CH 15
Midorima dan Kise terpaku, jantung mereka berdebar kencang, hampir membuat mereka sesak, dengan bibir gemetar mereka angkat suara "A..Apa?" padahal di hadapan mereka benar benar orang yang mereka cari selama ini, tiga tahun pencarian bukan waktu yang sebentar lagi pula-oh ayolah, mereka adalah Guardiannya!
Pemuda di depan mereka mendengus lelah "aku tak tau Takuya yang kalian sebut ini siapa, tapi..." dia berjalan mendekat dan mendorong pemuda yang lebih besar dan tua darinya itu untuk terbaring di kasur "Istirahatlah, kondisi fisik juga penting untuk penyihir. Aku tau benar karena aku juga penyihir di sini" saat tangan itu lepas dari tubuh mereka berdua, tiba tiba mereka di serang rasa kantuk yang hebat, dan tanpa mereka sadari mereka sudah terlelap dengan nyenyaknya.
Pemuda itu, setelah mendorong mereka untuk terbaring kini melihat ke arah mereka, memperhatikan baik-baik 'aku merasa familiar dengan mereka...' batinnya, lalu bola mata birunya bergulir ke pergelangan tangannya 'lagi pula tanda lahir di pergelanganku juga terus bersinar dari tadi...' lalu dia kembali menatap Kise dan Midorima, tatapannya menyipit bersamaan dengan alisnya yang mengerut 'sebenarnya mereka ini siapa?'
"Aoi-chan, masih belum selesaikah urusanmu? Kenapa kau khidmat sekali melihati mereka?" tanya Takao polos mengintip wajah temannya itu dari belakang, lalu dia melirik Midorima dan Kise yang tertidur pulas "Yah mereka memang ganteng sih, beda jauh ama spesies yang ada di desa kita." Lalu dia terkekeh geli "Yang ganteng di desa ini bisa dibilang Cuma kita berdua sih! pffft!" candanya
Aoi menahan tawanya "Ganteng sih, tapi kau belum punya pacar kan?" katanya mengejek sambil berjalan menuju pintu, diikuti Takao yang nyengir.
"Mereka hanya silau dan minder akan kegantenganku, pesonaku menyiutkan nyali mereka, dan jadilah mereka penggemar rahasiaku" balas Takao narsis "Kayak kau punya pacar aja" lanjutnya sambil melirik sipit ke sohibnya
"Memangnya aku belum memberi taumu ya? Yah, walaupun baru kemarin putus sih." tanya Aoi watados.
Takao berhenti melangkah dan terdiam "Bro, apa yang kau lakuin padaku barusan tuh... Kejam" katanya dengan wajah yang tersakiti. Tangan pada dadanya
"Jangan ngomong yang buat orang lain salah paham bego" balas Aoi dengan muka datar. Tak lama setelah itu mereka tersenyum lagi, dan tawa mereka menghilang di balik pintu kain itu, menuju tempat dimana cahaya kerlap kerlip membanjiri reruntuhan.
Terlewati oleh Aoi dan Takao yang sedang bercanda ria, sepasang kakek nenek dengan raga yang masih tegak memandang pemuda bermata biru itu dengan mata sendu, sang kakek menggenggam tangan sang nenek, mereka saling bersitatap, lalu mengangguk memutuskan.
Ah iya, Murasakibara tertidur di sofa yang diletakkan di dekat api unggun bersama pemuda lainnya yang juga tertidur pulas tanpa memandang tempat, dan baru di pindahkan keesokan siangnya.
.
Aoi POV
Sudah tiga hari mereka tertidur, tapi si kakak kuning, hijau dan ungu (aku tak tau nama mereka) itu tidak bangun bangun, aku terheran bagaimana bisa mereka tidur selama itu, apa karena kecapekan?
Ah, jika ada yang tanya kenapa aku bisa keluar-masuk tenda medis padahal aku bukan dokter atau perawat adalah...
Karena aku disini bekerja sebagai pengantar barang. Istilahnya Kurir.
Di sini berarti di desa ini, karena aku tak bisa diam dalam satu tempat, kakek dan nenekku menyarankanku untuk mencoba pekerjaan ini, dan ternyata cocok, kata mereka juga sekaligus melatih ilmu sihirku agar cepat 'tajam'.
Lalu aku berteman baik dengan anak yang sebaya denganku, Takao Kazunari, seorang lelaki yang terlalu lincah dan riang, bawaannya selalu bercanda dan tawanya menjengkelkan-bahkan lebih lucu dari leluconnya- , tapi dia serius pada waktunya dan... penglihatannya super sekali.
"Kh..." Ah, salah satu pangeran tidurnya ada yang mulai bangun. Berkat mereka luar tenda ini selalu ramai, disini memang kekurangan stok 'pencuci mata' sih. kau tau apa maksudku.
Rupanya si kakak Hijau yang kelihatannya cerdas.
"Selamat pagi" sapa ku dan dia menoleh, dan memasang wajah terkejut sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. Kalau tak salah dia pernah memanggilku...
"TAKUYACCHI?!" sungguh, kakak kuning itu membuatku kaget.
Manik topaznya berkilat penuh harapan padaku, tapi... "Aku bukan Takuyacchi atau siapapun itu yang kalian kira" kataku sambil menghela nafas, apakah kami berdua begitu miripnya? Aku jadi penasaran sama orang yang mereka cari ini.
Normal POV
Aoi bersiap untuk keluar setelah meletakkan botol botol yang terbuat dari kaca pada lemari yang di sediakan, tapi-
"Tunggu" tahan Midorima "Apa kau penduduk asli desa ini?" tanyanya pada Aoi
Aoi berkedip "Iya, aku penduduk desa ini. Makanya aku bilang aku bukan orang yang kalian sangka bukan?"
Kise menggigit bibir bawahnya, terluka. Tapi jika di perhatikan baik-baik, pemuda di hadapannya ini memang mirip Takuya, tapi ini sudah 3 tahun sejak dia menghilang, setidaknya sekarang umurnya 18 tahun, tapi dia... "Kalau boleh tau, umurmu berapa-ssu? Apa kau sekolah?"
Aoi mengangkat sebelah alisnya dan menyipitkan matanya, terheran "Apa ini? Kalian ke sini bukan untuk mengintrogasi ku kan? Memangnya apa pentingnya umurku?" tanyanya penuh curiga
"Sudahlah, jawab saja" kata Kise dingin, muncul perempatan di pelipis Aoi
'Yah jawab saja lah' pikirnya "15 Tahun, tidak sekolah" jawabnya singkat
"tinggal dimana? Bersama siapa?" Murasakibara ikut menyahut. Aoi sedikit kaget, tapi berhasil menutupinya.
Perempatan di kepala bersurai hitamnya bertambah satu "Di rumah kecil di ujung desa ini, tinggal bersama Kakek, Nenek dan Adik perempuanku, kakekku bernama Aoi Sato, nenek Aoi Kanata, adikku Aoi Mitsuki." Jeda sebentar "Dan jika kalian penasaran, namaku Aoi Kaito. Puas?" katanya sambil mendengus kasar dan melangkah dengan cepat keluar dari tenda itu.
'Cih, dasar tukang ikut campur' batinnya kesal. 'Tidak sopan sekali, apa segitu sulitnya bagi orang kota besar untuk bertanya baik baik? Berterima kasihpun tidak!' batinnya menggerutu
Sesaat setelah Aoi keluar dari tenda itu, kepala tiga pemuda itu tertunduk, masih syok dan mengolah informasi tiba-tiba itu. Pemuda tadi adalah Akashi Takuya, tidak salah lagi, tapi... Aoi Kaito? Penduduk asli desa ini? Dan... 15 tahun? Bagaimana bisa?
Dengan cepat Murasakibara mengeluarkan kertas dan alat tulis, dengan petunjuk Midorima dia menulis laporan tentang 'penemuan' yang penting ini, dan bersamaan dengan foto digital yang sembunyi sembunyi Kise tangkap mereka mengirim laporan itu menggunakan lingkaran sihir.
.
Lingkaran sihir tiba-tiba muncul di ruangan itu, dan sebuah gulungan keluar.
Akashi Tetsuya, bersamaan dengan Kagami taiga, Aomine Daiki dan Aomine Shoichi yang berada dalam ruangan itu terkejut akan kemunculan tiba tiba tersebut. Lalu dengan tenang Akashi Seishirou menghampiri gulungan yang masih melayang itu, dan menangkapnya. Lalu dia memperhatikan lingkaran sihir itu yang dalam sekejap menghilang
"Dari Murasakibara-san" katanya sambil menyerahkan gulungan tersebut ke kakaknya yang masih terduduk tenang. Akashi Seijuurou.
Seijuurou sedikit melebarkan matanya melihat gulungan itu, mulutnya sedikit terbuka. Lalu dia cepat cepat mengambil alat berbentuk kotak kecil yang sampai bersamaan dengan laporan itu. Tangannya sedikit bergetar tidak seperti dia yang biasanya, dengan kecerdasannya Seijuurou biasa menganalisis apapun dan telah menebak apa yang akan terjadi. Tapi ini benar-benar di luar dugaan, dengan tiba tiba.
"Ada apa kak? Apa yang tertulis?" tanya Seishirou penasaran sambil mengerutkan alisnya dan menatap heran.
"Shirou... apa kau bisa mendengar 'dia'? seingatku kalian bisa bertelepati dengannya kan?" tanya balik Seijuurou, mengangkat kepalanya dan menatap kedua adiknya bergantian. Tetsuya dan Seishirou menggeleng, terbesit kesedihan dalam tatapan mereka.
"Oi Seijuurou, dari tadi tingkahmu aneh, apa yang terjadi? Apa yang tertulis dan yang ada di sana?" tanya Kagami ikut ikutan penasaran.
Seijuurou terdiam, rautnya mengeras menakutkan, haruskah dia bilang? Sekarang? Tidak bisakah dia menunda hingga dugaan ini telah pasti? Tapi... mereka bertiga adalah penyihir hebat dan berbakat, bawahan kepercayaannya. Bisa dibilang telah termasuk orang dekatnya, dan yang menjadi poin penting, mereka adalah Guardiannya.
Menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, Seijuurou berkata "Telah diduga bahwa Tim yang dipimpin oleh Midorima Shintarou telah menemukan satu satunya orang hilang yang tersisa saat perang tiga tahun lalu, Akashi Takuya" katanya dengan nada tegas.
Terdengar suara nafas yang tertahan
"Ta..Takuya? apa itu benar?" Aomine duluan yang memecahkan keheningan yang penuh tekanan berat itu
Shoichi mengangkat tangannya dan menyangga dagunya, sambil bersidekap, tetap dengan matanya yang sipit alisnya berkerut "... Itu baru dugaan, kita tak bisa begitu saja memutuskan, tapi berhubung ini yang melaporkan adalah Guardiannya... bagaimana kalau kita memastikannya?" usul istri(?) Aomine Daiki ke orang yang memegang kuasa di sini, Akashi Seijuurou.
Kagami dan Tetsuya masih terdiam, sangat terkejut. Orang yang ada di sisi istrinya saat itu telah ditemukan, penyihir berdarah murni terakhir telah muncul, kakak bermata hangat dengan keberadaan secerah mentari terbit telah kembali. Menemukan kemauan, mereka bertekad bersama "Kalau begitu..." . "Jika itu yang di perlukan.."
"Biar aku saja yang kesana!" jeda sesaat "Eh?" mereka berdua menoleh bersamaan.
Seseorang merangkul bahu pria berambut membara itu "Hahaha, Kagami, Tetsu, yang ingin kesana bukan Cuma kalian saja! Dasar dari awal bersemangat sekali" lalu Aomine Daiki mengacak rambut Tetsuya, lalu ditepis kasar keduanya. Daiki hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Shiochi tersenyum-bukan- menyeringai rubah "Jadi? Bagaimana?" tanyanya kembali menoleh ke ketua mereka. "Tak mungkin kita semua kesana bukan?"
Mengesampingkan keinginannya untuk membuat wajah bego kakaknya babak belur, Seijuurou memutuskan diantara orang orang terpercayanya untuk memastikan "Karena kalian berdua bisa bertelepati dengannya, Seishirou, Tetsuya, kalian akan pergi, bersama Paman Kagami, karena sepertinya paman punya banyak hal yang ingin dia bicarakan" dia menyeringai pada pamannya yang tengah mendecih dan memalingkan muka.
Lalu Seijuurou menoleh pada sepasang suami istri yang masih terjalin hubungan keluarga dengannya itu "Lalu untuk Aomine Daiki-san dan Aomine Shoichi-san, karena orang orang tangan kananku sedang pergi, maukah untuk sementara kalian menggantikan mereka? Kurasa tak akan lama" tanyanya sopan dengan senyum tipis. Akashi Seijuurou, bertanya-sopan-dengan senyum. Yah kurasa tiga tahun cukup untuk mengubah sedikit kepribadiannya yang sok absolut itu, atau dia telah memiliki topeng kemunafikan yang cukup ampuh, tak ada yang tau, bahkan author juga/heh
Aomine Daiki dan Shoichi berdiri tegak dan tersenyum tipis "Baik, dengan senang hati" jawab mereka bersamaan
"Seishirou" ucapnya memanggil adiknya. "Hm?" Shirou menoleh
"Aku titip tinjuku padanya, pukul dia sekeras mungkin hingga dia tak akan melupakannya seumur hidup" nadanya memerintah, Seishirou hanya tersenyum tipis dengan misteriusnya "Itu pasti"
With this and that, merekapun berangkat ke Desa tempat Kise, Midorima dan Murasakibara di tugaskan untuk menjalankan misi. Segala pertanyaan mereka simpan dalam hati, menjadi rahasia pribadi, tak ada yang menyuarakannya selama perjalanan menaiki kendaraan yang ber 'bahan kabar' energi sihir itu, topik mereka sepanjang perjalanan adalah apa yang akan mereka lakukan begitu bertemu Takuya nanti. Kebanyakan hanya untuk meramaikan suasana dan bercanda saja.
.
Di sebuah rumah sederhana, di ujung desa
Aoi telah menyelesaikan pekerjaannya hari ini, tepat sebelum malam, jadi dia bisa makan malam bersama keluarganya, setelah menutup pintu, tak usah melepas sepatu yang ia kenakan, dia berjalan masuk menuju ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang makan dan ruang tidur, untuk menemukan bahwa Kakek dan nenek yang selama ini merawatnya, dan kepada mereka juga ia memberi sebagian gajinya, tengah duduk tenang menghadap dirinya dengan muka serius. "Akhirnya kau sudah pulang, Nak. Kemarilah, ada yang ingin kami bicarakan denganmu" ucap sang kakek.
Aoi mengangguk, meletakkan tasnya, menggantungkan jubah pendek yang ia kenakan, setelah itu dia duduk di hadapan mereka. Menyesuaikan diri dengan suasana yang berlangsung.
Si kakek menghela nafas panjang, terlihat untuk menenangkan diri, rasa penasaran Aoi semakin besar "Nak Kaito, kau pernah bertanya kenapa kau tak bisa mengenang masa kecilmu... bukan?"
Ingatan Aoi Kaito terlempar ke masa lalu, sejak dirinya membuka mata di suatu rumah di pagi hari, sepasang suami istri dan gadis cilik yang mendiami rumah ini berkata bahwa ia adalah anggota keluarga mereka,mereka bercerita bahwa ia mengalami suatu kecelakaan saat mencari ikan di laut dan menjadi amnesia. Dan penjelasan itu ia terima begitu saja karena memang tak ada yang aneh, mungkin kepalanya terbentur karang, yang menyebabkan ia amnesia. Bahkan orang orang desa sangat akrab dengannya (terutama wanitanya) jadi tak heran bahwa ia menganggap bahwa dirinya memang orang desa ini.
Lalu setelah itu dia menyadari bahwa dia adalah penyihir, dan belajar dari buku usang yang tersisa di sana, halaman yang bisa dibaca hanyalah yang berisikan mantra sederhana elemen Angin, Api dan Air. Dia belajar dan sekarang hanya bisa menguasai 2 elemen, Api dan Angin dalam waktu 2 bulan.
Aoi mengangguk pelan "Tapi aku tak bisa mengingatnya, kalian bilang aku terkena amnesia"
Mata sang nenek mulai nanar, lalu dia menyapunya dengan punggung tangannya yang sudah berkeriput termakan usia. "Maafkan kami, Kaito, kami berbohong..." suaranya parau, tersirat penyesalan mendalam di nada bicaranya
Aoi Kaito hanya diam dan mendengarkan, terus menatap lurus mereka yang mulai bergetar.
"sebenarnya kami hanya memungutmu... kami menemukanmu terbaring tak sadarkan diri dan penuh luka di pantai... dan Mitsuki yang telah lama memimpikan sosok seorang kakak bersikeras ingin merawatmu." Sang kakek terus terusan melihat tangan keriputnya yang bertaut, raut mukanya tak menunjukkan kebohongan.
"Dan kami juga memerlukan figur yang bisa melindungi keluarga kecil kami... yang tersisa, dan juga... aku tak pernah keberatan untuk mengangkat seorang anak lagi" si nenek tersenyum hangat, di sudut matanya terlihat genangan air bening yang menyayat hati Aoi Kaito.
Aoi menunduk "Ooh... jadi begitu..." seperti ada lubang besar yang begitu saja tercipta, sakit dan menyesakkan, suatu perasaan yang di namakan... Kecewa. "Aku... bukan anak kalian?" katanya sambil mengangkat kepalanya sedikit, pasangan usia senja itu menggeleng pelan "Kalian... hanya menemukanku di pantai dan mengadopsi ku?" pasangan itu mengangguk.
Aoi kembali menunduk, kali ini semakin dalam, dan mengepalkan kedua tangannya erat erat, menekan bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis yang menutupi luka hati.
'Ah... hatiku remuk' tapi si pemuda bermata biru itu tau bahwa niat mereka murni mau menolong dan mengangkatnya untuk menjadi anak mereka, ikatan yang mereka bagi bukan sebuah kepalsuan, dia melindungi mereka, sebagaimana mereka membuat hidupnya lebih berwarna. Tak ada yang dirugikan.
"Tapi kami selalu menganggap mu sebagai anak kami" Aoi mengangkat kepalanya, "dari pertama kami menemukanmu, hingga sekarang, sampai kapanpun" pasangan itu tersenyum dengan air mata yang menetes diam diam, Aoi ikut tersenyum
"Aku juga..."
Pasangan itu menghapus air matanya "Karena itu, kami berpikir bahwa ketiga orang yang dikirim kota Anzen adalah orang yang benar-benar mengenalmu, sebelum kau amnesia. Dan jika itu benar, mungkin sudah saatnya kau untuk pergi."
Aoi Kaito mengerutkan alisnya dan memalingkan muka "Tapi kita belum tau apakah aku benar benar orang yang mereka cari, barangkali penampilan kami saja yang sama." Lalu dia kembali menoleh pasangan di depannya, tersenyum simpel "Lagipula, ada yang bilang bahwa Amnesia adalah kesempatan seseorang untuk menjalani hidup yang baru bukan? Yang menetapkan langkahku selanjutnya bukan kalian" katanya sambil memiringkan kepalanya sedikit dan berkedip, si nenek tertawa kecil, si kakek mendengus geli.
BRUK!
Terdengar suara dari satu satunya kamar di rumah sederhana itu, sontak ketiga orang itu berdiri dan panik berlari memasuki kamar itu
"Mitsuki!" teriak mereka bertiga saat membuka pintu kamar itu secara kasar.
Mata ketiga orang itu terfokus pada seorang gadis cilik yang terbaring lemah di lantai dan berusaha untuk bangkit. Di sebelahnya terjatuh rak kayu dan pakaian serta beberapa buku yang berserakan.
Kaito mendudukkan sosok cilik itu "Mitsuki! Kau kenapa?!" tanyanya setengah berteriak
Wajah adiknya pucat, bulir keringat dingin meluncur bebas di sosok kecilnya "Sa... Sakit... kak..." rintih bocah 10 tahun itu.
Si kakek bertanya kembali dan memeriksa tubuh gadis kecil itu, yang seorang cucu satu-satunya "Mananya yang Sakit Mitsuki-chan?" tanyanya dengan nada yang lebih tenang.
"Seluruh tubuh ku... sakit... sakit... sakit sekali... hiks..." gadis kecil itu menangis dan meremas baju kakaknya "tolong kak... sakit..." dia sesenggukan. Kaito menekan bibirnya dan mengerutkan alisnya, khawatir sekaligus penasaran.
"Sebentar Mitsuki-chan, untuk sementara, tidurlah" lalu tangannya yang bercahaya lembut itu ia usapkan pada wajah gadis kecil yang menderita itu. Dan gadis itupun tertidur secepat ia memejamkan mata. Kaito menoleh pada sepasang suami istri tersebut, menyerahkan adikknya yang terlelap "Sepertinya akan gawat kalau kita mengapa-apakannya, aku akan memanggil dokter dulu" katanya lalu kemudian ia berdiri, berlari keluar rumah.
Di tempat lain, masih di desa tersebut
Kedua Akashi, dan Kagami baru saja sampai dan di sambut oleh tim yang di ketuai oleh kapten Hyuuga, di belakangnya berbaris rapi tim-nya.
"Selamat datang, semoga kalian betah disini" sambutan singkat dan padat itu diucapkan Hyuuga
"Mohon bantuannya" ketiga tamu yang baru datang menimpali.
"Jadi... ada urusan apakah anda bertiga datang ke tempat ini?" tanya Hyuuga dengan sopan, dia tau anak anak muda (dan om-om di belakang mereka) memegang jabatan yang cukup tinggi di Anzen.
"Ah.. kami hanya ingin memastikan keadaan rekan kami yang bertugas disini, juga sekalian berkunjung di desa ini. Desa yang terletak paling jauh dengan kota Anzen." jawab Seishirou tenang tak meninggalkan kesan wibawanya.
'Apa-apaan kharisma anak ini...' batin Hyuuga terheran "Kalau begitu, silahkan ikuti saya menuju tenda medis" katanya sambil berbalik menghadap pasukannya "Pasukan, bubar." Perintahnya singkat dan bersamaan pasukannya menjawab "Baik!" lalu mereka berpencar ke arah lain. Lalu Hyuuga mulai melangkah, dan Kagami, Tetsuya dan Seishirou mengikuti.
Mereka sampai di tenda medis, menyibakkan pintu dari kain itu dan melihat...
Dokter wanita seksi yang merokok dengan tiga pemuda yang duduk diam di hadapannya. Wajah si wanita sadis dan gestur tubuhnya tegap bersidekap, sedang yang lain meringkuk dengan raut muka antara takut, ngeri dan kelewat serius.
Hyuuga, ekpresinya tak terbaca karena kacamatanya memantulkan cahaya dan dia hanya diam saja di pintu masuk, tangannya masih menyibakkan pintu kain itu "... ada tamu untuk mereka bertiga" katanya singkat, datar, tanpa ekspresi lagi. Setelah ia menemukan suaranya.
"Oh, persilahkan mereka masuk, kau boleh pergi." Jawab dokter itu kasual dan menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Lalu ketiga tamu itu masuk, Hyuuga melenggang pergi. Dan si sokter kembali memandang rendah ketiga pasiennya "Kalian ingin mati? Kalau begitu katakan saja, aku dengan senang hati akan menyediakan jalan" katanya sarkastik
"Kami ingin hidup/-ssu. Maafkan kami" jawab mereka serentak dan bersamaan menunduk lebih dalam, menyebabkan ketiga tamunya kaget.
"Apa yang mereka lakukan dok?" tanya Tetsuya tiba-tiba. Suasana hening dengan seluruh mata padanya kecuali kakaknya, terkejut.
"Kapan?" tanya dokter
"Dari tadi, bersama dengan mereka" jawab Tetsuya mengerti maksud pertanyaan dan menunjuk ke Seishirou dan Kagami.
"Ooh! Akashicchi dan Kagamicchi datang menjenguk! Senangnya! Tolong kami-ssu!" dan kometar Kise yang telat itu di barengi oleh wajah gantengnya yang semula terkejut, senang, lalu nangis. Serem.
"Entah apa yang kalian lakukan, harusnya kalian tau kalau mengikuti kata kata dokter adalah yang terbaik, melihat kondisi kalian" Kagami menyilangkan tangannya di depan dadanya, melihati pemuda dan pria yang sebaya dengannya itu penuh perban dan plester, dan tatapan mereka yang masih lelah.
"Aku berniat menghentikan mereka-Nanodayo." Komentar Midorima membela diri sendiri.
Tak sempat Kise dan Murasakibara protes ke pemuda berambut hijau itu, pintu tersibak kasar, memunculkan seorang pemuda bersurai hitam yang bernafas terengah, tubuh di kucuri keringat dan wajah yang panik begitu mengangkat wajahnya yang membuat ketiga tamu baru itu syok "HAKAZE-SAN! ORE NO IMOUTO WA...!"
Mata dokter itu seketika terbelalak dan dengan cepat berlari, terlihat seimbang dengan high heels yang dipakainya, mengambil sebuah kotak obat "Aoi! Kau bawa kotak yang itu dan peralatanku!" teriaknya dengan nada sedikit tinggi, rokoknya di buang, rambutnya di gelung, dan membawa beberapa kimia antiseptik dan sarung tangan karet steril.
Aoi mengangguk dan bergegas membawa barang yang di tunjuk, tak sempat melirik sebentarpun siapa yang ada di tenda itu. Lalu mereka berlari keluar dengan cepat. Lalu keenam orang yang ditinggalkan berpandangan satu sama lain, tak berkata.
.
Aoi dan dokter itu merangsek masuk, tergesa membuka kotak dan mengambil peralatan, si dokter memeriksa badan gadis kecil itu, dari mata, suhu, reaksi tubuh, kadar dalam darah hingga tulang. Selesai, dokter itu memejamkan mata dan mengerutkan alis, menggeleng "Aku tidak bsa menyembuhkannya" katanya.
"Mitsuki-chan mengalami pengroposan tulang dan penurunan sistem imun yang sudah terlalu parah, tubuhnya kekurangan nutrisi, tak ada obat obatan disini yang bisa menyembuhkan bahkan dengan kemampuanku" katanya lagi "Obat disini adalah obat biasa, dan akupun juga hanyalah dokter biasa" lanjutnya dengan sorot mata ketidakmungkinan
"Apa yang kau katakan?" jawab Aoi Kaito "Kau dokter kan? Bukankah tugas dokter adalah menolong orang yang membutuhkannya?!" emosinya menaik
"Kaito..." panggil sang kakek mencoba menenangkan dengan memegang dan mengelus punggung pemuda itu.
"Diam dan dengarkan aku!" balas dokter sengit "Begini lah tempat ini, Aoi, yang lemah akan disingkirkan dan yang kuat akan bertahan, kau pikir berapa orang yang mati dalam sehari di dunia seperti ini?" katanya serius. "Mitsuki-chan sudah dalam batasnya."
Aoi melihat wajah adiknya yang menderita, lalu terbesit ide "bagaimana dengan kota Anzen?" gumamnya "apa pengobatan kota itu bisa menyembuhkan adikku?" tanyanya
"Kau pikir berapa biaya yang akan di keluarkan hanya untuk masuk kota itu? Lalu mengurus administrasi juga keluar uang, dan biaya pengobatannya pun pasti juga mahal" kata dokter realistis sambil memberi pertolongan pertama, beberapa suntikan suplemen dan dosis obat peringan rasa sakit.
"Segala biaya itu akan gratis jika kau mau ikut serta dalam pasukan kami. Aoi Kaito" terdengar suara menginterupsi "Dan kujamin kalau adikmu itu akan sembuh seperti sedia kala" terlihat ketiga tamu yang semula di tenda medis masuk perlahan. Akashi Seishirou tersenyum penuh arti.
Aoi menyipitkan mata pada ketiga orang itu "Dan kalian?"
Sudut mata Seishirou, Tetsuya dan Kagami berkedut, dada mereka tiba tiba sesak, tapi mereka bisa menyembunyikannya dengan baik "Namaku Akashi Seishirou, dan dia Kagami Taiga, pamanku" katanya sambil memperkenalkan pamannya yang mengangguk
"Kau lupa memperkenalkan yang satunya" tunjuk Aoi dengan kepalanya.
Seishirou kembali tersenyum tipis dalam berbagai arti "Dan dia Akashi Tetsuya, adikku" lalu Tetsuya menundukkan kepalanya "Jadi bagaimana, Aoi Kaito?" lanjutnya sambil kembali menatap replica –atau benar benar- kakakknya itu.
Aoi menunduk, menggigit bibir bawahnya, dan menyibakkan rambut adikknya itu kebelakang telinganya dan mengelus kepalanya dengan penuh kehati-hatian. Memang sejak pertama kali ia kesini Mitsuki tidak pernah sekalipun keluar rumah, kalau makan hanya sedikit, tak sebanding dengan jumlah obat yang di minumnya, dia sering sakit sakitan. Dan dia mengetahui bahwa terakhir Mitsuki keluar rumah adalah saat gadis itu menemukan dia. Dan entah karena ketidak beruntungannya atau apa, Halaman sihir pengobatan terbakar di buku usang itu.
"Kaito, lakukan saja apa yang menurutmu benar" Aoi Kaito mendongakkan kepalanya. Melihat neneknya yang berbicara "Kami akan selalu mendukung keputusanmu" katanya lagi dengan senyum
Dengan kalimat sederhana itu Aoi Kaito menetapkan keputusan yang sudah jelas bagi orang yang bertanggung jawab sepertinya, mata dipenuhi oleh tekad sekuat baja dan keseriusan yang jarang keluar dari pemuda yang bagaikan angin sejuk itu. Dia mengangguk dan menoleh ke Akashi bersaudara dan Kagami, yang hampir melebarkan mata terkejut "Tolong sembuhkan adikku".
'Adik-adikmu ada di sebelah sini...' batin Tetsuya sambil menggertakkan giginya di dalam dan mengepalkan tangannya erat, alis sedikit mengerut 'Bagaimana bisa kau hilang ingatan? Taku-nii wa baka'
.
Setelah mengucapkan perpisahan pada kawan, kakek nenek dan para penduduk serta anak anak yang selalu baik padanya, selalu tertawa bersamanya, memberikan kenangan tak terlupa walau sederhana padanya, Aoi Kaito mengucapkan kata-kata yang selalu ingin dia katakan "Terima kasih, karena sudah menjadi temanku, keluargaku yang hangat, meskipun aku hilang ingatan, aku selalu bersyukur bahwa yang menemukanku adalah kalian."
Menggendong Mitsuki di kedua tangannya, setelah pelukan dari Takao, Kakek dan neneknya, dia berbalik dan tersenyum "Aku akan kembali, sampai saat itu, tertawalah!" dan teriakan perpisahan, lambaian, senyum dan air mata meletus bagai kembang api.
Dan jauh di lubuk hati, Akashi Seishirou, Akashi Tetsuya dan Kagami Taiga takjub akan pengaruh pemuda itu bagi desa ini, keberadaannya seperti Angin hangat yang telah lama hilang di dunia ini.
Setelah menjelaskan semuanya pada Midorima, Kise dan Murasakibara yang kebingungan, merekapun berangkat menuju kota Anzen. Diiringi air mata dan lambaian tangan dari para penduduk, dan hormat yang diberikan oleh pasukan keamanan yang bertugas di sana.
