.

Senin di awal bulan merupakan tanggal yang sangat dijauhi bagi Jungkook. Tanggal Deadline akan komiknya yang harus segera ia berikan kepada editor. Komik strip sederhana yang ia setor tiap satu bulan sekali sebanyak 4 chapter perbulannya ke salah satu web comic terkenal. Jika dalam keadaan seperti ini sebaiknya jangan ganggu dia untuk alasan apapun. Bahkan, Jimin yang notabene kekasih nya sendiri pun akan melipir dan menjauh ketika kondisi Jungkook sudah memasang wajah gahar nan serius di hadapan Siren - laptopnya yang mempunyai banyak anak buah.

Jimin memilih melipir pergi tanpa ketauan dan shopping alat komestik atau setidaknya cuci mata membeli baju baru. Menguras salah satu kartu kredit kesayangan Jungkook. Untung Jungkook sayang. Untuk Jimin calon istrinya. Ahem.

Seketika apartemen menjadi sunyi dan senyap layaknya kuburan. Kondisi saat ini masih stabil sebelum seorang alien datang menyerang kedamaian dan pintu kediaman Jeon Jungkook. Bukan hal asing sih melihat wajah sang alien hampir menangis jika mendatanginya. Tinggal tunggu saja apa yang akan dikatakan alien itu, jika tidak penting maka ia akan sukarela menendang sang alien melewati jendelanya dan jatuh dari lantai tujuh.

"Jungkookie..." suara berat seperti om - om itu terdengar sangat menjijikan ditelinga Jungkook ketika sang alien memanggil namanya. Membuatnya bergidik ngeri.

"Jangan bilang kau ingin menjadi Burhan, Hyung" jawab Jungkook yang masih fokus menatap layar dan fokus terhadap kedataran dada pemeran wanita di komiknya.

Alien tadi duduk bersimpuh bersebrangan dengan Meja Jungkook. Fyi, meja Jungkook itu rendah dan membuatnya terpaksa duduk di lantai. Alien tadi mengerucutkan bibirnya kesal membuat Jungkook kembali bergidik takut. Alien itu kesal diabaikan dan kesal dituduh ingin seperti Burhan.

-memangnya siapa Burhan itu?

Pertanyaan yang sebenarnya tidak penting sama sekali.

Dan omong - omong, alien ini adalah seonggok laki- laki tampan yang tengah kesal akan sesuatu. Nama sebenarnya Kim Taehyung. Sahabat sepopokan Jungkook walau terpaut jarak umur 1 tahun. Kemana - mana selalu menempel layaknya amuba (jika Jimin tidak bisa menemani Jungkook di kampus). Sering di duga pacaran dan Jungkook yang menerima predikat sebagai yang disodok dan dikatai bohay.

Oh No! No! No! Jungkook tidak ingin sampai itu terjadi. Jungkook itu dominan yang doyan menyodok dan berlaku untuk Jimin saja (padahal ia belum pernah mempraktikkan nya dengan Jimin). Lengan kekarnya punya otot yang menonjol. Tidak! Ia tidak sudi dipanggil submisif maupun uke.

Tinggalkan info unfaedah itu, kembali ke Taehyung yang kini malah tengah berlutut dan menunduk di depan Jungkook. Matanya terlihat sedang berkaca - kaca. Membuat Jungkook sedikit empati dan mengalihkan sementara atensinya.

"Kenapa Hyung? Ada yang mengganggumu dan hubunganmu?" tanya penasaran. Takut - takut Taehyung memiliki masalah dengan pacarnya. Ah tapi tak mungkin. Jungkook tau pacar Taehyung itu baik sedunia, atau jangan - jangan Taehyung yang berulah dan kini menyesal?

Oh astaga!

"Jungkook, maafkan aku... Aku.."

"Iya! Katakan ada apa, Hyung?!"

Jungkook makin panik.

"Maafkan aku Jungkook! Aku tak bisa, jangan paksa aku. Aku masih cinta Hoseok dan aku yakin kau pasti masih cinta Jimin kan? Jawab iya Kook!"

O-oke, sepertinya ini akan dramatis.

"I-iya memangnya kenapa?"

"Maaf, aku tak sudi menjadi Seme mu. Kita itu seperti sepatu, sepasang tapi tak dapat menyatu. Karena kita ini sahabat Kook! Bilang pada teman - temanmu yang menjodohkan kita. Please, jangan paksa aku!"

Seketika Jungkook Jawdrop. Seperti pemeran laki - laki di komiknya yang terkejut mendapati wanitanya ternyata satu clan dengan Pico. Sama sekali tidak penting.

"Jadi bagaimana?" tanya Taehyung dengan tampang bodohnya.

Jungkook malah bangkit dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu dan membukanya pelan, menghela nafas berat seberat dosa Arrei.

"KEAMANAN!!! DI RUMAHKU ADA PENCURI!!!" Jeritnya nge-gass.

Poor Taehyungie