Chapter 20

Takuya POV

Sudah beberapa bulan sejak aku terbangun sebagai diriku, sudah hampir setahun aku tersadar dari tidur panjangku, semuanya terasa seperti blur. Penjelasan kepada Tetsuya, Seijuurou dan Seishirou, tak begitu berjalan sesuai rencana, tapi untung aku masih bisa merahasiakan 'kepribadian kedua'ku dan hilangnya aku selama tiga tahun, dengan alasan tidak ada ingatan tentang hal itu, kesadaranku terpisah, tapi aku masih mengingat apa yang terjadi saat aku amnesia, dan sebuah keajaiban mengingat ketiga adikku ini sangat konservatif. Lalu orang orang disekitarku seperti Aomine-san, paman Kagami, Midorima, kise, Murasakibara dan yang lainnya lancar lancar saja tanpa kesulitan yang berarti.

Tapi yang tak terduga adalah begitu aku sudah berada di rumah sakit, awalnya Mitsuki senang melihatku seperti biasanya, tapi sesaat kemudian dia tersenyum sedih "Kau... bukan kak Kaito ya?" dengan berat hati aku mengangguk dan dia menangis setelah mendengarkanku. Anak yang tegar.

Lalu kemarin, Mitsuki telah dinyatakan sembuh dan di perbolehkan pulang, bahkan desa itu kabarnya telah menjalin hubungan dengan kota Anzen dan suplai makanan, pakaian dan obat obatan telah didistribusikan. Para penduduk diberikan pekerjaan, dan ekonomi pun membaik.

Aku mengantar Mitsuki pulang bersama dengan Tetsuya dan Satsuki serta beberapa penyihir lainnya, tak ada yang bicara selama perjalanan.

Setelah ku pikir kembali, ayah dan ibu kemana ya? Aku belum pernah melihat mereka, apa mereka sesibuk itu? Bahkan pemimpin kota saat ini adalah Seijuurou. Apa mereka berada di Dewan Dunia sekarang?

"Taku, kita sudah sampai" kata Satsuki membuyarkan lamunanku, dan membangunkan Mitsuki yang tertidur di pangkuanku, permintaan Mitsuki yang terakhir.

Takuya POV end

Setelah sampai, mereka langsung di sambut dengan senang hati oleh penduduk desa, begitu turun Mitsuki langsung berlari girang dan memeluk pasangan kakek-nenek yang telah merawat Takuya selama dia hilang ingatan. Takuya mencium kedua tangan mereka sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatannya, lalu dia menatap mereka sambil tersenyum. Dan dengan begitu saja, pasangan tua Aoi telah mengetahui bahwa Aoi Kaito mereka sudah tidak ada lagi. Mereka mengangguk dan Takuya berjalan melewati mereka, menuju kantor kepala desa untuk mendapatkan dokumen tentang perkembangan desa sejauh ini.

Setelah itu, semuanya berpencar untuk melihat kondisi desa lebih dekat dan nyatanya. Memang lebih baik. Takuya, Satsuki dan Tetsuya mengarah ke klinik desa yang kini sudah tak berupa tenda lagi, tapi bangunan bertembok, tidak terlalu besar dan sederhana tapi layak.

"Oya? Bukankah kau Kaito-chan? Lama tak berjumpa" sapa dokter disana, masih tetap dengan penampilannya yang seksi dan terbuka, tapi dia sudah tak merokok

Takuya tertawa kecil "Aku bukan Kaito lagi, Hakaze-san."

Dokter wanita itu berkedip terkejut "Ooh, begitu, ingatanmu telah kembali ya? Yah, satu anak burung menggemaskan terbang pergi lagi dong... aku kesepian tanpamu, biasanya kau sering datang kesini dan menghiburku" katanya dengan nada bercanda sekaligus menggoda, tapi tak terlalu bisa menyembunyikan sedikit kesedihannya.

Takuya tersenyum "Ah... sepertinya 'diriku yang itu' sangat mempesona hingga wanita cantik sepertimupun terpikat padanya ya... aku sebagai kepribadian yang asli jadi sedikit merasa sedih" balasnya sambil berakting dirinya tersakiti.

Satsuki dan Tetsuya hanya sweatdrop mendengarnya. Jadi begini Takuya kalau sedang diluar dan menghadapi wanita ya? Memang dia tak akan bisa bersikap seperti ini saat di lingkungan keluarga.

Dokter itu tertawa "Ahahaha! Setidaknya dia tidak pandai merayu sepertimu, kalau iya, pasti terjadi kekacauan disini! Nah, bisa aku tau nama kalian, para pemuda dan pemudi menggemaskan serta alasan kalian kesini?" tanya dokter itu kemudian sambil tersenyum ringan

Kali ini Satsuki menjawab "namaku Aomine Satsuki," lalu dia menggesturkan kepada Kuroko yang sedikit membungkuk, "Dan ini Akashi Tetsuya," dokter berkedip kaget baru menyadari keberadaan pemuda berrambut teal blue itu, lalu Satsuki menggesturkan kepada Takuya yang mengangguk "Lalu dia adalah Akashi Takuya, Kami kemari hanya untuk memeriksa apakah segala fasilitas pengobatan, alat medis dan obat yang diperlukan sudah sesuai dengan yang didaftar, dan mengecek jika ada yang kurang" katanya sambil kembali menatap dokter wanita itu

"Wah! Aku tidak tau kalau kota Anzen sedemikian pedulinya pada kami, apa kalian selalu seperti ini jika menemukan tempat berpenghuni di luar kota?" tanya dokter selagi menerima daftar checklist dan mulai memeriksa. Sedikit nada sarkastik.

Tetsuya menjawab "Sebisanya kami akan membantu, jika tempat mereka kejauhan kami akan menyarankan mereka untuk pindah ke tempat dekat kota atau kedalam kota, dan jika tempat mereka sekiranya tak layak huni kami akan mengungsikan mereka kedalam kota. "

"hm... begitu ya" respon pendek dokter selagi dia serius memeriksa tempat lain "Tapi jika begitu apa kalian tak pernah mengalami permasalahan kependudukan? Jumlah bisa melebihi kapasitas penampungan kan?" tanyanya lagi

Takuya mengajak Satsuki dan Tetsuya duduk di kursi sambil menunggu, lalu Satsuki menjawab "Pernah ada permasalahan seperti itu, karena itu kami membuka cabang kota di beberapa tempat dan mempekerjakan lebih banyak orang untuk menutupi kebutuhan masyarakat juga, dan membatasi reproduksi pada masyarakat kami, setiap pasangan hanya boleh memiliki dua anak."

Dokter menoleh "Dan jika lebih...?"

Kali ini Takuya menjawab karena dia melihat wajah Tetsuya dan Satsuki menunjukkan tanda tanda kesulitan "Itu urusan pemeritah, kami mah gak tau, toh kami juga terlalu sibuk dengan pekerjaan kami. Lagipula itu tidak ada hubungannya dengan Hakaze kan?"

"Oh, kali aja aku pindah kesana gitu? Biar begini aku sudah punya tiga anak lho... Memangnya kalian ada pekerjaan apa sih sok sibuk banget?" katanya sambil tak melihat kearah mereka, mengecek benda benda yang ada di lemari kayu.

"Ck, ck, Hakaze-chan kau tidak mengerti... meskipun usia kami muda begini, kami berperan penting. Aku dan Tetsuya adalah penyihir yang tergabung dalam bagian pertahanan dan militer, lalu Satsuki adalah salah satu tenaga medis..." jawab Takuya lihai menghindari topik sebelumnya.

"Sebelumnya kau memanggilku hakaze-san lalu sekarang chan maumu apa sih?" tanya dokter itu menopang dagunya dengan satu tangan, memberikan senyuman miring yang menggoda

"Mauku adalah makan malam romantis denganmu~" goda Takuya kembali

"Ahahaha, masih terlalu cepat 10 tahun untukmu anak muda!" tawanya sambil mencoret kotak terakhir, lalu menyerahkan daftarnya pada Satsuki "Ini daftarnya, untuk saat ini semua lengkap dan tak ada tambahan. Terima kasih ya nona manis" lalu dokter itu tersenyum kembali lalu Satsuki tersenyum dan mengiyakan, dan mereka pergi meninggalkan klinik itu setelah ucapan perpisahan singkat.

"Tak kusangka Takkun bisa selihai itu berbincang dengannya, hebat sekali" kata Satsuki membuka percakapan

"Semua itu adalah pengalaman, Satsuki-chan. Awalnya aku ya pendiam gitu, berkali kali mempermalukan diri sendiri di tengah percakapan. Tapi ya... di jalani terus jadi lama-lama terbiasa. Lagipula Hakaze-san orangnya mudah diajak ngobrol" jawabnya.

"Tapi... kutinggal sebentar kau jadi cantik sekali, berapa umurmu sekarang?" tanya Takuya melihat kearah Satsuki yang memerah

"e-enam belas tahun..."

Takuya tiba tiba bersuara keras hampir berteriak "Heeee?! Berarti udah satu tahun di atasku dong?! Tetsu juga?!" Tetsuya mengangguk kikuk. "Sebentar lagi akan menjadi tujuh belas..." jawab Tetsuya

Takuya terlihat sangat kecewa "Aish... sial dah, bahkan sekarang aku lebih muda dari adikku sendiri. Apa apaan ini" gerutu Takuya sambil mengacak rambutnya frustasi.

Tapi tiba tiba Takuya berpikir, jika tubuh ini 'dia' pinjam selama tiga tahun di dunia lain, berarti secara tidak langsung Takuya sudah berumur 18 tahun dengan perawakan tetap dan ingatan yang tetap pula. Dia sendiri menganggap dirinya masih 15 tahun padahal sebenarnya tidak. Itu bisa jadi.

"Tapi meskipun begitu kak Taku adalah kakakku, hal itu tidak akan pernah berubah" ucap Tetsuya kemudian sambil tersenyum tipis.

"Tetsu..." Takuya terharu.

"Benar! Apapun yang terjadi, aku tetap mengagumi Takkun kok! Perasaanku tak berubah sejak dulu!"

Takuya ambil posisi dengan mata akan menangis "Bo-boleh aku memeluk kalian?"

Lalu mereka saling berpelukan dan berbagi keharuan atas semua yang terjadi, intinya, mereka saat ini bahagia.

"Uh... sepertinya aku datang pada saat yang salah" kata sebuah suara dan Takuya berbalik, dan melebarkan matanya.

Takao menyunggingkan senyum malu-malu dan menggaruk belakang telinganya "Aku... sudah dengar dari yang lain... ingatanmu kembali ya?" katanya sambil melihat ke arah Takuya ragu ragu

Takuya mengangguk dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi sebelum suaranya keluar, Takao sudah mendahuluinya.

"TAPI! Jika persahabatan kita terputus hanya karena itu, kau salah. Kepribadian yang berbeda bukan berarti orang yang berbeda, 'Kaito' adalah bagian dari dirimu, dan kita adalah sahabat kental luar-dalam. Jadi... jika kau tak keberatan..." Takao mengangkat sebelah tangannya, sinyal berjabat tangan "Kita tetap berteman?"

Dan Takuya balik menjabat tangan Takao erat, dan mengangguk. Dan mereka bertukar pandang layaknya teman lama, dengan senyum hangat masing masing, dan tertawa bersama. Satsuki dan Tetsuya ikut tersenyum. Tetsuya bersyukur kakaknya tak kehilangan persahabatan yang sangat hangat seperti ini, yang telah jarang ia lihat selama tiga tahun.

"Jadi, namamu siapa ya?"

Takuya, Satsuki dan Tetsuya jungkir balik

.

.

.

Kunjungan ke desa berakhir dengan menyenangkan dan saatnya mereka kembali ke kota Anzen, berikutnya adalah bergabungnya negara Jepang pada aliansi yang terbentuk dari beberapa negara untuk mengakhiri kegelapan ini dan mengembalikan dunia ke kedamaian semula. Dan Pasukan militer merekapun juga di gabung, menghasilkan pasukan militer dalam jumlah besar, markas mereka masih tetap tapi mereka mengalami perubahan sistem secara menyeluruh, dan Aomine menunjuk Takuya menjadi ketua sebuah pasukan, dikarenakan semua prestasi dan dedikasinya yang menonjol, semua telah ia kuasai, hingga yang tersisa hanyalah pengalaman di lapangan, pasukannya mempunyai beberapa tim termasuk di dalamnya tim medis, intelejen dan mata-mata yang Tetsuya, adiknya pimpin.

Takuya dan pasukannya sering dikirim keluar sebagai bagian dari baris depan dalam perang yang berkelanjutan sejak pertama kali dibentuk dan kebanyakan anggotanya merupakan veteran perang, banyak pro dan kontra saat kepemimpinannya tapi dia terus belajar dan perlahan semakin sering menunjukkan otoritasnya dalam membentuk strategi dan membuat keputusan yang tepat, bersama dengan adiknya. Dan tentu saja, para guardiannya juga termasuk pasukan yang dipimpinnya tetapi mereka dalam sebuah tim khusus yang langsung berada di bawah naungan Akashi Seijuurou, sebagai multi-tasked team bersama Aomine, Kagami dan Seishirou.

Sudah enam bulan penuh mereka berperang dengan kegelapan tanpa henti, tak ada ruang untuk pikiran yang lain, semuanya terfokus dengan perang ini, banyak yang gugur, tapi banyak juga yang terselamatkan, banyak rekrutan baru dan banyak yang 'pergi' dan itu semua timbal-balik, termasuk juga dengan keputus asaan dan kegelapan yang perlahan melahap hati masyarakat, juga terdapat sepercik harapan baru pada setiap prajurit setiap adanya perubahan.

Dan setelah enam bulan itu juga, setelah memenangkan sebuah perang yang cukup besar di negeri asing, pasukannya mendapat cuti selama dua hari. Hanya dua hari, tetapi bagi Takuya itu sudah merupakan hal yang patut di syukuri.

Dia menghabiskan hari liburnya di kediaman Akashi yang masih berdiri kokoh, banyak tamu penting berkunjung seakan mereka tengah mengunjungi sebuah destinasi wisata dan lalu lalang di beberapa bagian, hingga Takuya harus mengambil jalan lain yang merupakan bagian yang tidak di peruntukkan untuk di masuki para tamu.

Dan semua tamu itu di tangani oleh Seijuurou dan Seishirou.

'Menyerahkan semua pekerjaan pada anaknya, apakah Ayah sudah terlalu tua atau terlalu sibuk? Atau dia ingin melatih Sei agar cepat bisa mewarisi keluarga?'pikir Takuya dalam hati, ini sudah mulai janggal, dimana orang tuanya? Sempat terpikir bahwa mereka telah meninggal tapi Takuya tidak mau memikirkannya. Ia akan menanyakannya pada pamannya nanti.

"Takuya, apa kau senggang?" oh, baru saja di pikirkan.

"Tidak, memang ada apa paman?"

Pamannya menunjuk arah luar dengan ibu jarinya dan tersenyum "Bagaimana kalau kita berdua jalan-jalan sebentar? Lalu kita akan bermain basket di lapangan kosong yang kutemukan baru baru ini"

Takuya tersenyum, kesempatan yang tepat sekali "Boleh, tunggulah di luar, aku mau persiapan dulu" dan dia berlari kembali ke kamarnya.

Saat Kagami berbalik untuk menuju ke luar, Akashi Seijuurou berdiri di depannya, ia sedikit terkejut dan akan protes tapi menelan perkataannya bulat bulat ketika melihat mata Seijuurou yang berkilat serius. Di sebelahnya ada Aomine

"Apa kau akan berencana untuk mengatakan hal itu kepadanya?" kata Aomine

Kagami balik menatap serius "Dia mempunyai hak untuk mengetahui hal itu."

Aomine berdecak "Apa kau tidak memikirkan dampaknya pada masa yang akan datang? Dengar, salah satu hal yang membuatnya menjadi ketua pasukan garis depanku adalah keputusannya yang tegas dan strateginya dan itu selalu didukung oleh emosinya yang stabil. Kesampingkan hal itu, apa kau tidak kepikiran bagaimana perasaannya setelah itu?!" nadanya menaik pada kalimat terakhir, dia telah menganggap Takuya sebagai kawan baiknya, tentu dia tidak ingin melihat Takuya yang sedih. Takuya layaknya langit biru untuknya, dan dia akan melakukan apa saja untuk menjaga langit itu agar tetap cerah.

Kagami balas berteriak "Lalu apa?! terus menyembunyikan hal itu padanya?! Jika aku jadi dia, aku tidak mau di tinggalkan dalam ketidak tahuanku! Aku tidak ingin dibohongi oleh orang orang terdekatku! Dia berhak tau karena ini menyangkut dirinya!" tentu Kagami juga tidak ingin melihat sosok Takuya yang sedih, Tatsuya juga pasti akan menghantuinya jika itu terjadi. Tapi ia tak tahan. Ia tidak suka menyembunyikan sesuatu ke keluarganya, terlebih pada keponakannya yang dekat dengannya itu.

"Dan juga, cepat atau lambat dia juga pasti akan tau. Dan dia pasti akan lebih senang mengetahui hal yang menyangkut dirinya lewat orang yang dia percaya" Kagami mengangkat kepalanya, menatap lurus ke Aomine, lalu ke Seijuurou yang diam dari tadi "Dia menghabiskan sebagian besar waktunya denganku, aku sudah bisa menebak isi kepala anak itu, dia akan terguncang, ya. Tapi, dia pasti bisa melaluinya."

"Sekarang aku bertanya padamu, Seijuurou, kenapa kau tidak bilang padanya? Kalian bersaudara pasti mempunyai lebih banyak kesempatan, apa yang kalian lakukan di beberapa bulan terakhir ini?"

Seijuurou bersedekap dan menutup matanya "Alasanku sama dengan Daiki-san. Aku tak ingin emosinya mempengaruhi performanya yang luarbiasa. Kemampuannya berkembang pesat dan selama ini dia memimpin dengan sangat baik, akan sangat disayangkan jika itu semua terbuang percuma dikarenakan emosi yang tak stabil"

Kagami tertegun sejenak, apa semua kekalutan ini akhirnya mulai mempengaruhi keponakannya? Akhir akhir ini ia juga tak melihat Seishirou dan juga Tetsuya "Tak kusangka kau menjadi sedingin ini, Seijuurou" gumamnya

"Aku hanya mengatakan fakta yang ada, prajurit yang tak bisa mengendalikan emosinya tidak di butuhkan dalam perang, selama ini seperti itu. Tapi jika emosi itu membawakan kemenangan pada pihak kita, aku akan merubah pemikiranku dan menarik kata kataku." Kata Seijuurou sambil berbalik

"Lagi pula selama ini, aku menghadapi orang orang yang mengenakan topeng, kepribadian mereka layaknya pasir. Karena itu, jika kau menunjukkan kelemahan pada mereka, entah apa yang akan mereka sembunyikan di bawah lengan mereka untuk memanfaatkan kelemahanmu itu." Lanjutnya kemudian sambil berjalan menjauh.

"Aku tau kalau kau sangat menyayangi Takuya, aku juga. Tapi, sepertinya bentuk kasih sayang kita berbeda, dari dulu seperti itu." ucap Aomine bersuara rendah dan memijat pangkal hidungnya, perlahan meninggalkan topik pembicaraan yang berat tadi, mau dilarang bagaimanapun, Kagami Taiga adalah orang yang keras kepala, Aomine tau persis hal itu. Terhadap ucapan Aomine, Kagami tersenyum bernostalgia. Aah, masa muda yang bodoh.

Kagami menghela nafas dan bersandar di dinding "Sepertinya... keadaan akan semakin rumit mulai dari sekarang" katanya sambil mendongakkan kepalanya. Sejak ingatan Takuya kembali, perasaannya terus gelisah, seperti ada sesuatu yang akan datang.

"Dan semua berputar di sekitar keponakanmu, Akashi Takuya" kata Aomine.

"Apa itu karena dia adalah penyihir berdarah murni?" tanya Kagami

"Yang terhebat di masanya" sambung Aomine mengingat kembali Apa saja yang Takuya bisa dengan sihirnya, dan para adiknya juga berkembang pesat belakangan ini, alisnya berkerut "sebaiknya kau jaga para keponakanmu itu Kagami, meskipun mereka hebat, tapi itu tak menjamin mereka akan aman dari tangan Tenebris" katanya menatap tajam Kagami. Kagami mengangguk dengan keyakinan di matanya "Pasti"

Aomine tersenyum sambil menyandarkan kepalanya lagi, dengan gestur tubuh yang lebih rileks, menghentikan topik pembicaraan itu sepenuhnya "Yaaah, siapa sangka kau akan melakukan perdagangan keliling dunia dengan keponakan seperti dia? Pasti sebuah kekacauan. Apa lagi dia adalah sepupu istrimu, ditambah lagi kau baru saja menikah sebelum melakukan perjalanan, hahaha" Aomine tertawa ringan

Kagami tersenyum miring "Disamping menangani ulahnya aku juga harus meyakinkan Tatsuya bahwa Takuya baik-baik saja bersamaku. Yah, memang kacau. Dia overprotektif sekali. Tapi setelah pulang dia bakal melayaniku habis-habisan. Sikapnya lembut sekali" cerita Kagami sambil tertawa kecil

"Haha... jangan menyombongkan diri Kagami, kau yang jarang ketemu istrimu tak bisa dibandingkan denganku" ucap sombong Aomine mengatakan hal yang tak patut di sombongkan "Shoichi bisa jadi malaikat terkadang"

"Terkadang" ulang Kagami

"Yeah, Terkadang" ulang Aomine lagi.

"kalau kita bercerita seperti ini... siapa yang mengira bahwa dulu kisah kita seperti drama picisan? Cinta yang tak di setujui, lalu di jodohkan..." tanya Kagami "Berlaku di antara kita, Kau dengan Aku, Tatsuya dengan Takuya" lanjut Kagami. Wah, cinta Segiempat "Tatsuya bertepuk sebelah tangan sih"

"Jangan Ingatkan! Aku merinding!" tungkas Aomine. Seluruh tubuhnya geli mengingat dan membayangkan hal itu, benar-benar sebuah drama alay yang sering di tonton ibu-ibu dan remaja alay nan labil jaman sekarang.

"Eeh? Kenapa? Aku pasih ingat loh! 'Larilah bersamaku! Kita akan hidup bersama di sebuah tempat dimana hanya ada kita!' lalu kau memesan kapal dan menyeretku pergi" goda Kagami sambil terkekeh geli setelah menirukan gaya bicara Aomine dan sikapnya dulu.

"Aaaaaaaaa aku tak dengar apapun!" kata Aomine sambil mengorek kupingnya, terlihat rona tipis di wajahnya yang eksotis.

"Yah pada akhirnya kita tertangkap juga sih, kau dihukum apa Aomine?" tanya Kagami

Aomine mendadak putih.

"AOMINE?! METAMORFOSIS MU TERLALU CEPAT BRO!" dan begitulah, fluff mereka sekarang. Sebatas Bro-Bro aja, jika mereka berdua seperti ini mereka sering nostalgia. Katanya sih mendalami umur tua mereka. Tapi, terkadang Kagami merindukan istrinya yang cerewet itu, malam harinya selalu terasa sepi, meskipun dia sudah dewasa sekalipun. Siapa sangka pria dengan rambut raven yang lembut itu adalah kaki tangan Tenebris?

Takuya datang dari belakang Kagami, arah yang sama di mana ia pergi tadi "Lho, bukankah aku sudah bilang untuk menunggu diluar? Kenapa kau masih ada disini?" lalu Takuya melihat Aomine di sebelah Kagami "Ah Jendral, kenapa anda ada di sini?"

"Jangan berbicara padaku secara formal dan memanggilku Jendral saat di luar pasukan Takuya, kau membuatku merinding" ucap Aomine kembali ke warna semula

Takuya tertawa ringan "Ahaha, maaf maaf, oh, apa Aomine-san mau ikut kami jalan jalan?"

"Tidak, aku Cuma mampir sebentar, ada banyak tamu botak dengan bibir mereka yang bengkak yang harus aku temui. Sampai jumpa" jawabnya dengan bercanda dan berjalan menjauh sambil melambaikan tangan

Kagami menatap Takuya "Jadi, kita pergi sekarang?" Takuya mengangguk

.

.

Mereka pergi jalan jalan ke berbagai tempat yang asing bagi Takuya, walaupun sudah hampir setahun ia disini, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tempat tinggal penduduk berubah menjadi rumah susun yang bertingkat tinggi, ada bagian 4 kota yang Takuya ketahui, rumah penduduk yang merupakan bagian terbesar, distrik perdagangan, lalu yang ketiga adalah bagian pertahanan dan keamanan, lalu yang keempat, berada di tengah tengah kota adalah bagian kepemerintahan.

Di bawah langit yang tak semendung Takuya dengar selama tiga tahun terakhir, anak anak lebih ceria bermain dan para orang dewasa juga tersenyum, tetapi, disini tetap berbeda dengan orang desa dengan kepolosan mereka dan kesederhanaan mereka, barusan dompet Takuya saja hampir dicopet.

"Huff, untung saja aku berhasil menangkapnya sebelum dia macam-macam" ucap Takuya lega setelah menghitung dan memeriksa isinya, termasuk kartu identitasnya, masih utuh. Jika mulut anak itu tidak ia bekap tadi, dia pasti sudah berteriak minta tolong dan memfitnahnya. Dan dia tau Kagami tidak akan menolong. Pamannya itu pasti tertawa dari bangku penonton.

"Ahaha, aksi kejar kejaran tadi menyenangkan sekali, anak itu lincah!" lalu Mata crimson Kagami menangkap kedai langganannya "Oh, kau lapar?" katanya sambil menunjuk kedai itu, Takuya mengangguk. Takuya bertanya "Paman yang traktir kan?" . "iya, gampang mah itu" jawab Kagami

Tapi, kesenangan itu tak bertahan lama. Saat mereka asyik makan, Takuya memberanikan diri bertanya.

"Paman, bisa kau beritau aku dimana ayah dan ibu berada? Selama ini aku tak sempat bertanya dan menahan diri karena mungkin mereka sibuk, tapi aku sudah..." tanya Takuya di tengah tengah kegiatan mereka makan

Kagami menatapnya sebentar, ekspresinya berubah "Sudah kuduga kau akan menanyakannya" lalu dia mengeluarkan sebuah potongan surat kabar, tertanggal tepat setahun yang lalu, jika Takuya tidak salah ingat, itu sekitar 2 bulan sebelum dia bangun. Mata biru langitnya bergulir ke judul yang terpampang besar besar.

[PROYEK PEMBANGUNAN KOTA ANZEN MENGALAMI PENYERANGAN]

Takuya membaca lebih lanjut, ternyata terjadi penyerangan saat pembangunan kota, padahal semua pihak yakin bahwa tempat itu aman dan telah dilindungi, mereka kewalahan menghadapi jumlah musuh, pasukan militer baik penyihir maupun non penyihir, meskipun dengan berbagai ras pun masih...

Dan mau tak mau, mereka yang masih mampu untuk bertarung semuanya turun ke pertempuran, Akashi Masaomi-ayahnya- menjadi pemimpin dan meninggal dalam perang, dan ibunya yang merupakan bagian dari tim medis di garis depan juga gugur, dan perang itu berakhir berkat Murasakibara Atsushi, sang master sihir yang barusan kembali dari pertapaannya. Serta delapan orang pemuda lain yang akhirnya menyandang sebutan generasi keajaiban, Aomine Daiki yang terkenal akan kekuatannya, Kagami Taiga yang membawa bala bantuan dalam jumlah besar, Midorima Shintaro dan Kise Ryouta dengan sihir mereka yang tak kalah dari sang master sihir, dan Akashi bersaudara-Akashi Seijuurou, Akashi Seishirou, dan Akashi Tetsuya yang menunjukkan bakat mereka yang gemilang di pertarungan.

Orang tuanya telah gugur dalam pertempuran demi kota ini. Kematian yang heroik, seharusnya ia bangga, tapi...

Kenapa air matanya tidak mau berhenti?

"Padahal aku ingin bertemu kalian... ayah... ibu..." gumamnya sambil memendam wajahnya pada potongan surat kabar itu

Ia kecewa dan sedih

Apa apaan ini, Takuya tidak bisa menerimanya, sudah cukup bahwa semua orang yang ia kenal telah menua, Jepang sekarang sudah tak ia kenali, cukup lama ia memendamnya, dan sekarang, ia harus menerima kenyataan bahwa beberapa orang yang ia kenal, termasuk orang tuanya, telah meninggal.

Dan itu semua karena Tenebris.

'Andai saja organisasi sialan itu tidak pernah ada...' benci, Takuya membencinya.

Tapi ia sendiri sadar bahwa dibalik cahaya pasti ada kegelapan, organisasi itu sendiri adalah wujud dari kegelapan dunia ini yang sering diabaikan oleh sebagian besar orang.

Tapi

"Sialan..." dia terisak, telah hilang selera makannya. Di hadapannya Kagami menjulurkan tangannya dan mengelus pundak Takuya perlahan dan lembut. Lalu sambil terus melakukan itu, Kagami mengajaknya keluar kedai. Dia tak menyangka Takya akan sesedih ini, sedikit diluar perkiraannya.

"Kenapa mereka tidak memberitahuku?" tanyanya perlahan. Gerakan tangan Kagami berhenti, Takuya menghentakkan kepalanya yang tertunduk, menatap Kagami "KENAPA?!" teriaknya. Kagami tak bisa mengeluarkan suaranya, dia tak tega mengatakan alasan Seijuurou, dia juga tak tau kenapa Tetsuya dan Seishirou merahasiakan hal ini.

Takuya meraih kerah Kagami dan memutarnya, lelu menariknya hingga jarak wajah mereka terpisah beberapa senti "Katakan padaku, paman, Kenapa baru sekarang kau memberitahukan hal ini padaku? Kenapa kalian semua merahasiakan hal ini sampai sekarang?" ucap Takuya bersuara rendah, dada Kagami seperti tercengkram erat, tubuhnya panas dingin mendengar nada yang Takuya lontarkan dan tatapannya yang berubah sedingin es. Takuya terlampau marah dan kecewa untuk berteriak. Persis seperti ayahnya, kakak kandung Kagami.

"A-aku tidak ingin kau merasa sedih, Takuya, aku takut, aku tidak tau apa yang harus kukatakan untuk menjaga perasaanmu agar tetap kuat. Aku tidak ingin kau sedih..." Kagami menangkupkan tangan Takuya di kerahnya, yang buku jarinya memutih dengan kedua tangannya, lalu menempelkan dahinya pada dahi Takuya "Kau adalah orang yang berharga bagiku, aku menyayangimu. Maaf selama ini aku diam. Maafkan aku baru memberitahumu sekarang. Maafkan aku, Takuya" katanya penuh penyesalan.

Takuya diam, giginya gemeretak kuat. Dia menghentakkan kerah baju pamannya, lalu berlari sekencang kencangnya menjauh dari sana. Tak menghiraukan panggilan pamannya yang tak mengejarnya.

Tapi dia tak mempunyai kesempatan untuk meluapkan perasaannya itu kemanapun, karena, tak lama kemudian, Gumpalan asap hitam pekat muncul di langit, perlahan membesar, dan melesat jatuh ke permukaan tanah, menciptakan ledakan besar, meniup terbang apa saja yang ada di hadapannya, makhluk yang terlewati menjadi patung hitam, kecuali beberapa orang tertentu yang Takuya sadari mempunyai energi sihir meskipun sedikit.

Seorang dari bangsa Polyph menghampirinya sambil tergesa, yang merupakan pengantar surat khusus untuk militer kota Anzen. Sayap putihnya yang biasanya terlihat kuat dan bercahaya kini terlihat redup. "Aka-"

"Takuya"

"T-Takuya-sama, anda diharapkan untuk segera ke markas pusat, ada pesan dari seseorang yang sepertinya adalah pendiri Tenebris"

"APA KATAMU?!"

.

Suasana di sana begitu tegang, layar hologram di hadapan mereka menunjukkan adanya gangguan sinyal, perlahan, sebuah sosok terlihat.

Dengan sebagian wajah yang tertutup jubah, yang terlihat hanya seringainya, suaranya antara laki laki dan perempuan, manusia dengan monster, membuat siapapun teraksa mendengarkan dan memasang telinga lebar lebar dalam kengerian.

[Peperangan ini melelahkan, kalian tau? karena itu, Aku, sebagai pendiri dari Tenebris, organisasi kegelapan terbesar di dunia, mengadakan game. Jika kalian benar benar menginginkan perang panjang ini berakhir, kirim 10 orang kalian. Di tanah yang terlupakan, Benua Pasir. Saat bulan mati]

Dan sinyal yang tak diketahui asalnya itu terputus.

.

.

.

.

TBC