CH 13
Matanya menangkap bayangan masa lalu, selagi tangan kakinya di rantai dan tubuhnya berlumur darah. "Kau ingin tau apa kesalahanmu?" orang di hadapannya menyeringai. "Kau menyembunyikan hal yang sangat penting dari kami, selama ini" satu luka perih terlukis di kulitnya yang berlumur darah
Kepala dan hatinya memunculkan bayangan 2 orang yang tersenyum cerah, seakan menyilaukan mata 'Taiga... Takuya...' sukmanya memanggil dan berteriak. Memohon maaf atas bunga bangkai yang selama ini dia pasang di mulutnya.
'Maafkan aku...'
Dalam dingin dia menangis, dalam gelap dia menangis, dalam sakit dia menangis. 'Maafkan aku...'
"Ngomong-ngomong, apakah betul dia pasti akan ke sini?" tanya orang itu pada yang lain.
"Pasti, tinggal sedikit dorongan lagi" suara yang dingin mencekam dan jahat, sangat jahat menjawab.
"Ta...kuya..." hatinya memanggil orang yang berharga baginya
Takuya menghindari hujan tombak es yang Zwei rapalkan, dan membalasnya dengan tinju listrik bertegangan tinggi yang ada di tangannya, dan wanita itu berhasil menghindar dengan melompat terbang ke langit. Takuya melompat dan menaiki Direwolf miliknya menyusul Zwei di udara, merapalkan mantra gravitasi dan udara, mereka sejajar dan bertatapan sengit mencari kelemahan musuh mereka masing masing.
Zwei melemparkan bola-bola api berwarna hitam berbau busuk dengan mengayunkan tangannya "Fire element: Hell pieces!" dan panasnya telah terasa bahkan dengan jarak beberapa meter dari Takuya.
Takuya melompat dan mengeluarkan perisai air dari kakinya yang mengayun ke samping lalu dari pedangnya yang dia ayunkan ke bawah muncullah tombak petir yang di perkuat dengan air yang telah berubah menjadi uap, sihir yang bergabung itu membentuk ular besar yang melaju cepat ke arah Zwei. Setelah melepaskan serangan Takuya menaiki Direwolfnya kembali.
Zwei yang terkejut akan serangan itu menghindar, dengan beberapa luka di bagian tubuh karena terlambat menghindar "Cih, tak kan kubiarkan kau menang melawanku!" lalu dia kembali melancarkan serangan tombak es 'Hanamiya-sama...'
Takuya menghindar dengan mulus dan mengangkat satu tangannya bersamaan dengan potongan tanah berupa batu. Lalu dia menurunkan tangannya dan menunjuk kearah Zwei, dan batu itu meluncur cepat kearahnya "Round Wall!" dan batu it terpental dan hancur.
Mereka saling melempar sihir, tapi tak terelakkan juga kontak fisik mereka. Pertarungan tersengit Takuya setelah sekian lama membuatnya semakin bersemangat dan meningkatkan kecepatannya, dengan seringai antusias Takuya tak memberikan celah bagi Zwei untuk melancarkan serangan.
Beralih ke antara Kahzan dengan Kise dan Midorima. Element dominan Kahzan adalah Pasir dan asap. Mungkin terdengar biasa, tapi jangan berharap ini akan menjadi pertarungan yang mudah.
"Di-Dia jadi pasir lagi-ssu!" teriak Kise gelagapan saat pedang apinya menembus tubuh Kahzan dan seketika itu juga tubuh orang tambun itu berguguran menjadi pasir dan di terbangkan angin, lalu menyatu kembali di tempat lain.
Lalu kumpulan pasir itu menembakkan bola-bola kecil seukuran peluru ke arah mereka. Kise dan Midorima melompar mundur untuk menghindar.
Setelah mendarat Midorima berkata "Pasir lemah terhadap air-nanodayo." Sambil mengerutkan alisnya, mencari cara karena elemen utamanya adalah Kayu, disusul elemen sekundernya adalah Angin. 'Sedangkan elemen Kise adalah Api dengan elemen sekunder Cahaya...' pikir Midorima, dia mendecih dan menumbuhkan perisai Kayu dan menghindari puluhan pasir yang mengeras dan membentuk bentuk yang tajam, dan perisai itu berubah menjadi pasir sesaat setelah Kahzan menyentuhnya.
Kise sekali lagi merapal sihir cahaya "Light Element: Falling Star!" dan cahaya seperti bintang jatuh mengarah dari langit ke Kahzan, pria itu berubah menjadi asap dan degan cepat menembus kaki Kise sebelum Kise sempat menghindar. Dan selanjutnya ke arah Midorima tapi dengan mudah Midorima menghindar dan mengaktifkan barier miliknya.
Dan Kise merasa kakinya tersayat oleh sesuatu saat Kahzan menebus "AAARGGH!" teriaknya kesakitan sambil memegangi kakinya yang berdarah, Kahzan dalam bentuk asapa tertawa puas telah dapat melukai musuhnya, dia akui meskipun mereka masih muda, mereka punya pengalaman dan kemampuan diatas rata rata.
"Sial ternyata ini lebih sulit dari dugaanku-ssu! Bagaimana-" . "Kise" perkataan Kise terpotong oleh suara berat yang dia kenal, Kise menoleh ke samping, kearah partner barunya, Midorima. Kise mengangkat alisnya, menyuruhnya untuk meneruskan. Midorima menaikkan kacamatanya "Aku punya rencana" katanya penuh keyakinan.
"Hei kenapa kalian terus menghindar dari tadi? Apakah kalian takut padaku? Hah! Dasar pengecut! Kukira murid sekolah ini adalah yang terbaik di seluruh dunia?" kata Kahzan dengan nada mengejek diikuti tawa yang sinis, sambil memainkan pisau berlumur darah di tangannya "Kalau begini aku akan cepat menghabisi kalian dan bergabung dengan Zwei, kelihatannya dia mengalami pertarungan yang lebih menarik" katanya sambil melirik rekannya yang mengalami kesulitan bertarung dengan Takuya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita akhiri saja-ssu?" dalam sekejap Kahzan merasakan hawa mencekam di belakangnya, dan mendapati manik Topaz melebar mengintimidasi, dengan seringai khas predator. Dan detik selanjutnya, yang orang tambun itu ingat hanyalah Api yang membutakan mata yang terus menghantam tubuhnya, saat ada kesempatan dia berubah menjadi pasir, tapi seperti ada hujan air menetes di area pertarungan mereka, menyebabkan 'tubuhnya' menjadi berat dan terpaksa dia kembali, saat melihat ternyata Midorima menggunakan akar pohon utuk menembus sampai aliran air bawah tanah, menghilangkan akar itu dan dia menyemprotkan air itu keluar dengan sihir anginnya.
Mau tak mau Kahzan tak bisa berubah ke wujud pasir maupun asapnya, tapi tubuhnya yang terbilang gemuk itu tak menghalangi gerakannya yang cukup gesit menangkis dan menghindari serangan Kise setelah beberapa kali kena hantam "Hah! Kalian pikir itu saja bisa mengalahkanku-GAH!" dia merasakan tubuhnya terpelintir bersamaan dengan berhentinya air yang turun, mereka basah kuyup, saat dia akan perubah menjadi uap dengan niat untuk sesaat Kise segera menyerangnya dengan api yang membara di tangannya.
Hantaman ke kanan, ke kiri, ke atas dan Ke bawah yang sangat cepat tak sempat membiarkannya berpikir, Jika dia menjadi uap, suhu panas yang di lepaskan sihir pemuda berambut blonde dan sihir angin yang di rapalkan pemuda berambut hijau itu akan membuatnya lenyap seketika, tubuhnya akan terobek dengan ganasnya angin dan suhu panas akan membuatnya semakin ringan.
Dia mati rasa, alih alih mempertahankan hidupnya dia malah berada di keadaan tak berdaya di tangan musuh "Hem... kurasa jalan manapun yang kau ambil akan membawamu ke keadaan yang sama-ssu" kata Kise dengan polosnya sesaat sebelum dia menancapkan pedangnya yang dia tarik dari jubahnya ke jantung Kahzan hingga menembus tubuh pria tambun itu yang menyeringai
"Aku tak akan bisa mati hanya denan tusukan pedang kau tau itu?" Kisepun menarik pedangnya paksa dan dari dada dan mulut Kahzan keluar darah dengan jumlah yang tidak sedikit. Kise melompat mundur ke tempat Midorima, dengan senyum kemenangan "Uhuk! asal kalian tahu... aku akan pulih dengan cepat, setelah itu-" . "Kau tidak akan bangkit lagi, nanodayo" sela midorima
Kahzan melebarkan matanya saat melihat mata Midorima yang sekarang, walaupun Cuma tipis, memiliki warna merah menyala, dan taringnya bertambah panjang, dengan tatapan tajam nan dingin dia berkata "Jangan meremehkan murid sekolah sihir Mistgound, gendut" dan detik selanjutnya, bersamaan dengan genggaman tangan Midorima, Tubuh pria tambun itu 'pecah'.
Kise bersiul dan hampir tertawa akan perkataan temannya itu "Kau hebat juga Midorimacchi! Apakah semua vampir bisa mengendalikan darah sepertimu?" Tanyanya penuh antusias. Midorima menaikkan kacamatanya.
"Tentu saja-nanodayo" . "WHOOAAAA HEBAT-SSU!" . "Berisik Kise!"
Takuya melihat akhir pertarungan mereka dan tersenyum "Kurasa sudah cukup bermain-mainnya" katanya dengan nada bermain-main.
Zwei mengerutkan alisnya jengkel dan mengangkat tangannya "Jangan alihkan pandanganmu bocah Sombong! Fire element: Armageddon!" dari atas kedua tangannya terciptalah gumpalan api yang menyerupai meteorit raksasa, lebih dari satu, terlihat dia mengerahkan seluruh energi sihirnya untuk serangan ini "HAAAAAAH" dia melepaskan teriakan saat 'melempar' sihirnya ke arah Takuya.
Takuya menghindar dan sekejap mata sudah berada di hadapannya, memandangnya dengan mata yang tajam dingin menembus jiwanya, tak pernah Zwei melihat mata semengerikan itu. Takuya tak berekspresi saat telunjuknya menyentuh dahi Zwei dan sekejap turun petir yang menggelegar dari atas,
"KYAAAAAAAAAAAAAH! HA-HANAMIYA-SAMA! AKU..." . 'Mencintaimu...' adalah kata kata yang terucap. dan Zwei beserta kudanya lenyap, berhamburan seperti abu. Kemenangan yang singkat.
Jauh dari sana, di sebuah kapal yang tengah berlayar menjauh dari pelabuhan, Tetsuya dan Seisirou terus menatap ke arah sekolah. Tetsuya dengan alisnya yang berkerut khawatir, dan Seishirou dengan muka serius tanpa emosinya. Mereka berdiri di pinggir kapal yang bergelimpangan mayat makhluk hitam, dan orang orang yang berlalu lalang sehabis pertarungan.
"Kak, apa kau pikir Taku-nii akan baik-baik saja?" tanya Tetsuya khawatir, dia menggenggam lengan baju kakaknya.
Seishirou memejamkan matanya dan tersenyum, membayangkan kakak tertuanya yang sedang tersenyum lebar "Tentu saja, dengan kemampuan dan pengalaman yang dia miliki, dia tak akan kalah dari penyihir dewasa pada umumnya, dan dia pasti akan menyingkirkan segala yang menghalanginya dari tujuannya" katanya dan dia membuka matanya kembali.
Tetsuya tertawa kecil "Iya-ya, begitulah Taku-nii," lalu senyumannya memudar "tapi aku... punya firasat tak enak tentangnya... apa lagi sekarang entah kenapa kita tak bisa bertelepati dengannya"
Seishirou mengusap lembut kepala adiknya "Semoga itu hanya firasat, doakan saja dia baik-baik saja. Dan tentang telepati... mungkin terputus karena aliran energi sihir dunia yang bergejolak dan tak stabil atau..." dia berhenti dan menurunkan tangannya, lalu dia mengerutkan alisnya sedikit dan bibirnya membentuk garis tipis. Tetsuya menoleh ke arahnya "...Dia sendiri yang memutuskannya agar kita fokus pada keadaan kita dan tugas kita" katanya sambil melihar ke arah medan pertempuran yang berkali-kali memancarkan cahaya, mengepulkan asap, dan memperlihatkan bayangan pertempuran yang sengit, disertai suara suara yang riuh.
Kembali ke medan perang...
Murasakibara mengerutkan alisnya tak suka, ekpresinya kesal atas sesuatu. Dan sebaliknya, pria berwajah rubah –begitulah Murasakibara memanggilnya- sedang menyeringai jahil dengan kedua matanya yang sipit tertutup. "Sudah lelah, Master Sihir?" nadanya sangat mengejek, Murasakibara tambah mengerutkan alisnya dan mendelik tajam "wow, wow, santai saja.. aku hanya bertanya" katanya mengangkat kedua tangannya dan mengendikkan bahu.
Seluruh serangannya tak ada yang kena, seperti lawannya tak pernah benar benar ada di sana, apa dia menggunakan sihir? 'atau jangan jangan... dia terlalu cepat hingga mampu menciptakan bayangan?' pikir Murasakibara menganalisis musuh.
Zero menyeringai "Sekarang giliranku" katanya sambil membungkuk dan berlari cepat ke arah Murasakibara, saking cepatnya Murasakibara tak sempat menghindari serangan fisik pria itu.
Selanjutnya yang Murasakibara tau adalah sakit tak terperi di sebelah wajahnya, dia bahkan mendengar bunyi retakan dari leher dan rahangnya. Tapi tak begitu saja dia membiarkan dirinya melayang mengikuti angin, Murasakibara memegang tangan yang memukulnya itu, menggenggamnya kuat hingga buku jari pria itu gemeretakan, sudut mata pria itu berkedut menahan sakit.
Lalu secara brutal Murasakibara membanting tubuh pria itu ke kanan ke kiri berulang kali, menemukan sedikit celah, tak peduli tangannya patah karenanya atau tidak, Zero memutar tubuhnya dan menjegal kaki Murasakibara yang otomatis membuatnya jatuh terduduk.
Saat Zero akan menikamnya dengan lengannya yang dilapisi es merah, Murasakibara berguling ke samping dan mengarahkan tinjunya ke Zero, tapi dalam sekejap tangannya terperangkap dalam Es, , lalu sedetik kemudian Es-es muncul dari tanah dan memerangkap Murasakibara di dalamnya. Murasakibara melebarkan mata dan Zero menyeringai "well well bukankah ini terlalu mudah?" katanya dengan seringainya yang hampir menyamai istri Aomine. Murasakibara merasakan De Ja Vu singkat.
Lalu Murasakibara mengerutkan alis "Aah, sudah cukup, aku ingin segera mengakhiri ini dan membantu yang lain"-agar Taku-chin memujiku'. Kata kata yang tak tersuarakan dengan lantang, isi hati guardian polos untuk sang master. Murasakibara berkobar dalam aura ungu yang dengan mudah memecahkan lapisan Es padat dengan ukiran mantra di sekelilingnya, butiran Es itu berkilauan di sekelilingnya, dan jatuh bagaikan salju di sekeliling mereka berdua.
Sempat Zero mengaktifkan barier terkuat miliknya dengan mantra singkat dan melindungi wajahnya, tapi itu semua tak cukup untuk menahan serangan sang Master sihir muda di depannya. Murasakibara merapalkan sihir angin dan menghempaskan pria kurus itu bermeter meter jauhnya, lalu Dengan sihir teleport Murasakibara berpindah ke belakang Pria itu, menendang punggungnya dengna kekuatan yang besar dan pria itu terlempar ke arah yang berlawanan, lalu Murasakibara mengulangi lagi aksinya, dan Pria itu kembali merasakan beberapa tulangnya patah dan sakit yang luar biasa, Di serangan yang ketiga Murasakibara menendang pria itu ke atas, membuat pria itu meluncur cepat ke langit dan saat dia melambat dan akan jatuh, Murasakibara sudah berada di atasnya, berputar di udara.
"A-Ampun-" . "Nope, tidak ada ampun" lalu Kaki raksasa itu mendarat di perutnya, menyebabkannya muntah darah, masih di udara, Murasakibara mengangkat tangannya dan berpuluh puluh besi tajam besar seperti tombak mencuat ke atas, menusuk pria itu dengan sadis.
Mereka kira itulah akhirnya, mereka kira perang itu akhirnya selesai karena seiring duel dan pertarungan Takuya dan teman temannya, mereka memanfaatkan sihir yang meleset untuk menggiring dan memusnahkan penyihir hitam yang tersisa, tinggal sedikit dari para penyihir hitam yang tetap berdiri. Hati para murid mencelos lega, sedikit lagi. Dengan harapan yang kian membesar dalam hati mereka melanjutkan pertarungan mereka yang mereka kira akan berakhir sebentar lagi.
Tapi...
NGIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGG
Pendengaran mereka tiba-tiba tak berfungsi, yang mereka bisa dengar hanyalah detak jantung mereka. Dan..
"Kalian para penyihir cilik benar-benar menggelikan" suara yang mengerikan, suara yang jahat, suara yang dingin terdengar di kepala mereka. "Kalian pikir kalian bisa memenangkan pertarungan ini?" lalu dari langit abu abu gelap yang berat, keluarlah sesosok monter yang sangat, sangat besar.
Dengan wujudnya yang bungkuk dan kakinya yang menjuntai, yang terlihat hanyalah sesosok hitam. Tapi semua orang tau bahwa makhluk itu benar-benar mengerikan dan kuat. Mereka tau bahwa itu adalah makhluk yang tak seharusnya mereka lawan.
"Kyaaaaaa!" . "Aaaaaarrrggh!" teriakan kesakitan, ketakutan dan strespun mulai terdengar. Banyak dari mereka yang langsung merasa bahwa hidup mereka berakhir disini. Di sebuah pertarungan yang berlangsung tba-tiba, yang bahkan penyebabnya apa mereka tak tahu.
Makhluk itu berlahan turun, angin berhembus seiring kepakan sayapnya yang robek. Perlahan tapi pasti, makhluk itu turun mendekati medan pertarungan. Besarnya menyamai sebuah pulau. Suaranya seperti gemuruh. Makhluk itu memiliki wujud yang akal manusia tak bisa menjangkaunya.
Takuya menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal geram. "Sial... Apa yang-"
"Kalian akan terbebas dari kematian yang menyakitkan jika memenuhi permintaanku..." kaki beberapa murid melemas, tangan mereka terjatuh di samping badan mereka, kepala mereka terus mendongak ke arah langit dengan tatapan yang sangat ketakutan, mulut mereka ternganga dan gemetar. Beberapa dari mereka mulai menangis. Para penyihir hitam tertawa seperti orang gila.
'Jika terus begini, bagaimana bisa aku mencari Tatsuya...' Batin Takuya miris dalam hati, mencemaskan sepupunya, terbesit senyum lembut pria yang lebih tua darinya itu. Dia membuka matanya 'Aku bisa mempercayakan yang disini pada yang lain, mereka kuat, mereka akan baik baik saja' batinnya meyakinkan diri sendiri lagi 'Tunggulah aku Tatsuya, aku akan membawamu kembali' dia punya firasat bahwa sepupunya itu masih ada di pulau ini. Di suatu tempat yang mungkin belum dia cari.
"Serahkan Akashi Takuya" dan suara nafas yang tercekatpun terdengar.
"A..kashi...Ta..ku..ya?" . "Ta-takuya yang kami kenal memiliki nama marga Kuroko!" . "Dan akashi yang kami tau memiliki nama Tetsuya, Seishirou dan... Seijuurou" . "Apa maksudnya ini?" . "Jangan-jangan..." semua mata melihat ke Arah Takuya yang melemparkan tatapan penuh amarah ke para penyihir di depannya, sosoknya masih tegap berdiri. Dengan Direwolf gagah di belakangnya.
Lalu, sepertinya suara itu memfokuskan pada pikirannya "fufufu... Takuya... tidakkah kau ingin melihat sepupumu lagi?" kata suara itu dengan nada keji dan licik. Takuya masih mengingat suara itu dengan jelas dan mengumpat dalam hati.
"Kau... kau apakan Tatsuya..." katanya menggeram "Khu khu khu... semua tergantung akan pilihan yang kau ambil, Akashi Takuya" kata suara itu kembali yang terngiang hanya pada kepalanya.
"Dire, lacak keberadaan Tatsuya. Shintarou, Ryouta, Atsushi. Kalian tetap disini, kalian pasti bisa mengatasinya bukan?" setelah mengatakan itu, tanpa memberi kesempatan mereka untuk menjawab, Takuya menaiki punggung Direwolfnya dan melesat pergi. Dan bersamaan dengan itu, makhluk dilangit itu menghilang. Dan para penyihir hitam yang tersisapun menyerang kembali dengan makhluk mereka.
"Cih! si bodoh itu, kenapa dia tak sedikitpun mempercayai kita-nanodayo!" gerutu Midorima sambil mengeluarkan mantra dan menusuk beberapa penyihir di dekatnya dengan kayu yang muncul dari tanah.
"Taku-chin, kenapa kau selalu melakukan semuanya sendiri?" tanya Murasakibara entah kepada siapa bersamaan dengan munculnya sihir penyerang yang kuat dari telapak tangannya. Dia juga mengeluarkan aura ungu yang menyelimuti tangan dan kakinya.
"Pokoknya cepat selesaikan yang disini-ssu! Setelah itu kita susul Takuyacchi!" saran Kise dan semuanya mengangguk. Kise, Midorima dan Murasakibara memiliki pikiran yang sama saat itu, yaitu untuk menyusul Takuya.
Murasakibara mulai mempercepat gerakannya dan menguatkan sihir-sihir serangannya bersamaan dengan sihir pertahanannya, Midorima dan Kise saling memunggungi untuk melindungi satu sama lain. Aomine berterung sekaligus melindungi para murid.
"Kalau begini tak ada habisnya!" katanya sambil melihat mayat salah satu penyihir yang dibangkitkan kembali temannya "Kita habisi mereka dengan sekali serang!" lanjut Aomine sambil menggiring dua peyihir untuk membuat serangan mereka menyerang teman mereka disisi lain.
Dengan begitu mereka dengan beberapa murid yang tersisa mengumpulkan kekuatan pada satu titik, mereka merapalkan sebuah mantra panjang dan cahaya-cahaya yang beraneka warna terkumpul, lalu mereka menekannya hingga hanya sebesar bola basket sementara yang lain melindungi mereka. Dan para penyihir melakukan langkah yang sama dengan lebih sedikit orang.
"Ledakannya akan setara dengan nuklir yang mampu meratakan sebuah daratan, apalagi kekuatan kita dan mereka sepertinya akan bertabrakan" ucap Aomine serius, yang lainnya meneguk ludah, dan yang melindungi belakang mereka mendengar "Saat kita akan melepaskannya bersamaan, apa kalian bisa membuat barier untuk semua orang di pihak kita yang masih hidup?" semuanya saling menoleh ke samping kanan dan kiri mereka, Aomine hanya mengamati.
"Ada beberapa dari kami yang bisa, akan kami coba-nanodayo" jawab Midorima.
"Bagus, dalam hitungan kesepuluh. Mengerti?" semuanya mengangguk. Beberapa dari mereka memejamkan mata dan menguar dari mereka aura tipis berwarna. Lalu murid-murid yang lainnya pun dikelilingi oleh aura yang sama.
10
9
8
7
Hitung mudur terus berjalan, kini sebagian besar dari mereka telah terlindungi, dan bola energi di tengah tengah mereka semakin membesar.
6
5
4
3
2
1
Tepat saat seluruh pihak mereka terlindungi, Aomine memberi komando
"LEPASKAN!" dan bola sihir itu dilepas tekanannya, dan memusat pada satu sisi. Ledakan yang besarpun terjadi bersamaan dengan berbenturnya kedua kekuatan. Walaupun mata mereka silau dan Telinga mereka berisik akan angin ribut, mereka tetap mempertahankan serangan mereka.
Sihir mereka mundur, lalu selanjutnya sihir hitam lawan mereka, lalu maju lagi, mundur, maju. Mereka terus meningkatkan fokus mereka hingga Akhirnya Murasakibara memberikan serangan akhir, dia menggabungkan kedua tangannya dan menghentakkannya dengan semua sihirnya.
"HAAAAAAAAA!" teriak mereka bersamaan dengan jeritan melengking para penyihir hitam.(bau mas, bau)
.
Setelah semua selesai, tak disangka medan pertempuran menjadi sunyi senyap, hanya ada suara angin yang berhembus dan deru nafas para penyihir muda.
Mereka semua terduduk dan berbaring, dada mereka naik turun dengan tempo yang sangat pendek.
"Aku tak kuat lagi-ssu..." kata Kise terbaring di atas tanah
"..."Midorima dan Aomine tak sanggup bicara lagi.
"Aku akan menyusul Taku-chin" kata Murasakibara segera berdiri dan meninggalkan mereka.
"Oi Murasakibara-!" saat Aomine, Midorima dan Kise mulai berdiri untuk menyusul Murasakibara, dari kejauhan mereka mendengar teriakan.
"Ooooi! Kalian!" Merekapun menoleh
"Kagami!" . "Kaga-chin" . "Kagamicchi!" . "Siapa dia?" Kise dan Aomine menoleh cepat kearah Midorima.
"Kau tak tau Kagami? Kagami Taiga?!" tanya Aomine tak percaya.(Seriously, Aomine? What the-)
"Memangnya dia orang yang harus diingat?" tanya Midorima polos
"Mau tak mau kita aka mengingatnya Midorimacchi! Dia selalu muncul di berbagai berita di media manapun-ssu!" jawab Kise. Midorima tetap terdiam. "Sepertinya kita salah menanyakan hal ini pada Midorimacchi..." lanjut Kise "Yang dia lihat mah buku perbintangan dan ramalan terus..." kemudian dia menghela nafas dan geleng geleng kepala
"Masalah buat lu ha?" . "Enggak-ssu" . "Ngomong-ngomong dimana Taku?" pertanyaan yang nyelekit langsung terlontar dari Kagami.
"Istrimu jadi sandera coeg, terus keponakanmu itu pergi selamatkan dia" ya gak mungkin mereka menjawab hal itu bukan? Melihat penampilan Kagami yang sangat berantakan seakan memberitau bahwa setelah mendengar kabar dari 2 keponakannya dia langsung melesat kemari. Dari belakang menyusul ketiga adik Takuya.
Kenapa orang tua mereka tak ikut? Karena mereka sedang tak mengadakan pertemuan keluarga/bukan.
Karena masih banyak hal yang perlu mereka kerjakan. Barusan mereka diberitahu bahwa serangan para penyihir hitam juga tak hanya ada di sekolah sihir Mistgound yang telah menjadi reruntuhan ini. Entah kenapa mereka bisa membayangkannya, sebagian bangunan runtuh akibat pertempuran, para dewan dunia sedang gencar gencarnya meratakan seluruh pasukan keamanan di seluruh wilayah. Mereka bisa membayangkan bahwa setelah peperangan ini, dunia mereka tak lagi sama...
Hanya dengan waktu sehari. Mereka seperti berada dalam dunia baru, dunia yang penuh kekacauan.
"Itu...Takuyacchi..." Kise tak bisa menjelaskan, dia tak mau membuat mereka panik apalagi marah.
"Kagami, kuarap kau jangan panik, Takuya saat ini..." Perkataan Aomine terhenti di tengah jalan, tiba-tiba dia tak bisa meneruskan kalimatnya, kata-katanya tak mau keluar.
"Apa? keponakanku kenapa?" tanya Kagami mulai tak sabar.
"Kakak... pergi menyelamatkan bibi Tatsuya" jawab Seishirou dengan nada kecil namun masih bisa terdengar, tangan kanannya masih memegangi telinganya, tangan kirinya memeras celananya, bibirnya merapat hingga membuat garis tipis dan alisnya sedikit berkerut, ekspresinya serius sekali. "Dia lumayan jauh dari sini, tapi aku tau dimana dia"
"Terakhir kali kami mendengar pikirannya kakak terus gelisah, kebanyakan karena memikirkan bibi" sambung Tetsuya.
"Ta-tatsuya... ada apa dengan Tatsuya?!" emosi Kagami naik.
"Tenanglah paman! Tak ada gunanya kau emosi!" Tetsuya memegangi pamannya dan Kagami mulai mengatur nafas setelah menatapnya.
"Kelihatannya Tenebris menjadikannya sandera untuk memerangkap Takuya-nii-san. Seishirou, tunjukan dimana dia" jawab Seijuurou "Tetsuya, kau disini-"
"TIDAK! Aku akan ikut kalian" potong Tetsuya cepat. Matanya memancarkan kekhawatiran sekaligus kemarahan. Lalu darinya keluar aura biru cerah, dan di udara terbentuklah lingkaran sihir.
Dari lingkaran sihir itu keluar makhluk putih seperti bola bulu yang mempunyai dua mata bulat besar dalam jumlah lumayan banyak. "Kesaran Pasara, yang mempunyai air, yang mempunyai udara, tolong sembuhkanlah orang orang malang ini."
Tetsuya masih pemula dalam hal ini, jadi dia masih memakai 'kata kunci' pada makhluk yang di kontraknya. Setelah dia selesai mengucapkannya, makhluk putih itu menyebar, membantu menyembuhkan korban cidera parah maupun ringan.
"Kalau begitu, ikuti aku. Hayama-san, Koganei-san, yang disini kuserahkan pada kalian" kata Seishirou
"Oke! Serahkan pada kami! Tolong bawa kembali Tatsuya-sensei dan Takuya!" balas Hayama dengan senyumnya yang lebar dan cerah meskipun penampilanya sangat berbanding terbalik, penuh debu dan luka sana sini. Seishirou tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka semua beranjak dari tempat itu. Menuju tempat gudang senjata sihir di sekolah.
Mereka terus berlari, walaupun di tengah jalan mereka di hadang oleh sosok-sosok hitam yang keluar begitu saja dari bawah tanah, namun itu tak bisa menghentikan mereka karena perbandingan kekuatan yang begitu jauh. Mereka menebas, memukul, menendang, dan menyerang mereka. Lalu sampainya mereka di depan pintu gudang senjata, itu di jaga oleh dua monster besar dengan bentuk menyerupai laba laba dengan kulit keras, diselimuti oleh aura hitam keunguan dan mempunyai mata yang merah kejam. Kedua makhluk itu tersenyum mengerikan dan memperlihatkan taring taring mereka yang tajam.
Seishirou, Aomine, Kise dan Seijuurou maju menghadapi mereka sementara yang lainnya menerobos masuk kedalam dengan susah payah menghindari pertarungan itu. Lalu mereka membuka pintu dan tiba-tiba-
SWOOOOSH
Angin kencang dan dingin menyeruak keluar. Dinginnya amat menusuk sampai membuat perasaan mereka tidak enak dan di dalam gudang itu mereka hanya melihat ruang hitam legam. Tak terlihat apa yang di dalamnya.
"OI jangan berdiri saja disana! Cepat masuk!" teriak Aomine dari belakang. Lalu mereka berlari masuk, dan setelah itu keempat pemuda itu menghempaskan makhluk yang telah babak belur itu jauh jauh dan berlari kedalam sesaat sebelum pintu berat dan besar itu tertutup.
Mereka berjalan, melewati ruang gelap gulita tersebut, mereka tak bisa mendengar apapun, maupun melihat apapun.
"Gelap sekali" komentar Midorima
"Kau yakin ini bukan jebakan Akashi-cchi?" tanya Kise
"Kau tanya Akashi yang mana? Disini ada tiga Akashi" jawab Seijuurou dingin.
"Err... Seishiroucchi?" jawab Kise sedikit ragu dan rada menciut. Tetsuya menepuk pundak Kise menenangkan sekaligus bersimpatik
"Tak salah lagi, terakhir aku mendegar suara kakak ada disini, dekat sini" jawab Seishirou dengan nada yang tenang 'kak, kau sekarang ada di mana...' batinnya terus khawatir. Lalu Tetsuya memegang tangan kedua kakaknya, mencoba untuk menenangkan mereka. Lalu mereka membalas memegang tangannya.
Mereka berjalan dalam sunyi dan sibuk oleh pikiran masing-masing hingga mereka melihat ujungnya yang bercahaya redup seperti lilin. Merekapun berlari menuju itu dan sampai pada ruangan besar yang berdinding batu yang diterangi oleh cahaya lilin, dan di tengah ruangan berdiri sesosok pemuda.
"Takuya bagaimana keadaan Tatsu-!?" mata Kagami melebar begitu melihat sosok Takuya, dan apa yang mengelilinginya. Begitu juga yang lain.
Di bawah kaki takuya bergelimpangan mayat sekitar 50 orang, dengan keadaan mengenaskan hingga membuat ingin muntah siapapun yang melihatnya, di tambah lagi udara di ruang tertutup itu memperburuk keadaan. Sosok Besar di samping Takuya adalah Direwolfnya yang bulunya bermandikan darah yang mengering. Direwolf itu menggeram rendah dan menunjukkan giginya, matanya bersinar merah dan giginya mengkilat seperti besi. Tak lupa dengan darah yang menetes dari mulutnya dan cakarnya.
Takuya perlahan menoleh kebelakang dan menatap mereka dari samping, hanya satu matanya yang terlihat, dan raganyaseperti memeluk sesuatu. Matanya tak lagi hangat seperti mata pemuda yang mereka kenal, mata yang hangat dan cerah secerah langit musim panas itu sekarang berubah menjadi sedingin es dan kosong seakan menghisap jiwa setiap orang yang memandangnya. Sosoknya tegap dan mengintimidasi siapa saja. 'Tekanan Sihirnya mengerikan... anak ini... benarkah dia Takuya?' pikir Aomine merasakan bulu kuduknya merinding.
Takuya mengalihkan pandangannya dan memeluk erat 'sesuatu' yang di peluknya, membenamkan wajah dan kepalanya ke sosok itu. Tak cukup sampai disitu, tubuhnya di kelilingi oleh rantai yang transparan.
Criink..crink..
Rantai yang berkilau dingin panjang yang berujung pada sebuah sosok besar yang menghilang begitu saja tanpa sempat para penonton yang baru datang tau apa itu.
"Khu..khu..khu... sayang sekali Akashi Takuya..." lalu berjalan seorang pemuda ke hadapan Takuya, asal dari suara jahat dan licik yang membuat semua mengerutkan alis. Sosok yang jubahnya telah robek dan memancar darah di baliknya itu mengulurkan tangannya dan mengelus lembut pipi pemuda bermata kosong itu sekaligus memenyibakkan rambut ke belakang telinganya, lalu mencium keningnya. "ku harap kau tidak menyesali pilihanmu" katanya dengan nada lembut sambil berdiri tegak, masih dengan seringai liciknya lalu dia melompat tinggi, tertelan sebuah lubang hitam yang entah sejak kapan ada disana.
GROOOAAAARR
Takuya hanya diam dan terisak memeluk erat orang yang penting baginya, dan Direwolfnya yang mengaum mengancam, menunjukkan amarahnya pada sebuah titik di atasnya yang gelap gulita, menggetarkan ruangan itu dengan hebatnya. "Selanjutnya kita bertemu kita adalah musuh... sampai jumpa nanti... 'gadis' manis"
Lalu sunyi
Seijuurou kenal suara itu, suara milik seseorang yang pernah membuatnya jengkel "Hanamiya..." geramnya dengan nada yang berbahaya.
Seishirou dan tetsuya menoleh "Kak, kau kenal dia?" tanya Tetsuya, dan dari samping mereka Kise, Murasakibara dan Midorima melesat maju, membuat angin dengan kecepatan mereka, ekspresi mereka penuh kekhawatiran.
Lalu Tetsuya, Seishirou dan Seijuurou ikut menyusul, begitu juga dengan Kagami dan Aomine. Tapi saat mereka telah mendekat, tangisan Takuya mengencang dan ada energi kuat yang melempar mereka mundur hingga mendabrak dinding belakang mereka.
Tangisan penuh kesedihan dan frustasi yang memilukan menyayat hati dari suara yang selalu ceria dan positif, butir butir air mata berkilauan berada di sekeliling wujudnya yang menunduk dalam dalam dan di kelilingi kobaran energi sihir menyilaukan. Dan sebelum mereka sempat mengatakan apapun, Takuya mendongakkan kepalanya dan berteriak keras keras, bersamaan dengan energi sihir terlampau luar biasa untuk remaja seumuran dia, semakin membara dengan kuatnya menyebabkan mereka mengangkat tangan untuk melindungi pandangan mereka dari benda benda yang berterbangan dan cahaya yang menyilaukan.
Dan dalam sekejap mata Takuya menghilang, meninggalkan ruangan yang berserakan di dalamnya bekas petarungan sengit dan sebuah tubuh yang terbaring diam di tengah-tengahnya.
Meluruh mata membelalak "KAKAK!" . "TAKUYA!"
.
.
.
TBC
SUMIMASEEENNNN *niru Sakurai* maaf membuat kalian menunggu begitu lama hiks QAQ)o aku bermaksud untuk up secepatnya tapi inspirasi yang biasanya mampir akhir akhir ini lagi kayak belut di kolam lumpur, susah di tangkep dan juga... kuota itu mahal, untuk orang sepertiku, kuota itu mahal dan nyari wifi yang bisa konek ffndotnet itu susah.
Akh... kukira pas ngetik itu bakal panjang, minimal 5k words lah... tapi Cuma dapet 4k+ words... rasanya tuh kayak ada krenyesnya gitu(?), dan setelah kubaca kembali... It's Suck, i mean it, it's so lame that i want to headbang. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah fic pertamaku yang melibatkan genre action, juga dengan fict satunya yang tengah ku garap. Ffn yang pertama kali kugarap dengan meibatkan fantasy, yang sudah kuduga tak akan lengkap tanpa action jadi aku berjuang semampuku, dengan membaca fict bergenre action fantasy lainnya sebagai referensi tapi ku lihat itu belum cukup, aku akan berusaha lagi! *guts*
Maaf malah ngoceh, maaf jika lama up, dan maaf jika ada kesalahan dalam chapter yang aku garap, jika ada saran jangan segan segan, aku menanti review kalian, percayalah, walaupun tak kubalas aku selalu menanti dan membacanya, semacam mood buster gitu :p
Pertanyaan: apa yang terjadi pada Himuro? Apa yang terjadi pada Takuya? Semua akan terjawab di chapter depan *wink
See you next chapter!
