Chapter 18

"Oi, Kau tidak apa apa? bertahanlah!" seorang anak lelaki menggoncangkan tubuh yang tergeletak di hutan yang menyelimuti sebuah kaki gunung

Kruyuuuuuukkkk~

"..." anak itu berkedip dua kali, mata Aquamarine bertemu manik Amethyst di sela sela helai berwarna ungu, Dia berhenti mengguncangkan tubuh itu dan berbalik menuju tasnya, mengobrak abrik dalamnya seperti mencari sesuatu

Tak lama kemudian anak itu berbalik lagi ke arahnya, memegang kotak bekal dan kantong air. Anak itu meletakkan bekal dan air itu di depannya.

Dia melihat anak lelaki bermata biru itu sekali lagi, dan anak itu tersenyum lebar "Makanlah, kau lapar bukan?"

.

.

Rambut ungu Murasakibara tersibak terkena angin kencang yang menerpa, sekilas Flashback melintas begitu saja tanpa aba-aba. Itu adalah saat pertama kali dia bertemu dengan Takuya, anak yang disebut sebagai salah satu anak jenius, tak hanya rupawan dan dari keluarga terpandang. Pertemuan mereka sederhana dan kebetulan sekali.

Di sebuah hutan kecil di atas bukit, dibawah langit sore saat musim gugur, seperti saat ini.

"Teringat akan sesuatu Murasakibara-san?" Tanya Seishirou yang bersama dengannya, di belakang mereka ada beberapa penyihir lainnya yang sibuk dengan urusan mereka masing masing, dan ada juga yang berbincang 'santai' (gimana mau santai, yang ada mah teriak teriak -_-)

Murasakibara mengangguk "Un, aku bertemu dengannya persis saat langit seperti ini, tak membakar dan tak membeku juga. Dia menemukanku dan menyelamatkanku yang tergeletak kelaparan di sebuah bukit, dan aku punya perasaan ingin melindunginya begitu aku melihatnya..." kata Murasakibara menjelaskan.

'Aka-chin...' Seishirou sedikit terkejut dengan nama panggilan tiba tiba untuknya "Tepatnya kapan kalian bertemu?" tanyanya kembali

"Um... aku tidak ingat" jawab Murasakibara sambil membuka lolipop, dia menawarkan kepada Seishirou tapi di tolak dengan halus, Murasakibara memakannya "Mungkin 4-5 tahun yang lalu... Aah, dia juga sering menceritakan tentang kalian, ketiga adik yang lucu dan menggemaskan" Murasakibara tersenyum sedikit.

Ah

"Begitu ya..." Seishirou tersenyum hangat menghadap matahari terbenam.

Seijuurou menatap liontin yang dulu pernah dia beli bersama kakaknya itu, Semakin hari bayangan yang sekilas ada semakin jelas di sana, dan kini. Ada bayangan baru, seseorang terbelah menjadi dua dan sosoknya kacau, berlatar belakang hitam. Lalu, Penyihir hijau dan Hitam.

Entah kenapa Seijuurou langsung mengaitkannya dengan Midorima dan Hanamiya.

Dia menggenggam erat liontin itu, dan kembali meletakkannya ke sakunya. Perasaan resah terus menggelayut di dada.

Kembali bersama Kaito...

Di tengah kabut tebal dan di depan sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh mengintimidasi sekelilignya, adalah sebuah gedung besar yang disinyalir adalah gudang senjata dari sekolah MistGound. Dindingnya telah dilumuti, Pintunya telah berkarat, dan seluruh bangunan di tumbuhi tanaman jalar yang ketika di sentuh Midorima perlahan mundur dan lalu membuka pintu untuk masuk ke bangunan tersebut

"Ukh!" pekik Aoi seketika menutup hidungnya begitu bau dari dalam menguar, sangat busuk

'Ini dia' batin Midorima tegang, lalu dia melangkah masuk

Aoi terdiam, dia tak berani melangkah masuk, kakinya seperti terbenam di depan pintu, jantungnya berdetak kencang seiring kepalanya yang berdenyut 'Aku tak ingin disini' pikirannya menampilkan bayangan bayangan layaknya kaset rusak, dia memegangi kepalanya dan merunduk 'Aku...'

Sebuah bayangan terpantul, bayangan seorang lelaki berambut hitam dan memasang senyum minta maaf yang lembut, membelai pipinya sambil menangis di matanya yang terdapat sebuah beautymark.

Takuya... maafkan aku...

Aoi terkesiap begitu mengetahui tangannya di tarik oleh tangan yang lebih besar, melihat ke atas, itu adalah Midorima.

"Apa yang kau lakukan, semakin cepat kita menyelesaikannya maka semakin cepat kita pulang, kau tak merindukan adikmu?"

'Mitsuki... ya, Mitsuki... dia pasti menungguku pulang sekarang... bertahanlah Kaito!' batin Kaito pada dirinya sendiri, dia melepaskan genggaman tangan Midorima "Terima kasih, Midorima-san aku baik baik saja sekarang" katanya menatap Midorima dengan senyum dan tatapan yang tegas seperti biasanya

Midorima melebarkan matanya sedikit, lalu berbalik kembali, menaikkan kacamatanya "Bagus, ayo"

.

.

Telah beberapa lama mereka berjalan, menyusuri setiap lorong, meneliti bagian patung dan relief... isinya hanya itu saja tapi yang paling mengganggu memang bau mengerikan yang Kaito tak tau berasal dari mana 'ruangan ini begitu tertutup hingga tak ada angin yang berhembus... jika dari luar sepertinya tidak mungkin...' Pikir Kaito sambil membenarkan letak tas di punggungnya dan mencatat keadaan atas perintah Midorima yang mengecek sisi lainnya menggunakan peralatan yang lebih canggih.

Kaito melirik iri 'apa apaan perbedaan yang mengintimidasi ini...'

Semakin lama Kaito menyadari bahwa perasaan yang ada semula bertambah besar dan besar. Takut, gelisah, dan perasaan negatif lainnya yang bercampur aduk. Dia berusaha menekan dan menekannya tapi tak seefektif sebelumnya.

Keringatnya sedikit demi sedikit bercucuran, pikirannya semakin tak tenang

Hingga akhirnya, mereka telah sampai pada sebuah ruangan terbesar di bangunan itu

Kaito's stomach dropped instantly

Mayat

Mayat di mana mana

Tengkorak

Bau busuk

Bercak darah

Organ yang berceceran

Bangkai

Menakutkan

Kaito cepat cepat mengalikan pandangannya dan berbalik

"Kaito! Kau mau-"

Tiba tiba, sebuah lingkar sihir terbentuk, menyebar di segala penjuru dan menghalangi Kaito untuk keluar.

Kaito menutupi pandangannya dengan lengannya "Apa yang-?!"

"Sekian lama kau menghilang, apa kau tak mau menyapaku terlebih dahulu? Akashi Takuya?"

Kaito berbalik, dan di tengah tengah tumpukan mayat itu bangkit sebuah sosok yang mengenakan jubah, lalu mereka bertatap mata, sosok itu menyeringai lebar

"Kaulah yang melakukan semua ini pada anak buahku yang berharga, bukankah tak sopan kalau kau melupakan mereka begitu saja?" Sosok itu mengangkat sebelah tangannya, dan akibatnya, mayat mayat itu bangkit kembali. Tapi mungkin hanyalah sebuah ilusi

Dengan cepat Midorima menarik tongkat sihirnya dan membatalkan mantra tersebut

Mata Kaito melebar, tubuhnya bergetar hebat 'aku... yang...?' matanya melirik ke mayat yang berserakan, nafasnya memburu seketika, dia lembali memegang kepalanya dan mencengkramnya kuat kuat "AKU BUKAN AKASHI TAKUYA! AKU... AKU...!"

"Kaito?" tanya Midorima terheran 'apa ingatannya mulai bangkit?'

Sosok itu menyipitkan matanya "Hoo, sepertinya ada yang mengunci ingatanmu" katanya dengan tenang, "Tapi tenang saja, kau akan segera aku lepaskan..." Dari tangan sosok yang seluruhnya hitam itu keluar sebuah mantra, dan melesat cepat ke arah Takuya lalu di tepis dengan kuat oleh sihir dari Takuya sendiri.

Mata Takuya terpaku pada lingkaran sihir di bawahnya. "Hey kid, it's the time" sebuah suara dan bayangan sosok bukan manusia muncul di kepalanya.

Kepalanya berdenging kencang

Di tengah aliran sihirnya sendiri yang tak terkendali, mengalir deras ingatan yang tak 'Kaito' kenal. "AAAAAAAAAAAAAAAGH...HAAAAAAAAGH...AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGH!" teriaknya kesakitan. Dia berteriak, berteriak hingga tenggorokannya sakit. Air matanya keluar seiring ingatan itu kembali dengan kasarnya, kepalanya seperti mau pecah.

Masa kecilnya, Keluarganya, teman-temannya, gurunya, sekolahnya, pertempurannya, kelahiran, kehidupan, kematian, Dunia yang luas, masyarakat yang berbeda, pandangannya. Semuanya kembali. Tapi, ada beberapa potongan yang tak dia kenal

Di sebuah dunia hitam, dia sendirian, tidak-ada sesuatu yang bersamanya.

Takuya menyipitkan matanya, tak mengenali

Sesuatu itu menyeringai lebar, lebar sekali "Kid, until when are you going to deny it?"

Mata 'Aoi Kaito' terbalalak 'Aku...' , sesuatu itu tertawa seperti maniak dengan suaranya yang menakutkan, lebih ke suara monster. Dia menyadari apa yang ada di hadapannya 'Kau yang waktu itu...!'

.

Midorima yang diikat oleh mantra yang kuat tak bisa apa-apa selain melihat...

Rantai itu kembali lagi, rantai yang sama dengan tiga tahun lalu. Rantai dengan suara yang sunyi

Dan dia mengikuti rantai itu dan ada satu nama saat dia melihat apa yang ada di ujungnya

Shinigami.

'Apa?!' Midorima terkejut bukan kepalang

Di markas kota Anzen, tiba tiba Tetsuya jatuh berlutut di tengah koridor menuju ruangannya.

"Tetsuyacchi?! Kau kenapa-ssu?" Tanya Kise begitu dia berhasil menangkap tubuh Tetsuya agar tak terjatuh 'Ringan sekali' pikirnya, Kise sangat akrab dengan Tetsuya sampai sampai pengawasan kedua kakaknya ada padanya, tapi dia tak memikirkannya karena mereka teman, pernah sampai Kise terpesona dengan Tetsuya saat pertama kali mereka bertemu. Dia bahkan langsung menanyakan apa Tetsuya adalah ras Malaikat atau tidak.

"A... adiknya Takuyacchi?" Kise terperangah melihat Tetsuya. Tentu dia telah bertemu dengan si kembar, tapi dengan si bungsu, itu pertama kalinya. Dia seperti melihat malaikat

Tetsuya membungkuk sopan "Perkenalkan, namaku Akashi Tetsuya"

Tapi kini itu hanya cerita masa lalu, setelah beberapa lama Kise menyadari bahwa Hatinya pasti akan selalu mencari keberadaan Takuya, sadar maupun tidak.

'Aah, Kise Ryouta, segila apakah dirimu hingga kau berhasrat pada mastermu sendiri' pikir Kise merasa konyol. Dia tau bahwa Takuya tak pernah mencintainya seperti perasaannya pada pemuda itu. Kise memapah Kuroko untuk segera ke ruang perawatan.

Tetsuya Terengah engah dalam papahannya, mencengkeram baju bagian dada Kise. Emosi yang bukan miliknya merasuk deras, terlalu deras hingga dia tak bisa mencerna semuanya. Kepalanya sakit, dadanya sesak 'Shirou-nii, apa kau juga merasakannya?' tanya si bungsu pada kakaknya

'... Ya...' jawaban lemah terdengar.

Di saat yang sama...

"Aka-chin? Kau tidak apa apa?" tanya Murasakibara khawatir

Nafas Seishirou memberat dan cepat, keringat mulai bercucuran meskipun terhapus langsung oleh angin yang kencang. Dia mencengkeram erat bagian dada dan kepalanya. Bahkan kini nafasnya mulai mengeluarkan suara seperti orang asma.

"Atsushi, ada apa dengan Seishirou?" tanya Seijuurou

Murasakibara menggeleng. Lalu lengan bajunya di cengkeram erat oleh Seishirou "Tambah kecepatan! Kita harus tiba di sana secepat mungkin!" teriaknya panik.

Takuya POV

Aku tak berada di manapun, gelap, disini gelap dan hampa. Kosong. Pemandangan ini terasa asing tapi juga aku punya firasat bahwa aku... pernah ke sini.

"Yo kid, how've you doin'?" sebuah rongga mata yang besar menatapku lurus, rongga yang terdapat 'bintang' di dalamnya, seberti awan tipis yang membentang di langit malam itu bertanya padaku. Aku tau makhluk ini. Dia...

"Never better than this, Śūn'ya" entah makhluk apa dia, aku tak tau dan tak ingin tau. Saat kami bertemu selalu dengan keadaan seperti ini. Kegelapan menyelimuti kami, tapi aku bisa merasakan jika dia adalah 'sesuatu' yang ganjil, bahkan di tengah dunia yang penuh misteri ini. Tapi apa? dia ini... apa? ciri cirinya tak cocok dengan buku maupun cerita manapun...

Ah, jangan-jangan...!

"You mortal creature used to be calling me The Hidden Ones" sudah kuduga

The Hiddens Ones, Adalah sebuah eksistensi yang berada di tengah tengah, antara di anggap ada dan tiada, antara baik dan jahat, di antara yang hidup dan yang mati. Keberadaannya di anggap sebagai utusan para Dewa. Tak ada yang tau wujud sebenarnya. Karena sekali dia muncul, bencana besar terus terjadi, dan dari legenda, dengan kekuatannya, menghapus bersih semua yang ada di muka bumi bukan hal yang mustahil.

Tak ada yang tau, dunia tak tau apa-apa tentang 'sesuatu' ini.

Sepertinya aku harus ekstra hati-hati mengenai hal ini.

"Ada urusan apa denganku?" meskipun aku tak terlalu perlu bertanya tapi aku hanya akan memastikan

Dia menyeringai lebar "I'm bored, kid. So entertain me" ha, tentu saja, apa yang ku harapkan dari makhluk seperti dia?

"Jika kau bosan, bukankah tak harus aku?"

"You've gotta be kidding me! Your destiny is connected to the world! I would never miss that"

"Dan bukankah itu karenaMu, Śūn'ya?" kataku menggeram "Dengan kau yang ada di dalam tubuhku, tentu saja takdirku akan terhubung dengan nasib dunia!" tak pernah kukira 'kisah hidup'ku akan menjadi begini! Sekarang apa yang harus kukatakan pada Seijuurou, Seishirou, Tetsuya, dan semuanya? Astaga kata-kataku pada mereka kasar sekali dari yang kuingat!

Tunggu, ingatan ini milik siapa?

Dia tertawa lagi, tawa yang mengejek karena aku yang tak tau apa-apa "Silly kid, You have chosen since you are born, i'm always there IN YOU. Waiting to be wake up one day"

Mataku terbelalak "Kau bercanda" Dari lahir telah terpilih? The Hidden Ones selama ini berada dalam diriku? itu tidak mungkin, tidak mungkin! Itukah sebabnya aku selalu menguasai sihir dengan sangat cepat? Bahkan... terlalu cepat? Ini tidak masuk akal... sulit di percaya...

Tapi lagi, sejak kapan hal yang tidak masuk akal menjadi ganjil di dunia ini?

"Dan apa yang memancingmu untuk keluar?"

"Your precious dead" milikku... apa?

"When your precious person dead. That is" mati? Siapa? Siapa yang mati? Mitsuki?

... Tunggu, Mitsuki itu Siapa?

Mistuki itu adikku

Bukan! Dia bukan-

Lalu siapa yang mati?

Siapa?

Sei...sei?

Kanata-baa-chan...tunggu-apa?

Sato-jii-chan...siapa?!

Takao...

Tunggu-Mereka siapa?

Apakah Ayah? Ibu?!

Paman Kagami?

Hakaze-san?

Tatsu-Kh...!

Astaga kepalaku berdenyut, sakit sekali! ingatanku... bercampur aduk

Aoi...

Kaito...

Siapa?

Aku Akashi Takuya...

Aku...?

"Time to sleep kid, it's my turn"

.

.

.

.

.

TBC

SUDAHLAH HAYATI MULAI LELAH BANG

Author: Kenapa kehidupanmu penuh konflik Takuya kenapa? Kenapaaaaa?! *Menggoncangkan Takuya* Udah ada romance, ada jati diri, kekuatan tersembunyi, ada musuh, pake hilang ingatan sama apaan lagi tuh rumit tau gak rumittt!

Taku: Meneketehe orang kau sendiri yang bikin ceritanya! padahal aku lebih suka cerita petualangan yang sesimpel mungkin..

Author: Eh nyong mana ada jenis petualangan kayak elu yang simpel, kalo mau simpel main layangan sono!

Taku: Lah kau sendiri yang ngeluh dodol aku juga capek! Kepalaku kayak es kopyor di campur ini-itu kau pikir enak hah?!

Author: biar greget Takuuu tapi ini juga kok bikin capeeeeekkk tulungin dong tulunginnnn ane gak sempet masukin fanser udah panjang aja

Taku: MASIH MIKIR FANSER AJA LU?! Buset aku tercengang dah ama author nih satu...

Dan perdebatan mereka pun terus berlanjut...

Tetsuya: sampai jumpa di chapter selanjutnya, tolong jangan lupa untuk review *membungkuk*