Ch 4
Keesokan harinya... Seijuurou terbangun di kasur yang asing, di ruangan yang asing...
'kasur penginapan' batinnya mengingatkan diri sendiri. Dia kemudian menoleh kesampingnya, yang dirasa ada sesuatu yang terbaring di sebelahnya.
Seorang pemuda manis berambut hitam dengan wajah yang sangat familiar di ingatannya... dia hanya menatap datar sosok itu sambil sesekali memegang helai rambut pemuda yang masih tidur di hadapannya. Merasakan setiap helai rambut kakaknya yang mirip dengan adik tercintanya.
Seijuurou POV
Orang ini... dia benar-benar mirip Tetsuya jika sedang diam seperti ini, hanya rambutnya saja yang berbeda...hitam, tapi kelembutan ini sama dengannya... kira-kira dia bakal punya bed hair seperti Tetsuya juga tidak ya? Mengingatnya saja sudah membuatku geli... tunggu.
"... Oi..."
...
"Kau sudah bangun dari tadi kan?"
...
"Yaah, begitulah..."
"Lalu kenapa kau masih disini?"
"ck, Ayolah... kita sekamar ingat? Lagipula aku masih capek setelah pertarungan kemarin... biarkan aku tidur lebih lama lagi..." dia mulai bertindak seenaknya lagi
"Jika kau tidak bangkit dalam hitungan ketiga, aku akan membuatmu tidur untuk selamanya dengan senang hati." Akhirnya dia membuka mata... ah... mata biru langit yang kurindukan, Tetsuya, sedang apa kau saat ini?
"Jangan terlalu sadis jadi orang, kau menyebalkan seperti biasanya, Sei-kun" terserah apa katamu. Aku tidak peduli.
Normal POV
Takuya melihat adiknya yang terus menatapnya tak suka, dia hanya menghela nafas singkat, dan tersenyum lembut kepada adiknya itu, lalu mengelus helai rambut yang semerah batu ruby itu
"ohayou, Sei-kun" katanya menyapa adiknya, lalu menyium puncak kepala adiknya singkat kemudian bangkit, mangembil baju ganti dan handuk, lalu ke kamar mandi. Meninggalkan adiknya yang sedang mengerjap kaget. Lalu Seijuurou merasa kalau wajahnya terasa sedikit agak panas dari biasanya dan jantungnya berdetak lebih kencang.
'Apa Tetsuya juga setiap pagi diperlakukan seperti ini juga olehnya?'
.
.
.
"Pagii semuanya~!" sapa Taku kepada semua orang di ruang depan penginapan, lumayan ramai dan dibalas dengan riang juga "Pagi Taku~! Hari ini kau masih manis sekali~" sapa pemilik penginapan.
"Tolong jangan bilang aku manis bibi..." balas Takuya sweat drop. Dan si bibi itu hanya tertawa.
"Pagi Takuyacchi~" peluk Kise dari belakang, sumpah ni anak kayak haus kasih sayang banget deh.
"Mana Atsushi?" kata Takuya tak menghiraukan semua itu
"Murasakicchi sedang bertapa di air terjun, setiap pagi dia begitu, oh iya, kira-kira kapan kita berangkat-ssu?" Kise balik tanya
"Besok, hari ini kita istirahat dulu. Dan Kise, dari dulu aku penasaran... jangan tersinggung, ehem, kau ini gay ya?" dan Kagami mendapat gamparan sandal gratis cap bambu kuning yang dengan tepat mengenai wajahya yang tampan (Kagami : emang gue babi ngepet ha?!)
Dan setelah itupun mereka bersenang-senang melepas penat setelah seminggu berlayar.
.
.
.
"Takuya-chan, bisa tolong ambilkan pesanan bibi di toko di ujung pasar?" kata bibi tiba-tiba saat Takuya enak-enakan tidur di bawah pohon
"Ha? Kok aku?" dia merasa agak terganggu
"Karena hanya kamu yang bisa dipercaya, tolong ya?" Takuya menghela nafas agak berat
"Baiklah"
Di perjalanannya di pasar kota pelabuhan... ditemani Kagami dan adiknya
"Kenapa aku juga ikut?" tanya si adik yang tadi enak-enakakn bergelut dengan bukunya dan ditarik(diseret) secara tiba-tiba oleh kakaknya ini.
"Apa kau tidak bosan bergelut dengan buku terus? Sekali-kali keluar tidak apa-apa kan?" jawab si kakak. Sedangkan lawan bicaranya menghela nafas singkat dan tak berbicara lagi, matanya sekarang sibuk melihat-lihat pasar kota pelabuhan itu dengan seksama.
Banyak orang lalu-lalang, transaksi antara pembeli dan penjual, kebisingan dari para pedangang agar menarik perhatian para pelanggan, mereka berbelanja di keadaan pasar yang sedikit kumuh tapi semuanya menyunggingkan senyum, suasana yang begitu hidup.
"Kyaa~ kalian keren sekali~ petualang? Mau melihat-lihat? Kami orang lokal, jadi mungkin kami tau toko-toko yang bagus di daerah sini.. kami bisa menjadi pemandu pribadi kalian~" kata Seorang gadis dan teman-temannya yang menghampiri mereka.
"Ah, tida-" ucapan Kagami terpotong oleh Takuya yang menepuk pundaknya.
Takuya lalu berjalan mendekati gadis-gadis itu dan meletakkan tangannya di dadanya lalu membungkuk, tata krama keluarga terpandang memang lebih mirip bangsawan, lalu dia tersenyum lembut pada mereka. Menyedot perhatian semua wanita di sana. Jujur saja saat ini Kagami hanya cengo menatap sikap keponakannya yang beda 180 derajat dari biasanya, meskipun berkali-kali dia melihat, tetap saja itu membuatnya kaget dan adiknya hanya melihat tajam kearah kakaknya sambil melipat tangan di depan dadanya. Ingin melihat apa yang akan dilakukannya.
"Betapa anggunnya hati kalian yang berbaik hati pada petualang seperti kami, kami berterima kasih. Tapi tak baik bagi seorang gadis untuk berakrab-akrab pada orang asing, jaga harga diri kalian baik-baik ya, kami permisi dulu" kata Takuya sambil mengajak kedua rekan jalan-jalannya pergi meninggalkan para gadis yang tak bergerak, mura mereka memerah, lalu tak lama setelah itu teriakan-teriakan seperti, you know what i mean, menggema dari mulut para wanita yang menyaksikan.
"Sepertinya kau sangat terbiasa dengan situasi tadi" komentar Seijuurou yang sempat akan menolak mereka dengan dingin, to the point dan jangan lupa akan tatapan tajam menusuknya dan wajah serius yang setiap hari terpampang di wajah tampannya.
"Tipe gadis seperti itu aku tidak benci, tapi kalau sedang tidak mood atau keadaannya gak mendukung aku juga sering menolak mereka" jawab Takuya poker face.
"Haha! Dasar buaya kau" komentar Kagami di selingi tawa singkat.
"Buaya?! Jangan menyebut keponakanmu sendiri begitu paman, kan aku hanya menolak mereka dengan halus, lagipula aku juga butuh hiburan... kalau paman menyebutku begitu... kuberitahu pada bibi Tatsuya kalau kau 'selingkuh' dengan para pria dan gadis manis di distrik lampu merah lho~" kata Tatsuya tersenyum jahil. Kagami seketika itu juga bersujud dengan wajah penuh kengerian.
"MAAFKAN AKU! TOLONG JANGAN BILANG PADA TATSUYA!" dan sekarang Takuya tertawa puas.
"Distrik lampu merah? Kalian ke sana?" jujur, saat ini Seijuurou terkejut akan kedewasaan kakaknya yang terlampau jauh dari umurnya yang masih belia, 15 tahun.
"Bukan, bukan aku, aku sudah terlalu sibuk berlatih sihir dan beladiri senjata maupun tanpa senjata, tapi kadang-kadang kalau tidak ada temannya orang ini mengajakku, tapi ending-endingnya aku di jadikan umpan bagi tante-tante seksi yang pedofil..." dan sekarang aura mengerikan, penuh keputusasaan menguar bergantian dari diri kakaknya yang berjalan di sampingnya dengan kepala menunduk. Pasti dia sudah mengalami hal yang buruk... Takuya yang malang.
.
.
.
"Disini ya... whoa... toko yang benar-benar antik..." komentar Kagami,
Mereka sudah sampai di toko yang cukup besar berlantai 2 dengan gaya arsitektur abad pertengahan, catnya bewarna cokelat tua, dan bangunanya seperti akan roboh setiap saat, benar-benar mencerminkan keklasikannya.
"Ayo masuk~" tapi Takuya tak menghiraukannya dan langsung nyelonong masuk
Mereka berdua menyusul Takuya masuk dan melihat interior toko yang jauh lebih lebar dan luas, yang sama sekali tidak terlihat dari luar.
"Aku cinta sihir." Gumam Takuya yang mengagumi tempat itu, penuh dengan berbagai macam barang, mulai dari buku, biasa maupun buku sihir, tongkat, ramuan, sapu, makanan, boneka, bola kristal, batu, dan masih banyak lagi.
"Menunduk!" kata Takuya sambil menundukkan kepala mereka bertiga,
Wuuuush... Gejes! Gejes! Gejes! Whuuurl...
dan dari atas mereka lewat mainan kereta api dan pesawat terbang, disusul boneka-boneka ikan dengan kecepatan yang tidak main-main, 'kalau kena pasti sakit tuh', batin Takuya.
"Selamat datang-selamat datang dan selamat datang... ini adalah toko serba ada~ apa yang anda cari?" kata om-om awet muda dengan kemeja putih dan celana panjang hitam menyambut mereka bertiga.
"Ka-kami ingin mengambil pesanan dari bibi-"
"OOH! Bibi pemilik penginapan ya?! Tenang-tenang.. kami sudah menyelesaikannya~ baru saja selesai... para tamu sekalian silahkan melihat-lihat dulu~ akan saya ambilkan..." perkataan Kagami terpotong dan itu membuatnya kesal.
"Whoa... apa ini? Ramuan pink ini mencolok sekali, batu ini mengkilap sekali~, mainan ini imut sekali~ jimat dan topeng ini juga keren! Ah, aku akan membelikan Seishirou dan Tetsuya salah satu dari barang-barang ini aah~" kelihatannya Takuya benar-benar menikmati dan melihat-lihat toko itu, dan dia menyeret-nyeret Seijuurou, dan saat Seijuurou akan mengangkat gunting yang sempat dia bawa tadi...
"Nee Sei, mereka cocoknya dikasih apa ya? Jimat? Gelang? Kalung? Tongkat? Senjata? Tidak, jangan senjata. Apa yaa... kau punya saran tidak?" dan aku(author) merasa kalau Takuya sekarang mirip tante-tante cerewet yang sibuk memilih hadiah untuk keponakan tercintanya, imagenya... berada di ujung tanduk*bletaak*
Seijuurou menghela nafas singkat dan ikut melihat-lihat.
Seijuurou POV
Untuk mereka berdua ya... aku pikir mereka tak cocok dengan sesuatu yang mencolok, lebih cocok dengan sesuatu yang lebih sederhana... seperti...
"Oi Sei! bagaimana menurutmu tentang kalung ini?!" haa, dia berisik sekali... kalung dengan rantai kecil dan kaca sebagai bandul? Lumayan.
Normal POV
"Kacanya bisa berubah warna lho~ dan ada 'pemandangannya' juga!" kata Takuya riang sambil mengangkat bandul kalung itu tepat diantara mata mereka.
Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi secara perlahan ada seperti ukiran aliran yang lembut dan makin lama makin kencang, seperti angin, kacanya berubah menjadi warna biru muda dan aliran tadi bewarna putih, terlihat seperti gambaran angin dalam penglihatan Seijuurou.
Dalam penglihatan Takuya, kaca itu memunculkan sosok berbentuk singa yang gagah dengan api di sekujur tubuhnya, 'sangat keren' pikirnya dalam hati.
Sepertinya kaca itu menunjukkan jati diri seseorang. Itu yang dipikirkan Seijuurou, tapi, kaca itu makin lama makin menghitam, lalu dia melihat bercak merah, dan mata mengerikan seseorang dengan siluet mengerikan menjadi latar belakangnya... jujur, Seijuurou agak ngeri dan terkejut melihatnya.
"Kaca itu bisa meramalkan masa depan, mengungkap jati diri, mengungkap kebenaran, petunjuk, dan sebagainya~ apa anda tertarik? 20 keping, tapi untuk para pelanggan yang ganteng saya kasih 15 keping aja deeh~" dan pemilik toko itu kembali dengan membawa suatu kotak yang cukup besar.
"Ooh! Keren juga! Ngomong-ngomong itu pesanannya?" sahut Takuya
"Iya, adakah yang lain yang anda butuhkan?" baru saja Takuya akan membeli kalung itu untuk kedua adiknya, tapi-
"Jangan berikan kalung ini ada mereka berdua, aku akan membelinya untuk diriku sendiri." Seijuurou mendahuluinya.
"Hee?! Ke-kenapa?!" protes Takuya.
"Kupikir kau minta pendapatku tentang kalung ini dan aku berpendapat bahwa kalung ini tidak cocok untuk mereka, kau cari saja yang lain."
Takuya mencari barang lain sambil ngedumel sendiri. Lalu ia menemukan sebuah jimat keberuntungan, berisi semanggi berdaun empat, rambut Unicorn, rumput felix dan air mata duyung. Takuya membeli itu dua buah lalu pergi bersama paman dan adiknya. Setelah mereka keluar dari sana, Takuya bersiul dan datanglah burung hantu cukup besar berwarna hitam, ras Tyto.
"Kirim ini pada kediaman Akashi, kalau bisa langsung ke 2 adikku. Bilang saja hadiah dariku." Perintah Takuya, awalnya Seijuurou tak habis pikir kenapa kakaknya harus bicara pada burung hantu. Sampai-
"Sesuai dengan keinginan anda, tuan Akashi Takuya." Burung itu berbicara layaknya manusia dan terbang kembali.
"Ah iya, aku selalu mengirim kabar dengan cara begini, lebih aman menurutku. Yang menerima pesan keseringan karyawan rumah, Seishirou, ibu atau Tetsuya. Agak kecewa juga karena kalian berdua pasti tak terlalu tertarik dengan ceritaku." Kata Takuya. Seijuurou hanya terdiam
.
.
.
Di kediaman Akashi... di kamar tidur yang di dominasi oleh warna merah... matahari pagi sudah terbit perlahan, menembus jendela dan memaksa orang di dalam ruangan itu untuk membuka matanya.
"Ngh..." erangan kecil lepas dari bibir pemuda bersurai crimson yang tengah bergelut dalam selimutnya.
Dia perlahan membuka matanya, terdiam sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang, saat sudah berkumpul, dia bangkit dari kasur king sizenya dan mendapati pemuda bersurai baby blue yang semalam tidur dengannya masih tertidur pulas dengan wajah manis tak berdosanya. Dia tersenyum dan menekan pipi pemuda itu dengan telunjuknya.
"Tetsuya, bangun... sudah pagi" katanya dengan suara yang lembut.
Pemuda baby blue itu masih diam dan menutup matanya, sedikit terganggu dengan tadi tapi dengan cepat dia terlelap lagi. Pemuda crimson itu, kakaknya, kita sebut saja Akashi Seishirou menghela nafas maklum, adiknya bukan tipe orang yang mudah bangun pagi apalagi sekarang hari libur.
Dia tersenyum dan membelai rambut adiknya, mendekatkan mulutnya pada telinga adikknya dan berbisik dengan suaranya yang menggoda "Kalau kau tidak cepat bangun, aku akan menciummu hingga kau kehabisan nafas, Tetsuya." Yang sontak membuat sang adik terbangun dengan muka yang memerah parah.
"Shirou-nii wa hentai-desu..."(kak Shirou mesum..) gumamnya pelan, tapi itu terdengar dengan jelas di telinga kakaknya. Seishirou terkekeh pelan, lalu membelai pelan kepala adiknya
"Kau yang membuatku mengatakannya, kalau kau tak dibegitukan kau tak akan bangun... atau kau sebenarnya mengharapkannya Tetsuya?" katanya menggoda adiknya yang wajah imutnya semakin memerah.
"tolong jangan menggodaku Shirou nii.." katanya dengan nada yang semakin pelan sambil memalingkan wajahnya. What a lovely morning for this two brother huh?
Tok tok tok tok
Merasa bunyi ketukan itu berasal dari jendelanya, Seishirou beranjak dari tempat tidurnya ke arah jendelanya, membuka tirainya untuk melihat siapa yang mengganggunya pagi-pagi begini
"... Moria-san? Wah, jarang-jarang kau ke sini, apa kakak membutuhkan sesuatu?" katanya sambil membukakan jendelanya, mempersilahkan burung hantu hitam milik kakaknya untuk masuk.
"Maaf mengganggu tuan muda sekalian pagi-pagi begini, saya disini atas perintah tuan Akashi Takuya untuk mengirimkan hadiah pada tuan muda berdua." Kata Burung hantu itu dengan formal,
Dan saat burung itu menyapukan sayapnya yang hitam legam ke atas meja, muncul 2 botol kecil kaca dengan kertas yang bertuliskan 'wish you always in the best of luck everyday, brother. Love, Takuya' saking kecilnya botol itu bisa dijadikan gantungan tas atau kunci. Tetsuya tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini begitu melihat hadiah dari kakaknya itu.
"Jimat keberuntungan ya? Baru kali ini aku melihat bentuk ini secara langsung... Sampaikan terima kasih kami pada Taku-nii, kami sangat senang atas pemberiannya. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Taku-nii dan Sei-nii disana?" tanyanya.
"Keadaan mereka berdua baik-baik saja, sekarang mereka sedang singgah di pelabuhan kedua dan hari ini akan berangkat menuju pelabuhan ketiga" jawab si burung hantu.
"Semoga saja kasus ini cepat selesai..." kata Tetsuya lesu. Seishirou melihatnya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke burung hantu.
"aah, iya, jangan lupa mengatakan padanya kalau adik kecilnya sudah merindukannya setengah mati." Katanya dengan senyum jahil meniru kakaknya.
"Ja-jangan! A-aku malu..." Tetsuya menunduk malu, Seishirou mengedipkan sebelah matanya ke burung hantu (sepertinya dia agak OOC disini -_-) seolah mengatakan 'sampaikan padanya ya'
"Saya rasa keperluan saya sudah selesai disini, saya izin undur diri." Kata Burung hantu, dibalas anggukan adik tuannya dan burung itu melebarkan sayap hitamnya ke langit. Meninggalkan kedua adik di kamar itu.
"... nee, Shirou-nii" panggil Tetsuya
"hm?" balas Seishirou
"Apa orang yang menerima pemberian orang lain bisa telepati dengan si pemberi?" tanya Tetsuya ragu-ragu
"Normalnya sih tidak, memang kenapa?" Seishirou menatap aneh adiknya
"Aku rasa aku mendengar suara Taku-nii di kepalaku saat aku memegang jimat ini..." kata Tetsuya sweat drop dengan senyum garing.
"Yang benar?" dan Seishiroupun memegang jimat miliknya
Di kapal...
Takuya POV
...
Aku terdesak. Apa-apaan ini, kenapa aku harus duduk di dalam ruangan ini sementara matahari bersinar dengan riangnya di luar... dan apa-apaan senyum nista paman Taiga, Ryouta dan Atsushi itu? Gaun milik siapa itu? Dan kenapa Seijuurou menampilkan seringainya? Ini sangaaaat mencurigakan. Aku merasa akan terjadi suatu hal yang buruk akan terjadi padaku. Kali ini instingku kuat sekali.
"Karena keponakanku yang bodoh ini harus memasuki istana bagaimanapun juga, kami harus putar otak untuk bisa membuatmu tetap masuk ke sana... dan untungnya Kise memberi kami ide yang sangat bagus, khusus untukmu, Akashi Takuya" aku merasa kalau harga diriku tengah terancam saat ini. Aku harus lari.
"Kau tidak kuijinkan untuk lari, ini semua juga salahmu sendiri mencari keributan di istana itu." Ukh... Seijuurou dengan sikap menyebalkannya, kau pikir aku sengaja melakukannya?! Itu reflek, adikku tersayang... adikku tercinta... yang paling ganteng dan paling rajin pegang gunting... lama-lama ku pingin kupintir juga nih anak.
'Pfft! Ahahahaha! Kau lucu sekali kak! Pelintir aja dia, aku rela kok... ahahahaha!'
... *kedip-kedip*
Lho? Rasanya aku mendengar suara Seishirou deh, tapi... dia kan ada di Jepang bersama Tetsuya... ja-jangan-jangan gara-gara efek mulai lapar(?) aku jadi berhalusinasi?!
'Tidak kak, kau benar-benar mendengar suaraku, dan sepertinya kau mendapat masalah sekarang kak...'
Ooh, kau bisa telepati ya? Bagaimana bisa? Ngomong-ngomong Tetsu bisa juga? Dan tolong jangan komentari keadaanku sekarang, aku bagai di ujung tanduk...
'Iya, sepertinya jimat yang kakak beri ini membuat si penerima bisa bertelepati dengan si pemberi, dan Tatsuya bisa bertelepati juga kok... mau coba berbicara dengannya?'
"Oi, kenapa mukamu kayak gitu Takuya?" ah, nanti dulu, sekarang aku lagi di keadaan yang tidak seharusnya untuk ngobrol santai. 'oke'
"Ha? Kayak gitu gimana?"
"Eng... sulit untuk di jelaskan, pokoknya kau sedang menunjukkan wajah yang aneh sekarang..."
"Apa ada sesuatu?" akhirnya si adik iblis mengengkat suaranya! Gimana Shirou? Di beri tau aja nih?
'um... boleh'
"Begini... sepertinya Seishirou dan Tetsuya bisa bertelepati denganku sekarang..." wah, mereka syok dan memasang ekspresi tak percaya.
"aku nggak bohong, percayalah."
"buktikan"
"Bagaimana caranya?"
"Sedang apa mereka saat ini, dan baju apa yang mereka kenakan" oke, Shirou, kau dan Tetsu sedang apa saat ini?
'kami sedang sarapan, menu hari ini adalah steak daging domba, sirip ikan hiu dan salad... sedikit lebih mewah dari biasanya'"Begitu kata Seishirou". Dan pakaian kalian?
'Kami mengenakan baju casual, aku mengenakan kemeja warna putih dan celana panjang jeans biru, kalau Tetsuya memakai kaos belang biru-putih, rompi abu-abu dan celana pendek'Begitulah. Kalian percaya padaku sekarang?"
"... jujur saja, kalau aku boleh berpendapat, ini konyol..." yeah, paman Taiga, aku juga setuju denganmu.
"Sekarang kesampingkan itu-!" oi, oi, apa maksudmu kesampingkan ha? "Kita harus mencobakan gaun ini pada Takuyacchi-ssu! Kalau ternyata tidak pas atau tidak cocok, kita ukur tubuhnya lagi dan membeli lagi di pelabuhan berikutnya-ssu! Sekalian menyewa perias saat kita tiba di Kerajaan nanti-ssu~" sepertinya kau senang dengan keadaanku ini Ryouta, aku akan membalasmu nanti.
Normal POV
.
.
.
Tak lama setelah itu~
"Sekarang aku benar-benar merasa kalau jenis kelaminmu harus dipertanyakan, Taku... kau cocok sekali dengan itu..." Kagami melongo melihat keponakan yang dekat dengannya ini, dia memang selalu berpikir kalau Taku itu manis, tapi... tak disangka dia itu sangaaaaat cocok di pakaikan baju seperti itu.
"Aku merasa harga diriku terinjak dengan rendahnya saat ini" kata Taku bermuka datar sambil mengeluarkan aura gelap.
Kise dan Murasakibara terpana sampai tak bisa berkata-kata, wig yang sewarna dengan warna rambut Takuya, tergerai bebas hingga pinggang pemuda itu, gaunnya menjuntai indah sampai betisnya, sepatu cantik yang terlihat pas dengan kakinya, kulitnya yang putih sangat kontras dengan gaun biru laut yang diradasi putih itu, dan jangan lupakan wajah dan bibirnya yang manis dan imut sangat melengkapi keindahan semata itu.
"Apa yang kalian lihat ha?!" seandainya tidak dibarengi bentakan dan wajah marah itu.
"Ti-tidak, maaf!" kata Kise gelagapan dan Murasakibara tersentak dari lamunannya.
"wow kak, kau pantas sekali memakai itu, apa bisa kau ingin memakainya setiap hari untukku?"
"Hentikan bercandamu Sei, kau salah makan apa?"
Seijuurou berjalan mendekat dan berdiri di hadapan kakaknya, menyentuh pipinya dengan punggung jari telunjuknya dan berhenti di dagunya. Dan menyeringai.
"Aku tak bercanda kak, haruskah aku barcanda pada 'gadis' secantik dirimu?" katanya dengan nada dan suara yang menggoda. Taku merasa kalau adiknya ini butuh 'sedikit' pelajaran supaya menghormati orang yang lebih tua.
"Hoo, kelihatannya kau sangat senang, Sei, lalu bagaimana? Mau sekalian menjadikanku 'gadismu'? sepertinya kau harus diberi pelajaran untuk menghormati yang lebih tua, aku kakakmu" kata Taku dengan nada sarkastik dan melepaskan tangan Seijuurou kasar.
Seringai Akashi melebar begitu mendengar tantangan itu. "Baiklah kalau itu maumu, NII-SAN, dengan senang hati aku akan melayanimu hingga kau puas. Aku yang berkuasa, dan aku tak perlu bersikap hormat padamu, akan kubuktikan itu nanti malam, di kamar..." katanya beranjak pergi.
"Tak kusangka dia akan menerimanya, kupikir menerima tantangan seperti itu bukan Seijuurou sekali..." komentar Kagami sweat drop. "dia kerasukan iblis apa?" lanjutnya sambil ekspresi syok dan menutup mulut dan hidungnya dengan sebelah tangannya.
Kise menggelayut di lengan Takuya. Dia menyendarkan dahinya pada 'pria kecil'nya itu, dan Murasakibara memeluknya dari belakang, dengan nada tak rela Kise berkata "Kau sungguh-sungguh akan melakukannya Takuyacchi?"
"yea Ryouta, aku serius menantangnya" kata Takuya masih kebawa emosi, Murasakibara melepas pelukannya dan menepuk kepala Takuya pelan. Takuya menghelakan nafasnya kasar.
"Aku ingin membuat kopi dulu setelah ganti baju, ada yang mau titip?" Takuya melepas gaun dan wig itu dan mengambil bajunya semula.
"ah, aku titip, buatkan kopi pahit ya." Kata Kagami duduk di sofanya
"Aku teh hijau Taku-chin, jangan lupa cemilannya yaa~" kata Murasakibara duduk di sofa sebelah Kagami, membaca buku ringan seputar sihir 'yang hilang' dan cemilan yang hampir habis.
"Oke, kalau Ryouta?"
"Aku akan ikut denganmu Takuyacchi!" kata Kise kembali riang. Takuya tersenyum dan mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan ke dapur.
.
.
.
Seijuurou kembali membaca bukunya, sejujurnya, dia merasa senang, bukan karena setelah ini dia akan bercumbu dengan kakaknya, tapi karena dia akhirnya bisa membelenggu kakaknya dan megajarkan padanya arti dari kekalahan seorang pecundang. Aku ada komentar untuk ini, dasar adik durhaka, sebentar lagi kaulah yang akan takluk padanya.
Di dapur kapal...
Takuya sedang menunggu airnya mendidih sambil melihat keluar jendela kapal, menatap luasnya lautan di seberang kaca jendela itu. Dan dia menoleh ke arah guardian pertamanya yang melihatnya dari tadi.
"Apa kau ingin bilang sesuatu Ryouta?" tanyanya.
"Tidak, tidak ada apa-apa-ssu... hanya saja..." Kise memutus kata-katanya, terlihat ragu apa dia akan menyampaikannya apa tidak
"Hanya saja?" kata Takuya menggaris bawahi
"Aku... agak tak suka... tentang tantangan tadi dan sesuatu yang akan terjadi nanti malam antara Takuyacchi dan Akashicchi..." katanya sambil tambah menunduk. Takuya tersenyum sambil menghela nafasnya
"Jangan tunjukkan wajah seperti itu di depanku Ryouta, aku lebih suka senyumanmu, duduklah" kata Takuya sambil berbalik dan berjalan mendekat. Kise duduk di kursi yang ditunjuknya tadi. Lalu tangan Takuya memenjarakan dirinya dengan kedua lengannya begitu dia sampai di depan kise. Kise mengangkat wajahnya.
"Takuyacchi?" tanya Kise, dan Takuya menyeringai kecil padanya.
.
Seijuurou haus dan dia bermaksud mengambil minuman dingin di kulkas dapur kapal... tapi dia terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka yang menunjukkan pemandangan yang sangat mengejutkan baginya.
Bibir dan lidah mereka bertautan, tangan pemuda yang lebih tua melingkar di pinggang pemuda yang lebih muda, dan yang lebih muda itu memenjarakan yang lebih tua dan memberinya ciuman panas, dia terlihat sangat terbiasa dengan itu. Sosok yang muda-rambut hitam, perawakannya yang langsung bisa Seijuurou kenali, dan wajahnya yang dengan tenangnya mengulum mulut 'pasangannya', dan mengakhiri ciuman itu dengan manis dan halus. Dia tersenyum
"Kau puas sekarang?" katanya dalam seringai jahilnya. "Atau kau ingin aku melanjutkannya?"
Pemuda yang lebih tua-rambutnya yang kuning seperti menyilaukan mata, mata yang sendu dengan air yang menggenangi matanya, rona merah yang memenuh wajahnya sampai ke telinganya, dia lalu menunduk dan menggeleng sambil menempelkan dahinya di dada penciumnya tadi dan memeras bajunya. Dan pemuda bersurai hitam itu hanya tersenyum dan mengelus kepala 'pasangan' ciumnya tadi.
Seijuurou mengurungkan niatnya semula dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
Takuya berjalan menuju kamarnya(dan adiknya), membuka pintu dan melihat sosok yang saat ini menyebalkan baginya menatap keluar jendela, dengan tegapnya dia berdiri, lalu dia melihatmu lewat pantulan kaca, dia tersenyum dan berbalik.
"Apa hubunganmu dengan guardianmu itu bisa dibilang wajar?" katanya sarkastik. Takuya menatapnya sebentar lalu menghela nafas.
"... Dia tak mau aku bayar, maupun menerima imbalan apapun dariku, jadi untuk membalasnya aku akan memenuhi keinginannya, yang bisa aku penuhi. Dan jika kau tanya hubungan kami normal apa tidak, aku sendiri berpikir kalau hubungan kami tidak normal" jawabnya biasa. Dan Seijuurou hanya mendengus kecil dan tersenyum mendengarnya.
"Kau sudah siap? Kuharap kau tidak menyesali ini" lanjut Seijuurou
"Sudah terlambat untuk menariknya kembali, ingatlah baik-baik, jangan remehkan orang yang lebih tua, Seijuurou, walaupun hanya terpaut sehari." balas Takuya dengan senyum meremehkan.
.
.
.
.
TBC
