Warning: OOC, typo, eyd?, alur yang rada geje, pergantian surname tokoh, dan sedeng-sedeng lainnya

Disclaimer : kuroko no basuke character bukan milikku, cuma alur dan OCnya saja~


Chap 8

Takuya bersembunyi di balik rak buku, mencoba menenangkan jantungnya yang tegang dan terkejut, dia menutup mulutnya dan pikirannya kacau. Keringat dingin seperti mengucur ke seluruh tubuhnya. dia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Sebegitu luar biasanya kah bertemu vampire?

Iya

Biar kuberi tau alasannya

Vampire adalah makhluk terkenal yanng berada di cerita sejak dahulu kala. Makhluk yang hampir abadi, makanan kesukaan selain darah adalah bunga. Keberadaan mereka berhubungan dengan hal tabu tertentu jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan dan lebih suka menjalani kehidupan di dunia bawah.

Merupakan salah satu dari 9 keturunan yang dianggap suci karena kekuatan mereka yang melegenda, umur mereka yang hampir abadi dan seperti tak memiliki kelemahan yang jadi penyebabnya. Dan masyarakat dunia hanya pernah bertemu mereka beberapa kali di masa lalu.

'Dan makhluk seperti itu tepat berada di depanku!' pikir Takuya terlalu keras sehingga-

'Ada apa kak? Kenapa kau panik begitu?' Takuya mengerjap dan menarik nafas dalam-dalam yang terakhir kali 'ah sial' dia menoleh ke cahaya redup itu sekali lagi dan mengintip sedikit, teman sekamarnya itu sudah tidak ada, meninggalkan korbannya yang lemas tak berdaya di meja baca perpustakaan.

Dia juga tak merasakan adanya hawa keberadaan selain dirinya dan gadis itu di ruangan, sudah tidak ada lagi. Setelah menyelimuti gadis itu dengan kain seadanya dan melihat luka di lehernya sudah sembuh (yang ia penasaran bagaimana bisa secepat itu) dia keluar dari perpustakaan dengan langkah tergesa-setengah berlari.

Yang membuatnya masih belum tenang sepenuhnya adalah... apakah Midorima tau kalau ia ada di sana? Kalau iya, apa yang akan teman sekamarnya itu lakukan? Apa Midorima bahkan tau kalau ia dari keluarga Akashi? Dan apa yang akan ia sendiri lakukan dengan informasi ini? Memikirkannya saja membuat dia semakin pusing

Tapi dengan mudahnya dia menyingkirkan segala ketidak tenangannya itu dengan 'ah nanti juga tau, aku orangnya spontan' langkahnya berubah normal, tapi masih dalam tempo cepat.

'Tidak apa-apa Shirou, kenapa jam segini kau belum tidur?' tanyanya pada adiknya

'Disini badai, dan petir tidak pernah berhenti, jadi aku harus menemani Tetsuya tidur, saat ini aku juga mau bersiap tidur' jawab adiknya tenang.

Takuya mengedip satu kali 'Hanya Tetsu? Sei bagaimana?' tanyanya.

Yap, yang takut petir di antara mereka bukan hanya si bungsu.

Shirou tertawa kecil 'yah, dia juga bersama kami, mengerjakan pekerjaannya di kamar' jawab si adik dengan nada sedikit sedih, dan Takuya tau apa yang membuat adiknya seperti itu

Takuya merasa hatinya mulai tenang saat bicara dengan saudara yang ia sayangi itu, bahunya sudah rileks 'Ya sudah, katakan pada Sei untuk meminta bantuan orang lain dan jangan memaksakan diri, setidaknya untuk pekerjaannya dia bisa meminta bantuanmu' katanya dalam hati

Hening sejenak 'baiklah kak, selamat malam' kata adiknya

'selamat malam adikku, rukun-rukunlah kalian disana' jawab Takuya dengan lembut

.

Di Jepang, kediaman Akashi...

Di kamar berdominasi warna merah terdapat 3 orang bersaudara yang bergelut dengan kesibukannya masing-masing.

Tetsuya tertidur pulas di kasur kakaknya.

Seishirou duduk di tepi kasur menutupi mukanya yang sedikit memerah mendengar kakaknya bicara selembut itu dan seperhatian itu. Karena di rumah suara dan tingkahnya selalu 'riang'

Dan Seijuurou di tengah kesibukannya melirik adiknya yang masih bangun itu.

"Kenapa kau bermuka seperti itu?" tanyanya

Seishirou mengangkat wajahnya dan mendapati kakaknya menatap kearahnya, menunggu jawaban.

"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" seolah membaca pikirannya, kakaknya kembali bertanya.

Seishirou tersenyum simpel "Iya, katanya jangan memaksakan diri Sei-nii-san, dan dia juga meminamu untuk meminta pertolongan orang lain" jawabnya

Seijuurou terkejut (walaupun tidak terlihat) lalu dia menghela nafas setelah bertatapan sebentar dengan adiknya , lalu menghadap kembali mejanya, mengambil beberapa kertas di mejanya lalu menyodorkannya ke Seishirou.

Melihat itu Seishirou langsung berdiri dan mengambil tumpukan kertas itu, lalu duduk di meja belajarnya. Membantu kakaknya dengan senang hati.

Kembali ke Takuya

Dia sedang termangu di depan pintu kamarnya

Bagaimana tidak?

Sosok yang dia yakini tadi ada di perpustakaan sedang tidur pulas di tengah kedua temannya yang sedang ribut main kartu. Tidurnya pulas sekali seakan dia tidur sejak tadi atau berjam-jam yang lalu.

Mukanya saat melihat pemuda berambut hijau itu seperti mengatakan-"Njir napa nih anak udah tidur cantik aja deng?"-padahal jarak dari perpustakaan ke kamar mereka adalah 20 menit, dan dengan berlari pasti masih 15 menit perjalanan, jika Midorima lari, pasti Takuya mendengar suara langkahnya dan setidaknya mereka akan berpapasan di pintu kamar, dengan kecepatan Takuya tadi setidaknya memakan waktu 15 menit juga.

Apa Midorima menguasai teknik yang biasanya di gunakan para ninja?

Tidak-itu tidak mungkin karena dia bukan ninja

Tunggu, kalau dia mempelajarinya?

Itu juga tidak mungkin, karena seberapa cepat pun dia, pasti hawa keberadaannya di perpustakaan tidak akan menghilang secara tiba-tiba seperti itu, dia tidak memiliki hawa keberadaan tipis dan tidak bisa melakukan misdirection.

Tapi kalau vampir berbeda

Kebiasaan mereka adalah mereka akan menyelinap masuk ke kamar di saat korban terlelap untuk menghisap darah tanpa korban sadari, lalu pergi jika urusan mereka selesai, dan saat korban tersadar, mereka hanya akan menemukan 2 lubang kecil di leher mereka. Kemampuan untuk bergerak secara halus itu adalah salah satu dari kemampuan vampire yang di takuti. Mereka bisa membunuh secara diam-diam, memata-matai tanpa ketahuan, dan banyak lagi.

'Entah apa yang harus kulakukan setelah ini' pikir Takuya sambil memandangi wajah Midorima yang tertidur pulas, mencari tanda atau jejak sedikit yang menandakan kalau dia barusan tidur, tapi hasilnya nihil, dia seperti seseorang yang tidur berjam-jam yang lalu. 'Tapi kuakui dia memang tampan' pikirnya setelahnya sambil beranjak dan bergabung dengan teman-temannya untuk main kartu sampai mereka terlelap.

.

.

Cahaya bulan yang sudah naik tinggi di atas langit masuk melewati jendela yang tak tertutupi korden, menerangi kamar yang masih bercahayakan lampu redup, suasana sudah sepi dan hanya suara jangkrik yang meramaikan malam itu. Di suatu kasur 3 orang pemuda terbaring pulas mengarungi alam mimpi, lembaran kartu berhamburan di kasur itu, deru nafas mereka yang teratur seirama dengan detak jam yang tergantung di dinding, selimut yang mereka kenakan keadaannya mengenaskan dan hanya menutupi sebagian kecil para pemuda itu.

Seorang pemuda bersurai hijau berdiri di sebelah kasur mereka, memandangi mereka satu per satu, lalu dia mengangkat tangannya untuk menyingkirkan rambut dari leher mereka, lalu dengan jarum kecil dia menusuk leher itu dan darah menetes keluar. Dia membungkukkan badannya untuk mencium bau darah itu.

"Ihihihihi~" igau pemuda bermuka kucing itu di tengah tidurnya

'Bukan yang ini' pikirnya sambil mengelapkan saputangan yang sudah di beri antiseptik ke luka di leher itu. Lalu dia berpindah ke sosok lainnya, sosok pemuda ber rambut cokelat lainnya yang tidur memeluk lengan temannya.

Pemuda bersurai hijau itu melakukan hal yang sama, dan darah itu bukanlah apa yang dia cari.

Lalu pandangannya berpindah ke sosok yang lengannya di peluk, dia berjalan mendekati sosok itu yang terbaring di tepi kasur dengan pulasnya, tak seperti pemuda pertama yang tidurnya berantakan, dia tidur dengan tenang tanpa banyak tingkah.

Pemuda bersurai hijau menaikkan kacamatanya, entah kenapa dia selalu merasa gugup jika dekat dengan pemuda bersurai hitam di hadapannya ini.

Perlahan dia mendekatkan jarum kecil itu ke leher putih pemuda itu, lalu dengan sentuhan kecil itu darah segar menetes keluar dan mengalir menuruni leher putih jenjang itu.

'ini dia' pikir Midorima mengepal erat tangannya

Sebetulnya ia tak suka dengan rasa dan bau darah yang menjadi targetnya itu.

Terlalu menggoda untuk di singkirkan, terlalu memikat untuk di tolak, terlalu mengusik hingga mengobrak abrik kewarasannya.

It's too alluring

Karena itu adalah darah terbaik yang pernah ia temukan selama hidupnya

Midorima meneguk ludahnya, pikirannya mendadak kosong dan terfokus pada cairah merah yang menggoda itu, ia mendekatkan kepalanya ke leher yang cantik itu, dia tak kuasa menahan rasa hausnya begitu cairan merah itu menetes keluar. Seinci lagi dia akan merasakannya, taringnya bersiap untuk melukai leher itu. Leher teman sekamarnya, Kuroko Takuya-atau begitulah namanya.

.

.

.

TBC

Aku suka membuat orang penasaran dan senang sekali kalau berhasil Muhahaha

Just wait for the next chap!

Review please~