Baru sadar kalo ada kesalahan besar di chapter lalu, aku malu, sumpah. APA APAAN ITU TULISANNYA JADI DOBEL PANTESAN KOK PANJANG NJIRRRRRR *gebuk gambus*
Udahlah, intinya ini cuma reupload. cuma aku perbaiki beberapa.
WHOOOOSH!
Crink... crink..!
Di tengah angin ribut yang melingkar di sekitar pemuda tersebut, mengakibatkan rambut dan pakaiannya terkibas ke sana-kemari, pemuda itu tetap berdiri kokoh tak bergeming. Lalu, dari tanah beberapa rantai besi keluar dengan ganasnya, memukul mukul ruangan itu, menyebabkan beberapa bagian dinding runtuh.
"Kaito! Oi Kai-"
"Who is this Kaito you've been calling?"
Mata Midorima Melebar, manik emeraldnya menatap bola mata merah yang seperti kolam darah
"Kau... siapa kau?!" teriak Midorima penuh amarah, berbagai pikiran bercampur aduk. Tapi yang utama adalah
Apa yang merasuki tubuh Takuya saat ini?
Hanamiya, di kejauhan, tersenyum layaknya maniak dan antusias akan sesuatu, segera Mibuchi bertanya "Ada apa Hanamiya-sama? Apa yang terjadi di sana?" dengan perasaan tak enak yang tiba tiba bercampur aduk di dadanya, dia langsung merasa sesak
"Ha... haha..." hanamiya hanya tertawa
Semakin lama tawa itu semakin tak terkendali
"HahHAhaHAHHAHahHahHAHHAhHA! Astaga kau benar benar menarik Akashi Takuya! Aku ingin menjadikanmu milikku sesegera mungkin!" teriaknya dalam nada yang tak pernah ia pakai sebelumnya.
'Kutarik kembali kata-kataku, tak pernah sekalipun aku akan menganggapmu musuh'
Hati Mibuchi terasa sakit sebentar mendengar hal barusan.
Lalu Hanamiya menghentakkan lengannya ke samping, mengaktifkan lingkaran sihir lainnya dengan simbol dan huruf rumit, dengan benang dan cahaya tipis dan angin yang muncul dari lingkaran itu. Dengan simbol dua gerbang Mibuchi tau bahwa itu adalah sihir teleportasi. Ekspresi Hanamiya yang semula seperti seorang maniak kini menjadi sangat serius.
"Hanamiya-sama?!"
"Cepatlah!" Hanamiya membentak Mibuchi.
Di Lain tempat, rombongan Akashi bersaudara telah sampai di sekolah MistGound. Tapi, hewan-hewan mereka tak mau mendekati wilayah sekolah itu lagi, dan alhasil mereka terhenti di udara.
Tak buang banyak waktu, Murasakibara yang juga merasa resah langsung melompat turun diikuti penyihir lainnya, Seijuurou mengeratkan pelukannya ke Seishirou yang nafasnya tersengal seakan dia berlari bermil-mil jauhnya.
Kembali ke Takuya...
Hanamiya yang telah tiba, begitu memijakkan kaki dia terhempas oleh sebuah angin hitam yang berasal dari 'Takuya'
Angin topan dari Takuya mereda, angin hitam yang bercampur dengan cahaya tipis berwarna perak perlahan menghilang, menyisakan sebuah sosok yang mengenakan jubah panjang hingga betis dan jubah hitam itu telah robek ujungnya, menutupi sebagian wajah, dan memegang sabit yang besarnya dua kali lipat dari tubuh yang memegangnya.
Kesunyian melanda tempat itu, seakan waktu berhenti
"It's been a long time huh..." sebuah suara mengerikan keluar dari mulut Takuya. Kepalanya mendongak
Lalu dia yang merasuki Takuya, menggerakkan tangannya, melihat dirinya sendiri. "Hm... not bad, but i wish a little more..." katanya dengan nada sedikit kecewa. "Oh right" dia menoleh kepada Hanamiya dan Mibuchi. Lalu menyeringai lebar seakan mulutnya robek hingga hampir menyentuh telinga, seringaian yang bukan milik manusia.
Mata Hanamiya melebar dan dalam sekejab mata dia langsung mengaktifkan bariernya tapi masih kalah cepat dengan serangan yang dilancarkan makhluk yang merasuki manusia itu. Bagai gelombang suara berwarna hitam yang mempunyai sinar ungu mengerikan, gelombang itu menghantam keras Hanamiya dan Mibuchi yang terhempas kembali ke arah yang berbeda, jauh, jauh kebelakang dan punggungnya berbenturan keras dengan dinding, tubuhnya tenggelam beberapa centimeter dan retak di dinding itu meluas membentuk seperti jaring laba laba. Saat Midorima akhirnya bisa lepas dari mantra itu, dan akan mengaktifkan sihirnya dalam sekejap mata mata Aquamarine yang bersinar sinis menatap mata emeraldnya lurus.
"Next is you" katanya masih dengan seringaian mengerikan.
Dan begitu tersibak sebelah mata Takuya yang seakan tergenang darah, Midorima dengan cepat menghindar dan bertepatan dengan tinju Takuya yang menghancurkan seluruh pijakan yang ada. Seluruh marmer tua di gudang itu terpecah dan menimbulkan suara retakan yang keras, pijakan rata itu berubah seperti lautan batu. Bergelombang, tajam dan mencuat ke atas, menjadi pecahan yang kecil dan besar dengan bentuk berbeda.
Saat melompat dari udara Midorima melihat semua itu 'Apa-apaan kekuatan itu... apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang ada di dalam sana? Makhluk apa yang ada di dalam dirimu?' segelintir pertanyaan terus muncul namun tak ada jawaban.
Lalu 'Takuya' mengacungkan tangannya ke udara, dan menembakkan peluru udara terbanyak yang pernah Midorima lihat. Midorima menghindar, sebisa mungkin menghindar karena jika dilihat baik-baik, di dalam peluru udara itu ada sebuah partikel es.
'Dia berniat membekukanku' batin Midorima.
Lalu saat dia menyadarinya, sebuah peluru telah tepat berada di depan matanya 'Gawat!' dan saat dia menutup mata untuk dampak, tak ada yang terjadi.
Midorima membuka matanya dan melihat sebuah rambut ungu yang terkibas
"Murasakibara?!"
"Mido-chin, kau tak apa?"
Dan saat Midorima menyadarinya, banyak Penyihir dari tempat mereka yang terjun dari atas, menjebol atap bangunan itu dengan sihir mereka dan menggunakan sihir gravitasi dan udara yang digunakan beberapa dari mereka untuk mendarat dengan aman.
Lalu saat Midorima melihat kebawah, terlihat beberapa sosok hitam yang menggelayut dari tanah atas mantera yang Hanamiya juga Mibuchi rapalkan.
"This is quite interesting~" makhluk berjubah tersebut berlagu, lalu dia juga mengaktifkan sebuah gerbang sihir di pijakannya. Jubahnya bertiup dengan penuh kebanggaan 'Takuya' mengenakan senyum yang sombong.
'Tanpa mantera?!' Seijuurou terkejut.
Gerbang berpintu dua yang besar itu terbuka seiring terangkatnya kaki 'Takuya' dan dia melayang di udara, dan keluarlah sebuah makhluk yang masih berbentuk kabut berwarna hitam. Makhluk tersebut menggeram ganas. "Before i go, i would like to watch some actions" katanya sambil menghilang dari tempatnya dan bersamaan dengan itu, makhluk yang terbuat dari kabut hitam itu juga menyerang, matanya terbuka berwarna merah dan bentuknya perlahan berubah menjadi Direwolf.
"Dire?!" Midorima menyadarinya saat menghindari serangan makhluk panggilan Hanamiya. Lalu dia memusnahkannya dengan sihir miliknya. Midorima melihat Dire lagi
'Karena itu bagaimanapun masih 'Takuya', jadi makhluk yang dipanggil pun juga bisa sama. Apa begitu maksudnya? Atau Dia hanya mau mempermainkan kami?!' batin Midorima frustasi
Dire menyerang sekelompok makhluk panggilan Hanamiya dan mengamuk di tengah tengah para penyihir. Berlari, mencakar, menggigit, mencabik, menyayat, memakan, melolong untuk menciptakan kopian mini dirinya. Dire menyerang secara membabi buta, dan mereka yang mengenalnya tau bahwa Dire bukan dirinya saat ini.
'Kita harus membujuknya agar berpihak rupanya' analisis Seijuurou begitu ia melihat Hanamiya bertempur menghadapi sosok berjubah dengan wujud luar kakaknya itu.
Seijuurou mulai berlari menuju Hanamiya dan 'Takuya', dengan lihai menghindari serangan yang tersasar, tendangan dan sabetan senjata yang melayang di mana mana.
'Takuya' Menepis seluruh serangan Hanamiya dengan satu tepisan. Lalu dengan lihai mengayunkan sabitnya dari bawah, ke atas dan saat akan mengenai kulit Hanamiya, Hanamiya salto di udara dan melompat mundur.
Hanamiya menyebarkan pandangan dan tiba tiba sebuah bayangan melesat dengan cepat di belakangnya, membawa hawa dingin yang tajam. Hanamiya berbalik dan sedikit menyesali keputusannya
Rongga mata yang merah menyala menatapnya layaknya mangsa. Bermain main dengan nafsu membunuh yang pekat "... you must be destroyed" 'Takuya' menggumam sambil tetap menyerang Hanamiya sementara Dire miliknya melawan Mibuchi.
Hanamiya merasa ngeri, perutnya merasa tak enak dan dia mulai berkeringat dingin, tak lupa nafasnya yang memendek. Hanya karena tatapan. 'jangan bercanda, hanya ketua yang bisa membuatku ketakutan seperti ini'
'Takuya' Melemparkan sihir es lewat tangannya yang terdapat lingkaran berwarna silver-biru yang berputar, terus mengeluarkan tombak-tombak es yang tajam, lalu dia memijakkan kakinya dengan keras di atas tanah, sebuah lingkaran sihir berukuran besar kembali muncul, dan seonggok tanah berukuran besar terangkat. 'Takuya' menendangnya dengan keras
Hanamiya menepis segala serangan itu dengan mudah, sihir hitamnya menjadi perisai sekaligus api berwarna hitam untuk melenyapkan serangan itu, dan saat dia membelah batu raksasa itu dengan sihrinya, dia melihat 'Takuya' sudah melompat dan mengayunkan sabit besarnya. Dari bayangan hitam yang gelap hanya mata merah menyala yang terlihat.
Pipi dan beberapa helai rambut Hanamiya terpotong saat menghindar.
Hanamiya tersenyum lebar lalu dia memanggil sebuah lingkaran sihir berwarna silver-hitam, menimbulkan sebuah topan kecil di sekitar kakinya. Dari lingkaran itu, keluar beberapa pilar kabut hitam yang mengarah pada 'Takuya'.
Dia berencana untuk melihatnya lebih dekat sebelum menghindar tapi-
Bwoooosh
Sebuah Api menepis kabut kabut itu sekali serangan, sebuah api yang sangat besar dan berkekuatan besar. Mata berwarna Aquamarine bergulir menangkap surai merah ceri.
"Sepertinya kau mulai melupakan kami huh?" Seijuurou menatap tajam 'Takuya', melihat seringaian lebar itu kembali ada pada wajah kakaknya.
"Oh yes i forgot" jawab 'Takuya' main main. Seijuurou mendecih
Sesuatu yang ada dalam kakaknya lebih menyebalkan dari pemilik asli tubuh itu.
"Kau bukan Akashi Takuya." Seijuurou tidak melontarkan pertanyaan. Dan dia menembak 'Takuya' dengan pistol yang dia tarik dari pinggangnya.
"That's a half true" jawab 'Takuya' menarik pedangnya dan baja itu berbenturan dengan peluru timah milik Seijuurou
Seijuurou mengerutkan alis "Apa?"
"I am Akashi Takuya, but not the one you knew" 'Takuya' menyeringai dan dengan sekejap melewati Seijuurou yang terluka karena sihir angin di pedangnya.
Seijuurou berlutut dan sebelah tangannya memegangi abdomennya yang berdarah "Kh! Apa... maksudmu..." tanyanya sambil menahan perih
Sosok berjubah itu hanya tersenyum tipis, lalu berbalik menuju medan perang di depannya, meninggalkan Seijuurou yang berusaha menahan kucuran darahnya yang mengalir deras dari lukanya. Kepalanya mulai terasa ringan dan banyak titik gelap mulai muncul di penglihatannya. Ia mendecih. 'Sial... darahku terlalu banyak yang keluar... tapi, Jangan kau pikir ini akan berakhir begitu saja!'
Seijuurou melihat 'Takuya' berjalan mendekati Seishirou yang seharusnya tersembunyi oleh jubah penyamaran. 'Takuya' menyibak jubah itu dan terlihatlah Seishirou yang duduk lemas menyandar dinding. Mata Seijuurou melebar 'apa yang akan dia lakukan padanya?'
"Kau! Jangan coba-coba menyentuhnya!" teriaknya, 'Takuya' melihatnya dari bahunya, lalu tersenyum sinis.
'Takuya' mengangkat tangannya, saat itu, Seishirou membuka matanya sedikit "Ka...Kakak..." panggilnya di tengah nafasnya yang berderu.
Tangan 'Takuya' yang terayun kebawah dengan sebilah pisau di genggamannya terhenti, tepat beberapa senti sebelum menyentuh leher Seishirou. Terhenti oleh Tangannya yang sebelah lagi, gemeretak gigi dan badan yang gemetar pada orang di depannya mengharuskan Seishirou untuk membuka matanya lagi.
"Shi... Shirou..." panggil Takuya lirih. Seishirou menoleh cepat ke atas. Dan sepasang mata ruby nya melebar melihat mata biru muda dan merah darah yang berganti dengan cepat
"Kak! Kau kenapa?! Apa kau baik-baik saja?! Apa yang bisa ku bantu?! jawab aku!" Seishirou berdiri, mengacuhkan sakit di badannya dan mencengkeram bahu kakaknya
"Tak... akan kau biarkan menyentuh adik-adikku..." gumam Takuya rendah, tak mendengar perkataan adiknya karena telinganya yang mendadak tuli dan hanya mendengar detak jantungnya, suara lain terasa jauh sekali.
"Heheh... you are such a good brother huh?" Śūn'ya berkata lewat mulutnya, bersamaan dengan seringainya, Seishirou merinding mendengarkan suaranya dari dekat, jangankan dari dekat, dari jauh saja tubuhnya akan panas-dingin. Dia tak bisa berkata apa-apa
Seijuurou tak ambil waktu lagi langsung memanggil makhluk sihir miliknya, Ular yang berbalut api, dan ular itu melesat maju dan mengikat 'Takuya' Dengan erat. Seishirou otomatis mundur dan menghindari ular yang seperti cambuk api itu.
"What the-?!" selanjutnya, Seijuurou memanggil makhluk lainnya, kali ini apa yang akan sering di sebut Phoenix.
Burung api itu terbang ke atas Dire, dan mengurungnya dengan sayapnya yang berubah wujud menjadi penjara.
Semakin 'Takuya' meronta ular yang mengikatnya semakin erat melilitnya. Sedangkan Dire perlahan lahan menjadi tenang karena pengaruh sihir yang di aktifkan di bawahnya oleh para penyihir yang lainnya. Perlahan lahan juga, mata Dire tak lagi merah menggenang, geramannya semakin pelan, dan diapun menghilang bagai kabut.
'Takuya' melihat sekeliling dan mengacuhkan ular yang melilitnya, situasi di sana sudah terlihat siapa yang akan menang. Karena dari awal niatnya hanya bermain main, dia berencana untuk mundur..."after you gone first" katanya menghadap Hanamiya dan Mibuchi yang bersiaga di depannya. 'Takuya' menjentikkan jari dan dari belakang mereka muncul lubang hitam yang menyerap mereka bahkan sebelum mereka bicara.
"This little show is come to an end, well then, i will taking my leave"
Tak ada yang mendengarnya kecuali beberapa orang, dan tepat saat pertarungan berakhir, tubuh Takuya jatuh menghantam tanah, menerbangkan debu, dan mengheningkan seluruh penyihir di sana.
.
.
Di rumah sakit kota Anzen, di salah satu ruangan VIP
Tertidur seorang pemuda berambut hitam berwajah persis dengan pemuda berambut biru muda yang sedang duduk di sebelah kasurnya, melihat sosok yang terbaring dengan tenangnya di tempat tidur.
Dia mengelus helai rambut hitam itu, lalu bangkit dari duduknya dan mengecup bibir pemuda yang sedang tertidur, dan menempelkan dahi mereka setelah itu "Setelah menghilang selama ini... kau kembali dengan ingatanmu yang hilang, dan 'sesuatu' yang merasuki tubuhmu, lalu pingsan dan tak bangun hingga saat ini..." dia membuka matanya "apa kau sebegitu senangnya membuatku tersiksa kak? Kau orang teregois yang pernah ku tau." bisiknya
Pintu ruangan di ketuk dan pemuda itu berkata "Masuk"
Lalu pintupun terbuka, memunculkan sosok pria berrambut merah bergradasi hitam yang mempunyai gestur yang tegap, dia melihat keponakannya yang duduk di kursi sebelah kasur "Dia masih belum bangun ya?" mata krimsonnya melirik pemuda yang tertidur. Dia menghela nafas ringan. "Aku membawakan makan siang, kutebak kau juga tidak sarapan kan Tetsuya?" katanya meletakkan kantong plastik berisi kotak makan, buah dan minuman.
"Maaf merepotkanmu, Paman Kagami" kata pemuda berambut biru muda itu.
"Tidak apa-apa, aku juga sekalian menjenguk keponakanku yang lagi tidur cantik" kata Kagami yang sukses membuat Tetsuya tersenyum kecil
Kedua kakak kembarnya sedang ada urusan pekerjaan setelah luka mereka di obati, sedangkan Aomine dan Kise juga sibuk dengan pekerjaan mereka. Midorima dan Murasakibara, beserta penyihir-penyihir yang lain sedang pemeriksaan rutin untuk luka mereka dan sihir mereka, takut pertempuran itu mempunyai dampak pada mereka.
Namun senyuman Tetsuya tak bertahan lama "... Sudah lima hari dia seperti ini terus... apa menurut paman kakak akan bangun kembali?" tanyanya
"Kata dokter itu tergantung dirinya sendiri, Takuya saat ini pun sedang berjuang melawan dirinya sendiri, saat dia selesai, dia akan membuka matanya." Jawab Kagami "Jadi Tetsuya, kau tidak perlu khawatir, sejauh yang kutau, kakakmu ini adalah orang yang kuat" lanjutnya dengan senyum meyakinkan.
Tetsuya memejamkan matanya, bayangan kakaknya muncul dengan senyum yang lebar. Tetsuya membuka matanya kembali "... kau benar"
.
.
.
Sore harinya
Tetsuya tertidur di sofa dengan paha Seishirou menjadi bantalnya. Seishirou mengelus rambut lembut adiknya selagi kakak kembarnya mengelap tubuh kakak tertuanya. Setelah kerja seharian mereka menyempatkan diri untuk melihat kedua saudaranya yang ada di rumah sakit. Secara tidak sadar pergi dengan tergesa setelah menyelesaikan pekerjaan mereka lebih cepat dari biasanya juga.
"Bagaimana keadaanmu dengan Tetsuya?" tanya Seijuurou kepada adik kembarnya, dia juga sedikit ngeri melihat bekas luka di tubuh kakaknya yang terhitung banyak, akibat pertarungan di masa lalu, tak lupa juga dengan bekas luka yang melintang di tubuh bagian depannya.
"Kami baik-baik saja, sejak..." Seishirou melirik ke arah tubuh di kasur "Dia tak sadarkan diri"
Seijuurou mengangguk "Istirahatlah selagi sempat" katanya singkat. Setelah selesai mengelap tubuh kakaknya Seijuurou memakaikan pakaian rumah sakit, mengelap tangannya lalu menepuk kepala seishiro pelan dan duduk di sofa berhadapan dengan Seishirou, membaringkan tubuhnya, menutup matanya dan meletakkan satu lengan di atas kepalanya.
Seishirou menyandarkan kepalanya dan perlahan kelopak matanya tertutup, 'Kuharap kau cepat bangun kak... aku punya banyak pertanyaan untukmu...'
Di dalam pikiran Takuya
"have you arranged the memories yet?"
Takuya terhenti "Sudah, tapi ada beberapa yang tidak aku mengerti... ada memori yang berwarna hitam disini"
"Oh, that? Do you really want to know what it is?"
Takuya menghela nafas "Ya, ini ingatanku bukan? Sebagai Akashi Takuya dan Aoi Kaito. Dan juga, aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi padaku selama 3 tahun ini"
Keheningan sesaat yang membuat Takuya terheran
"As you wish"
Sebuah cahaya membutakan Mata Takuya dan kenangannya yang menjadi hitam mulai memunculkan gambar, kebanyakan tentang Kematian Tatsuya, dan 'pelatihan'nya di sebuah dunia tak bernama.
"Itu... aku?"
"yes, i borrow your body for a while, arranging the magic structure in here and there to adjust it with the circumstances"
"Jadi itu sebabnya aku bisa mengendalikan kelima elemen sesuka hatiku sekarang?" bahkan Takuya bisa mengingat bagaimana untuk mengendalikannya dan memodifikasinya sesuka hati dengan sedikit usaha
"yes, but not only that, i'm also set to make it easy for you to use another magic you've mastered"
Takuya tertegun "Wah, bukankah kau melakukan banyak hal untukku?"
Makhluk itu terkekeh sinis "No, it's for me too"
Takuya menaikkan sebelah alisnya "Untuk apa?"
"That's a secret, even for you, The other me"
Takuya masih curiga tapi dia membiarkannya, sekarang dia berbalik dan kembali meihat memori-memori itu, mempelajarinya dan merencanakan apa langkah terbaik yang seharusnya di ambilnya. Aoi Mitsuki, Aoi Kanata dan Aoi Sato, oh, dan juga Takao Kazunari. Adalah orang orang yang di kenal 'Aoi Kaito'. Sejak ia membuka mata, mereka adalah orang orang yang memperhatikannya, bersama seluruh penduduk desa yang tak kehilangan kehangatan meskipun langit yang menaunginya berawan dan angin yang berhembus menusuk tulang.
Takuya tak bisa terus berpura-pura menjadi 'Aoi Kaito', dia tidak akan bisa lagi menjadi 'Aoi Kaito' yang mereka kenal. Untuk kakek dan nenek itu, mungkin mereka akan menerima, karena mereka sendiri telah menyadari bahwa ia suatu saat akan pergi, momen emosional tak bisa dihindari mengingat mereka adalah yang merawat Takuya saat dia masih hilang ingatan dan menjadi bagian dari mereka, pasangan lansia yang hangat, keluarga yang sederhana.
Untuk Takao, dia akan bilang yang sejujurnya tentang amnesianya, hanya sampai itu, dengan resiko mungkin pertemanannya tidak akan kembali lagi.
'Aah, sedih juga kalau tau aku akan kehilangan Takao yang merupakan sahabat baikku' pikirnya sedih, mengingat kembali hal jahil yang mereka perbuat dan candaan setiap harinya.
Tapi, dia mungkin akan sedikit kesulitan untuk bagian Mitsuki. Takuya tau bahwa gadis kecil itu mengidamkan seorang kakak laki-laki sejak lama, Takuya tidak tega padanya. Gadis kecil itu sakit sakitan, tapi meskipun begitu dia tetap kuat menghadapinya dan tak mudah menyerah, semangatnya begitu tinggi.
Kaito mengelus kepingan memori tentang gadis kecil itu, yang juga secara tak langsung telah menjadi salah satu 'adiknya'.
'apa yang harus kukatakan padamu Mitsuki...' dia menekan bibirnya hingga membentuk garis tipis dan memejamkan matanya, dahinya berkerut.
Dia membuka matanya ' pertama aku harus jujur padanya, untuk nantinya, lihat keadaan'
"Done?" Takuya mengangguk
"Now wake up, there's a lot thing you must to do"
Takuya menghela nafas berat "Aku tau..."
Dan kelopak yang menyembunyikan manik Aquamarine terbuka.
.
.
.
.
TBC
sekali lagi, maafkanlah dakuh, sampai jumpa lagi!
