CH 16

Aoi Kaito memasuki ruang Jendral pasukan yang di pegang oleh Aomine Daiki. Aomine sudah mendengar tentang keadaan pemuda di depannya ini, merasa prihatin sekaligus kesal. Antara percaya bahwa pemuda di depannya adalah Takuya yang hilang ingatan atau betul betul orang lain.

'Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan dan harapan.' Batinnya sambil menelisik pemuda itu dan menegakkan duduknya. Di sampingnya berdiri Shoichi dengan tegas seperti yang seharusnya. 'Mulai hari ini pemuda ini adalah bawahanku'

"Sepertinya bodoh menanyakan apapun tentang dirimu sementara data dirimu tepat di hadapanku" katanya sambil sedikit tersenyum miring dan menepuk beberapa lembar kertas di hadapannya "Atau... ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"

Aoi berdiri tegap tak bergeming, tatapannya lurus penuh ketegasan dan keyakinan. Tatapan yang kedua orang di depannya suka, selalu. "Tidak, tidak ada, pak" jawabnya tegas.

Aomine kembali tersenyum, kali ini lebih alami "Bagus, sekarang kau adalah bagian dari pasukanku, bawahanku, dan kekuatanku. Tunjukkanlah bahwa dirimu berguna bagi kami, Aoi Kaito"

"Baik! Pak!"

.

Sekarang Aoi sedang memperhatikan jadwal yang bakal menjadi kesehariannya, lalu mencoba menghafal nama nama yang setidaknya penting untuk di ingat. Dia duduk di pagar koridor depan kamarnya

"Bagaimana wawancaranya?" tanya suara lembut secara tiba tiba

Aoi tersentak dari kertas di depannya, lalu menoleh waspada ke kanan dan ke kiri. Lalu menemukan pemuda bersurai biru sedang berdiri dan tersenyum tipis kearahnya. Aoi langsung berdiri tegap secara refleks.

"Berjalan dengan lancar. Terima kasih atas semua bantuan anda, Akashi-sa-"

"Kau boleh memanggilku Tetsu atau Tetsuya saja, supaya mudah, dan juga, tak perlu pakai bahasa formal" Tetsuya tersenyum tipis

Aoi berkedip, lalu tersenyum hangat "Makasih banyak, Tetsu"

Ingin rasanya aku menghambur memelukmu erat, sekarang kau berdiri tepat di hadapanku, tersenyum hangat persis seperti dulu. Tapi meskipun sekarang kita berada sangat dekat, aku bahkan tak bisa menyentuhmu.

Aoi POV

Yah, mereka memang serius dan tidak berbohong soal merawat adikku jika aku masuk ke pasukan mereka, tapi...

Mana ku tau kalau bakal di taruh di ruang VIP? Kata mereka biaya akan di potong dari gajiku, jadi, sebenarnya seberapa besar gaji seorang prajurit? Sudahlah, jangan dipikirkan.

Ehem... aku masuk dalam divisi 2. Pekerjaanku kini tak jauh berbeda dengan pekerjaanku sebagai kurir sebelumnya. Berpergian ke luar, berbagai tempat, mengantar barang, tetapi dengan beberapa tambahan, seperti 'membersihkan' area tertentu, memeriksanya... pekerjaan ini juga memerlukan otak. Setidaknya aku punya percaya diri terhadap itu.

Aku hanya bisa menghela nafas dan berdoa agar semuanya lancar lancar saja untuk kedepannya "Haaaah..." helaku saat pintu ruangannya kubuka

"Kakak! Kau sudah datang ya!" seru Mitsuki antusias di kasurnya

"Tidak, aku belum datang" udah tau nanya juga, kadang aku heran sama pertanyaan basa basi seperti ini.

"Oh, yaudah, cepet datang ya!" katanya kembali membaca buku. Dan wajahku mungkin seperti mengatakan 'what the hell'

Lalu dia terkekeh geli sambil menutupi mukanya dengan buku itu "Gimana hari pertamanya kak?"

Aku menghela nafas lagi dan melangkah masuk "Hem... kebanyakan tadi hanyalah pengarahan, lalu training sedikit, mulai aktifnya besok" lalu aku menggeret kursi dan duduk di sebelah kasurnya."Bagaimana keadaanmu?"

"Aku sehat kak! Lebih baik dari sebelumnya! Disini hebat ya!" katanya mulai bercerita dengan semangat dan khas anak kecil, mungkin bagi orang lain itu wajar, tapi bagiku ini suatu kebahagiaan sendiri. Tingkahnya selalu mencerahkan suasana "Dokter dokternya baik! Ah, ada suster yang sangaaaat cantik kak! Mungkin lebih tua setahun dari kakak, suster itu pintar, cantik, baik, lembut, perhatian, pokoknya top deh kak!"

"Terus, kenapa kau ceritakan itu padaku?" tanyaku terheran

"Yah kali aja kakak belum bisa move on dari pacar kakak sebelumnya, apa lagi kakak kan JoDI" aku menatapnya penuh tanda tanya. Mitsuki menyeringai jahil "JOmblo Di tinggal matI! Hahaha!"

Aku mencubit pipinya

"Adudududuh! Apa yang kau lakukan pada adikmu yang sakit ini kak!"

Cklek

"Aoi-chan, sudah saatnya... !" tepat setelah aku menoleh ke arah pintu, suster muda itu menjatuhkan papan dan alat tulisnya, matanya terbealak dan wajah cantiknya berhiaskan keterkejutan yang teramat sangat.

Lalu suster itu berlari

Dengan air mata yang berlinang

Ke arahku

Lalu memelukku

...

TUNGGU! KENAPA?!

"Takkun...*sob* Takkun... Kau kemana saja selama ini! Aku merindukanmu!" aah... tidak lagi, oke, kesalahpahaman yang sering ini mulai menggangguku

Dan tepat saat aku merasakan akhirnya ada firasat hadirnya kisah romantis baru dalam hidupku.

Dengan wanita secantik putri ini.

Anjir

"Uh... nona, sepertinya ada kesalahpahaman di sini" kataku, lalu gadis cantik itu melepaskan pelukannya (tepatnya mendorongku) dan menatapku kaget, kali ini dengan kekecewaan yang mendalam dan seakan menyadari sesuatu. Lalu dia mengusap air matanya, dan memalsukan senyum dan menunduk

"Ah, maaf. Sepertinya saya salah orang. Saya benar benar minta maaf" katanya kemudan sambil menegakkan kembali punggungnya "Apa anda keluarga pasien?" tanyanya formal

"Iya, aku kakaknya. Terima kasih sudah merawatnya... uh..." aku gak tau namanya

Dia tersenyum sedih "Namaku Aomine Satsuki"

Aomine? "...Aomine...san. apa aku boleh bertanya?"

"Silahkan"

"Apa kau ada hubungannya dengan pak Aomine Daiki? Kebetulan dia atasanku... mulai besok" kataku tersenyum simple. Sekedar mengakrabkan diri

"Iya, dia ayahku. Jadi anda prajurit baru itu ya?"

"Aku Aoi Kaito, calon anggota baru di Divisi 2. Salam kenal"

"Ah, kaptennya Nijimura-san..."

"Ah, iya. um... jangan jangan kau hafal...?"

Aomine Satsuki tertawa kecil dengan suaranya yang melodis dan gesturnya yang anggun "Iya, terkadang aku membantu Ayah dan Ibu di pekerjaan mereka. Jadi... begitulah"

"Cie... baru juga di omongin" komen adikku dengan datar secara tiba-tiba. Lalu dia memangku wajahnya dan memandang kami berdua "Jangan lupa traktiran kalau udah jadian ya~"

Wajah kami berdua memerah bersamaan "Bukan begitu! Pikiranmu tak pantas untuk bocah 10 tahun, Mitsuki! Kau salah didikan siapa sih?!" lalu di kepalaku terbesit satu wajah yang sering kulihat, saking seringnya sampai aku bosan. Dengan senyumnya yang seakan ingin ku gampar, sifatnya yang pecicilan tak bisa diam

"...Takao..." gumamku rendah. Adikku tertawa renyah

"A-Aoi-chan, ayo ke ruang pengobatan, sudah saatnya, dokter sudah menunggu"

"Oke! Kak, buatlah teman yang banyak ya! Dan jadilah kakak yang bisa aku banggakan!" katanya sambil melompat turun dari kasur dan duduk di kursi roda yang tepat berada di sisi lain kasurnya, di bantu Aomine-san.

Aku tersenyum, adikku mengandalkanku sampai dia berkata seperti itu. Aku tak boleh bertingkah memalukan nih nantinya.

Lalu dia mendorong rodanya dengan cepat dengan kedua tangannya untuk kabur meninggalkan kami berdua, berbelok tajam di lorong depan pintu "DAN TEMUKAN CINTAMU YANG BARU! DASAR JOMBLO BULUKAN! BUAHAHAHAHAHAHAHA!"

Ctik

"Kau tidak imut sama sekali!" tapi kenapa tingkahnya harus urakan begini?! Padahal sebelumnya dia tak begini! Apa jangan jangan dia menyembunyikannya? Jangan jangan inilah pribadinya yang sebenarnya? Yah di kampung keadaannya tak pernah sesehat ini sih. apa yang akan kakek dan nenek katakan saat melihatnya?

Tanpa sadar aku memijat pangkal hidungku

"Hihihi, kalau ada Aoi-chan selalu ramai ya... Ah, apa anda mau melihatnya?" tanya gadis cantik berambut pink sakura di sebelahku

"Tidak, setelah ini aku harus menata barangku dan bersiap untuk besok, terima kasih banyak" kataku kembali tersenyum.

Lalu dia mengangguk "Kalau begitu, saya permisi" katanya sambil melangkah pergi, langkahnya sangat elegan, tutur katanya sangat tertata dan segala hal yang terpancar darinya sangat berkelas... aku jadi ragu bahwa dia hanya sekedar suster atau anak dari jendral... tunggu, kalau anak dari jenderal mah sudah tak heran lagi ya

Normal POV

Dan Aoi pun menggelengkan kepalanya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, dan rumah sakit, menuju asramanya.

Di Koridor rumah sakit dia bertemu dengan pemuda berambut biru langit yang dia temui di desa bersama dua pria berambut merah

"Mata aimashita ne, Aoi-kun" sapa Tetsuya ramah meskipun dia mengecap rasa pahit di lidahnya saat menyebut nama itu.

" Konbanwa, Tetsu" sapa balik Kaito dengan senyum simple, lalu dia berkedip " Oh, kau boleh memanggilku Kaito kok, biar lebih akrab ya? Dan juga kelihatannya kau lebih tua dari ku"

Kuroko tersenyum pahit "Tidak usah... aku akan memanggilmu Aoi-kun saja, lebih... gampang diingat" katanya perlahan dan kepalanya semakin menunduk

Kaito menyadari perubahan ekspresinya, dan dia pura pura tak menyadari, tapi pemuda di depannya ini juga... "Tetsu? Kau kenapa? Tidak enak badan?" tanyanya sambil menyentuh pundaknya.

"Lihat apa yang terjadi disini" Tiba tiba sepasang tangan memeluk Tetsuya secara protektif. Akashi Seijuurou menatap Tajam Aoi. Dan Aoi secara refleks melangkah mundur "Sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya, Anak muda. Dia adalah seorang wakilku yang berharga"

"Tak apa-apa Sei-nii-sama. Dia tak melakukan apapun, kami hanya mengobrol santai. Ya kan Aoi-kun?" kata Tetsuya sambil melepaskan kedua tangan yang merengkuhnya dengan halus.

Aoi berkedip beberapa kali, lalu menundukkan kepalanya "Ah, Oh iya! kami hanya mengobrol! Etto... Akashi-sama. Maaf aku tidak tau kalau-"

"Syukurlah kau mengerti perbedaan kedudukan kalian sekarang. Kuharap kau lebih berhati-hati, Aoi Kaito. Ngomong Ngomong aku Akashi Seijuurou, Wali Kota dari Anzen, dan juga kakaknya" Kata Seijuurou masih menatap tajam pemuda di hadapannya yang sekarang menatap balik dengan tenang, dan ekpresinya netral. Seijuurou sedikit menyipitkan matanya, dan tanpa sadar, tanpa dia sadari dia sedang mencari sesuatu di dalam pemuda didepannya "Ayo, Tetsuya." Katanya sambil menggenggam pergelangan Tetsuya dan menariknya pergi.

"Sebenarnya apa yang kalian lihat dalam diriku?" ucap Kaito pelan. Seijuurou berhenti

"Apa maksudmu?" tanyanya sambil melirik ke belakang. Di mana Kaito juga berbalik dan menatap matanya dengan berani

"Sebenarnya apa yang kalian semua cari dalam diriku? Apa kalian mencari jejak seseorang bernama 'Takuya' disana?"

Seijuurou berbalik dan menghadap Kaito sepenuhnya "Sepertinya kau salah paham dan terlalu percaya diri-"

"Tidak, aku tak percaya diri. Malah merasa terganggu. Terdapat pandangan rindu yang teramat dalam pada mata kalian semua saat menatapku. Aku merasa 'aku' sebagai 'Kaito' tak pernah dianggap ada disini. Kalian melihatku sebagai 'Takuya', apakah karena kami terlalu mirip?" Ucap Kaito dalam nada halus dan sopan, tapi masih tersampaikan perasaannya. Masih ada nada kekecewaan. Sebenarnya ia tak tau pasti, tapi perasaan tak dianggap ini selalu ada saat dia berhadapan dengan orang orang tertentu.

Midorima yang berada tak jauh di sana tanpa sadar bersembunyi di balik dinding bersama Kise. Jantung mereka berempat berdebar kencang saat ini, pada menit menit yang bergulir ini. Dikarenakan sosok ini.

"Tapi kuharap kalian mengingat ini dan menanamkan ini dalam hati kalian. Aku bukan dia"

Dari semua rasa sakit yang ada sejak mereka bertemu dengannya, pukulan kali ini benar benar membuat mereka merasa patah hati. Seijuurou terkejut akan dirinya yang merasa kecewa berat dan dia sedikit melebarkan mata. Tetsuya mengerutkan alis dan menunduk, menekan bibirnya hingga membentuk garis tipis. Dan tanpa berkata apa apa, Seijuurou berbalik kembali dan berjalan pergi.

Tetsuya menoleh ke belakang saat tangannya di tarik, melihat Kaito yang masih dengan ekspresinya yang netral. Dengan mata birunya yang tenang, dan perawakan yang sangat Tetsuya kenal, Kaito menunduk hormat. Dan Tetsuya memalingkan wajahnya, tak sanggup lagi.

Kaito menegakkan punggungnya kembali, dan menghela nafas singkat. Lalu dia berjalan menuju ruang rehabilitasi dan pemulihan 'Lega sekali setelah mengatakannya, tapi aku mengatakan ini hanya pada mereka berdua, sepertinya hal seperti 'itu' akan terus berlanjut... aku mau melihat Mitsuki' batinnya.

Lalu Aoi sampai di depan ruang pemulihan, Jendela besar yang menampilkan apa yang terjadi di dalam membuatnya tak perlu memasuki ruangan itu, lagipula niatnya hanya ingin melihat adik perempuannya.

Terlihat Mitsuki sedang berjuang untuk tetap berdiri, kakinya gemetar dan langkahnya kecil... kedua tangannya menjadi tumpuan dan berpegang pada kedua pipa besi di kanan-kirinya. Keringatnya menetes dari wajah imutnya, setetes... dua tetes... Mitsuki sampai menggertakkan giginya dan menampilkan ekpresi yang terkesan garang

'Huwah, dia bersemangat sekali... padahal tak perlu sampai seperti itu' batinnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.

Mitsuki menggeser genggamannya lagi beberapa senti kedepan, Lalu terlihat ia berusaha mengangkat kakinya, tapi mungkin karena telapak tangannya yang licin karena keringat, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh, Suster yang berjaga di sampingnya tak punya refleks yang cukup cepat untuk menangkapnya, dan dokter yang mengawasi di ujung sambil ikut memberi semangat tadi lari tergopoh menghampiri Mitsuki yang terjatuh.

Satsuki dan si dokter itu terlihat khawatir setengah mati.

Mitsuki bangun, di sudut matanya mulai tergenang air, tapi dia mengepalkan tangannya, mendongakkan kepalanya, lalu melebarkan matanya, ekpresinya lucu sekali 'Oh! Oh! Dia mencoba untuk menahan air matanya!' batin Kaito antusias. Tanpa sadar dia tersenyum dan menempelkan satu telapak tangannya ke kaca.

Lalu Mitsuki mengerjapkan matanya berkali kali, setelah itu menundukkan kepalanya kembali dan Tersenyum ke arah dokter dan menggeleng 'Oho! Dia berhasil!' batin Kaito puas.

"Ku kira kau akan menangis tadi" goda Kaito saat dia melihat Mitsuki yang keluar dari ruang pemulihan bersama suster yang mendorong kursi roda adiknya dan memegangi kantong infus

"Nii-chan!" seru adiknya senang "Kukira kau langsung kembali?" tanyanya selagi Kaito berjalan mendekat dan memutari Kursi roda adiknya

"Biar aku yang mendorongnya" ucap Kaito pada Satsuki dengan senyum, yang di balas anggukan dari sang gadis yang merona. Lalu dia menoleh ke Mitsuki yang melihatnya dari bawah "Aku berubah pikiran. Kupikir akan menarik melihat adikku yang manis ini berusaha keras!" jawabnya dengan senyum jahil. Sambil berjalan.

Wajah Mitsuki memerah malu "Ka-kakak melihatnya tadi?!"

Kaito tertawa "Iya, sayang sekali tak kurekam"

"Duuh! Kakak ini lho! Jangan ceritakan hal tadi pada siapapun lho ya!" Mitsuki membuang muka dan menggembungkan pipinya sebal dan bersidekap.

Kaito kembali tertawa kecil "entahlah, Aku tak menjamin"

"Kakak!"

Tak di sadari oleh keduanya yang sedang seru bercanda, Satsuki hanya menatap bersaudara itu, tatapan dan senyumannya sendu sarat akan kesedihan dan perasaan rindu. Manik pink sakuranya bergulir ke arah gadis cilik yang tersenyum bahagia itu

'Harusnya itu tempat Tetsu-kun... ' batinnya, dadanya sesak sekali, dia seperti akan menangis kapan saja. Lalu dia mengalihkan pandangannya 'Tidak... aku tak boleh berpikir seperti itu' Satsuki menoleh ke arah Takuya-nya, yang sekarang menjadi Aoi Kaito. 'semakin aku melihat mereka, aku akan...'

"Aoi-san" panggilnya, Kaito berhenti dan menoleh "Aku... baru ingat ada urusan mendadak malam ini, bisa aku serahkan padamu sisanya?" tanyanya sambil menyerahkan kantung infus yang dia pegang

"Ah.. boleh saja" kata Kaito menerima infus tersebut "Maaf, memang ini bukan urusanku, tapi... kau kelihatan sedih, Aomine-san. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kaito khawatir sambil memiringkan kepalanya.

"Ti-tidak apa-apa, Aoi-san. Sampai jumpa lagi. Mitsuki-chan, Mata ashita" lalu dia berbalik dan berjalan terburu buru meninggalkan kedua kakak beradik itu.

Kaito melihat sebentar kearah gadis sakura itu pergi, lalu berbalik dan kembali berjalan 'Aku tak tau kenapa tapi... entah kenapa aku sangat peduli dan khawatiran pada beberapa orang yang aku temui disini. Padahal aku tak kenal mereka' batin Kaito penasaran. Lalu alisnya mengkerut 'Ini hal baik sih, memiliki rasa kemanusiaan setinggi ini, tapi bisa bahaya juga. Lagipula... aku merasa mereka sendiri tak melihatku sebagai 'aku'...'

"Sepertinya ada perkembangan ya kak?" tanya Mitsuki dengan nada jahil

"Ini bukan seperti yang kau pikirkan, Mitsuki"

.

Kaito menggendong Mitsuki bridal style dari kursi rodanya, saat Kaito fokus meletakkan Mitsuki pelan pelan ke kasurnya, Mitsuki menatap takjub Kaito 'Seperti pangeran...' batinnya terpesona. Lalu dia tersenyum 'Dan orang yang bak pangeran ini adalah kakakku' hatinya senang sekali.

Setelah Kaito merebahkan adiknya kekasur, dan menggantungkan kantong infusnya, dia melirik ke lutut adiknya yang memar, lalu menghela nafas. Dia berjalan ke kotak P3K terdekat, mengambil balsem, lalu duduk di sebelah kasur adiknya yang dari tadi diam memperhatikannya.

"Aku akan memijatmu sebentar, akan agak sakit" katanya. Lalu dai menoleskan balsem itu ke lutut Mitsuki dan sekitar tempurung lutut sampai bagian belakang. Setelah itu memijatnya pelan pelan.

"...Hiks..."

"Sebenarnya... tak apa untuk menangis, Mitsuki. Menangis bukan berarti diri kita lemah." Kata Kaito sambil tersenyum lembut ke adiknya yang sesenggukan.

Lalu tak lama setelah itu, Mitsuki terlelap. Dan sebelum pergi, Kaito mencium keningnya

Teruslah berjuang, adikku sayang

Jadilah kuat dan tapakilah jalanmu

Jangan menangis lagi, adikku sayang

Kakak akan selalu mendukungmu

.

.

Saat berjalan ke koridor asrama, Kaito bertemu Kise yang sepertinya menunggu seseorang, poninya menutupi wajahnya jadi Kaito tak seberapa bisa melihat ekspresinya.

'Dia kakak kuning yang kemarin...' batin Kaito. 'kalau tak salah namanya...'

"Kise-san? Sedang apa kau sendirian disini?" tanya Kaito.

Tapi Kise diam saja. Kaito merasa aneh jadi dia tak menanyakan lebih lanjut dan berjalan melewati Kise.

Grep

Lalu dari belakang, Tiba tba Kise memeluk Kaito erat erat

'wait, WHAT?!'

.

.

.

.

CLIFFHANGER! aha! nantikan saja kedepannya yee~