A/N: hem... kuakui chapter ini dan kedepannya rada sulit bagiku, karena biasanya alur seperti ini membutuhkan sesuatu yang 'greget' agar klop, yah, aku harap ini lumayan bagus. sesuatu yang 'greget' itu susah dicari di otakku yg sederhana ini.

Warning : penggantian surname Tokoh, OOC, EYD, typo, dan kesedenganku lainnya. disclaimer: karakter kurobas dan segala kemiripan lainnya.


Ch 9

Malam itu bulan bersinar terang menembus jendela kamar, menerangi malam yang sunyi dengan langit bertabur bintang, sinar itu menembus jendela di sebuah kamar yang cukup luas dengan perabotan serba kayu dan karpet bulu di lantai, lampu tidur mati sempurna, 3 remaja tertidur lelap setelah bermain kartu. Perlahan tapi pasti, Taring tajam sang vampire sudah mendekati leher putih pemuda itu, nafasnya yang lembut meniup helai rambut hitam milik sang pemuda malang.

"Ternyata benar kau adalah vampire" terdengar suara pelan di sebelah telinganya, suara yang ia kenal.

Midorima dengan cepat mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya, menatap sang pemilik leher yang kini menatap lurus ke arahnya.

"Sayang sekali padahal kau memiliki mata dan rambut yang indah" kata pemuda itu lagi, kali ini dengan senyum tipis mengulum bibirnya.

Midorima tetap melebarkan matanya, keringat dingin menetes keluar, tubuhnya tiba-tiba kaku, kaget. Padahal ia sudah bergerak sehalus mungkin tapi kenapa? Kenapa pemuda ini bisa menyadarinya?

"Karena aku tak bisa tidur tenang setelah melihat apa yang terjadi di perpustakaan" seakan bisa menbaca pikirannya pemuda bermata biru langit itu kembali berucap.

"Midorima Shintarou, salah satu ras vampire murni terhormat yang melegenda saat ini hampir memangsa teman sekamarnya, tentu akan menjadi berita menggemparkan, haha" kata pemuda itu lagi dengan nada mengejek sambil bangkit duduk.

Midorima tetap terdiam di hadapannya, pikirannya kalut, apa dia akan langsung membunuhnya saja? Saat ia berpikiran begitu ia kembali bertanya pada dirinya, kenapa dadanya sakit dan sesak saat berpikir demikian?

"Aku lupa memperingatkanmu kalau aku tak begitu terpengaruh dengan gerakanmu yang nyaris tak terasa itu, bisa dibilang aku sudah terbiasa" jawab Takuya sambil mengendikkan bahu, yah wajar karena kondisi si bungsu yang seperti itu.

"K-Kau hanya manusia... bagaimana bisa kau..." tanya Midorima dengan suara bergetar

"Ah, aku juga lupa bilang kalau aku adalah keturunan penyihir berdarah murni dan perjalanan hidupku yang membuatku seperti sekarang, luar biasa bukan?" jawab Takuya sedikit sombong, dia lalu berdiri di depan Midorima, masih menatap manik emerald itu lurus.

"Midorima, kenapa kau melakukan ini? Kau bukan orang yang sedemikian vulgar bukan?" tanya Takuya sambil menyipitkan matanya penuh tanda tanya

Midorima memalingkan wajahnya ketika sebuah suara bergema di kepalanya [Sekarang adalah kesempatanmu, kenapa kau tak segera membunuhnya?] suara sedingin es yang langsung membuat tubuhnya merinding dan kaku untuk sejenak.

Di benak Midorima langsung terbayang keluarganya, dia merasa kalau tak melakukan sesuatu akan terjadi sesuatu pada mereka.

Seakan tubuhnya bergerak sendiri, Midorima mengeluarkan pisaunya, matanya bersinar merah berbahaya, aura membunuhnya keluar begitu saja dan dia mengayunkan pisaunya ke arah Takuya, Takuya melompat kebelakang menjauhinya, tapi Midorima segera menghapus jarak itu dengan melangkah mendekat juga, tanpa suara. Dia mengayunkan pisau ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah dengan lihainya, lalu ia memutar tubuhnya sambil berjongkok dan meluruskan kakinya agar Takuya terjegal dan jatuh tapi Takuya berhasil menghindar dengan melompat lagi.

Di salah satu serangannya, pisau itu bergerak lurus, Takuya menghindar dan memegang tangannya, lalu memutarnya dari bahu hingga tangan pemuda bersurai hijau itu terpelintir ke belakang, pisaunya terjatuh, lalu Takuya menjegalnya dan mereka berdua jatuh dengan suara 'thump' pelan, posisi Midorima tengkurap memunggungi Takuya yang berlutut di atasnya, masih memegangi lengan Midorima yang tertekuk.

Takuya mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sambil menutup matanya, mencoba berkonsentrasi. Dia menggumamkan sebuah mantra dan segala sihir yang mengikat pemuda yang di jatuhkannya itu menghilang.

"Kau disihir oleh seseorang agar kau tak bisa membantahnya : dengan kata lain, kau di kendalikan dan kau tak menyadarinya. Sihir yang baik sekali." Komentar Takuya sambil mengerutkan alisnya tidak suka. "Lagipula pikirkan, ras kalian begitu kuat bahkan dikatakan sebagai hampir abadi, dengan semua itu, aku ragu mereka bisa menyentuh sejengkal jari orang-orang yang kau pedulikan" lanjutnya sambil mengingat ekspresi Midorima tadi yang seakan mengatakan semuanya

"Dikendalikan?" Midorima berhenti bergerak dan berpikir karena dia benar-benar tak menyadarinya, setelah memikirkannya lagi dan lagi ia menerima kenyataan bahwa dia sedang di kendalikan. "Kau benar" katanya sambil merutuki diri sendiri dalam hatinya.

Betapa bodohnya dia karena dengan mudah ia terperangkap mantra itu.

"Tapi aku tak akan menyalahkanmu" kata Takuya sambil melepaskan pegangannya dan berdiri diikuti Midorima, Takuya berjalan dan berhenti di hadapan jendela dan menatap ke luar "Sekarang, apa kau mengingat siapa yang mengendalikanmu?" tanyanya sambil masih menatap luar

Midorima berpikir sebentar lalu menggeleng "Aku tidak ingat, kami selalu bertemu di sebuah ruangan yang gelap dan mereka memakai tudung berlambangkan..." midorima mengrenyitkan alisnya, mencoba untuk menjelaskan

"Seperti ini?" kata Takuya sambil mengayunkan jarinya dan sebuah buku melayang dan di hadapan Midorima buku itu terbuka, menunjukkan sebuah simbol seekor Basilik yang melilit bola hitam yang retak, simbol Tenebris.

"Benar" Midorima menangguk dan menatap punggung pemuda yang lebih kecil darinya itu yang di sinari sinar rembulan.

"Maafkan aku" kata Midorima tiba-tiba

Takuya berbalik dan menatapnya yang sedang menunduk merasa bersalah.

"Angkat kepalamu, Midorima Shintarou" kata Takuya tegas, Midorima yang sedikit terkejut mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mata biru tegas milik Takuya.

"Dengar, aku tak mau dengar kata permintaan maaf karena itu bukan salahmu. Seseorang yang dari organisasi itu mengendalikanmu dan kau tak berdaya untuk melawannya, jadi ini semua salah mereka" Kata Takuya sambil mengibaskan tangannya tak peduli.

Baru pertama kali ini Midorima merasakan hal ini, kelegaan karena di maafkan, di lingkungan tempat ia tinggal begitu disiplin hingga kesalahan kecilpun akan membuatnya menerima siksaan yang berat, tubuhnya penuh akan bukti itu. Bahkan setelah menerima siksaan itu tak pernah siapapun berkata 'Aku memaafkanmu'. Dan sekarang pemuda di depannya bahkan tak memikirkan tindakannya barusan yang bisa mengancam nyawanya. Sungguh, kalau diperbolehkan, ia akan menangis sekarang, tapi harga dirinya tak memperbolehkannya.

"... Ini gawat juga, bisa jadi orang lain akan jatuh pada perangkap yang sama" gumam Takuya tapi masih terdengar oleh Midorima.

Pikiran Midorima langsung terfokus pada bayangan orang-orang malang yang bernasib sama atau bahkan lebih buruk darinya, keluarganya akan aman karena mereka bisa menjaga diri, kemampuan miliknya juga tak di ragukan lagi. Tapi bagaimana dengan orang yang tak mampu?

Terbesit pikiran untuk mencegah hal itu terjadi di kepala pemuda bermata hijau emerald tersebut.

Takuya tersenyum melihat ekspresi Midorima yang entah kenapa malam ini terlihat sekali, berbeda dari biasanya yang cukup sulit untuk di baca "Hei Midorima, aku percaya bahwa tidak ada hal apapun yang bisa dicapai dengan balas dendam." katanya

Midorima menggeleng "Begitupun juga aku, aku akan mencegah hal ini terjadi pada orang lain... aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama" katanya sambil mengeratkan kepalan tangannya.

"Bagaimana kalau bekerja sama denganku?" tawar Takuya "Kita memiliki tujuan yang sama, memiliki musuh yang sama, dan ada pepatah yang bilang jika musuh dari musuh adalah teman" lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"apa maksudmu?" Midorima masih terkejut dengan penawaran tiba-tiba itu, dia bertanya sambil mengrenyitkan alisnya, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi

"aku ingin kau meminjamkan kekuatanmu, Midorima, bersama kita mungkin bisa melawan mereka. Dan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi pada siapapun. Dan kedamaian dunia akan kembali" kata Takuya kembali

"Kedamaian dunia?" Midorima menaikkan satu alisnya

"Tidakkah kau berpikir bahwa tingkat kegelapan-juga kejahatan- di dunia ini meningkat cukup signifikan?" tanya Takuya, senyumnya menghilang dan ekspreinya berubah serius

"..." Midorima terdiam, memang entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa aneh dengan keadaan di sekitarnya, seperti ada aura menyesakkan dan dingin yang terkadang ia rasakan, bukan angin, tak terasa di kulitnya, tapi di perasaan itu menyiksa sekali seakan memerangkapnya. Dan juga berita tentang musibah, kejahatan seakan tak ada habisnya sekarang.

"Dan aku berpikir ini ada hubungannya dengan organisasi itu, memang organisasi itu baru muncul beberapa tahun lalu, tapi mereka bisa dibilang yang terkuat dalam sejarah" Takuya menyipitkan matanya, alisnya berkerut dan wajahnya serius sekali

"Bagaimana? Kau mau?" dia menghilangkan ekspresi seriusnya dan kembali tersenyum menghadap Midorima dan menjulurkan tangannya

Pemandangan yang dramatis sekali.

Dihadapannya, seorang pemuda bersurai hitam seperti langit malam sedang mengulurkan tangan padanya, tersenyum tipis disinari sinar indah rembulan di belakangnya. Matanya seindah langit biru, kulitnya putih halus bagai mutiara, saat pertama kali bertemu dia mengira pemuda ini adalah seorang dari bangsa peri atau malaikat yang terkenal akan keindahan mereka.

Dari pada menyahut uluran tangan itu, Midorima berlutut di hadapan Takuya, menunduk sangat dalam dan seketika terdapat benang tipis berwarna hijau yang bercahaya mengelilingi mereka, lalu di lantai tempat mereka berdiri muncul lingkaran sihir yang bersinar redup dan lembut. Dan angin bertiup perlahan mengelilingi mereka.

"Aku bersumpah akan melindungimu dengan segenap jiwaku" satu benang melilit pergelangan tangan mereka berdua

"Aku bersumpah akan menjagamu dari segala yang mengancammu" benang kedua mengelilingi tubuh mereka

"Dan aku bersumpah akan mendampingimu seumur hidupku" dan benang ketiga membentuk lingkaran di sekeliling mereka

"Aku membungkukkan diri di hadapanmu untuk mempersembahkan diriku menjadi guardianmu hingga ajal menjemputku" ketiga benang itu bercahaya dan berubah menjadi mantra, lalu mengecil dan menghilang di pergelangan tangan Midorima, sedangkan benang yang melilit pergelangan tangan mereka berdua menghilang meninggalkan bekas tipis.

Takuya tersenyum lembut ke padanya dan Midorima merasakan panas membakar wajahnya saat melihat senyuman itu

"Mohon bantuannya, Shintarou"

Dan munculah simbol rantai di pergelangan Midorima, sama seperti milik Kise dan Murasakibara. Dan bekas tipis di pergelangan Takuya bertambah satu.

.

.

.

TBC

*ngintip di balik badan Takuya* err... bagaimana menurut kalian? apa cukup bagus? apa rada dramatis? apa kurang 'greget' gitu? tolong beritahukan pikiran kalian tentang fic ini! *membungkuk*

Takuya : Jangan khawatir Zanas-kun! kau hanya perlu berusaha untuk lebih baik lagi! *menghadap readers* terima kasih kalian masih mengikuti cerita tentang perjalanan hidupku ini! review sangat di hargai dan pelukan dari jauh dariku untuk kalian para pembaca!

Kuucapkan terima kasih banyak atas yang favorite, followers dan reviewers! dan mereka yang menyempatkan diri untuk membaca, maupun yang siders! XD