CH 11
[Kuroko Takuya, Akashi Seishirou, Akashi Tetsuya, harap segera datang ke kantor kepala sekolah.]
Hari ini kelas B sedang ada kelas ramuan. Dan yang mengejutkan adalah, belum 3 bulan kedua bersaudara Akashi itu masuk sekolah, mereka sudah sekelas dengan Takuya (sebelumnya mereka di kelas C). Dan dengan mudah juga mereka menjadi murid yang populer, diantara siswa maupun guru. Mereka juga sering makan bersama jika tak ada fangirl yang mengejar.
"Takuya, kau ngapain kali ini?" tanya Koganei penuh selidik.
Takuya memutar bola nafasnya "Mana bisa aku melakukan sesuatu jika tanda ini masih melekat padaku? Aku tidak mau mati tercekik!" kata Takuya sambil menunjukkan corak tali di lehernya.
Hayama tertawa keras sampai menarik perhatian beberapa murid "Kau tuh tak bisa kapok Takuya! Sebelumnya mereka menghukummu mengecat ruang musikkan?" katanya yang saat ini sedang berpegangan pada meja.
"Dan karena kau juga 'menghias' alat musik kali ini hukumanmu ini... aah Takuya, kalau mau jahil juga ada batasnya..." Koganei menghela nafas lelah.
"Hei! Gara-gara aku ruang musiknya penuh warna! Jadi tak membosankan kan?! Ruang itu terlalu kuno! Aku jadi ngantuk melihatnya!" protes Takuya, lalu dia meletakkan peralatannya "Aku pergi dulu" katanya sambil melangkah pergi.
Di koridor mereka bertemu dan saling lempar senyum. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan tentang apa saja, para adik bertanya banyak sekali tentang sekolah pada kakaknya, dan sang kakak menanyakan kabar adik-adiknya. Tapi tetap saja, di koridor mereka jadi pusat perhatian.
"A-Akashi-sama!"
"Kyaaa~ hari ini pun mereka keren!"
"Bareng Kuroko-sama lagi yaa!"
"Apa mereka bersahabat?"
"Aku tak tahu tapi mereka serasii!"
"Akashi-sama! Lihat kesini!"
Akashi Seijuurou tersenyum hangat pada mereka, begitu juga Tetsuya yang disambut lengkingan penuh pemujaan. Bahkan ada yang pingsan karena kehabisan darah. Tapi Takuya stay cool dan seolah tak mendengar apapun, tau kenapa?
Takuya terlalu fokus dan berkutat pada pikirannya sendiri hingga tak mendengar lengkinag para mahkluk betina itu. Dan bahkan saking fokusnya dia lupa menutup pikirannya hingga adik-adiknya harus menahan tawa.
'Kenapa lagi nih? Aku gak ngapa-ngapain! Selama seminggu aku tak melakukan apapun dan itu menyiksaku! Kalau tidak salah aku dihukum selama sebulan, tapi kenapa sekarang di panggil? Apa mereka mau mencabut mantranya? Tidak, tidak mungkin, aku sudah hafal semua guru disini (saking seringnya kena marah) mereka selalu memegang janji mereka! Atau... aku ketahuan lagi, mati aku, aku mati mati mati mati I'M GONNA FUCKING DEAD!' begitulah, pikiran yang muluk sekali untuk seorang Akashi(yang saat ini Kuroko) Takuya.
Tak kuat lagi, Tetsuya dan Seishirou tertawa terbahak-bahak. Kebetulan lorong tempat mereka sekarang sepi. Muka Takuya seperti bilang 'sial-aku-lupa-menutup-pikiranku' lalu lama kelamaan karena tawa mereka tak berhenti, berubah ke 'berhenti-tertawa-atau-entah-apa-yang-terjadi'.
Tak terasa mereka sudah berada di depan pintu ruangan kepala sekolah. Takuya menelan ludah saat Seishirou membuka pintu.
"Kepala sekolah, apa anda memanggil kami?" tanyanya penuh sopan santun.
Sosok kepala sekolah yang duduk di belakang mejanya adalah sosok yang menguar aura kebijaksanaan sekaligus kehebatannya, yang terselubung dalam raganya yang bersahaja. Takuya mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan dan menemukan simbol Tenebris, walaupun sedikit tersembunyi. Dia hanya menatapnya sebentar, lalu mengalihkan perhatiannya.
"Benar. Dan Takuya, jangan khawatir, kami tak akan mencabut hukumanmu sebelum waktunya" kata kepala sekolah dengan senyum hangat. Seishirou dan tetsuya tertawa kecil. Takuya tersenyum garing. Dalam hati kecewa berat.
"Langsung ke intinya saja. Kalian pasti tau kalau tak lama lagi akan ada festival sihir di sekolah ini kan?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Aku ingin kalian menjadi bawahanku secara langsung bersama beberapa orang lainnya yang kupilih untuk menjadi panitia penyelenggaraan sekaligus keamanan. Dan pemimpinnya adalah kau, Akashi Seishirou" mereka berkedip terkejut.
"Baiklah, akan kujadikan festival ini adalah festival terbaik yang pernah diselenggarakan, serahkan saja padaku" kata Seishirou penuh keyakinan.
"Dan untuk masing masing bagian, Penyelenggaraan akan kuserahkan padamu, Tetsuya, dan keamanan padamu, Takuya."
"Baik". "He? AKU?!" sungguh reaksi yang berlawanan sekali. Adakah yang pecaya bahwa mereka saudara? Tidak? Akupun juga tidak :v
"Kenapa Takuya?" kepala sekolah tersenyum dengan misteriusnya
"Tidak apa-apa, saya akan melakukannya" kata Takuya memperbaiki sikap 'pasti ada apa-apanya nih' batinnya was-was, pernah sekali dia menjadi ketua komite kedisiplinan saat lomba antar kelas berlangsung, dan kepala sekolah memberinya bawahan anak-anak yang terkenal bermasalah seantero sekolah. Walaupun sekarang mereka menjadi patuh seutuhnya pada Takuya, ingat HANYA pada Takuya. Misterius sekali.
Setelah mereka di berikan rancangan konsepnya, mereka pun bermaksud akan segera kembali ke kelas, saat mereka mencapai pintu kepala sekolah memanggil kembali.
"Ah, dan satu hal lagi, Takuya" Takuya menoleh, Kepala sekolah tersenyum dengan hangatnya "Tak usah menyamarkan namamu lagi" Dan Takuya bersumpah dia melihat aura gelap dan mistis yang keluar dari kepala sekolah itu.
Ternyata yang juga menjadi panitia bersama mereka bertiga adalah 20 orang termasuk Kise, Midorima, Hayama, Koganei dan Furihata dengan pembimbing Himuro, Murasakibara dan Aomine.
"... kenapa Atsushi dan Daiki-san ada di sini? Dan apa tak apa meninggalkan Jepang, Daiki-san?" tanya Takuya
"Kami kenalan dari kepala sekolahmu, untuk berjaga-jaga jika kalian para bocah berbuat kekacauan, dengan kata lain, pembimbing. Dan soal itu, aku punya orang yang kupercayai untuk mengurusnya (makdudnya: Aomine Shouichi)" jawab Aomine Daiki dengan seringai evil.
"Ooh..." balas Takuya datar. Lalu dia berbalik menghadap rekan-rekannya "siapa yang menjadi bagian keamanan?" tanyanya.
Sekitar 10-12 orang maju, termasuk diantaranya Midorima, Hayama, dan... "GEH! JAKI?!" maksudnya Haizaki Shougo, rival Takuya di berbagai pertandingan.
"Yo! KUYA, bekerjalah dengan benar nanti, pendek" katanya dengan seringai jahil.
"BERISIK! Jangan panggil aku pendek metang-mentang tinggimu beda sesenti denganku!" benar, tinggi mereka dulunya sama, dan di pemeriksaan fisik baru-baru ini, ternyata tinggi Haizaki lebih satu senti dari Takuya.
"Ya-ya, diamlah, pendek" katanya lagi sambil mengorek telinganya. Sampai mereka berdua merasakan tangan besar di kepala mereka, dan senyum Aomine yang bukan jenis senyum baik-baik.
"Senangnya dapat anggota yang muda dan bersemangat " katanya
Haizaki dan Takuya tak berkutik "Mo-mohon bantuannya..." Midorima, Himuro dan Akashi bersaudara hanya bisa menghela nafas.
Skip hingga hari H
Takuya memandangi 'seragam' panitia, tidak ada yang aneh, hanya saja... "Kenapa pakai yukata, topeng dan pedang? Ninja atau samurai?" . "Kyaaa~ kalian gagah sekali~ Tetsuya-kun dan Takuya-kun manis sekali~" teriak Reo, perancang seragam mereka. "Reo-senpai, tolong" potong Takuya.
"Aah, Sebenarnya aku ingin memakaikan kalian kostum butler dan maid, tapi ketua dewan guru tak setuju~ sayang sekali~" katanya sambil menyangga pipinya dengan sebelah tangannya.
'Untung tak disetujui' batin semuanya lega.
Dan merekapun berpencar untuk mengawasi jalannya festival.
Peri-peri berterbangan dan tertawa, balon yang membumbung tinggi di langit, potongan kertas warna-warni di udara, hiruk-pikuk orang-orang, nyanyian, parade, lomba, stan-stan yang ramai pengunjung. Suasana itu sangat meriah dan bersahabat. Memang ada beberapa kekacauan kecil, tapi itu semua dengan mudah di atasi. Takuya dan adik-adiknya menikmati festival bersama untuk yang kesekian kalinya, dan pertama kalinya setelah bertahun-tahun, terakhir mereka menikmati festival adalah festival musim panas yang lusanya adalah hari pelayaran pertama Takuya.
"Taku-nii-san, Tetsuya, bagaimana kalau kita bertanding menembak? Kita lihat siapa yang mendapat hadiah terbanyak" ajak Seishirou. Takuya dan Tetsuya mengangguk setuju "Yang kalah harus menuruti permintaan pemenang selama sehari ya!" tambah Takuya.
Tak ada yang menyangka bahwa tak lama lagi sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang sangat menakutkan
.
.
Hari semakin siang dan festival semakin ramai, untung cuaca hari itu tidak cerah dan juga tidak mendung, sekarang giliran Takuya patroli bersama Haizaki dan Midorima. Keadaan mereka? Sepi seperti kuburan, tak ada yang bicara, semua fokus dengan urusan masing-masing.
Takuya fokus dengan kertas laporan di tangannya dan alat komunikasi di telinganya. Midorima fokus melihat-lihat sekeliling, sedangkan Haizaki sibuk mengabsen wanita-wanita yang menarik perhatiannya. Hingga mereka mendengar suara nafas terkejut para pengunjung dan perhatian semuanya yang pada satu titik dan merekapun melihat ke arah yang sama.
Disatu sisi bagian sekolah, tepatnya di bagian luar tempat gudang senjata sihir berada, ada sebuah tiang hitam dan raksasa yang menjulang ke atas langit, awan berubah arah, memutar berbentuk langit badai, angin yang awalnya begitu tenang berubah menjadi ganas dan menerbangkan beberapa atap stan, orang-orang menjadi panik dan berlarian mencari perlindungan.
"Semuanya! Cepat masuk ke dalam gedung!" instruksipun di berikan. dan para manusia yang ketakutanpun segera memasuki gedung. Pintu dan jendela ditutup rapat-rapat, mantra pelindung segera di rapalkan, dan sebagian murid-murid akademi keluar untuk bersiaga, yang lainnya ada di dalam untuk melindungi warga.
Beberapa alat penerangan yang berupa obor di nyalakan, yang awalnya berwarna kuning datau merah seperti api pada umumnya, kini berubah jadi ungu kehitaman. Lalu entah dari mana makhluk-makhluk hitam bermunculan dari bawah tanah, dari dinding, dari langit-langit gedung. dan dari langit kejauhan, terlihat pasukan penyihir dengan aura hitam di sekeliling mereka. Tetsuya dan Seishirou merapalkan segala mantra sihir yang mereka bisa utuk melindungi warga, begitu juga dengan murid lainnya. Dan ada suatu kejanggalan besar yang mungkin akan terlewat.
Dimana para guru? Atau staf sekolah? Memikirkan itu Takuya segera bergegas keluar "Tetsu! Shirou! Kupercayakan yang disini pada kalian!" yang di balas anggukan mantab kedua adiknya.
"Hei! Apa kalian tau dimana Mrs. Thompson?! Aku tak bisa menemukannya!" .
"Sial! Padahal dia yang bisa merapal barier yang kuat!"
"Ada yang melihat Mr. Licht?!"
"Di mana penjaga gedung?!"
"Apa yang terjadi?!"
Benar, apa yang terjadi? Kenapa musuh menyerang kedung sekolah yang (sepertinya) telah ditinggalkan 'pengurus'nya? Meninggalkan semua tanggung jawab mereka?
"TATSUYA?! TATSUYA!" Takuya berteriak dan berlari di tengah kekacauan untuk mencari seorang anggota keuarganya itu. Jika dipikir-pikir kembali, dia tak melihat satupun guru di festival.
Berbagai spekulasi pun meluncur cepat dalam benaknya.
Mereka melarikan diri sebelum ini terjadi. Mereka bersekongkol dengan penyerang sekolah (yang di pastikan adalah organisasi Tenebris). Mereka ditipu dan saat ini di sandera di suatu tempat. Atau mereka sengaja meninggalkan sekolah ini untuk memberikan murid-muridnya pada musuh? Berulang-kali di bicarakan bahwa angkatan tahun ini adalah yang terkuat sepanjang sejarah. Apa mereka mengincarnya?
Tapi Tatsuya bukan orang yang seperti itu... rasa-rasanya tak mungkin kalau dia...
Atau jangan-jangan selama ini hanya kebohongan dan dia mengenakan topeng?
Takuya menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan prasangka itu jauh-jauh. Lalu memfokuskan diri mencari Tatsuya dan mempertahankan sekolah ini. Banyak yang harus di lindungi.
"Takuya!" Takuya menoleh, ternyata Aomine "Kau tak usah keluyuran! Sekarang tugasmu amankan para penduduk dan para junior!"
"Tapi Daiki-san! Ta-tatsuya-sensei-" . "Tidak ada TAPI! Sekarang kembali ke rombongan dan lakukan tugasmu! Ini perintah!" kata Aomine penuh ketegasan dan penekanan. Takuya mengangguk dan berlari kembali "Pastikan kau menemukannya Daiki-san" katanya saat melewati Aomine. Aomine mengangguk "Percayalah padaku".
Sesampainya di sana Takuya segera menunjukkan jalan kabur bawah tanah pada mereka, sebuah jalan yang hanya dia sendiri yang tau, sebuah jalan yang sepertinya terlupakan dan kuno sekali.
"Aku menemukannya saat 'penjelajahan sendiri' jika kalian penasaran" kata Takuya menjawab pertanyaan tak terucap oleh kawan-kawan dan saudaranya. "Jalan ini hanya ada satu jalur dan tidak bercabang, ujungnya adalah sebuah hutan di belakang gunung"
BLAAAAR
Suara ledakkan pun terdengar dan bangunanpun goyah "Sekarag cepat masuk! Jangan menoleh ke belakang!" teriak Takuya. Para penduduk pun berebut masuk setelah Takuya memanggil peliharaannnya yang berupa burung yang bercahaya untuk menerangi jalan. "Para murid tahun pertama! Kelas manapun itu!" lalu para Junior memusatkan perhatian padanya. "Tugas kalian adalah melindungi para penduduk dan memperingatkan negara bagian lainnya!" lalu para junior itu masuk ke terowongan dengan membawa peralatan sihir di tangan mereka. Beberapa dari mereka sudah merapal mantra.
"Kak, bagaimana denganmu?" tanya Tetsuya menarik jubah kakaknya pelan. Tatapannya sarat akan kekhawatiran.
"Apa kau... akan tetap disini?" tanya Seishirou juga. Takuya tersenyum lembut dan membelai kedua kepala adiknya.
"Masih banyak hal yang harus kulakukan. Tugasku adalah mengamankan para penduduk. Penduduk awam sudah, sekarang tinggal penduduk sekolah" katanya beralasan
Lalu tiba-tiba kilatan petir yang cukup besar menyambar di dekat mereka
CRIK JGLAAAARRRR
Sepertinya ada yang merapalkannya, di lihat dari jaraknya, musuh sudah dekat.
"Sekarang cepatlah masuk!" kata Takuya mendorong para adiknya masuk ke terowongan itu. Adik-adinya menoleh ke belakang-ke arahnya- dengan ekspresi yang amat, sangat khawatir.
Takuya menyempatkan mengecup kedua kening adiknya sebelum menutup pintu.
"Kuserahkan mereka pada kalian, sampaikan salamku pada ayah, ibu, sei dan paman Kagami. Aku menyayangi kalian."
Dan pintupun tertutup.
.
.
.
.
TBC
Yuhuuu~ akhirnya ane bisa melanjutkan! Senangnya dalam hatii~ bisa melanjutkan~ dan maaf kalo terasa pendek'-')
Seriously, minggu-minggu ini adalah minggu yang SANGAT sulit bagiku, seorang pelajar yang akan menghadapi MAGANG/PRAKERIN. Seabrek tugas dengan deadline 2-3 hari .
DUDE I'M GONNA BE FUCKING DEAD
Takuya: YEAH SAME HERE *pelintir Author*
To: Midorima Shintarou (RP Indo-YEAH THAT'S YOU MATE) makasih sarannya~ *peluk* *cipika-cipiki* /semplak
Perjalanan Takuya masih jauh, aku sudah punya rencana tersendiri, semua (sepertinya) akan berpusat padanya*grin* meskipun chap-chap awal benar-benar datar tak ada gelombang. Aku menerima saran dan komentar juga kritik! Tapi aku tak menerima flame (syukurlah tak ada hingga saat ini) aku membutuhkan dukungan kalian untuk tetap melanjutkannya! Aku sangat bahagia jika kalian menyukai cerita ini! Dan kuharap kalian juga mereview chapter ini~ that's it! See you next time!
Ah, dan untuk yang penasaran siapa orang misterius di chapter lalu, entah siapapun kau #semplak.
Orang itu adalah salah satu dari karakter tak bernama dengan peran penting yang melegenda itu! XD waah! Aku tak percaya bahwa aku membuatnya! Yehet~
