Yahoo minna~ terima kasih atas segala dukungannya~ aku tak bisa mengungkapkan betapa senangnya hatiku membaca respon kalian

warning : karena terlalu males ngetik satu-persatu jadi masukkan segala kemungkinan yang ada


Chap 7

1 bulan kemudian...

"Selamat datang para murid baru, di sekolah Mistgound ini para siswa akan dibagi menjadi 4 kelas, kelas A, B, C, dan D" guru 1 menjelaskan selagi dibelakang mereka para murid berbaris dan berjalan menuju asrama mereka. Guru yang kelihatan normal itu mengenakan jubah hitam panjang yang menyapu lantai, topinya lancip-persis seperti bayangan sebagaimana baju seorang penyihir itu

"Kelas A adalah kelas yang diperuntukkan bagi siswa yang berbakat dan mengusai sihir dengan baik dan berhak menerima tugas yang sebenarnya" jelas Guru 2 yang berperawakan pendek dan berkacamata.

"Katanya jarang ada yang masuk kelas itu saat pertama masuk" . "Berarti kelas B saja sudah bagus ya?!" . "Yosh! Aku akan masuk kelas B!"

'Oi-oi, tujuannya tingkatin dikit napa...'Takuya merasa geli melihat seangkatannya menurunkan tujuan hanya karena hal itu.

"Kelas B adalah kelas yang diperuntukkan bagi siswa yang telah menguasai sihir dengan baik dan bisa memanipulasinya ke tingkat tertentu, jika ditingkatkan, mereka bisa masuk kelas A" guru berjenggot merlin dan bertopi kerucut lanjut menjelaskan.

"Kelas C adalah kelas rata-rata, bisa menguasai sihir namun perlu ditingkatkan lagi, biasanya mereka hanya akan menjadi pendamping atau pembantu para murid kelas A atau B" guru dengan wajah garang dan kulit pucat melanjutkan. "Jika ada yang tak sanggup, kalian dipersilahkan keluar dari sini sesuka kalian" lanjutnya sambil menajamkan pandangannya. Anggap saja dia mirip dengan Severus Snape dari film Harry Potter *unjuk produk*

'Weh, gurunya serem oe...' Takuya merinding saat sempat bertemu mata dengan guru itu.

"Dan kelas D adalah kelas pemula, mereka mempunyai kemampuan menggunakan sihir tapi masih belum bisa apa-apa dan harus mempelajari semuanya dari awal" jelas guru berusia lanjut dengan senyum sejahteranya. Tampak tak berbahaya dan mengancam sama sekali,-imej yang di tampilkannya benar-benar seperti seorang kakek yang bersahaja

"Katanya guru kelas D adalah gurur paling serem diantara semuanya lho" . "Kata kakak kelas ada yang hampir mati di jadwal latihannya" . "tahun lalu setengah dari siswanya keluar dari sekolah di keadaan yang kritis" . "Katanya dia bisa menelan murid bulat-bulat..." . "Waah..."

'USOOOOOOO!'(dustaaaaa!) batin Takuya menjerit dengan muka inner pucat

"Hei, boleh aku berkenalan denganmu? Namaku Koganei, dan ini Hayama!" kata pemuda berbibir curly dan disebelahnya berjalan seorang dengan senyum yang kekanakan.

"Namaku Aka-Kuroko Takuya" katanya sambil senyum dan berjabat tangan.

Agar tak ada diskriminasi, Takuya sengaja mengubah namanya menjadi nama samaran, ada kabar yang beredar bahwa sekolah ini memiliki hubungan dengan Tenebris. Sekalian belajar sihir, dia akan menyelidiki lebih lanjut mengenai organisasi ini.

"Baiklah, setelah ini kalian akan melakukan tes, truh barang-barang kalian disana dan ikuti aku ke Aula Pengujian"-Guru 1

.

.

.

"Baik, B class, sebenarnya aku ingin memasukkanmu ke kelas A, tapi masih ada beberapa yang mungkin sebaiknya kau pelajari"-Penguji

"Baik, terima kasih banyak!"-Takuya

"Wooh! Kau hebat juga Takuya! Bisa langsung masuk kelas B!"-Hayama

"Hehe, kalau kalian masuk kelas mana?"-Takuya

"Tentu saja kelas B juga! Kita sekelas!"-Hayama

"Kalau Koganei?"-Takuya. Koganei pundung di pojokan dengan aura suram "Ko-koganei? Kau Kenapa?" lanjutnya pasang muka sweatdrop.

"Dia masuk kelas C"-Hayama berbisik. Lalu Takuya dan Hayama mengelus dan menepuk punggung Koganei.

.

.

.

"Meski kelasnya dipisah asramanya tetap di gabung ya?" kata Takuya sambil duduk di tepi kasurnya di asrama, dia sudah selesai menata barang barangnya.

Ruang asrama mereka cukup luas untuk di tinggali empat orang, dengan 2 jendela besar di seberang pintu, lalu di sebelah kanan-kiri terdapat 4 kasur yang masing-masing bersebelahan dengan lemari dan meja belajar. Jadi masih ada ruang untuk privasi. Desain kamar sederhana, dinding kayu, lantai karpet dan penerangan seperlunya.

"Begitulah, kau masuk ke sini benar-benar tanpa mengetahui apapun yaa" kata Koganei dengan senyum muka kucingnya

"Di campur dari kelas A, B, C dan D, sebenarnya ada 2 kemungkinan dari situasi ini" kata Takuya sambil mengacungkan dua jarinya

"Penindasan, Diskriminasi atau..." kata Koganei

"Kerukunan tanpa memandang status, nah, kita akan mendapat yang mana ya?" lanjut Takuya bersemangat

"Mungkin tergantung dari 2 sisanya sih, mereka kok belum datang ya?" Koganei dan Takuya memandang 2 kasur yang masih kosong di ruangan mereka.

Lalu pintu kamar pun terbuka dan memunculkan 2 pemuda. Yang satunya berambut hijau berkacamata, jarinya di perban dan mukanya serius. Yang satunya lagi pemuda berambut cokelat berpupil mata kecil dan sambil takut-takut masuk ke kamar mereka.

"Perkenalkan teman sekamar, namaku Midorima Shintaro, A class" kata pemuda berambut hijau sambil sedikit menangguk. Takuya juga melakukan hal yang sama.

"Na-namaku Furihata Kouki... D class... mo-mohon bantuannya" kata pemuda berambu cokelat sambil menunduk 90 derajat.

"Aku Koganei Shinji, C class, salam kenal juga!"-Koganei dengan senyumnya

"Aku Kuroko Takuya, B class, semoga kita bisa berteman dengan baik"-Takuya tersenyum simple.

Besoknya jadwal latihan setiap kelas dimulai, sekolah Mistgound sangat besar, bahkan hampir menyamai kota, bangunan-bangunannya bahkan ada yang melayang tinggi, ada yang di bawah air danau dan ada yang di bawah tanah. Saai ini kelas B sedang menjalani pelatihan di sebuah ruangan tertutup untuk pelatihan fisik

"Penggunaan sihir juga berarti menggunakan fisik, latihan fisik perlu untuk meningkatkan stamina dan sihir kalianpun pasti akan jadi lebih kuat" kata guru pendek berkacamata. "Sekarang kalian larilah mengelilingi ruangan ini 20 kali, lalu sit up 100 kali, dan angkat tubuh 50 kali!"

"Baik!" jawab para murid serentak

"Rasanya kayak pelatihan tentara saja! Ya kan Takuya?"kata Hayama bersemangat.

"Benar juga" jawab Takuya senyum garing

.

.

Di suatu ruangan gelap, berdirilah 2 laki-laki dalam hitam yang sedang membicarakan sesuatu

"Mengerti? Aku ingin kau membunuh anak yang mempunyai darah yang sama dengan sampel ini, dia mempunyai potensi kemampuan sihir yang kuat, maka dari itu aku ingin kau membunuhnya dan berikan jasadnya kepadaku" kata pria yang lebih tinggi dan tua.

"Serahkan saja padaku, kau pikir aku siapa?" balas pria lain yang lebih muda.

"Seperti yang diharapkan dari keturunan murni vampire, salah satu dari ras 'nenek moyang' dunia ini, aku menaruh harapan tinggi padamu" kata pria yang lebih tua sambil tersenyum puas.

Di detik berikutnya, pria yang lebih muda menghilang.

.

Hari berikutnya adalah latihan sihir gabungan untuk kelas A dan B, ruangan langit.

"Whoaaa... luas sekali! Gawat! Aku benar-benar bersemangat! Dan anak-anak kelas A kelihatan sangat kuat! Ya kan Takuya?!"seru Hayama dengan mata bling-bling

"Benar juga, mereka dan ruangan ini benar-benar kelihatan hebat... haha, gawat, aku jadi gugup nih"kata Takuya bersweatdrop ria.

"tenanglah Takuya! Disaat seperti ini kita justru harus tenang!" kata Hayama menepuk punggung Takuya dan mengacungkan jempolnya, terlihat yakin

"Terkadang kau bisa mengatakan hal yang bijak juga" komentar Takuya

"Itu pujian bukan?"-Hayama kedip-kedip gak ngerti.

Dari kejauhan terdengar teriakan gadis-gadis yang sedang berfangirling 'Kyaa! Kyaa!'

"Ada apa tuh?"tanya Kise tiba-tiba

"Lho, Ryouta, kau juga masuk sini?"tanya balik Takuya agak terkejut

"Iya! aku juga ingin memperdalam ilmu sihir sekalian menjagamu-ssu!"jawab Kise dengan riangnya

"Menjaga? Kau punya Babysitter ya?"-Hayama

"Bukan, sepupuku ini memang overprotektif"-Takuya pasang muka datar

"kejam-ssu! Aku kan ingin menjagamu karena aku menyayangimu-ssu!"-Kise nangis buaya

"Iya..iya... dan sepertinya ada golongan yang lebih elit dari pada kelas A ya? Aku baru tau"kata Takuya mengalihkan pembicaraaan yang tidak penting itu.

(Ki : Authorcchi hidoii-ssu T3T . Author : Kise, diem)

"Ooh... mereka 'murid emas' kesayangan guru, murid-murid yang memperoleh nilai sempurna di semua mata pelajaran, dan menjadi wakil siswa seangkatan kita, seperti komite kesiswaan"-Hayama

"Tumben kau tau banyak tentang hal ini Hayama"-Takuya

"Soalnya aku mengagumi mereka!"-Aura Hayama lebih cerah dari pada tadi

Di sisi lain ruangan...

"Haa, ini merepotkan, kenapa harus ada latihan sih buat kita? Langsung di kasih misi gak bisa ya?"-Murid A

"Mungkin hanya untuk memastikan kemampuan kita, sudah, jangan banyak mengeluh"-Murid B

"Lihat itu, mereka kelas B kan? Sepertinya mereka bersemangat sekali"-Murid D

"Bagaimana kalau kita mengajarkan kekalahan para pecundang pada mereka?"-Murid C

"Hei, jangan cari masalah, hari ini 'mereka' datang bersama kita, kau lupa?"-Murid B

"Ah iya, 'mereka' yang berjuluk siswa teladan dan diketuai oleh Midorima... benar-benar bikil kesal saja"-Murid A

"Kyaaa! Midorima-kun! Ihat sini!" . "Hari ini kau juga tampan!" . "Whoa! Aura mereka benar-benar berbeda ya!" . "Ini mengesalkan, tapi aku mengagumi mereka" . "Kyaaa! Midorima-kun~" . "Aku merasa merekalah yang paling kuat di angkatan kita" . "Tidak, bahkan mungkin dengan keberadaan Midorima saja mereka akn menjadi lulusan terbaik sepanjang sejarah"

Bahkan level berisik para fans itu tak kalah dari fans milik Kise

Pemuda yang berjalan di depan para 'murid teladan' itu -Midorima- menggenggam erat sebotol kecil berisi darah targetnya di sakunya, dengan wajah stoicnya dia mengacuhkan segala kebisingan di sekelilingnya.

"Semua! Berbarislah yang benar dan sesuai kelas kalian!" teriak menggelegar seorang wanita berwajah garang menggema di seluruh ruangan, dan otomatis mereka semua berbaris rapi dan diam, bahkan kicauan burungpun berhenti.

Wanita itu tersenyum senang "bagus" pujinya sambil memukulkan ringan ganggang cambuknya di tangannya.

'huwah...' Takuya senyum garing, terpana dengan cambuk yang dipeganng wanita seksi itu, cambuknya, bukan orangnya

Dengan suaranya yang keras dan tegas dia seakan menggeret balik semua pikiran para murid yang masih melayang entah kemana "Sihir itu sulit! Anak-anak bodoh! Mungkin kalian berpikir sihir itu mudah setelah di kuasai TAPI! Semua tidak akan menjadi mudah jika tak dibarengi dengan kerja keras, persiapan, dan rencana sebelumnya. Sebelum menjadi ahli kalian harus menjadi bodoh! Ingat itu!" katanya sok bijak *ctaar*

Takuya manggut-manggut mengerti maksud dari wanita itu.

Ke tempat Midorima

"Wuih, seksi sih seksi tapi kok sangar gitu ya?" komentar teman-teman di sekelilingnya

"Sepertinya hari ini kita akan berlatih bersama dengan anak kelas lainnya"

"Untuk apa? mencari partner?"

"Mungkin begitu"

Midorima diam saja dan menganggap semua percakapan mereka hanya angin lalu, pikirannya saat ini fokus dengan botol di sakunya.

'Aku masih tidak sempat membukanya karena jadwal yang padat

... pokoknya aku harus cepat menyelesaikan misi ini.' Batinnya lalu dia mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok-sosok teman sekamarnya 'Untuk Koganei dan Furihata, sepertinya mereka bukanlah targetku, karena bagaimanapun juga, seseorang yang mempunyai kemampuan sihir yang kuat pasti mempunyai aura tertentu... jadi sisanya tinggal... Kuroko Takuya' batinnya dengan pandangan yang terhenti pada sosok teman sekamarnya yang mungil itu.

'Kok rasanya merinding ya?' batin Takuya merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Ada apa Takuya?" tanya Hayama dengan tampang innocentnya

"Enggak, rasanya temperatur tempat ini sedikit turun tadi" jawab Takuya.

.

Malam harinya...

Takuya berjalan di antara rak buku yang tinggi melewati jam malam, dia sedang di perpustakaan membaca beberapa buku yang menurutnya menarik, sekedar menghabiskan waktu sekalian mempelajari sihir, ramuan ataupun sejarah dan petunjuk tentang organisasi Tenebris. Di sela kesibukannya dia melewati sebuah sudut yang terdapat secercah cahaya redup dari dalam, seperti lilin.

'Siapa yang masih bangun malam-malam begini?' batinnya saat dia mendengar sedikit erangan lembut dan panggilan dengan suara yang lemah.

"engh... Mi-Midorima... kun..." suara seorang gadis yang tak ia kenal itu membuatnya langsung berpikir macam macam

'E-Ehh?! Apa? di perpustakaan-tunggu, tadi dia bilang Midorima?' merasa ragu akan pikirannya sendiri Takuya mengintip dari balik rak.

Untuk melihat taring yang mencuat dari mulut teman sekamarnya, untuk melihat mata merah darah yang bersinar dari mata hijau yang biasanya menyegarkan itu, untuk melihat darah yang mengalir perlahan dari leher gadis itu.

Takuya membelalakkan matanya terkejut

'Dia Vampire' batinnya sambil berbalik dan meneguk ludah.

.

.

.

TBC


Thanks To

Letty-chan19

yoo winda desu

vina rizky

Rovi-chan

See you next chap!