CH 13

Setelah peperangan besar besaran tiga tahun lalu, di dunia yang hancur, di dunia dengan peperangan yang tak kunjung berakhir, Dewan dunia memutuskan untuk membangun sebuah pemukiman dengan tingkat pertahanan tertinggi di beberapa tempat, satu di antaranya adalah di negara Jepang, dengan nama 'Anzen'. Meskipun begitu, ada beberapa penduduk yang tak mau pindah dan tetap tinggal di tanah mereka, dan salah satu tugas pemerintahan adalah melindungi penduduk yang keras kepala itu.

"Lapor, misi telah terselesaikan, klien telah sampai ke tempat tujuan dan barier telah terpasang di beberapa titik yang telah ditunjukkan, pembagian tim keamanan telah selesai, pengiriman bahan kebutuhan telah selesai, pemurnian sihir hitam dalam radius 10 kilometer telah selesai, laporan selesai." Ucap seorang pemuda tegap dengan tinggi badan melebihi rata rata pemuda seusianya menyerahkan laporannya, warna matanya yang seteduh hijau daun menyorotkan ketegasan di hadapan atasannya yang sedang duduk tenang di mejanya dengan beberapa lembar kertas dan alat tulis di tangannya.

Atasannya itu meletakkan alat tulis di tangannya dan menyangga dagunya dengan kedua tangannya yang di tautkan "Kerja bagus, timmu mengalami kemajuan pesat dalam tiga tahun ini, kuharap kalian tetap mempertahankannya dan kalau bisa, meningkatkannya. Dan untuk misi selanjutnya," Atasannya menyerahkan berkas berisi informasi penting untuk misinya selanjutnya, mata merah-emas itu menatapnya dingin dan tegas seperti biasa "Selesaikan dalam lima hari, selesai itu langsung laporkan padaku." pemuda itu mengangguk mengerti, menundukkan kepala dan berbalik keluar dari ruangan itu.

Berdiri di sebelah sang 'atasan', seorang pemuda bermahkota dan bermanik lazuardi senada menatap pintu yang barusan dilewati oleh pemuda jangkung tersebut, dia menghela nafas "Kau tau misi sebelumnya berat dan hanya memberi waktu tiga minggu dan memberi mereka misi lagi tanpa istirahat? Kak, kau tau bahwa bagi penyihir berbakat sekalipun itu keterlaluan, ada batasnya" katanya dengan suaranya dan nada yang halus, tetap menaruh respek pada pemuda yang duduk di sampingnya.

Sang 'atasan' memejamkan mata "Jika tak kubegitukan, mungkin mereka akan memanfaatkan waktu istirahat mereka untuk mencarinya, dan kau tau kita tak mempunyai banyak orang yang sehebat mereka untuk melindungi wilayah ini yang untuk mendirikannya telah mengorbankan banyak nyawa termasuk mereka" jawabnya dengan tenang, mata heterochrome-nya melirik bingkai foto di atas laci mahoni, terpampang dengan apik foto keluarga dan teman-teman mereka di masa-masa damai itu.

Manik lazuardi seketika menerawang jauh ke luar jendela, terbesit kesedihan yang mendalam di wajah stoicnya yang tak kalah menawan dengan kakaknya itu.

Di lain tempat...

"Heeeeeee!? misi lagi-ssu ka?! Mou! Dia tak punya perasaan! Sudah lama aku tak merawat tubuhku-ssu! Lagi pula kalau begini terus kita tak bisa mencarinya-ssu!" rengek pemuda berambut blonde sambil berguling di kasurnya yang bertingkat dengan kasur pemuda bermanik hijau daun yang senada dengan rambutnya. Di seberang mereka adalah sebuah kasur tingkat juga berukuran cukup besar yang sedang tergeletak diatasnya seorang pria bertubuh besar yang menatap kosong langit langit. Kelelahan jelas terukir di wajah mereka.

Pemuda bersurai hijau itu menyiapkan barang-barangnya, lalu di sela sela itu menaikkan kacamatanya "Kelihatannya dia tak akan membiarkan kita pergi mencari, mengertilah Kise, selalu ada alasan di balik tindakannya-nanodayo. Ah iya, kita berangkat besok pagi-nanodayo"

Kise menggeram sebal di dalam bantal, Murasakibara berguling ke kanan, lalu tak lama setelah itu terdengar suara dengkuran yang teratur dari pria besar itu. Lalu Kise bangkit, mengambil peralatan mandi dan baju ganti berupa kaos oblong dan celana pendek. Midorima menghela nafas dan duduk di tepi tempat tidurnya, mata emeraldnya melirik ke sebuah foto digital yang terpampang dari sebuah chip. Foto dirinya, Koganei, Hayama, Sakurai dan Takuya, dan di belakang mereka menyempil kepala Kise yang sedang nangis.

Pandangan Midorima melembut, itu adalah saat kenaikan kelas di umumkan, tentunya seharusnya ia tak perlu ikut karena kelasnya adalah kelas tertinggi, tapi lengannya ditarik pemuda bersurai hitam yang lebih kecil darinya itu, yang dalam foto tersenyum lebar sambil merangkul teman-temannya yang tertawa bahagia.

Midorima mengalihkan perhatiannya dan menoleh ke jendela, menatap pemandangan di luarnya, pemandangan yang mungkin tak akan pernah terbesit dalam pikiran siapapun. Layaknya dunia baru, reruntuhan tersebar di sana sini, dan langit cerah menjadi pemandangan langka. Burung burung bernyanyi dengan enggan, gemuruh helikopter, dan makhluk yang mondar mandir telah menjadi musik sehari hari kota besar itu.

Usai Kemunculan dan serangan saat itu, semakin banyak penyihir hitam, makhluk kegelapan dan organisasi 'tidak benar' yang muncul, semakin menjamur, membuat kekacauan disana-sini, dan penduduk dunia terbelah menjadi dua sisi. Peperangan sering terjadi, dan kehidupan masyarakat sipi telah berubah menjadi kehidupan militer atau semi-militer. Di beberapa tempat pemukiman terbentuk untuk melindungi 'kawan' mereka, saling memunggungi satu sama lain, saling menjaga satu sama lain. Walaupun berbeda spesies itu tak jadi masalah.

Pemukiman yang mereka tempati adalah yang terbesar di cabang Jepang, bisa dibilang pusatnya, setelah di beri waktu untuk pulih, mereka bertiga diajak bergabung dengan Dewan Dunia untuk berperang melawan sihir hitam yang menyeruak ke permukaan. Masih segar di ingatan Pemuda berrambut hijau itu, saat saat pelatihan yang lebih ketat dari sebelumnya, tenaga 'pengajar' yang ahli yang tak kalah dengan pengajar di sekolah mereka. Pertemuan dengan orang-orang baru yang menambah luas 'dunia'nya, Pembentukan tim, kenaikan pangkat, dan... kepergian orang-orang yang dikenalnya.

"Midorimacchi, jangan melamun-ssu, mukamu jadi lebih serem dari biasanya, entar tambah tua loh" cerocos Kise begitu dia keluar dari kamar mandi, dengan handuk di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.

Midorima menghela nafas dan bangkit, mengambil peralatan mandinya dan baju ganti. Tak membalas perkataan rekan setimnya itu.

Keesokan harinya, dengan baju mereka yang biasanya (Tak ada seragam khusus untuk pasukan keamanan dan perdamaian, hanya tanda pengenal berupa kalung dan pin, tapi untuk tim berpangkat tinggi seperti Tim Midorima, mereka juga di beri jubah dengan bendera Jepang di bagian dada sebelah Kiri mereka) dan perlengkapan yang juga seperti biasa, mereka berbaris pagi-pagi di hadapan tiang bendera yang diujungnya berkibar bendera Jepang, hormat pada lembar kain itu. Lalu setelah itu mereka menurunkan tangan mereka dan berbalik menaiki makhluk yang Kise kontrak.

"Semoga dewa menyertai kalian" ucap seorang nenek yang berdiripun dengan bantuan tongkat, nenek itu tersenyum bersahaja "Hati-hati ya nak" katanya lagi, ngomong-ngomong dia adalah pemilik penginapan yang kini di huni oleh pasukan keamanan dan perdamaian. Midorima dan Kise tersenyum dan mengangguk, sedangkan Murasakibara melambaikan tangan.

Rubah itu berdiri tegak setelah mereka menaikinya "Lurus saja ke Selatan, nanti akan ada yang menyambut kita di sana-nanodayo" kata Midorima, Kise mengangguk mengerti, Murasakibara mengaktifkan barier yang membuat mereka transparan, dan Rubah itu melompat tinggi ke udara setelah berlari beberapa meter.

Mereka terbang di atas awan, dimana Matahari bersembunyi, awan bergelung lembut di bawah mereka, menampakkan pemandangan yang menggelitik hati untuk lompat dan merasakan kapas langit itu, di atasnya memantul sinar mentari dengan bangganya menyinari seluruh langit. Sungguh suatu ketenangan tersendiri melihat pemandangan ini, rasanya sedikit curang mengingat orang-orang di bawah tak pernah bisa melihatnya sesering mereka.

Setelah perjalanan yang sunyi-beberapa waktu Kise akan berbicara tapi setelah itu bakal diam lagi- mereka pun sampai pada tujuan mereka, mereka turun menembus awan, melihat kerlipan cahaya kecil di permukaan bumi, di sebuah desa kecil dekat laut.

"Syukurlah kalian cepat sampai, sekarang tolong ikuti aku, cepat!" kata kapten pasukan yang bertugas di sana, raut wajahnya menunjukkan kelegaan, lalu berubah seketika dengan ketegasan.

Mereka berlari melalui Desa yang sepertiganya telah hancur, menuju ke sebuah tempat dengan dua bayangan besar yang bergerak sembarangan, dengan sekitar mereka beberapa bayangan yang lebih kecil yang menyerang dua makhluk itu. Ketiga pemuda itu terus mendongak melihat pertarungan dengan beda ukuran yang sangat jauh itu.

"Hyuuga-san!" Kise berteriak memanggil ketua itu, Hyuuga menolehkan kepalanya, melirik Kise yang berlari di belakangnya, dia mengisyaratkan untuk diam dan ikuti dia. Sampai di suatu tempat tertentu, di kelilingi oleh penyihir dan tentara biasa yang di senjatai oleh senjata api yang di lengkapi sihir. Mereka berlindung di balik sebuah tembok milik bangunan yang hampir rubuh, kelihatannya para prajurit dan penyihir itu adalah penyerang jarak jauh. Debuman terus menerus menghampiri telinga mereka, diiringi suara-suara lain yang tidak jelas.

Hyuuga, dengan kacamatanya yang berkilat dingin berbalik, wajahnya berkerut serius "Dengar, tugas kalian disini adalah menyerang titik lemah monster brengsek itu, hanya itu." Pria itu menekankan perkataannya yang dirasa paling penting "Untuk evakuasi dan barier kalian tak perlu cemas, karena kami tak selemah itu."

"Eh? Hanya itu-ssu ka?" Kise mengangkat alis, sedikit terkejut. Di kertas yang diberikan yang hanya di jabarkan adalah informasi mengenai situasi desa, pasukan yang di sana sekaligus data beberapa orang berpangkat penting. Sedangkan detail misinya hanya "Turuti perintah yang bertanggung jawab di sana, merekalah yang paling tau, karena mengikuti kondisi" Midorima sempat meremas gemas setelah membaca kalimat terakhir di kertas itu.

"Heeh.. kedengarannya gampang..." komen malas Murasakibara menggaruk tengkuknya

Hyuuga mendengus singkat dan berpaling menatap medan pertempuran "Karena itulah aku hanya meminta satu tim bantuan, 'beruntung'-nya kami mendapat tim 'hebat' seperti kalian, Generations of Miracles." nadanya berselip sinisme di beberapa kata, tapi ketiga pendatang tau itu hanya karena harga diri sang kapten, bukan karena benci atau hal lainnya.

Lalu pria tegas itu menoleh kembali ke arah mereka "Langkahnya terserah kalian, tapi jangan terlalu lama dan heboh sampai mengganggu operasi lainnya. Mengerti?" matanya menyipit sadis

Kise, Midorima dan Murasakibara mengangguk mengerti, lalu mereka berlari keluar, berpencar ke beberapa arah

Selama pertarungan, selain mereka mengenal beberapa penyihir dan prajurit lain mereka juga belajar bertarung secara tim, mengingat kebanyakan mereka selama ini bertarung secara individu. Lalu lawan mereka selain mempunyai kulit yang keras, barier sihir yang kuat dan serangan fisik yang tak main-main, tak ada yang khusus, yang menyulitkan adalah menemukan titik kelemahan untuk menghancurkan pertahanannya.

Midorima berpikir keras di sela sela serangannya, lalu seorang penyihir yang dia tau mempunyai sense buruk akan pantun menghampirinya dan menempelkan punggungnya pada Midorima. "Izuki-san?"

Setelah merapal cepat sihir menyerang pemuda yang lebih tua itu berkata "Midorima-kun, apa kau bisa lihat sisik berbeda warna di leher bawah makhluk itu?" Midorima mengalihkan pandangannya dan menyipitkan matanya ke monster rekasasa di hadapannya "Tepat di batasan antara leher dengan kepala, warnyanya agak tua sedikit ketimbang sisik lainnya" intruksi Izuki lebih jauh.

Midorima menemukannya dan mengangguk, terus fokus ke titik rawan itu. Rawan untuk si makhluk dan rawan di matanya untuk hilang. "Apakah itu titik kelemahannya?" Izuki menepuk bahunya dan mengangguk "Serang sekuat-kuatnya", lalu terbang ke arah yang lain.

Midorima lebih memfokuskan matanya ke sebuah titik kecil itu, berteriak ke arah Kise sedangkan tangannya dan tongkatnya mengumpulkan energi "Kise! Serang sisiknya yang berbeda warna!" dan tenggorokannya terasa nyeri setelah berteriak sekeras itu, sayup-sayup dia mendengar suara ceria itu "Okay-ssu!"

Midorima mengangkat kedua tangannya ke arah monster itu yang perhatiannya teralih ke penyihir yang lain, sengaja mengarahkan tubuh monster raksasa itu agar mudah dibidik, Midorima terus fokus merapal mantra terkuatnya. Kise, di lain tempat, menyerang berbagai titik bersama Murasakibara yang kemungkinan adalah titik lemahnya. Dada, leher, pergelangan kaki...

Mengerutkan alis, Murasakibara dan Kise terbang tinggi ke udara, dan menangkap titik ganjil itu di tengah tengah tengkorak monster itu. Seketika mereka mengumpulkan energi sihir ke senjata mereka, bersiap untuk mengerahkan mantra terkuat mereka. Lalu bersamaan mereka bertiga melepas energi besar itu, sangat besar hingga meredam suara lainnya, membutakan mata dan membuat siapapun yang dengan cerobohnya melihat serangan itu membelalak sempurna. Tentunya orang-orang ceroboh itu akan mengalami kebutaan sementara nanti.

Dan kedua monster itu meledak menjadi debu... mirip salju hitam, menambah suram suasana alam di sana. Ketiga pemuda yang baru datang itu menghela nafas kasar, mengeka keringat yang entah sejak kapan ada di sana, lalu merasakan debaran jantung mereka yang tiba-tiba berdentum keras sekeras langkah monster tadi, dan tubuh mereka yang tiba-tiba merasa lemas.

Saat mereka akan jatuh masing-masing dari mereka tertahan oleh sihir angin seseorang, mereka menoleh dan berterima kasih dalam suara yang pelan, seorang yang bertudung dan lebih pendek –dan mungkin lebih muda- dari mereka itu tersenyum ringan dan mengangguk. Lalu sekalian membawa mereka ke tenda medis terdekat.

"Hanya kehabisan energi sihir, dan persis seperti yang di perintahkan pemimpin kalian itu, empat hari" kata dokter di sana dengan kasual dan senyum tipis, jas dokter putih lusuhnya menutupi pakaian ketat dan minim yang dokter itu pakai, kacamatanya tipis dan dokter itu membiarkan rambut bergelombangnya tergerai, ditambah make up tebal dan rokok di tangannya. Tipikal dokter yang badass sekali.

Kise terbelalak kaget "E-Empat hari?! Apa gak kelamaan?!" dia berteriak histeris dia merasa lukanya tak separah itu dan istirahat dua hari mungkin sudah cukup.

Dokter itu melirik tajam Kise, Kise seketika memekik tertahan "aku berani bertaruh atas seluruh sake yang kupunya,-" dalam hati Midorima dan Kise membatin 'Sake, dia beneran dokter?' dengan sweadrop imajiner yang menggantung "-sekali kalian memejam mata dan merebah diri, kalian tak akan bangun selama 4 hari." Katanya datar dan dingin, sedikit tersinggung.

"hem... ternyata dokter minum sake..." kata Murasakibara kasual, Kise dan Midorima menoleh cepat dengan muka mengancam.

"Ya terus kenapa?" bela Dokter dengan muka jengkel

Midorima berdeham "Terima kasih atas segalanya dokter" katanya sopan, si dokter menghela nafas.

"terserah kalian akan menghabiskan 4 hari ini untuk apa, tapi kalian tidak boleh menggunakan sihir, melakukan pekerjaan berat, stress, mengonsumsi makanan dan minuman beralkohol dan... yah pokoknya yang aneh aneh lah, tapi akan lebih baik kalau kalian tidur saja-" lalu perkataan khas dokter yang agak ngawur itu terganggu oleh teriakan heboh oleh pemudi yang menyibakkan pintu tenda penuh semangat.

"Dan melewatkan pesta ini?! Yang benar saja!" teriaknya dengan senyum secerah mentari.

Si dokter berkacak pinggang dan mengerutkan alisnya tak suka "Mereka adalah pasienku, kuharap kau tak mengganggu mereka Riko-tan"

Gadis itu mengibaskan tangannya, mengisyaratkan semua akan baik baik saja "Oh ayolah, ini hanya pesta barbekyu, apanya yang mengganggu sih?"

Dokter itu semakin mengerutkan alisnya "... Siapa yang masak?" tanyanya penuh selidik kelewat serius

"Mitobe" gadis berambut cokelat itu menjawab inosen "memang kenapa?"

"Untung bukan kau yang masak, aku tak mau pasienku nambah, merepotkan" perkataan si dokter mengundang teriakan protes dari gadis yang masih berdiri di depan pintu. Lalu pintu dari kain itu tersibak sekali lagi, menunjukkan wajah pemuda jangkung dengan alis tebal, rambut hitam dan senyum lembut.

"Oh Mitobe, udah matang?" tanya Riko pada pemuda itu, pemuda itu mengangguk, tak menghilangkan senyum lembutnya. Wajah Riko seketika berubah senang, lalu dia berbalik sekali lagi, menghadap ketiga pendatang yang masih duduk di hadapan dokter mereka

"Ayo! Kalian juga kesana yuk!" katanya sambil berlari menghampiri dan menarik lengan mereka, menyeret paksa dari tenda yang sedikit terkepul asap rokok dokter seksi itu.

Begitu mereka keluar, mata mereka di sapa oleh pemandangan yang telah termasuk lazim saat ini, bangunan hancur, asap berterbangan, orang terluka dan paramedis yang berkeliaran... lalu setelah berbelok ke beberapa bangunan sampailah mereka pada tempat yang disinyalir adalah tempat pestanya. Biarpun terbalut oleh perban, para 'pejuang' desa besar itu tertawa kencang seakan tak perduli dunia telah jadi apa, tingkah mereka konyol seakan orang yang mabuk...

"Kupikir ini hanyalah pesta barbekyu? Riko-san?" tanya Midorima hati-hati

"Aku gak bilang 'hanya' kok, Cuma 'pesta barbekyu', jadi tak aneh kalau ada tambahan lain bukan?" kata Riko sambil tersenyum jahil dan menaik turunkan alisnya. "Nah silahkan di nikmati!" lalu dia berjalan ke seorang pria –Hyuuga- yang menyandarkan tubuh dan kepalanya ke sisa bangunan dan duduk di sebelahnya, berbincang ceria.

Lalu tak lama setelah itu Kise terseret oleh sekelompok wanita hiperaktif, Midorima lebih tertarik mendengarkan cerita dan pengalaman para prajurit dan penyihir veteran di medan, dan Murasakibara kelayapan menjarah seluruh makanan yang ada.

"Hei nak, tolong tambah sake dan wine-nya! Borong setengahnya dari gudang! Kita akan berpesta sampai dua hari kedepan!" teriak seorang pria paruh baya dengan rambut yang telah memutih semua tersenyum lebar pada seseorang berjubah yang Kise dan Midorima sadari adalah orang yang membawa mereka ke tenda medis.

"Baik!" jawab singkat pemuda itu dan dia berlari menjauh.

Sejenak Midorima dan Kise terpaku, 'suara itu... mungkinkah...' lalu dia menggeleng kepalanya tak percaya 'tidak.. tidak mungkin dia tak berubah sama sekali, mungkin hanya suaranya yang mirip'

Pesta berlangsung hingga larut malam, musik yang berdendang membuat para pejuang itu menari di sekitar api unggun, beberapa orang datang dan pergi, situasi yang mirip perkemahan menyenangkan yang biasanya di adakan sekolah, tapi bedanya ini untuk umum, dan ke'gila'annyapun tak terbendung karena tak ada pengawas.

Midorima tak kuasa menahan raganya lagi, jadi dia berjalan ke tenda medis kembali, toh Hyuuga sudah terlalu mabuk untuk sekedar memberi petunjuk tendanya di mana, di belakangnya Kise menghampiri sambil berlari dengan wajah panik, dan langsung menggeret Midorima untuk lari dengan memegang tangannya, dari belakang kepala Midorima bisa mendengar teriakan kekecewaan dari kaum hawa. Masa bodo apa yang terjadi pada kawan berkepala ungu mereka di sana, mereka terus berlari.

Midorima terlalu capek untuk berkomentar, jadi dia diam saja mengikuti Kise entah kemana si blonde ini berlari. saat mereka tak punya tenaga lagi mereka jatuh hampir tersungkur, kenapa hampir? karena saat wajah tampan mereka hampir menyentuh tanah, mereka tertahan oleh sihir angin seseorang (lagi)

"Seharusnya kalian tak usah ikut pesta dan tidur saja memulihkan tenaga... entah apa yang akan nenek sihir itu katakan melihat kondisi kalian, nii-san tachi" komentar suara kekanakan yang sedikit berat itu berkomentar, menunjukkan bahwa orang yang menolong mereka ini adalah seorang pemuda dalam masa awal pubertasnya, tapi suara itu begitu familiar. Sekali lagi lidah mereka berdua kelu. "Oh iya, di mana teman kalian yang satu lagi?" tanya suara itu lagi

Tidak ada yang menjawab, orang itu menghela nafas dan mengangkat Midorima dan Kise dengan ayunan jarinya "Ya sudahlah, servis untuk kalian, akan kuantar sampai tujuan"

Pintu tenda tersibak, memperlihatkan tenda yang kosong "Sepertinya dia tak ada... maa ii ka" gumam pemuda itu sambil menurunkan keduanya yang masih terdiam dan menduga-duga ke atas kasur. Kise sedikit membuka mulutnya saat-

Pintu tenda tersibak lagi "Aoi-chan, kau butuh bantuan?" kata pemuda belah tengah berambut hitam lainnya, tersirat kelelahan di air mukanya yang terlihat ramah itu "Ah, sampai kapan kau pakai jubah itu? Ini tidak seperti serangga akan datang terus kan..." tanyanya dengan muka datar

"Loh serangganya kan kamu Takao" jawab pemuda di hadapan mereka dengan nada bercanda dan tertawa singkat saat pemuda yang lainnya protes, 'Aoi'-pun membuka jubahnya, menampakkan wajahnya.

"Hih! Masa' temen sendiri dibilang serangga?!" protes Takao tak terima dan berjalan mendekat

"Oh, kalau begitu gulma aja gimana?" lanjut 'Aoi' menggoda temannya itu

"... Aku capek ngomong ama elu tong"

"Aku juga kok"

Wajah yang sama, mata yang sama, rambut yang sama, perawakan yang sama, senyum yang sama, aura yang sama... tak mungkin bahwa pemuda di depan Kise dan Midorima ini adalah orang lain, bagaimanapun mereka adalah Guardiannya. Kini terlihat garis tipis yang membentuk gelang di pergelangan tangan pemuda itu, menambah yakin kedua pemuda bermanik Emerald dan Topaz itu.

Bibir Midorima sedikit gemetar "Ta... Takuya?" pemuda di hadapannya menoleh dan memiringkan kepalanya tak mengerti, cutely.

"... Sepertinya kalian salah orang?" dan saat itu juga jantung Kise dan Midorima hampir berhenti.

.

.

.

TBC


SHIIIEEETTT INI APA COBA INI APAAAAAA?! Sumpah, saat aku menggarap kerangkanya itu gak ada rencana kayak gini lho sumpah! Tapi tiba tiba di kepalaku nyempil ide 'Mungkin lebih menarik kalau..." dan ya udah, ane pake.

selama tiga tahun Takuya ngapain? ane tak tau (beneran, gak punya ide, ada saran?)

Hehe, mungkin udah ketebak ya bagian cerita ini, tapi ya... gitu '-') /apa

Yosh! Sampai sini aja deh curcolnya, tolong tinggalkan review saat kalian akan menekan tombol close ato ganti halaman :v

See you next chap!