Hai! maaf membuat kalian menunggu, aku kehilangan sense dalam cerita ini (Siaga 2 vroh!) tapi aku sudah menyelesaikan kerangka ceritanya, tinggal nyambungin, lah ya nyambunginnya itu yang berabe -_- #CurhatDoang
Warning : Sho-ai content, typo, OOC, EYD? gak sempet baca ulang dan mbenerin apalah itu(?) dan lain-lain
Chapter 6
Dirinya berdiri di atas tanah kering, dihadapannya berdirilah Raja Dikyanus dan para petingginya, dan dibelakangnya berdiri sosok yang membuatnya jengkel yang tengah menyeringai licik. Lalu dikepalanya muncul suara...
[Raja Dikyanus telah melampaui batasnya, dia telah terbang terlalu tinggi dan kehilangan martabatnya sebagai manusia, dia melupakan rasnya dan membumbungkan hawa nafsunya, dan sekali dia jatuh,]
Dia melihat Tubuh para petinggi dan raja itu seperti meleleh, darah dan daging mereka lepas dari tulangnya, mengelupas dan jatuh di atas tanah.
[Tulangnya akan hancur, organnya akan berceceran menciptakan rawa berlumpur yang baunya sangat busuk, darahnya dibiarkan menggenang dan meluas, tanah tak akan menyembunyikannya, angin tak akan membawanya, api tak akan membakarnya, air tak akan membersihkannya, makhluk alam ini tak akan sudi mengurusnya, bahkan iblis sekalipun. Manusia selalu menyalahkan iblis, tapi mereka tidak menyadari kalau mereka sindirilah iblisnya. Mayat sang raja akan dibiarkan begitu saja, menjadi bukti generasi selanjutnya, bahwa orang yang melampaui batas, pasti akan mendapat balasan yang sangat pedih.]
Dia mulai merasakan mual hebat di perutnya dan itu membuatnya tak mampu berdiri lagi.
[Pemimpin seperti dia tak bisa diselamatkan lagi, dia akan menderita menjelang kematiannya, dan penderitaan itu sendiri akan jauh lebih buruk dari kematian.]
Setelah mimpi itu, Takuya otomatis membuka matanya, terkesiap dan terbangun dari tidurnya, lalu dia berlari ke kamar mandi, 'pengelihatan' tadi sangat menjijikkan bahkan perutnya sudah tak kuat lagi.
'Cih, selamat tinggal makan malamku... apa-apaan mimpi tadi, bikin merinding saja Ukh!' dan dia muntah kembali
"morning sickness? Tak kusangka kau akan mengalaminya" tanya Seijuurou yang sedang bersandar di ambang pintu.
"Jangan bicara yang tidak-tidak! Kau membuatku tambah tidak enak badan!" sahut Haruna (Takuya) dengan tampang jengkelnya. Terbangun dari mimpi buruk untuk mengawali hari benar-benar menyebalkan
"Apa kau mengalami mimpi buruk?" tanya adiknya itu
"Yah... begitulah, kalau dibilang mimpi rasanya itu terlalu aneh... mungkin lebih tepat kalau disebut bayangan masa depan seseorang...sial, menjijikkan sekali" gerutunya
"Masa depan siapa?"
"Raja Dikyanus..."
"Bisa kau memberi tahukannya padaku?"
"Ukh... nanti saja, mengingatnya saja membuatku... hiiih!" Kata Takuya sambil begidik jijik dengan wajahnya yang pucat.
"Ya sudah, hari ini kau istirahatlah di kamar, jangan pergi kemana-mana, kalau kau butuh apa-apa, panggil aku" kata adiknya
"Tumben kau baik sekali Sei, habis ini mungkin ada badai ya?" kata Taku, Seijuurou terkekeh kecil
"Mungkin saja"
"saat ini ada satu yang bisa kuceritakan, di mimpiku itu ada orang itu, orang brengsek bernama Hanamiya itu..."
"... Oh..."
.
.
Saat rapat berlangsung...
"Kau tidak perlu memusingkannya, manusia lahir setiap hari dan tidak akan pernah habis. Kalau terus begini, perekonomian kerajaan Barda akan semakin meningkat" kata raja
"Berhati-hatilah dalam berkata nak, kau mungkin adalah perwakilan dewan negara, tapi kau hanyalah seorang bocah disini, dan didepanmu adalah raja. Kau tidak punya hak untuk mencampuri pemerintahan kami" kata salah seorang petinggi. Alis Seijuurou berkedut. Takuya mengepalkan tangannya semakin erat.
"ngomong-ngomong disaat rapat begini penasihat kemana?" . "Sepertinya dia ada urusan sebentar, dia akan segera kembali" . "tch, dia selalu tiba-tiba menghilang" merasa diremehkan, pewaris Akashi itu angkat bicara lagi
"Dengan segala hormat, raja, aku minta agar kau bersumpah akan memperbaiki permasalahan ini dan menginjak harga diri keluarga kami, kalau tidak, dewan dunia bisa dengan mudah menghancurkan kerajaan ini, atas kuasa kami" ancam Seijuurou dengan tatapan tajamya dan suara rendahnya, raja jengkel dan berdiri sambil menggebrak meja.
"Apa kau bilang?! Beraninya kau-?!" Lalu tiba-tiba istana bergetar seperti gempa yang besar dan dinding serta langit-langit ruangan itu retak saking hebatnya getaran itu. Sang Raja dan beberapa orang tak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh.
'ada apa ini? Aku merasa ada kekuatan sihir yang kuat di dekat sini' batin Takuya was-was.
"Cepat lari semuanya! Keluar istana!" teriakan Kagami membangunkan mereka dari keterkejutannya, benar, tak ada waktu untuk bengong saat itu, jika ingin selamat, maka berlarilah keluar!
Keributan terjadi dan orang-orang dalam istana berlari berhamburan keluar seperti semut yang panik saat sarangnya tenggelam.
Dan dari atas istana, terdapat sosok yang memakai jubah hitam yang ujungnya robek, tudungnya menutupi separuh wajahnya, dan dia mengendalikan kabut hitam dan sekelilingnya berterbangan bola roh yang gelap. Dia tengah memangku wajahnya bosan sambil memainkan telunjuknya mengendalikan kabut hitam yang perlahan menghancurkan istana itu.
"Apakah anda yakin dengan ini Tuan Hanamiya? Di dalamnya masih banyak orang" tanya si penasehat
"Aku yakin akan hal ini, dan mereka sudah tak berguna lagi, pada akhirnya mereka hanyalah babi yang tak punya otak yang bisa dipakai berpikir" kata orang itu.
Lalu ayunan jari selanjutnya dia membangkitkan orang mati yang telah jadi tengkorak dan menyerang orang-orang di sekitar mereka, dan di ayunan jari selanjutnya, dia membuat raja dan para petingginya yang sedang kalut terjebak dalam cairan asam dan kobaran api berwarna hitam, membuat keadaan mereka sama persis dengan 'penglihatan' di dalam mimpi Takuya, Yang sontak membuat syok semua orang. Dia menyeringai puas dan matanya menangkap sosok familiar yang tengah berlari dan berteriak.
'nona manis... apa yang kau lakukan?' batinnya sambil terus memperhatikan Takuya yang menuntun bangsawan dan orang lainnya keluar dari istana.
Di lain pihak, Takuya terus berusaha menyelamatkan orang sebanyak mungkin dan dibantu oleh yang lainnya, lalu dia melihat pasukan tengkorak itu yang membunuh satu-per satu manusia di dekatnya.
"Paman Kagami, Sei! Di sini kuserahkan pada kalian! Ryouta, Atsushi! Ikut aku!" katanya dibalas anggukan ketiga orang tersebut. Sei hanya melihat kearahnya dan mengikuti sosoknya yang pergi 'apa yang akan dia coba lakukan?' pikirnya
'Cih! Gaun ini mengganggu!' batin Takuya seraya menyobek bawahan dari gaun itu dan melempar sepatunya,
Lalu Takuya membentangkan tangannya dan terkumpullah cahaya putih yang menarik air tanah, dia menggabungkannya jadi satu di bawah kendalinya dan mengengkat tangannya sambil berlari menuju pasukan itu, lalu mengepalkan tangannya, mengubah air itu menjadi es dan menghujani pasukan tengkorak itu dengan es-es tersebut dan menghancurkan sekaligus membekukan mereka.
Kise menarik pedangnya dari sarungnya, menyalurkannya dengan sihir api dan menebaskannya hingga membuat 'pembatas' api yang sangat besar dan panjang, sekali tebasan dan berpuluh-puluh tengkorak itu hancur terbakar.
Murasakibara melapisi tangan dan kakinya dengan sihir, lalu menghabisi banyak tengkorak dengan sekali pukul, dan kakinya meninggalkan bekas retak yang cukup dalam di setiap langkahnya, di setiap tendangannya. Ledakan dan efek angin yang tertarik juga memperluas jangkauan pukulan dan tendangan Murasakibara.
"Atsushi! Selamatkan orang-orang yang terluka dan bawa mereka ke tempat yang aman! Ryouta! Berkelilinglah dan cari orang-orang yang terpisah! Lalu selamatkan mereka! Bawa ke wilayah aman yang belum terselubungi kabut!" instruksi Takuya dan dibalas anggukan, lalu mereka berpencar.
'Tak akan kubiarkan seorangpun yang tak berdosa terluka!' batinnya bertekad.
"Wahai tanah! Telanlah mereka kembali!" teriak Takuya seraya meletakkan kedua tangannya ke tanah dan muncullah jurang lebar dan lubang yang menelan tengkorak-tengkorak itu kembali.
Hanamiya bersiul takjub. 'dia hebat juga' batinnya.
"Ha-hanamiya-sama, mu-mungkinkah gadis itu..." si penasehat menunduk, panik dengan keringat dingin yang mengucur deras.
"satu dari pure blood wizard, yah, mungkin saja" balasnya dengan seringai yang lebar. 'Ku harap kita kan segera bertemu lagi, nona manis' batinnya. Lalu mereka berduapun pergi begitu saja.
Seijuurou tercengang, dia tak sanggup berkata apa-apa saat melihat kelihaian orang-orang yang selalu dia pandang sebelah mata. Paman Kagami dengan tenangnya bisa menuntun para orang –orang yang panik, Murasakibara dengan sigap mengangkat orang-orang tua yang terjebak dan orang yang terluka untuk pergi dari sana dan dengan hewan panggilannya dia bekerja lebih cepat dan baik. Kise melindungi mereka dengan barier sihir sementara mereka mengungsi dan pergi dari sana saat bangunan istana mulai ambruk, dan yang paling membuatnya tak mempercayai apa yang dilihatnya adalah, kakaknya.
"Oi! Semuanya selamat?!" Takuya berlari menyusul mereka.
"Semua kecuali raja dan petinggi." Jawab Kagami. Takuya mengangguk mengerti
"Ada yang terluka?" tanyanya kembali sambil mengedarkan pandangannya.
"Ada, tapi sudah di tangani oleh tim medis di kerajaan ini" jawab pamannya lagi, Takuya bernafas lega.
"Taakuuyaacchiii~ bagaimana?! Apa aku sudah melakukan tugasku dengan baik?! Kau keren sekali tadi! Sepertinya penguasaanmu sudah lebih baik-ssu!" kata Kise sambil memberinya pelukan erat yang biasanya.
"Yah, kalian sudah melakukannya dengan baik, terima kasih Ryouta, Atsushi, Paman, dan Sei" kata Takuya dengan senyumnya yang mengundang semburat tipis di wajah keempat pria itu.
"Terima kasih pada kalian, kalian sudah menyelamatkan kami.." kata seorang wanita paruh baya yang menatap mereka dengan penuh rasa syukur.
"Kalau kalian ingin berterima kasih, kalian bisa memberi kami makan dan persediaan untuk kapal kami, aku lapar..." jawab Murasakibara, Kagami menghela nafas stres, Takuya tepok jidat, Kise sweatdrop, Seijuurou memijat pangkal hidungnya.
.
.
.
"Pada akhirnya kerajaan ini tetap hancur dan penduduknya perlu membangun ulang kerajaan mereka dan mencari pemimpin baru yang bisa mensejahterakan mereka" kata Seijuurou datar
"Sudahlah, misi kita sudah selesai. Jadi gak usah permasalahkan itu lagi. Aku ingin mencoba masakan khas sini dan setelah itu kita langsung pulang~" balas Takuya riang
"Bahkan makanan bibi tadi tidak membuatmu menyerah Takuyacchi?" tanya Kise sweatdrop
"Aku penasaran! Lagipula yang menghabiskan makannya kan Atsushi! Aku mana sempat makan kalo terus di kerubungi kayak tadi!" balas Takuya geregetan mengingat saat makan mereka tadi
"Kalo begitu ayo berkeliling sambil mencari tempat makan yang enak" sahut Kagami sambil menunjuk ke arah kota.
"Oke~" jawab mereka bersamaan.
Di belakang mereka...
"Toko ku! Toko ku kebakaran!" . "Siapa yang meledakkan kiosku?!" . "Toko ku hilang!" . "Huwaaa! Kemana semua 'dagangan'ku pergi?!" . "Oi! Kemana semua 'tanda' merk toko kita ha?!" . "Mana kutahu!" . "Hancur! Bisnisku hancur!"
Terdengar teriakan keputusasaan para pedagang 'nakal' yang mengusik nama baik keluarga para petinggi itu, mereka menangis dan putus asa, dan 'sesuatu' yang menyebabkan bisnis mereka jadi seperti itu... tak ada seorangpun yang tau. (kurasa kalian sudah tau siapa pelakunya ;p)
Di Kota, Kise yang notabenenya seseorang yang akan dengan mudah mendapat fans cewek tengah di kerubungi makhluk 'indah' tersebut, termasuk Seijuurou, dan Kagami. Takuya dan Murasakibara duduk di dekat gerombolan itu menunggu ketiga orang itu menyelesaikan urusan mendadaknya.
"Wah, ada cewek manis nih, boleh kenalan?" seseorang bersiul sambil mendekati mereka berdua. Mereka berdua menoleh dengan tatapan malas
"Kalau gak boleh bagaimana?" jawab Takuya sambil menyangga wajahnya dengan tangannya dan menyilangkan kakinya dengan ekspresi terganggu.
"Yaah, bagaimana ya? Kami akan mengajakmu dengan paksa~" jawab temannya. Sambil mengambil helai rambut panjang Takuya dan menciuminya, Lalu pemuda itu di dorong Murasakibara hingga terjatuh ke belakang.
"Hee, sepertinya kamu bener-bener mendalami peranmu Taku, kenapa gak sekalian jadi cewek aja?" Kagami menghampiri dengan seringai jahilnya, di belakangnya Seijuurou berjalan sambil menatap tajam ke arah para pemuda tadi. Takuya merengut.
"Mereka kenapa-ssu?" Lalu disusul Kise yang setengah berlari.
"Cih, banyak cowoknya, dasar gadis murahan" Alis Takuya berkedut dan dalam sekejap mata tangan Takuya menyentuh dahi mereka berdua, lalu mengalirkan listrik hingga mereka gosong. Setelah itu Takuya menyibakkan rambutnya ke belakang dengan angkuh (dia sebenarnya agak risih punya rambut sepanjang itu)
"Jangan melihat buku dari sampulnya" katanya singkat dengan senyum meremehkan. Mari kita skip
Telah 2 jam mereka berkeliling dan tak ada tempat makan yang pas karena berbagai alasan yang mumpuni. Ada yang habis bertempur dan darah bercecerah dengan 'indah'nya di seluruh tempat, dan gebleknya itu tidak di bersihkan segera dan malah menawari mereka dengan sup yang tak sengaja masuk tangan yang putus. Ada yang menyediakan sup yang normal, tapi hebatnya sesuatu di dalam sup itu memakan calon konsumennya. Terus ada yang terbuat dari muntahan suatu makhluk, anehnya restoran itu tetap ramai.
"induk burung memuntahkan makanannya untuk memberi makan anaknya, seharusnya kalian tak pilih-pilih makanan..." kata Muraskibara tetap dengan nada malasnya
"ITU BUKAN BURUNG DAN KITA BUKAN ANAK BURUNG MURASAKIBARA/-CCHI/ATSUSHI!" teriak Kagami, Kise dan Takuya.
"Dan apa-apaan muntahan berwarna pelangi itu?! Mencurigakan! Kita pindah!" lanjut Takuya
.
.
.
"DEWA MAKANAN SEDANG MELAKNAT KITA-SSU! HUOOOOO!" Kise mulai setres!
"Kau baru sadar kalau tempat yang kita kunjungi itu geblek semua isinya?" komentar Kagami datar.
"Kenapa kita selalu masuk ketempat aneh dan bego sih? lagipula ini gawat, tak biasanya Ryouta stres sampai seperti itu." komentar Takuya serasa ingin nangis saja.
"Kalau begitu, ayo ke tempat makan lainnya yang kemungkinan 'biasa', aku tau tempatnya" kata Seijuurou ambil inisiatif
"KENAPA GAK BILANG DARI TADI?!" teriak Kagami
"Bagaimana Aka-chin bisa tau?" tanya Murasakibara.
"Selama perjalanan aku melihat sekeliling dan mengingat tempat-tempat yang mungkin akan kita kunjungi jika ada suatu kejadian yang mengharuskan kita makan diluar" jawab Seijuurou lancar tanpa menghiraukan teriakan pamannya
"sasuga da na" ucap mereka bersamaan dan sweat drop.
.
.
.
"Angkat jangkar!" . "Kembangkan layar!" . "Semua persediaannya sudah masuk?!" . "Sudah!" . "Anggotanya sudah lengkap?!" . "Kau absen saja sendiri!" . "Kalau ada yang tertinggal itu deritanya, kita tak butuh orang yang tidak disiplin" . "Seperti biasa, tegas sekali kau itu Sei"
"Jadi... kapan kau akan masuk sekolah sihir itu?" Kagami menghampiri mereka di balkon kapal.
"Hem... benar juga, mungkin bulan depan, mengurus administrasi biasanya lama" jawab Takuya.
"Jika kau mau aku akan mengurus administrasinya untukmu, kau tinggal bersiap-siap saja" kata paman Kagami lagi.
"Sungguh?! Horee! Paman yang terbaik deh!" kata Takuya (yang sudah kembali di sosok cowoknya) dengan senyum cerah dan mengangkat jempolnya. Kagami mengacak rambutnya sambil tertawa kecil. "Jangan mengacaknya! Susah untuk merapikannya tau!" Takuya merengut kesal.
"Oh, iya, bagaimana dengan Izuki, Fukuda dan Moriyama? Tugas mengintai mereka sudah selesai kan?" lanjut Kagami.
"iya, Mereka bareng kita kok, masa paman gak tau?"-Takuya
"Dari tadi aku terus di lambung kapal untuk memeriksa persediaan dan senjata" jawab Kagami.
.
.
.
Sesampainya di rumah...
"Fuuh... capek-capek... mandi dulu aah~" kata Takuya begitu sampai sambil menenteng tasnya.
"Taku-nii, Sei-nii-sama, okaeri. Bagaimana perjalanan kalian?" sambut Tetsuya dengan senyum di depan pintu beserta para pelayan yang membawakan tas mereka berdua masuk.
"tadaima Tetsu, tanoshikatta se, Shirou wa?"(aku pulang Tetsu, menyenangkan sekali, mana Shirou?) Jawab Takuya dengan senyum.
"Shirou-nii sedang di ruangannya, membantu pekerjaan ayah, katanya dia akan menyusul saat makan malam nanti. Sei-nii-sama, Kasusnya sudah beres? Apa perjalanannya menurutmu menyenangkan?" kata Tetsuya sambil mengantar mereka ke kamar mereka.
"Semuanya sudah beres dan laporannya ada di tanganku. Perjalanannya menyenangkan Tetsuya, sayang kau tak ikut bersama kami" kata Seijuurou sambil memandang adiknya lembut.
"Iya, aku juga menyayangkannya. Aku iri padamu kak" jawab Tetsuya dan Seijuurou mengelus kepalanya lembut
"Mungkin dilain kesempatan aku akan bicara pada ayah untuk mengikut sertakanmu ke tugas yang sekiranya tidak berbahaya" katanya dengan senyum simpel, lalu kita bisa melihat mata Tetsuya yang berbinar cerah.
"Terima kasih" katanya dengan semu merah yang menambah keimutannya.
'Whoa... panas dan gerah sekali disini...' batin Takuya sweatdrop melihat tingkah adik-adiknya, dia pengen curhat ke Takao atau pamannya gitu, atau mending cakar-cakar dinding dan teriak histeris(lho). Imut sih imut, tapi! Agh... auk ah gelap.
Saat makan malam, Seishirou duduk di sebelah Takuya
"Akhir-akhir ini aku jarang mendengar suaramu kak" Seishirou mengawali pembicaraan
"Aku menutup pikiranku, kan gak asyik kalau privasiku kebaca terus" jawab Takuya. "Lagipula kau juga begitu kan?" lanjutnya. Seishirou tersenyum simpel.
"Alasanku sama denganmu" jawabnya singkat.
"Ah iya, ayah, aku ingin meminta izinmu untuk masuk sekolah sihir Mistgound" kata Takuya kepada ayahnya yang agak berjauhan dengannya.
"alasannya?" tanyanya singkat
"Sederhana saja, aku ingin memperdalam ilmu sihir dan menjadi lebih kuat" jawabnya dengan biasa tanpa beban, padahal sebagian besar orang selalu sangat sopan dan takut-takut ketika berbicara dengan kepala keluarga Akashi itu.
Sang kepala keluarga mendesah pelan dan menutup koran yang dibacanya, yang topik utamanya adalah kehancuran sebuah kerajaan dan tersingkapnya 'dosa' para pejabatnya.
"Boleh saja, jadilah yang nomor satu disana, tahun depan adik-adikmu juga akan masuk kesana" tutur sang ayah
"Tahun depan? Siapa?" tanya Takuya dengan mukanya yang polos
"Tetsuya dan Seishirou, Seijuurou akan tetap disini, dan karena keluarga ini juga punya kedudukan di sekolah itu, kurasa segalanya akan menjadi lebih mudah" katanya dengan seringai tipis, penjelasan singkat yang menyiratkan tanda tanya bukan? dasar orang kelas atas.
"Tetsu dan Shirou? Bagaimana bisa?" tanya Takuya minta penjelasan
"Kekuatan sihir mereka bangkit tak lama setelah kalian berdua pergi, Tetsuya bisa mengendalikan air dan es, dan bisa menyembuhkan luka. Sedangkan Seishirou mengendalikan api dan tanah, dan bisa melihat hal-hal yang tersembunyi, seperti pikiran, isi hati, atau ingatan." Jelas sang ibu
"Aah... kebetulan, Sei juga telah bangkit kekuatan sihirnya, yang baru kuketahui adalah dia bisa mengendalikan api dan memanggil magic creature" tunjuk Takuya ke arah adiknya yang mendengarkan percakapannya dengan garpu, alis Seijuurou berkedut.
"Jangan menunjukku dengan cara seperti itu, Nii-san" nada bicara yang penuh intimidasi itu hanya numpang lewat di telinga Takuya.
"souka" balas sang ayah singkat setelah sempat terdiam sebentar, ada raut kaget, tapi bener-bener samar kayak sebuah misteri yang gak selesai-selesai dan gak tau juntrungannya pada kemana(eh)
"Jadi, mengetahui hal itu, apa ayah masih tetap akan menyuruhnya di rumah atau juga menyekolahkannya?" tanya Taku penasaran.
"... Tidak, aku akan memanggil guru privat untuk itu" jawab ayahnya setelah menghela nafas dan berpikir cukup lama
Seijuurou menghela nafas lega dan Takuya mengangguk mengerti.
.
.
.
.
.TBC~
.
Etto... ane jadi ragu nih, haruskah ane meneruskan cerita ini? adakah dari pembaca yang tetep ingin jalan terus? ^^
udah gitu doang sih :p
Dan ane bener-bener berterima kasih bagi yang nyempetin baca, fav, folow dan review bahkan sampai HeRi (Heboh Sendiri) di kolom komentar :v
Love you All!
See you later!
