Chapter 22

Aomine Daiki, panglima militer kota Anzen, yang kekuatannya pun tak bisa di pertanyakan lagi dan Kagami Taiga, pedagang terkenal dengan nama termahsyur yang tidak hanya pada bidang tersebut, kekuatannya pun tak bisa diremehkan dengan hatinya yang sekuat baja dan mereka berdua menyukai pertarungan jarak dekat melebihi siapapun.

Terlebih lagi, mereka tak bisa membayangkan pasangan terbaik selain mereka berdua dalam duel adu kekuatan.

Dan mereka kalah.

Setelah kekalahan kedua orang itu di babak pertama, moral mereka semua menurun, optimisme mereka tergoyah walaupun mereka tak akan pernah mengakuinya. Tinggal empat babak lagi dan semuanya akan berakhir, mereka tidak terlalu yakin lagi. Dan merekapun memutar otak untuk kemungkinan-kemungkinan baru.

Melihat ini, Seijuurou bicara dari ujung meja, menunjukkan bahwa dialah pemimpin disini. Seijuurou menutup matanya dan berkata dengan tenang "Memang apa yang terjadi saat Game bagian pertama sangat di sayangkan, tapi berkat itu kita bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai musuh kita" ia membuka matanya dan melihat ke arah Seishirou yang berdiri dengan beberapa lembar kertas di tangannya.

Tak mendengarkan apa yang dibicarakan Seishirou karena dia yang merangkumkan kesimpulan-kesimpulan dari diskusi panjang para Akashi bersaudara (minus Takuya) itu, Midorima menggulirkan mata hijau emeraldnya menuju Takuya, wajah pemuda itu masih sedikit pucat dari biasanya.

Flashback

"Takuya, kau baik-baik saja?" tanya Midorima menawarkan air minum kepada Takuya, pemuda berrambut raven itu berterima kasih padanya dan meminum air itu perlahan, lalu dia mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Midorima khawatir, tapi dia pasti tak akan mengatakannya.

"Entahlah, Shin... aku tak tau..." jawab lemah Takuya, wajahnya pucat terkena sinar lentera yang dibawa Midorima, nafasnya telah teratur. Lebih baik dari keadaan Takuya sebelumnya yang sepertinya tengah kesakitan, memegangi dadanya dan berjuang keras bahkan hanya untuk berdiri.

Midorima tak berkata apapun, hanya duduk di sebelahnya. Menemaninya melewati malam karena Midorima sendiri tak bisa tidur.

"Aku..." Takuya mulai bicara "Aku kacau, Shin, sejak aku memperoleh ingatanku kembali, kepalaku terus terusan berdenyut dan dadaku-jantungku seperti di cengkeram kuat-kuat" Midorima tetap diam, perhatian seluruhnya pada Takuya "Terkadang aku bukan seperti diriku, ada perasaan menjijikkan yang terus-menerus muncul tanpa alasan padahal kukira- ah..." Takuya memutus bicaranya dan menghembuskan nafasnya yang bergetar. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap langit yang berawan, tak ada bintang dan bulan terlihat samar menembus lapisan tipis awan malam.

"Keadaan ini terlalu berat untukku, Shintarou. Ada organisasi gelap yang mengincarku,dan mereka tak segan segan melakukan berbagai macam cara, heck, bahkan perang di sekolah itu masih segar di ingatanku yang terhenti ini. Dunia berubah dalam sekejap dan aku merasa sangat asing, dan adik-adikku mengemban tugas berat seperti menjalankan sebuah kota. Orang orang yang kukenal bertambah tua dan menjadi dewasa, bahkan sudah ada yang meninggal. Dunia yang dulunya sangat indah, kini penuh reruntuhan dan langit yang berawan menutupi matahari, peperangan disana-sini. Dan disinilah aku, tak berubah... peperangan dan kelulusan kita di sekolah itu hanya beberapa bulan yang lalu bagiku..." dia menguatkan tangannya yang bertautan dan menekan bibirnya menjadi garis tipis, tatapan frustasi dan menyesal menghinggapi matanya.

"Tapi orang orang terus menerus bergantung padaku, tentu aku merasa terhormat tapi... kuharap ada yang mengerti dan mengatakan bahwa aku sudah berjuang sebaik yang kubisa, kuharap aku tak sendirian." Dia menundukkan kepalanya, suaranya seperti berbisik di kalimat terakhir, Midorima mengelus punggung Takuya. Dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengannya. Dan membelai punggung pemuda bermanik biru langit itu lembut dan perlahan.

"Aomine dan paman Kagami sudah punya rambut putih dan kerutan, semangat mereka tak seperti dulu, Satsuki telah menjadi suster, aku tak tau bagaimana keadaan koganei, Hayama bertambah tua, aku tak tau apa yang terjadi dengan Furihata. Seijuurou bertambah dingin, Seishirou-sialan aku bahkan tak begitu banyak bicara dengannya." Takuya mengacak rambut ravennya frustasi.

"Dan Tetsuya-ya Tuhan Tetsuya- adikku yang termuda, menjadi kepala medis di sebuah pasukan militer. Usia mereka masih belasan tahun, Shintarou, mereka masih muda dan entah apa yang mereka lewati dalam 3 tahun terakhir ini. Dan aku, kakak tertua mereka, tak ada di samping mereka. Bahkan saat orang tua kami meninggal yang aku bahkan baru tau, Aku benar-benar buruk" ia menunduk dalam dan kedua tangannya menutupi wajahnya dengan siku yang bertopang di lututnya. Suaranya retak, seperti akan menangis.

"Lalu kalian, para Guardianku." Midorima mengeratkan pegangan tangannya pada pinggiran sumur yang mereka duduki itu, bibirnya membentuk garis tipis. Ia tak ingin Takuya meminta maaf, itu bukan salahnya sama sekali, bukan "Maaf, tahun-tahun itu pasti sangat sulit bagi kalian-kh!"

Midorima dengan cepat menopang tubuh Takuya yang limbung kedepan, tengah meremas baju bagian dadanya, keringatnya mengucur dan nafasnya kelihatan begitu berat kembali. Dan dengan matanya sendiri, Midorima melihat warna merah dan biru yang berputar, bergantian. 'Mata merah?' mata Midorima terbelalak, khawatir bahwa kepribadian Takuya yang lain-apapun itu, mengambil alih.

"Takuya? Takuya!" teriaknya khawatir, sedikit menaikkan suaranya. Takuya menaikkan tangannya cepat, dan Midorima menutup mulutnya secara otomatis. Lalu Takuya menunjukkan senyumnya. Begitu menenangkan.

"Tenang saja, Shin, aku tak akan kalah. Terima kasih sudah mendengarkanku. Sekarang kembalilah, ini sudah hampir dini hari."

Lalu Midorima menarik Takuya dalam dekapannya, dagunya ada di atas kepala pemuda itu. "Aku disini, Takuya. Kau tidak sendirian. Semua akan baik-baik saja-nanodayo" hanya itu yang dia katakan lalu Takuya membalasnya dengan suara yang lebih ringan.

"Shin, ada angin apa sehingga kau mengatakan hal seperti itu? Sifat Tsundere-mu hilang kemana?" dan dengan itu Midorima langsung mendorong Takuya dan memandangnya marah. Lalu Takuya tertawa singkat dan tersenyum lembut "Terima kasih, Shin" lalu dia mengecup dahi Midorima setelah ia berdiri, mengagetkan pria itu.

Dan dengan begitu, dia pergi. Kembali ke rumah tempat peristirahatannya, meninggalkan Midorima yang terdiam.

Flashback off

Setelah ia tau semua apa yang ada dipikiran masternya itu, Midorima tak bisa berbuat apapun selain mendukung masternya sekuat tenaganya, berada terus di sampingnya, setidaknya hingga Takuya kembali seperti semula. Dan dia baik-baik saja, ia akan melakukan apapun demi melihat senyumnya yang lepas itu kembali.

Terdengar suara percakapan dari orang orang di sekitarnya yang tengah berdiskusi untuk menyusun strategi yang terbaik dan rencana cadangan. Midorima kembali memfokuskan dirinya di Game mengerikan ini.

"Serius, memaksa mana untuk menjadi hitam kedengarannya tidak menyenangkan sama sekali-ssu. Dan terlebih lagi, mereka bisa merubah tubuh mereka menjadi monster-ssu! Tidak bisa dipercaya!" komen Kise begitu selesai mendengarkan kesimpulan yang dibacakan Seishirou, masih terlukis dengan jelas di wajahnya saat melihat pertempuran kemarin.

Musuh mereka yang berubah bentuk hampir tanpa kesulitan sama sekali, tubuh mereka yang berputar dan seperti tercabik dari dalam dan suara daging dan tulang yang bersamaan dengan itu bukan pemandangan yang mengenakkan. Dan gaya pertarungan musuh mereka itu yang berubah drastis setelah perubahan, hampir seperti monster yang hilang kendali. Kise merinding hanya dengan melihatnya, dia pernah berpikir ada hal seperti itu tapi tidak menyangka akan ada di depan matanya.

"Mana mencerminkan orang yang memilikinya, kecuali Mana Hitam. Seperti yang sudah kita tau, Mana putih dimiliki oleh seluruh makhluk hidup, tak terkecuali. Tapi Mana Hitam adalah apa yang terbentuk oleh hati makhluk hidup. Dendam, benci, putus asa... semua perasaan negatif itu bertumpuk dan merubah aliran sihir di dalam diri makhluk itu, perlahan secara natural akan merubah makhluk itu sendiri" Seishirou menjelaskan, saat ia akan melanjutkan, ia terdahului oleh Takuya yang mereka sadari tidak seperti biasanya.

"Tapi Organisasi ini-Tenebris, memaksakan perubahan itu. Dengan kekacauan didunia ini yang mulai meraja lela, seperti pemerintahan yang korup, kesenjangan sosial yang mengintimidasi, perbudakan, obat-obatan terlarang, moral yang jatuh. Memanfaatkan itu, mereka mengumpulan penduduk dengan perekonomian yang buruk, menggiring mereka dan menjebak mereka di penjara dengan sistem khusus-menyerap mana dalam hati mereka yang dirundung oleh kegelapan itu hingga kering dan memindahkannya ke orang lain, dengan kata lain, melipat gandakan mana hitam yang sudah ada di orang tersebut" Takuya mengambil nafas sebentar untuk menyusun kata-kata selanjutnya yang merupakan buah hasil pemikirannya. Membuat pendengarnya terpaku.

"Dan orang-orang yang kita perangi saat masih di sekolah MistGound, adalah contoh dari orang orang itu, para penyihir hitam dan makhluk panggilannya awalmulanya adalah orang orang yang mempunyai ikatan kuat sehingga jika salah satu dari mereka 'jatuh', yang lainnya pasti mengikuti. Karena banyaknya mana hitam tubuh mereka tak sanggup menahannya dan akhirnya penampilan fisik mereka berubah dan mereka kehilangan akal sehat mereka, berubah menjadi budak yang loyal kepada tuannya" Takuya menautkan jemari tangannya, memangkukan sikunya ke meja dan menopang dagunya, menutupi mulutnya, mata birunya sangat serius, nadanya sangat tenang hingga membuat yang mendengarnya merinding.

"Ditambah lagi pimpinan tenebris yang bisa dengan mudah memasuki pikiran seseorang, kurasa kalian tak lupa pada suara yang berbicara di dalam kepala kalian waktu itu bukan?" Takuya menatap mereka yang berperang dengannya di sekolah itu, dan mereka mengangguk. Masih dengan jelas mengingat suara menggema yang dingin, menusuk dan kejam itu.

"Dan untuk musuh kita di Game ini, yang aku asumsikan adalah orang orang terbaik Tenebris, adalah yang bisa menampung kegelapan itu, mengendalikannya, dan membuatnya menjadi kekuatan yang ditakuti. Hati mereka telah lama membusuk, telah terbiasa dengan jiwa yang tercemar oleh Mana Hitam, mungkin jauh, jauh sebelum semua ini. Jadi sebaiknya kalian tidak meremehkan mereka sama sekali, mereka bisa mencabut nyawa manusia dengan mudah dan tanpa perasaan" Dan dengan ini Takuya mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar "Ini adalah pemikiranku selama ini setelah Mengawasi selama ini"

Semua dibuat tercengang oleh analisis bocah berumur 15 tahun itu, tapi bagaimanapun juga, semua akan jadi wajar setelah mendengar nama Akashi. Terlalu banyak informasi yang di tuangkannya dan mereka semua perlu waktu untuk memproses, pemimpin yang cerdas seperti semua orang tau, Seijuurou langsung bisa menyerap semuanya dan mengerutkan dahi "Kenapa kau tak mengatakan hal ini lebih cepat?"

Takuya mengendikkan bahu "Karena aku baru bisa menata info itu barusan. Semua itu awalnya hanya berupa puzzle kau tau itu. Dan itu terbukti karena tak ada satupun dari kalian yang menyadarinya bukan?"

Memang ada beberapa dari merek a yang menduga dan berpikir seperti itu. Tapi mereka selalu berhenti di tengah jalan, tak bisa menguak semuanya, petunjuknya terlalu acak.

Takuya menghela nafas, kesimpulan kesimpulan yang dibacakan Seishirou tadi juga... ada beberapa hal baru yang dia dengar dan itu membantu sekali. Seperti di beberapa serangan tertentu mereka akan terdiam, dengan kata lain beberapa serangan akan memerlukan waktu dan jika mereka kehilangan banyak darah, bagian tubuh mereka akan berubah jadi hitam dan perubahan di mulai. Tentu Takuya tak ingin bertarung melawan makhluk tak berakal yang akan menyerang secara membabi buta dengan teknik bertarung yang tinggi itu, resikonya terlalu besar. Jadi salah satu cara adalah merobohkan mereka selagi mereka masih memiliki wujud manusia... hingga mereka pasti tak bisa bangkit lagi. Tapi sebelum berubahpun kekuatan dan ketahanan mereka-

Sret...

Tiba-tiba Takuya merasakan tangan dingin menyentuh pipinya selagi ia berpikir, dan dia menoleh lalu mendapati Tetsuya sang pemilik tangan tersebut, yang kini beralih dari pipi berpindah ke dahinya. Kalau boleh jujur, tangan Tetsuya yang dingin dan sejuk itu sangat membantunya. Sakit kepalanya memudar.

"wajahmu pucat, kau harus beristirahat" katanya Tetsuya, wajah stoicnya terlihat khawatir dan matanya yang selalu melihat lurus itu terlihat ragu-ragu "Aku akan mengantarmu"

Takuya merasa ia tak akan bisa kembali ke penginapannya tanpa bantuan, jadi dia mengiyakan. Tetsuya meletakkan lengan kakaknya ke pundaknya lalu melingkarkan tangannya ke pinggang kakaknya dan membantunya berdiri.

"Ah, aku akan menyampaikan padamu hasil dari diskusi ini-ssu!" kata Kise dan Takuya menoleh padanya melalui pundaknya dan mengangguk. Setidaknya kini Takuya melihat kearahnya, itu saja dan Kise merasakan kelegaan dan sedikit harapan, setelah ini ia akan meminta maaf pada masternya, ia tak pernah bisa meminta maaf karena Takuya selalu tak memberi kesempatan untuk bicara.

Murasakibarapun angkat bicara "Aku akan membawa makanan untukmu nanti..." dan Takuya hanya mengacungkan jempolnya sambil terus berjalan

Lalu mereka teridam sejenak

"Nee Murasaki-cchi, apa ini berarti dia memaafkan kita?" bisik Kise

"Entahlah... kita tanyakan saja nanti, untuk saat ini... banyak yang harus di kerjakan..." lalu Murasakibara merengut "...Kenapa harus rumit sekali... aku hanya tinggal menghancurkan semua yang menyebabkan ini... itu lebih mudah di mengerti" dan mereka semua tersenyum mendengar ucapan penyihir terkuat itu, benar, tujuan mereka segampang itu. Dan mereka tak punya niatan sekalipun untuk menyerah apalagi kalah.

.

.

.

.

.

"Ku kira kau sudah menyerah" kata Takuya pada makhluk di hadapannya

"I think you've forgot about this kid, but i'm still inside you. Once the time is come, i will take over and do my job, no one can interfere, even if it's you" Takuya menyipitkan matanya saat melihat senyum lebar mirip Chesire Cat makhluk itu

"Let me tell you something kid, even though they said that you're not alone and they will stay by your side, you know that that was impossible. They lied" mata Takuya terbelalak dan nafasnya tercekat, terkejut, jauh... jauh didalam hati dia tau kalau dia masih sendirian, tak ada yang mengerti karena mereka bukan dirinya. Takuya tau tapi ia lebih memilih untuk terus percaya dan berharap.

"You still carry that responsibility, their hope still burdening you, they're not understand you, you are alone, "For World Peace"?That's bullshit, how about yours?! Do you ever feel the peace since the beginning of all of this? Do you?" Takuya mencengkeram dadanya yang mulai sesak dan sakit seperti terbakar, dia menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran-pikiran negatif yang mulai tumbuh.

"Just give up kid, take a rest"

"Tidak! Kau pasti akan memanfaatkan kelemahan hatiku untuk menguasaiku bukan? Maaf kawan, itu tidak akan terjadi, aku tidak akan menyerah! Mereka adalah teman-temanku dan aku mempercayai mereka seperti mereka mempercayaiku. Harapan mereka bukanlah beban, tapi bukti ikatan kami!"

"You can talk aaalll the way and maintain that little hope of yours, but for how long i wonder?"

Dan Takuya terdiam. "Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau mengatakan semua itu?"

"i told you, let's just say that i am another you, the darkness of your heart, the Hidden Ones, isn't that awesome? Kid, you're so powerfull that creeps me out"

Śūn'ya, entah apa yang menjadi tujuan makhluk itu, apa dia menunggu hatiku melemah dan mengambil alih paksa? Atau...

.

.

"Kak? Bangunlah sebentar dan minum obatmu..." kata lembut Tetsuya begitu Takuya membuka mata.

"Hari ini... siapa yang berangkat?" sekarang sudah tengah hari, jadi pasti babak kedua Game ini sudah di mulai

"Kise-san, Midorima-san dan Shirou-nii-san. Babak sekarang ini misi mereka adalah memburu Sebuah makhluk-aku tak sempat melihatnya saking cepatnya- di Rawa Penipu" jawab Tetsuya, lalu Takuya hanya menggumam dan mengangguk pelan. Lalu dia meminum obat yang diberikan Tetsuya dan menggumamkan terima kasihnya.

Setelah meminum obat yang pahit itu Takuya berkata dengan nada getir karena pahitnya obat itu masih terasa di lidahnya "Tetsuya, sekarang kau boleh pergi, tontonlah pertandingannya"

Dengan nada tegas Tetsuya menolak, saat Takuya bertanya mengapa pemuda berambut biru langit dengan mata senada itu menjawab

"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu yang sakit? Kak, aku sudah menjadi tim medis selama 2 tahun dan aku tak bisa begitu saja meninggalkan pasienku, lagi pula... Aku ingin lebih lama bersamamu kak, kau terlihat kesepian dan kesakitan"

Terhadap jawab adik bungsunya itu, mata Takuya terbelalak lalu ia memalingkan muka dan menyilangkan lengannya di atas kepalanya 'gawat... aku mau nangis' dan sepertinya ia juga lupa kalau kedua adiknya bisa mendengar pikirannya. Salah satu tangannya yang menutupi matanya itu di tarik perlahan oleh tangan sejuk dan lembut milik adiknya, lalu tangan mereka bergandengan dengan jari mereka yang saling bertaut. Tetsuya tersenyum tipis.

'Aku benar-benar kakak yang buruk'

Dan tetsuya tau kalau saat ini kakaknya tak ingin memiliki perdebatan jadi ia membiarkan kakaknya itu terus-terusan menyalahkan diri sendiri sampai ia puas, lalu setelah itu Tetsuya baru akan bicara.

.

.

Di tempat lain, terdapat 6 orang yang tengah bertarung sambil berlari mengejar sesuatu di tengah kabut yang tebal, di bawah mereka adalah rawa dan satu-satunya pijakan yang pasti adalah pohon-pohon yang tumbuh subur di rawa itu.

Mereka berlari dan melompat dengan lihai di pijakan mereka sambil sesekali memperlambat satu sama lain di antara kedua tim. Midorima merapalkan mantra untuk menumbuhkan tumbuhan jalar untuk membelit musuh mereka dan Kise mengeluarkan sinar terang untuk membutakan mereka sesaat, ada yang berhasil terjebak dan ada yang tidak, tapi mereka sendiri harus hati hati, sebagai contoh.

Saat Kise menapaki suatu area-

GRAAAAAAAK GRATAK GRATAK

GROOOOAAAARRRR

Tiba tiba dari tanah bangun seekor makhluk berleher panjang yang kepalanya menyerupai seekor kura-kura, seluruh bagian tubuh yang mereka lihat tertutupi lumut dan dari tulang tulang yang jatuh saat dia bangkit dengan tiba-tiba tadi, sepertinya dia predator

"Gahahahaha akhirnya kesenangan yang sesungguhnya!" teriak salah satu musuhnya riang

Kise langsung menembakkan petir besar ke makhluk itu, tapi tak berpengaruh apapun. Malah makhluk itu fokus pada dirinya. Saat Kise berlari, Seishirou memanfaatkan itu untuk mengarahkan mahkluk itu ke musuh mereka, selagi ia menyiapkan sesuatu. Dan Midorima menyerang musuh untuk mengalihkan perhatian mereka selagi Kise berlari.

"Seto! Kau urus si tampan dan si kacamata, biar aku urus si cebol" teriak pria bertopeng setengah wajahnya, topeng berwarna biru yang hanya menutupi bagian kanan wajahnya dengan aksesoris yang menyolok mata.

"Aku boleh berlaku sesukaku kan?" tanya Seto ke kawannya itu dengan seringai lebar, seperti mendapat mainan baru. Kawannya hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan dengusan geli.

Mereka milikmu

Mengumpulkan mana hitam di kedua tangannya, seto menembakkan sihir besar ke arah Kise dan Midorima, meskipun terkejut pemuda berambut kuning itu dapat menghindarinya, dan tembakan besar itu mengenai monster di belakangnya. Sedangkan Midorima merapalkan mantra untuk membentuk dinding kayu yang kokoh, menahan serangan itu.

Makhluk itu kemudian dengan mudah terlobangi di bagian tengahnya, menyisakan kaki dan perut bawah, dan bau gosong.

Melihat itu saja Kise sudah sangat tertantang, menatap lawannya masing masing dengan sengit, duel mereka dimulai, dan Midorima berbalik, mencari buruan dari babak ini yang sebenarnya, bersaing dengan Pria bertubuh kecil yang dengan lincah melopat dari dahan ke dahan.

"Selamat datang mangsaku!" teriak Seto kegirangan, dan Kise menyuarakan teriakan pertarungannya.

Seishirou di sisi lain, di wilayah kabut yang paling tebal, di kejutkan dengan serangan akar yang tiba-tiba dari arah bawah, melompat dan berbalik di udara, dia langsung tau bahwa itu bukanlah ulah makhluk sini.

"Hanya pengecut yang berani melawan di balik penyamaran, tampakkan dirimu" katanya menantang.

"Wah-wah... untuk ukuran anak kecil mulutmu pedas juga ya" muncul dari dalam tanah, terlilit oleh akar, adalah seorang Pria dengan setengah topeng wajah, senyum lebar, mata dengan pupil sebesar biji semangka dan pakaian dengan warna setengah-setengah, seperti kain bekas yang di jahit, dengan desain sederhana. "Jangan bermuka menakutkan begitu, ayo bersenang senang~"

"Pierrot" tiba-tiba Seishirou menyebutkan nama itu. Pria di depannya melebarkan matanya, tetap tersenyum lebar, lalu matanya menyipit, mengingatkan Seishirou dengan Imayoshi.

"Kau benar benar menyebalkan ya... padahal aku ingin beramah-tamah sebentar lho..."

Tak menjawab, Seishirou masih menatap lawannya sengit, mengambil kuda-kuda, dan di sekitar pijakannya muncul api yang berkobar, membentuk lingkaran yang mengelilinginya, membuat pakaian dan rambutnya berkibar, dan sekejap menghilangkan kabut di sekitar mereka.

Dan Manuel, melihat pemuda di depannya menampakkan kemampuan, tak ingin kalah, ia menumbuhkan beberapa kayu raksasa dari akar bakau pijakan mereka, dan membentuk 3 kepala anjing raksasa yang buas, menyerupai Cerberus.

Dan Pertarungan mereka dimulai, Seishirou melempari musuhnya dengan peluru magma hingga beberapa bagian Cerberus kayu itu terbakar, tapi dengan cepat wujud mereka kembali seperti semula, saat giliran Manuel yang menyerang dengan menghujani Seishirou dengan rentetan serangan tanpa henti, pemuda berambut merah itu bisa menghindarinya dengan lincah.

Dan tak jauh dari masing-masing area pertarungan itu, terdapat burung dengan bulu terindah di dunia, memancarkan sinar metalik tujuh warna, matanya yang lebih indah dari permata dan suara nyanyian yang disebut sebut sebagai nyanyian malaikat, paruh yang lebih keras dari berlian, dan tubuhnya yang ramping sangat menyempurnakan keindahannya.

Midorima sibuk menahan pria kecil itu yang terlalu lincah sambil berusaha agar burung itu tidak terbang menjauh, tapi sepertinya terlalu sulit.

"TUNGGU! KAU INGIN MELARIKAN DIRI HAH?!" teriak Seto jengkel kearah Kise yang mengecohnya dengan sinar flash yang langsung mengarah ke matanya dan langsung berbelok menuju burung itu.

"MASA BODOH-SSU! POKOKNYA PERTANDINGAN INI KAMILAH PEMENANGNYA-SSU!" teriak Kise lalu setelahnya menjulurkan lidah balik setelah mengambil kesempatan membutakan lawannya untuk sesaat. "Midorimacchi! Tolong jaga belakangku-ssu!"

"Bodoh! Menahan dia saja aku sudah kerepotan-nanodayo!"

"Midorimacchi! Kau kan bisa membuat klon dari kayu-ssu!"

"..." Dan melemparkan pria kecil itu cukup jauh, Midorima memanfaatkan sepersekian detik itu untuk merapalkan sihir berikutnya, dan muncullah lingkaran sihir di belakangnya, dan melompat dari lingkaran sihir itu, adalah kloningnya "aku tidak berpikir ini berhasil tapi akan kucoba" pikir Midorima dalam hati sambil melanjutkan pertarungannya.

Tapi dengan mudah kloning itu hancur di hadapan Seto, layaknya boneka kayu biasa "Tch, memang percuma, maaf Kise, aku tidak bisa membantumu" batin Midorima yang hanya bisa melihat Seto yang perlahan sudah terlihat mulai bisa melihat lagi.

Saat Kise sudah hampir menangkap burung itu, burung itu langsung terbang jauh ke arah langit, Manuel yang akan menangkap kaki burung itu dengan akarnya mendecih saat akarnya terbakar oleh api Seishirou "Sempat juga kau mengkhawatirkan hal lain padahal lawanmu ada di depanmu" katanya dengan nada sedikit marah, dan senyum yang tipis.

Lalu tanah rawa yang lengket, berlendir dan bau itu naik dari sela-sela akar Bakau, bermaksud memerangkapnya, tapi Manuel berhasil lari dan mengejar burung itu, berpijak pada akarnya yang terus membumbung dan saling susul-menyusul menjadi pijakannya, Manuel berhasil mengejar Kise.

Seto yang akhirnya bisa melihat bermaksud mengejar mereka, tapi di depannya sudah menyebar dinding api setinggi 4 meter. Menoleh kebelakang, ia kembali menyeringai "Aku menemukan mangsa yang lebih baik"

"Kau tak akan kubiarkan lari" balas Seishirou. Dan kedua predator berbentuk manusia itu bertarung.

Sebuah suara wanita, yang mereka kenali adalah putri yang mereka temui saat awal game, menggema di langit rawa. Tapi keempat pemburu itu tak bisa, tak sempat, untuk menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini, memang mereka bukan anggota elit macam Jason ataupun Veneva, tapi mereka bisa berbangga diri akan kemampuan diri mereka, sedikit lagi dan mereka akan mendapatkan kekuatan itu juga, Seto dan Manuel, Dua yang Terakhir. Julukan yang memiliki banyak arti.

[Sekedar Pengingat, kalian harus menangkap burung itu hidup-hidup] kata suara itu

Kise dan Seishirou sejak awal sudah merasa aneh dengan lawan mereka, entah kenapa, mereka tak semengerikan yang mereka lihat di monitor Babak Pertama kemarin. Apa yang terjadi? Apa tidak semua anggota yang mewakili Tenebris di Game ini mempunyai Mana Hitam?

"Sepertinya... kau berbeda dengan lawan kami kemarin-ssu! Apa kau akan mengeluarkan sihir hitammu untuk saat-saat terakhir?!" teriak Kise di sela-sela kejarannya, di setiap tapak kakinya mengeluarkan listrik, larinya sudah setara cahaya, tapi lawannya saat ini bisa mengimbangi kecepatannya hanya dengan akar, kemampuan orang ini tinggi.

Manuel tetap tersenyum, tapi senyumnya entah kenapa berubah mengerikan. "Sebaiknya kau menutup mulutmu" katanya dengan mata kirinya yang melebar, urat matanya sangat ketara merah, dan pupilnya mengecil seakan menghilang, sepertinya kata-kata Kise tadi sangat memukul harga dirinya.

Berganti tempat, Seto bahkan tak bisa lagi menarik sudut bibirnya.

"Kalian sangat sok, padahal apa yang kalian katakan penderitaan itu tak seberapa dengan apa yang kami alami" Seto menggeram "Kalian para orang kaya hanya bisa mengeluh, mengeluh, tertawa, dan bermanja sesuka kalian, Setidaknya kalian tau apa itu kebahagiaan, kebebasan, dan kasih sayang." Suaranya tia-tiba memberat, dan menyadari ada sesuatu dari lawannya, Seishirou mengambil jarak.

"Jalan kami penuh dengan bangkai, dan kalian pikir kalian lebih kuat dan berderajat lebih tinggi dari kami?" adalah kalimat-kalimat pertama yang di lontarkan lawan Midorima.

Dari tubuh ketiganya mulai muncul aura hitam dan suara mereka menjadi mengerikan, sama seperti lawan Kagami dan Aomine kemarin.

"Ini tidak bisa dibiarkan!" Kise, Midorima dan Seishirou memikirkan hal yang sama di saat itu juga.

Sebelum terlambat, mereka harus mengalahkan musuh mereka terlebih dahulu!

Menahan perubahan mereka dengan lilitan petir dan membantingnya ke bawah, dengan serapan lumpur dan menahannya tetap berada di pijakan, dan dengan kurungan kayu terkuat yang pernah ia munculkan, ketiga pemuda berbeda warna rambut itu menahan lawan mereka untuk menyerang Seto dan Manuel, dan pria kecil misterius itu dengan serangan terkuat mereka dengan waktu sesingkat mungkin.

.

.

.

.

.

Dalam kegelapan, Seishirou melihat berbagai macam hal yang bukan miliknya.

Makhluk-makhluk yang hanya tinggal tulang dan kulit, berjuang keras hanya untuk menggeser tubuhnya ke kubangan air kotor, anak-anak menangisi mayat orang tuanya, dan yang lebih besar mencuri dari para pejalan kaki dan pedagang yang lewat. Dibawah terik matahari yang memanggang, dua anak sedang memakan kentang yang mereka dapat dari hasil mencuri. Dan bocah ketiga, yang terkecil dari mereka, memakan roti kering yang ia temukan di jalan.

Hanya bayangan itu, dan Seishirou sudah mengerti, menutup matanya, saat ia membukanya kembali yang ia lihat hanyalah langit-langit rumah dari tanah, perumahan penduduk.

Game babak kedua sudah berakhir, masih jelas diingatannya bagaimana Seto meraung seperti binatang dan mengatakan hal yang tak dapat ia mengerti, bahasa dari wilayah yang tidak di ketahui.

Tapi itu semua telah berakhir, mereka menang tipis. Karena ia tau bahwa dirinya, Midorima dan Kise hanya mampu menguras tenaga dan kesadaran lawan mereka. Akibatnya, tenaga dan kesadaran mereka juga terambil tak lama kemudian.

Beruntung Kise sudah menangkap burung itu, memeluknya erat juga halus agar tidak terbang lagi.

"Seishirou-cchi..." panggil Kise lemah di sebelahnya, Seishirou menghembuskan nafas pelan.

"Tak perlu berkata apapun, Kise. Cukup fokuslah untuk kesembuhanmu. Game ini masih belum berakhir" dan Midorima hanya diam mendengarkan mereka.

Mereka menang dengan perasaan yang sulit di artikan.

.

.

.

.

.

Di sebuah tempat, hanya ada sebuah meja dengan papan catur di atasnya dan dua kursi yang saling berhadapan. Tidak ada apapun selain itu, dengan sekitar yang berwarna suram, dan hanya bercahaya gelembung-gelembung kecil yang keluar dari bawah, kedua pemuda di hadapan dalam sebuah pertarungan pikiran dan mental.

"Sebuah kehormatan bisa bertanding denganmu, Seijuurou-kun"

"Kehormatan sebenarnya ada padaku, terima kasih sudah mengawasi kakakku selama ini, Makoto-san"

Dari kedua 'monster' mengerikan ini, Di pertandingan catur dengan pion orang-orang yang mereka kenal, siapa yang cukup kejam untuk mengorbankan temannya?

.

.

.

To Be Continued


Aku lupa kalo punya fic ini, kalo gak ada notice di e-mail mana ingat :v makasih udah mengingatkan, readers ku (gak mau sebut merek). dan Minta maaf atas delay-nya yang lama dan kalau chapter ini tidak mengesankan, saat ini ada yang mengalihkan perhatianku #eaa

udah gitu aja, sampai jumpa di chapter selanjutnya!