Disclaimer : Bangtan bukan milik saia, mereka milik Bighit dan orang tua mereka.

Warning : ini gaje, abal, typo sebagian dari hidup

O

。。

Mata sukses terbuka lebar itu langsung disuguhkan pemandangan namja berambut mint yang masih setia pada mimpinya. Dia melihat bibirnya bergerak pelan, ingin rasanya mengecup bibir itu, apa daya perutnya yang membesar menghalanginya melakukan itu.

Ia menggerakkan tangannya menyentuh pipi kanan si namja mint dan mengusapnya pelan, membuat kedua netranya terbuka.

"Hey.." sapanya dengan suara serak.

"Hey, pagi hyung."

"Tidurmu nyenyak?" tanyanya dan mengecup singkat kening Jimin.

"Sangat. Tidur dalam pelukan Min Yoongi sangaaat nyaman." jawabnya di sertai tawa kecil.

"Silly Mochi." ia mencubit kecil pipi Jimin, membuat namja mochi itu menjulurkan lidahnya.

"Apa dia sudah bangun?" Ia mengusap sayang perut Jimin.

"Belum, sepertinya kehangatan ini membuatnya nyaman." jawabnya, dengan senyum manisnya.

Detik kemudian keheningan menyelimuti mereka, Yoongi yang mengusap sayang rambut Jimin, begitu pula sebaliknya menikmati usapan lembut yang menenangkan. Tak satupun dari mereka berminat untuk beranjak, hingga si imut di antara keduanya memutuskan untuk membuka suara.

"Hyung, apa kau tidak ingin bangun dan mandi?"

"Sebenarnya, kegiatan ini yang paling menyenangkan dari kedua hal yang kau sebutkan." jawaban terlewat jujur itu membuat Jimin memutar matanya malas.

"Tapi, aku mau mandi hyung." keluhnya.

"Nanti saja Chimie. Ini terlalu nyaman untuk bangun." balasnya dengan keluhan lain, baru saja ia akan membalas Yoongi, tapi sebuah pergerakan dalam perutnya, otomatis membuatnya bungkam.

"Sepertinya dia sudah bangun. Apa kau merasakannya hyung?" ucapnya dengan mata berbinar. Yoongi yang melihat itu, membawa tangan kiri Jimin ke arah bibirnya dan memberi kecupan ringan pada jemari mungil Jimin.

"Ya, aku merasakannya. Dia bergerak, cepatlah datang mochichimchim." ujarnya mengusap pelan perut Jimin dengan senyuman lebarnya.

"Lihat, betapa tidak sabarannya appamu ini." tawa Jimin, meletakkan tangan kanannya di atas tangan Yoongi dan ikut mengusapnya.

"Jadi Yoonie appa, kapan kita mandi?"

"Kita mandi sekarang, puas?" ia bangkit dari ranjang mereka dan membantu Jimin.

"Kau bertambah gemuk chim, seperti mochi berjalan." guraunya.

"Kau yang membuatku begini hyung, ingat? Berhenti memanggilku mochi berjalan."

"Mochi gembul-akh sakit." satu cubitan sukses membuat Yoongi merintih dan menghentikan ejekannya.

O

Setelah ritual pagi mereka selesai (a.k.a memandikan Jimin) berakhir, ia menggendong Jimin menuruni tangga dan mendudukkannya di sofa.

"Aku berat hyung?" kalimat pertanyaan itu terlontar setelah duduk manis di sofa.

"Tidak, kau ringan seperti air galon." pout lucu segera terbentuk di bibir ranum Jimin mendengar jawaban Yoongi.

"Itu tidak ringan namanya. Menyebalkan!" bibir mengerucut itu semakin parah ketika sang pelaku tergelak dalam tawanya, entah kenapa Yoongi lebih suka menggodanya kali ini. Oh, bukan kali ini, tapi sejak pertengahan bulan ke-enam masa ke hamilannya. Yoongi jadi lebih menyebalkan.

"Haa... okay, maafkan aku sayang. Sarapan apa yang kau inginkan hari ini?" tawarnya setelah bosan tertawa.

"Pancake terdengar enak, buatkan aku bentuk beruang ya hyung." pintanya.

"Hmm... baiklah, tapi berikan bayaranku. Pelayanan ini tidak gratis chim." ucapan Yoongi membuat kedua alisnya bertaut, 'bayaran'? Apa? Ia berpikir sejenak sebelum menarik Yoongi membungkuk untuknya.

Cup cup cup

Ia memberi kecupan pada kedua pipi dan bibir Yoongi, sebelum menjauhkan kepalanya dan menatap penuh manik hitam di hadapannya.

"Cukup?" tanyanya.

"Itu baru seperempatnya, tapi kau bisa membayar sisanya..." ia menggantung kalimatnya membuat Jimin memandangnya penuh.

"...saat sesi malam hari." lanjutnya sebelum berlari ke arah dapur, melarikan diri.

"Hyuuung! Berhenti menggodaku!"

O

Rasa bosan mulai menghampiri si orange, mulai dari memindah chanel teve, sampai bermain ponsel pintarnya, tak ada yang menolong. Ia melirik ke arah Yoongi, masih sibuk dengan masakannya, apa selama itu membuat pancake?

Di edarkan pandangannya menatap seluruh foto di dinding ruang tamu, tertata rapi dan mudah untuk dipandang. Apa Yoongi melakukan ini sendiri? Ia merasa bersalah tidak bisa membantunya, menata seperti ini bukanlah hal mudah. Dengan berpegangan pada sandaran sofa, ia berjalan menuju salah satu bingkai foto yang berada di meja teve.

Itu foto di depan air terjun dimana Yoongi memeluknya dari belakang, sekilas ia teringat tentang liburannya ke Norway bersama Yoongi dan yang lain, lucu, menegangkan dan menyenangkan. Senyum kecil terselip dari bibirnya, ia menoleh ke kanan dan menemukan dua buah album foto, salah satunya bertuliskan 'History' di atasnya. Penasaran, ia mengambil album tersebut dan membawanya menuju sofa.

Dibukanya halaman pertama, dan menemukan foto malam festival kampus mereka, ada dirinya dan Yoongi di panggung. Ia teringat Yoongi memainkan instrumen piano yang indah, di situ juga awal mereka bertemu. Ia tertawa mengingat betapa kakunya Yoongi dulu, membuat Namjoon dan yang lain ikut turun tangan membantunya.

Di bawahnya terdapat foto dimana mereka bermain di pantai, ada dia dan Jungkook yang membangun istana pasir, foto Namjoon dan Jungkook yang melempar Hoseok ke laut, Seokjin yang memakan semangka dan dirinya yang mengubur Yoongi dalam pasir.

Di sampingnya ia melihat foto mereka berenam. Ah, foto ini, Yoongi dan Jungkook menarik dirinya ke arah mereka masing-masing. Membuat foto ini jadi unik. Bahkan sampai sekarang, ia tidak tahu kenapa Yoongi dan Kookie menariknya seperti itu, ingatkan Jimin untuk menanyakannya nanti.

O

Di halaman terakhir, terdapat foto acara graduation. Chullie eomma yang merayakannya. Ia mengingat detailnya, setelah acara itu berakhir, di bawahnya terdapat foto momen saat Yoongi melanjutkan acaranya dengan mengeluarkan kotak merah berisi cincin dan berlutut di depannya. Bahkan ia meningat ucapan Yoongi dengan baik.

"Jimin, kau tahu aku tidak pandai mengarang indah, dan... aku ingin kau memakai cincin ini. Setelah kau menyelesaikan studimu, aku pasti menikahimu."

Ia tergelak dalam tawanya mengingat kalimat milik Yoongi yang 'straightforward', dan terdapat kepastian di dalamnya. Ia juga mengingat jelas semuanya, paras Yoongi yang memerah, dan semua orang di sana yang menggodanya setelah melakukan hal itu.

Yoongi yang melihat Jimin tertawa sendiri, memunculkan tanda tanya besar di kepalanya. Ia menghampiri Jimin dengan dua piring di tangannya, satu pancake beruang dan satu lagi pancake normal.

"Chim, kau baik-baik saja?" tanyanya memecah alunan tawa Jimin.

"Ya tentu saja, aku hanya teringat peristiwa dalam foto ini." tunjuknya, membuat Yoongi melihat objek yang dimaksud Jimin.

"Oh foto itu." ia meletakkan pancakenya dan duduk di samping Jimin.

"Kau mengingatnya kan hyung?" Yoongi tahu jika Jimin berniat menggodanya.

"Tentu saja, pestanya sangat menyenangkan." ia memotong kecil pancake milik Jimin.

"Bukan, saa-mmm" Yoongi memasukkan potongan itu dalam mulut Jimin.

"Sarapan, sebelum beruang manis ini menangis." ucapnya sebelum Jimin protes.

O

"Kau mengingatnya kan hyung?" tanya Jimin dengan Yoongi yang kembali menyuapkan pancakenya.

"Hm? Saat kau menangis seperti yeoja, ketika aku melamarmu?" ia memberi gesture orang mengingat tapi tidak dengan nadanya.

"Yah! Bukan yang itu." Jimin menggerang kesal, selalu dia yang kalah.

"lalu?" Yoongi memberinya tatapan polos.

"Ah sudah lupakan. Aku malas berbicara padamu, pergi sana." Jimin menekuk bibirnya ke bawah.

"Jiminie..." panggilnya membuat Jimin menatapnya seperti anak kucing hilang.

"Aku ingin kau memakai cincin ini. Setelah kau menyelesaikan studimu, aku pasti menikahimu." lanjutnya membawa bibir Jimin dalam panggutan yang cukup lama.

"Dan sekarang sudah kutepati." ujarnya setelah mengakhiri panggutan mereka.

"Hyung, kau membuatku malu." kedua tangannya terangkat untuk menutup wajahnya yang memerah.

"Kau yang memulai sayang, jadi jangan tersipu seperti yeoja." ia menurunkan kedua tangan Jimin, membuat sang empu menatapnya lekat.

"Cukup ini mulai terdengar aneh. Mau lihat album yang lain?" tawarnya dan anggukan Jimin menjadi jawabanya.

"Habiskan sarapanmu dan kita akan melihanya bersama."

"Oh ya, hyung, saat kita foto berenam di pantai, kenapa kau menarik tanganku bersamaan dengan Kookie?" tanya Jimin seketika ia mengingat tentang foto itu.

"Ah... itu hanya namja yang boleh tahu." jawabannya membuat Jimin mengerutkan keningnya.

"Aku juga namja hyung."

"Tidak ada namja yang ngambek seperti anak kucing hilang."

"Ta-mmpmm"

"Sarapan, beruangnya menangis."

O

Suara gelak tawa milik namja mint dan orange, membuat suasana pagi menjelang siang jadi lebih hidup. Jimin yang menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi, sedangkan sang empu bahu memegang album foto kedua yang berisi foto pernikahan dan bulan madu mereka.

"Aku ingat saat kita memesan makanan, lalu kau memarahi waiternya karena pesanannya salah, padahal kau sudah memakannya." tawa Jimin.

"Ya tentu saja marah, aku tidak memesan makanan itu, tapi kau mengatakan iya, saat aku sudah memakannya aku baru sadar jika pesanan itu salah. Ini salahku percaya padamu." debatnya.

"Aku lupa hyung, kau yang memesan semuanya." tuduhnya, membuat Yoongi bungkam dan Jimin dalam kemenangannya.

"Jika tidak begitu tidak akan ada cerita lucunya hyung, meski masih banyak lagi yang lucu." ucap Jimin menarik hidung Yoongi pelan.

"Tapi, aku paling suka saat kita pergi pantai. Pantai Bermuda memang indah, di tambah sedikit kejutan. Hahahaha" jika tadi Jimin berniat menggoda Yoongi maka kali ini dia sukses.

"Awwww~ apa Yoongiku tersipu? Lihat siapa yang yeoja sekarang?" Jimin semakin larut dalam tawanya.

"Ya, ya kau sukses menggodaku sekarang." Yoongi memutar matanya, dan Jimin menyelesaikan tawa puasnya.

"Kapan-kapan kita pergi ke sana lagi hyung." Jimin mengecup pipi kiri Yoongi.

"kita beralih ke album terakhir~ 'Our Tomorrow', semua album bertuliskan kata berbeda. Kau mendapatkannya dari mana hyung?" herannya, ia jarang melihat album ini di apartment mereka.

"Aku mendapatkannya dari eomma, dia memintaku menata seluruh fotonya. Ya ku lakukan saja." jawabnya santai.

"Hm... harusnya kau memberi tahuku, kita bisa menata sambil mengingatnya." ujarnya, dengan membuka halaman pertama, kosong. Ia membaliknya ke halaman dua, kosong. Begitu pula dengan halaman tiga dan empat.

"Kenapa kosong?" Ia bertanya heran.

"Tentu saja aku belum sempat mencetaknya. Lagi pula mochimchim juga belum lahir kan?" Yoongi mengakhiri jawabannya dengan pertanyaan lain.

"Kau selalu penuh kejutan hyung. Baiklah, kita tunggu sampai dia lahir, karena bukan hanya kita yang menunggunya di sini, dia juga menunggu untuk bertemu kita." Jimin mengusap sayang perutnya.

"Sungguh?''

"Ya lihat, ow... dia bergerak."

"Bisa kita percepat dua bulan ke depan?"

"Kau mulai seperti anak kecil yang menantikan adik barunya hyung."

"Biarkan saja, yang penting aku mencintaimu." ucapnya dengan membawa ibu jarinya mengusap bibir bawah Jimin.

Jimin menarik tengkuk Yoongi agar mendekat padanya, menatap bibirnya sebentar sebelum kembali menatap matanya.

"Aku juga mencintaimu Yoongi." ia memadukan bibirnya dengan milik Yoongi, menikmati momen yang mereka bagi bersama.

。。

TBC

。。

A.N :

Terimakasih sudah mem-follow, men-support dan mem-favorite cerita ini ^^. maafkan atas update yang lama *deepbow* semoga suka chapter ini ^^

BALASAN REVIEW :

Guest #1

Saia ikutan senang jika ini menghibur ^^ gomawo review-nya

Guest #2

Maaf ya membuat menunggu lama lagi, saranghae too #plak #bahasaapaanoimaincampurwae. Terimakasih telah mereview

cutechimo jemen

Hahahaha udahkan waktu dia fanmeet di Japan? Kkkkk Thankyou atas review-nya ^^

haneunseok

Sama saia juga suka Yoongi yang manjakan Jimin ^^ gomawo untuk review-nya ^^

JABAJWE0

Tak apa hehehehehe, ini sudah update semoga suka chap barunya ^^ arigati review-nya

Guest#3

Thankyou ^^

Ini sudah update kok ^^ semoga suka chap barunya ^^