Disclaimer : Bangtan bukan milik saia, mereka milik Bighit dan orang tua mereka.
Warning : ini gaje, abal, typo sebagian dari hidup
。
。
。
。
。
J
。
。
。
。
。
。。
BUGH!
BUGH!
"-Min"
BUGH!
"Min Ji-"
BUGH!
BUGH!
Lemparan tiada henti itu terus menghantam si rambut hijau. Ia hanya bisa bungkam dan melindungi wajah tampannya, sedangkan si orange terus melemparnya dengan berbagai boneka.
"Yoongi"
BUGH!
"JELEK!"
BUGH!
"MENYEBALKAN!"
BUGH! BUGH!
Bibir plum menggoda itu semakin mengerucut, ia memincingkan mata sengit, menandakan rasa kesalnya yang teramat besar.
BUGH! BUGH!
Tangan yang masih setia menyilang itu terus mengamankan kepalanya dari seragan brutal Jimin, namun seiring detik berikutnya tak ada lagi lemparan datang, sepertinya itu menjadi serangan terakhir Jimin.
"Kenapa tidak dilempar hm?" tanyanya setelah melihat satu boneka beruang putih besar dalam pelukan Jimin.
"Pergi sana! Jangan mendekat!" Teriak Jimin.
"Jimin, dengar ak-"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Sebelum lemparan berikutnya mengenai dirinya dan wajah tampannya, ia segera berlari ke luar dari kamar Jimin dan menutup pintunya. Sungguh amarah Jimin berlipat ganda.
"Berhasil?" tanya seorang namja cantik yang diketahui sebagai eomma Jimin. Sebut saja Baekhyun. Park Baekhyun.
"Belum eommoni." jawab Yoongi.
"Tch... tidak berguna" ejek namja cantik lain, membuat Yoongi menatap sengit orang yang berada di belakang eomma Jimin, yang tidak lain adalah Min Heecul. Eommanya sendiri.
"Jangan memulai Eomma." Yoongi memutar matanya jenggah.
"Sia-sia saja eomma menikahkanmu dengan Jimin." kompornya lagi.
"Chullie hyung, sudahlah. Jiminie juga keras kepala." ujar Baekhyun menengahi.
"Anakmu itu aku eomma bukan Jimin." Yoongi mendesis.
"Sekarang dia anaku juga Min." balas sang eomma tak mau kalah.
"Jika bukan karenaku, Jimin tak akan jadi anakmu eomma." Yoongi tersenyum menang.
Beginilah jadinya jika Yoongi bertemu eommanya. Jika tidak berdebat tentang Jimin ya berebut Jimin, mengingat obsesi mereka pada Jimin yang sama besarnya.
"Sudah kalian sama saja. Yoongi lebih baik kau kembali ke studio, biarkan kami yang mengurus Jimin." saran Baekhyun sebelum peperangan terjadi.
"Sana urus pekerjaanmu, Jiminie milik eomma sekarang." ucapnya dengan nada menantang.
"Terserah. Eommoni aku titip Jimin. Jangan di culik." Yoongi berujar sengit.
"Jiiimiiiniieee~ Chullie eomma datang~" singsang Heecul yang mengabaikan Yoongi.
。
。
。
。
"Kau bodoh atau dungu? Sudah ku bilang bukan seperti ini! Menyingkir dan buat yang lain!"
Lengkap sudah penderitaan seorang namja yang dari tadi pagi menjadi sasaran empuk amarah si rambut hijau, dan berakhir dengan mengulang seluruh hasil kerjanya dari awal. Seperti merubah ulang seluruh hasil rapat mereka dengan Bang PD-nim, ya itu adalah salah satu dari semua 'kesalahannya' hari ini.
"Yah! Hyung ada apa denganmu?" tanya salah satu rekannya yang sudah sering ia hina, Hoseok. Lengkapnya Jung Hoseok, yang sudah lelah mendengar segala umpatan Yoongi.
"Diam kau Hoesok." titahnya dingin.
"Hyung, harusnya itu Hoseok. Tega sekali kau merubah nama pemberian orangtuaku?" ujarnya tak terima.
"Kau memperparah keadaan Hope." Namjoon yang sudah geregetan ikut menyuarakan suaranya.
Sebenarnya ia sendiri juga lelah dengan aura amarah Yoongi yang menghiasi ruangan rapat mereka.
"PMS hyung?" Hoseok masih berusaha membuat Yoongi membuka mulutnya untuk bercerita.
"Banyak sekali orang bodoh di dunia ini, mana ada namja pms. Ka-"
"Cukup hyung. Apa masalahmu? Berhenti membuat kita sebagai sasaran amarahmu." Namjoon menyela.
"Benar hyung, kau bisa bercerita pada kami." imbuh Hoseok.
Ucapan mereka membuatnya menghela nafas pelan lalu mentap kedua sahabat sehidup-matinya itu. Bukannya ia tak percaya dua sahabatnya ini, tapi tak ada salahnya untuk bercerita kan?
"Jiminie." ucapnya lirih.
Sudah ku duga!
"Sudah dua minggu dia di rumah eommanya, dan menolakku habis-habisan." paparnya dengan nada lelah.
"Ah! Jangan katakan jika ada eommamu juga di sana." tebak Namjoon
"Tepat sekali Kim." Yoongi membenarkan.
"Pantas suasananya mencekam. Apa yang kau lakukan hyung sampai Jimin marah besar?" Hoseok penasaran.
"Sebenarnya, aku memindahkan seluruh barang-barangku dan Jimin ke rumah baru yang sudah ku bangun. Kita sepakat akan pindah saat member baru datang, tapi sepertinya Jimin lupa akan hal itu dan dia marah besar." ungkapnya jujur.
"Aaah... jadi dia marah karena kau tidak mengatakan akan pindah di bulan ini?" Klarifikasi Hoseok, diangguki Yoongi.
"Lalu pengusiran pagi ini?"
"Jika yang itu..."
。
。
。
。
"Chullie eomma~"
Jimin yang merengek lelah karena eomma mertuanya itu terus menyuapkan buah yang ia kupas untuknya, sedangkan eommanya sendiri hanya duduk santai di sampingnya.
"Wae Jiminie? Ayo cepat habiskan lalu kita belanja baju untuk cucu eomma." ucapnya semangat.
"Kita tunggu Yoongi hyung saja eomma." pinta Jimin.
"Kenapa menunggu Yoongi? Lalu siapa yang mengusirnya tadi pagi?" Baekhyun berujar santai.
"Tadi pagi Yoongi hyung mesum. Jadi aku mengusirnya." Jimin mengerucutkan bibirnya sebal.
"Mesum? Apa yang dilakukan si mesum itu pada anak kesayangan eomma ini hm?" tanya Heecul mengusap sayang kepala Jimin.
"Eomma tahu, tadi dia membangunkanku dengan membuat jejak di sekitar sini eomma." tunjuknya pada daerah perpotongan lehernya.
"Wah cukup banyak, jelas dan terang sekali tandanya." pujinya dengan mengangguk-angguk
Pujian itu malah membuatnya semakin sebal. Yoongi dan eommanya sama saja! Mereka suka membuatnya di posisi sulit!
"Tandanya bagus kan chim? Eomma bangga sekali pada Yoongi." bergantilah Baekhyun yang memuji Yoongi.
"Ish.. eomma! Anakmu itu aku!" kesalnya.
"Yoongi juga anak eomma." belanya lagi.
"Molla, eomma menyebalkannya." kesal Jimin
"Aww apa anak eomma ini marah?" goda Heecul.
Jimin mengalihkan kepalanya dari senyuman jahil eommanya dan menatap lurus ke arah suster yang berlalu dengan beragam berkas dan obat di tangannya. Hingga tak lama kemudian seorang suster memanggil namanya.
"Min Jimin."
"Iya" sahut eomma sosialita itu, dan segera masuk kedalam ruangan yang ditunjuk oleh sang suster.
"Pagi nyonya Min." sapa dokter Lee, dan dibalas senyuman kecil dari Jimin.
"Dimana tuan Min? Biasanya anda akan datang bersamanya." senyumnya ramah dan sedikit membungkukan badannya melihat kedua namja cantik di belakang Jimin.
"Dia sedang sibuk, jadi kami menemaninya." jawab sang eomma mertua.
"Baiklah, tak biasanya ia tidak menemaninya. Seingatku tuan Min akan selalu meluangkan waktunya, apalagi ia semangat sekali mengetahui perkembangan anaknya." jelas sang dokter yang membuat Jimin memandang sang dokter.
"Nyonya Min, berbaringlah di sini dan aku akan memeriksa keadaan anda dan bayi anda." lanjut sang dokter meminta Jimin untuk berbaring.
Perkataan yang terlontar dari bibir dokter Lee terngiang begitu saja di otaknya. Memang benar apa yang di katakan oleh dokter itu. Yoongi yang paling semangat dan antusias menyambut datangnya anak mereka, bukannya ia tidak bahagia, tapi salahkan Yoongi yang memutuskan semaunya sendiri.
"Nyonya Min?" panggil sang dokter yang membuat lamunannya buyar.
"Apakah anda memikirkan sesuatu yang membuat anda kecewa?" tanya dokter cantik itu.
"Tidak." elaknya.
"Benarkah? Tapi detak jatung si kecil ini berkata lain. Ingin mendengarnya?" perkataan dokter itu membuatnya penasaran dan langsung ia angguki.
Ia bisa mendengar detak jantung kecil. Detakan yang pelan tapi ada sedikit kesedihan dalam detakan itu. Apa dia tahu yang ia rasakan? Jimin melihat kearah sang dokter yang tersenyum padanya, sebelum ia melontarkan pertanyaan dokter cantik itu menjawab wajah bingungnya itu.
"Nyonya Min, jantung mu berdetak untuknya dan perasaanmu perasaannya juga. Ketika kau merasa sedih, ia akan merasakannya juga." Jimin menatap dokter Lee dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Dia dan dirimu merindukan tuan Min. Berhenti menyiksa dirimu dan bayi kecilmu, apalagi di usia kehamilan mu yang sudah mencapai bulan keenam. Ia sudah lebih peka dengan sekitarnya, seringlah berinteraksi denganya agar ia mengenal suaramu dan suara tuan Min."
。
。
。
。
Drrrtttt... ddrrrtttt...
"Hyung, angkat telponmu." Namjoon mengingatkanya untuk yang kesepuluh kalinya.
"Hm..."
Dan itu juga yang menjadi jawaban Yoongi untuk yang kesepuluh kalinya. Begitulah Yoongi, ia akan melampiaskan segala emosinya pada pekerjaannya jika Jiminnya memusuhi dia.
"Hyung, eommamu sudah menelepon sepuluh kali. Siapa tahu itu Jiminie." kini berganti Jungkook yang mengingatkan dan seketika nama Jimin disebut ia segera mengangkat telponnya.
"Yeobb-"
"PABO YA! MIN PABO YOONGI! CEPAT KEMARI ATAU KU BUNUH KAU!"
Teriakan nyaring yang menyapa telinganya itu membuat dengungan tercipta di telinganya.
"Eomma, teriakkan mu i-"
"Tutup mulutmu Min! Atau ku cincang-"
"Yoongi? Yoongi? Kau disana nak?"
Yoongi mengerutkan keningnya bingung, Namjoon yang menyikut tangannya bertanyapun hanya ia jawab gelengan.
"Ne, eommoni ada apa?" jawab Yoongi, setelah menelaah seluruh teriakan eommanya dan nada khawatir milik eomma Jimin.
"Yoongi, bisakah kau pulang lebih awal? Jimin, dia menangis dan memintamu datang. Bahkan ia tak mau makan apapun."
Yoongi yang mendengar itu segera mengangkat dirinya dari kursi kerjanya dan segera melesat menuju pintu keluar ruang kerja Namjoon.
"Joon, Hope, Kook. Sisanya kalian urus." Ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.
"Jadi apa?" tanya Hoseok yang menghasilkan gelengan dari kedua rekannya.
"Aku lapar. Kita makan saja." ucap Jungkook polos.
"Ide bagus Jeon." Setuju Namjoon
"Setidaknya aura setan itu hilang." Hoseok berujar lega dan diangguki kedua manusia lain disebelahnya.
。
。
。
。
Setibanya di kediaman keluarga Park, ia segera berlari masuk dan disambut kedua eommanya yang menatapnya khawatir.
"Akhirnya kau datang, cepat urus Jimin sebelum appanya pulang. Palli! palli!." Baekhyun mendorong Yoongi masuk kedalam kamar Jimin, lalu menutup pintunya.
Yang ia lihat bukanlah Jimin yang menangis seperti kata sang eomma tapi Jimin yang sedang membaca novel dan alunan musik lembut menemaninya.
"Jim, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir karena Jimin hanya melihatnya dalam diam. Selang beberapa menit kemudian Jimin mulai menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Reflek, ia segera mendudukkan dirinya di samping Jimin dan memeluknya erat. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Jimin dan bayi mereka, jujur saja ia amat sangat khawatir.
"Maafkan aku hyung." tiga kata yang keluar dari bibir manis Jimin semakin membuatnya cemas.
"Hei, ada apa?" tanyanya menenagkan.
"Aku merindukanmu hyung. Appa menceritakan semuanya padaku, harusnya kau mengatakan semuanya dari awal hyung." ujarnya, membuat Yoongi diam mencerna maksud Jimin.
"Jika aku mengatakannya itu bukan surprise. Aku ingin tahu ekspresi terkejutmu saat kau melihat rumah kita nanti." jelas Yoongi.
"Jika aku tahu kau sudah membangunnya sejak tiga tahun yang lalu, aku tidak akan bertindak seperti ini. Bahkan kau sampai mendesain rumahnya seperti yang aku inginkan." ucapnya dengan nada menyesal, dan menghasilkan kekehan Yoongi.
"Jika aku menikahimu tanpa sesuatu yang bisa kuberikan padamu, berarti aku telah gagal. Lagi pula aku takut jika appamu tidak mengijinkanku menikahimu jadi aku memberikan desainnya pada appamu." Yoongi melepas pelukanya pada Jimin dan menatapnya lekat.
"Sepertinya kau sangat mencintaiku hyung." ucap Jimin memberi kecupan ringan di bibir Yoongi.
"Aku sudah mencintaimu sejak kita satu tim untuk festival kampus. Kau yang membuatku percaya cinta pada pandangan pertama." Jimin memandang Yoongi lekat sebelum pekikan kecil keluar dari mulutnya.
"Ow..."
"Apa yang sakit?" Yoongi khawatir mendengar pekikan Jimin, namun Jimin tersenyum dan hanya mengarahkan tangan Yoongi ke arah perutnya.
Kedua mata sipit Yoongi langsung terbuka lebar dengan ekspresi lucu. Ia melihat Jimin dengan pandangan yang sulit dipercaya.
"Di-dia bergerak chim!" serunya senang.
"Lihat betapa senangnya dia mendengar suaramu." jelas Jimin padanya. Yoongi menempelkan telinganya di perut Jimin dan berbisik.
"Cepatlah datang, appa sudah tidak sabar untuk memelukmu."
Tanpa mereka sadari orang tua mereka sudah berkerumun di dekat pintu menguping segala pembicaraan mereka dengan senyum yang mengembang.
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
Suasana makan malam kediaman Park benar-benar hangat dan nyaman, obrolan ringan yang menyertai kegiatan Yoongi menyuapi Jimin.
"Hyung." pangginya tiba-tiba membuat seuruh orang disana memandangnya.
"Ya?"
"Bisakah kita pergi ke rumah kita dengan bersepeda?"
"Kau bercanda."
"Apa salahnya Yoongi, lakukan saja." ucap appanya Min Hanheng santai.
"Eomma juga merasa kau butuh olahraga Yoongi." dukung eommanya dengan senyum setan andalannya.
"Jaraknya cukup jauh eomma, bagaimama jika Jimin merasa lelah di tengah jalan?" elak Yoongi
"Jaraknyakan cukup jauh, bukan jarak dari Seouk ke Daegu. Apa salahnya Yoongi. Jika bukan karna ku Jimin tak akan kembali padamu." kali ini appa Jimin, Park Chanyeol yang berbicara.
"Yeol, cukup jangan ikut campur. Biarkan Yoongi melakukan apa yang harus ia lakukan, jika Jimin ingin begitu maka Yoongi harus melakukannya." Baekhyun menengahi.
"Tepat sekali."
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
TBC
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。
。。
A.N :
DOUBLE UPDATE! ^^
Semoga suka dua chapter baru ini ^^ Semoga masih ada yang menunggu updatean ff ini ^^ Terimkasih yang sudah mau menunggu kelanjutan ff ini *deepbow* Terimaksih juga untuk minna-sama yang sudah mau memfollow dan memfavorite story ini *deebow*
