Chap 2 my adventure re : make
Keesokan harinya, Seijuurou, sang anak kedua berjalan dengan langkah yang tergesa mencari kakaknya dengan wajah dan aura yang menyeramkan, saat itu masih fajar, jadi Seishirou, Tetsuya dan kebanyakan orang masih tidur, kecuali beberapa orang yang bertugas saat pagi, orang-orang yang terbiasa bangun pagi... dan yang terbiasa tidak tidurpun juga melakukan aktifitas sehari-hari mereka.
Dia marah, jengkel, merasa hanya dia yang serius menjalani tugas yang seenaknya dibebankan padanya oleh ayahnya, padahal kakaknya itu juga terlibat... bukan maksudnya untuk ingin siapapun membantunya, karena sudah pasti dia bisa menyelesaikannya sendiri, tapi ayolah, setidaknya kakaknya bisa melakukan sesuatu, seperti... memberikan seluruh informasi yang dia punya mengenai seluk-beluk pemerintahan kerajaan yang dengan berani mencari masalah dengan keluarganya...
'Haa!' . 'Haa!' . Trangg . trik. Trak. Trik . sriiing!. Ckraak. 'pertahananmu masih lemah!' . 'haaa!' . 'mana staminamu yah?! Cuma segini?! Gara-gara udah kepala 4 ya?!' . 'jangan lancang!' . 'Haaa!'. Traang. Trik. Sriing!
Dan tak lama kemudian, terdengar suara syup-sayup dari kejauhan, pemilik suara itu sekarang berada di ruang latihan(menurutnya), Takuya dan ayahnya, lalu Seijuuroupun melangkah menuju ruang khusus latihan beladiri yang dibangun di belakang rumah, dekat taman belakang. Dan saat dia membuka pintunya...
"Awas Sei!" Sebuah pedang melesat cepat kearahnya dan dia tak bisa berkutik, tak sempat menghindar.
Saat dia menyadari, tangannya sudah bersimbah darah, tapi anehnya dia tak merasakan sakit sama sekali, lalu dia melihat ke punggung orang yang tengah memeluk erat dirinya, pedang itu menacap dipunggung orang itu. Lalu orang itu mencabutnya dengan hati-hati.
"Kau tak apa-apa Sei?! luka nggak?!" itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah dia dengar dari orang yang terluka, tunggu, orang ini memang bodoh
"Aku tak apa, sebaiknya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri" katanya sambil menjauhkan orang itu-kakaknya dari dirinya.
"Ah, kau perhatian sekali~ tapi tenang saja, luka ini bakal sembuh dalam sekejap kok~" kata Takuya sambil memperlihatkan punggungnya, benar, lukanya sembuh dalam sekejap setelah diselimuti cahaya seperti kunang-kunang itu...
"Kau... belajar sihir?" tanya sang adik.
"Yea... kupikir aku juga perlu mempelajarinya, biar bisa mengikuti keadaan apapun." Jawab kakaknya
"Seijuurou, sedang apa kau disini?" tanya sang ayah menginterupsi, beliau sudah ganti baju, sekarang mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam panjang yang licin. Penampilan yang sangat rapi dan menunjukkan derajatnya.
"Aku ingin mempertanyakan informasi mengenai masalah kemarin ayah" jawab Seijuurou sambil berdiri, diikuti kakaknya.
"... begitu, kalau negitu ayah kembali dulu, semoga hari kalian menyenangkan, dan Takuya, bersihkan dirimu dan buang baju itu" kata sang ayah dengan nada datar, wajah tanpa ekspresi berjalan angkuh melewati kedua putranya.
"Hai, otou-san" balas mereka berdua bersamaan. Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju kembali ke kamar, niat Takuya sehabis ini adalah mandi dan ganti baju, bau darah dan bercaknya sedikit mengganggunya.
"Aah tentang itu sudah kucatat semua dalam laporan dan diariku, dan kalau di diari, sudah kuselipkan juga memoriku mengenai itu, coba kau cari di kamar, aku mau ganti baju." Kata Takuya, Seijuurou hanya diam dan memberi lirikan tajam
"... oke, oke, aku akan mengambilkannya untukmu" balas Takuya sweat drop.
.
.
.
Sesampainya di kamar kakaknya dan adiknya, kamar yang didominasi oleh biru aquamarine, biru yang sama seperti mata ibu, Tetsuya dan orang yang bersamanya sekarang. Selagi menunggu orang itu menemukan diarinya, Seijuurou berjalan mendekat ke arah tempat tidur adik bungsunya yang manis, yang dicintainya, yang sekarang sedang terlelap dengan tenangya dalam balutan selimut yang hangat, mukanya damai... membuat Seijuurou melepaskan mood jeleknya dan tersenyum sambil membelai helai rambut biru adiknya yang lembut, lalu menyibakkan poninya dan menciumnya.
"Ngh... Sei-nii-sama?" tak disangka si bluenette itu terbangun, dia membuka kelopak matanya dan menggosoknya malas, lalu terduduk.
"Tetsuya, selamat pagi, maaf, apa aku membangunkanmu?" katanya sambil merapikan rambut adiknya yang berantakan setiap dia bangun tidur. Yea, kuakui, jarang-jarang seorang Akashi Seijuurou minta maaf seperti itu dan itu membuatku merinding.
"... tidak... sekarang jam berapa?" katanya masih dengan mata tertutup, merasa nyaman dengan perlakuan kakaknya yang kadang baik(?)-kadang kejam yang satu ini.
"Jam 7 pagi" jawabnya, lalu Tetsuya membuka matanya lebar-lebar, seakan melewatkan sesuatu yang berarti baginya
"Aku lupa janjiku untuk menemani kakak latihan pagi..." katanya dengan wajah bersalah, Tetsuya lalu menunduk, alisnya ke bawah, pandangannya menyendu, bagai anak anjing yang ditelantarkan. Moe Attack!*author nosebleed*. Seijuurou tidak suka reaksinya itu.
"Ah... Tetsu, kau sudah bangun rupanya. Nih, Sei, bukunya" kata Takuya menghampiri kedua adiknya, dan menyerahkan Buku yang berantakan, seperti peninggalan kuno. Semoga saja dalamnya masih bisa dikenali :v
"T-tapi kak..."
Melihat adiknya yang merasa bersalah seperti itu bukan kesukaan Takuya, dia lebih suka wajahnya saat tersenyum, atau tertawa bahagia, tawanya yang polos itu yang Takuya sukai. Takuya mengelus kepala Tetsuya *puk-puk*
"Sudahlah, tak apa-apa, mana mungkin aku tega membangunkan mu yang sedang tertidur pulas seperti itu, kau saat tidur manis sekali~" pipi Tetsuya merona saat mendengarnya, senang juga malu. Melihat kedekatan mereka Seijuurou hanya menatap tajam mereka dan meremas sprei putih adiknya itu. Dia tidak suka kedekatan mereka, cemburu, bagai seorang pria yang tak rela kekasihnya terlalu dekat dengan orang lain.
(menepuk kedua tangan) "Oh iya, sekarang hari sekolah ya? Lebih baik kalian bersiap-siap sana, murid teladan harus berangkat lebih pagi dari murid biasa ya~ ahahaha~ aku jadi ingat masa sekolahku dulu"
"Kalau kau ngomong begitu kau seperti orang tua lo kak.. lagipula, hari ini kami izin tidak masuk karena akan ada tamu penting hari ini" sahut suara dari pintu, Seishirou berjalan masuk ke kamar dengan senyum simpelnya yang kalem.
"Mau apa kau kesini?" tanya Seijuurou sarkastik.
"Jangan dingin begitu, aku mendengar suara kalian yang sepertinya sedang asik, jadi aku kesini, lagipula, bukan hanya kau yang ingin melihat wajah Tetsuya yang sedang tidur dan bangun tidur."
Seishirou POV
"Ng? Kak, kenapa bajumu..." penuh dengan bercak darah? Ngomong-ngomong Sei-nii juga
"Ooh, tadi aku habis berlatih pedang, terus gak sengaja pedangnya terlempar dan Craaass! Gitu de~" entah kenapa kalau dia yang cerita rasanya bukan masalah sama sekali, jika dia manusia biasa, dia pasti sudah mati kehilangan banyak darah. Apa dia belajar sihir atau pengobatan yang sangat ampuh saat di perjalanan ya?
"Sakit nggak kak?" Aah... lagi-lagi Tetsuya menunjukkan wajah itu. Dan sebenarnya itu membuat dadaku sesak.
"Sakit lah~ Tapi setelah melihatmu aku jadi merasa baikan~" dasar, sempat-sempatnya dia menggoda seperti itu.
"Sebaiknya kau priksakan luka itu kak, takut kenapa-kenapa"
"Shirou-kun perhatian sekali~ terima kasih ya~ tapi beneran sudah gak papa kok, sembuh total deh!"
"Tuan muda sekalian, sarapannya akan siap dalam 30 menit lagi, harap bersiap-siap" ah, aku belum sempat mandi atau ganti baju, sepertinya aku agak kesiangan.
"Aah! Aku belum mandi! Eh, kalian bertiga, Mandi sama-sama yuk! Sudah lama kita gak mandi bareng!" aah, lagi-lagi dia dan idenya yang 'luar biasa'.
"Un!" dengan mudahnya Tetsuya menyetujuinya? Ini membuatku terkejut, biasanya dia sering menolak kalau aku atau bahkan Sei-nii mengajaknya, dan butuh waktu untuk membuatnya setuju, itupun kalau Sei-nii tidak mengeluarkan titahnya. Sepertinya dia benar-benar menyukai kakak ya...
(menggaet tangan Seijuurou dan Seishirou) Ng?
"Ayo! Kalian juga~" apa boleh buat...
Normal POV
Dan kini si jenius bersaudara tengah asik mengusap punggung saudaranya masing-masing, mulai dari si sulung, lalu si kembar, kemudian si bungsu.
"Waaa~ punggung kalian halus ya~ dan mulai keliatan cowoknya deh, padahal dulu kayak kecil, mungil gituu~" kata si putera Sulung mengawali pembicaraan.
"Terakhir kali kita mandi bareng itu 2 tahun lalu ya, lalu setelah itu gak pernah lagi karena kita sudah sibuk dengan kehidupan kita masing-masing" kata putera ke 3 melanjutkan.
"Tapi kita bertiga kan kadang-kadang mandi bersama Shirou-nii" balas si bungsu
"Yang kumaksud itu kita berempat, Tetsuya" kata si putera ke 3 menjelaskan dengan senyuman yang menawan.
"O-ooh... begitu..." kata si bungsu dengan semburat tipis di pipinya yang seputih salju itu
Putera kedua sempat menoleh kebelakang dan melihat bekas luka seperti sayatan panjang dari bahu kiri menyilang sampai bawah tulang rusuk di dada kakaknya.
"Kau... darimana kau mendapat luka ini?" tanyanya masih melihat luka itu dan menyentuhnya 'Ini Asli, sepertinya terjadi tak lama sebelum ini' pikirnya.
"Aah, ini aku mendapatkannya sekitar... 4 bulan yang lalu, saat itu kapal kami diserang oleh sekawanan bajak laut, dan terjadi pertarungan, di saat aku lengah aku mendapatkan luka ini. Untung cepat sembuh dengan pengobatan manjur dari dokter kapal" cerita si Sulung sambil mengingat-ingat kejadian yang cukup menegangkan itu.
"Bajak laut? Bukannya mereka kebanyakan sudah tertangkap para admiral laut?" tanya Seishirou berhenti mengusap punggung adik kecilnya dan mulai mengeramasi rambutnya yang halus. "Tutup matamu Tetsuya." Lanjutnya.
"Memang, tapi itu kebanyakan, bukan semuanya, sekarang hanya bajak laut yang punya sesuatu yang 'tidak biasa' yang bertahan." jelas Seijuurou bergantian mengeramasi rambut kakaknya tapi sambil meremas-remasnya sekuat tenaga. "Jadi, yang mana yang menyerangmu? Apa yang mereka punya?" lanjutnya dengan nada dan wajah dataaarr, dasar sadis.
"Aduh! Aw! To-tolong yang lembut Sei-kun! Kau berniat menghancurkan kepalaku?! Ko-Kontrak iblis, iblis Abyss! Adow!" jawab si sulung sambil merintih kesakitan.
"Sei-nii-sama, tolong jangan buat Taku-nii kesakitan begitu. Oh iya, Iblis Abyss itu... yang akan menyeret kontraktor mereka begitu tenggang waktu kontraknya habis ya? Aku pernah membacanya di buku" sahut Si Bungsu. Dan Seijuurou memelankan 'pijatan refleksi'nya.
"Hee, kamu juga membaca buku kayak begi-"
GRADAK GRADAK
Perkataaan lanjutan si sulung terpotong oleh suara dari jendela. Si sulung membukanya dan masuk lah seekor kucing hitam yang kemudian menjelma menjadi seorang pemuda 17 tahun-an dengan taring, mata, telinga, kuku, dan ekor kucing.
"R-Ryo Sakurai?! Mau apa kau-" . "HUWEEEE TAKUYA-SAN KUMOHON JANGAN PEKERJAKAN AKU DENGAN AOMINE SHOICHI-SAN! AKU GAK TAHAN SAMA DIA~!" Belum sempat Taku menyelesaikan bicaranya dia disela oleh tangisan keputusasaan seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga eh bukan-tangisan seorang temannya yang di tugaskan menjadi bodyguard dengan Aomine Shoichi (22), 'Istri' dari Aomine Daiki (20) yang salah satu ketua Dewan institut keamanan Jepang yang sering mewakili negaranya ke konferensi dewan dunia.
"Haa?! Kenapa? Shoichi itu kan orang yang baik, meskipun dia punya senyum yang aneh! Lagipula kenapa baru sekarang? Sudah terlambat tau! Proposalnya sudah di serahkan! Lepaskan!" kata Takuya sambil mencoba melepaskan pelukan temannya yang maut. "Lagipula kenapa kau gak menunggu sebentar sih?! seenaknya saja nyelonong masuk! Kau nggak lihat aku sedang apa?!"
"Su-sumimasen! Ha-habis... Aomine-san tak akan dengan mudah membiarkanku menemuimu..." rontanya. Dan cukup sampai di sini saja kesabaran Takuya, dia dengan mudah mengangkatnya dan akan memasukkannya ke dalam bak mandi
"HUWAAA! JANGAN AIR! JANGAN AIR! APAPUN POKOKNYA JANGAN AIIIIR!" tolaknya dengan segenap hati(?)
"Kalau begitu pergilah dari sini dan jangan kembali lagi! Catsyth Bodoh!" usir Taku dengan menendang 'kawan'nya itu dengan senang hati keluar jendela (emang segede apa jendelanya?)
Hening...
"Siapa tadi Taku-nii?" tanya Tetsuya dengan muka polosnya yang agak di tekuk. 'tadi dia memeluk Taku-nii, menyebalkan' batinnya, oh Tetsuya, kau manis sekali~
"Salah satu... temanku? Entahlah aku sebenarnya juga bingung apa status hubunganku dengannya, tapi anggap saja dia temanku." Jawab Taku dengan entengnya.
"Sepertinya kakak punya banyak teman yang 'unik' ya" komentar Seishirou.
"Ahahaha, kau juga berpikir begitu? Berkeliling dunia membuatku harus bertemu dengan berbagai macam orang, termasuk yang 'langka' dan 'unik' sekalipun... hahahaha" balas Taku
"Aomine... Shoichi? Seingatku dia adalah tamu ayah pagi ini dan mengajak kedua pihak keluarga untuk sarapan bersama. Sebaiknya kita cepat." ucap Seijuurou datar tetapi matanya tetap memandang tajam saudara-saudaranya
"Baik" jawab semua saudaranya bersamaan
.
.
.
My Bonnie lies over the ocean
My Bonnie lies over the sea...
My bonnie lies over the ocean
Oh Bring back my bonnie to me...
Bring back, bring back
Oh bring back my Bonnie to me, to me
Bring back, bring back
Oh bring banck my Bonnie to me...
.
Terdengar suara seorang wanita yang familiar di telinga mereka begitu mereka sampai di depan pintu, nyanyian merdunya diiringi oleh permainan piano yang kontras dengan suaranya. 'Ibu..' pikir mereka bersamaan.
"Selamat pagi semuanya, maaf kami sedikit terlambat" salam Seijuurou setibanya mereka di ruang makan. Bayangkan saja seperti ruang makan yang di istana, meja panjang dengan vas bunga, lampu gantung yang menawan, jendela besar yang menampilkan pemandangan indah taman milik keluarga Akashi. Ayah mereka sedang asyik berbincang dengan mantan kepala keluarga Aomine yang sekaligus kawan baiknya, Aomine Danna, ayah dari Aomine Daiki.
"Tak apa, kami hanya terlalu bersemangat dan sampai disini lebih awal... duduklah, kalian bertiga, lho, Taku mana?" tanya sang ibu.
"Taku-nii masih ganti baju, dia menyuruh kita untuk kesini lebih dulu" jawab Seishirou dengan senyum simpelnya.
"TETSU-KUUUN! HARI INI KAU JUGA SANGAT TAMPAAAAN!" teriak seorang gadis bersurai pink memeluk si bungsu.
Gadis itu menjabat sebagai 'nona muda', namanya Aomine Satsuki, dan sebutan itu juga berarti kalau dia adalah pewaris Keluarga Aomine selanjutnya, dan jika kalian bertanya-tanya bagaimana bisa mereka berdua yang menurut kalian notabenenya laki-laki bisa punya anak, ternyata belakangan diketahui kalau Shoichi-san adalah seorang Hemaprodite.
(Shoichi : ahahaha...bisa-bisanya kau mengarang seperti itu . Author : maaf ya Shoichi-san, biar greget)
"do-doumo, Aomine-san, A-anoo, bisa kau lepaskan aku? Se-sesak..." kata si bungsu masih dengan suaranya yang kalem nan lembut, dan wajahnya yang tanpa ekspresi itu mulai pucat.
"Aku akan melepaskanmu kalau kamu memanggilku dengan nama kecilku Tetsu-kun~" balasnya masih memeluk. Kedua kakaknya mendengus tak suka.
"Satsuki, dia tak akan bisa memanggilmu bahkan bersuara sekalipun jika kau membuatnya sesak, suaranya tak akan keluar." Kata Seishirou masih dengan senyuman simpelnya
Blush! "A-ah iya! ma-maaf, Akashi-kun" yang entah kenapa selalu berhasil membuat nona muda ini gelagapan hanya dengan melihatnya. Detak jantungnya selalu tak bisa dia kendalikan jika bertemu dengan Akashi ber-saudara ini, dan yang paling membuatnya tak bisa mengontrol diri adalah jika bersama...
Drap drap drap
"Maaf aku terlambat semuanya!" - pemuda ini, si anak sulung, Akashi Takuya, yang selalu menjadi 'idola'nya bahkan saat pertama kali bertemu 5 tahun lalu, saat si gadis masih berusia 8 tahun dan 'idola' pertamanya berusia 10 tahun.
"Kau lama sekali" komentar Seijuurou lengkap dengan tatapannya dingin sedingin badai salju
"Aku belum terbiasa dengan baju formal seperti ini... tolong maklumi lah..." balas Taku dengan muka yang sulit untuk di jelaskan(?). adiknya itu hanya mendengus kesal dan memalingkan mukanya.
"T-takuya-kun..." panggil gadis itu malu-malu. Si pemuda menoleh ke sumber suara.
"Ooh! Satsuki-chan janaika?! O hisashiburi! Gengki?"(ooh! Bukankah itu Satsuki?! Lama tak jumpa! Sehat?) sapa dia bersahabat sambil menjabat tangan si gadis.
"Ha-hai, gengki-desu...Takuya-kun wa?"(i-iya, aku sehat... kalau Takuya?) balas Satsuki dengan rona merah di wajahnya, dia menyembunyikannya dengan menunduk.
"Ore wa gengki. Yaah, kau semakin cantik saja Satsuki, masih mengejar Tetsu? Gimana perkembangannya? Kok kau menunduk terus? Sakit?" kata Takuya lancar tanpa beban dengan ekspresi watados minta di gampar pake wajan. Takuya, kau itu tidak peka atau gimana sih?
"Masih tidak ada perkembangan! Tetsu-kun masih nggak mau memanggilku dengan nama kecil! Padahal di sekolah dan setiap ketemu aku selalu memintanya untuk memanggilku dengan nama kecilku!" sahut Gadis itu bersemangat mengangkat wajahnya dan menatap langsung lawan bicaranya, sangat berbeda dengan perilakunya tadi.
'Perempuan itu menyeramkan, dalam waktu sekian detik sifat mereka bisa langsung berubah-ubah tak menentu.' Batin Tetsuya,Seishirou dan Seijuurou bersamaan dengan poker face andalan mereka (jaga image).
"Ahaha, begitu? Yaah, semoga beruntung" balas Taku tanpa ada maksud tersembunyi. Dan Satsuki mengangguk dan mengepalkan tangannya, mengeluarkan pose 'fight'. Tetsuya begidik dangdut(?)
"Ada apa Tetsuya?" tanya Seijuurou, tumben dia perhatian *author nyruput kopi*
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa... sedikit kedinginan" balas Tetsuya masih dengan wajah datar imutnya.
Kembali ke Takuya...
"Aah, ini dia bintang tamunya... Apa kabar Takuya-kun? Bagaimana perjalananmu kali ini? Ngomong-ngomong kau melihat Sakurai-kun? Dia menghilang begitu kami sampai disini" sapa seseorang, yang ternyata datang bersama pasangannya. Pasangan mister Aomine Daiki dan Miss(?) Aomine Shoichi (:v) .
"Ooh! Ini dia pasangan serasinya~ kabarku baik, Perjalanan kali ini... ada beberapa kasus yang harus kami... bukan, kita selesaikan. Tentang Sakurai... dia sedang patroli berkeliling, jangan khawatir~" Balas Taku dengan senyum polosnya, perkataannya tadi membuat wajah pasangan Aomine itu sedikit memerah.
"Sepertinya kau sudah sedikit lebih 'jantan' dari pada saat kita terakhir kali bertemu ya!" sapa Aomine Daiki.
"Itu sudah 3 tahun yang lalu Daiki-san, sudah jelaskan?" balas Takuya palmface.
"Aah iya, aku sudah mendengar dari Akashi-dono. Kerajaan Barda ya, yaah, akhir-akhir ini aku memang merasa mereka sendang menyembunyikan sesuatu..." kata si kepala keluarga saat ini dengan intuisinya yang tajam. "Lagipula, kami kemari salah satu alasannya memang ingin membicarakan tentang hal itu sih..." lanjutnya.
"Tuan-tuan sekalian, sarapan telah siap." Kata kepala pelayan, merekapun segera duduk. Kepala pelayan menepukkan tangannya 2 kali dan para koki dan pelayanpun memasuki ruangan lengkap dengan hidangan yang menggugah selera.
"Untuk kejayaan keluarga kita dan bersyukur atas hubungan baik yang kita jalin." Kata kepala keluarga Akashi. Dan mereka pun melakukan cheers.
"Kalau dilihat-lihat kau semakin mirip Kakekmu saja Takuya." Mantan kepala keluarga Aomine, mulai dari sini kita sebut saja Danna.
"Suatu kebanggaan bagi saya mendapat pujian dari anda, terima kasih banyak." balas Takuya sopan, dia menghormati dan mengagumi orang ini, berkat orang ini Jepang dijuluki negara teraman di dunia selama beberapa dekade sejak orang ini menjabat sebagai pemimpin dewan keamanan di negara ini.
"Nee, nee Takuya-kun kau sudah mengencani berapa gadis selama perjalananmu?" tanya 'nyonya' Aomine yang sedikit 'menyentil' hati beberapa orang disana.
"Entahlah, aku sudah tak ingat dan terlalu merepotkan kalau aku menghitungnya, tapi setiap berkunjung ke suatu tempat ada 5-6 orang yang mengajakku, yaah, mereka suka orang yang lebih muda, mereka bisa juga disebut 'maniak' aku juga tak mempermasalahkannya sih" jawab Takuya enteng.
"Lalu kau sudah 'melakukannya'? Sudah sampai tahap mana? Dan... berapa ronde?" tanyanya lagi, entah kenapa pembicaraan ini berubah jadi agak...ehem, yah, kau tau...
"Belum sampai, paling jauh hanya sampai tahap 'B', aku selalu membuat mereka kelelahan atau membuat mereka tertidur tepat sebelum kami menuju tahap selanjutnya, karena itu pasti akan merepotkan, tapi berkat itu juga aku memperolah berbagai macam info tentang 'kasta bawah', info seperti itu juga perlu kan?" cerita Takuya sekali lagi dengan wajah tanpa beban sama sekali, sedangkan kedua pemuda-pemudi yang paling innocent diantara mereka sudah blushing berat (Satsuki dan Tetsuya) dan sisanya(minus Shoichi) hanya cengo mendengarkan cerita si anak sulung keluarga Akashi yang terhormat ini. Shoichi hanya ketawa tanpa henti mendengarnya dan melihat reaksi seluruh orang disana.
'Taiga... awas kau ya... beraninya kau membuat anakku mengalami hal seperti itu... kau telah menodai kesuciannya...' batin kedua orang yang kita ketahui sebagai orang tua dari empat Akashi bersaudara itu. Dari tubuh mereka menguar aura hitam legam yang siap menelan apa saja.
Di kediaman Kagami Taiga...
Sang paman yang kece ini tengah terduduk di ruang makan sambil membaca koran dengan ditemani kopi hitam yang masih terkepul asap, dengan keluarga kecilnya, sang istri, Kagami Tatsuya (22) tengah memasakkan makanan kesukaan suaminya untuk sarapan setelah sekian lama tak berkumpul bersama, tadi malam mereka juga 'melakukannya' sepuas mereka hingga pagi. Mereka kuat yah.
"Brrr! Hiiish! Kok rasanya aku akan mendapat sesuatu yang buruk ya?" katanya sambil begidik ngeri.
"ahaha, mungkin itu hanya perasaanmu saja, ayo sarapan dulu, makannya sudah siap" kata 'istri'nya lengkap dengan senyum kalemnya yang biasa terpampang di wajahnya yang tampan, saking tampannya malah jadi terkesan cantik, dasar bishounen sejati :v
Kembali kekediaman Akashi~
Satsuki POV
Kyaa... Kak Takuya semakin terlihat dewasa saja... bahunya menjadi lebar... tambah tinggi... suaranya menjadi lebih berat... rambutnya lebih panjang... dia cocok sekali pakai setelan tuxedo hitam...
Apa? Dia sudah... aah, irinya aku pada gadis-gadis yang beruntung itu... kira-kira aku juga bisa... -BLUSH- astaga! Apa yang kupikirkan! Membayangkannya saja sudah membuatku... KYAAAA! JANGAN PIKIRKAN! JANGAN PIKIRKAN! DI HATIKU CUMA ADA TETSU-KUN! LUPAKAN! LUPAKAN! LUPAKAAAN! BERHENTI! Ukh... mukaku pasti sudah merah padam sekali... malunya...
Takuya POV
Pertanyaan Shoichi-san sempat membuatku kaget, tapi aku menjawabnya dengan jujur, yah, aku kan juga lelaki yang normal, lagipula aku beberapa kali tak bisa menolak ajakan mereka yang merupakan tipeku
"Ngomong-ngomong tipe Takuya seperti apa?" aha, sepertinya orang ini tau selalu bisa menebak apa yang ada di pikiranku. Hem... tipe yaah...
"Kalau diibaratkan siih... mungkin seperti seekor anak ayam yang lucu..." aduh, aku merasa seperti sedang menyunggingkan senyum aneh yang sebelumnya pernah kulakukan disaat-saat tertentu. Kuharap bukan seringaian yang mengerikan.
Normal POV
Sesaat mereka semua terdiam oleh senyum Takuya yang 'menawan' dan membangkitkan jiwa (yang untuk cowok) UKE mereka, dan membuat yang cewek pingin loncat bebas gaya okama dari gedung tingkat 100 (emang ada?) sambil teriak 'MAMAAA! SAYA SUDAH NGGAK KUAAAT!'. Mereka serempak langsung bisa memaklumi apa yang barusan di ceritakan si anak Sulung ini di perjalanannya.
"Ekhem, kembali ke topik yang sebenarnya... Kurasa tak ada yang perlu dibicarakan karena Seijuurou akan mengurus semuanya. Lagipula dia sudah didampingi oleh Takuya dan Taiga." Kata sang kepala keluarga Akashi. Dia ditatap dengan pandangan gak enak oleh para tamu, dia hanya menghela nafas "Mereka berdua hanya mendampingi, Seijuurou belum pernah pergi ke kerajaan itu" lanjutnya menjelaskan dan dibalas "Ooh..."-nya mereka.
.
.
.
Selesai sarapaaaan~
Takuya, Tetsuya, Satsuki dan Seishirou berada di taman milik keluarga Akashi yang rindang dan megah itu, mereka sedang duduk di bawah pohon beringin super besar yang berumur... entah sudah berumur berapa, ratusan tahun mungkin
"Taku-nii, bisa kau ceritakan petualanganmu pada kami?" pinta Tetsuya "Cerita waktu itu terpotong oleh Sei-nii-sama dan ayah" lanjutnya
"Jadi begini, laut... apa yang kalian bayangkan pertama kali pasti hamparan air yang sangat luas dan diatasnya ada langit biru dan burung camar kan?" kata Taku, semuanya mengangguk
"Tapi laut juga menyimpan banyak sekali misteri dan legenda yang luar biasa, kapal kami sempat singgah di pulau bawah laut di kedalaman 12.000 meter di bawah permukaan air, di sana sangaat gelap dan dingin, banyak hewan laut bermata putih menyeramkan dengan gigi tajam mereka, ada ubur-ubur yang berkilau cantik tapi mematikan meskipun hanya menyentuhnya, bahkan ada hewan yang bisa menirukan suara manusia untuk menjebak mangsanya..." Dan anak sulung itupun memulai cerita petualangannya yang luar biasa, pertemuannya dengan makhluk yang belum diketahui, kunjungannya di tempat yang terpencil, penemuan spesies-spesies langka yang sebelumnya hanya bisa dia lihat lewat dokumen, cerita yang bahkan tak akan ada di buku manapun. Cerita miliknya sendiri.
My adventure...
.
.
.
Seminggu kemudiaan~ (lebih tepatnya 6 hari kemudian, di pagi hari)
"Yosh! Semuanya sudah siap? Kita akan berangkat 10 menit lagi!" teriak Kagami Taiga agar suaranya terdengar oleh seluruh awak kapalnya, termasuk kerabatnya, Akashi Takuya dan Akashi Seijuurou. Kini mereka semua hanya tinggal berpamitan dengan orang-orang yang mereka kasihi.
"Seandainya aku bisa ikut... pastikan kau pulang cepat, Taku-nii" ucap Seishirou kepada kakak tertuanya.
"Aku pergi dulu Tetsuya, pastikan kau melakukan menu latihan yang kuberikan padamu kalau kau benar-benar ingin berkembang di Basket" ucap Seijuurou kepada adik kecilnya yang dibalas dengan anggukan.
"hai, Sei-nii-sama, tolong jaga dirimu selama perjalanan dan akur-akurlah dengan Taku-nii" jawabnya, Seijuurou tersenyum dan mengelus puncak kepala bluenette itu, menyibakkan ponimya dan mencium dahi dan pipi adiknya tersayang. Dan seketika itu juga ada semburat merah tipis di pipi adiknya yang manis itu.
'Kalau soal itu aku tak bisa menjaminnya Tetsuya, tapi karena ini permintaanmu, akan kuusahakan.' Batin Seijuurou. Takuya juga mendapat ciuman selamat jalan di pipi dari Seishirou.
"Jaga dirimu baik-baik kak, tolong jaga Sei-nii ya. Dan semoga berhasil" katanya.
"Oke, serahkan saja padaku!" dan kapalpun berlayar menuju Kerajaan yang kini sedang berada dalam krisis moral yang justru berawal dari pemimpin tertinggi mereka, Kerajaan Barda yang dipimpin oleh Raja Dikyanus dengan penasihat barunya, tapi... apa benar hanya itu?
.
.
.
.
.
TBC~
