sudah menjadi teman ngobrol saia ^^

Terimakasih juga pada minna-sama yang sudah mau membaca, mereiview, memfavorite, dan memfollow cerita ini. Arigatou~ *bow*.

Balasan Review :

Mbee

Yup ini sudah lanjut, semoga suka chap ini ya ^^ terimkasih juga atas reviewnya *bow*

cutechimo jemen

Arigatou reviewnya *bow*

Saia pengen juga di gituin Yoongi #ngayal tapi ya apalah daya saia yang tidak secantik dan seimut Jimin, tapi Yoongi buat Chim saja biar Taetae yang sama saia #ngayal(2) semoga suka chap ini ya thankyou^^

Hoshizora

Terimakasih atas reviewnya *bow* terimakasih juga sudah mau menunggu lanjutannya, semoga suka chap ini ya thankyou

Schehshfly

Arigatou atas reviewnya ^^ terimakasih juga sudah mau menemukan lanjutan ff ini ^^ saia lupa untuk membalas reviewnya di PM jadi saia balas di sini thankyou^^

Maaf jika chapter ini mengecewakan *deep bow*