Normal POV

Di kapal, setelah acara perpisahan yang mengharukan itu, para awak kapal yang gak saling ketemu seminggu itu pada heboh kayak udah gak ketemu berbulan-bulan.

"Ahahaha! Kau terlihat lebih lembek aja! Padahal baru seminggu!" . "Apaan! Bukannya yang ada di perutmu sudah ganti jadi lemak semua?! Kau ngapain aja ha?! Babi pemalas!" . "Apa kau bilang?! Aku berlatih tau! Aku sudah punya teknik baru!" . "Hoo?! Kalau begitu tunjukkan! Aku yang jadi lawanmu!" . "Yosha! Aku yang jadi jurinya!"

Dan terjadi pertempuran- mungkin lebih tepat disebut perkelahian atau pertarungan antar awak yang sangat tidak bernilai-menurut Seijuurou yang tadi hanya diam melihat kelakuan awak kapal yang sangat carefree. Bahkan orang yang seharusnya jadi kakak dan teladan baginya, juga pamannya tak luput dari keramaian dan kekacauan ini. Seijurou tak bisa melakukan apapun selain menghela nafas berat dan memijat pangkal hidungnya, belum-belum mereka sudah tidak bisa di atur seperti ini...

Dia pun menyingkir dari sana

Saat ini, Akashi Seijuurou sedang membaca buku tentang kerajaan tempat tujuannya dengan tenang di suatu ruangan, dia tidak akan terganggu oleh apapun saat ini, tapi kebisingan diluar sempat menarik keingintahuannya, percakapan yang dilakukan 2 orang awak kapal yang melintas di dinding seberang ruangan Seijuurou membaca.

"Hei, kau sudah tau nggak kalau-" . "Nggak, aku nggak tau" . "Tunggu orang selesai bicara!" . "..." . "Ehem, kabarnya Ryouta, si guardian baru Takuya bakal bergabung di pelabuhan berikutnya." . "Ooh... dari keluarga Kise itu ya? Hebat juga tuh anak bisa mendapat pengabdian keluarga itu. Ngomong-ngomong berapa pelabuhan yang harus kita singgahi?" . "3 pelabuhan, dan sekarang pelabuhan kedua, kita akan mengisi persediaan makanan dan minuman di sana, dan di pelabuhan ketiga, kita... bukan, mereka yang terlibat suatu misi di kerajaan Barda akan mengumpulkan informasi tentang ... etto, aku tak tau, dari sudut pandang orang luar..." . "Hee, kau tau banyak yaa..." . "Sebenarnya aku tak sengaja mendengar 'kapten' Taiga berbincang dengan Navigator dan Takuya..." . "Ternyata nguping ya?" dan suara merekapun semakin menjauh sampai tidak terdengar sama sekali.

Ah, di kapal ini semua orang memanggil dengan nama kecil, bukan nama keluarga, selain untuk mengakrabkan satu sama lain, mereka juga tak akan memusingkan pangkat keluarga masing-masing setiap berkomunikasi.

Anak dari keluarga Kise, nama lengkapnya Kise Ryouta, adalah keluarga pemilik aliran dojo pedang terkuat yang namanya terkenal seantero dunia selama turun temurun, dan Ryouta adalah pewaris berikutnya, umurnya setahun lebih tua dari Takuya, yaitu 16 tahun.

'Pewaris keluarga Kise mengabdi pada dia? Hee... Menarik sekali' batin pemuda yang diharapkan menjadi pewaris keluarga Akashi di masa depan itu. Tanpa sadar dia menyunggingkan seringai yang biasa dia tunjukkan jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sesampainya di pelabuhan...

"TAAAKUUUYAAACCHIIIIII~!" si blonde yang diharapkan(?) itupun langsung memeluk erat 'master'nya tanpa ampun.

"Ryouta! Se-sesak! Ayolah! Ini baru sebulan!" dan mereka tidak bertemu memang hanya sebulan

"Takuyacchi... sebulan tanpamu seperti 1 abad bagiku, tolong biarkan aku memelukmu sebentar lagi..." pintanya dengan nada memelas. 'seperti biasa, dia berlebihan sekali...' batin Kagami dan kru kapalnya sweat drop.

Takuya mendengus maklum dan tersenyum, lalu membalas pelukannya, dan menepuk punggung pemuda yang lebih besar darinya itu.

"Kau berlebihan sekali deh..." katanya. 'Entah mimpi apa aku semalam bisa dapet guardian kayak gini...' batinnya sweatdrop.

Semua gadis yang awalnya menaruh perhatian sekalian hati mereka pada si pemuda blonde itupun kini menangis terharu(?) bahkan ada yang histeris kayak kerasukan hantu alay(?) begitu melihat mereka berdua saat ini. Yang cowok ikut-ikutan berpelukan sambil bilang "Kau adalah teman(?)ku selamanya sobat!" sambil menangis meraung-raung...oke, ini lebay. Yang cowok hanya tersenyum dan yang lainnya ikut bergabung melepaskan kangen mereka pada rekan-rekan mereka yang dalam sebulan ini sedang berlatih di hutan yang kondisinya selalu tak menentu di dekat sana, dan mereka berjanji untuk bertemu lagi di pelabuhan ini sebulan kemudian.

Dan Akashi Seijuurou menatap tak percaya pada sosok pemuda yang seharusnya jadi pewaris keluarga Kise yang terkenal itu malah kelihatan kayak monyet banci yang habis turun gunung. Dengan pakaiannya yang cukup lusuh dipasangkan dengan bulu mata lentiknya yang panjang dan rambutnya yang berwarna kuning keemasan. Dan sesi kangen-kangenan ini selesai, Taku memperkenalkan 'penjaga'nya kepada adiknya.

"Sei-kun, ini Kise Ryouta, temanku. Ryouta, ini Akashi Seijuurou, adikku, sepertinya kalian sudah tau satu sama lain, tapi ini pertama kali kalian bertemu secara langsung bukan?" katanya

"Senang berkenalan denganmu, Kise." Kata Seijuurou tersenyum simpel sambil menjabat tangan Kise Ryouta yang sekarang lagi mengucur keringat dingin di wajah tamvannya.

"Se-senang berkenalan denganmu juga, A-Akashi..." balas Kise gugup. 'Wiiih! Orang ini serem-ssu! Beda sekali dengan Takuyacchi...' batinnya menggigil ngeri.

"Kise, mana Murasakibara? Bukannya dia bersamamu?" tanya Kagami

"Ooh, Murasakicchi sedang memasak bersama koki dan yang lainnya di penginapan, katanya spesial untuk merayakan berkumpulnya kita kembali-ssu~" kata Kise mengingat-ingat dan menunjuk jalan ke arah penginapan tempat mereka singgah selama latihan.

"Ryouta, setelah ini boleh aku melihat sejauh mana perkembanganmu?" tanya Takuya to the point.

"Tentu saja-ssu! Takuyacchi pasti akan kaget pada perkembanganku yang sudah jauh-ssu!" kata Kise bersemangat sambil mengepalkan tangannya.

"Hee~ kita lihat saja nanti~, sekarang kita ke penginapan dulu yuk" balas Takuya dan dibalas anggukan setuju.

.

.

.

"Taku-chin, aku membuat ini untukmu... bagaimana menurutmu? Aku baru pertama kali mencobanya..." Murasakibara Atsushi (21).

Seorang penyihir yang mempunyai sedikit gangguan mental, dia sangat hebat dalam sihir, bisa menghafal beribu-ribu kitab sihir kuno maupun modern, membuatnya seperti perpustakaan sihir berjalan, dan sudah mendapat gelar 'Master' di usia 17 tahun. Biografi yang sangat luar biasa, begitulah yang dipikirkan Seijuurou saat membaca buku yang memuat kisahnya. Tapi kini dia harus membuang jauh-jauh bayangannya dulu saat melihat penyihir terkuat di dunia saat ini memakai apron dan tampak seperti anak kecil bertubuh besar yang sedang gugup di hadapan Takuya, kakaknya sendiri.

Ini tidak masuk akal, ada apa dengan dunia ini? Seorang master sihir yang terkenal dan disegani berperilaku seperti ini dihadapan... ck, sangat konyol. pikir Seijuurou.

"Enak sekali Atsushi! Beneran kau baru pertama kali buatnya?!" teriak Taku dengan mata berbinar

"Mana? Mana? Aku juga mau coba-ssu! Hap Hmmm! Enak sekali Murasakicchi~!" kata Kise sambil meletakkan kedua tangannya di pipi begitu dia melahap masakannya. Dan semuanya, karena ingin tau, juga ikut mencicipi.

"Aah! Apa yang kalian lakukan! Dia memasakkannya untukku!" . "Ayolah, jangan pelit begitu Taku! Sedikit saja!" . "Kau bisa merasakannya kapan saja kalau kau mau, dia kan guardianmu, lah kami?!" . "benar! Benar! Woah! Enaaaak!" dan seterusnya... dan seterusnya...

Takuya meratapi piringnya yang kosong "Kalian... kejam sekali..." katanya sambil pundung.

"Taku-chin, kalau kau mau aku bisa membuatkannya lagi... jangan sedih yaa..." kata Murasakibara mencoba menghiburnya.

"Benarkah?! Kalau begitu sekalian buat yang banyak ya! Buat yang lain!" kata Taku langsung bangkit dengan mata berbinar. Murasakibara tersenyum lalu mengangguk.

"Oh iya, aku mau memperkenalkan seseorang padamu, kemarilah." Kata Taku, Murasakibara mengikuti dengan muka penuh tanda tanya

"Sei-kun!" panggilnya kepada pemuda bersurai merah bermata heterochromatic yang dari tadi duduk diam sambil mengobservasi tempat itu dan memikirkan apa saja yang akan dia lakukan, bicarakan dan putuskan saat sudah sampai di Kerajaan tujuannya nanti. Benar-benar penuh perhitungan. Pemuda itu-Seijuurou hanya melirik kearah suara, ekspresi seriusnya yang kelewat serius itu tak berubah sedikitpun.

"Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu, dia Murasakibara Atsushi,*bisik*idolamu kan? *normal* Dan Atsushi, dia Akashi Seijuurou, adikku." Katanya yang mengacuhkan death glare adikknya tersayang(?) itu.

"Senang berkenalan denganmu, Murasakibara" katanya menjaga image, dalam hati dia ingin membunuh penulis buku yang dulu dia baca itu.

"Senang berkenalan juga, Aka-chin..." kata Murasakibara dengan nada menyeret seperti tak tertarik dengan semua keformalan ini. Dia hanya ingin bersama Akashi Takuya, dan melepas kangen dengan pemuda itu.

Mencoba menghiraukan nama panggilan konyol yang berasal dari mantan idolanya itu, seijuurou hanya tersenyum simpel.

"Naa, Taku, bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin kubicarakan denganmu. *bisik* Izuki sudah datang." Bisik Kagami di telinga Taku setelah sedikit menjauhkannya dari kedua orang yang saling berkenalan dengan tidak menyenangkan itu.

Mata Takuya menyipit dan alisnya turun, sepertinya dia masuk mode seriusnya. Dia mengangguk mengerti dan mengikuti pamannya setelah 'izin' pergi keteman-temannya. Seijuurou, karena ini juga ada hubungannya dengan kerajaan tujuan mereka, juga ikut. Dan... Mursakibara juga. Kalau boleh jujur, mereka terkejut saat melihat perubahan ekspresi Takuya yang berbeda 180 derajat dengan biasanya.

Sampailah mereka pada sebuah ruangan yang cukup luas, sepertinya ruang rapat, ada meja bundar yang luas dan kursi-kursi yang mengelilinginya. Disana sudah ada Kise yang duduk dengan tenang, dan seorang lagi yang tidak dia kenali, warna rambutnya hitam dan warna matanya abu-abu. Dia pasti mata-matanya. Pikir Seijuurou.

"Yo! Shun! Bagaimana kabarmu?" sapa Takuya.

"Baik-baik saja, kalau kau?" balas pemuda itu, Izuki Shun (18)

"aku juga baik, oke, karena semua sudah disini, langsung saja, bagaimana keadaan disana?" tanya Taku to the point setelah mereka semua sudah duduk.

Izuki mengeluarkan sebuah prisma, menekan tombol transaran dan muncullah sebuah layar besar dengan beberapa dokumen yang tersimpan di dalamnya. Izuki membuka salah satu dokumen itu dan terlapirlah laporan pengamatannya dan rekan setimnya yang lain, Fukuda dan Moriyama.

Setelah beberapa saat mereka telah selesai membacanya.

"Jadi intinya, yang jadi sumber masalah itu adalah penasehat baru raja itu ya? Disini dinyatakan kalau dia berasal dari sebuah negeri yang tak jauh dari sana... selalu berpakaian serba putih sampai menutupi sebelah wajahnya... yang menangani permasalahan peduduk dan keuangan kerajaan... hanya itu informasi tentangnya? Tapi bukannya tugas-tugas seperti itu tak seharusnya seorang penasehat yang menangani?" kata Kagami ambil kesimpulan.

"Dan anehnya... semua orang di dalam istana juga tidak terusik sama sekali oleh ulah raja dan penasehatnya... malah mereka juga mendukung tindakan mereka, apa yang terjadi?" kata Taku masih menganalisa serentetan kasus di dalam Kerajaan itu. "Tapi, pertama kita harus menyelesaikan tentang perdagangan manusia itu dulu... usahakan jangan lupa tujuan awal kita mengunjungi kerajaan itu." Lanjut Takuya mengingatkan.

"Tapi meskipun begitu, bukankah aneh jika raja ini menuruti begitu saja semua 'saran' dari penasehat barunya-ssu ka? Maksudku, bahkan tidak ada usaha pencarian atas menghilangnya beberapa penduduk termasuk penasehat yang sudah bertahun-tahun bersamanya-ssu! Bahkan segala keluhan pendudukpun tak digubris sama sekali-ssu!" komentar Kise setelah (akhirnya) selesai membaca laporan yang panjang itu.

"Dan... keadaan ekonomi dan sosial di kerajaan ini juga semakin turun... sebenarnya apa yang dilakkukan para dewan dunia?" komentar Murasakibara dengan nada malas dan datarnya

"Sepertinya mereka menyembunyikannya, pokoknya, toko manusia ini-biar gampang menyebutnya-tidak akan habis jika akarnya tidak di cabut juga... mungkin jika kita membakar toko-toko itu, misalnya, masalah akan selesai, tapi untuk sementara..."Izuki memutus kata-katanya, membiarkannya menggantung.

"Tapi di masa depan mereka pasti akan bangkit lagi dan mungkin akan lebih buruk dan merepotkan dari ini" Seijuurou meneruskan. Dengan tenangnya dia bersandar di kursi dan terus melihat laporan tersebut, menopang kepalanya dengan kepalan tangannya, ekspresinya tak berubah, datar dan serius.

"Tapi kau pasti sudah punya rencana jika ada hal-hal lainnya yang mungkin terjadi kan? Kau tenang sekali" kata Takuya yakin.

"Sama halnya denganmu, kau tampak tenang setelah mengetahui hal ini, NII-SAN" balasnya sambil melirik kakaknya yang masih tersenyum simpel sambil beropang dagu.

"Ahahaha, aku kelihatannya begitu ya? Oh iya, siapa yang akan menemani Sei saat bertemu raja? Soalnya kalau aku sudah tidak mungkin..." lanjut Taku

"Ha? Kok bisa begitu? Selain aku rencananya kan kau yang menemani Seijuurou." Balas Kagami dengan ekspresi tanda tanya.

"Soalnya tak lama sebelum ini ada keributan di istana dan itu melibatkan dirimu, otomatis kamu di black list oleh para warga istana kan?" kata Izuki sambil tersenyum dan tertawa kecil

"Yaah... begitulah..." kata Taku garuk-garuk pipi

"TAAAKUUUYAAAA!" Kagami mengeluarkan mode galaknya.

"Habis! Siapa yang gak marah kalau ada yang bilang kalau manusia sama kayak hewan ternak dan serangga menjijikkan coba?!" Taku balas berteriak "Mereka bahkan bilang 'manusia saat ini sudah terlalu banyak, mereka tidak akan habis kalau hanya dibegitukan' mereka pikir manusia itu apa?! Kecoak?! Kau mau disamakan kayak kecoak?! Lagipula apa mereka itu tak sadar kalau mereka juga manusia?!" lanjutnya.

"Sudah-sudah, hentikan. Tak ada gunanya ribut. Setelah ini aku akan kembali lagi, jika ada informasi terbaru nanti akan ku kabari. Jaga diri kalian, Akashi-sama(dua-duanya), Kagami-san, Kise-san, Murasakibara-san, sampai bertemu lagi" dan Izukipun dengan cepat pergi dari sana lewat jendela.

"Izuki benar, tak ada gunanya ribut terus. Ah, aku dapat ide, Taku, kau masih bisa masuk ke istana, kuharap kau menerima ini karena mendampingi Seijuurou juga tugasmu." Kagami masuk ke mode serius. Takuya menelan ludah, 'pertanda buruk', pikirnya.

.

.

.

Seijuurou menghela nafas, keributan yang melelahkan, dia ingin segera bertemu Tetsuya, dia sudah merindukan adik kecil bersurai baby blue-nya itu, dan anehnya, dia juga mulai merindukan Seishirou. Biasanya mereka berdua berbincang santai di teras rumah, dia akui Seishirou lebih berintelejen daripada orang-orang yang pernah dia temui dan itu membuatnya merasa nyaman untuk berbicara dengannya.

"Merindukan rumah Sei?" kata Kakaknya yang tengah berjalan di sampingnya, sambil tersenyum jahil. Mereka sedang berjalan di koridor yang terhubung ke ruang bawah tanah.

"Pembicaraan yang tak berguna, semua hal tadi sudah kuperkirakan. Sekarang aku sedikit penasaran tentang penasehat baru itu. Dia memonopoli kerajaan tanpa disadari siapapun" jawab adiknya dingin.

"Yah... sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Sei, kau tau organisasi Tenebris?" tanya Taku dengan wajah tanpa ekspresi, karena dia merasa tak perlu berekspresi kalau lawan bicaramu bahkan tak akan pernah melihat kearahmu. Cukup saling bicara dan mendengar saja. Hemat tenaga.

"Ah... 'organisasi yang menyimpang' dari hukum dunia dan kitab itu? Apakah mereka benar-benar ada dan bukan sekedar rumor?" balas seijuurou.

"Mereka bukan sekedar rumor. Mereka benar-benar ada di dunia ini dan sekarang mulai bergerak. Entah apa tujuan dari tindakan mereka, tapi kurasa kita juga harus menambahkan pengaruh organisasi itu ke dalam daftar kemungkinan yang menyebabkan kasus ini." Kata Taku lagi.

Seijuurou tak menjawab dan berencana akan menambah daftar kemungkinan di benaknya yang tersusun dengan rapi. Sebenarnya dia ingin bukti kalau organisasi itu benar-benar ada, tapi untuk itu bisa ditunda dulu.

Mereka telah sampai di sebuah ruangan yang sangat luas, di bawah tanah penginapan

Sekarang Takuya dan Ryouta sedang berhadapan satu sama lain, mengenakan baju santai dan melakukan sedikit peregangan. Dan kali ini Seijuurou, Kagami, Murasakibara dan para kru menjadi penonton bayaran(lho)

"MULAI!"

Ryouta mulai berlari dengan sangat cepat, tangannya sudah di selimuti cahaya warna kuning yang kontras dengan warna rambutnya. Dia tersenyum senang saat ini.

Dan Taku melangkah dengan tenang, senyum penuh keyakinan menghiasi wajahnya yang kata orang kebanyakan manis dan imut. 1.. 2.. langkah dan Takuya menghilang dalam sekejap. Membuat semua, semua orang disana terkejut karena mereka belum merasakan adanya kekuatan sihir sedikitpun dari pemuda bersurai hitam bermata blue sky itu.

'Kemana dia?' Adalah pikiran semua orang yang ada dalam ruangan luas itu (yang lebih mirip gua bawah tanah). Saat Kise sedang sibuk mencari hawa keberadaannya yang anehnya juga ikut menghilang. Takuya dengan cepat menendang kepala Ryouta yang sudah dilindungi oleh perisai sihir sebelumnya dari belakang, dan kini tubuh pemuda itu terpental menabrak dinding, terbatuk sebentar, Kise lalu melempar bola api, yang dia bisa merubah arahnya sesuka hati. Tapi dengan mudah Takuya menghindarinya dan 'menghilang' lagi.

"Dia menggunakan kemampuan fisiknya yang bisa bergerak secepat kecepatan cahaya, dan menghilangkan hawa keberadaannya dengan sesuka hati, dia mau pamer rupanya." Komentar Kagami tersenyum miring "dasar anak muda" lanjutnya, wow, udah ngerasa tua ya?*plaak*

Seijuurou terfokus pada apa yang dia lihat saat ini, didepan kedua matanya, ada 2 orang yang bertarung dan melakukan sesuatu yang selalu dia lihat di televisi, video, atau media di Jepang karena pemakaian sihir di negara itu dibatasi.

Kise mengeluarkan sihir api dan memanggil makhluk yang berbentuk seperti ular dengan tanduk di sekujur tubuhnya yang terbuat dari lava. Suhu ditempat itu terus meningkat berkat sihir Kise. Takuya, karena mulai terganggu dengan suhu disana menggunakan sihir air untuk membuat ular(?) lava panggilan Kise mengeras menjadi batu, dan memadamkan sihir api Kise yang hampir ada di seluruh ruangan. Kise memegang pedang baja kesukaannya dan mengeluarkan jurus andalannya. Tatsuya mengeluarkan pedang hitamnya dan membalas serangan itu dengan lihai, mereka beradu pedang dan teknik dan menghasilkan pertarungan yang sengit. Taku mengalihkan perhatian Kise dan dengan cepat 'menghilang' lagi.

"Naa Kise, kita akhiri saja yuk, aku sudah lapar dan aku tidak mau membuatmu gosong..." suara Taku membuat semuanya menoleh kearahnya.

Posisinya sangat santai, dia duduk di salah satu batu besar yang ujungnya kering. Duduk bersila dan satu tangannya menopang wajahnya yang manis, dia tengah tersenyum dengan senyum jahilnya yang biasa. Tangan satunya... sepertinya sedang akan menyentuh bagian batu itu yang basah... sempat Kise akan menyerangnya, tetapi langkahnya terhenti saat dia menyadari ada yang aneh dengan tangan Taku yang dibiarkan menggelantung itu. Di jemari tangannya ada cahaya putih yang dengan cepat muncul-hilang dalam sekejap mata

Cip cip bzzt crip bzzt

Dan suara yang terdengar karena heningnya ruangan itu terdengar familiar dengan telinga semua orang. Tidak ada yang menyangka bahwa remaja 15 tahun itu sudah menguasai elemen dasar tersulit. Petir.

Takuya, masih dengan senyum nakalnya terus menatap Kise yang tengah membatu menatap apa yang ada di tangannya. "Ryouta" panggilnya, dan itu membuat si blonde tersadar, dia membatalkan sihir yang akan dikeluarkannya, memasukkan pedang milikknya kedalam sarungnya, dan berdiri tegak menghadap 'masternya'

"Aku mengaku kalah, Takuyacchi. Agak menyebalkan padahal aku adalah guardianmu." Kata Kise tersenyum agak di paksakan. Takuya terkekeh, dengan sekali ayunan tangannya semua air di sana menguap dan ruangan menjadi sedia kala, lalu Takuya menghilangkan uap disana dengan sihir angin yang bisa dia munculkan dengan sekali ayunan tangan saja.

"Jangan sedih begitu, aku membutuhkanmu Ryouta. Tidak penting kau itu lebih kuat atau lebih lemah, kau adalah guardian milikku." Kata Takuya sambil mengelus lembut pipi pemuda pirang yang tengah blushing di hadapannya dan Karena Takuya gak peka, "wah, kau kenapa? Pengaruh panas? Mukamu merah lho" katanya dengan wajah polos minta dilempar bakiak.

.

.

.

Pikiran Akashi Seijuurou masih tidak bisa lepas dari 'pertunjukan' tadi, kesampingkan tugas yang diberikan padanya, untuk sesaat pandanganya selama 'pertunjukan' sihir itu tak bisa lepas dari kakaknya. Dan meskipun samar-samar, dia mendengar apa yang diucapkan kakaknya pada guardiannya setelah itu. 'aku membutuhkanmu' seketika itu juga, seperti sedang ditekan, dadanya terasa sesak dan dia sulit bernafas. Tapi Cuma sebentar, dia masih bingung dengan itu dan setiap mengingatnya, rasa sesak itu selalu muncul. Ada apa denganku? Hanya karena dia mirip Tetsuya bukan berarti aku juga... ck, jangan bercanda, runtuknya dalam hati.

flashback

2 Tahun lalu, Takuya dan ayahnya sedang mengunjungi dojo keluarga Kise yang terkenal akan tekniknya dan orang-orangnya yang melegenda.

"Senang bertemu denganmu lagi, Akashi-dono." Sapa seorang paruh baya mengajak berjabat tangan.

"Senang bertemu dengan anda lagi, Kise-dono, senang melihat anda baik-baik saja." Ayahnya menjabat tangan sang kepala keluarga Kise itu.

"Ngomong-ngomong dia anakmu ya? Rambut hitamnya mirip kakeknya ya, dan matanya juga mirip istrimu, anak yang manis. Halo nak, siapa namamu?" sapa kepala keluarga Kise sambil merendahkan dirinya agar bisa sejajar dengan anak yang berdiri di samping kawan lamanya.

"Namaku Akashi Takuya, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda." Balas Takuya, sopan dengan senyum, sesuai yang diajarkan oleh guru, ayah dan ibunya. Padahal dalam hati dia menjerit tersiksa akan segala keformalan yang membuatnya muak.

"Sepertinya kau mendidiknya dengan baik, oh iya, Takuya-kun, bagaimana kalau sambil menunggu kami, para orang tua berbincang kamu bermain dengan anakku? Dia setahun lebih tua darimu, tapi dia adalah anak yang... menyenangkan" kata pria paruh baya berambut kuning itu dengan senyum bersahajanya walaupun penggantungan untuk kata 'menyenangkan' tadi terasa agak mengganjal di telinga Takuya.

"Baik" jawabnya singkat.

"Dia seharusnya ada di halaman dojo paling ujung, selamat bersenang-senang" katanya. Dan Takuya membungkukkan badan, lalu berjalan pergi.

Takuya POV

Haaa... merepotkan, kalau begini terus mana mungkin kuat... aku benci dengan segala hal yang berbau formalitas, seperti... terlalu menjaga jarak dan bertele-tele... apa aku harus menyerahkan semuanya pada Seijuurou ya? Atau Seishirou? Tapi mereka masih terlalu muda...mungkin 1 atau 2 tahun lagi...

Swoooosh

apa? Api? Darimana-...

...

Oh, ternyata anak itu sedang latihan sihir toh. Hem... dia pasti anaknya paman Kise tadi... etto, siapa ya namanya... hem kalau tak salah...

"Siapa kau?" ah, dia sadar kalau aku di sini.

"Namaku Akashi Takuya, putra sulung dari keluarga Akashi" lho? Kok dia terkejut seperti itu?

"Ooh, keluarga Akashi ya... kalau begitu perkenalkan-ssu! Namaku Kise Ryouta, putra tunggal dari keluarga Kise" sepertinya dia tipe orang yang periang dan cenderung berisik.

"Apa yang sedang kakak lakukan?" pertanyaan konyol, sudah jelas dia sedang berlatih menyalurkan sihir api lewat pedang kan?

"Jangan panggil kakak, panggil saja aku Ryouta-ssu! Aku sedang belajar salah satu teknik sihir dengan memfokuskan kekuatan sihir ke suatu benda yang diajarkan guruku-ssu!" kebiasaan bicara yang lucu.

"Jaa, Ryouta-san, apa saja tipe sihirmu?"

"Hem... cahaya dan api. Tapi aku masih menguasai jurus-jurus dasarnya saja, hahaha..." hem, mungkin aku harus mempelajarinya juga, untuk jaga-jaga saja.

"Nee, Ryouta-san, mau tidak ajari aku sihir? Dasarnya saja tidak apa-apa deh"

"He? Kenapa tiba-tiba Akashicchi?" 'Cchi?' nama panggilan? Kok rasanya lucu ya?

"Untuk jaga-jaga saja, kali aja aku membutuhkannya nanti."

"Oke... kalau begitu, Akashicchi harus mengetahui apa itu sihir, gampangnya, kau perlu 'pengantar' terlebih dahulu kalau ingin mempelajarinya lebih lanjut... di ajarkan di sekolah di negerimu kan? Di sekolah itu pengetahuannya masih umum, jadi agak... Nih, untuk lebih rincinya, kau bisa membaca buku ini" He? Bukunya lebih tipis dari yang kukira, maksudku, tentang kitab Sihir, kebanyakan orang pasti berpikir tentang sebuah buku antik tebal dengan beribu-ribu halaman.

"Buku itu memuat tentang poin-poin penting dari sihir, bahasanya juga gampang dimengerti. Aku mendapatkannya dari guruku"

"Terima kasih Ryouta-san, kalau begitu aku akan membacanya di bawah pohon sana ya"

"Oke-ssu!"

Ryouta POV

Hosh... hosh... melelahkan sekali, tapi sepertinya sedikit-demi sedikit aku mulai menguasainya. Ng? Siapa di...wah, manis sekali... rambut hitam itu terlihat lembut, mata bewarna biru langit di musim panas yang sangat tenang, kulitnya sangat putih, pipinya masih merona dan tubuhnya mungil...

d-dia cewek? Atau cowok? A-astaga, dia terus melihat kearahku!

"Siapa kau?" malaikat yang turun ke bumi untuk memanggil nyawaku kah?

"Namaku Akashi Takuya, putra sulung keluarga Akashi" ha? Apa?! Ke-keluarga Akashi?! Yang punya mata tajam kayak kucing itu?! T-tapi... GAK MIRIP SAMA SEKALI! Aku pernah melihat kepala keluarga mereka... oang itu punya aura kepemimpinan yang kuat dan satu kata yang terpikirkan olehku begitu melihatnya, dia adalah pemimpin yang 'ABSOLUTE', dan itu membuatku agak begidik setiap didekatnya, dan dia adalah ayah dari malaikat yang ada di depanku ini?!

"Ooh, keluarga Akashi ya... kalau begitu perkenalkan-ssu! Namaku Kise Ryouta, putra tunggal dari keluarga Kise"

.

.

"Nee, Ryouta-san, mau tidak ajari aku sihir? Dasarnya saja tidak apa-apa deh" akh, soal mengajari aku tidak percaya diri... gimana ya? Oke, kalau tidak salah di Jepang sekolahnya juga mengajakan sihir, tapi secara umum saja, ibaratnya seperti hanya menyentuh permukaan air. Untung aku masih menyimpan buku itu.

.

.

.

"Akashi-cchi... apa kau benar-benar belum pernah belajar sihir-ssu?" dalam sesingkat itu... dia bisa menguasai teknik-teknik dasar dan jurus-jurus elemen angin... he-hebat...

"Iya, aku baru pertama kali mempraktekannya seperti ini, terima kasih atas ajaranmu Ryouta-san, pengajaranmu benar-benar mudah di mengerti!" senyumnya yang cerah ditambah biasan sinar matahari yang hangat, semilir angin membelai rambutnya yang berkilau hitam dan menyeka keringatnya yang jatuh bagai berlian, mata biru langitnya lurus menatapku, sangat indah...

Degh...

Aah, sepertinya... aku sudah jatuh cinta padanya...

"Akashicchi... apa kau butuh guardian?"

"Kurasa tidak, kenapa?"

"Kudengar kau setelah ini akan mengadakan pelayaran keliling dunia... dunia luar adalah tempat yang berbahaya, Akashicchi, dan ini adalah pelayaran pertamamu-ssu... kurasa kau butuh seseorang untuk melindungimu dari bahaya-ssu..." aku ingin menjadi orang itu, aku ingin melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku

"Benar juga yaa... tapi siapa yang mau jadi guardian ku? Aku tak kenal siapapun yang-..."

"Kalau kau mau, Akashicchi, aku ingin menjadi guardianmu-ssu!"

"... serius?"

"Iya! aku akan melindungimu dari bahaya apapun-ssu! Aku akan menjagamu dengan segenap kemampuanku-ssu!"

"Baiklah, Ryouta-san, kalu itu keinginanmu, mohon bantuannya ya"

.

Dan mereka berjabat tangan dan Kise Ryouta mengucapkan janji tak terbantahkannya untuk setia dan mengabdi pada Takuya untuk menjaganya dari bahaya apapun dari dunia luar.

Inspirasi dari, Fairy Tail, Hunter X Hunter, dan banyak lagi

Penyihir bisa menggunakan sihir sesuka hati mereka sesuai tipe sihir yang dikuasainya, untuk makhluk panggilan juga begitu.