My Adventure -Chapter 12

presented by: Zanas-kun

Disclaimer: Kuroko no Basuke characters are not mine

warning: OOC, Typo, EYD, alur yang rada gaje, overpowered main character, male x male

sorry for the long wait ;) enjoy!


Langit di atasnya seakan bisa runtuh kapan saja, suara seperti retakan pada langit tak henti-hentinya meraung, angin kencang menerbangkan beberapa material dan para penyihir hitam meninggalkan jejak hitam di segala penjuru, teriakan pertarungan terdengar di sana sini, kilatan sihir yang dirapalkan mengalahkan cahaya petir di sela awan.

Takuya terus berlari dan berteriak, mengarahkan para warga sekolah lain yang tak mampu lagi untuk ke tempat aman, bersama Haizaki, Midorima, Kise, Murasakibara, Aomine dan yang lainnya. Para penyihir hitam mulai merapalkan mantra serangan berskala besar dan pihak murid harus mati-matian mempertahankan diri. di atas tanah berdarah yang mulai melayangkan bau anyir.

"Koganei! Apa kau masih kuat?!" tanya Hayama sambil membopong salah satu murid terluka pada pemuda bermuka kucing itu yang tengah mempertahankan barier.

"A-Aku tak apa! tapi sepertinya kami sudah tak bisa menahannya lagi! Ugh! sebaiknya cepatlah!" jawab Koganei. Dia berbaris melingkar bersama enam pemuda mengelilingi sebuah tempat untuk memulihkan para murid yang terluka. Mereka dikelilingi oleh aura dengan warna mereka masing-masing dari tubuh mereka.

"Koganei, Hayama! Mundurlah! Kau tangani yang terluka dan suruh mereka pindah tempat! Haizaki! Tolong lindungi mereka" Takuya berlari melewati pemuda itu dan merapalkan mantra petir yang cukup untuk memusnahkan para penyihir hitam dalam radius 10 meter. Selagi Koganei, dan Hayama dan murid yang telah pulih membantu yang lain untuk melarikan diri. Dan Haizaki melindungi mereka dengan bertarung juga.

Seperti pilar listrik yang berkesinambungan, seketika Takuya melumpuhkan mereka dan membuat mereka meregang nyawa di tangan pemuda 15 tahun itu. Sisa dari sihir yang cukup kuat itu masih tersisa di tangan Takuya, listrik berwarna biru terang menjalar di seluruh lengannya. Lalu tiba-tiba Kise sudah ada di belakangnya, menempelkan punggungnya.

"Aku akan membantumu Takuyacchi! Serahkan punggungmu padaku-ssu" kata Kise penuh keyakinan. Takuya tersenyum dan fokus pada apa yang ada di hadapannya.

Para penyihir hitam kembali mengepung mereka dan tanpa basa basi langsung merapalkan mantra mematikan mereka, tongkat mereka terbuat dari tulang, baju mereka terbuat dari kegelapan, wajah mereka begitu jelek dan menakutkan, ada yang menyerupai Ular, ada yang gigi taringnya keluar seperti babi hutan, ada yang seperti monster laut, dan parahnya, semua penyihir itu adalah perempuan.

Dua penyihir langsung menyerang ke arah Takuya. Dia lalu menebaskan pedangnya untuk membelokkan serangan mereka ke arah penyihir hitam yang lain, lalu Takuya berlari maju, dan menebas pedangnya, membelah tubuh mereka hingga terbelah menjadi dua, lalu mereka berubah menjadi abu, kemudian dia melompat mundur untuk kembali menjaga belakang Kise. Kise menebaskan pedangnya dan memperpanjang jangkauan pedangnya, tubuh para penyihir terpotong tersayat sihir yang muncul dari pedangnya, dan mereka ambruk dengan darah di sekujur tubuh mereka. Kise merapalkan sihir apinya dan menciptakan sebuah Garis api yang luas dan seketika membakar tubuh Penyihir hitam dan tak membiarkan mereka lari.

Midorima bertarung dengan Aomine karena Murasakibara tentunya tak terlalu mengandalkan bantuan orang lain. Dia master sihir kalian ingat?

Murasakibara menghantamkan tinjunya ke tanah dan merapalkan sebuah mantra pengikat pada para penyihir hitam untuk membuat mereka jatuh bersamaan dengan runtuhnya tanah ke dimensi tak berujung dari gerbang yang dia panggil. Midorima merapalkan mantranya untuk membuat hutan mini dengan segala tumbuhan beracun di dalamnya, lalu dia merapalkan mantra untuk menumbuhkan tanaman rambat beracun ke beberapa penyihir hitam, dan melilit mereka dengan tanaman itu. lalu kemudian dengan cepat dia juga menumbuhkan akar raksasa berduri ke arah lain dan memecut beberapa penyihir hitam sejauh beberapa meter, sedangkan yang lain membakar dan memotong, juga menghindari akar itu.

Sekeliling Aomine membara dengan aura biru laut yang indah, melapisi tubuh dan senjatanya, memperkuat pertahanan dan serangan kepala keluarga Aomine itu. Dia bertarung dengan kekuatan fisik dan hanya bisa melapisi senjatanya dengan sihirnya, tapi kemampuannya yang sangat diakui di kemiliteran dunia tak bisa di remehkan. Meskipun hanya dengan serangan fisik, dia sanggup menebas 50 orang sekaligus dengan sekali ayunan pedangnya yang besar.

Midorima berdiri membelakangi punggung Aomine, merapalkan mantra untuk kembali menumbuhkan hutan kecil yang didalamnya ada berbagai tumbuhan liar yang berbahaya, bahkan bagi penyihir sekalipun. Satu persatu penyihir dan makhluknya lenyap di telan hutan. Tak cukup sampai disitu, dia merapalkan mantra untuk menumbuhkan tumbuhan yang terdapat bunga pemakan daging berukuran sangat besar yang berbahaya. Tongkatnya yang terbuat dari kayu Oak tua dengan sayap peri dan darah Dryad tak kalah hebat dengan pedang aomine yang terbuat dari taring Naga.

Takuya dan Kise memanggil makhluk penjaga masing masing yang mereka dapat dan kontrak sebelum masuk sekolah ini. Milik Kise adalah Rubah berbulu emas dan berekor sembilan yang cantik dan mempesona, matanya yang berwarna emas juga tak kalah indah dan lembut namun memiliki sorot kekuatan yang kental. Sedangkan milik Takuya adalah Direwolf berbulu hitam dan bermata merah, raganya sangat besar dan menakutkan, dengan ganasnya dia menunjukkan gigi tajam besarnya pada para penyihir hitam, kukunya tajam menancap tanah, matanya penuh dengan nafsu membunuh dan mencabik-cabik siapapun yang ada di hadapannya.

"Ta-Takuyacchi, bagaimana bisa kau... Direwolf itu..."kata Kise tak melanjutkan kalimatnya, Direwolf bermata merah terkenal sangat brutal dan liar, dan dikenal sebagai legenda tersendiri dalam ras Direwolf. Dan keuntungannya yang terbesar adalah, dia tak akan pernah terpengaruh sihir karena tak punya akal, dan kepribadian. Satu-satunya makhluk di dunia ini yang tak terpengaruh sihir.

Seharusnya dia tak perlu sekaget itu karena rubah miliknya adalah makhluk legenda yang di kenal sebagai pembawa keberutungan.

"Ryouta, fokus saja pada apa yang ada di hadapanmu" kata Takuya tegas dan singkat. Kise menurut dan menoleh kembali ke hadapannya.

"Dire, kau boleh makan sekarang" kata Takuya dengan seringai dan Serigala itu melesat maju menancapkan taringnya pada para penyihir. Lengkingan kesakitan mereka tak mempengaruhi Takuya untuk menghabisi para penyihir hitam itu. Begitu juga dengan Kise.

Mereka berdua bertarung dengan lihainya seakan menari dengan pedang di tangan mereka masing-masing. mempesona orang yang melihat mereka di medan itu. Ayunan pedang mereka membelah tubuh para penyihir, sihir mereka memusnahkan mereka. Teriakan pertarungan mereka begitu kuat disamping raungan hewan mereka yang mengamuk di medan pertempuran. Tak mau kalah, Aomine, Murasakibara, dan Midorimapun memanggil makhluk panggilan mereka, yang merupakan Panther dengan baju zirah warna perak, BloodSeeker yang mengenakan zirah emas dengan besi tajam di sepanjang lengannya, dan Hippogriff yang gagah dan masing-masing makhluk itu memiliki ukuran yang besar, diikuti oleh beberapa siswa yang berhasil memegang kontrak dengan makhluk lain. Mayoritas berwujud hewan.

Tapi para penyihir hitam tak kehabisan akal, yang bisa memegang kontrak tak hanya pihak Takuya. Merekapun memanggil makhluk mereka. Banshee, Cerberus, Incubus, Mantis, Gamayun, dan makhluk lainnyapun terpanggil. Kebanyakan dengan tampang mengerikan yang sekaligus menggertak lawan mereka. Nyali para siswa menciut terlebih untuk yang memiliki makhluk yang terbilang cukup lemah.

"Jangan takut! Jangan kalian takut hanya karena hal ini! Setiap makhluk punya kelebihan sendiri, manfaatkanlah kelebihan itu sebaik mungkin!" teriak Aomine membangkitkan keberanian para siswa. "Bagaimana caranya? Pakai otak kalian!" karena mereka bersekolah disini tentunya bukan hanya untuk bermain-main.

"Gandhi! Pertahanan 8 tangan!" . "Poltergeist! Hujan es!" . "Pixy! Ilusi!" . "Elfy! Jarum cahaya!"

Para siswa pun mulai melancarkan serangan kembali, meskipun tak begitu banyak pengaruh mereka tak menyerah sedikitpun, mereka tak gentar, mencoba melawan rasa takut mereka dan kelemahan mereka. Tapi para penyihir hitampun melancarkan serangan yang tak kalah hebat.

Takuya mengeluarkan sihir angin yang bersandingan dengan sihir api Kise, melebarkan jarak serangan mereka, tapi para penyihir hitam itu menghindar dan berubah menjadi asap hitam, lalu melayang ke langit, dan menukik ke arah mereka secara bersamaan.

Kise selangkah di depan Takuya, merentangkan kedua tangannya ke atas selagi Takuya berubah halauan ke belakangnya dan melancarkan sihir tanah yang menyebabkan tanah menjadi retak dan menelan penyihir lainnya. Dari telapak tangan Kise keluar Cahaya Kuning terang, cahaya itu bersinar sangat terang dan melenyapkan para penyihir hitam yang lenyap seketika dalam wujud mereka yang seperti asap itu.

Takuya dan Kise memegang erat senjata mereka dan berlari memunggungi partner mereka masing masing. Lalu bebarengan menebaskan pedang mereka yang dialuri dengan sihir api mereka. Bagian Midorimapun tak kalah 'ramai', dengan makhluk kontrak di mana-mana dengan kemampuan mereka yang bermacam-macam membuat semuanya semakin sulit. Di samping mengeluarkan sihir mau tak mau Midorima dengan Aomine harus bertarung secara fisik juga, walaupun tidak begitu efektif tapi jika memberikan serangan yang cukup-

PLOP

-Kepala mereka, atau bagian tubuh mereka yang mempunyai luka serius akan meledak dan menyemburkan bagian dalam tubuh mereka yang terkontaminasi.

"IBU!" salah satu murid berteriak, wajahnya seperti akan menangis.

Dihadapannya berdiri sesosok penyihir hitam dengan kepala tertunduk, di tangannya memegang sebuah tongkat penuh duri. Midorima dan Murasakibara yang ada di dekat sana membelalakkan mata, mulut mereka terbuka karena shock 'Mu-Mungkinkah!'

"AAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!" Takuya mengeluarkan teriakan seiring dirinya yang berputar secara vertikal seperti gerakan kungfu dan dari kakinya keluar Angin berbentuk sabit yang membelah 7 orang penyihir di hadapannya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat sosoknya, tapi matanya yang biru tetap memancarkan semangat.

Kise menundukkan dirinya sedikit sambil tetap menatap tajam lawannya, lalu tanah tempatnya berpijak retak, dan dalam sekejap mata sosok Kise menghilang bersamaan dengan munculnya kilatan Kuning yang menjalar di medang pertarungan, memusnahkan para penyihir hitam itu yang berteriak kesakitan dengan suara mereka yang melengking.

Sekilas, hanya sekilas, Midorima melihat 'sosok asli' mereka, sosok perempuan biasa yang tersenyum sekaligus menangis. Hatinya teriris oleh tragedi yang dia temukan, 'Jika penyihir perempuan, mungkinkah makhluk yang mengikat kontrak dengan mereka ini-!'

GROAAAAARR

Raungan beberapa Goliath terdengar bersamaan dengan suara hempasan udara dan teriakan beberapa penyihir muda yang terlempar beberapa meter. Raungannya seperti menangis, setelah menghempaskan murid-murid itu para Goliath mengarah ke tempat Kise yang sedang mengatur nafas, yang lainnya ke tempat Takuya yang sedang sibuk bertarung.

Midorima menggigit bibirnya. 'Pantas saja aku jarang melihat anak-anak bersama orang tuanya di kota ini, tidak, aku jarang melihat adanya orang dewasa disini'. Lalu dia merentangkan kedua tangannya dan melilit dua Goliath yang menuju master dan partner(yang tidak diakuinya) itu, lalu dia mengepalkan kedua tangannya, dan dua Goliath itupun hancur. Dia menoleh kearah Aomine yang sedang mengayunkan senjatanya yang besar, melempar tiga Penyihir sekaligus. Aomine melihat kearahnya, lalu kearah Kise dan Takuya, lalu dia mengangguk.

Dengan Begitu Midorima berlari menuju kedua temannya, dan posisinya di gantikan Murasakibara.

Takuya yang melihat dirinya terkepung menarik nafas dalam dalam "Poseidon Altare, Submersi omnia, praecipitabit eos in fluctibus!". Dari bawah kakinya muncul lingkaran sihir dengan mantra air dan gambar dewa laut, lalu memancarkan cahaya biru laut dengan angin yang bergerak menghembus pakaian dan helaian rambutnya. Dengan cepat para penyihir muda di sekitar sana mengaktifkan sihir teleportasi mereka dengan membawa teman mereka yang tak bisa teleport, begitu juga Kise dan Midorima mereka berpindah ke tempat yang cukup jauh dari sana.

Lalu keluarlah Ombak yang sangat besar dengan tinggi hampir 15 meter, seperti Tsunami, menghapus dan menenggelamkan segalanya yang ada di hadapannya, di sekelilingnya, menyisakan sebuah area kosong yang di tengahnya terdapat seorang pemuda yang masih tegap berdiri.

Mataharipun tergelincir-itu yang ingin aku katakan, tapi benda langit yang terlihat hanya awan, cuaca terus menunjukkan badai petir di sertai angin, ledakan-ledakan tak henti-hentinya ada. Ini lah perang, seiring dengan terkurasnya sihir dan tenaga, sebagian dari mereka mulai kehilangan harapan. sekaligus kesadaran dan kewarasan.

"Pihak kita yang terluka semakin banyak... tapi... entah kenapa mereka tak ada habisnya" ucap seorang murid yang sedang mengobati temannya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka menyerang kita? Kenapa guru tak ada saat kita membutuhkan mereka? Kenapa...kenapa ini terjadi! Seseorang tolong jelaskan!" dan dia menangis dan menggertakkan giginya, mengumpat dalam hati.

'Benar juga, tentang serangan ini... apakah hanya terjadi disini?' pikir Aomine di tengah pertarungannya. "Oi Takuya, kudengar kau bisa bertelepati dengan adik-adikmu..."

Takuya, seakan telinganya telah tertutup, pikirannya kalut tak bisa berpikir jernih. Bahkan omongan Aomine yang tepat berada di belakangnya tak terdengar.

'Bagaimana keadaan Shirou dan Tetsu? Apakah ayah dan ibu baik-baik saja? Apakah semuanya baik-baik saja? Paman Kagami... maafkan aku... Tatsuya...Tatsuya... kau ada di mana...' begitu juga dengan hatinya, dia ingin menangis tapi tidak bisa, dan syukurlah dia tak bisa menangis saat ini.

"OI TAKUYA!" . "Heh?"

"Malah 'Heh'! apa kau dengar apa yang kukatakan BAKAYA?!" Aomine naik pitam, wajahnya berubah merah, mirip setan alas, gak eksotis lagi.

Alis Takuya berkedut "Apa itu? Nama julukanku yang baru? AHOmine-san?" lalu dia menyeringai

Lalu Aomine teringat akan seseorang yang mencetuskan julukan itu 'Tak kusangka aku akan mendengarnya lagi' batinnya sedikit bernostalgia. "AH! JANGAN MEMANGGILKU AHOMINE DASAR LANCANG!" selanjutnya Aomine menjitak kepala Takuya. Lalu Takuya membalas menyeruduk pinggangnya. Lalu mereka saling membalas di tengah pertarungan itu.

Midorima sweatdrop dari kejauhan "di tengah perang... mereka bodoh atau apa-nanodayo?"

"Ahahaha..." Kise ketawa garing.

Murasakibara mengigit ibu jarinya dan mengalirkan darahnya ke tongkatnya, dan tongkatnya berubah menjadi ribuan kupu-kupu ungu. Sekejap mereka indah, tapi orang yang terkena kupu-kupu itu akan mempunyai kutukan, tubuh mereka berubah bentuk.

"Murasakibara-san! Tolong kendalikan kupu-kupu itu! Mereka hampir mengenai kami tadi!" teriak Koganei.

"Koganei! Hayama! Gomen! Tolong pasang barier di gedung atau ruangan yang kalian pakai untuk berlindung! yang terkuat yang pernah siapapun di antara kalian pelajari!" teriak Takuya dari kejauhan "Atsushi! Sudah kubilang jangan mengeluarkan terlalu banyak kupu-kupu kalau tak mampu kau kendalikan!" lalu Takuya menuding Murasakibara.

"Yah tak usah kau bilang kami juga tau!" lalu Hayama dan Koganei melanjutkan tugas mereka. Berlari mencari korban terluka, dan disusul oleh beberapa penyihir yang telah pulih.

"Gomenne Taku-chin..." lalu Murasakibara mengayunkan tangannya, lalu beberapa kupu-kupu menghilang setelah menghinggapi beberapa penyihir hitam.

"GRRRRR... AAAHHH!" dan sebagai balasan, para penyihir hitam itu memunculkan gagak-gagak hitam dari tongkat sihir mereka, menelan kupu-kupu itu.

Selagi melihat pertarungan hewan terbang itu, perhatian para murid teralihkan oleh asap hitam jauh di atas yang melaju cepat di antara langit medan perang, lalu beberapa murid memanggil sapu terbang mereka dan menaikinya, dan menyerang 'asap' itu yang ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah wujud lain dari penyihir hitam. Cahaya terlontar dari tongkat mereka, bertabrakan dengan sihir hitam dari penyihir jahat. Air mata terlinang di mata mereka beberapa saat karena mereka tau bahwa para penyihir dan makhluk yang mereka panggil tak lain adalah para orang dewasa, diantaranya adalah orang tua, saudara, keluarga mereka.

"Tragis memang, tapi tak ada jalan lain" gumam Takuya merasa iba. Seluruh sihir 'putih' mereka terhisap di ruang bawah tanah sekolah mereka, dan dirubah jadi sihir hitam, itu yang dia duga. Mengingat pilar yang muncul sebelum semua ini terjadi. 'Tapi bukan saatnya berpikir seperti itu. Ini medan perang' pikirnya mantab yang lalu menghapus semua pemikiran yang menghalanginya, dan menetapkan tujuannya 'aku harus menyelesaikan ini dan menemukan Tatsuya'

Takuya menggores tanah dengan pedangnya ke depan, dan retakan besarpun muncul menjatuhkan beberapa makhluk ke dalam 'jurang' yang tak terlihat dasarnya itu. Lalu Takuya menghentakkan kakinya dan meninjukan kepalan tangannya ke telapak tangannya, lalu retakan besar itu tertutup rapat. Auranya yang berwarna Kuning berganti menjadi biru, Takuya menghadap ke kiri dan mengayunkan tangan kanannya ke atas dan ombak besarpun muncul, lalu dia ayunkan pedangnya menyentuh ombak itu dan ombak itu membeku, memerangkap beberapa makhluk beserta penyihir hitam di dalamnya, lalu mereka pecah berkeping keping. Di belakangnya, Aomine mengayunkan senjatanya yang besar ke kanan dan menghempaskan para penyihir hitam itu ke tumbuhan pemakan daging yang sengaja Midorima tumbuhkan untuk memakan mereka.

"Oi Takuyacchi! Aominecchi! disini masih ada kami-ssu!" Kata Kise yang sedang menahan para penyihir muda dengan sihirnya yang mengikat kaki mereka dan pelindung yang menyelimuti tubuh mereka.

"Ah Gomen Ryouta!" . "Salahmu sendiri ada di situ!" sungguh jawaban yang berbeda sekali dari kedua orang yang cocok berpartner di pertarungan secara tak terduga.

"Aominecchi hidoi-ssu!" Kise nangis buaya.

"Sudahlah jangan bercanda di saat seperti ini-nanodayo!" muncul perempatan siku di kepala Midorima

"Ah Mou aku ingin makan kue! Aku lapar! Aku ingin minum teh! Kapan ini berakhir?!" rengek Murasakibara.

"Kau berisik Murasakibara! Berhentilah merengek!" perempatan sikunya tambah satu.

Lalu Midorima mengendalikan darah para penyihir hitam, sebuah kemampuan asli ras Vampir. Membengkokkan tubuh mereka, menjadikan mereka perisai hidup. Dengan mudahnya dia mengendalikan mereka seperti boneka.

Para murid menatap takjub Takuya dan yang lainnya, mereka seperti menikmati pertarungan mereka, mereka bertarung seakan telah berpengalaman di medan tempur selama bertahun-tahun. Mereka tak tahu seberapa betul pemikiran mereka itu. dan karena itu, mereka termotivasi untuk bangkit kembali.

Entah hari telah malam, atau telah pagi, entah berapa lama mereka bertempur. Semua seakan tak ada habisnya dan waktu sangat terasa bergulir, dan parahnya lagi, bala bantuan musuh telah tiba. Menaiki makhluk sihir mereka yang telah terlihat bukanlah makhluk biasa, telah terlihat bahwa tingkatan sihir mereka tak bisa di remehkan.

"well, well, lihatlah para penyihir muda yang habis-habisan bertempur itu, sangat bersemangat" ucap seorang wanita, sekitar 20 tahun, rambut dan matanya hitam dan mempunyai telinga lancip. Mengenakan baju ketat hitam yang menunjukkan pahanya dan lekuk tubuhnya, serta kerah yang lebar seperti gaun zaman victoria, lalu jubah hitam yang menjuntai di belakangnya, terlihat ukiran hitam di pahanya, memanjang dan meliuk hingga tertutupi sepatu boot selutut berhak tinggi yang dia pakai.

"Dan mereka terlihat menggelikan Zwei, ah, apa anak itu yang tuan Hanamiya selalu ceritakan? Wah, benar-benar anak yang manis" dan pria di sebelah nya ini bersiul sambil memusatkan perhatiannya ke Takuya. Pria ini memiliki rambut jabrik blonde dengan mata sipit rubah, terdapat tato hitam di wajahnya dan dia mengenakan tindik di telinganya, tubuhnya kurus tinggi dengan jubah yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

"diamlah Zero! Humph! Apanya yang bagus dari bocah itu sih" wanita yang bernama Zwei bersedekap kesal "Aku jauh lebih baik dari dia, dia tak mempunyai tubuh indah sepertiku! Dia pasti menggoda Hanamiya-sama!" katanya ngedumel sendiri dan melempar tatapan sinis ke Takuya yang bertarung.

"*Kraus kraus* yah... dia tak akan punya tubuh sepertimu karena dia kan lelaki..." ucap santai pria gendut dengan baju ala indianya yang membuatnya seperti jin lampu.

"Whoa... kau tau dari mana Kahzan?" ucap Zero takjub

"DIA LELAKI?!" . "HEI AKU MENDENGAR KALIAN!"

Takuya menatap tajam ketiga musuh yang baru datang itu dengan raut mukanya yang kesal. Apakah mereka terkesan santai dan lucu? Ada pepatah yang bilang rubah yang cerdik akan menyembunyikan bulunya baik-baik.

Zwei menyeringai "Yah, pastinya Hanamiya-sama tertarik padanya bukan karena tampangnya saja bukan?" lalu dia turun dengan unicorn hitam miliknya, di hadapan Takuya, dan para penyihir hitam di sana perlahan mundur, membentuk area tersendiri.

"Hah? Ada apa? kenapa mereka mundur?" tanya Aomine sambil menoleh kesana kemari, lalu dia berbalik "Oh..." dia menyeringai "komandan mereka datang"

"Diamlah gosong, aku hanya meladeni bocah itu" tunjuk Zwei ke arah Takuya.

"Siapa yang kau panggil gosong?!" Aomine protes

"Maa, untuk seorang wanita cantik dan seksi mulutmu tajam juga nona" komentar Takuya tersenyum sinis

"Fufufu, dan untuk seumuran bocah tengik mulutmu manis juga" Zwei tertawa dengan sebelah tangannya ada di depan mulutnya, khas para wanita 'berpangkat' yang Takuya tau. "Tapi ini bukan saatnya untuk basa-basi..." katanya sambil dikelilingi oleh aura hitam keunguan

"Mundurlah Aomine-san, ini adalah duel" kata Takuya mengambil posisi bertarung, Aomine menatapnya sebentar lalu berbalik pergi.

Melihat kawan mereka yang sudah bersiap akan bertarung, Zero dan Kahzan melihat satu sama lain, dan menyeringai "Yah, tak adil jika hanya dia yang bersenang-senang" kata Zero dan mereka berdua terjun ke medan perang.

Zero berhadapan dengan Murasakibara, sedangkan Kahzan berhadapan dengan Kise dan Midorima. sedangkan Aomine membantu siswa lainnya di sisi medan yang lain. Pertarungan yang terlihat jelas hasilnya mungkin pertarungan Murasakibara dengan Zero.

Mata mereka saling bertatap, masing-masing mengambil posisi siap bertarung, dan bersamaan, mereka bergerak, membenturkan sihir mereka.

.

.

.

.

.

TBC


A-Astaga... tak kusangka aku masih hidup

HAAI PEMBACA~ AI SARERU READER-TACHI~ apa ada yang kangen saya? *krik* okay TvT

Sumpeh dah adegan pertarungan itu wow banget, saya kagum ama para author yang memilih genre ini sebagai salah satu genre fictnya yang rada sulit kalau di tuangkan dalam tulisan, jadi saya mohon maaf jika ada yang 'lucu' dari adegan di atas. Yah itung-itung latihan, saya terima saran dan komentar kok tapi tidak dengan flame okay? Oke aja deh #maksa

Oh Yeah tak kusangka jalan ceritanya sudah sampai sini! Wkwkwkwk MASIH JAUH AHAHAHAHA (haaaaa...) yah maafkan jika tidak sesuai keinginan readers, kalo baca chap-chap awal juga kayaknya langsung nge-jreeeng gitu yak, aish saya mah apa atuh -,-'

Oke, komentar anda adalah semangat saya Ov^)~

See you in next chapter~