Chapter 3

-Someone Point Of View-

Uso da?! Ini... ini kesempatanku. Ya! Ini kesempatanku untuk kembali dekat dengan anakku. Dan aku memutuskan...

- End Of someone POV –

" haah... " helaan nafas dari empat orang pria yang tengah duduk di ruang tengah rumahnya yang megah itu. " Onni-sama... " eluh seorang pria tampan dengan rambut putih spike yang duduk disamping kembarannya.

" Aizu sayang, pengasuh seperti apa yang kamu inginkan sebenarnya " tanya Ryuzaki pada putri kesayangannya yang sedang bermain diatas karpet bludru. Aizu menyodorkan mainan berbentuk pisang pada ayahnya " Hora! Kurasa dia memang anakmu, Saru. Lihat, dia memberimu pisang " tawa terdengar di ruang tengah itu sementara yang ditertawai hanya bisa memutar bola matanya kesal.

" Yah, dia memang anakku, puas! " balasnya. Tawa saudaranya semakin keras dan disusul tawa seorang gadis mungil yang bahkan belum mengerti apa yang dia tertawakan " Hei kau juga menertawakan papa, Sayang? " Ryu mencubit pelan pipi Aizu yang tembam

Saat itu jam menunjukkan pukul 7 malam, waktunya untu Hyuga dan Ryuzaki pulang. Biasanya tidak ada yang berada di ruang tamu pada jam ini, Rui dan Haizaki akan berada di ruang makan, ruang tengah atau kamar masing-masing. Tapi kali ini berbeda, Rui ada disana dengan seorang wanita yang memiliki rambut berwarna mencolok. " Oh, Okaeri Onii-sama, Ryu-kun " sapa Rui. Seketika wanita itu menoleh dan iris merahnya bertemu dengan iris kelam milik Ryu.

Deg!

' c..c..chotto.. apa ini? Kenapa tiba-tiba dadaku berdebar seperti ini? ' Ryu membatin. Hyuga menarik Rui ke pojokan ruangan " Siapa yang kau bawa? Kekasihmu? " bisik Hyuga " ahahaha.. bukan Onii-sama, biar ku perkenalkan " kini Rui yang menarik Hyuga dan Ryuzaki untuk ikut duduk.

" Nah, dia adalah pengasuh Aizu. Mereka adalah Hyuga Onii-sama dan Ryuzaki. Ayah Aizu " Rui tersenyum memperkenalkan saudaranya. Wanita tadi berdiri dan membungkuk hormat " Furukawa Airi " ucapnya " umm.. Yoroshiku ne Furukawa-san " ucap Haizaki ramah " Ryu, cepat ucapkan salam untuknya "

Ryuzaki tertarik kembali ke alam sadarnya " O..ooh.. Shotaro Ryuzaki. Yoroshiku " salam itu dibalas dengan senyuman tipis dari Airi. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Aizu dan disusul kehadiran Haizaki yang menggendong Aizu.

" Dia terus menangis padahal sudah ku beri susunya " panik Haizaki " Sini biar aku yang menggendongnya " kata Ryuzaki " Anak papa kangen kan?—eh?! Kenapa belum berhenti menangis, sayang? " Ryu dibuat bingung dengan tingkah anaknya. Biasanya saat digendong Ryu dia akan langsung dia.

" Anoo.. Shotaro-sama, boleh saya mencoba menggendongnya? " Ryu menatapnya dan tersenyum " Tentu. " senyuman itu membuat Airi sedikit memerah. Ajaibnya tangisan Aizu langsung berhenti saat dia berada di gendongan Airi " Oh dia menyukaimu " Airi tersenyum " Yokatta ne " balasnya, Ryu memerah sesaat sebelum membalas senyuman Airi.

" Dia mengantuk, di mana kamarnya? Biar saya yang menidurkannya " Kata Airi sambil menimang Aizu yang mengantuk " Oh, di atas mari aku antarkan " Ryuzaki berjalan terlebih dahulu lalu diikuti Airi menuju kamar Aizu. Sesampainya disana Ryuzaki mempersilahkan Airi membaringkan Aizu di dalam box bayinya.

" Dia menyukaimu, ne? Tidak biasanya dia langsung akrab dengan orang asing " Ryuzaki berdiri bersandar di ambang pintu " Souka, sepertinya begitu " Airi kembali terseyum " Oh, di mana istri anda? Kalau saya boleh tau " Airi bertanya dengan hati-hati tidak mau hari pertamanya berkerja menjadi kacau karena pertanyaan konyolnya.

" Istri? " Ryuzaki memikirkan jawaban yang tepat, tidak mungkin dia bilang bahwa dia belum menikah tetapi sudah memiliki seorang putri. " O-oh.. dia.. meninggal saat melahirkan Aizu " dia tersenyum kaku.

Deg!

Jawaban itu bagai cambuk yang menghantam hati Airi hingga hancur " Ma..Maaf " hanya itu yang bisa dia ucapkan dan dibalas dengan senyuman oleh Ryu " Iie.. Tidak apa, santai saja " sambungnya.

Airi melirik jam dinding di kamar itu " Kalau begitu saya pamit, besok saya akan kembali " Airi mencoba tersenyum, tapi kalimat Ryuzaki tadi terlanjur membekas di pendengaran dan pikiran Airi.

" Biar aku antar kau pulang " tawar Ryuzaki.

" Aaa.. tidak usah Shotaro-sama saya bisa pulang sendiri " tolaknya, dia tau berlama-lama dengan Ryu itu tidak baik untuk perasaannya " Aku memaksa " Ryu kembali tersenyum dan Airi hanya mengangguk pasrah.

Mereka berdua berjalan menuju mobil Ryuzaki—dan Hyuga karena mereka biasa berangkat bersama—dan melaju menuju apartemen Airi. Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan hening, hanya musik dari radio mobil yang mengisi keheningan itu " Furukawa-san " akhirnya Ryu mengakhiri keheningan diantara mereka, Airi menoleh " Kau masih muda, seumuran Haizaki? " Ryu memastikan, dan mendapat anggukan " sepertinya " balas sang lawan bicara " Tapi kau sudah pandai merawat bayi, ne? " Ryu tersenyum walau tatapannya masih terfokus ke jalanan di depannya.

Deg!

Sekali lagi, cambuk mengenai Airi " M..mungkin karena saya memang menyukai anak-anak " Ryu mengangguk " Oh kita sampai " mobil itu berhenti di depan gedung yang menjulang " Kau tinggal disini? " Airi mengangguk " Sendiri? " kembali Airi mengangguk " Sou.. Tidak takut? " Ryu menatap Airi, si lawan membuang pandangannya ke arah lain ' ini tidak baik ' batinnya " Untuk apa takut, keamanan disini cukup bagus " jawabnya " Aaaa.. Kalau ada apa-apa hubungi aku ne? " Ryuzaki tersenyum saat Airi mengangguk " Aizu menunggumu besok pagi " Ryu masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan Airi yang mematung. Jantungnya berdebar setiap melihat senyuman Ryu. Senyuman yang—tidak—ingin dia lupakan.

Sepanjang jalannya pulang, pria berambut spike yang pikirannya kini tidak berada di tempat yang sama dengan raganya " Aku.. seperti pernah melihat wajah itu " dia berbicara pada dirinya sendiri " Tapi dimana dan kapan ya? " dia mengerdikkan bahunya setelah lelah berfikir.

Hari berganti hari, semua berjalan lancar sejak Airi menjadi pengasuh Aizu. Walau dia juga mengerjakan pekerjaan rumah lainnya tanpa biaya tambahan, dia hanya tidak tega melihat keadaan rumah yang hanya dihuni empat orang pria yang semuanya super sibuk. Kadang, dia juga memasak untuk mereka. Dan yang menjadi masalah disini, bukan hanya Aizu yang senang dia ada di rumah itu penghuni lainnya—tiga diantara empat—mulai berlomba untu menarik perhatian Airi,

Misal saja pada saat...

" A—Airi-san? " Hyuga turun dari lantai dua, saat itu Airi sedang memasakkan sarapan untuk mereka dan Aizu.

" Hai' Hyuga-kun, ada apa? " dia mendatangi asal suara yang memanggil namanya. Jangan tanya kenapa sekarang dia memanggil mereka dengan nama belakangnya, itu permintaan—perintah—dari mereka.

" Bisa kau simpulkan dasiku? " tangan Hyuga terlilit dasi di depan dadanya.

Gubraaaak!

Ketiga saudaranya yang berada tidak jauh dari tempat kejadian kaget karena kakak tertua mereka mendadal lupa bagaimana cara menyimpulkan dasi. Airi tersenyum lalu menyimpulkan dasi Hyuga yang tersenyum melirik Airi di bawah dagunya yang nampak serius menyimpulkan dasinya. Dia tidak sadar bahwa ada dua pasang mata kelam yang menatapnya dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.

" Di—dia pasti hanya pura-pura kan? Mana mungkin dia yang selalu rapi saat turun untuk sarapan sekarang mendadak lupa cara menyimpulkan dasi " Ryuzaki menggerutu.

" Hm, aku tidak bisa diam saja kalau begini " Haizaki ikut-ikutan menggerutu. Setelah saling mendengar dan mnegertikan gerutuan masing-masing mereka saling bertatapan.

" Masakaa omae mo?! "—Ryuzaki

" Masakaa Teme mo?! "—Hyuga

Rui hanya bia mendesah pasrah dengan tingkah ketiga saudaranya. Diantara mereka berempat hanya Rui yang tidak tertarik untuk mengambil perhatian Airi, dia menyukainya tapi dia hanya menganggapnya sebagai adik.

" Sudah hentikan! " bentak Rui pada kedua adiknya dan mereka langsung berhenti. Takut akan amukan Rui, huh?.

Contoh Lainnya, di hari yang berbeda...

" Airi-chan, sedang mengepel? Sini biar aku bantu " Haizaki tiba-tiba datang dan tersenyum yang membuat Airi bergidik ngeri " Ah! Tidak usah Haizaki-kun aku bisa sendiri " tolaknya. Tapi Haizaki tidak kalah, dia terus memaksakan untuk—Modus—membantu Airi.

" A—aa.. sou, kalau begitu tolong ne, aku akan memasak makan siang saja " Airi meninggalkan Haizaki dengan tongkat pel yang menatapnya tidak percaya " A—Ah! Kuso! Kenapa jadi aku yang mengepel?! Padahal aku hanya ingin bersamanya saja " Haizaki membanting tongkat pelnya kesal karena dikerjai oleh Airi.