" M-maksudnya? " dan saat itu Rui menyerahkan secarik kertas

[ Dear Ryuzaki Shotaro,

Aku benar-benar memita maaf, bukannya aku sudah tidak mampu merawatnya tapi aku ingin dia juga merasakan kasih sayang dari ayahnya. Namanya Aizuru Shotaro kau bisa memanggilnya Aizu. Dan dia adalah PUTRIMU ]

.

.

Chapter 2

[ Dear Ryuzaki Shotaro,

Aku benar-benar memita maaf, bukannya aku sudah tidak mampu merawatnya tapi aku ingin dia juga merasakan kasih sayang dari ayahnya. Namanya Aizuru Shotaro kau bisa memanggilnya Aizu. Dan dia adalah PUTRIMU ]

Berulang kali Ryu membaca lembaran surat itu dan berulang kali pula dia menatap bayi dan ketiga saudaranya bergantian. Lalu tiba-tiba...

" Daaaa... Ryu! " Ryu pingsan karena Shock. Sementara ketiga saudaranya hanya menghela nafas pasrah.

Someone Point Of View

Aku mendengar suara pintu terbuka, jujur saja aku sempat merasa takut saat yang kulihat bukan dirinya. Keranjang yang aku tinggalkan di sana dibawa masuk oleh seorang pria seumuranku yang aku tahu bahwa itu adalah adiknya. Saat ini aku hanya bisa mengadahkan wajahku keatas agar butiran air mataku tidak tertarik grafitasi bumi.

" Maafkan Kaa-san sayang.. "

Sekuat apapun aku menahan air mataku, entah bagaimana tetap saja dapat lolos dari mataku.

Aku kembali mengenang senyum cerahnya, suara manisnya. Astaga! Baru beberapa menit saja aku sudah merindukannya. Merindukan putri kecilku yang aku serahkan pada pelukan ayahnya.

Ingin rasanya aku berbalik ke rumah besar itu dan merebut kembali putri manisku itu. Tapi rasanya itu tidak mungkin.

" Selamat tinggal, Aizu sayang "

Aku melangkah menjauhi rumah mewah itu dengan harapan dapat melepas putriku.

Someone Point Of View end

" U-uh.. " Ryu baru saja sadar dari pingsannya dan langsung dikerumuni oleh ketiga saudaranya.

" Daijoubu ka? " Rui menyodorkan segelas air putih pada adiknya dengan tatapan khawatir.

" Daijobu, arigatou Onii-sama " Ryu meminum air itu " Apa yang terjadi? Kenapa aku pusing sekali? " tanyanya setelah menghaiskan air putihnya.

" kau tidak ingat? " suara menusuk itu, ' Hyuga Onii-sama. ' Ryu mencoba mengingat kejadian sebelum dia pingsan

" B-bayi. "

BRAAKK!

" O-otou-sama " Ryu dan ketiga saudaranya terkejut dengan kedatangan seorang pria tegap denga rambut yang melawan grafitasi berwarna kelam layaknya langit malam dengan tatapan tajam dari kedua iris berbeda warnanya. Walau sudah beranak empat dan sudah dewasa pria itu tetap terlihat tampan—Shotaro Akane—ayah dari keempat bersaudara itu.

" jelaskan padaku " katanya dingin " bayi siapa dibawah itu " lanjutnya.

Sontak Hyuga, Rui dan Haizaki menunjuk Ryu, saudara macam apa itu, huh? Tapi lebih baik mereka jujur daripada ayahnya mencari tahu sendiri.

" Otou-sama, s-sungguh aku tidak tahu.. aku idak pernah merasa berbuat seperti 'itu' " Ryu mencoba membela dirinya.

" Aku tak peduli. " Akane mendekat kepada keempat anaknya itu " aku pulang hanya ingin mengambil berkas " dia membuka laci Ryu yang terdapat berkas penting yang kemarin dia bahas dalam pertemuan dengan koleganya.

" Lanjutkan kerja bagusmu " dia menepuk pundak Hyuga dan Ryu " tapi sebelum itu.. " kini tatapannya tertuju pada Ryu " aku mau saat aku pulang dari London nanti masalah ini sudah selesai. " Akane berlalu begitu saja.

Keempat bersaudara itu dapat bernafas lega karena sang ayah tidak mengamuk. Tapi keempatnya kembali tegang saat seorang wanita masuk kamar Ryu dengan menggendong bayi yang menjadi masalah.

" Hai anak-anak, " sapanya ramah.

" O-oka-sama " keempatnya berseru bersama dan berlari menghambur ke pelukan sang ibu.

" haha.. Ryu-kun, ini anakmu? " nadanya masih ramah walau terbersit amarah. Ryu hanya bisa mematung " jawab Kaa-san Ryu-kun, apa sekarang kau berani mendiami kaa-san? " Ryu mulai menangis " Go-gomen Kaa-sama, tapi Ryu benar-benar tidak tahu "

" Lakukan tes DNA " Sasaki—sang ibu—mengatakannya dengan nada ramah dan senyum " B-baiklah Okaa-sama " Ryu menghapus air matanya.

" baiklah, Okaa-san harus menemani Tou-san kalian, Sampaikan hasilnya, ne Hyuga-kun " dia tersenyum pada anak sulungnya yang disambut angggukan.

Tokyo Hospital ...

Di ruang tunggu itu terduduk dua orang pemuda tampan. Yang satu berambut kelabu dan tubuh tegapnya dibalut oleh Hoodie hitam yang bertuliskan ' Go Away, Ladies ' tapi tulisan itu tak berpengaruh bagi para wanta yang selalu mencuri pandang setiap lewat di depannya dan yang satu berambut spike dengan warna biru gelap dengan Jaket kelabunya yang tak di tutup menampilkan kaos yang sedikit memampangkan otot perutnya yang telatih.

Lama menunggu, akhirnya seorang perawat dengan name tag 'Liliane Mitsunaga ' keluar dari ruangan dan menyerahkan amplop putih. Kedua pemuda tadi dengan sigap mengambil dan membacanya.

Hasil pemeriksaan DNA Mr. Ryuzaki Shotaro dan Mrs. Aizuru Shotaro 90% COCOK.

Ryu jatuh terduduk. " Onii-sama... " dia menatap kakak keduanya itu dengan tatapan sendu " sudahlah, kita pulang saja dulu " dia memeluk undak adiknya itu sembali mengelusnya.

Sesampainya di rumah. " Bagaimana? " Hyuga to the point tapi melihat langkah gontai kedua adiknya itu dia sudah tau jawabannya.

" haahh... " Dia menghela nafas berat. Jujur, dia merasa gagal menjadi seorang kakak. ' Kami-sama, apa salahku? Dimana kesalahanku saat mendidiknya? ' sesalnya dalam hati.

Dia dengan berat hati menghubungi kedua orang tuanya

'halo? Hyuga-kun, bagaimana? '

"..."

' wakatta, katakan padanya. Masalah ini harus selesai sebelum kami pulang, 'key? Sudah ya, kami menyayangimu '

Hubungan telpon itu berakhir disitu. Diliatnya sang adik yang terduduk dan hendak mencium kakinya " bangunlah... " katanya dingin

" ...Otou-sama dan Okaa-sama tidak mempermasalahkannya asal kau dapat menutupi masalah ini sampai kita bisa menemukan ibunya " lanjutnya dengan nada lebih tenang.

" h-hontou? " pertanyaan itu dijawab dengan anggukan mantap dari Hyuga " asal kau berjanji akan bertanggung jawab. Kami akan bantu " Hyuga memeluk adik keduana itu berharap bisa meyemangati adknya itu.

" Arigatou... "

Ryu berjalan pelan memasuki kamarnya, diliatnya seorang putri kecil dengan rambut berwarna biru kemerahan yang tengah terlelap dalam mimpinya. Dia berjongkok di samping putrinya itu.

" ah, Hai Ai-chan.. aku Tou-sanmu, apa kau senang disini? " dia membelai pipi chubby milik putrinya " maaf tou-san sempat meragukanmu, kau mirip siapa ya? Ah! Tentu saja mirip Tou-san.. " Aizu bergumam kecil seolah menjawab pernyataan Ryu.

Ryu tersenyum dan merebahkan diri di sampaing malaikatya itu dan pelahan terlelap bersama putrinya.

Malam sudah semakin larut tapi, di pinggiran kota tokyo masih ada seorang wanita berambut 'api' tengah berjalan gontai menuju rumahnya. Rumah yang dulu ditinggalinya bersama seorang malaikat kecil.

" sudah kau berikan dia? " suara baritone seorang pria tegap dengan rambut klimis berwarna hijau tua-Jaemin jung, dia blasteran jepang-korea- yang tengah menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon besar. Wanita tadi hanya mengangguk " bukannya kita sudah sepakat untuk menyerahkannya pada sang 'Ayah' " kata Jaemin dengan penekanan di kata Ayah.

Wanita tadi hanya bisa menahan air matanya "Ayolah, Tsuki. Kita bisa memiliki anak yang lebih lucu dari pada dia setelah menikah tentunya. " katanya sambil merangkul wanita tadi-Tsuki- dan membawanya pulang ke apartemennya.

Dung... Dung... Dung...

Suara itu terdengar di setiap hari minggu, suara yang berasal dari lapangan basket di belakang rumah empat Shotaro muda. Terlihat mereka tengah berebut bla dalam pola permainan 2 on 2.

" Yes! Three! " Ryuzaki Shotaro bersorak setelah tembakannya masuk tepat ke ring saudaranya, Hyuga dan Haizaki. Namun, ada yang lain di hari minggu ini, selain teriakan dari Ryu dan Rui yang setim terdengar teriakan kecil dari gadis cilik berambut biru kemerahan " yaaa! " teriaknya senang.

Teriakan itu sukses membuat keempat pemuda itu tergelak " haha.. sini anak Tou-san yang manis " Ryu menggendong gadis tadi. " Chotto! " Hyuga bersuara " kemana nenek Yumii? Jam segini kenapa-? " belum selesai dia berbicara ringtone Glitter Days dari Fox's Tail di Handphonenya berdering.

" Moshi.. Moshi.. "

" H-hyuga-sama " terdengar suara perempuan tua di sebrang sana.

" Yumii Baa-san, Nande? " Nada suara Hyuga yang cemas membuat ketiga saudaranya khawatir.

" Sumimasen, Demo, Baa-san tidak bisa bekerja di rumah Hyuga-sama lagi. " jelas nenek Yumii pada Hyuga.

" We?! Nande? Apa kami sudah keterlaluan pada nenek? " Hyuga memasang tampang bersalahnya walau tidak bisa dilihat oleh orang yang dituju

" I-iie. Bukan begitu, cucu baa-san. Sasori, sudah memiliki rumah sendiri jadi baa-san diajak tinggal bersamanya "

" Sou, yah. Kalau begitu kami tidak bisa melarang, selamat yah nek. Salam untuk Sasori " ucapnya dan telfon itu terputus. Belum saja Hyuga meletakkan Handphonenya dia sudah dipandangi dengan tatapan 'jelaskan pada kami, baka aniki! ' dari ketiga saudaranya.

" WEEE?! NANDEEEEE?! " teriak tiga orang pria yang berparas tampan itu setelah Hyuga jelaskan apa yang dia bicarakan di telfon. Tapi, sepertinya Aizu tidak tepengaruh dengan teriakan itu. Dia asik bermain dengan mainannya.

" lalu siapa yang akan membantu merawat Aizu? " Rui memandang Ponakan satu-satunya itu dengan tatapan cemas. " Tidak ada jalan lain, kita harus memasang iklan pencarian pembantu baru di koran " Hyuga menghela nafas berat.