Chap 17

Setelah latihan bersama, mereka duduk berdua di bawah pohon sambil minum jus jeruk dingin yang dibuatkan ibu Kise, Takuya memiliki banyak pertanyaan, tapi untuk sekarang, yang paling membuatnya ingin tau melalui pemuda yang duduk di sebelahnya ini adalah...

"Ryouta! Sekarang kau adalah guardianku... tapi sebenarnya Guardian itu tugasnya apa?"

Mata Kise berkilat oleh penyebutan kata 'Guardian'. "Guardian ada bukan hanya untuk melindungi-ssu! Takuyacchi, guardian adalah penyokong tuannya, dengan kata lain-Tangan kanannya! Jadi, jika ada apa-apa, tenanglah! Aku pasti akan membantumu!"

"Heeh... kalau begitu tolong ya! Karena... kayaknya hidupku bakal gak lengkap kalau gak ada hal seru deh~"

Kise tertawa geli "Dasar, memang pencari sensasi-ssu"

.

.

Deg.. Deg.. Deg..

Jantungku berdegup kencang... apa ini?! Kenapa dia?! Apa yang terjadi?!

"Ki...Kise-san?" panggilku, tapi dia tak menjawabnya, malah semakin mempererat pelukannya.

Eh... mungkin dia sedang mengalami hari yang buruk. Dengan ragu ragu aku menepuk kepalanya.

Lalu dia melepaskan pelukannya, aku berbalik dan mendapati dia sudah pergi dengan terburu-buru.

Aoi POV End

Pagi pagi sekali mereka sudah bangun, dengan jadwal ketat khas militer, dalam waktu 10 menit mereka sudah rapi berbaris di lapangan depan asrama. Untuk upacara rutin yang diadakan setiap pagi.

Lalu selanjutnya pasukan terbagi menjadi beberapa bagian dipimpin oleh masing masing kapten.

Di bagian Divisi 2, ada acara perkenalan secara tidak resmi sementara sang kapten scroll layar hologram di depannya seperti membaca sesuatu.

"Whoaaaa, tiap tahun selalu ada anggota baru sih, tapi jarang kita mendapat anggota dari luar wilayah kota Anzen" kata seorang pemuda "ah, ngomong ngomong aku Hayama Koutarou. Salam kenal! Etto... Aoi Junon?" katanya sambil menelengkan kepalanya polos saat jabat tangan. Hayama sebenarnya punya tebakan tentang pemuda di depannya ini, tapi uuntuk sementara dia akan mengikuti arus.

"Kau dapat Junon dari mana?" tanya balik Kaito sambil sweatdrop "Aku Aoi Kaito"

"Apa? Aoi Keith?" tanya Hayama lagi polos

Aoi tersenyum ramah, menganggap senior di depannya lucu dan merasa dekat "... Hayama-san lucu yaa... kayak ada goblok gobloknya gitu" Hayama ketawa renyah

"Tak kusangka omonganmu kasar juga, Aoi Kaito"

"Wah! Midorima! Kenapa kau disini?" tanya Hayama terkejut

"Ah! Kau yang di desa itu... lukanya bagaimana?" tanya Aoi

"Aku kesini untuk memberitahumu bahwa kau mendapat tugas tambahan-nanodayo. Dan juga, lukaku sudah sembuh, terima kasih sudah peduli" Kata Midorima sambil membenarkan kacamatanya. Lalu mengisyaratkan Aoi untuk mengikutinya dengan jari, mereka berjalan agak menjauh dari kerumunan

'Kurasa wajar saja kalau pekerjaanku bakal agak tak biasa' batin Aoi

"Nanti, setelah latihan dan pekerjaan rutin tiap Divisi, kau di tugaskan untuk pergi ke reruntuhan MistGound, sebagai asistenku-nanodayo" Kata Midorima sambil menyerahkan selembaran "itu adalah daftar bawaanmu, pastikan jangan salah membaca namanya. Kebanyakan barang barang ini bisa kau minta pada rumah sakit-nanodayo"

Aoi membaca daftar itu dan mengangguk mengerti "Apa yang akan kita lakukan di sana, Midorima-san?" tanyanya kembali menatap Midorima langsung

Midorima masih sedikit risih dipanggil seperti itu oleh suara yang begitu familiar dengannya, yang dulu selalu memanggilnya dengan julukan julukan aneh seperti Shin-chan, ShinShin, Shippun, Shippyon etc sambil menunjukkan wajah tak berdosa tapi kadang laknat juga, lalu tiba tiba 'Midorima-san'... 'Tuhan, apa Engkau sedang mempermainkan batinku?' kadang Midorima membatin seperti ini.

"... selebihnya akan aku jelaskan saat kita sudah di tempat" jawab Midorima, lalu dia berjalan menjauh. Midorima memijat pangkal hidungnya, lalu memegang lehernya sambil menahan rasa hausnya. Sudah tiga tahun dia tak meminum darah setetespun, dan sekarang itu mulai berpengaruh pada keadaan fisiknya.

Aoi melihati sosoknya dari belakang 'Midorima-san kalau jalan sedikit lemas... wajahnya juga pucat, bahkan untuk seorang vampir'

"Oi Anak baru! Cepatlah berbaris!" teriak kaptennya dari kejauhan

"Baik pak!" dan Kaito berlari untuk mengisi barisan

Jam 15.00, setelah latihan dan pekejaan rutin mereka selesai mereka langsung berangkat menaiki Griffin milik Midorima, dan sampai pada reruntuhan MistGound satu jam kemudian. Di bekas Sekolah megah itu berdiri, masih tersisa distorsi aliran sihir di sana, bekas pertempuran besar besaran di masa lalu tak lekang oleh waktu. Meskipun darah telah mengering, masih ketara kesan mengerikan dari peperangan tersebut. Aoi merinding 'entah kenapa ini terasa...' lalu dia merasa sesak di dada, sedikit sulit untuk bernapas. 'familiar dengan sangat mengerikannya... aku tak ingin ada disini'.

Di markas...

Akashi Seijuurou, dan Akashi Seishirou sedang bersiap, mereka mengganti baju dinas mereka, menyelempangkan tongkat sihir dan pedang mereka di sabuk mereka, mengenakan jas dan jubah dengan lencana yang bertengger dengna bangga di dada mereka, lalu, Topi dengan lencana di sisi kiri kanan, dan yang terbesar ada di sisi depan.

"Di ketahui bahwa ada orang lain selain Midorima Shintarou dan asistennya, Aoi Kaito di reruntuhan MistGound, untuk saat ini masih belum di ketahui mereka siapa, tetapi ada dugaan bahwa mereka adalah musuh..."

"Siapa?"

"Orang orang dari Tenebris"

Tenebris, organisasi gelap yang pertama sekaligus yang terbesar saat ini, dirumorkan bahwa anggotanya adalah orang orang berkemampuan hebat dengan cara tertentu.

Sekilas terlewat wajah seseorang di ingatan Seijuurou. Dia mendecih 'sebaiknya orang itu tak ada disana atau...'

Seishirou melihat gerak gerik kakaknya "Kak, ada yang mengganggumu?" dia mencoba bertanya

"..." Seijuurou terdiam sebentar, "Ada orang dari Tenebris yang tidak ku suka" katanya

Seishirou sedikit terkejut dengan jawaban kakaknya, dia tak menyangka kakaknya akan menjawabnya. "Aku terkejut kau menjawabnya kak, apa yang orang ini lakukan sehingga kau tidak menyukainya?"

"Lain kali akan ku ceritakan, untuk saat ini, kita fokus ke Midorima dan Kaito dulu" lanjut kakaknya dengan nada seorang pemimpin yang tegas seperti biasanya.

Mereka keluar dari Gedung dan memanggil Binatang suci-makhluk panggilan- mereka masing masing, tim yang mereka bentuk sudah menunggu mereka dan dalam keadaan siap. Termasuk Murasakibara Atsushi

Seijuurou berbalik "Kuserahkan yang disini padamu, Tetsuya, Ryouta."

Tetsuya mengangguk "Serahkan padaku kak, hati-hati"

"Aww~ seandainya aku bisa ikut..." kata Kise dengan nada kecewa yang kekanakan.

"Ryouta" panggil Seijuurou ditekankan, Seishirou tersenyum geli

"Baik-ssu!" Kise otomatis menegakkan tubuhnya. Tetsuya menepuk punggungnya prihatin.

Dan anak kembar Akashi itupun pergi, dengan tim terbaik mereka, menuju MistGound.

Angin berhembus menyuarakan lolongan dari sela sela bangunan, mengesankan bangunan yang di kutuk oleh arwah para korban perang yang tak bisa lepas karena dendam mereka. Kesannya seperti itu, kesan yang tak begitu beda dengan desanya dan beberapa tempat yang juga reruntuhan, bahkan terkadang dari laut terdengar suara seperti auman makhluk yang menakutkan.

Aoi melihat lihat sekeliling, lalu ke Midorima yang berjalan di depannya, barang bawaannya kelihatan berat sebelah di banding barangnya Midorima, karena yang pemuda berrambut hijau itu bawa adalah dua buah tas selempang, sedangkan Aoi membawa tas ransel yang biasanya untuk mendaki pegunungan.

Karena terlalu sunyi, Aoi bisa mendengar deru nafas Midorima yang seperti kewalahan, bahkan dia kalau berjalan terkadang bertopang batu reruntuhan yang besar.

"Midorima-san, bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" tanyanya, Midorima menoleh dengan wajahnya yang selalu dingin dan terkesan cuek.

Aoi tersenyum sweatdrop "Aku capek" katanya, lalu dia membenarkan letak tali ransel di bahunya. Midorima menghela nafas lalu duduk. Diikuti oleh Aoi.

Memang Aoi bukan pemuda terpeka di wilayahnya, tapi tidak akan ada yang tak menyadari kondisi orang di hadapannya ini, dia tidak baik sama sekali. Harusnya dia istirahat, kalau kondisi tubuh tidak fit, pekerjaan bakal berantakan, Aoi pernah memaksakan diri bekerja padahal dia demam, dan akibatnya, ia bahkan tak ingin mengingatnya kembali. Dan bahkan jika ternyata semua baik baik saja, orang yang katanya jenius di hadapannya ini membuat Aoi khawatir.

Aoi kenal tipe orang seperti Midorima, si pekerja keras yang tak kenal batas dan harga dirinya cukup tinggi. Sifat seperti itu: ia tidak membencinya "Midorima-san, padahal kondisi tubuhmu bisa dibilang tidak cukup baik. Kenapa kau mau menerima pekerjaan ini?"

Setelah mencoret sesuatu di atas peta, Midorima mengangkat kepalanya "Memangnya kenapa? Kau pikir aku tidak mampu?" tanyanya judes.

Aoi hanya tersenyum dan menutup matanya "Aku tak meragukan kemampuanmu. Tidak sama sekali. Mana mungkin aku meragukan anggota dari pasukan khusus yang bawahan langsung dari penguasa Anzen?" lalu dia membuka matanya, masih tersenyum simpel "Tapi mau tak mau aku mengkhawatirkanmu, sebutlah ini perasaan manusiawi. Apa aku tak boleh mengkhawatirkan rekanku?" katanya dengan senyum lembut dan mata yang menatap lurus kematanya.

Degh

Lagi, dentuman jantung yang memicu adrenalin Midorima dan meningkatkan nafsu alaminya sebagai vampir. Dia tahan, tahan terus dari tadi tapi sepertinya tambah parah saja. Apa karena ia dekat dengan Takuya? Kenapa Akashi Seijuurou menugaskan dia dengannya?

Dia menggenggam erat bajunya di bagian dada, lalu tangan lainnya di lehernya, dia semakin berat untuk bernafas dan tenggorokannya kering sekali.

Aoi melepas tasnya dan menghampiri Midorima "Midorima-san? Kau tidak apa-apa?" tangannya yang semula bermaksud untuk menepuk pundak Midorima di genggam erat oleh pemuda bersurai hijau tersebut. "M-Midorima-san?"

Midorima mengangkat wajahnya. Mata Aoi terbelalak, mata biru aquamarine-nya bertemu dengan mata merah darah.

Sedetik kemudian Midorima mendorong tubuh Aoi kencang hingga membentur tanah, menyebabkan dia sedikit merintih. Tangan dingin dan kuat yang menggenggam tangannya berganti mencengkeram bahunya, tubuh Midorima di atas tubuhnya. Suara Aoi hilang saking syok nya, kemudian salah satu tangan Midorima menahan dagu Aoi untuk tetap mendongak, lalu menggerakkanya agar menoleh ke samping, memperlihatkan lehernya pada vampir lapar di hadapannya. Aoi berusaha untuk lepas, pikirannya kosong karena panik, ia bahkan tak menemukan suaranya. Beberapa senti lagi taring itu akan menancap pada lehernya, dia juga telah merasakan nafas Midorima yang menyentuh lehernya.

"Midorima-san!"

Gasp!

Dalam sekejap mata Midorima kembali hijau, melihat Aoi dibawahnya dia sontak bangun dan menyeret tubuhnya untuk duduk menjauh dan bersandar pada batu yang tadi dia duduki

Midorima menutupi mulutnya dengan satu tangannya "Ma-maaf"

Aoi bangkit duduk dan memegangi bahu juga dagunya yang di cengkeram terlalu kuat "sebenarnya kapan terakhir kali kau minum darah?" wajahnya masih menunjukkan rasa sakit yang di rasakan tubuhnya.

"Tiga tahun lalu" jawab Midorima menundukkan kepalanya.

"Berarti kabar burungnya benar ya..." gumam Aoi tidak terlalu rendah

"Kabar burung?" tanya Midorima

Aoi memaksa tersenyum kembali "Bahwa kau tidak akan meminum darah siapapun selain mastermu, dan karena itu, kau terus menunggunya dan mencarinya selama tiga tahun. Kau benar benar setia dan memegang erat prinsipmu" lalu dia menopang dagunya dengan satu tangannya. masih tersenyum "Maaf kalau tidak sopan, tapi aku menganggap sikapmu itu manis sekali"

Setelah mengatakan itu, Aoi langsung menoleh ke arah lain, dia seperti mendengar sesuatu dari kejauhan. Dan dia melewatkan momen saat dia telah berhasil membuat wajah Midorima Shintarou, salah satu yang berjuluk Generation of Miracles, memerah bagai pemuda kasmaran pada umumnya.

"Tapi Midorima-san, kupikir kau harus meminum darah saat ini, walau hanya setetes" kata Aoi tiba tiba, Midorima langsung menoleh padanya. Aoi tetap memperhatikan ke arah tertentu dan perlahan berdiri "Kita kedatangan tamu"

Dari kejauhan pada arah tepat dimana Aoi mengarahkan pandangannya

Sebuah sosok berjalan santai, dan di sekelilingnya terdapat bola bola api berwarna ungu.

Lalu dengan sekali ayunan tangan ke depan, Bola bola api itu meluncur cepat ke arah mereka dan berubah bentuk menjadi ular, ular itu membuka lebar mulutnya dan terlihat taring yang anehnya tak berbentuk api, tapi besi panas.

Aoi mendorong Midorima menghindar bersamaan dengan tubuhnya, kini mereka saling bertumpang tindih, dengan Aoi di atas. Lalu Aoi sengaja menggores lengannya dengan permukaan batu kasar, menyebabkan darah menetes dari luka, mengalir ke siku, dan jatuh ke tanah

'Dia berbahaya' Aoi menyodorkan lengannya, tepat di hadapan mulut Midorima "Cepatlah Midorima-san, sepertinya tamu kita tak berniat untuk berbincang!"

Midorima mendecih dan dia mengaktifkan lingkaran sihir di bawah mereka dan meluas ke sekitar mereka. Midorima mencoba bangkit duduk dan bersandar, dan Aoi bermaksud untuk pindah, tapi tubuhnya di tahan Midorima, tangan Midorima meraih lehernya, menyingkap beberapa helai rambutnya ke belakang dan memperlihatkan leher putih mulusnya. Mengerti maksudnya, Aoi mencondongkan tubuhnya. Satu tangannya bertopang pada batu di belakang Midorima

"Minumlah, Midorima-san. Cukup banyak hingga kekuatanmu kembali. Jika kau seperti ini saat musuh menyerang, aku sendiri yang repot" ucap Kaito dengan kurang ajarnya

"... Aku tak tanggung akibatnya jika aku terlalu banyak meminumnya-nanodayo" bisik Midorima saat mulutnya telah beberapa milimeter dari kulit bak porselen itu, harum manis yang lembut sekaligus menggoda membuat Midorima tak kuasa bertahan.

Aoi terkekeh geli "Iya iya, aku mengerti" lalu bulu kuduknya berdiri ngeri merasakan taring menancap di Lehernya, ternyata tak sesakit yang dia bayangkan. Tapi cukup membuat berdebar merasakan nafas yang selalu bertiup di leher dan bibir yang menempel di kulitnya.

Tapi entah kenapa, di dasar hatinya, keadaan ini begitu familiar, apa ia pernah mengalami hal seperti ini? 'Tidak, itu tidak mungkin' batinnya.

"Ara? Kurasa tadi disini ada orang?" ucap orang yang diasumsikan musuh mereka. Aoi menegang mendengarkan. "Ah, mungkin hanya perasaanku, sekarang, melapor ke Hanamiya-sama~" lelaki itu berjalan pergi

Tubuh Aoi langsung relax, bersamaan dengan selesainya Midorima dengan menjilati bekas gigitannya. Aoi sedikit kaget sekaligus geli

'Aku bisa jadi menyimpang kalau ini dilakukan sekali lagi, sial' batin Aoi memegangi lehernya sambil bengkit berdiri, di susul Midorima.

Lalu mereka menyelempangkan tas mereka kembali, dan bersegera ke tujuan mereka.

"Hanamiya-sama~" panggil mendayu seseorang kepada pemuda berambut sehitam gagak sebahu

Pemuda itu menoleh "Apa kau menemukan sesuatu Mibuchi?" tanyanya datar dan dingin.

"Fufu~ sepertinya aku telah menemukan hal yang menarik..." Ucap Mibuchi sengaja membuat orang di depannya penasaran

Hanamiya mendecakkan lidahnya "Jangan berbelit-belit! Cepat katakan!" geramnya

"Sepertinya penyihir kecilmu telah kembali ke sini... bersama dengan Midorima Shintarou" Mata Hanamiya melebar sesaat, lalu di gantikan dengann seringai menakutkan.

"Tapi, anehnya sudah 3 tahun berlalu, tapi kenapa fisiknya sama ya?" Mibuchi Reo meletakkan telunjuknya di bawah bibirnya.

"Hm..." Hanamiya hanya bergumam, penasaran, tapi dalam hati dia benar benar menikmati bertarung dengannya dulu, Akashi Takuya, walaupun lebih muda, dia mempunyai kemampuan yang sama, bahkan lebih besar lagi. Akhirnya, Akhirnya! Hanamiya mempunyai lawan yang seimbang dan menyuguhkan sebuah pertarungan yang menegangkan.

Hanamiya menyeringai "Sudah lama kita tak bertemu... bukankah seharusnya kita memberikan mereka 'salam' terlebih dahulu?" dia membentangkan tangannya, di bawah kaki mereka menyebar lingkaran sihir dengan huruf rumit, tapi ada beberapa huruf yang Mibuchi mengerti yaitu:

Waktu dan ingatan.

'Apa yang akan dia lakukan? Aku tak sabar ingin melihatnya' Mibuchi tersenyum antusias.

.

.

.

TBC

err review please?